Thursday, July 10, 2025

Perfect Hero Bab 270 : Ingin Dimanja || a Romance Novel by Vella Nine

 


Setiap hari, Yuna menghabiskan waktunya di dalam rumah saat Yeriko tidak ada. Ia terus bersantai, bermain ponsel atau menonton televisi.

“Nyonya, ini cemilan untuk Nyonya!” Rini membawakan piring berisi potongan buah dan beberapa kudapan sehat.

“Makasih!” Yuna tersenyum manis. “Taruh di atas meja aja, Mbak!” perintah Yuna sambil terus mengganti channel televisi yang add di hadapannya.

“Nyonya, saya pijitin ya!” Sari langsung menghampiri Yuna.

“Eh!? Nggak usah!” Yuna langsung menarik kakinya begitu pelayan itu ingin memijatnya.

“Nyonya, hari ini aku belum melakukan apa-apa di rumah ini. Rini sudah bantu  Chef Rafa di dapur. Inah bantu Bibi War beres-beres. Sri udah sibuk di belakang nyuci dan nyetrika pakaian. Terus, Sari ngapain dong?”

Yuna tertawa kecil. Ia tak menyangka kalau pelayan keluarga Hadikusuma semuanya rajin. Mereka tidak suka bersantai-santai di dalam rumah.

“Duduk sini!” perintah Yuna sambil menepuk sofa di sisinya. “Temenin aku nonton!”

“Hah!?” Sari melongo. Ia tidak berani duduk bersama majikannya itu. “Sari duduk di sini aja.” Ia langsung duduk di sebelah kaki Yuna.

Yuna tersenyum. “Kamu sudah berapa lama kerja di keluarga Hadikusuma?” tanya Yuna sambil memainkan remote televisi di tangannya.

“Baru setahun, Nyonya.”

“Mmh ... aku nggak suka dipanggil Nyonya. Panggil nama aja gimana?”

“Nggak berani, Nyonya. Kalau Nyonya Besar tahu, saya bisa dipecat.”

Yuna terdiam sejenak. “Aku rasa, Mama Rully nggak sejahat itu.”

“Iya, Nyonya. Nyonya Besar sangat baik. Kami tidak ada yang berani lancang sebagai pelayan. Kata Bibi War, satu saja pelayan yang berani lancang sama majikan, itu akan membuat kekacauan di keluarga ini dan akan diberhentikan.”

“Tapi, Bibi War nggak manggil aku Nyonya. Kenapa yang lain harus manggil aku Nyonya Muda?”

“Nyonya, kami boleh manggil yang lain, tapi tidak boleh lancang manggil nama.”

“Oh, gitu? Ya udah, panggil Mbak Yuna aja bisa kan? Kayak Bibi War.”

Sari menganggukkan kepala.

“Oh ya, umur kamu berapa?” tanya Yuna melihat Sari yang begitu muda.

“Dua puluh lima, Mbak.”

“Udah nikah?”

Sari menganggukkan kepala. “Saya sudah punya anak satu di kampung.”

“Oh ya? Anak kamu umur berapa?”

“Sudah lima tahun.”

“Wah, pasti lagi lucu-lucunya. Kapan-kapan, ajak dia ke sini ya!” pinta Yuna.

“Jauh, Mbak.”

“Kamu nggak kangen sama anak kamu?”

“Kangen, Mbak. Setiap dua minggu sekali, Nyonya Besar kasih saya cuti, pulang lihat anak dan keluarga.”

“Oh.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Eh, kamu suka nonton televisi nggak?”

“Kadang-kadang, Mbak.”

“Yang bagus acara apa, ya? Aku bosan nonton sinetron, gosip, berita ...” Yuna menghentikan tangannya menekan tombol remote. Ia melihat berita tentang seorang dokter yang ditemukan di desa terpencil dalam keadaan gila.

“Hah!? Dokter bisa gila?” Sari ikut memberikan komentarnya.

“Bisa jadi. Setiap orang punya masalah. Bahkan presiden sekalipun, kalau nggak kuat menghadapi masalah hidup. Bisa aja gila.”

“Oh, begitu tho?” Sari manggut-manggut tanda mengerti.

“Eh, bentar-bentar ...” Yuna mengamati wajah dokter tersebut dengan seksama.

“Kenapa, Mbak?”

“Ini dokter kayak nggak asing,” jawab Yuna tanpa mengalihkan pandangannya pada layar televisi.

Sari tidak berani memberikan banyak argumen karena ada banyak hal yang tidak ia ketahui.

“Nah, bener dugaanku!” seru Yuna setelah ia mencari tahu profil dokter tersebut di internet. “Ini dokter yang ngoperasi Bellina.” Ia mengetuk-ngetuk dagunya.

Isi kepala Yuna tiba-tiba dipenuhi banyak pertanyaan tentang dokter tersebut dan hubungannya dengan Bellina. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu sambil menunggu suaminya pulang untuk menanyakan masalah ini.

Sari terus mengikuti langkah Yuna yang sudah mondar-mandir selama belasan kali.

 

BUG!!!

Yuna langsung menghentikan langkahnya saat ia bertabrakan dengan Sari. “Aduh, Sari! Kamu nggak usah ikutin aku terus!” seru Yuna kesal.

Sari hanya terdiam sambil menundukkan kepala.

Yuna mengerutkan hidung sambil melipat kedua tangan di dadanya. Ia kembali duduk di sofa sambil melirik Sari yang masih berdiri di sebelahnya. “Kamu bantu Bibi War aja di dapur!” perintah Yuna.

“Tapi ...”

“Nggak ada tapi-tapian. Aku masih di dalam rumah ini. Nggak ke mana-mana. Nggak perlu dijagain, Sari!”

Sari mengangguk. Ia segera melangkahkan kakinya menuju dapur.

“Iih ... nggak enak banget, sih. Apa-apa harus dijagain. Aku udah kayak anak bayi yang dirawat sama empat baby sitter. Eh, bukan empat. Lima! Enam! Delapan ... Aargh ...!” Yuna menghentak-hentakkan kakinya di lantai sambil menyandarkan kepala ke bahu sofa.

Yuna menghentikkan rengekkannya saat mendengar suara mobil masuk ke halaman rumahnya. Ia langsung bangkit dan tersenyum bahagia melihat mobil Yeriko. Buru-buru, ia melangkahkan kakinya ke luar rumah dan menghampiri Yeriko.

Yeriko langsung membentangkan kedua tangannya begitu melihat Yuna menghampirinya.

Yuna tertawa bahagia dan langsung memeluk tubuh Yeriko.

“Kangen?” tanya Yeriko sambil mengecup ujung kepala Yuna.

Yuna menganggukkan kepala. “Banget,” sahutnya sambil menengadahkan kepalanya menatap Yeriko.

Yeriko tersenyum, ia mengecup bibir mungil Yuna dan membawanya masuk ke dalam rumah.

Riyan tersenyum sambil mengikuti langkah bosnya masuk ke dalam rumah. Ia langsung menuju ruang kerja Yeriko seperti biasanya. Sementara, Yeriko dan Yuna langsung masuk ke kamar mereka.

“Hari ini nggak keluar?” tanya Yeriko sambil melepas jasnya.

Yuna menggelengkan kepala. Ia membantu Yeriko melepas kancing kemejanya.

“Oh ya, aku punya hadiah buat kamu.”

“Hadiah apa?”

Yeriko merogoh ponsel di saku celananya. Ia menyalakan ponsel tersebut dan mengirimkan sesuatu untuk Yuna. “Udah aku kirim.”

“Apa sih? Sms banking?” tanya Yuna sambil tertawa kecil. Ia melangkah menuju meja kecil yang ada di samping tempat tidur dan meraih ponsel di atasnya.

“Hmm ... istriku udah mulai mata duitan?”

Yuna tertawa kecil. “Dari dulu aku mata duitan. Kalo nggak, aku nggak bakal cari kerja. Sekarang, aku nggak punya gaji. Cuma mengandalkan uang suamiku aja.”

Yeriko tersenyum kecil. Ia melangkah mendekati Yuna dan memeluknya dari belakang. “Aku kerja buat kamu, buat dia juga.” Ia mengelus lembut perut Yuna. “Jadi, jangan sungkan buat ngabisin uang yang aku kasih!” bisik Yeriko sambil mengayun-ayunkan tubuhnya.

Yuna tersenyum bahagia mendengar ucapan Yeriko. Ia kini mulai menikmati hidupnya bersama Yeriko. Setiap hari, bermanja-manja dengan suami tercintanya itu. Ia membuka pesan yang dikirimkan Yeriko.

“Ini apa?” tanya Yuna.

“Buka!” pinta Yeriko berbisik.

Yuna langsung membuka mulut dan matanya lebar-lebar begitu mendengarkan rekaman yang dikirim Yeriko. “Ini serius?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Aku nggak nyangka kalau Bellina memang ada hubungannya sama dokter  Heru.”

Yeriko tersenyum. Ia sudah merencanakan dan mengendalikan semuanya dengan baik. “Besok, kamu temui Bellina!” pinta Yeriko.

“Eh!? Buat apa?”

“Kamu tunjukkin rekaman itu ke dia.”

“Maksud kamu?”

“Ikuti aja kata-kataku, nggak usah banyak tanya!” pinta Yeriko.

“Kamu mau laporin dia ke polisi?”

Yeriko tersenyum kecil. “Ada hal yang lebih menyenangkan lagi daripada ngelaporin dia ke polisi.”

“Oh ya? Apa itu?”

“Aku kasih tahu kamu kalau kamu udah serahin rekaman itu ke Bellina.”

“He-em. Terus?”

“Apanya yang terus?”

“Abis itu, aku harus gimana lagi?”

“Setelahnya, aku yang urus!”

“Nggak membahayakan dia, kan?”

“Semua tergantung dia sendiri.”

“Maksud kamu? Mau bikin Bellina depresi kayak Amara?”

Yeriko tersenyum kecil.

“Aku nggak setuju kalau kamu sampai bikin dia kayak gitu. Aku tahu kalau Bellina jahat sama aku. Aku nggak pernah balas dia bukan karena aku nggak bisa atau aku ngerasa berhutang budi sama keluarganya dia. Tapi, karena aku masih menganggap mereka keluargaku. Biar gimana pun, Bellina sama aku masih ada hubungan darah. Aku ...” Yuna menghentikan ucapannya saat Yeriko tiba-tiba mencium bibirnya.

“Kenapa tiba-tiba nyium aku?”

“Cuma ini cara yang paling ampuh buat nyumbat mulut kamu yang kebanyakan ngomong,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

Yuna tersenyum kecil. “Kamu bener-bener nggak suka kalo aku cerewet?”

“Suka.”

“Kenapa aku lagi ngomong panjang lebar malah kamu sumbat?”

Yeriko tersenyum kecil. “Lebih suka kamu diam dan melayani aku dengan baik.”

“Bukannya kita masih belum boleh ...?”

“Aku tahu. Aku cuma mau kayak gini.” Yeriko mengeratkan pelukannya.

Yuna tersenyum sambil mengusap pipi Yeriko. Ia merasa mendapatkan keberuntungan bertubi-tubi semenjak ia menikah dengan Yeriko. Kini, ia tidak menghadapi masalahnya sendiri. Ada Yeriko yang selalu membuatnya bahagia, tenang dan nyaman. Membuatnya lupa bahwa selama ini ia tenggelam dalam penderitaan.

“Setiap masalah, mengajarkan aku untuk menjadi lebih kuat lagi, lebih dewasa lagi. Tapi, kehadiranmu membuat aku selalu ingin dimanja,” batin Yuna dalam hati.

Yeriko tak kalah bahagia mendapatkan istri yang begitu baik, sederhana dan selalu menghadapi masalah dengan keberanian. Baginya, tidak ada yang bisa membuatnya lebih bahagia lagi selain memeluknya erat-erat.

 

(( Bersambung ))

 

Semoga bahagia terus Mr. & Ms. Ye

Bisa melewati ujian rumah tangga dan semakin kuat cintanya. Selalu jadi Hero untuk Yuna.


Perfect Hero Bab 269 : Tatapan Aneh || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yeriko mengajak Yuna untuk makan malam di private room, di salah satu restoran favorite mereka. Yeriko memilih  menu yang sudah direkomendasikan oleh Nanda. Ahli Gizi yang selalu menyusun menu untuk Yuna setiap harinya.

“Kamu ajak aku makan di luar, emangnya udah bisa makan daging?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. “Nggak harus makan daging, kan?”

Yuna tersenyum kecil. “Makasih ya!”

“Makasih untuk apa?”

“Udah ajak aku ke luar,” jawab Yuna sambil tersenyum.

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Kamu udah mulai bosan di rumah?”

Yuna menggelengkan kepala. “Sekarang ada banyak orang di rumah. Harusnya aku nggak bosan.”

“Harusnya?” Yeriko mengernyitkan dahi. Ia bisa memahami kalau istrinya cukup tertekan berada di dalam rumah seorang diri.

Yuna memainkan sendok sambil menundukkan kepala. “Ada banyak pelayan di rumah. Tapi, mereka nggak bisa diajak ngobrol. Semuanya kaku kayak robot!” keluh Yuna kesal.

Yeriko tertawa kecil. “Kamu boleh jalan-jalan setelah dokter mengizinkan kamu beraktifitas di luar. Dan nggak boleh pergi sendirian!” pinta Yeriko.

Yuna mengangguk. Ia tidak ingin membantah perintah suaminya kali ini. Ia juga ingjn menjaga bayi yang ada di dalam perutnya dengan baik. Tidak boleh sampai tersakiti karena dirinya yang sering ceroboh.

“Oh ya, tadi siang Bellina telepon aku.”

“Terus?” tanya Yeriko sambil menyuap potongan buah ke mulutnya.

“Cuma marah-marah nggak jelas. Aku rasa, dia makin gila.”

Yeriko tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna.

Yuna menatap tajam ke arah Yeriko. “Kamu ngerencanain sesuatu ke Bellina?”

Yeriko menggelengkan kepala. Ia tidak ingin Yuna mengetahui semua rencananya dan membuat istrinya itu banyak berpikir. Baginya, kondisi kesehatan mental Yuna jauh lebih penting.

“Aku ke toilet dulu, kamu jangan ke mana-mana sebelum aku balik!” Yeriko bangkit dari kursinya.

Yuna mengangguk. Ia merogoh ponsel dari dalam tasnya dan mengirim pesan kepada Jheni. Ia memotret meja makan dan memamerkan kemesraannya pada Jheni. Ia terus tertawa sambil berbalas pesan dengan Jheni.

Di sudut ruangan lain, Bellina dan Mega yang hatinya sama-sama kacau, pergi makan malam bersama. Mereka melihat Yuna dari balik kaca private room di restoran tersebut.

Bellina sangat cemburu melihat Yuna selalu berada di tempat yang istimewa. Ia mengajak Mega untuk menghampiri Yuna yang sedang duduk seorang diri.

“Hai, Yun ...!” sapa Bellina sambil tersenyum ke arah Yuna.

Yuna hanya tersenyum kecil menanggapi sapaan Bellina.

“Sendirian aja?” tanya Bellina.

“Aku nggak pernah pergi sendirian. Suamiku selalu nemenin aku,” jawab Yuna santai.

“Suami kamu itu bukannya pengusaha besar? Kenapa masih punya banyak waktu buat santai-santai?” tanya Mega.

