Thursday, July 10, 2025

Perfect Hero Bab 274 : Lamaran untuk Yuna || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Tumben ngajak aku jalan ke taman malam-malam gini?” tanya Yuna sambil melangkahkan kakinya beriringan dengan kaki Yeriko.

 

“Bukannya aku sering ngajak kamu ke luar?”

 

Yuna meringis. “Kamu protective banget semenjak aku hamil. Aku pikir, nggak akan pernah keluar lihat bintang sampai anak ini lahir.”

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia menghentikan langkahnya dan menatap lekat wajah Yuna. “Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita. Makanya, aku mau … kamu tetep di rumah. Bukan berarti kamu nggak boleh keluar sama sekali. Aku percaya, kamu juga akan menjaga anak kita dengan baik.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah Yeriko yang begitu memesona saat cahaya rembulan menimpa wajahnya.

 

Yeriko tersenyum menatap mata Yuna yang ikut tersenyum, memancarkan cahaya keindahan yang langsung merasuk dalam hatinya tanpa ia sadari.

 

Tatapan Yuna langsung beralih pada anak-anak yang sedang bermain di taman tersebut.

 

Yeriko langsung memeluk tubuh Yuna. Ia takut kalau anak-anak yang berlarian bebas itu akan menabrak istrinya.

 

“Mereka lucu banget,” tutur Yuna sambil tersenyum.

 

“Anak kita juga pastinya lebih lucu.”

 

“Kayak aku ‘kan?” sahut Yuna sambil tersenyum lebar.

 

“Kayak ayahnya, dong!”

  

Yeriko tersenyum lebar. “Oh ya, aku nggak pernah lihat foto kamu waktu kecil. Jadi penasaran.”

 

Yuna meringis. “Nggak usah penasaran. Waktu kecil, aku jelek banget!”

 

“Oh ya? Jadi makin penasaran. Kamu simpan di mana foto masa kecil kamu?”

 

“Ada, deh.”

 

“Mau main rahasia-rahasiaan sama aku!?” dengus Yuna.

 

Yuna tersenyum kecil. “Fotonya ada di rumah lamanya ayah. Sekarang, rumah itu udah jadi milik orang lain. Kemungkinan, pemilik barunya sudah membuang semua barangku yang ada di sana.”

 

“Nggak ada sisa satu pun?”

 

“Ada beberapa. Aku simpan di …” Yuna menghentikan ucapannya dan menatap wajah Yeriko.

 

“Di mana?”

 

“Mmh …” Yuna menggenggam kedua tangan Yeriko sambil menatapnya. “Aku kasih tahu kalo kita udah sampe rumah. Tapi janji, jangan diolokin!”

 

“Aku jadi makin penasaran.”

 

Yuna terkekeh. “Kamu tahu kalau aku suka makan. Jadi, berat badanku waktu kecil … keluar dari garis timbangan.”

 

“Hahaha.”

 

“Tuh kan, diketawain!” dengus Yuna.

 

“Nggak, nggak. Aku nggak ketawa,” sahut Yeriko sambil menahan tawanya.

 

Yuna memonyongkan bibirnya.

 

Yeriko balik menggenggam tangan Yuna. “Aku mau ajak kamu ke suatu tempat, yuk!”

 

“Eh!? Ke mana?”

 

“Ke … mmh, kamu pasti suka.” Yeriko menarik lengan Yuna perlahan dan mengajaknya menuju mobil. Ia langsung melajukan mobilnya menuju gedung perkantoran miliknya.

“Ngapain ke sini malam-malam gini?” tanya Yuna sambil mengedarkan pandangannya. “Kamu mau lembur?”

Yeriko menganggukkan kepala.

Yuna mengernyitkan dahi. Bekerja di siang hari saja, Yeriko belum tentu mengajaknya ikut serta. Kenapa Yeriko harus membawanya masuk ke perusahaan di malam hari seperti ini.

Yeriko tersenyum melihat reaksi yang tersirat dari wajah Yuna. Ia membantu Yuna melepaskan safety belt-nya. Ia langsung mengajak Yuna masuk ke kantornya.

“Kok, nggak ada karyawan lain yang masuk lembur?” tanya Yuna melihat suasana kantor yang sangat sepi.

“Iya, aku cuma mau ambil berkas yang ketinggalan.” Yeriko terus menggandeng Yuna menaiki lift.

“Tumben. Nggak nyuruh Riyan?”

“Riyan udah aku kasih kerjaan lain.”

“Kamu nggak kasihan sama Riyan? Dia itu kerja siang malam. Nggak ada istirahatnya.”

“Aku udah bayar mahal. Kalo dia nggak sanggup, tinggal resign aja.”

“Jahat banget sih!?”

“Aku nggak jahat, Yun. Dunia kerja memang begitu. Nggak bisa kita maksain orang buat kerja sama kita terus.”

“Tapi, anak buah kamu kelihatannya cukup loyal.”

Yeriko tersenyum sambil memainkan alisnya. “Aku selalu mengusahakan turn-over di perusahaanku berada di bawah satu persen.”

“Hah!? Serius?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Bukannya kamu terkenal sebagai bos yang kejam?”

“Dalam dunia bisnis, aku harus bisa jadi orang yang ditakuti.”

Yuna tersenyum. Ia tidak tahu harus mengungkapkan kalimat apa yang cocok untuk mengagumi suaminya ini. Ia terus melangkah mengikuti suaminya masuk ke dalam ruang kerja yang berada di lantai paling atas.

Yeriko tersenyum sambil mengambil sebuah map di atas mejanya. Ia melirik Yuna yang ada di sampingnya. Yeriko meraih tangan Yuna dan mengajaknya segera keluar dari ruang kerjanya.

“Kok, ke sini?” tanya Yuna saat mereka sampai di atap gedung.

“Aku pengen lihat suasana malam di kota ini dari sini. Lihat!” tutur Yeriko sambil menatap pemandangan kota di bawah mereka.

“Ternyata, kota ini sudah seramai ini …!” seru Yuna.

Yeriko tersenyum. Ia memeluk Yuna dari belakang sembari meletakkan dagunya di salah satu bahu Yuna.

“Waktu di Melbourne, apa kehidupan kamu baik-baik aja?”

Yuna menganggukkan kepala. “Yah, walau harus belajar ekstra keras setiap hari. Tapi, aku merasa lebih nyaman saat bisa keluar dari rumah Bellina.”

Yeriko menghela napas. “Aku nggak bisa ngebayangin kamu selalu menjalani semuanya seorang diri. Mulai sekarang, kamu harus menceritakan semua yang kamu rasakan. Semua keinginan-keinginan kamu selama ini. Aku akan berusaha mewujudkannya.”

“Mmh …” Yuna memutar bola matanya. Tangannya menyentuh pipi Yeriko dengan lembut.

Yeriko tersenyum kecil. “Kamu tahu nggak ini malam apa?”

“Malam Kamis. Kenapa?” tanya Yuna balik.

“Nggak papa. Aku cuma mau, kamu selalu mengingat hari ini dan tempat ini.  Gedung ini milik kamu juga. Milik anak-anak kita kelak. Kalau suatu hari aku udah nggak ada, kamu harus mengingat dan menjaganya dengan baik.”

“Kamu ngomong apa sih!?” Yuna langsung berbalik dan menatap Yeriko dengan mata berkaca-kaca. “Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi!” pintanya. Ia tak bisa menahan air matanya jatuh berderai.

Yeriko tersenyum. “Semua orang akan merasakan kehilangan. Hanya soal waktu aja. Aku harap, bisa melewati banyak hari bersamamu sampai tua nanti. Kalau memang aku yang duluan pergi, kamu harus melepaskanku dengan senyuman.”

Yuna memukuli dada Yeriko sambil menitikan air mata. “Aku nggak mau dengar!” serunya.

Yeriko tersenyum dan merengkuh Yuna ke dalam pelukannya. “Kamu harus dengerin aku!” perintahnya.

Yuna balas memeluk Yeriko erat, sangat erat. Ia tak ingin melepaskannya begitu saja. Ia sangat mencintai Yeriko dan tidak ingin pria itu meninggalkannya.

“Udah, jangan sedih cuma karena hal kayak gini. Aku punya sesuatu buat kamu.” Yeriko memutar tubuh Yuna membelakangi dirinya.

DUAR!

DUAR!

DUAR!

Tiba-tiba banyak kembang api bertebaran di hadapan mereka.

Yuna langsung tertawa bahagia melihat kejutan kecil yang diberikan Yeriko. Ia tak menyangka kalau suaminya itu bisa juga memberikan kejutan yang romantis.

“Ini hari apa sih? Bukan valentine, bukan tahun baru, kenapa kamu …” Yuna membalikkan tubuhnya menghadap Yeriko dan kembali tertegun. Lampu di tempat itu tiba-tiba menyala. Ia sendiri bahkan tidak menyadari kalau atap gedung kantor Yeriko bisa disulap seperti sebuah kafe.

Tirai hitam terbuka, memperlihatkan meja makan, beberapa pelayan dan pemain musik.

“Ini …?” Yuna tak mampu berkata-kata.

Yeriko tersenyum kecil. “Aku siapin ini semua buat kamu.”

Yuna tersenyum lebar. Ingin sekali ia melompat girang dan langsung memeluk Yeriko. Namun, niatnya itu terhenti saat Yeriko tiba-tiba menjatuhkan salah satu lututnya ke lantai.

“Ayuna, aku adalah pria terpayah di dunia ini. Menjadikanmu seorang istri tanpa mahar yang berarti. Menjadikanmu ibu dari anak-anakku dan merebut semua masa mudamu. Aku melakukan semua itu tanpa pernah bertanya … maukah kamu jadi satu-satunya wanita yang menemaniku dalam suka dan duka hingga aku menghembuskan napas terakhirku?” tanya Yeriko sembari menyodorkan sebuah cincin berlian ke hadapan Yuna.

Yuna menangis terharu. Saking bahagianya, air matanya berderai seiring senyuman yang mengembang di bibirnya.

Pikiran Yeriko kosong sesaat ketika melihat air mata Yuna. Ia tidak tahu jika yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan dan membuat Yuna menangis. “Kenapa nangis?” tanyanya kemudian.

Yuna tertawa kecil sambil mengusap air matanya. “Aku nangis karena terlalu bahagia.”

Yeriko tersenyum. Ia menengadahkan satu telapak tangannya. Menunggu Yuna menyodorkan jemari tangannya.

Yuna tersenyum bahagia sembari menyodorkannya perlahan.

Yeriko memasangkan cicin tersebut ke jari manis Yuna. Ia menatap cincin yang sudah melingkar dengan manis di jari manis Yuna. Kini, ia mengerti bagaimana perasaan Yuna sekarang. Saking bahagianya, ia juga ingin meneteskan air mata.

Yeriko mengelus jemari tangan Yuna dengan ibu jarinya. Kemudian mencium punggung Yuna dengan lembut. “Yuna … seharusnya, aku melakukan ini sebelum aku menikahimu. Maaf, aku terlalu lancang. Memaksamu masuk menjadi bagian hidupku tanpa kompromi.”

Yuna tersenyum. Ia mengangkat bahu Yeriko agar segera bangkit. Yuna menatap mata Yeriko penuh cinta.

“Kenapa aku?” tanya Yuna.

Yeriko terdiam. Ia sendiri tidak mengerti kenapa takdir begitu cepat mempermainkan perasaannya.

“Kenapa aku yang kamu pilih sebagai istri? Bukannya ada banyak wanita yang jauh lebih cantik di luar sana dan jauh lebih baik dari aku? Ada banyak wanita kaya dan pandai di luar sana. Kenapa kamu …” Ucapan Yuna terhenti saat Yeriko menarik pinggang Yuna ke pelukannya.  Membuat wajah Yuna menghangat.

“Karena aku udah punya semuanya,” jawab Yeriko sambil menatap wajah Yuna yang hanya berjarak sepuluh senti dari hidungnya. “Aku udah punya tampang yang bagus, kekayaan dan nama yang cukup disegani. Aku nggak perlu mencari apa yang sudah aku miliki. Aku hanya perlu mencari satu orang yang membuat seluruh duniaku tiba-tiba berhenti. Dan orang itu kamu ...

Yuna menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum lebar. Ia tak menyangka kalau Yeriko akan melamarnya seperti ini. Hingga memindahkan restoran ke atap gedung kantornya dan terus mengucapkan kalimat romantis yang tak bisa berhenti membuat hatinya melayang-layang.

 

(( Bersambung ... ))

 

Perfect Hero Bab 273 : Rencana Lamaran

 


Yeriko tersenyum kecil sambil meletakkan ponsel di atas meja kerjanya. Gelak tawa suara Jheni dan Yuna berhasil membakar hatinya. Memang benar, ia tidak pernah mengajak Yuna berkencan bahkan melamarnya.

Yeriko mondar-mandir belasan kali di depan meja kerjanya. Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk membuat Yuna merasakan keindahan hari kencan mereka dan memberikan lamaran terbaik untuk Yuna.

“Kayaknya lebih mudah ngambil alih perusahaan daripada nyusun jadwal kencan. Hmm ...” Yeriko masih mondar-mandir di ruangannya.

“Kalau kencan ngapain aja sih? Nonton film, jalan-jalan, belanja, cari makanan enak ... terus, aku ngelamar dia harus gimana?” Yeriko menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Yeriko membuka laptop yang ada di atas meja kerjanya. Ia mencari referensi di internet agar lamarannya kali ini menjadi momen yang akan selalu mereka ingat seumur hidup.

“Gimana reaksi Yuna kalo aku ngelamar dia ya?” tanya Yeriko pada dirinya sendiri. “Sudah pasti diterima. Bukannya dia sudah jadi istriku? Mana mungkin lamaranku ditolak.”

Yeriko sibuk memikirkan rencananya sendiri. Kemudian, ia menelepon Chandra agar ia bisa memberikan kejutan yang tidak terlupakan untuk Yuna.

“Chan, ke sini sekarang!” perintah Yeriko.

Tanpa mendengarkan jawaban dari Chandra. Ia langsung mematikan panggilan teleponnya.

Beberapa menit kemudian, Chandra sudah masuk ke dalam ruangan dan langsung menghampiri Yeriko.

“Kenapa, Yer?” tanya Chandra.

“Bantu aku sebentar!” pintanya.

“Soal akuisisi brand yang waktu itu ...”

“Aargh, jangan ngomongin kerjaan dulu!” pinta Chandra.

Chandra mengernyitkan dahi. Yeriko pria yang sangat disiplin dalam pekerjaan. Jika ada hal lain yang dibahas selain pekerjaan di jam kerja, artinya ...

“Chan, kamu pacaran sama Jheni kan?”

“Nggak perlu aku jawab. Itu pertanyaan yang kamu sendiri sudah tahu jawabannya.”

Yeriko tertawa kecil menatap Chandra. “Ck, bantu aku!”

“Iya, ngapain? Aku mau meeting ini sama anak-anak.”

“Pending dulu meetingnya. Ini lebih penting!” sahut Yeriko.

“Apaan?”

“Biasanya, kalo kalian kencan, ke mana aja?”

Chandra menahan tawa. “Kamu mau bikin jadwal kencan? Kencan sama siapa?”

“Sama istriku.”

“Astaga! Kalian udah nikah. Ngapain pacaran lagi? Enakan juga di kamar tiap malam.”

Yeriko langsung melemparkan pena ke wajah Chandra. “Aku serius, Chan. Kamu pikir, hubunganku sama dia sebatas temen tidur doang!?”

Chandra tersenyum kecil. Ia langsung merebahkan tubuhnya di sofa. “Yer, nikah kan emang buat nyari temen tidur.”

“Nggak berguna banget ngomong sama kamu!” sahut Yeriko kesal.

“Hahaha. Bentar, aku telepon Jheni.”

“Kamu kan pacaran sama Jheni. Masa masih harus telepon dia lagi?”

“Cuma Jheni yang bener-bener tahu kesukaannya Yuna. Emangnya kamu tahu dia sukanya pergi ke mana?”

Yeriko berpikir sejenak. Ia manggut-manggut dan melangkah menghampiri Chandra. “Emangnya kesukaan Yuna sama Jheni beda?”

“Bisa beda, bisa sama.”

“Ya udah, cepet telepon Jheni!”

“Ini lagi telepon, Yer.”

Yeriko menunggu Jheni menjawab panggilan telepon dari Chandra.  “Loudspeaker!” perintahnya.

Chandra mengikuti perintah Yeriko.

“Halo ...!” sapa Jheni dari seberang sana.

“Jhen, kamu di mana?”

“Baru nyampe rumah,” jawab Jheni. Terdengar suara Yuna di balik suaranya.

“Suara siapa itu?”

“Yuna.”

“Oh. Dia lagi di rumah kamu?”

“Iya. Kenapa?

“Bisa bantu aku?”

“Bantu apa?”

“Katanya, Yeriko mau ngajak Yuna kencan.”

“Hah!? Serius?” tanya Jheni berbisik.

“Iya. Kapan sih aku main-main?”

“Hmm, terus?” Jheni langsung mengubah nada suaranya.

Chandra menoleh ke arah Yeriko yang duduk di hadapannya.

“Aku mau ngelamar dia. Bagusnya gimana?” tanya Yeriko tidak sabar.

Jheni menahan tawa. Ia menoleh ke arah Yuna yang sedang duduk bersantai di sofa. Ia tak menyangka kalau Yeriko akan memenuhi keinginan konyol Yuna itu. “Pria harusnya lebih tahu gimana memperlakukan wanitanya.”

“Iya. Dia paling suka apa?”

“Makan,” jawab Jheni singkat.

Yeriko sangat tidak puas dengan jawaban Jheni. Sepertinya, Jheni lebih berpihak kepada istrinya.

“Aku serius, Jhen,” sahut Yeriko.

“Aku juga serius. Bentar, aku keluar dulu!”

Beberapa saat kemudian, suara Jheni kembali terdengar.

“Yer, kamu beneran mau ngelamar Yuna?” tanya Jheni berbisik sambil melirik Angga yang menunggu Yuna di samping mobilnya.

“Beneran.”

“Hahaha. Dari tadi si Yuna murung terus. Katanya, kamu terlalu cuek dan nggak mungkin ngelamar dia secara resmi. Nggak nyangka, kamu gentleman juga ngadepin kekonyolan dia,” tutur Jheni.

“Kira-kira, dia suka lamaran yang gimana?” tanya Yeriko.

“Yer, semua cewek suka lamaran yang romantis. Pangeran kayak kamu masa masih bingung mau ngasih kejutan apa?”

“Aku serahin ke kamu sama Chandra.”

“What!?”

“Aku mau ngajak Yuna jalan-jalan dulu. Kalian atur tempatnya ya!” perintah Yeriko.

“Sekarang?”

“Iya.”

“Mendadak banget, Yer?”

“Aku nggak punya waktu buat main-main!” sahut Yeriko. “Jam delapan malam, semuanya udah siap!”

“Oke.” Jheni langsung memutus panggilan telepon dari Chandra.

Yeriko tersenyum sambil menatap Chandra. Ia memainkan kedua alisnya.

“Iya. Aku bantu!” tutur Chandra seolah mengerti maksud Yeriko tanpa Yeriko mengatakannya.

Yeriko tersenyum. “Kamu siapin cincinnya sekalian ya!”

“Bukannya kamu lagi pesen cincin di Swiss?”

“Itu cincin pernikahan!” sahut Yeriko kesal.

“Banyak banget ngasih cincin. Aku khawatir, jarinya Yuna nggak muat nerima banyak cincin.”

“Nggak usah bercanda!” sahut Yeriko. “Aku nggak mau perhitungan buat istriku sendiri. Ngomong-ngomong, kapan kamu mau ngelamar Jheni?”

Chandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bergegas keluar dari ruangan Yeriko. “Aku siapin dulu semuanya. Waktu kami nggak terlalu banyak.”

“Hahaha.” Yeriko tergelak sambil menatap punggung Chandra yang beranjak pergi. “Jangan lama-lama, Chan! Keburu ada yang ngelamar dia duluan!” serunya sambil tertawa.

Yeriko terus tersenyum. Ia meminta Riyan untuk membantu Chandra dan Lutfi. Kemudian menelepon Angga agar tidak perlu menunggu Yuna karena dia yang akan menjemputnya. Setelah memastikan semuanya mulai berjalan sesuai rencananya. Ia bergegas melajukan mobilnya menuju rumah Jheni.

Sementara itu ... di rumahnya, Jheni sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk pergi bersama Chandra.

“Jhen, kamu beneran mau tinggalin aku?” rengek Yuna. “Sekarang, pacar lebih penting dari sahabat?”

“Nggak usah rewel, Yun! Aku ada perlu penting banget bareng dia.”

Yuna memonyongkan bibirnya sambil berpangku tangan.

“Yeriko bentar lagi jemput kamu.”

“Ada Angga di depan. Dia nggak mungkin jemput aku.”

“Angga udah pulang.”

“Serius?”

“Lihat aja!”

Yuna langsung bergegas menuju pintu dan membukanya. Ia terpaku saat melihat Yeriko sudah berdiri di depan pintu.

Yeriko tersenyum. Namun, Yuna langsung berbalik sambil menyembunyikan wajahnya. Ia masih sangat malu dengan apa yang diucapkan Jheni pada Yeriko lewat telepon.

“Kamu kenapa?” tanya Yeriko sambil ikut melangkah masuk.

Jheni tersenyum kecil melihat tingkah Yuna. “Dia masih malu gara-gara pengen dilamar, tapi udah nikah duluan. Hahaha.”

Yeriko tersenyum kecil. “Pulang, yuk!” ajaknya lembut.

Yuna menggelengkan kepala.

“Aku nggak mau pulang,” ucapnya berbohong.

“Kamu mau di sini sendirian? Aku mau pergi, nih.” Jheni sudah bersiap untuk pergi.

Yuna menatap Jheni kesal. “Penghianat!” makinya.

Yeriko ikut tertawa kecil melihat tingkah Yuna. “Ayo pulang!” Ia langsung mengangkat tubuh Yuna dan menggendongnya keluar dari rumah Jheni.

Pipi Yuna menghangat. Ia tidak bisa menyembunyikan rona di wajahnya. Sebenarnya, ia selalu bahagia dengan perlakuan Yeriko, apa pun itu.

Yeriko tersenyum. Ia memasukkan tubuh Yuna ke dalam mobilnya. “Jadilah kucing yang penurut!” pintanya sambil mengecup bibir Yuna.

Yeriko ikut masuk ke mobil. Ia langsung mengajak Yuna jalan-jalan ke salah satu taman kota terdekat.

 

(( Bersambung ... ))

Kira-kira, lamarannya bakal berhasil nggak ya?

Baca bab selanjutnya ya...

Jangan lupa dukung terus cerita ini biar nggak turun Rank ya. I Love you so much.

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 272 : Pengen Dilamar

 


“Kamu nggak usah pikirin ancaman Bellina. Dia nggak akan berani ngelakuin itu selama kita masih punya senjata untuk membuat hidupnya makin kacau,” tutur Yeriko saat ia menangkap kegelisahan dalam hati istrinya.

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

“Aku harus balik ke kantor. Jhen, kamu ajak istriku jalan-jalan!” pinta Yeriko sambil menatap Jheni.

“Siap, Bos!”

Yeriko tersenyum. Ia bergegas meninggalkan Yuna dan Jheni.

Tak lama kemudian, Angga menghampiri Yuna dan Jheni yang sedang berjalan beriringan di mall tersebut.

“Ngapain ke sini? Kamu nggak antar Yeriko ke kantor?”

Angga menggelengkan kepala. “Mas Yeri sudah dijemput sama Riyan.”

“Oh. Kalo gitu, tunggu aja di parkiran!” perintah Yuna.

Angga menggelengkan kepala. “Mas Yeri nyuruh saya jagain Mbak Yuna dan Mbak Jheni.”

Yuna menghela napas sambil memutar bola matanya. “Yeriko over protective banget sekarang. Dia nyuruh orang buat jagain aku terus.”

Jheni tertawa kecil. “Itu artinya, dia perhatian sama kamu. Eh, bukan. Kayaknya, dia lebih perhatian sama anak yang di dalam perut kamu. Hihihi.”

“Huft, sepertinya emang begitu.  Jangan-jangan, dia nikahin aku cuma buat ngasih keturunan. Bukan karena sayang sama aku.”

“Hush, kamu kok ngomong gitu sih? Bukannya Yeriko sudah ngelakuin banyak hal buat kamu?”

“Iya, sih. Tapi, kadang aku masih ragu sama perasaannya dia. Dia itu terlalu perfect buat aku, Jhen. Apa coba yang dia lihat dari aku? Bahkan, dia nikahin aku juga bukan karena kami saling mencintai. Aku nggak tahu apa yang ada dalam hatinya sampai bisa menikahi perempuan yang cuma dia kenal selama seminggu.” Yuna menyandarkan kepalanya ke pundak Jheni.

“Kamu juga, kenapa mau nikah sama dia?”

“Awalnya cuma terpaksa demi Ayah. Tapi dia udah bikin aku jatuh cinta beneran. Sedangkan aku sendiri masih bingung, apa yang dia suka dari aku.”

“Yun, harusnya kamu bersyukur. Semua cewek di dunia ini, pengen punya suami yang kaya, ganteng, penyayang dan bertanggung jawab. Semua itu ada dalam diri suami kamu.”

Yuna menganggukkan kepala. “Aku memang beruntung banget, Jhen. Mungkin, ini buah kesabaranku selama belasan tahun ini hidup menderita di rumah Tante Melan.”

“Bener banget. Jadi, jangan pernah sia-siain Yeriko yang sudah melakukan apa pun demi kamu.”

Yuna menganggukkan kepala. Matanya tiba-tiba tertuju pada kerumunan orang yang ada di tempat itu. “Eh, di sana ada apa?” tanya Yuna penasaran.

“Nggak tahu. Lihat, yuk!” ajak Jheni sambil memeluk pergelangan tangan Yuna.

Yuna ikut tersenyum saat melihat seorang pria sedang melamar kekasihnya di depan orang banyak. Setelah lamarannya diterima, mereka saling berpelukan dan terlihat sangat bahagia. Semua orang merasakan kebahagiaan itu, termasuk Yuna dan Jheni.

“Uuh ... sweet banget!” seru Jheni.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia kembali melangkahkan kakinya bersama Jheni sambil melihat pemandangan di sekitar. “Jhen, kira-kira si Chandra bakal ngelamar kamu dengan cara gimana ya?”

“Eh!?” Jheni melongo. “Aku nggak tahu, Yun. Chandra itu kan pendiam banget. Aku bahkan nggak yakin kalo dia bisa bersikap romantis.”

“Hahaha. Iya juga, sih. Sama aja kayak Yeriko. Dia nggak pernah ngelamar aku secara resmi. Hmm ... aku ngebayangin dia ngelamar aku sambil berlutut kayak pangeran di Negeri Dongeng. Sayangnya, semua udah lewat. Nggak mungkin impianku bisa terwujud.”

 

(You still have all of my ... you still have all of my heart ...)

 

Yuna langsung merogoh ponselnya yang berdering.

“Kamu masih pake nada deringnya Sleeping With Sirens?” tanya Jheni.

Yuna mengangguk sambil menjawab teleponnya. “Halo ...!”

“Siapa? Yeriko?” bisik Jheni.

Yuna menganggukkan kepala.

“Aku udah sampe kantor. Masih jalan-jalan sama Jheni?” tanya Yeriko.

“Iya. Ini masih di mall.”

Jheni langsung merebut ponsel dari tangan Yuna. “Yer, kapan kamu ngelamar Yuna secara resmi? Katanya, dia pengen dilamar sama kamu,” seru Jheni sambil tertawa.

“Iih ... Jheni, apa-apaan sih? Jangan bikin malu aku!” dengus Yuna sambil berusaha merebut ponselnya dari tangan Jheni.

Jheni terus tertawa sambil mempertahankan ponsel di telinganya. “Sebelum nikah, kamu nggak pernah ngajak Yuna kencan. Abis nikah juga belum pernah ngajak dia kencan. Yuna pengen pacaran sama kamu. Terus dilamar ala-ala pangeran kerajaan gitu ... kamu payah, Yer!” seru Jheni sambil tertawa menahan tangan Yuna yang berusaha merebut ponselnya.

Yuna memonyongkan bibirnya. “Jhen, kamu jangan bikin malu aku!”

“Masih malu sama suami sendiri? Hahaha. Yer, buruan gih lamar Yuna. Nikahin aja tapi nggak ngelamar!”

“Kamu seneng banget bongkar aib orang!” dengus Yuna kesal.

Jheni menatap wajah Yuna. Ia mengulurkan ponsel Yuna perlahan. Namun, ia tetap saja tidak bisa menahan tawa melihat begitu payahnya pasangan ini.

Yuna merebut ponsel dari tangan Jheni. “Nggak usah didengerin omongannya Jheni!” pinta Yuna. “Dia suka banget ngerjain orang.”

“He-em. Aku kerja dulu!”

“Iya. Aku tutup teleponnya, bye!”

Yuna langsung berkacak pinggang sambil menatap Jheni. “Kamu bikin aku malu banget!” serunya sambil memukul bahu Jheni.

Jheni tergelak. “Kenapa? Bagus kan kalo Yeriko ngelamar kamu? Sebagai sahabat yang baik, aku harus bikin sahabatku ini bahagia,” tutur Jheni sambil mencubit kedua pipi Yuna.

Yuna langsung melepas tangan Jheni dan mengembungkan kedua pipinya. “Reaksinya dia biasa aja. Malah cuek kayak gitu. Aku kan jadi malu, Jhen.”

“Seriusan dia cuek?” Jheni langsung menghentikan tawanya.

Yuna mengangguk tak bersemangat.

“Uch ... cup-cup-cup! Jangan sedih ya!” tutur Jheni sambil mengelus bahu Yuna. “Ntar aku kasih tahu dia biar beneran ngelamar kamu dan jadi momen yang tidak terlupakan seumur hidup.”

“Aku udah nikah sama dia. Nggak mungkin dia ngelakuin hal konyol kayak gitu. Tahu sendiri, dari zaman aku belum lahir ... cowok itu perhatian dan romantis kalo waktu pacaran doang. Kalo udah nikah, pasti cuek sama istrinya.”

“Emang Yeriko nyuekin kamu?”

Yuna menggelengkan kepala. “Enggak, sih.”

“Ya udah. Kamu jangan mikir negatif terus!”

“Aku gak mikir negatif. Si Yeriko itu kan orangnya sibuk banget. Jadwal meetingnya dia aja padat banget. Mana sempat mau mikirin kencan.”

“Ciye ... kamu ngepoin jadwal suami kamu? Takut dia selingkuh?”

“Iih ... nggak gitu. Aku percaya sama dia. Nggak ada salahnya kan kalo aku ngintipin jadwal dia. Siapa tahu aja dia ngosongin jadwalnya buat ngajak aku jalan-jalan,” sahut Yuna sambil tersenyum.

“Hmm ... iya juga, sih. Emangnya Yeriko beneran sesibuk itu?”

Yuna menganggukkan kepala. “Kemarin, aku lihat agenda kerja dia sampai tiga bulan ke depan. Ada istirahat sih, tapi kalo aku ngerengek ngajak dia jalan. Aku egois banget. Mending dia pake waktunya buat istirahat. Secara, dia kerja keras setiap hari dan aku cuma bersantai-santai setiap hari.”

Jheni menghela napas. “Kamu tuh udah jadi istrinya dia. Masih aja nggak enakan kayak gitu.”

“Ya ampun, kalo kamu di posisi aku, apa kamu tega lihat suami kamu kayak gitu? Setiap hari kerja keras nyariin uang buat kamu. Terus, kamu nggak bisa ngapa-ngapain selain bikin dia repot setiap hari?”

Jheni memainkan bibirnya. “Bener juga, sih.”

“Bayangin aja kalo Chandra yang jadi suami kamu dan ...”

“Beda. Kalo dia yang jadi suamiku, aku bakal nyiksa dia setiap hari. Hahaha.”

“Iih, jahat banget sih kamu. Dia selingkuh, baru kamu tahu rasa!”

“Eh, jangan! Aku cuma bercanda, Yun.”

“Yee ... takut juga!” sahut Yuna sambil mencebik ke arah Jheni.

Jheni tertawa kecil. Mereka terus bercanda sambil menikmati kebersamaan yang jarang mereka lalui karena kesibukan masing-masing.

 

(( Bersambung ... ))

Kira-kira, Mr. Ye bakal ngelamar Yuna atau nggak ya?

 

Perfect Hero Bab 271 : Mulai Menggila || a Romance Novel by Vella Nine

 


Bellina tersenyum saat menerima pesan dari Yuna. Ia membayangkan sosok Yeriko yang tampan, tegas dan penyayang. Sangat berbeda dengan suaminya, Wilian. Baginya, Wilian hanya sebuah cangkang yang tidak ada isinya. Wilian sangat penurut kepada orang tuanya. Juga selalu sibuk memikirkan wanita lain dalam pernikahan mereka.

“Ada apa?” tanya Lian saat mendapati Bellina senyum-senyum sendiri.

“Eh, nggak papa.”

Lian menghela napas sejenak sambil menatap wajah Bellina. Akhir-akhir ini, istrinya terlihat sangat aneh. Terkadang murung, kadang gelisah dan juga senyum-senyum sendiri.

“Bel, gimana kalau kita ke psikiater?”

“Apa!? Kamu pikir aku gila!”

“Yang pergi ke psikiater, nggak semua orang gila. Kalo aku ngebiarin kamu kayak gini terus. Lama-lama kamu beneran gila!”

“Kalo aku beneran gila, semuanya gara-gara kamu dan mantan pacar kamu itu,” sahut Bellina.

Lian mengerutkan dahi mendengar ucapan Bellina. “Kamu nggak bisa berhenti gangguin Yuna? Semua hal yang terjadi sama kamu, semua kamu tumpahkan ke Yuna. Selama ini, dia selalu bersikap baik sama kamu.”

“Oh. Kamu masih belain dia terus? Masih cinta sama dia?”

Lian terdiam. Ia tidak ingin sikap Bellina justru membuat Yuna terluka. “Aku ini suami kamu. Kita udah nikah. Kamu masih nggak percaya sama aku?”

“Gimana aku percaya sama kamu kalo kamu masih aja belain si Yuna yang kecentilan itu!” seru Bellina.

“Aku belain siapa yang pantas buat dibela, Bel. Kalau kamu kayak gini terus, aku makin muak sama kamu.”

“Kamu nggak ngerti gimana perasaan aku? Punya suami yang nggak pernah peduli sama istri. Malah sibuk mikirin istri orang lain!” Bellina langsung meraih tas tangannya dan bergegas keluar dari kamar.

Lian terduduk lemas di tepi ranjang. Bellina dan Yuna masih kakak beradik, tapi mereka memiliki sifat yang jauh berbeda. Andai yang saat ini menjadi istrinya adalah Yuna, mungkin semua akan berbeda. Ia sangat jelas mengingat bagaimana Yuna begitu lembut memperlakukannya. Wajah cerianya, membuat semua masalah yang ia hadapi menjadi ringan.

Sementara itu, Bellina sangat antusias karena dirinya akan bertemu dengan Yeriko. Ia pergi ke salah satu salon langganannya untuk membuat penampilannya jauh lebih menarik saat bertemu dengan Yuna. Yeriko, pasti selalu mendampingi Yuna ke mana pun. Ia yakin, penampilannya akan jauh lebih menarik dan membuat Yeriko melihatnya.

Usai merias dirinya, Bellina langsung menuju ke Starbucks. Tempat Yuna mengajaknya bertemu siang itu. Ia langsung menghampiri Yuna dan Yeriko yang terlihat sangat mesra.

“Siang ...!” sapa Bellina sambil menatap Yeriko dengan mata berbinar.

Yeriko menahan tawa menghadapi tatapan Bellina yang begitu menjijikkan di matanya. “Kamu urus dia hari ini,” bisik Yeriko di telinga Yuna.

Yuna mengangguk kecil.

Yeriko bangkit dari tempat duduk.

“Loh? Mau ke mana?” tanya Bellina penuh percaya diri. “Nggak ikut makan bareng kita?”

Yuna menaikkan sebelah bibirnya. “Sumpah, aku mual lihat muka Bellina kali ini,” batinnya.

“Kalian ngobrol aja berdua. Aku mau ngerokok di sana.” Yeriko tersenyum kecil  dan bergegas menuju ruangan khusus untuk pelanggan yang perokok.

Yuna tersenyum sambil menatap menganggukkan kepala. Matanya melirik Bellina yang terus melihat suaminya seperti ingin memangsanya begitu saja.

Bellina kini sangat mengagumi sosok Yeriko. Ia ingin sekali menjadi seperti Yuna. Semua yang dimiliki Yuna kali ini, membuat rasa iri dan dengki dalam hatinya semakin memuncak. Keinginannya untuk merebut semua yang dimiliki Yuna semakin besar.

“Ehem ...!” Yuna berdehem dan langsung membuyarkan lamunan Bellina.

Bellina gelagapan dan berusaha menyembunyikan raut wajahnya.

“Kamu udah mulai perhatiin suami orang. Lian udah nggak menarik buat kamu?” tanya Yuna tanpa basa-basi.

Bellina berusaha menyembunyikan perasaannya. Ia tak menyangka kalau Yuna mengetahui dengan jelas apa yang ada di dalam hatinya.

Yuna tersenyum menatap Bellina. Ia sama sekali tidak marah, justru iba dengan nasib kakak sepupunya itu.

“Ngajak aku ketemu buat apa?” tanya Bellina. Ia sedikit kecewa karena Yeriko tidak duduk satu meja dengannya. Justru mengamati mereka dari kejauhan.

Belum sampai Yuna berbicara, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia langsung menjawab panggilan telepon dari sahabatnya itu.

“Halo, Jhen!” sapa Yuna. “Kangen ya sama aku?” tanyanya sambil tersenyum lebar. Ia bersikap sangat manis dan berhasil membuat wajah Bellina semakin muram.

“Kangen banget!” sahut Jheni. “Kamu lagi di mana?”

“Aku di Starbuck bareng Bellina.”

“What!? Kamu makan siang bareng dia?”

“He-em.” Yuna menganggukkan kepala.

“Kamu hati-hati sama dia, Yun. Bahaya banget deket-deket sama Mak Lampir itu!”

“Hihihi. Nggak papa, Jhen. Kamu kelewat perhatian sama aku. Semua bakal baik-baik aja,” tutur Yuna sambil melirik ke arah Bellina. Ia sengaja membuat Bellina merasa cemburu.

Benar saja, Bellina langsung kesal karena semua orang sangat perhatian kepada Yuna.

“Aku nyusul kamu ke sana sekarang juga.” Nada suara Jheni terdengar sangat khawatir. Ia langsung mematikan panggilan teleponnya.

Yuna tersenyum begitu panggilan telepon dari Jheni mati. Matanya tertuju ke arah Bellina yang menahan kekesalan. Ia langsung tersenyum dan menatap Bellina.

“Bel, aku punya hadiah kecil buat kamu,” tutur Yuna sambil tersenyum. Ia menyodorkan ponselnya ke hadapan Bellina dan menyalakan rekaman hasil perbuatan Bellina beberapa hari yang lalu.

Bellina hanya tersenyum sinis dan terlihat sangat tenang. “Aku tahu, kamu pasti bayar orang buat bikin rekaman palsu itu.”

Yuna tertawa kecil. “Oh ya? Gimana dengan ini?” tanya Yuna sambil menyodorkan layar ponselnya ke hadapan Bellina, terpampang jelas rekaman video saat ia sedang melakukan penganiayaan terhadap dokter Heru.

Bellina langsung membelalakkan matanya. Ia berusaha merebut ponsel dari tangan Yuna.

Yuna tersenyum santai sambil menarik lengannya menjauh dari tangan Bellina. “Rekaman ini masih banyak salinannya. Aku dikirimin sama Yeriko. Artinya, dia juga punya rekaman ini.”

Bellina mulai gelisah. Ia tidak ingin mengakui perbuatannya. Namun, semua rekaman yang ada di sana membuat dirinya tidak berdaya.

Yuna tersenyum melihat Bellina ketakutan. “Bel, aku masih menganggap kamu sebagai keluargaku. Selama kamu masih bersikap baik dan nggak macem-macem lagi sama aku, aku bakal jaga rahasia ini.”

Bellina menitikan air mata menatap Yuna. “Yun, aku bener-bener khilaf. Aku nggak tahu apa yang harus aku lakuin. Aku kehilangan anak aku. Kamu nggak tahu gimana rasanya kehilangan anak sendiri. Dokter itu selalu bilang kalau ini semua salahku. Aku nggak mungkin mencelakai anakku sendiri. Sekarang, nggak ada yang peduli lagi sama aku. Bahkan, suami dan mama mertuaku nggak lihat aku lagi semenjak aku kehilangan bayiku,” tutur Bellina sambil terisak.

“Hapus air mata buayamu itu, Bel!” pinta Yuna. “Kamu nggak akan mempan bersandiwara di depanku.”

Bellina langsung menghentikan tangisannya. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Apa pun yang ia buat, Yuna sudah bisa membacanya dengan baik.

“Oke. Aku nggak akan cari gara-gara lagi sama kamu.” Bellina pasrah. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa selain menyetujui permintaan Yuna.

Yuna tersenyum. Ia bangkit dari tempat duduknya. “Bagus. Sebaiknya, kamu jangan pernah muncul di hadapan aku lagi!” Ia berbalik dan pergi meninggalkan Bellina.

Meski sudah mengatakan kalau ia tidak ingin mengganggu Yuna lagi, tapi kebencian di hati Bellina semakin bertambah. Ia benar-benar tidak terima karena Yuna telah hidup dengan kebahagiaan. Ia ikut bangkit dari tempat duduk dan ingin mendorong Yuna.

Yuna langsung berbalik dan menatap Bellina penuh kebencian. “Kalau kamu masih mau hidup dengan tenang dan bahagia, berhenti ganggu hidupku!” sentak Yuna. “Lebih baik, kamu fokus urus keluarga kamu itu sebelum kami menghancurkan keluarga kalian,” lanjutnya sambil menatap Yeriko yang sudah berdiri di belakang Bellina untuk menjaganya.

Di saat yang bersamaan, Jheni muncul dan melihat niat jahat Bellina terhadap Yuna. “Kamu nggak papa, Yun?” tanyanya.

“Nggak papa, Jhen.”

Jheni menatap Bellina penuh kebencian. Sementara Yeriko tersenyum melihat kehadiran Jheni dan bersiap menikmati pertunjukkan selanjutnya. Ia melangkah menghampiri Yuna dan merangkulnya dengan mesra.

“Heh, kamu nggak punya otak ya!” sentak Jheni sambil mendorong tubuh Bellina. “Kamu udah gila! Di tempat seramai ini, kamu mau nyelakain Yuna. Udah nggak punya hati nurani nih orang. Mau nginap di penjara selamanya?”

“Kamu nggak usah ikut campur!” seru Bellina. Matanya dipenuhi kebencian terhadap Yuna.

“Sebelum kamu berhadapan sama Yuna, kamu hadapi aku dulu!” Jheni menyodorkan tubuhnya penuh keberanian.

Bellina mundur beberapa langkah sambil menatap Yeriko yang begitu dingin. Ia langsung tertawa tanpa sebab.

Jheni mengernyitkan dahi melihat tingkah Bellina. “Gila nih orang!” celetuknya.

“Hahaha. Aku cuma mau ngirim anaknya Yuna buat nemenin anakku di kuburan,” tutur Bellina sambil tertawa.

Yuna melihat Bellina benar-benar depresi. Ia sangat kasihan melihat keadaannya yang seperti itu.

“Gila beneran nih orang,” gumam Jheni sambil menatap Bellina yang merosot ke lantai sambil terus tertawa.

Yeriko tersenyum kecil melihat tingkah Bellina. Ini belum seberapa, ia harap Bellina bisa sadar dengan sendirinya kalau memang dia telah bersalah.

Yeriko mengajak Yuna dan Jheni meninggalkan Bellina yang terlihat sangat menyedihkan. 

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Ini baru permulaan, bikin Bellina menderita secara perlahan. Dia harus menderita sampai akhir ... hahaha.

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas