Friday, July 11, 2025

Perfect Hero Bab 281 : Penolakan yang Kejam

 


Yeriko memasuki rumah sewaan milik Refi. Sebenarnya, rumah tersebut sudah ia atur sebelumnya bersama Chandra karena perkembangan kaki Refi yang terus membaik. Yeriko menyewakan sebuah rumah yang tak jauh dari rumah sakit agar Refi tetap bisa mendapatkan terapi dengan mudah.

Refi bergegas membukakan pintu untuk Yeriko begitu ia mendengar pintu rumahnya diketuk.

Yeriko menatap tubuh Refi dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, hingga membuat Refi mengira kalau Yeriko terpesona dengan penampilannya.

“Kamu udah bisa berdiri?” tanya Yeriko. Dalam hati, ia ingin tertawa melihat penampilan Refi yang menggelikan.

Refi mengangguk, ia memasang senyum semanis mungkin. Di matanya, jelas tersirat kalau ia sangat menginginkan Yeriko.

“Ayo, masuk!” ajak Refi sambil melangkah perlahan. Ia mencoba menahan rasa nyeri di kakinya. Ia masih harus mengikuti beberapa terapi agar bisa berjalan normal tanpa menahan sakit.

Yeriko melangkahkan kakinya masuk ke rumah, ia menatap kue ulang tahun di atas meja dan semua hidangan yang sudah disiapkan oleh Refi.

“Yer, makasih ya. Kamu udah mau datang ke sini buat aku,” ucap Refi sambil tersenyum.

Yeriko tersenyum menatap Refi. Ia sudah memahami gerak-gerik Refi.

“Gimana keadaan kamu akhir-akhir ini? Sehat?” tanya Yeriko.

Refi tersenyum. “Iya. Seperti yang kamu lihat sekarang.”

“Baguslah. Aku bisa tenang dengarnya.” Yeriko sengaja mengucapkan kalimat yang membuat Refi mengira kalau dirinya masih memberikan perhatian untuk wanita itu.

“Yer, makasih banyak buat perhatian kamu ini. Aku tahu, kamu nggak bener-bener benci sama aku kan?” Ia mendekat ke tubuh Yeriko dan ingin menyandarkan kepalanya ke dada Yeriko.

Yeriko tersenyum sinis dan sengaja menghindari Refi hingga gadis itu terseungkur ke sofa.

Refi memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam. Ia sangat kesal dengan sikap Yeriko kali ini. Ia tidak menyangka kalau Yeriko akan mempermainkan dirinya seperti ini.

“Ref, sabar!” bisiknya dalam hati. “Sebentar lagi, dia akan masuk ke dalam perangkap.”

Refi bangkit dari sofa dan tersenyum ke arah Yeriko.

“Mmh ... ayo, kita makan malam bareng. Bukannya, kamu nggak punya waktu?” ajak Refi sambil melangkah menuju meja makan.

Yeriko mengangguk kecil. Ia duduk di salah satu kursi, tepat di hadapan Refi. Tatapannya sangat dingin, membuat Refi semakin menginginkan pria setia seperti Yeriko.

“Yer, hari ini aku masak khusus buat kamu. Aku harap, kamu masih suka sama masakanku.” Refi menyiapkan piring untuk Yeriko, ia menaruh ikan di atas piring. Dulu, Yeriko sangat suka makan ikan hasil olahan tangan Refi.

“Aku nggak makan ikan!” Yeriko mendorong piring itu menjauh darinya. Ia sedikit pusing dan mual melihat olahan ikan yang ada di hadapannya.

“Eh!? Bukannya, dulu kamu suka makan ikan?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Sekarang, aku cuma makan ikan yang dimasak Yuna,” jawabnya dingin.

Ucapan Yeriko benar-benar menyulut kemarahan Refi. Ia kini tidak tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran Yeriko. Pria itu terlihat sangat santai, hingga ia tidak bisa membaca apa yang tersirat dari wajah Yeriko.

“Yuna, siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu bisa mengendalikan Yeriko sampai seperti ini?” batin Refi kesal. Bibirnya terus tersenyum walau dalam hatinya mengumpat.

“Mmh ... kalau gitu, gimana kalau kita bersulang buat ngerayain ulang tahun aku?” tanya Refi sambil mengangkat gelas wine yang ada di hadapannya.

Yeriko menggeleng lagi. “Aku nggak minum, masih harus nyetir.”

Refi langsung menghapus senyuman di bibirnya. Ia meletakkan gelas wine miliknya kembali ke atas meja. Ia sangat kesal karena kehadiran Yeriko justru membuat suasana hatinya semakin buruk.

“Yer, aku cuma minta kamu sebentar buat ngerayain ulang tahunku aja. Kenapa sih kamu nggak bisa bersikap manis sama aku walau cuma sebentar?”

Yeriko merogoh korek dari saku celananya. Ia langsung menyalakan lilin yang tersemat di atas kue ulang tahun milik Refi. “Tiup lilinnya sekarang!” perintahnya. Ia tidak ingin berlama-lama berada di dekat Refi.

Refi menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Ia berharap Yeriko bisa kembali ke sisinya seperti dulu lagi. Ia membuka mata perlahan dan meniup lilin ulang tahun miliknya.

Yeriko tersenyum ke arah Refi. “Selamat ulang tahun,” ucapnya.

Refi balas tersenyum. Ia sangat bahagia melihat Yeriko tersenyum sambil mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Tahun kemarin, Yeriko juga masih melakukan hal yang sama untuknya lewat video call. Oleh karenanya, ia masih tidak bisa mempercayai kalau kini Yeriko mencintai wanita lain selain dirinya.

Yeriko langsung bangkit dari tempat duduknya.

“Mau ke mana?” tanya Refi.

“Mau pergi. Aku ada janji makan malam bareng istriku.”

Refi menahan amarah di dadanya. Ia tidak bisa membiarkan Yeriko pergi begitu saja. Ia harus bisa menahan Yeriko agar tetap tinggal bersamanya. Ia tidak ingin rencananya kali ini gagal lagi.

Refi berusaha menahan Yeriko agar tak beranjak pergi meninggalkannya. Ia ikut bangkit dan langsung memeluk tubuh Yeriko.

“Lepasin, Ref!” pinta Yeriko.

“Jangan pergi, please!” pinta Refi sambil mengeratkan pelukannya.

Yeriko makin geram dengan sikap Refi. Ia mencengkeram kedua lengan Refi dan melepaskan dirinya dari pelukan Refi.

Refi tidak bisa mempertahankan tubuhnya. Kakinya yang belum benar-benar kokoh membuat tubuhnya terjatuh ke lantai. “Aw ...!” Ia merintih kesakitan.

Yeriko menatap Refi yang terduduk di lantai sambil memegangi kakinya. Ia menarik napas, ia membungkukkan tubuhnya dan membantu Refi untuk bangkit.

Refi tersenyum. Ia langsung merangkul leher Yeriko.

“Lepasin, Ref!” sentak Yeriko.

Refi tersenyum menatap wajah Yeriko. “Yer, aku cuma mau selalu ada di dekat kami kayak gini walau tanpa status apa pun,” tuturnya sambil berusaha mencium wajah Yeriko.

“Argh ...!” Yeriko berusaha menghindari wajah Refi. Ia mencengkeram kedua lengan Refi dan menghempaskan tubuh Refi ke lantai begitu saja.

Yeriko berdiri di hadapan Refi sambil menatap gadis itu penuh kebencian. “Kamu sadar nggak kalau kelakuan kamu ini menjijikkan!”

Refi menengadahkan kepalanya sambil menatap Yeriko dengan mata berkaca-kaca. “Yer, aku kayak gini karena kamu. Aku pengen kamu balik kayak dulu lagi. Aku masih sayang sama kamu.”

“Aku nggak sayang sama kamu.”

“Bukannya dulu kamu bilang kalau kamu sayang sama aku?”

“Aku yang dulu udah nggak ada lagi. Sekarang, aku nggak bisa kamu tipu lagi.”

“Aku nggak nipu kamu, Yer. Aku beneran sayang sama kamu. Kenapa kamu nggak pernah lihat aku?”

Yeriko tersenyum sinis. “Aku nggak akan ngelihat perempuan murahan kayak kamu.”

“Kamu tega ngatain aku kayak gini?”

“Kamu pikir, aku nggak tahu kalau kamu udah naruh obat di minuman itu, hah!?” sentak Yeriko.

“Aku nggak naruh apa-apa di minuman itu. Itu cuma ...”

Yeriko tidak sabar menghadapi kebohongan-kebohongan Refi. Ia meraih gelas wine yang sudah disediakan Refi. Ia kembali membungkuk di hadapan Refi. Dengan cepat, tangannya menyambar rahang Refi. Membuka mulut gadis itu dengan paksa dan mengucurkan wine berisi obat perangsang itu ke dalam mulut Refi.

Refi langsung menangis sambil menatap Yeriko yang memandangnya sangat rendah.

Yeriko tersenyum sinis sambil menegakkan kembali tubuhnya. Ia mengangkat gelas wine yang sudah kosong lebih tinggi dari kepalanya. Secara perlahan, ia melepaskan pegangan tangannya dan membuat gelas itu meluncur bebas ke lantai.

 

TAARRR ...!

 

Pecahan gelas berderai tepat di sisi Refi. Yeriko tidak ingin bernegosiasi soal perasaannya. Ia langsung melangkah pergi penuh ketegasan dan tidak menoleh sedikitpun ke arah Refi.

Refi terus memandang tubuh Yeriko hingga menghilang di balik pintu yang berdentum karena tenaga Yeriko cukup kuat saat menutupnya.

“Aargh ...!” Refi menangis histeris. Ia bangkit sambil menyandarkan tubuhnya ke meja. Tangannya langsung menyingkirkan semua isi meja. Piring dan gelas berjatuhan ke lantai. Juga kue ulang tahun yang kini nasibnya berada di bawah kaki meja. Menunggu semut-semut melahapnya.

Refi tak bisa mengendalikan dirinya. Ia meminum banyak obat perangsang yang ia simpan.

“Kenapa jadi kayak gini?” teriak Refi histeris. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau Yeriko benar-benar membencinya.

Di saat yang tak terduga. Deny masuk ke dalam rumah itu. Ia melihat Refi yang terbaring di tas sofa penuh nafsu. Ia melihat obat perangsang yang tergelak di lantai. Wajahnya sangat antusias melihat Refi yang mulai meliukkan tubuhnya seperti cacing kepanasan.

Deny sangat senang melihat hal ini. Ia ikut meminum obat perangsang yang tersisa dan langsung melucuti semua pakaian Refi.

Perfect Hero Bab 280 : Persiapan Makan Malam Romantis || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yuna tersenyum sambil memeluk ponselnya. Ia sangat bahagia saat melihat pesan dari Yeriko yang mengirimkan sebuah alamat untuknya. Ia langsung membuka lemari dan mencari pakaian yang bagus untuk ia kenakan. Ia memilih dress selutut warna mocca dan mengenakannya.

Usai bersiap, Yuna bergegas turun dari kamarnya. Ia celingukan mencari mobil sedan milik mama mertuanya.

“Bi, Angga mana ya?” tanya Yuna.

“Dipanggil ke rumah kakek. Mbak Yuna mau ke luar?”

Yuna mengangguk. “Ya udah, aku pesen taksi online aja, Bi.”

“Coba bibi telepon Angga dulu. Dia bilang, cuma pergi sebentar.”

“Oh. Oke.” Yuna mengangguk. Ia menunggu Bibi War menelepon Angga.

“Mbak, si Angga udah mau ke sini. Mbak Yuna tunggu Angga aja ya!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

Bibi War menemani Yuna di teras rumah sembari menunggu Angga datang menjemputnya.

“Mbak Yuna mau pergi ke mana? Cantik banget?”

“Mau pacaran sama Bos Ye,” sahut Yuna sambil terkekeh.

Bibi War ikut terkekeh. “Kirain, mau pergi ke mana. Biasanya, keluar sama Mas Yeri cuma pake piyama.”

“Iya. Itu kan kalo Yeri ngajak aku buru-buru. Itu namanya bukan kencan, Bi. Kali ini, baru kencan beneran.”

“Iya, Bibi ngerti.”

“Huft, akhir-akhir ini Yeriko sibuk banget. Karena semalam dia nggak bisa nemenin aku makan malam. Jadi, malam ini dia ngajak makan di restoran puncak gunung. Hmm … diam-diam, dia romantis juga.”

“Semenjak nikah, Mas Yeri lebih banyak di rumah nemenin Mbak Yuna. Biasanya, Mas Yeri jarang banget di rumah. Pulang kerja sampai jam empat pagi. Jam tujuh pagi, dia sudah pergi ke kantor lagi.”

“Sibuk banget ya, Bi?”

Bibi War mengangguk. “Dia memang pekerja keras. Sampai nggak punya waktu buat pacaran. Tapi semenjak nikah, dia banyak berubah. Rumah ini juga jadi lebih hangat sejak Mbak Yuna tinggal di sini.”

Yuna tersenyum. Ia mengingat saat beberapa bulan lalu Yeriko membawanya ke rumah ini dalam keadaan yang sangat memilukan. Mungkin benar, dia memang hanya kucing jalanan yang dipungut Yeriko. Jika tidak bertemu dengan Yeriko, sampai saat ini ia masih menjalani penderitaan, hidup luntang-lantung dan berada di bawah tekanan keluarga Bellina. Sebab mereka selalu menggunakan Ayah Yuna sebagai ancaman.

Kini, hidup Yuna jauh lebih tenang. Ayahnya telah mendapatkan pengobatan terbaik. Dirinya juga telah mendapatkan hidup baru yang lebih baik. Ia harap, Yeriko akan terus mencintainya sepenuh hati hingga mereka tua nanti.

“Mbak, Mas Angga sudah datang.” Bibi War membuyarkan lamunan Yuna.

Yuna tersenyum menatap mobil sedan yang sudah terparkir di halaman rumahnya. Ia langsung melangkah dan masuk ke dalam mobil tersebut.

“Nyonya, mau ke mana?” tanya Angga.

Yuna menyodorkan ponselnya. “Tahu tempat ini kan?”

Angga mengamati sejenak, lalu menganggukkan kepala. Ia bergegas menyalakan mesin mobilnya dan membawa Yuna menuju salah satu restoran yang berada di puncak gunung.

“Nyonya Bos ...!”

“Panggil Mbak, aja ya!” perintah Yuna. “Aku nggak suka dipanggil Nyonya.”

Angga mengangguk kecil.

“Ada apa?” tanya Yuna.

“Di garasi Pak Bos ada mobil porsche, punya siapa? Kok, Pak Bos nggak pernah pakai. Tapi, setiap pagi disuruh manasin terus.”

Yuna tertawa kecil. “Ikutin aja perintah bos kamu. Dia nggak ngasih tahu itu mobil siapa?”

Angga menggelengkan kepala.

Yuna terus tersenyum. Ia mengingat bagaimana cara Yeriko mengambil mobil mewah itu dari tangan Andre.

 

...

 

- Galaxy Group Big Office –

Yeriko tersenyum setelah mengirimkan pesan untuk Yuna. Ia menelepon Riyan.

“Halo, Pak Bos!” sapa Riyan.

“Kamu di mana?” tanya Yeriko.

“Lagi ngecek pabrik yang Pak Bos suruh.”

“Oke. Jam berapa balik?”

“Ini sudah di luar jam kerja. Saya langsung pulang.”

“Beberapa departemen malam ini aku suruh lembur. Kamu awasi mereka!” perintah Yeriko.

“Hah!?”

“Kenapa? Mau potong bonus atau potong gaji?”

“Nggak dua-duanya. Abis ini, saya langsung ke sana.”

Yeriko tersenyum. “Bagus.” Ia langsung mematikan panggilan teleponnya.

Yeriko meraih kunci mobil yang ia letakkan di atas meja. Ia melangkah penuh semangat karena akan mengajak Yuna makan malam di restoran sambil menikmati bintang-bintang dan keindahan kota dari ketinggian.

Baru saja ingin membuka pintu ruangannya, ponselnya tiba-tiba berdering. Ia merogoh ponsel dari saku dalam jasnya dan melihat nomor yang tidak dikenal memanggilnya.

Yeriko mengernyitkan dahi, lalu menjawab panggilan telepon tersebut.

“Halo ...!” sapa Yeriko.

“Halo, Yer! Apa kabar?” Terdengar suara yang tidak asing dari ujung teleponnya.

Yeriko tersenyum sinis. Ia sangat mengenal suara wanita yang meneleponnya. “Mau apa telepon aku?”

“Aku mau ngucapin terima kasih atas apa yang sudah kamu lakuin ke aku selama ini.”

Yeriko enggan menyahut. Baginya, suara wanita ini sangat memuakkan.

“Kamu tahu nggak ini hari apa?” tanya wanita itu.

Yeriko tak menjawab. Ia hanya mengingat hari ini sudah merencanakan memberikan kejutan untuk istrinya.

“Yer, hari ini hari ulang tahunku. Bukannya dulu kamu pernah janji kalau mau menemaniku merayakan ulang tahun setiap tahunnya.”

Yeriko tersenyum kecil. Baginya, itu hanya kalimat konyol yang keluar dari mulutnya beberapa tahun silam. Kini, ia menganggap semuanya tidak berarti.

“Yer, aku tahu kamu masih di situ. Please, temenin aku ngerayain ulang tahunku kali ini.”

“Ref, aku udah nikah. Aku cuma sayang sama istriku. Aku nggak bisa menuhin permintaan kamu.”

“Sekali aja, Yer. Aku cuma mau mengenang masa-masa indah kita yang dulu.”

“Aku udah berusaha bikin kamu sembuh. Masih kurang?”

“Aku tahu. Sekarang, aku sudah bisa sembuh karena kamu. Makanya, aku mau kamu nemenin aku ngerayain ulang tahunku sekalian ngucapin terima kasih.”

Yeriko tersenyum sinis. “Aku ikhlas ngelakuin itu demi Yuna. Jadi, kamu nggak perlu berterima kasih ke aku. Berterima kasihlah sama istriku yang sudah berbelas kasih ke kamu!”

“Oke. Aku akan berterima kasih ke istri kamu. Tapi, aku tetap akan menagih janji kamu buat nemenin aku ngerayain ulang tahunku. Sebagai seorang pria, setidaknya kamu menepati janji kamu. Aku cuma minta waktu kamu satu jam aja. Aku janji, ini terakhir kalinya aku ngerayain ulang tahun sama kamu.”

Yeriko tersenyum kecil. Ia sangat mengetahui sifat Refi yang licik dan penuh ambisi. Ia lebih khawatir kalau Refi akan melukai Yuna jika ia menolak keinginannya.

Tiba-tiba, terlintas ide licik di kepala Yeriko. Jalan satu-satunya untuk membuat Refi berhenti mengganggu rumah tangganya adalah dengan membuatnya menderita secara perlahan dan membuat gadis itu sadar kalau ia tidak pantas sama sekali berdiri di sisi Yeriko.

“Tiga puluh lima menit,” tutur Yeriko.

“Oke. Nggak masalah. Asalkan kamu mau datang ke sini. Aku kirim alamatku ke kamu.”

“Oke.” Yeriko mematikan panggilan teleponnya. Ia tersenyum sinis dan membuka pintu ruangannya.

 

...

 

Di tempat lain, Refi sangat senang. Ia mengira kalau Yeriko masih sangat mencintainya dan bersedia merayakan ulang tahunnya hari ini. Ia menyiapkan makanan masakannya sendiri. Ia tahu, Yeriko sangat suka masakan rumah. Terlebih, makanan yang dibuatnya dengan penuh cinta.

Banyak makanan sudah tersusun di meja makan. Ia memasang banyak lampu tumblr untuk membuat suasana menjadi lebih romantis. Lilin-lilin juga sudah terpasang dengan baik. Refi tersenyum puas melihat hasil kerja kerasnya sendiri.

“Kamu harus jadi milikku lagi!” tegas Refi sambil menuangkan wine ke dalam gelas. Ia sengaja menambahkan obat perangsang ke dalam minuman tersebut. Ia berniat untuk memiliki Yeriko seutuhnya. Setelah melakukannya dengan baik malam ini, Yeriko akan merasa bertanggung jawab terhadap dirinya dan ia bisa dengan mudah menyingkirkan Ayuna.


((Bersambung...))

 

Perfect Hero Bab 279 - Without Mr. Ye

 


Andre masih mematung di tempatnya. Akhir-akhir ini, ia memilih bekerja siang dan malam, terus menerus membahas proyek demi mencegah anggota keluarganya ikut campur dalam masalah jodohnya. Hingga ia pun tak menyadari kalau ia juga telah melewatkan Ayuna.

Yuna sangat mengerti bagaimana perasaan Andre. Ia tidak ingin berlama-lama berada di hadapan pria itu. Ia bangkit dari tempat duduknya, melangkah perlahan meninggalkan Andre. Ia tak punya keberanian untuk memutar kepalanya ke belakang, melihat wajah teman kecilnya itu terluka karena dirinya.

“Langsung pulang, Nyonya?” tanya Angga yang bergegas mengikuti langkah Yuna saat ia keluar dari kafe.

Yuna menganggukkan kepala.

Angga segera membukakan pintu mobil untuk Yuna dan bergegas membawa Yuna pergi.

Sementara itu, mata Andre masih terus terpaku menatap pintu kafe yang membawa Yuna pergi menghilang dari pandangannya. Berganti dengan langkah orang lain yang keluar masuk pintu itu.

“Haruskah aku membuka pintu hatiku untuk orang lain? Membiarkanmu pergi begitu saja?” batin Andre. Ia kemudian tersenyum kecil. “Semoga, kamu selalu bahagia. Bersama siapa pun itu.”

Andre tersenyum sambil menarik mangkuk ice cream yang ada di hadapannya. Yuna sangat suka makan ice cream, dengan melahapnya perlahan, ia merasa Yuna sedang makan ice cream di hadapannya dengan wajah yang begitu ceria. Setiap tawa yang terukir di bibir Yuna, membuatnya ingin terus tersenyum.

 

 

...

 

Yuna masuk ke rumah dalam keadaan kesal karena Icha telah mengkhianati dirinya. Ia tak menyangka kalau Icha justru menyodorkan dirinya pada Andre, pria yang secara terang-terangan mengejar dirinya.

“Icha ngeselin banget sih. Bercandanya nggak lucu. Kalo Yeriko tahu aku keluar ketemunya sama Andre, bukannya sama Icha, bisa keluar tanduknya,” omel Yuna sambil melangkahkan kakinya masuk ke rumah.

Yuna menatap beberapa orang yang tidak ia kenal lalu lalang di dalam rumahnya.

“Bi, mereka siapa?” tanya Yuna pada Bibi War yang berdiri tak jauh darinya.

“Tukang, Mbak. Mas Yeri yang nyuruh renovasi kamar atas.”

“Kenapa direnovasi? Nggak ada yang rusak kan?”

“Bikinkan kamar buat si Dedek,” jawab Bibi War sambil tersenyum.

“Hah!? Serius?”

Bibi War mengangguk sambil tersenyum.

Yuna sangat bersemangat, ia bergegas naik ke lantai atas untuk melihat kamar anak yang sedang disediakan oleh Yeriko. Yuna memerhatikan para pekerja yang sibuk merenovasi ruang kerja Yeriko. Ruang kerjanya memang sangat luas, sehingga Yeriko merelakan sebagian ruang kerjanya untuk kamar bayi mereka.

Yuna merogoh ponsel dari dalam tasnya dan langsung menelepon Yeriko. Namun, ia tidak mendapatkan jawaban sama sekali.

Yuna melangkah tak bersemangat menuruni anak tangga. “Dia pasti lagi sibuk banget,” gumamnya.

 

TING!

 

Yuna langsung membuka pesan yang masuk ke ponselnya.

- Aku masih rapat. Nanti aku telepon balik kalau udah nggak sibuk-

Yuna menarik napas setelah membaca pesan dari Yeriko. Ia melangkahkan kakinya ke halaman belakang.

Hari ini, usia kandungan Yuna sudah menginjak minggu ke tujuh. Kali ini, ia akan memeriksakan kandungannya seorang diri karena Yeriko terlalu sibuk dengan pekerjaan dan persiapan pernikahan mereka.

“Dek, ntar sore kita pergi berdua aja ya. Ayah kamu sibuk cari uang buat kita,” tutur Yuna sambil mengelus perutnya.

Kesibukan Yeriko yang padat, membuatnya berpikir banyak hal. Terlebih, Yeriko tidak bisa menemaninya pergi ke dokter. Terpaksa, ia mengandalkan Bibi War untuk menemaninya pergi ke memeriksakan kandungannya.

Beberapa menit kemudian, Yeriko meneleponnya. Yuna langsung tersenyum lebar menatap foto Yeriko yang terpampang di layar ponsel dan langsung menjawab telepon.

“Halo ...!” sapa Yuna.

“Halo, gimana? Tadi jadi ketemu sama Icha?”

“Jadi,” jawab Yuna singkat.

“Sore ini jadwal periksa ya?” tanya Yeriko.

“He-em.” Yuna menganggukkan kepala.

“Aku harus lembur malam ini. Banyak yang harus aku selesaikan. Kamu pergi sama Bibi War aja, ya!”

“Iya.” Yuna menanggapi tak bersemangat.

“Jangan sedih gitu, dong!”

“Nggak, kok.”

“Aku bener-bener nggak bisa ninggalin kerjaan kali ini. Besok sore, abis pulang kerja, aku ajak kamu jalan-jalan ke suatu tempat.”

“Ke mana?” tanya Yuna sumringah.

“Ada, deh. Sekarang, kamu siap-siap periksain si Dedek Kecil. Kalo udah sampai klinik, kabarin aku ya!” pinta Yeriko. “Aku masih ada rapat lagi. Nanti aku telepon kalau udah nggak sibuk.”

“He-em.” Yuna menganggukkan kepala. Ia bisa mendengar suara seseorang memanggil nama Yeriko.

Yeriko langsung memutuskan sambungan teleponnya.

Yuna langsung bersiap memeriksakan kandungannya, ia membawa Bibi War ikut serta memeriksakan kandungannya kali ini. Ia memilih memeriksakan kandungannya ke dokter praktik, karena praktik dokter kandungan mulai buka pada sore hari. Sehingga, Yeriko bisa selalu menemaninya memeriksakan kandungannya. Sayangnya, kali ini kesibukan Yeriko benar-benar tidak bisa diganggu dan membuat Yuna harus memeriksakan kandungannya sendirian.

Sesampainya di klinik dokter praktik, Yuna langsung mengambil antrian. Ia menatap beberapa orang ibu yang juga memeriksakan kandungannya.

“Udah hamil berapa bulan, Mbak?” tanya seorang ibu yang duduk di samping Yuna.

“Jalan dua bulan. Ibu sendiri, sudah berapa bulan kandungannya?” tanya Yuna sambil melihat perut wanita itu yang sudah sangat membesar.

“Udah sembilan bulan. Lagi nunggu hari lahir,” jawab Ibu tersebut sambil tersenyum.

“Oh ya? Semoga lahir dengan selamat ya, Bu!” tutur Yuna.

Ibu itu tersenyum. “Aamiin.”

Seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahunan menghampiri ibu hamil tersebut. “Mama!”

“Ini anak Ibu juga?” tanya Yuna sambil menatap gadis kecil yang sangat lucu.

“Iya. Ini anak pertama saya. Baru tiga tahun. Yang di perut ini, anak saya yang kedua. Insya Allah laki-laki.”

“Wah, langsung dapet lengkap. Sepasang nih.”

“Hehehe. Mbaknya baru anak pertama ya?”

Yuna mengangguk. “Kok, tahu?”

“Kelihatan gelisahnya.”

“Eh!? Masa sih, Bu?”

Ibu itu tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Waktu saya pertama hamil juga begitu. Tapi, harus melawan rasa takut. Ibu hamil harus percaya diri dan kuat. Supaya, bisa melahirkan dengan normal dan sehat.”

Yuna menganggukkan kepala.

“Rencananya, mau lahir normal atau caesar?”

“Mmh ... belum tahu,” jawab Yuna sambil menggelengkan kepala.

“Normal aja. Sakitnya cuma sebentar, kok. Wanita itu, akan merasakan bahagia yang lebih saat lahir normal. Melahirkan itu tugas mulia seorang ibu. Lahir secara normal, jauh lebih nikmat.”

Yuna tersenyum menanggapi ucapan ibu tersebut. Ia sendiri belum pernah memikirkan soal proses kelahiran bayinya.

“Mmh ... kalah lahir normal, sakit atau nggak sih, Bu?”

“Sakit. Sebentar aja, abis itu udah enakan. Apalagi lihat wajah anak kita. Buktinya, saya masih hamil lagi. Kalau melahirkan itu sakitnya mengerikan, saya nggak mau melahirkan lagi.”

Yuna tertawa kecil. Yang diucapkan ibu tersebut memang benar. Apalagi, orang zaman dahulu yang belum mengenal dokter pun bisa memiliki banyak anak. Ia bertekad untuk melahirkan anaknya secara normal. Ia yakin, bisa melakukannya dengan baik.

Tak berapa lama, Yuna mendapat giliran untuk masuk ke ruang pemeriksaan.

“Sore ...!” sapa dokter tersebut dengan ramah.

“Sore, Dok!”

“Suaminya nggak ikut?” tanya dokter tersebut sambil melirik ke arah Bibi War.

Yuna menggelengkan kepala. “Lagi sibuk banget, Dok.”

“Oh, ada keluhan?” tanya dokter tersebut.

Yuna menggelengkan kepala.

“Baring dulu, ya!” biar saya periksa.

Yuna mengangguk. Ia berbaring di atas brankar yang ada di ruangan tersebut.

Usai melakukan pemeriksaan, dokter tersebut memberikan vitamin dan obat penguat kandungan.

“Alhamdulillah, perkembangan janinnya sangat baik. Jaga kesehatan terus ya! Jangan setres, jaga pola makan dan banyak istirahat!” tutur dokter tersebut sambil tersenyum.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Terima kasih, dok!”

Dokter tersebut menganggukkan kepala.

Yuna dan Bibi War bergegas keluar dari ruang pemeriksaan.

Yuna merasa sangat bahagia karena kondisi anaknya sangat baik dan sehat. Ia tidak menyangka kalau dirinya akan menjadi seorang ibu di usia yang kedua puluh lima.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini, tunggu kejutan-kerjutan selanjutnya ya...

Much love,

 

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 278 : Hanya Rindu

 

Yeriko kembali dengan rutinitasnya di perusahaan seperti biasa. Begitu juga dengan Yuna, kembali dengan kesehariannya di rumah menikmati rasa bosan. Yeriko tak melarangnya keluar rumah asalkan ia tidak sendirian. Hanya saja, semuanya sibuk bekerja dan ia tidak punya teman bermain di jam seperti ini.

“Dek, kalo Dedek udah lahir, pasti Bunda nggak akan sendirian,” tutur Yuna sambil mengelus perutnya. Ia menghabiskan waktunya di tempat tidur. Sesekali turun ke ruang tamu, ke ruang keluarga, ke dapur atau ke halaman belakang. Semuanya terasa membosankan.

Ponsel Yuna tiba-tiba berdering. Ia langsung menyambar ponselnya yang berdering. Ia tersenyum begitu melihat nama ‘Icha’ terpampang di layar teleponnya.

“Halo, Cha!” sapa Yuna ceria sambil membaringkan tubuhnya ke sofa yang ada di kamarnya.

“Halo, Yun. Kamu ada waktu?”

“Banyak, Cha. Kenapa?”

“Bisa ketemuan?”

“Eh!? Emang kamu nggak kerja?”

“Nggak, Yun.”

“Bisa. Ketemuan di mana?”

“Di Kafe, tempat biasa.”

“Sekarang?” tanya Yuna lagi.

“He-em.”

“Wait! Aku ganti baju dulu.”

“Oke. Aku tunggu ya!”

“He-em.”

“Aku matiin teleponnya, aku tunggu di kafe. Bye!”

“Bye!” Yuna melemparkan ponselnya ke atas sofa begitu saja. “Huu ... akhirnya ada temen jalan!” seru Yuna. Ia mengirimkan pesan terlebih dahulu pada suaminya untuk memberitahukan kalau ia akan bertemu dengan Icha di kafe tempat mereka biasa nongkrong.

Beberapa menit kemudian, Yuna sudah bersiap dengan pakaian sederhana dan wajah tanpa riasan. Ia hanya mengenakan baby powder di wajahnya. Kemudian, ia melangkah perlahan menuruni anak tangga rumahnya.

“Bi, Angga di mana?” tanya Yuna.

“Di ...” Bibi War ingin menjawab, tapi ia masih celingukan mencari sosok Angga. “Di depan mungkin, Mbak. Mbak Yuna mau jalan ke luar?”

Yuna mengangguk. Ia tersenyum sambil melangkahkan kakinya keluar rumah. Ia menatap mobil sedan yang disediakan oleh kakek mertuanya. Namun, tidak ada sosok Angga di dekat mobil tersebut.

“Angga!” seru Yuna. “Ke mana sih nih orang?” gumamnya karena Angga tak kunjung menghampirinya.

Beberapa saat kemudian, Angga keluar dari bagian belakang rumahnya.

“Kamu ke mana aja?” tanya Yuna.

“Maaf, Nyonya. Saya masih buang air kecil.”

“Oh. Antar saya keluar sebentar!” perintah Yuna.

Angga menganggukkan kepala. Ia segera membukakan pintu untuk Yuna dan mengantar Yuna menuju kafe tempat Icha menunggunya.

Sesampainya di kafe, ia mulai gelisah dengan sikap Angga yang terus membuntutinya.

“Ngga, aku nggak mau diikutin kayak gini. Kelihatan banget kalo aku dijagain. Jaga jarak dikit, bisa kan?”

“Baik, Nyonya.” Angga mengangguk. Ia menjaga jaraknya dengan Yuna. Ia memilih menjaga Yuna dari kejauhan. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada menantu kesayangan keluarga Hadikusuma.

Yuna tersenyum. Ia langsung melangkah masuk ke kafe tersebut dan menghampiri Icha yang sudah menunggunya.

“Udah lama nunggu, Cha?” tanya Yuna.

Icha tersenyum dan langsung menyambut Yuna dengan ceria. “Belum. Baru aja, kok.”

Yuna langsung duduk di hadapan Icha. “Tumben banget ngajak aku ketemuan di jam kerja kayak gini?”

“Nggak papa. Kangen aja sama kamu.”

Yuna tersenyum menatap Icha. “Gimana kabar temen-temen di kantor?”

“Semuanya baik, Yun. Semua kangen sama kamu. Kamu baik-baik aja, kan?”

“Baik. Gimana sama Juan? Udah baik sama kamu?”

“Masih gitu-gitu aja, sih. Malah makin parah.”

“Oh ya?”

Icha tersenyum sambil mengangguk. “Kamu mau minum apa?”

“Susu hangat aja, Cha.”

“Oke. Bentar, aku pesenin.”

Yuna tersenyum sambil merogoh ponsel di dalam tasnya.

“Halo, Yun. Apa kabar?” Andre tiba-tiba sudah duduk di hadapan Yuna.

Yuna mengangkat kepalanya, ia tertegun melihat Andre. “Kenapa dia di sini?” batinnya.

Andre tersenyum ke arah Yuna.

Yuna tak bisa melakukan hal lain selain membalasnya. Ia sedikit kesal karena Andre tiba-tiba menghampirinya. Ia membayangkan bagaimana wajah Yeriko yang pencemburu itu berdiri di balik kaca sambil menatap mereka dengan tanduk yang terbakar.

Icha tersenyum, ia melangkah menghampiri Yuna dan Andre. Ia langsung duduk di sebelah Andre.

“Sorry, Yun. Nggak seharusnya aku ngelakuin ini,” tutur Icha lirih. “Sebenarnya, Andre yang ngajak kamu ketemu di sini.”

Yuna menautkan kedua alis sambil menatap Icha. Ia sangat kesal dengan perbuatan Icha kali ini. Ia pikir, Icha benar-benar tulus mengajaknya keluar sebagai sahabat.

“Kamu jangan marah sama Icha, Yun!” pinta Andre. “Aku yang salah. Aku yang minta dia buat bawa kamu ke luar.”

Yuna tersenyum kecil. Sebenarnya, tidak ada yang salah di antara mereka. Andre juga tetap seorang teman dan tidak pernah membahayakan dirinya. Hanya saja, ia tidak terima dibohongi seperti ini.

“Kenapa harus pakai nama Icha? Kamu bisa telepon aku sendiri, Ndre?”

“Yun, sekarang kamu nggak kerja. Aku sulit buat nemuin kamu. Aku segan sama Yeriko.”

“Oh, kamu masih mikir juga kalau aku sudah bersuami?”

Andre tersenyum. Ia tetap saja tidak ingin pergi walau Yuna kini bersikap ketus. Ia tetap menganggap Yuna sebagai teman. Mmh ... apakah ia sudah bisa menerima kalau Yuna hanya menganggapnya sebagai teman?

Icha tersenyum menatap Yuna. “Yun, Andre cuma mau ngomong sebentar ke kamu.” Ia bangkit dari tempat duduknya. “Aku pergi dulu.”

Yuna tersenyum ke arah Andre. “Ndre, kamu nggak perlu pake cara kayak gini buat ketemu sama aku. Yeriko juga menganggap kamu sebagai teman, bukan musuh. Buat apa sampai kayak gini?”

“Sorry, Yun.”

 

Hening.

 

“Yun, aku denger dari Icha soal kamu dan Bellina. Kamu dituduh sama Bellina, dorong dia di tangga?” tanya Andre.

Yuna hanya tersenyum kecil menatap Andre.

“Aku percaya, kamu nggak mungkin ngelakuin itu,” tutur Andre sambil tersenyum. Ia sangat mengetahui kalau Yuna adalah wanita yang berprinsip. Ia tidak akan melakukan kejahatan pada orang lain, bahkan pada orang yang telah berbuat jahat padanya.

Yuna tersenyum. “Makasih, udah percaya sama aku,” tuturnya. Dalam hati, ia sangat kesal dengan kehadiran Andre yang tiba-tiba. Ia pikir, Andre sudah melupakan semuanya dan tidak akan mengganggu dirinya lagi.

Perasaan Andre tak karuan saat menatap wajah Yuna. Dalam hatinya, hanya ada Yuna. Tapi, ia sulit sekali menggapai gadis itu. Sekalipun saat ini, Yuna berada di hadapannya, ia merasa jauh, sangat jauh ...

“Ada lagi yang mau kamu bicarain?” tanya Yuna lagi.

“Banyak, Yun.”

“Apa itu?”

“Salah satunya, aku kangen sama kamu. Jadi, biarin aku ngelihat kamu hari ini.”

Yuna tersenyum sinis. “Ndre, aku ini istrinya orang. Bukannya kamu udah tunangan sama Yulia?”

“Aku nggak tunangan sama dia. Orang tuaku selalu menjodohkan aku sama wanita pilihan mereka. Pertunangan aku sama Yulia sudah dibatalkan.”

“Ndre, cobalah membuka hati kamu buat wanita lain!” pinta Yuna. “Aku cuma anggep kamu sebagai teman. Kalau kamu masih mau lihat aku, lihatlah sebagai teman. Atau kamu nggak akan pernah bisa ketemu aku lagi.”

Andre mengangguk. Ia sangat mengerti prinsip Yuna. Apa yang telah menjadi keputusannya, tidak bisa diganggu gugat. “Yun, aku masih berharap kalau Yeriko mengkhianati kamu dan bisa bikin kalian berpisah,” batin Andre.

Andre benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Yuna terlihat sangat mencintai Yeriko. Di satu sisi, ia menginginkan Yuna berpisah dengan Yeriko. Tapi di sisi lain, ia tidak ingin membuat Yuna terluka karena kehilangan Yeriko.

Tiba-tiba, seorang pelayan menghampiri mereka dan menyodorkan ice cream ke hadapan Yuna.

“Aku tahu, kamu suka banget makan ice cream. Jadi, aku pesenin buat kamu.”

Yuna hanya tersenyum menatap Andre. Ia tahu kalau Andre sangat memperhatikan dirinya. Hanya saja, ia tidak bisa menerima semua perhatian dari Andre.

“Aku nggak bisa makan ice cream, Ndre. Aku lagi hamil muda, nggak dibolehin konsumsi ice cream sama dokter.”

 

DEG!

 

Andre tertegun. Seluruh dunianya seketika kosong. Dadanya begitu sesak menerima kenyataan kalau Yuna sudah mengandung anak dari pria lain. Kini, ia benar-benar mengerti kalau Yuna memang mencintai Yeriko. Bukan terpaksa menikah karena menolong ayahnya yang terbaring di rumah sakit.

 

(( Bersambung ... ))



Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas