Wednesday, August 17, 2022

Bab 53 - Cemburu yang Indah

 



Nanda melangkahkan kakinya perlahan sambil membawa beberapa barang yang dibutuhkan Ayu ke dalam kamarnya. Ia terus menundukkan kepala dan berjalan sebaik mungkin sebagai seorang wanita biasa.

“Hei, kamu pelayan pribadinya Roro Ayu, ya?” sapa seorang pria bertubuh tinggi dan kekar yang tiba-tiba menghadang langkah Nanda.

Nanda langsung mengangkat wajahnya menatap pria itu. Matanya menyeringai tak bersahabat saat melihat pria tampan yang sejak kemarin menjadi pembicaraan para pelayan karena pria itu adalah putera mahkota dari keraton kesultanan Yogyakarta yang juga cukup terkenal.

“Siapa nama kamu?” tanya pria itu sambil memperhatikan wajah Nanda.

“Nindi, Tuan!” jawab Nanda sambil menundukkan kepala dan memperbaiki selendang di lehernya. Tidak ada yang boleh mengetahui kalau dia adalah pelayan wanita yang memiliki jakun.

“Nindi? Kamu tinggi banget untuk seorang perempuan?” tanya pria itu sambil menegakkan tubuhnya. “Kamu lebih cocok jadi model daripada jadi pelayan di keraton ini.”

Nanda tersenyum manis menanggapi pertanyaan pria itu. “Terima kasih atas pujiannya, Tuan! Mohon maaf ...! Saya harus segera ke kamar Tuan Puteri untuk membawakan makanan ini. Dia sedang sakit, tidak boleh telat makan,” pamitnya sambil melangkah.

“E-eh. Tunggu!” Pria itu kembali menghadang langkah Nanda.

“Ada apa, Tuan?”

“Ini obat oles mujarab dari keratonku. Obat ini sangat terkenal dan bisa menyembuhkan luka dengan cepat. Tidak semua orang bisa mendapatkan obat ini. Aku tahu, tubuh Roro Ayu pasti masih terluka karena cambukan di tubuhnya,” ucap pria itu sambil menyodorkan botol mungil berbahan keramik ke hadapan Nanda.

Nanda melebarkan kelopak mata dan langsung menyambar obat tersebut begitu tahu kalau obat itu terkenal mujarab. Meski ia sudah mencoba melindungi tubuh Ayu menggunakan busa. Tapi tetap saja lima puluh cambukan yang menimpa wanita itu, meninggalkan bekas luka di tubuh dan lengan belakangnya.

Pria itu tersenyum puas menatap Nanda. “Sampaikan salamku untuk Roro Ayu! Bilang kalau Mas Enggar Dierjaningrat akan tinggal di sini untuk memastikan keselamatan dia.”

“Baik, Tuan! Terima kasih ...!” ucap Nanda sambil bergegas melangkah pergi dengan cepat. Ia mendengus kesal sambil mencebikkan bibirnya. “Mentang-mentang keluarga ningrat dan bisa masuk ke sini dengan bebas, mau ngambil kesempatan ngambil perhatian Ayu? Hellow ...! Ada Nanda di sini. Aku nggak akan biarkan siapa pun deketin Ayu. Meski anaknya presiden sekali pun, langkahi dulu mayatku!” gerutu Nanda sambil menahan kesal.

Nanda langsung masuk ke dalam kamar Ayu dan mengunci rapat pintu kamar tersebut.

“Nanda?” Ayu langsung menutup tubuhnya saat ia sedang memperhatikan punggungnya yang masih memar karena terkena cambukan beberapa kali.

“Sakit, ya? Aku bawain obat oles buat kamu,” tutur Nanda sambil menghampiri Roro Ayu dan menarik kain jarik yang menutupi punggung wanita itu.

“Nan, kamu lancang banget, sih!?” seru Ayu sambil berusaha menutup kembali tubuhnya menggunakan jarik yang ia kenakan.

“Ay, aku udah lihat semuanya! Ngapain sih masih malu-malu? Biar aku obatin lukamu,” pinta Nanda sambil menarik jarik yang menutupi tubuh Ayu. Seketika, terjadi tarik-menarik antar mereka berdua dan tidak ada yang mau mengalah.

“LEPASIN!” teriak Ayu kesal sambil menarik jariknya.

Nanda mendengus kesal dan melepaskan jarik yang ditarik oleh Ayu.

Bruug ...!

“Aargh ...!” Ayu merintih kesakitan saat tubuhnya tersungkur ke lantai karena Nanda refleks melepas tarikan jariknya.

“NANDA ...! Kenapa dilepasin beneran!?” seru Ayu kesal sambil merintih kesakitan.

“Sorry ...! Sorry ...! Abisnya, kamu nyuruh aku lepasin,” tutur Nanda sambil meraih kedua pundak Ayu dan membantu bangkit dari lantai.

“Iya. Tapi jangan dilepasin tiba-tiba juga, dong!” seru Ayu sambil memegangi punggungnya yang semakin sakit karena terbentur lantai.

Nanda terkekeh dan mengecup kening Ayu berkali-kali. “Jangan marah, dong! Aku nggak sengaja.”

“Sakit, tau! Kamu tuh nggak ada puasnya bikin aku tersakiti?” protes Ayu sambil memonyongkan bibirnya.

Nanda tersenyum sambil menjepit kedua pipi Ayu dan mengecupnya.

“Nan, kamu jangan cium aku! Jijik banget tahu dicium sama perempuan,” tutur Ayu sambil menahan tawa.

“Aku laki-laki tulen, Ay,” sahut Nanda sambil mengusap lipstik merah di bibirnya dan menyodorkan bibirnya kembali ke bibir Ayu.

Ayu menarik mundur tubuhnya sambil menahan bibir Nanda menggunakan jari telunjuknya. Tangan satunya memegang pinggang Nanda karena Nanda masih terus menyodorkan tubuhnya hingga ia hampir terjengkak ke lantai kembali.

Nanda mengalihkan pandangannya ke bagian dada Ayu yang polos karena kain jarik yang menutupi tubuhnya sudah terkulai di lantai yang ada di bawah mereka.

Ayu melebarkan kelopak mata dan menoleh ke arah dadanya sendiri. Ia langsung mendorong kuat tubuh Nanda dan buru-buru menarik kain jarik di bawahnya. “Kamu ini nyari kesempatan, ya!?” dengusnya. Ia melilitkan kain jarik tersebut di tubuhnya.

Nanda tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. “Kamu nggak kangen sama aku, Ay?”

“Nggak!” sahut Ayu kesal sambil duduk di kursi meja riasnya.

“Jangan ngambek, dong!” pinta Nanda sambil merangkul tubuh Ayu dari belakang.

“Nggak usah macem-macem dan bikin aku kesel, deh! Ntar aku minta ganti pelayan, mau!?” dengus Ayu.

“Hehehe. Jangan, dong! Serius, deh! Aku mau obatin kamu,” tutur Nanda sambil menarik kursi yang ada di sana dan duduk di belakang Ayu.  Ia membuka botol obat dan mengoleskan salep perlahan di luka memar yang ada di bahu wanita itu.

Ayu tersenyum kecil. Ia memegangi jarik untuk menutupi dadanya dan membiarkan Nanda mengobati lukanya perlahan. “Pelan-pelan!” pintanya lirih.

“Sakit, ya?” tanya Nanda.

Ayu mengangguk pelan sambil menundukkan kepala.

“Ay, aku boleh tanya sesuatu?” tanya Nanda.

“Hmm.”

“Kamu kenal sama anak bangsawan dari keraton Jogja yang namanya Raden Mas Enggar ... mmh, nama belakangnya siapa ya tadi?”

“Dierjaningrat?” tanya Ayu balik.

“Kenal?” tanya Nanda sambil menatap wajah Ayu.

“Kenal. Partner nari aku,” jawab Ayu santai.

Nanda mengernyitkan dahi. “Jangan bilang kalau dia cowok yang nari sama kamu di ulang tahun kota waktu itu!”

“Emang dia orangnya,” jawab Ayu.

“HAH!? Kamu ngakuin kalau itu dia? Kenapa santai banget? Nggak ngerasa bersalah? Kamu ada hubungan apa sama dia?” cecar Nanda.

Ayu langsung memutar tubuhnya menatap Nanda yang ada di belakangnya. “Ini pertanyaan apa? Sejak kapan kamu peduli dengan hubungan pertemananku di luar sana?”

Nanda gelagapan sambil menatap wajah Ayu. “Sejak detik ini!” tegasnya.

Ayu tertawa kecil dan kembali mengalihkan pandangannya ke cermin di hadapannya.

“Ay, kamu nggak mau jelasin sesuatu ke aku?” tanya Nanda.

“Apa yang perlu dijelaskan?” tanya Ayu.

“Hubungan kamu sama dia. Kamu punya simpanan waktu pacaran sama Sonny?” tanya Nanda.

“Simpananku banyak!” sahut Ayu sambil membanggakan dirinya.

“Kamu ...!?” Nanda mengernyitkan dahi. “Diam-diam, kamu punya banyak pacar juga?”

Ayu mengangguk. “Emangnya cuma kamu doang yang bisa punya banyak pacar? Aku ini cantik, baik hati dan puteri bangsawan. Cowok mana yang nggak mau sama cewek kayak aku??” ucapnya penuh percaya diri.

Nanda mengernyitkan dahi. “Kamu begitu percaya diri kalau di kandang sendiri, ya? Dulu, kamu nggak seperti ini?”

“Status sosial memengaruhi rasa percaya diri seseorang ‘kan?” sahut Ayu sambil tersenyum manis.

Nanda ikut tersenyum sambil menatap wajah Ayu. “Bukankah dari dulu status sosialmu yang paling tinggi waktu SMA?”

“Mmh ... saat itu aku belum terpikirkan dengan hal-hal seperti ini. Yang aku tahu hanya belajar, belajar dan belajar,” jawab Ayu sambil tersenyum. Ia menghela napas saat mengingat masa-masa SMA-nya. “Jadi orang dewasa itu nggak enak, ya? Jadi anak kecil terus juga nggak mungkin,” keluhnya.

“Siklus hidup manusia memang harus seperti ini ‘kan?” tutur Nanda sambil menutupkan jarik kembali ke tubuh Ayu begitu ia selesai mengoleskan obat di punggung wanita itu.

“Tumben bijak?” sahut Ayu sambil tersenyum.

“Titik terendah dalam hidup, mengajarkan aku menjadi bijak. Makasih ...!” jawab Nanda sambil memeluk tubuh Ayu.

“Makasih untuk apa?” tanya Ayu sambil tertawa kecil menatap wajah Nanda. “Aku sudah membuat hidupmu menderita. Masih bisa bilang terima kasih?”

“Karena aku sudah membuat hidupmu jauh lebih menderita dari apa yang aku alami,” jawab Nanda sambil tersenyum dan mengecup pipi Ayu. “Benar kata Bunda Yuna. Kamu sudah mengorbankan diri dan menyelamatkan nyawaku sejak kita masih duduk di bangku SMA. Jangan-jangan, kamu sebenarnya suka sama aku, ya?”

“Iih ... apaan, sih? Kepedean banget? Sonny jauh lebih baik dari kamu,” sahut Ayu.

“Cuma karena gengsi sama status kamu yang baik dan smart. Terus, kamu nggak mau mengakui kalau kamu cinta sama aku?” goda Nanda.

“Iih ... nggak kayak gitu!” sahut Ayu sambil mengerutkan wajahnya.

“Halah ... ngaku aja! Mana mungkin kamu mau terluka berkali-kali demi aku kalau nggak cinta?” goda Nanda sambil menggelitiki pinggang Ayu.

“Nanda ...! Geli tahu!” sahut Ayu sambil membalas perlakuan Nanda. Mereka asyik bermain dan berkejar-kejaran di kamar tersebut sambil tertawa bahagia. Menjalani waktu-waktu bersama seolah tak ada rasa sakit dan penderitaan dalam hidup mereka.

 

 

((Bersambung...))

 

Setidaknya, Ananda udah tahu bagaimana cara mengalihkan kesedihan Ayu dan membuatnya tetap bahagia menjalani kesulitan dalam hubungan mereka. Supaya dia bisa belajar, bagaimana menghargai seseorang dari ujian hidup yang sudah ia alami.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Bab 52 - Hukuman Pertama untuk Ayu

 


Ayu melangkahkan kakinya perlahan menuju ke arena terbuka, tempat di mana dia akan menjalani hukuman pertamanya. Di sebelah kirinya, ada seorang pelayan yang biasa mendampinginya. Di sebelah kanan, ada Nanda yang menjadi pelayan baru di kediaman tersebut.

Ayu langsung duduk bersimpuh di tengah lapangan. Tepat di tribun yang ada di hadapannya, Sri Sultan dan seluruh keluarga keraton sudah berkumpul untuk menyaksikan penebusan dosa yang telah dilakukan oleh Roro Ayu.

Nanda terus berdiri di belakang Ayu. Sementara, pelayan yang satunya lagi sudah melangkah mundur.

“Mas, Ayo pergi!” pinta pelayan itu berbisik di telinga Nanda. “Nanti kamu ketahuan kalau terlalu lama di dekat Tuan Puteri!”

Nanda mengikuti pelayan yang menariknya. Kedua matanya tetap mengawasi Ayu yang masih duduk bersimpuh di sana sambil memberi hormat kepada seluruh keluarganya, juga pada semua keluarga bangsawan yang diundang ke acara tersebut.

Nanda langsung diajak bergabung dengan pelayan-pelayan yang ada di sana.

“Saya belum pernah melihatmu. Pelayan baru?” tanya seorang pelayan sambil menatap wajah Nanda.

Nanda tersenyum dan menganggukkan kepala.

“Nama kamu siapa?” tanya pelayan lainnya.

“Nindi,” jawab Nanda sambil tersenyum manis.

“Nindi? Nama yang cantik. Kamu beruntung sekali bisa langsung mendampingi Tuan Puteri meski baru bekerja,” sahut pelayan lainnya.

Nanda hanya tersenyum saja mendengar pembicaraan semua pelayan yang ada di sana.

“Tidak semua pelayan diizinkan melayani Tuan Puteri. Hanya pelayan-pelayan tertentu saja.”

“Oh ya?” sahut Nanda sambil tersenyum bangga.

“He-em. Katanya, Tuan Puteri itu anak yang baik. Sejak kecil, dia selalu berprestasi. Bahkan, saat diasingkan dan tidak boleh masuk istana, Tuan Puteri menulis banyak buku,” tutur pelayan lain.

“Tuan Puteri itu tidak benar-benar diasingkan. Kalau diasingkan, mana mungkin dia bisa lanjut sekolah sampai ke Inggris. Dia hanya tidak dibolehkan masuk ke Istana. Kata diasingkan itu hanya untuk menutupi martabat keluarga ini dari keluarga bangsawan lain,” tutur pelayan yang ada di sana.

“Iya. Benar, benar.”

Semua pelayan yang ada di sana sibuk membicarakan kebaikan Roro Ayu dan terus memojokkan Nanda. Mereka semua menganggap kalau pria yang telah menodai Roro Ayu adalah pria yang sangat kejam karena membuat Roro Ayu harus menjalani hukuman leluhur yang sangat berat.

Karena sibuk bergosip dengan para pelayan, Nanda sampai tak menyadari jika hakim pengadilan keraton tersebut sudah mulai membacakan pasal-pasal aturan yang dilanggar oleh Ayu dan bersiap melakukan eksekusi yang disaksikan oleh semua keluarga bangsawan di negeri tersebut.

Satu orang algojo, sudah berdiri tegak di belakang Ayu dengan cambuk besar di tangannya.

“Raden Roro Ayu Rizky Prameswari ...! Apakah Ananda siap menjalani hukuman?” Suara Edi Baskoro terdengar menggelegar.

“Siap, Romo!” sahut Ayu sambil menangkup telapak tangan di depan wajah dan membungkuk hormat. Ia melirik ke algojo yang ada di belakangnya dan bernapas lega saat tahu kalau tali pecut itu terlihat lebih besar dari biasanya. Hal ini, bisa mengurangi rasa sakit di tubuhnya. Ia tidak menyangka kalau keluarganya juga memikirkan untuk memberi tali pecut yang lebih besar.

Edi Baskoro menghela napas. Ia duduk kembali di kursinya dan memerintahkan algojo memulai hukuman untuk puterinya.

TAR ...!!!

Ayu menahan napas saat pecut itu menyambar punggungnya. Nanda yang memiliki ilmu beladiri, sudah mengajarinya cara bertahan agar tubuhnya tidak mudah tumbang saat mendapatkan hantaman. Menahan napas adalah bagian dari cara mempertahankan tubuhnya dari rasa sakit.

Nanda ikut menahan napas ketika di dalam dua manik matanya terlukis tubuh Ayu yang sedang dihukum begitu kejam oleh pengadilan keluarga besarnya. Tangannya mengepal erat-erat sembari menghitung jumlah cambukan yang menyambar tubuh Ayu.

“Tiga puluh ...”

“Empat puluh ...”

“Empat puluh delapan ...”

“Empat puluh sembilan ...”

Nanda langsung melangkahkan kakinya, ia berlari menuju ke tengah area dan langsung menangkap tubuh Ayu yang sudah terkulai lemas menahan rasa sakit di tubuhnya.

“Ay, bertahanlah! Kamu akan baik-baik aja,” bisik Nanda sambil menitikan air mata.

Ayu tersenyum sambil menatap wajah Nanda. “Terima kasih ...! Sudah mengajariku cara untuk bertahan,” ucapnya lirih sambil berusaha menyentuh pipi Nanda perlahan.

Nanda tertegun saat telapak tangan Ayu begitu susah payah mencapai pipinya. Ia berusaha mendekatkan pipinya ke telapak tangan wanita itu, tapi tangan itu malah jatuh terkulai begitu saja ke tanah.

“Tuan Puteri ...!” Pelayan-pelayan yang lain ikut menghampiri tubuh Roro Ayu. “Bawa ke kamar! Dia harus segera diobati,” seru mereka.

Nanda langsung mengangkat tubuh Ayu, ia segera menggendong wanita itu dan berlari secepatnya menuju ke kamar milik Ayu agar wanita itu bisa segera mendapatkan pengobatan.

Di atas tribun, Bunda Rindu hanya bisa menyaksikan puterinya dihukum dengan berderai air mata. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa Ayu ingin masuk kembali ke keluarga itu dan menjalani hukuman berat dari keluarganya. Ia sendiri, tidak bisa menyelamatkan puterinya karena nama baik keluarga besarnya juga sedang dipertaruhkan.

“Nggak perlu menangisi Ayu! Hukuman ini adalah pilihan dia sendiri,” tutur Edi sambil menggenggam tangan Bunda Rindu.

Bunda Rindu mengusap air mata dan berusaha bangkit dari tempat duduknya.

“Jangan pergi sebelum tamu-tamu kita pulang!” perintah Edi Baskoro.

Bunda Rindu terdiam dan mengurungkan niatnya untuk pergi melihat Ayu. Ia harap, semua pelayan di keraton tersebut bisa mengurus puterinya dengan baik.

Di sudut lain, sepasang mata milik seorang pria terus mengawasi jalannya acara tersebut. Ia adalah tamu bangsawan yang diundang hadir bersama keluarganya dan tidak menyangka jika puteri yang menjadi pembicaraan di seluruh negeri adalah wanita yang ia kenal.

Begitu sampai di kamar Ayu, Nanda langsung mengunci rapat kamar tersebut. Ia tidak memperbolehkan siapa pun masuk ke dalam kamar Ayu kecuali dokter yang sudah ia siapkan satu jam sebelum prosesi hukuman itu terjadi.

“Dokter, gimana keadaan istri saya?” tanya Nanda sambil menatap dokter yang sedang memeriksa denyut jantung Ayu.

“Dia akan baik-baik saja. Hanya butuh istirahat karena harus menahan rasa sakit yang begitu banyak. Ini ... saya berikan obat anti nyeri dan obat luar untuk lukanya,” jawab dokter itu.

Nanda mengangguk. “Terima kasih, Dokter!”

Dokter itu mengangguk. “Saya akan pasangkan infus untuk dia untuk menstabilkan keadaannya.”

Nanda mengangguk sambil tersenyum lega. “Dokter, di keraton ini tidak ada yang boleh menggunakan ponsel. Bisakah dokter bantu saya?”

“Saya pasti akan membantu semampu saya,” tutur Nanda. “Istrimu adalah sahabat baik Dokter Nadine dan Dokter Sonny. Saya pasti akan menghormati pertemanan kalian.”

Nanda tersenyum lega. “Mmh ... Ayu masih harus menjalani rangkaian hukuman lain. Dia masih harus berendam di danau selama tujuh hari tujuh malam. Bisakah dokter bantu saya mencarikan obat atau apa pun yang bisa menjaga tubuhnya tetap hangat dan bertahan di dalam air?” tanya Nanda.

Dokter itu berpikir sejenak. “Kemungkinan obat itu ada. Biasanya digunakan oleh tim penyelam agar tubuhnya tetap bisa bertahan di suhu yang dingin selama berjam-jam. Tapi, obat itu susah dicari dan harganya sangat mahal.”

“Soal harga, dokter tidak perlu khawatir! Berapa pun itu akan saya bayar,” ucap Nanda sambil menatap wajah dokter tersebut.

“Baiklah. Akan segera saya carikan obatnya. Dua hari lagi, saya akan ke sini untuk mengecek keadaan istri Anda.”

Nanda mengangguk. “Dokter bisa jaga rahasia kami ‘kan? Jangan sampai ada yang tahu kalau aku adalah suami Ayu. Mereka semua hanya tahu kalau aku pelayan.”

Dokter itu mengangguk sambil tertawa tanpa suara.

“Panggil saya Nindi, Dokter! Jangan sampai keceplosan panggil Nanda!” pinta Nanda.

Dokter itu mengangguk sambil tersenyum manis. “Baik, Mbak Nindi!”

Nanda tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya. “Terima kasih, Dokter! Salam untuk Dokter Nadine dan Dokter Sonny. Sampaikan rasa terima kasih saya kepada mereka.”

Dokter itu mengangguk. Ia langsung berpamitan dan segera keluar dari dalam kamar Ayu setelah selesai melakukan tindakan pengobatan.

Nanda langsung duduk di tepi ranjang Ayu. Ia meraih tangan wanita itu dan menciumi punggung tangannya. “Ay, kamu harus bertahan, ya! Aku tidak akan membiarkan kamu menjalaninya sendirian. Maafkan aku yang dulu! Maafkan aku yang sudah membuatmu harus menderita seperti ini!” ucapnya sambil menitikan air mata.

Tok ... tok ... tok ...!

Nanda mengusap air mata dan menoleh ke arah pintu. Ia langsung menatap pelayan yang membuka pintu kamar Ayu dan masuk ke dalam.

“Ada Raden Mas dari keraton lain yang ingin mengunjungi Tuan Puteri,” ucap pelayan itu sambil menatap wajah Nanda dan Ayu yang terbaring di ranjangnya.

“Raden Mas?” Nanda mengernyitkan dahi. “Siapa?”

“Dari keraton Yogyakarta. Katanya, ingin menjenguk Tuan Puteri,” jawab pelayan itu.

“Apa dia pangeran di keraton itu?” tanya Nanda dengan suara wanita dan gaya centilnya yang dibuat-buat.

“Iya.”

Nanda terdiam sejenak. Ia langsung mengintip ke luar pintu. “Apa aku masih punya saingan cinta lagi? Gawat kalau sainganku pangeran keraton,” gumamnya dalam hati.

“Kita hanya pelayan. Tidak boleh membatasi Tuan Puteri. Apalagi menyinggung pangeran dari keraton lain,” tutur pelayan itu sambil menarik lengan Nanda dan mengajaknya duduk di lantai yang ada di sisi ranjang Ayu saat seorang pria muda dan tampan dengan pakaian mewah memasuki ruangan itu.

“Ayu, kenapa kamu jadi seperti ini?” tanya pria itu sambil duduk di tepi ranjang Ayu dan mengusap lembut pipi wanita itu.

Nanda mengernyitkan dahi melihat sikap pria itu. Ia menahan rasa kesal di dalam dadanya sambil berusaha memperhatikan wajah pria yang terlihat sangat familier itu. Ia sibuk mengumpat di dalam hati saat melihat pria dari keraton lain tiba-tiba menghampiri Ayu dan mendapatkan akses khusus untuk masuk ke dalam keraton tersebut. Ia yang memiliki status sebagai suami Ayu saja, tidak pernah diizinkan masuk ke dalam keraton ini hingga membuatnya harus menyamar. Ia harus memikirkan cara untuk membuat pria-pria bangsawan lain tidak mendekati Ayu lagi.

“Minta pihak keraton untuk menyiapkan tempat tinggal untuk saya. Saya akan menginap di sini sampai hukuman Roro Ayu selesai,” perintah pria itu sambil menatap salah satu pengawalnya.

“Maaf, Raden Mas! Tuan Puteri dilarang untuk bertemu dengan pria yang bukan mahrom dia selama masa hukuman. Tolong, jangan menyulitkan puteri kami!” pinta pelayan yang ada di sana sambil membungkuk hormat.

“Aku tahu aturan keraton. Kamu tidak perlu mengajariku!” sahut pria itu. “Setidaknya, aku bisa melihat dia baik-baik saja meski dari kejauhan.”

Pelayan itu langsung menundukkan kepala tanda mengerti. Tidak ada satu pun yang berani bersuara hingga pria itu keluar dari dalam kamar Ayu.

Nanda menghela napas lega saat pria itu sudah keluar dari dalam kamar Ayu. “Bukankah Tuan Puteri tidak boleh bertemu dengan pria? Kenapa dia diizinkan masuk ke kamar Tuan Puteri?”

“Peraturan itu tidak akan berlaku untuk keluarga bangsawan. Mereka juga masih memiliki ikatan keluarga,” jawab pelayan lain.

“Maksudnya? Mereka bersaudara?”

“Saudara, meski sangat jauh,” jawab pelayan yang ditanya.

Nanda menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Perasaannya semakin terganggu mendengar ucapan pelayan yang bersamanya. “Saudara sepupu saja masih boleh menikah, gimana dengan hubungan saudara yang lebih jauh?” gumamnya dalam hati.

 

 

((Bersambung...))

 

 

[Menikahi Lelaki Brengsek karya Vella Nine]

 

 


Bab 51 - Trik Menyelamatkan Ayu

 



Nanda melambaikan telapak tangannya di depan wajah Ayu. “Kamu nggak ngenalin aku?”

Ayu memperhatikan wajah wanita cantik yang ada di hadapannya. “Kamu ...!? Nanda?” serunya.

Nanda tersenyum manis sambil menganggukkan kepala. Ia menyodorkan keranjang susu yang ada di tangannya. “Susu untuk Tuan Puteri,” ucapnya.

Ayu tertawa kecil sambil menatap wajah Nanda. “Kamu kenapa pakai pakaian kayak gini?”

“Sst ...! Cuma cara ini yang bisa aku pakai untuk masuk ke sini,” jawab Nanda sambil mengajak Ayu duduk di kursi panjang yang ada di sisi tempat tidur Ayu.

“Kenapa kamu nekat? Kalau ketahuan, gimana?” tanya Ayu sambil menatap pilu ke arah Nanda.

“Aku akan menanggungnya,” jawab Nanda sambil tersenyum manis. “Kamu sudah makan?"

Ayu menggeleng.

“Kamu harus makan yang banyak, ya!” pinta Nanda sambil meraih satu buah apel dan mengupasnya perlahan untuk Ayu.

Ayu terus tertawa menatap wajah Nanda. “Kamu cantik banget, sih?”

Nanda tersenyum sambil memainkan matanya. “Aku cocok jadi perempuan?”

Ayu langsung tergelak menatap sikap Nanda yang begitu menggelikan baginya.

Nanda tersenyum lega saat melihat Ayu tetap ceria meski wanita itu akan segera menjalani hukuman dari keluarganya. Ia langsung menyuapkan potongan apel di tangannya ke mulut Ayu.

“Ay, kenapa kamu mau menjalanin hukuman seperti ini? Nggak masuk ke keluarga ini, masih bisa hidup bebas di luar sana,” tanya Nanda sambil menatap wajah Ayu. “Aku janji, nggak akan menyia-nyiakan kamu. Kita bisa bahagia meski tanpa keluargamu yang kejam ini.”

Ayu tersenyum menatap wajah Nanda. “Karena aku lahir sebagai puteri mahkota di keraton ini. Karena aku memang sudah seharusnya menjunjung tinggi dan taat dengan aturan leluhurku. Kalau aku terus melawan takdir, dinasti keluargaku akan semakin hancur, Nan. Aku harus bertanggung jawab dengan apa yang aku perbuat di luar sana.”

“Ini salahku, Ay. Kenapa kamu yang harus menanggungnya? Aku dengar, nggak ada puteri yang masih hidup saat menjalani hukuman ini. Kamu pilih mati daripada hidup sama aku?” tanya Nanda lagi.

“Iya,” jawab Ayu sambil menahan senyuman menatap wajah Nanda.

“Kamu!?” Nanda mendelik ke arah Ayu. “Aku nggak lagi bercanda, Ay.”

Ayu tersenyum sambil menatap wajah Nanda. “Aku nggak akan mati kalau malaikat maut belum jemput aku.”

“Tapi menahan lima puluh cambukan, apa kamu bisa bertahan hidup?” tanya Ayu.

Ayu mengangguk. “Kamu nggak perlu khawatir! Aku pasti baik-baik saja.”

Nanda menatap nanar ke arah Ayu. Ia menarik tubuh wanita itu ke dadanya. Mendekap hangat wanita itu dan tidak ingin melepaskan ia untuk selamanya. Di saat ia ingin membuat Ayu hidup bahagia bersamanya, ia malah harus melihat Ayu menderita demi mendapatkan pengakuan statusnya kembali di keluarganya sendiri.

 

 

...

Nanda terus membolak-balikkan tubuhnya saat ia sudah berbaring di atas kasur yang dikhususkan untuk pelayan yang ada di sana. Ia benar-benar tidak bisa tidur karena keesokan harinya Ayu akan menjalani hukuman cambuk dari keluarganya. Ia terus memikirkan cara untuk membebaskan wanita itu atau membuat Ayu tetap bertahan meski menerima begitu banyak cambukan.

“Ay ...! Kenapa kamu harus pilih jalan kayak gini, sih? Kenapa aku juga nggak berdaya? Kalau ketahuan sama orang keraton aku ada di sisi Ayu. Aku akan lebih menyulitkan Ayu,” tutur Nanda sambil menyentuh lembut kasur busa yang ia kenakan.

Nanda melebarkan kelopak mata sambil menepuk kasur di bawahnya. Ia bangkit dari kasur dan menarik kain kasur yang sedikit robek. Ia langsung merobek semua kain lapisan kasur itu dan mengeluarkan lembaran busa dari dalamnya.

“Semoga ... ini bisa membantu Ayu menahan sakit,” ucap Nanda sambil memasukkan busa-busa itu ke dalam tas kain yang ada di kamar pelayan dan bergegas pergi dari sana.

Kumandang suara azan, membuat Nanda tahu kalau hari sudah pagi. Ia mempercepat langkahnya menuju kediaman milik Ayu dan mengetuk pintu wanita itu.

“Siapa?” seru Ayu dari dalam kamarnya.

“Pelayan, Tuan Puteri,” jawab Nanda sambil menjepit suaranya agar menyerupai suara wanita.

“Masuklah!” perintah Ayu. Dua  orang pelayan yang sedang bersamanya, langsung membukakan pintu untuk Nanda.

“Ada apa?” tanya seorang pelayan yang ada di sana.

“Bolehkah saya membantu memandikan dan menggantikan baju Tuan Puteri?” tanya Nanda pada pelayan yang membukakan pintu untuknya.

Ayu melebarkan kelopak matanya mendengar pertanyaan Nanda.

Nanda langsung mengerdipkan sebelah matanya ke arah Ayu.

Ayu menghela napas. “Kalian berdua keluarlah! Biar dia yang melayaniku.”

“Baik, Tuan Puteri!” Dua pelayan itu bergegas keluar dari kamar Ayu dan mempersilakan Nanda untuk masuk ke sana.

Nanda menghela napas lega. Ia segera mengunci pintu dan menghampiri Ayu yang ada di sana.

“Kamu mau apa? Mau mandiin aku? Udah tahu kita lain mahrom. Masih aja mau cari masalah, hah!?” dengus Ayu sambil menendang kaki Nanda.

“Kita suami-istri, Ay. Aku punya alasan sendiri kenapa aku mau bantu gantikan bajumu. Ini,” jawab Nanda sambil mengeluarkan kain busa yang ia bawa.

“Buat apa bawa beginian?” tanya Ayu sambil mengerutkan keningnya.

“Buat ... lapisin tubuhmu supaya nggak luka saat kena pecut,” jawab Nanda sambil tersenyum lebar.

“Eh!?” Ayu mengernyitkan dahi. “Memangnya berfungsi? Cara pakainya gimana?”

“Kamu udah mandi?” tanya Nanda sambil memperhatikan tubuh Ayu yang hanya mengenakan bathrobe.

“Udah. Baru kelar mandi.”

“Kalau gitu, pakai ini dulu!” tutur Nanda sambil mengeluarkan busa-busa di tangannya.

Ayu langsung menyilangkan kedua tangan ke dadanya. “Kamu mau melecehkan aku?”

Nanda menghela napas. “Mana bisa dibilang melecehkan kalau lagi genting seperti ini.”

Ayu terdiam sejenak mendengar ucapan Nanda. Ia menurunkan lengannya dan pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh mantan suaminya itu.

“Nan, jangan terlalu tebal! Kalau ketahuan, hukumanku bisa ditambah,” tutur Ayu sambil memperhatikan busa yang dipasang Nanda di  tubuhnya.

“Nggak, Ay. Ini nggak tebal, kok. Aku akan buat semuanya terlihat sealami mungkin. Tadinya, aku berpikir menggunakan besi atau aluminium untuk menutupi punggungmu. Tapi pasti akan langsung ketahuan saat dicambuk dan berbunyi. Aku baru terpikirkan barang ini pagi ini,” ucapnya sambil merapikan busa-busa yang sudah tertanam di punggung Ayu dengan peniti dan plester yang ada di tangannya.

“Nan, apa ini nggak terlalu jahat? Kita sedang menipu keluarga sendiri,” tanya Ayu sambil melirik ke arah punggungnya.

“Keluargamu itu yang jahat. Ini sudah zaman apa? Di luar sana, ada banyak wanita yang melahirkan anak tanpa menikah dan mereka tetap punya hak untuk hidup. Kenapa aturan keluargamu sangat tidak manusiawi seperti ini?” tanya Nanda sambil meraih kemben yang sudah ia siapkan dan memasangkan ke tubuh Ayu.

“Hukuman itu untuk kontrol sosial. Terlebih, aku adalah puteri mahkota di sini. Aku bertanggung jawab bukan hanya diriku sendiri, tapi seluruh generasiku. Betapa mudahnya orang yang terlahir di keluarga biasa.”

Nanda terdiam mendengar ucapan Ayu. Ia langsung menangkup wajah Ayu dan menatap lekat mata itu. “Kalau nanti kita lahir di kehidupan selanjutnya, kita minta untuk lahir di keluarga biasa aja, ya! Kita bisa tinggal di pinggiran kota. Menjadi petani, memelihara ternak, melakukan banyak hal bersama tanpa rasa khawatir! Tidak akan ada yang mengusik hidup kita jika kita jadi orang biasa seperti mereka. Asalkan itu bersamamu ... itu udah bahagia buatku, Ay,” ucapnya lirih.

Ayu menatap Nanda dengan mata berkaca-kaca. “Apa di kehidupan selanjutnya ... kita masih akan bertemu?”

Nanda mengangguk sambil menatap mata Ayu. “Kita harus bertemu. Aku akan cari kamu sampai ketemu, Ay.”

Ayu tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke dada Nanda. “Kalau kehidupan selanjutnya itu ada ... aku ingin kamu mencintaiku sejak pandangan pertama,” ucapnya lirih.

Nanda mengangguk sambil memeluk erat tubuh Ayu. “Aku akan mencintaimu sejak aku dilahirkan,” ucapnya. Ia membenamkan bibirnya ke kening Ayu dan terus memeluk tubuh dingin wanita itu penuh kehangatan.

 

((Bersambung...))

Mohon maaf karena weekend selalu ada kegiatan di luar, waktu nulis author jadi berkurang banyak! Efek pandemi yang udah mulai longgar, kegiatan sosial makin banyak dan sering dipanggil ke sana ke mari. Maklum, aku kan cewek panggilan, hahaha.

Dimaafin, yak! Semoga kalian selalu sabar menunggu karya-karya dariku.

Terima kasih banyak sudah mendukung aku untuk terus berkarya selama ini!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 


Bab 50 - Menyamar Jadi Pelayan

 


Nanda mondar-mandir di depan pintu utama keraton kesultanan dengan perasaan tak karuan. Ia sudah berusaha menerobos penjaga tempat itu agar bisa masuk, tapi tetap tak bisa melakukannya. Ia juga tidak bisa meminta bantuan dari siapa pun karena aturan keluarga keraton tidak bisa dicampuri oleh tangan orang lain, bahkan presiden sekali pun.

Meski ia tahu kalau ia dilarang masuk, tapi ia masih berusaha menerobos tempat itu agar bisa bertemu dengan Roro Ayu. Wanita yang harus menjalani serangkaian hukuman mengerikan karena perbuatan darinya. “Harusnya aku yang dihukum. Bukan Ayu. Istana ini isinya orang gila semua!?” serunya kesal.

Nanda mengedarkan pandangannya. Ia terus menyusuri pagar tinggi yang mengelilingi istana itu dan mencoba mencari celah untuk masuk ke sana.

“Aku dengar, Puteri Mahkota keraton sudah kembali masuk ke sini dan dua hari lagi akan menjalani hukuman,” tutur salah seorang wanita yang mengenakan pakaian pelayan dan berjalan di sekitar pagar keraton tersebut. Ia terdengar menggunakan bahasa jawa yang khas.

“Hukuman mengerikan itu benar-benar ada?” tanya pelayan yang lainnya lagi.

Nanda langsung menyembunyikan wajahnya ke tembok dan memasang telinga dengan baik agar ia bisa mendengarkan pembicaraan wanita-wanita yang ada di sana.

“Beneran ada. Sudah ratusan tahun tidak pernah ada puteri mahkota yang melanggar peraturan seperti ini. Aku dengar, ini kedua kalinya. Puteri mahkota yang pertama kali menjalani hukuman, sudah meninggal lebih dahulu sebelum hukuman dia selesai,” jawab wanita pelayan yang lain lagi.

Nanda melebarkan kelopak matanya saat ia mendengar desas-desus tentang peraturan keluarga keraton yang begitu mengerikan itu. “Gimana caranya menyelamatkan Ayu? Apa harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk diterima di keluargamu lagi? Ini salahku, Ay. Bukan salahmu,” batinnya sambil menitikan air mata.

Nanda memukul-mukul dinding yang ada di hadapannya.

“Aargh ...!” Tiba-tiba seorang pelayan yang tertinggal seorang diri, terjatuh tak jauh di belakang Nanda.

“Kenapa, Mbak?” tanya Nanda sambil membantu pelayan itu bangkit dari tanah.

“Nggak papa, Mas. Cuma terkilir saja. Terima kasih!” jawab pelayan itu sambil menatap buah-buahan yang jatuh berserakan di sekitarnya.

Nanda buru-buru membantu memungut buah-buahan tersebut dan mengumpulkannya kembali ke dalam keranjang yang dibawa oleh pelayan tersebut. “Kamu kerja di keraton ini?”

“Iya, Mas.”

“Kamu tahu soal puteri mahkota yang akan menjalani hukuman di dalam sana?” tanya Nanda.

Pelayan itu mengangguk sambil mengusap air matanya yang basah.

“Kenapa nangis?” tanya Nanda sambil menatap wajah wanita itu.

“Saya nggak tega lihat Tuan Puteri dihukum seperti itu, Mas. Sejak kecil saya sudah mengenal tuan puteri dan selalu melayani dia jika dia kembali ke keraton. Dia wanita baik-baik, kenapa harus menerima hukuman seperti ini. Pria yang menodai dia sangatlah kejam,” jawab pelayan itu sambil mengusap air matanya yang berderai.

“Pria yang kamu maksud itu aku,” tutur Nanda sambil menatap wajah pelayan itu.

“Ha!?” Pelayan itu menutup mulutnya yang ternganga lebar. “Maafkan kelancangan saya, Tuan Muda!” ucapnya sambil membungkuk hormat di hadapan Nanda.

“Nggak papa. Saya memang bersalah dan pantas menerima semua hinaan ini. Aku sangat mencintai Roro Ayu. Bisakah kamu membantuku menyelamatkan tuan puterimu?” tanya Nanda penuh harap.

Pelayan itu sontak menengadahkan kepala menatap Nanda. “Maaf, Tuan Muda ...! Saya tidak berani,” jawabnya sambil menunduk hormat. Ia memundurkan lututnya dan bangkit dari tanah dengan susah payah.

“Kamu tidak perlu melakukan apa pun. Kamu hanya perlu bantu aku masuk ke dalam kediaman. Aku hanya ingin memastikan kalau Roro Ayu baik-baik saja di dalam sana,” tutur Nanda sambil menghadang pelayan itu.

Pelayan itu terdiam. Ia terus menundukkan kepala dengan perasaan tak karuan.

“Aku tahu, kamu pasti sangat menyayangi dan mempedulikan majikan kamu itu ‘kan? Kamu mau kalau dia mati di dalam sana karena nggak ada yang nolong dia?” tanya Nanda.

Pelayan itu terdiam sambil menggigit bibir bawahnya.

“Bantu aku masuk ke istana ini. Aku janji, tidak akan melibatkan kamu. Aku akan melindungimu dari siapa pun,” tutur Nanda lagi. Ia sangat berharap, pelayan kecil ini bisa membantunya.

“Ikut saya!” pinta pelayan kecil itu sambil melangkahkan kakinya menuju ke suatu tempat yang ada di halaman belakang keraton tersebut.

“Mas, tunggu di sini ya!” pinta pelayan itu sambil masuk ke dalam pintu kecil yang ada di hadapannya.

Nanda mengangguk. Ia segera duduk di salah satu pot besar yang ada di sana.

Beberapa menit kemudian, pelayan kecil itu keluar dari sana sambil membawa tottebag di tangannya. “Mas pakai ini dan silakan masuk ke kediaman tuan puteri. Kepala pelayan memerintahkan untuk mengambil susu di peternakan sapi perah dan membawanya untuk tuan puteri. Mas bisa masuk lewat pintu ini karena pintu ini khusus untuk pelayan dan ada penjaga di dalamnya. Pelayan dilarang masuk lewat pintu depan. Lakukan dengan baik!” ucap pelayan itu buru-buru dan kembali masuk ke dalam pintu khusus yang diperuntukkan bagi pelayan-pelayan di sana.

Nanda mengangguk. “Terima kasih, Mbak!”

Pelayan kecil itu mengangguk dan segera masuk kembali ke pintu kecil yang ada di sana.

Nanda tersenyum melihat tottebag yang ada di tangannya. Ia pikir, pelayan itu sedang memberinya seragam pelayan pria atau pengawal keraton tersebut. Tapi saat ia mengeluarkan kain yang ada di dalamnya, ia menghela napas lemas. “Aku disuruh pakai baju pelayan? Nggak salah?” Ia mengernyitkan dahi menatap gaun khas pelayan keraton tersebut.

Nanda menghela napas. Ia bangkit sambil melangkah perlahan menuju ke mobilnya yang terparkir di salah satu halaman gedung yang ada di seberang keraton tersebut. “Nggak papalah jadi banci demi Ayu. Daripada nggak bisa masuk sama sekali,” gumamnya.

Nanda segera mencari peternakan sapi perah yang dimaksud oleh pelayan kecil itu. Berbekal sifatnya yang ramah dan sok kenal, membuatnya begitu mudah mendapatkan informasi langganan peternakan sapi perah keraton tersebut.

Nanda segera mengenakan pakaian pelayan sebelum ia keluar dari dalam mobil. Ia memperhatikan bagian tubuhnya sebelum ia keluar dari mobil. “Kayak ada yang kurang?” gumamnya sembari memperhatikan wajahnya sendiri.

“Cewek harus pakai make-up ‘kan? Gimana caranya?” tanya Nanda pada dirinya sendiri.

Nanda membuka ponsel miliknya dan mencari salon kecantikan yang ada di tempat itu. Ia memilih salon kecantikan tersebut untuk mengubah wujudnya menjadi lebih sempurna dan mengajarinya cara menggunakan make-up yang baik. Banyaknya wanita cantik di sekelilingnya yang suka berdandan, membuatnya tidak asing dengan alat-alat rias khas wanita.

Setelah memastikan penampilannya sempurna, Nanda langsung keluar dari salon tersebut dan kembali ke peternakan sapi perah. Pakaian khas pelayan keraton, membuatnya langsung disambut dengan baik oleh pemilik usaha susu tersebut.

“Saya baru lihat ada pelayan secantik ini di keraton. Pelayan baru?” tanya pengusaha susu tersebut sambil menatap wajah Nanda.

Nanda mengangguk sambil tersenyum sinis. Ia kesulitan mengatur bicaranya agar bisa menyerupai suara wanita.

“Ini susu pesanan untuk tuan puteri. Sudah lama dia tidak terdengar berada di kediaman karena sekolah di luar negeri. Sudah pulang ke sini?”

Nanda mengangguk. Ia tersenyum manis ke arah pengusaha tersebut. “Terima kasih, Pak! Saya harus segera kembali.”

Pengusaha itu mengangguk. “Bergegaslah! Jangan sampai terlambat! Tuan Puteri sangat menyukai susu yang masih segar.”

Nanda mengangguk sambil tersenyum manis. “Baik, Pak. Permisi ...!” ucapnya sambil membungkuk sopan dan segera masuk ke dalam mobilnya.

“Tumben pelayan naik mobil? Biasanya jalan kaki? Aturan di keraton sudah mulai modern juga?” gumam pengusaha itu sambil menatap tubuh Nanda yang sudah bergerak pergi meninggalkan pelataran tokonya.

Nanda menarik napas dalam-dalam. Ia segera kembali ke halaman belakang keraton tersebut dan mengetuk pintu belakang yang terkunci rapat.

Tok ... tok ... tok ...!

Pintu besi itu terbuka dan seorang pengawal langsung menatap ke arah Nanda. “Bawa susu untuk tuan puteri?”

Nanda mengangguk.

“Cepat! Dari tadi sudah ditanya kepala pelayan!” perintah pengawal itu.

Nanda mengangguk. Ia berjalan menundukkan kepala sembari memperbaiki selendang yang menutupi bagian lehernya. Ia bergegas mengikuti langkah pengawal yang ada di hadapannya dan segera masuk ke gedung yang ditinggali oleh Ayu.

“Sumpah, aku ngerasa kayak balik ke zaman kerajaan Majapahit. Tempat kayak gini beneran masih ada?” batin Nanda sambil memperhatikan arsitektur tempat itu yang begitu menakjubkan. Bahkan, pilar-pilar bangunan tersebut dihiasi oleh emas asli.

“Bawa masuk ke dalam kamar Ndoro Puteri! Dia belum makan dari pagi dan besok harus menjalani hukuman. Bujuk dia supaya mau minum susu dan makan!” perintah kepala pelayan yang sudah menunggu pelayannya mengambilkan susu untuk Roro Ayu.

Nanda mengangguk sambil melangkah masuk ke pintu yang sudah ada di hadapannya. Ia segera menutup pintu berbahan kayu ulin megah itu dan menghampiri Ayu yang sedang duduk berdiam diri di dekat jendela.

“Ay ...!” panggil Nanda berbisik sambil menghampiri Ayu.

Ayu langsung memutar kepala begitu ia mendengar suara Nanda. Ia mengernyitkan dahi menatap wajah pelayan yang tersenyum manis ke arahnya. “Kenapa aku denger suara Nanda? Apa aku berhalusinasi? Apa aku terlalu kangen sama dia? Jangan-jangan aku udah mau mati?” batinnya.

 

 

((Bersambung...))

 

 

Terima kasih sudah jadi sahabat setia bercerita!

Dukung terus supaya author makin semangat berkarya!

Jangan lupa, bantu promosiin juga, yak! Biar makin banyak yang bisa nikmati cerita dari author.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas