Untuk
menebus kegagalannya mengajak Yuna makan malam bersama di restoran puncak,
Yeriko berjanji akan menggantinya pada hari minggu.
Tepat
hari Minggu pagi, Yeriko mengajak Yuna keluar dari rumahnya.
“Kita
mau ke mana?” tanya Yuna saat ia sudah duduk manis di dalam mobilnya.
“Ke
tempat yang kamu suka.” Yeriko tersenyum sembari menyalakan mesin mobilnya. Ia
mengajak Yuna menuju Jl. Dr. Soetomo.
Yuna
pikir, Yeriko akan mengajaknya makan di Kayanna Restaurant. Namun, mobilnya
tidak berhenti di sana. Justru berbelok ke arah lain. Lima menit kemudian,
Yeriko menghentikan mobilnya di halaman parkir salah satu taman yang tak jauh
dari tempat itu.
Yeriko
mengajak Yuna menikmati hamparan bunga yang ada di taman tersebut.
“Taman
bunga di sini bagus banget. Kayaknya, waktu aku sama Jheni ke sini, nggak ada
bunga sebanyak ini,” tutur Yuna sambil menyentuh bunga cosmos aneka warna. Di
sana, ada banyak jenis bunga. Mulai dari bunga mawar, zinia, seruni, petunia
hingga marigold.
Yeriko
tersenyum, ia mengambil salah satu sepeda yang disiapkan di tempat itu,
pengunjung bisa menyewanya untuk berkeliling melihat aneka taman bunga. Sejak
beberapa hari lalu, ia bekerjasama dengan walikota dan dinas pertamanan kota
untuk merenovasi taman kota tersebut. Ia sengaja mempersembahkan taman tersebut
untuk Yuna dan semua pengunjung taman akan mengetahui bagaimana kisah cinta
mereka dimulai.
“Ayo,
naik!” ajak Yeriko yang sudah bertengger di atas sepeda.
Yuna
tersenyum, ia ikut naik ke sepeda sembari memeluk pinggang Yeriko dari
belakang. Mereka berkeliling menikmati indahnya hamparan bunga yang ada di
taman tersebut. Kolam yang ada di tengah taman tersebut juga sangat indah
dengan bunga-bunga teratai di atasnya.
“Ini,
semua bunga bisa mekar bersamaan gini, pakai hormon ya?” tanya Yuna.
Yeriko
tersenyum, namun kepalanya menggeleng. “Nggak tahu, aku bukan ahli bunga.”
“Mmh
... aku juga bukan ahli bunga. Tapi suka sama bunga. Karena wangi, indah dan
penuh makna. Bunga warna kuning, melambangkan keceriaan. Bunga aster,
melambangkan kemurnian cinta dan kesetiaan. Bunga mawar, biasanya dipakai untuk
menyatakan cinta dengan penuh keberanian. Bunga seruni, bisa melambangkan
sesuatu yang lebih misterius tentang cinta, kebahagiaan dan persahabatan. Bunga
Zinia, bisa diartikan sebagai lambang ketahanan diri, cocok buat mereka yang
menjalani kisah cinta dengan banyak ujian,” jelas Yuna panjang lebar.
Yeriko
tersenyum menanggapi ucapan Yuna. “Tumben, otak kamu selancar ini?”
Yuna
memonyongkan bibir sambil memukul punggung Yeriko. “Iih ... kamu suka banget
ngolok otakku.”
“Hehehe,
bercanda. Dari semua bunga yang ada di sini, kamu paling suka yang mana?”
“Mmh
...” Yuna mengetuk-ngetuk dagunya. “Mmh, aku suka semua sih. Tapi kalo buat
kamu, aku pilih bunga seruni.”
“Kenapa?”
“Karena
kamu menyembunyikan sesuatu dari aku.”
“Menyembunyikan
apa?” tanya Yeriko sambil menahan tawa.
“Mmh
... kamu selalu bikin aku penasaran. Bahkan sampai sekarang ...” Yuna
menghentikan ucapannya. Ia ingin bertanya perihal ayah Yeriko yang masih
dirahasiakan darinya. Namun, ia takut kalau hal ini justru memperburuk suasana.
“Apa?”
tanya Yeriko penasaran.
“Sampai
sekarang, aku masih nggak ngerti gimana kamu bisa ngasih kejutan lamaran
diam-diam dan pindahin restoran ke atap gedung kantor kamu. Bahkan, kamu bikin
Jheni mengkhianati sahabatnya sendiri,” tutur Yuna berbohong.
Yeriko
tersenyum sambil menghentikan sepedanya. “Itu bukan menyembunyikan, tapi
memberi kejutan. Namanya kejutan, harus dikasih tahu di akhir. Kalau aku kasih
tahu dari pertama. Namanya bukan kejutan,” tutur Yeriko sambil turun dari
sepedanya.
“Oh
ya?” Yuna juga ikut turun dari sepeda.
“Aku
punya kejutan lagi buat kamu. Ayo, ikut!” pinta Yeriko sambil mengulurkan
tangannya ke arah Yuna.
Yuna
tersenyum sambil menautkan telapak tangannya ke tangan Yeriko.
Yeriko
menggenggam erat tangan Yuna. Melangkahkan kakinya perlahan mendekati sebuah
rumah kayu kecil yang ada di tengah taman tersebut.
Yuna
ingin berteriak dan melompat setinggi-tingginya saat melihat rumah kayu
tersebut. Di dekat tangga naik ke rumah itu, ada sebuah tulisan ‘Pondok Cinta
YEYUI’.
“Yeyui?”
Yuna mengerutkan dahi. “Artinya apa?”
Yeriko
menghentikan langkahnya dan menatap Yuna. “Yeri Yuna,” jawabnya sambil
tersenyum.
“Kok
ada i-nya di belakang? Artinya apa?” tanya Yuna lagi.
“Itu
artinya ... I love you,” jawab Yeriko sambil mengecup bibir Yuna.
Pipi
Yuna menghangat. Ia sangat bahagia karena Yeriko bisa mewujudkan impiannya.
Rumah kayu dan hamparan bunga di taman itu, benar-benar seperti impiannya.
“Kamu
tahu dari mana kalau aku ...”
“Dari
Jheni,” jawab Yeriko sebelum Yuna menyelesaikan ucapannya. Ia mengajak Yuna
menaiki tujuh anak tangga untuk masuk ke dalam pondok kayu tersebut. Ia membuka
pintu dan mengajak Yuna masuk ke dalamnya.
Yuna
terpesona melihat semua perabotan rumah di dalamnya benar-benar sesuai dengan
impiannya. Cangkir-cangkir keramik dan beberapa hiasan kayu yang sangat
artistik.
“Kamu
bener-bener bikin ini semua?” tanya Yuna sembari mengedarkan pandangannya ke
seluruh ruangan tanpa sekat. Tempat tidur mungil yang begitu cantik berada di
sisi kanan ruangan tersebut. Dapur kecil, meja makan yang mungil, juga
hiasan-hiasan kayu yang menggantung di atas kepalanya.
Atap
pondok itu tidak terlalu tinggi, mungkin hanya berjarak lima puluh sentimeter
dari tinggi badan Yeriko. Yuna juga bisa meraih hiasan kayu yang menjuntai dari
atap pondok tersebut. Di dalam hiasan kayu itu terdapat tulisan-tulisan. Yuna
membacanya satu per satu.
-21
Desember 2016-
“Pertama
kali bertemu dengan wanita pemabuk di bar.”
-22
Desember 2016-
“Wanita
pemabuk tak dikenal mencium Ye di tepi jalan, di bawah rintik hujan yang
romantis.”
-
23 Desember 2016-
“Ye
kembali bertemu wanita pemabuk yang menyedihkan itu disekap di hotel.”
-
24 Desember 2016-
“Pertama
kalinya, Ye membawa orang asing masuk ke dalam rumah. Seisi rumah tersenyum
menyambut kehadirannya.”
-25
Desember 2016-
“Seluruh
dunia Ye tersenyum saat wanita gila bernama Yu, masuk ke dalam hatinya tanpa
permisi.”
-26
Desember 2016-
“Ye
menikahi Yu tanpa permisi.”
-01
Januari 2017-
“Tahun
baru Ye & Yu bersama keluarga besar.”
-14
Februari 2017-
“Kami
saling jatuh cinta.”
...
-07
Juli 2017-
“Hadirnya
Ye kecil.”
Yuna
terus membaca tulisan-tulisan itu. “Kamu bikin ini semua?” tanyanya masih tak
percaya. Ia tak menyangka kalau Yeriko punya banyak waktu untuk menuliskan
kisah-kisah mereka.
Air
mata Yuna jatuh berderai karena kebahagiaan yang ia rasakan tak lagi bisa ia
ungkapkan dengan teriakan nada suara tertinggi.
Yeriko
tersenyum menatap Yuna. “Setiap momen bahagia kita, kita akan menulisnya di
rumah kecil ini. Jika kita suatu hari ada keraguan di antara kita. Ingatlah,
gubuk kecil ini adalah cerita di mana kita saling mencintai, saling menguatkan
dan saling berbagi. Sebuah titik di mana kita harus kembali meyakinkan hati
kita, bahwa aku dan kamu akan tetap saling membahagiakan hingga akhir.”
Yuna
tersenyum dan memeluk erat tubuh Yeriko. “Makasih ... terlalu banyak hal yang
kamu kasih ke aku. Sedangkan aku, nggak pernah ...”
“Sst
...! Aku nggak minta apa-apa dari kamu. Aku cuma minta, kamu tetap di sisiku
seperti ini. Apa pun yang terjadi. Sesulit apa pun cobaan yang harus kita
hadapi. Jangan berpaling dan pergi!” pinta Yeriko. “Karena kamu harta paling
berharga yang aku punya di dunia ini.” Ia memeluk tubuh Yuna erat.
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. “Aku janji, akan selalu ada di samping kamu. Aku
akan selalu jadi wanita gila yang tinggal di dalam hati kamu. Nggak akan
ngebiarin siapa pun masuk ke dalam hati kamu.”
“Berjanjilah,
kita akan seperti ini terus!” pinta Yeriko sembari menarik wajah Yuna
menatapnya.
Yuna
mengangguk sambil tersenyum.
“Kalau
suatu hari aku nyakitin kamu, jangan berhenti mencintaiku!” pinta Yeriko dengan
mata berkaca-kaca. “Aku juga nggak akan berhenti mencintai kamu sampai kita tua
dan mati.” Yeriko mengecup dahi Yuna. Kembali membenamkan wajah Yuna ke
dadanya.
Yuna
menganggukkan kepala. “Aku akan terus mencintai kamu sampai hatiku tak
berfungsi lagi,” bisiknya lirih.
Mereka
tenggelam dalam kebahagiaan. Yeriko sangat berharap, ini bisa menebus
kesalahannya karena telah mengecewakan Yuna di restoran puncak dua hari lalu.
((Bersambung...))
.png)
0 komentar:
Post a Comment