“Justru karena dia pengusaha besar, jadi waktu santainya jauh lebih banyak. Pegawai dia banyak. Buat apa si Bos ikut sibuk,” sahut Yuna sambil memainkan ponselnya.

Sikap Yuna yang terlihat begitu santai membuat Mega naik pitam. Sebagai orang yang lebih tua, keberadaannya tidak dihargai sedikit pun oleh Yuna.

“Yuna, kamu bener-bener nggak bisa menghargai orang yang lebih tua? Saya lagi ngomong sama kamu. Kamu malah sibuk main hape sendiri!” sentak Mega.

Yuna menarik napas perlahan. Ia meletakkan ponsel di atas meja dan menengadahkan kepala, menatap Mega dan Bellina yang berdiri di sampingnya. Yuna tersenyum sambil menopang pipi dengan punggung tangannya.

“Tante, mau ngomong apa?” tanya Yuna sambil tersenyum manis.

Senyuman Yuna sama sekali tidak membuat Mega bahagia. Ia merasa kalau Yuna sangat meremehkan dan merendahkan harga dirinya.

“Kamu sudah melakukan kesalahan besar pada keluarga kami dan masih aja pura-pura nggak terjadi apa-apa? Bahkan niat buat minta maaf pun nggak ada!” sentak Mega.

Yuna tersenyum kecil. “Aku nggak akan pernah mengakui kesalahan yang nggak pernah aku buat. Apalagi harus minta maaf. Kalo aku minta maaf, artinya aku mengakui kesalahan yang dia buat!” sahut Yuna sambil bangkit dan menunjuk wajah Bellina.

Bellina gelagapan saat tangan Yuna tiba-tiba menunjuk wajahnya. Ia langsung menepis tangan Yuna. “Jangan sembarangan kalo ngomong!”

Yuna tertawa kecil. “Kamu masih nggak mau ngakuin kesalahan kamu sendiri. Kamu pikir aku takut? Kenapa sampe sekarang nggak laporin aku ke polisi? Kamu takut ketahuan kalo kamu sendiri yang salah?”

“Aku nggak laporin kamu ke polisi karena aku kasihan sama kamu. Lagi hamil dan harus jadi narapidana,” sahut Bellina tak mau kalah.

“Bilang aja kalo kamu takut ketahuan sama keluarga Lian, sifat kamu yang sebenarnya kayak apa. Kamu bisa pura-pura di depan orang lain, tapi nggak bisa di depanku, Bel. Aku sudah tahu sifat asli kamu selama bertahun-tahun.”

“Aku juga udah tahu sifat asli kamu dari dulu. Kamu yang selalu iri sama aku karena aku bisa hidup lebih baik dari kamu ‘kan?”

Yuna langsung tertawa mendengar lelucon yang keluar dari mulut Bellina. “Kamu belum periksa ke psikiater? Aku saranin, kamu periksa ke psikiater sana! Sakit jiwa ini orang. Kalo nggak punya duit, aku bisa kasih kamu duit.”

Ucapan Yuna benar-benar membuat Bellina naik pitam. Ia langsung maju untuk menyerang Yuna. Namun, tangannya tiba-tiba ditahan oleh Yeriko.

Yeriko langsung menarik tubuh Bellina dan menghempaskannya ke lantai begitu saja.

“Aw ...!” Bellina merintih saat tubuhnya terjerembab ke lantai. “Kamu berani kasar sama perempuan?” seru Bellina.

Yeriko tersenyum sinis. “Aku nggak akan biarin kamu nyentuh istriku!” tegas Yeriko.

“Kamu bener-bener laki-laki nggak berperasaan!” sentak Mega. “Bisa-bisanya kamu memperlakukan Bellina seperti ini.”

“Dia memang pantas buat dapetin itu,” sahut Yeriko dingin.

Bellina bangkit dari lantai penuh kekesalan. Ia menatap Yeriko penuh rasa cemburu. Ia ingin sekali seperti Yuna. Mendapatkan suami yang mencintai dan melindunginya penuh kasih sayang. Tidak seperti Lian yang justru memikirkan wanita lain dalam kehidupan rumah tangganya.

“Anak muda nggak tahu sopan santun!” maki Mega sambil menarik Bellina keluar dari ruangan tersebut.

“Kamu yang nggak sopan sudah masuk sini,” celetuk Yeriko lirih.

Bellina dan Mega terus mengawasi Yuna dan Yeriko dari balik kaca ruangan. Mereka benar-benar tidak bisa menerima perlakuan Yeriko yang begitu kasar terhadap Bellina.

“Kamu nggak papa?” tanya Yeriko sambil mengamati tubuh Yuna.

“Aku nggak papa,” jawab Yuna. Tubuhnya sedikit bergetar.

Yeriko langsung merengkuh Yuna ke dalam pelukannya. “Nggak usah takut! Ada aku ...” bisiknya.

Yuna memeluk pinggang Yeriko. Ia hanya takut Bellina akan menyakiti anaknya.

“Makan lagi!” pinta Yeriko lembut. “Nggak papa, kok.”

Yuna mengangguk kecil. Ia melepaskan dirinya dari pelukan Yeriko dan kembali duduk di kursi.

Yeriko menarik kursi dan duduk di sebelah Yuna. Ia mengambil sendok dan menyuapkan makanan untuk Yuna. Matanya melirik Bellina dari kejauhan sambil tersenyum sinis.

Yuna merasa tatapan Bellina tidak seperti biasanya. Bukan tatapan benci yang tersirat dari wajah Bellina. Lebih tepatnya, tatapan itu seperti saat ia menginginkan Wilian beberapa tahun silam.

Meski tak bicara, Yeriko bisa menangkap kekhawatiran yang tergambar dari wajah Yuna. Ia tidak ingin istrinya merasa tertekan karena masalahnya dengan Bellina.

“Riyan tadi telepon aku. Katanya, dia udah dapetin bukti kejahatan Bellina.”

“Hah!? Serius?” Yuna langsung menatap wajah Yeriko.

Yeriko mengangguk. “Kamu nggak perlu khawatir. Aku bakal ngasih Bellina kenangan hidup yang tidak akan terlupakan.”

“Maksud kamu?”

Yeriko tersenyum sambil menempelkan dahinya di dahi Yuna. “Kamu bakal tahu nanti. Sekarang, kamu fokus ke anak kita dulu ya!” pinta Yeriko sambil mencium hangat bibir mungil Yuna.

Dari kejauhan, Bellina menatap Yuna penuh kebencian. Ia juga menjadi tidak nyaman dengan tatapan Mega yang kini penuh kecurigaan terhadapnya

Bellina tersenyum sambil menatap Mega. Ia sudah merencanakan sesuatu untuk mencegah dokter Heru membongkar rahasia dirinya. Namun, ia sendiri tidak akan pernah menyadari kalau semua yang ia lakukan saat ini sudah berada di bawah kendali Yeriko.

 

(( Bersambung ... ))

Bellina yang malang, pengen ketawa, tapi kasihan juga, huft.

Terima kasih sudah baca terus sampai di sini. Mohon dukungannya dengan cara kasih Star atau review ya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 268 : Kesedihan Bellina || a Romance Novel by Vella Nine

 


Lian menatap amplop surat pengunduran diri milik Yuna yang ada di atas meja kerjanya. Ia merasa kecewa karena tidak bisa lagi melihat Yuna di tempat kerjanya.

 

Ia sudah membuat Yuna masuk ke perusahaannya dalam waktu yang lama. Tapi tetap saja tidak berhasil mendapatkan kembali hati Yuna. Justru perasaan bersalah dalam hatinya semakin hari semakin bertambah.

 

“Yun, kamu seperti pelangi. Indah, penuh warna. Tapi, semakin dikejar semakin menjauh,” gumam Lian sambil menatap kertas pengunduran diri atas nama Fristi Ayuna Linandar. Matanya menerawang jauh pada masa di mana ia mulai menjalin hubungan dengan Yuna tujuh tahun silam.

 

Waktu tak dapat kembali. Sampai kapan pun, ia hanya akan hidup dalam penyesalan. Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini, membuat dirinya selalu merasa kalau Yuna jauh lebih baik dari Bellina.

 

“Permisi, Pak!” Salah seorang karyawan tiba-tiba masuk ke ruangan Lian.

 

“Ya.” Lian langsung membuyarkan lamunannya.

 

“Dokumennya sudah ditandatangani, Pak?”

 

“Oh. Sebentar.” Lian langsung menandatangani beberapa dokumen yang ada di hadapannya dan memberikan pada sekretaris tersebut.

 

Setelah semuanya selesai, Lian bergegas pergi menuju rumah sakit.

 

Akhir-akhir ini, Bellina terlihat sangat aneh. Banyak pertanyaan di kepalanya yang tak mendapatkan jawaban. Namun, ia juga mengerti bagaimana kepedihan istrinya itu karena harus kehilangan anak mereka.

 

Sesampainya di rumah sakit, Lian tidak menemukan Bellina di dalam bangsal tempat ia dirawat.

 

“Dia pergi ke mana?” gumam Lian. Ia buru-buru keluar dari ruangan dan mendapati Bellina sudah berdiri di depan pintu.

 

“Bel, kamu dari mana?” tanya Lian.

 

“Abis jalan-jalan di taman. Cari udara segar,” jawab Bellina sambil tersenyum kecil. Ia melangkah tak bersemangat menuju tempat tidurnya.

 

Lian membantu Bellina naik ke tempat tidurnya. “Bel, sebaiknya kita nggak usah laporin Yuna. Biar gimana pun, dia sepupu kamu.”

 

Bellina mengangguk. Ia juga tidak ingin memperpanjang masalahnya dengan Yuna. Ada hal lain yang lebih penting yang harus ia lakukan saat ini. Ia tidak akan melepaskan dokter Heru begitu saja karena telah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Terlebih, dokter Heru mulai mengancam dan memeras dirinya. Hal ini membuat Bellina jauh lebih takut menghadapinya.

 

“Waktunya makan.” Lian menyiapkan makanan untuk Bellina.

 

“Aku ke toilet dulu.” Bellina turun dari ranjang, melangkah perlahan menuju toilet.

 

Lian mengangguk. Ia menoleh ke arah ponsel Bellina yang berdering di atas meja. Ia meraih ponsel tersebut dan menatap nama anonim yang tertera di layar.

 

“Halo ...!” Lian menjawab telepon. Namun, tak ada suara balasan dari seberang sana. Telepon tersebut diputus begitu saja.

 

Lian mengernyitkan dahi. Ia semakin curiga dengan sikap Bellina. Namun, Bellina selalu menjadikan anak sebagai alasan.

 

Beberapa menit kemudian, Bellina kembali ke ranjangnya.

“Bel, makan dulu ya!” pinta Lian. “Setelah ini, kamu sudah boleh pulang.”

“Pulang?” Bellina mengerutkan dahinya.

Lian menganggukkan kepala. “Kenapa?”

“Nggak papa.”

Beberapa menit kemudian, pembantu di rumah Lian muncul dan membantu Bellina mengemas barang-barangnya.

Perasaan Bellina terus gelisah. Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya. Mengira anaknya telah meninggal di dalam kandungan, ternyata ia justru membunuh anaknya sendiri. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana menghadapi keluarga Lian.

 

...

 

Sesampainya di rumah, keluarganya tak menyambut kedatangan Bellina dengan baik. Mega yang berada di rumah itu bertingkah seolah tak ada siapa pun yang datang. Sejak Bellina mengalami keguguran, pandangannya terhadap Bellina mulai berubah.

“Siang, Ma!” sapa Bellina sambil menghampiri Mega yang sedang duduk santai di teras belakang rumahnya.

“Siang,” sahut Mega santai.

Bellina terdiam. Mama mertuanya memang tidak bersikap baik pada dirinya.

Mega tidak menyukai keberadaan Bellina dalam kehidupan keluarganya. Setiap keluar rumah atau berkumpul dengan teman-teman arisannya, ia selalu digunjing. Terutama soal Bellina yang sudah terkenal sebagai pembuat onar. Bellina selalu menggunakan nama suami dan perusahaannya untuk memperlakukan orang lain semena-mena.

Melihat wajah Mega yang tidak bersahabat, Bellina langsung bergegas naik ke kamarnya. Ia sangat kesal karena keluarga Lian memperlakukannya seperti orang lain. Sangat berbeda dengan Yuna yang mendapatkan kasih sayang begitu besar dari keluarga Yeriko.

Bellina merogoh ponsel dari dalam tas dan langsung menelepon Yuna.

“Halo ...!” sapa Yuna dari seberang sana.

“Halo, Yun. Kamu di mana?”

“Di rumah. Kenapa, Bel?”

“Aku udah keluar dari rumah sakit.”

“Oh. Baguslah. Jaga diri baik-baik!”

“Aku sekarang di rumah Lian. Mama mertuaku sekarang berubah. Nggak peduli lagi sama aku. Semua ini gara-gara kamu, Yun.”

Yuna tertawa kecil. “Kamu nelpon aku cuma mau ngeluh masalah keluarga kamu? Emangnya, nggak ada orang lain yang bisa kamu ajak ngomong?”

“Yun, aku jadi kayak gini karena kamu udah bunuh anak aku!” seru Bellina.

“Kamu tahu sendiri, kamu yang pura-pura jatuh. Kamu yang bunuh anak kamu sendiri, kenapa nyalahin aku terus? Kamu udah gila ya?”

“Yun, kamu harus ngakuin kalo kamu yang bunuh anakku!” seru Bellina histeris.

“Eh, gila! Kamu mending periksa ke psikiater deh!” sentak Yuna. “Jelas-jelas kamu yang bunuh anak kamu sendiri, kenapa malah nyalahin aku?”

“Aku nggak bunuh anakku sendiri. Anakku mati gara-gara kamu, Yun!” Bellina semakin histeris.

Yuna tertawa kecil. “Minum obat, Bel! Biar kamu waras sedikit!” sahut Yuna. “Aku males berhubungan sama kamu terus. Aku udah hidup bahagia. Lebih baik, kamu fokus membahagiakan dirimu sendiri daripada sibuk nyalahin aku yang jelas-jelas nggak salah.”

Yuna langsung memutuskan panggilan telepon secara sepihak. Hal ini membuat  Bellina semakin kesal. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Yuna justru mendapatkan kebahagiaan. Sementara dirinya terus menerus mendapatkan penderitaan.

Bellina tidak ingin diusir dari keluarga Lian karena kesalahannya. Ia harus bisa mempengaruhi mama mertuanya kalau Yuna adalah orang yang harus bertanggung jawab atas kematian anaknya.

 

Ucapan Yuna benar-benar membuat Bellina semakin tertekan. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk menutupi kesalahannya.

 

“Ada apa,Bel?” tanya Lian yang sudah mendengarkan teriakan histeris dari halaman depan saat ia berbincang dengan ayahnya.

 

“Eh, nggak papa. Cuma sedih aja ingat sama anakku.”

 

Lian menatap Bellina yang terlihat lebih kurus dari biasanya. Ia bisa memahami kesedihan Bellina yang baru saja kehilangan anak. Bukankah ia juga sama sedihnya karena kehilangan anak yang sudah ia tunggu kelahirannya?

 

“Mau ke luar? Jalan-jalan?” tanya Lian mencoba menghibur Bellina.

 

Bellina menggelengkan kepala. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya dan berbaring. “Aku pusing banget. Mau istirahat.”

 

Lian tersenyum kecil. “Oke. Aku nggak akan ganggu istirahatmu. Aku ... balik ke kantor dulu!” pamit Lian.

 

Bellina menganggukkan kepala. Ia merasa dirinya semakin gila. Namun, ia tidak ingin memeriksakan dirinya ke psikiater. Ia hanya membutuhkan obat tidur untuk membantunya tidur dengan baik.

“Nggak papa aku tinggal sendirian?” tanya Lian lagi.

Bellina menganggukkan kepala.

“Kalau perlu apa-apa, panggil pembantu aja!” perintah Lian sambil melangkah perlahan menuju pintu.

Bellina mengangguk lagi.

 Setelah Lian beranjak dari kamarnya, ia meneteskan air mata dan terus menangisi nasibnya. Ia hanya ingin hidup bahagia. Mendapatkan kasih sayang Lian sepenuhnya dan juga mendapatkan pengakuan dari keluarga Lian. Hanya itu ... hanya itu saja dan ia selalu kalah dengan Yuna. Sejak kecil, hidup Yuna selalu lebih baik dari dirinya. Ia selalu iri dengan apa yang dimiliki Yuna. Ia ingin memiliki semua kebahagiaan yang dimiliki oleh Yuna.

 

(( Bersambung ... ))

 

Terima kasih sudah baca terus sampai di sini. Mohon dukungannya dengan cara kasih Star atau review ya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 267 || Bingkai Undangan || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yan, kamu selidiki dokter itu!” perintah Yeriko saat melihat dokter Heru keluar dari ruang rawat Bellina. Teriakan histeris Bellina terdengar di telinganya saat ia hampir meninggalkan koridor rumah sakit. Membuat Yeriko semakin yakin kalau ada hal yang sengaja disembunyikan oleh Bellina.

“Baik, Pak Bos!” Riyan menganggukkan kepala.

Yeriko mulai melangkah perlahan meninggalkan koridor. “Riz, menurut kamu gimana?”

“Menurut saya, Nyonya Yeriko memang tidak bersalah.”

Yeriko tersenyum kecil. “Cuma dengan pertanyaan seperti itu, kamu sudah bisa menyimpulkan kalau istri saya memang tidak bersalah?”

“Ibu Bellina terlihat sangat ketakutan saat ia mengatakan kebohongan. Berbeda dengan Nyonya Ye yang terlihat begitu tenang. Lagipula, di saat orang mengalami kecelakaan. Dia baru akan berteriak ketika ia menyadari dirinya dalam bahaya. Bukan berteriak dulu, baru dia terjatuh. Jelas-jelas, Ibu Bellina memang mengada-ngada. Tapi, kita tetap harus mendapatkan bukti pengakuan dia. Karena ...”

“Karena apa?”

“Tidak ada saksi mata yang melihat secara langsung kejadian ini. Jalan satu-satunya adalah membuat Bellina mengakui kebenaran yang terjadi.”

Yeriko manggut-manggut. Ia mulai memikirkan rencana untuk menjerat Bellina dan membuatnya merasakan penderitaan secara perlahan.

“Yan, bisa selidiki ini sampai selesai ‘kan?” tanya Yeriko sambil terus melangkahkan kakinya bersama Riyan dan Fariz.

“Siap, Pak Bos!”

“Oh ya, tolong bantu prosedur  pengunduran dirinya Yuna!”

“Baik, Pak Bos!”

Mereka bergegas meninggalkan rumah sakit. Di bibir Yeriko, terukir senyuman yang sulit untuk diartikan.

 

Sesampainya di rumah, Yeriko langsung menghampiri Yuna yang duduk di ruang keluarga sambil mengerjakan sesuatu.

“Bikin apa?” tanya Yeriko.

Yuna langsung memutar kepalanya. Ia bangkit dari lantai dan langsung menghadap Yeriko. “Udah pulang? Nggak kedengaran suaranya.”

Yeriko tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna. “Kamu terlalu serius, lagi bikin apa sih?” tanyanya sambil duduk di lantai yang dilapisi karpet bulu. Ia menatap bingkai foto yang ada di atas meja.

Yuna tersenyum, ia duduk di samping Yeriko. “Aku lagi bingkai undangan kita.”

“Undangan?” Yeriko mengernyitkan dahi.

Yuna menganggukkan kepala sambil menunjukkan undangan pernikahan mereka yang sudah terbingkai indah.

Yeriko tersenyum kecil. “Kenapa kamu bingkai undangan? Biasanya, yang dibingkai itu kan mahar.” Ia mencomot potongan buah yang ada di atas meja dan melahapnya.

“Mmh ... kamu kan belum kasih aku mahar.”

“Uhuk ... uhuk ...!”

“Eh, kenapa? Kalo makan hati-hati!” Yuna langsung mengambil tisu, membantu membersihkan mulut Yeriko dan menyodorkan air minum kepada suaminya itu.

“Mahar sama mas kawin apa bedanya?” tanya Yeriko sambil membersihkan mulutnya.

“Sama. Hehehe.”

“Aku kan udah kasih waktu nikah.”

Yuna menggigit bibirnya. “Iya, tapi udah aku pake. Gimana dong?”

Yeriko tersenyum kecil. “Ya, nggak papa. Mas kawin aku kasih emang buat kamu pake.”

Yuna memonyongkan bibirnya.

“Kenapa?” tanya Yeriko sambil menahan tawa, mengingat mas kawin yang ia berikan untuk Yuna.

Yuna mengerutkan hidung sambil memukul bahu Yeriko. “Kamu ngasih aku mas kawin cuma dua belas ribu. Aku pas lagi nggak ada duit, aku pake buat beli pulsa. Lagian, kamu bisa masukin ayah ke ruang VVIP, tapi ngasih mas kawin cuma dua belas ribu.”

Yeriko menahan tawa sambil melirik Yuna yang duduk di sampingnya. “Nggak boleh ngeluh! Sebagai istri yang baik, harus menerima berapa pun yang dikasih sama suami kamu.”

Yuna memonyongkan bibirnya.

Yeriko tergelak melihat ekspresi wajah Yuna. “Waktu itu, aku nggak ada persiapan sama sekali buat nikahin kamu. Di dompet aku, cuma ada uang segitu.”

“Orang kaya, tapi isi dompet cuma dua belas ribu. Nggak malu sama itu dompet yang harganya jutaan?” canda Yuna.

Yeriko tertawa. Ia langsung menjepit kepala Yuna dan menciumi kepalanya, gemas dengan tingkah Yuna.

Yuna tertawa kecil sambil memeluk erat tubuh Yeriko.

“Mmh ... kalo seandainya, aku cuma kuli yang nafkahin kamu dengan uang dua belas ribu setiap hari, apa kamu masih mau jadi istriku?”

Yuna menengadahkan kepalanya menatap wajah yeriko. “Aku sayang sama kamu bukan karena uang. Apa pun yang kamu kasih, aku terima dengan bahagia. Lagipula, kita bisa berjuang sama-sama dari nol. Bukannya lebih indah seperti itu?”

Yeriko tersenyum. Ia mengecup bibir Yuna dan memeluk tubuhnya erat-erat. Ia merasa sangat bahagia karena mendapatkan istri yang baik hati.

Yuna tersenyum bahagia saat Yeriko bermanja-manja dengannya. “Acara pernikahan kita sudah dekat. Aku ...”

“Nggak usah gelisah mikirin pernikahan!” pinta Yeriko. “Mama udah ngatur semuanya dengan baik.”

“Iya, sih. Tapi aku masih khawatir kalau pas acara ada masalah. Abisnya, di antara kita masih ada banyak banget orang yang mau hubungan kita putus. Refi yang jelas-jelas masih ngejar kamu. Lian, Andre dan ...”

“Argh, jangan dipikirin!” pinta Yeriko kesal. Ia tidak menyukai Yuna yang selalu memikirkan hal yang tidak-tidak.

“Aku nggak mikirin, tapi kepikiran.”

“Kamu tenang aja!” pinta Yeriko. “Acara pesta pernikahan kita tertutup. Nggak sembarangan orang bisa masuk. Lagian, Mama cuma undang seratus orang aja. Mama juga sudah siapin keamanan dengan baik. Kamu nggak usah khawatir! Oke?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia merasa tenang mendengar ucapan Yeriko.

“Oh ya, soal Bellina ...”

“Gimana?” Yuna sangat antusias mendengar kabar terbaru tentang masalahnya dengan Bellina.

“Aku jamin dia nggak akan lapor ke polisi.”

“Beneran?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Semua bisa diselesaikan secara kekeluargaan.”

“Kamu minta maaf sama Bellina?” Yuna langsung merengut menatap Yeriko.

Yeriko menggelengkan kepala. “Apa aku kelihatan serendah itu?”

Yuna meneliti wajah Yeriko. Ia mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh suaminya itu. “Terus, kenapa dia tiba-tiba nggak lapor polisi?”

Yeriko tersenyum menanggapi ucapan Yuna.

“Bilang, kamu lagi ngerencanain apa?”

“Aku udah punya rencana yang bagus.”

“Apa?”

“Kamu nggak perlu tahu.”

“Kenapa?”

“Kamu fokus urus anak kita sampai dia lahir ya!” pinta Yeriko. “Urusan lain, biar aku yang selesaikan.”

“Kamu nggak pake kekerasan, kan?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak akan mengotori tanganku sendiri.”

“Terus?” Yuna masih terus saja bertanya.

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia meliukkan tubuhnya dan bangkit dari lantai. “Aku lapar. Mau mandi dulu,” jawabnya sambil melangkah pergi.

“Ha!?” Yuna membuka mulutnya lebar-lebar. Ia bangkit dan mengejar langkah Yeriko karena ia masih penasaran dengan apa yang dilakukan Yeriko di belakangnya.

Yeriko langsung berbalik begitu mendengar langkah kaki Yuna mengikutinya. “Kamu lagi hamil muda, jangan lari-lari!”

“Jawab dulu pertanyaanku!” pinta Yuna.

“Nanti aku jawab. Aku mandi dulu!”

“Iih ... sekarang!” rengek Yuna manja.

Yeriko menatap Yuna tanpa ekspresi. Ia berkacak pinggang sambil memerhatikan istrinya.

Tatapan Yeriko membuat Yuna tidak berani lagi bertanya. Ia berbalik dan melangkah kembali ke ruang keluarga.

Yeriko tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Baru mau ngasih tahu. Baguslah kalo nggak tanya lagi, hihihi” batin Yeriko sambil menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.

 

(( Bersambung ... ))

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas