Friday, July 11, 2025

Perfect Hero Bab 285 : Pondok Cinta Yeyui

 


Untuk menebus kegagalannya mengajak Yuna makan malam bersama di restoran puncak, Yeriko berjanji akan menggantinya pada hari minggu.

Tepat hari Minggu pagi, Yeriko mengajak Yuna keluar dari rumahnya.

“Kita mau ke mana?” tanya Yuna saat ia sudah duduk manis di dalam mobilnya.

“Ke tempat yang kamu suka.” Yeriko tersenyum sembari menyalakan mesin mobilnya. Ia mengajak Yuna menuju Jl. Dr. Soetomo.

Yuna pikir, Yeriko akan mengajaknya makan di Kayanna Restaurant. Namun, mobilnya tidak berhenti di sana. Justru berbelok ke arah lain. Lima menit kemudian, Yeriko menghentikan mobilnya di halaman parkir salah satu taman yang tak jauh dari tempat itu.

Yeriko mengajak Yuna menikmati hamparan bunga yang ada di taman tersebut.

“Taman bunga di sini bagus banget. Kayaknya, waktu aku sama Jheni ke sini, nggak ada bunga sebanyak ini,” tutur Yuna sambil menyentuh bunga cosmos aneka warna. Di sana, ada banyak jenis bunga. Mulai dari bunga mawar, zinia, seruni, petunia hingga marigold.

Yeriko tersenyum, ia mengambil salah satu sepeda yang disiapkan di tempat itu, pengunjung bisa menyewanya untuk berkeliling melihat aneka taman bunga. Sejak beberapa hari lalu, ia bekerjasama dengan walikota dan dinas pertamanan kota untuk merenovasi taman kota tersebut. Ia sengaja mempersembahkan taman tersebut untuk Yuna dan semua pengunjung taman akan mengetahui bagaimana kisah cinta mereka dimulai.

“Ayo, naik!” ajak Yeriko yang sudah bertengger di atas sepeda.

Yuna tersenyum, ia ikut naik ke sepeda sembari memeluk pinggang Yeriko dari belakang. Mereka berkeliling menikmati indahnya hamparan bunga yang ada di taman tersebut. Kolam yang ada di tengah taman tersebut juga sangat indah dengan bunga-bunga teratai di atasnya.

“Ini, semua bunga bisa mekar bersamaan gini, pakai hormon ya?” tanya Yuna.

Yeriko tersenyum, namun kepalanya menggeleng. “Nggak tahu, aku bukan ahli bunga.”

“Mmh ... aku juga bukan ahli bunga. Tapi suka sama bunga. Karena wangi, indah dan penuh makna. Bunga warna kuning, melambangkan keceriaan. Bunga aster, melambangkan kemurnian cinta dan kesetiaan. Bunga mawar, biasanya dipakai untuk menyatakan cinta dengan penuh keberanian. Bunga seruni, bisa melambangkan sesuatu yang lebih misterius tentang cinta, kebahagiaan dan persahabatan. Bunga Zinia, bisa diartikan sebagai lambang ketahanan diri, cocok buat mereka yang menjalani kisah cinta dengan banyak ujian,” jelas Yuna panjang lebar.

Yeriko tersenyum menanggapi ucapan Yuna. “Tumben, otak kamu selancar ini?”

Yuna memonyongkan bibir sambil memukul punggung Yeriko. “Iih ... kamu suka banget ngolok otakku.”

“Hehehe, bercanda. Dari semua bunga yang ada di sini, kamu paling suka yang mana?”

“Mmh ...” Yuna mengetuk-ngetuk dagunya. “Mmh, aku suka semua sih. Tapi kalo buat kamu, aku pilih bunga seruni.”

“Kenapa?”

“Karena kamu menyembunyikan sesuatu dari aku.”

“Menyembunyikan apa?” tanya Yeriko sambil menahan tawa.

“Mmh ... kamu selalu bikin aku penasaran. Bahkan sampai sekarang ...” Yuna menghentikan ucapannya. Ia ingin bertanya perihal ayah Yeriko yang masih dirahasiakan darinya. Namun, ia takut kalau hal ini justru memperburuk suasana.

“Apa?” tanya Yeriko penasaran.

“Sampai sekarang, aku masih nggak ngerti gimana kamu bisa ngasih kejutan lamaran diam-diam dan pindahin restoran ke atap gedung kantor kamu. Bahkan, kamu bikin Jheni mengkhianati sahabatnya sendiri,” tutur Yuna berbohong.

Yeriko tersenyum sambil menghentikan sepedanya. “Itu bukan menyembunyikan, tapi memberi kejutan. Namanya kejutan, harus dikasih tahu di akhir. Kalau aku kasih tahu dari pertama. Namanya bukan kejutan,” tutur Yeriko sambil turun dari sepedanya.

“Oh ya?” Yuna juga ikut turun dari sepeda.

“Aku punya kejutan lagi buat kamu. Ayo, ikut!” pinta Yeriko sambil mengulurkan tangannya ke arah Yuna.

Yuna tersenyum sambil menautkan telapak tangannya ke tangan Yeriko.

Yeriko menggenggam erat tangan Yuna. Melangkahkan kakinya perlahan mendekati sebuah rumah kayu kecil yang ada di tengah taman tersebut.

Yuna ingin berteriak dan melompat setinggi-tingginya saat melihat rumah kayu tersebut. Di dekat tangga naik ke rumah itu, ada sebuah tulisan ‘Pondok Cinta YEYUI’.

“Yeyui?” Yuna mengerutkan dahi. “Artinya apa?”

Yeriko menghentikan langkahnya dan menatap Yuna. “Yeri Yuna,” jawabnya sambil tersenyum.

“Kok ada i-nya di belakang? Artinya apa?” tanya Yuna lagi.

“Itu artinya ... I love you,” jawab Yeriko sambil mengecup bibir Yuna.

Pipi Yuna menghangat. Ia sangat bahagia karena Yeriko bisa mewujudkan impiannya. Rumah kayu dan hamparan bunga di taman itu, benar-benar seperti impiannya.

“Kamu tahu dari mana kalau aku ...”

“Dari Jheni,” jawab Yeriko sebelum Yuna menyelesaikan ucapannya. Ia mengajak Yuna menaiki tujuh anak tangga untuk masuk ke dalam pondok kayu tersebut. Ia membuka pintu dan mengajak Yuna masuk ke dalamnya.

Yuna terpesona melihat semua perabotan rumah di dalamnya benar-benar sesuai dengan impiannya. Cangkir-cangkir keramik dan beberapa hiasan kayu yang sangat artistik.

“Kamu bener-bener bikin ini semua?” tanya Yuna sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tanpa sekat. Tempat tidur mungil yang begitu cantik berada di sisi kanan ruangan tersebut. Dapur kecil, meja makan yang mungil, juga hiasan-hiasan kayu yang menggantung di atas kepalanya.

Atap pondok itu tidak terlalu tinggi, mungkin hanya berjarak lima puluh sentimeter dari tinggi badan Yeriko. Yuna juga bisa meraih hiasan kayu yang menjuntai dari atap pondok tersebut. Di dalam hiasan kayu itu terdapat tulisan-tulisan. Yuna membacanya satu per satu.

-21 Desember 2016-

“Pertama kali bertemu dengan wanita pemabuk di bar.”

-22 Desember 2016-

“Wanita pemabuk tak dikenal mencium Ye di tepi jalan, di bawah rintik hujan yang romantis.”

- 23 Desember 2016-

“Ye kembali bertemu wanita pemabuk yang menyedihkan itu disekap di hotel.”

- 24 Desember 2016-

“Pertama kalinya, Ye membawa orang asing masuk ke dalam rumah. Seisi rumah tersenyum menyambut kehadirannya.”

-25 Desember 2016-

“Seluruh dunia Ye tersenyum saat wanita gila bernama Yu, masuk ke dalam hatinya tanpa permisi.”

-26 Desember 2016-

“Ye menikahi Yu tanpa permisi.”

-01 Januari 2017-

“Tahun baru Ye & Yu bersama keluarga besar.”

-14 Februari 2017-

“Kami saling jatuh cinta.”

...

-07 Juli 2017-

“Hadirnya Ye kecil.”

 

Yuna terus membaca tulisan-tulisan itu. “Kamu bikin ini semua?” tanyanya masih tak percaya. Ia tak menyangka kalau Yeriko punya banyak waktu untuk menuliskan kisah-kisah mereka.

Air mata Yuna jatuh berderai karena kebahagiaan yang ia rasakan tak lagi bisa ia ungkapkan dengan teriakan nada suara tertinggi.

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Setiap momen bahagia kita, kita akan menulisnya di rumah kecil ini. Jika kita suatu hari ada keraguan di antara kita. Ingatlah, gubuk kecil ini adalah cerita di mana kita saling mencintai, saling menguatkan dan saling berbagi. Sebuah titik di mana kita harus kembali meyakinkan hati kita, bahwa aku dan kamu akan tetap saling membahagiakan hingga akhir.”

Yuna tersenyum dan memeluk erat tubuh Yeriko. “Makasih ... terlalu banyak hal yang kamu kasih ke aku. Sedangkan aku, nggak pernah ...”

“Sst ...! Aku nggak minta apa-apa dari kamu. Aku cuma minta, kamu tetap di sisiku seperti ini. Apa pun yang terjadi. Sesulit apa pun cobaan yang harus kita hadapi. Jangan berpaling dan pergi!” pinta Yeriko. “Karena kamu harta paling berharga yang aku punya di dunia ini.” Ia memeluk tubuh Yuna erat.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Aku janji, akan selalu ada di samping kamu. Aku akan selalu jadi wanita gila yang tinggal di dalam hati kamu. Nggak akan ngebiarin siapa pun masuk ke dalam hati kamu.”

“Berjanjilah, kita akan seperti ini terus!” pinta Yeriko sembari menarik wajah Yuna menatapnya.

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

“Kalau suatu hari aku nyakitin kamu, jangan berhenti mencintaiku!” pinta Yeriko dengan mata berkaca-kaca. “Aku juga nggak akan berhenti mencintai kamu sampai kita tua dan mati.” Yeriko mengecup dahi Yuna. Kembali membenamkan wajah Yuna ke dadanya.

Yuna menganggukkan kepala. “Aku akan terus mencintai kamu sampai hatiku tak berfungsi lagi,” bisiknya lirih.

Mereka tenggelam dalam kebahagiaan. Yeriko sangat berharap, ini bisa menebus kesalahannya karena telah mengecewakan Yuna di restoran puncak dua hari lalu.


((Bersambung...))



0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas