Wednesday, August 17, 2022

Bab 50 - Menyamar Jadi Pelayan

 


Nanda mondar-mandir di depan pintu utama keraton kesultanan dengan perasaan tak karuan. Ia sudah berusaha menerobos penjaga tempat itu agar bisa masuk, tapi tetap tak bisa melakukannya. Ia juga tidak bisa meminta bantuan dari siapa pun karena aturan keluarga keraton tidak bisa dicampuri oleh tangan orang lain, bahkan presiden sekali pun.

Meski ia tahu kalau ia dilarang masuk, tapi ia masih berusaha menerobos tempat itu agar bisa bertemu dengan Roro Ayu. Wanita yang harus menjalani serangkaian hukuman mengerikan karena perbuatan darinya. “Harusnya aku yang dihukum. Bukan Ayu. Istana ini isinya orang gila semua!?” serunya kesal.

Nanda mengedarkan pandangannya. Ia terus menyusuri pagar tinggi yang mengelilingi istana itu dan mencoba mencari celah untuk masuk ke sana.

“Aku dengar, Puteri Mahkota keraton sudah kembali masuk ke sini dan dua hari lagi akan menjalani hukuman,” tutur salah seorang wanita yang mengenakan pakaian pelayan dan berjalan di sekitar pagar keraton tersebut. Ia terdengar menggunakan bahasa jawa yang khas.

“Hukuman mengerikan itu benar-benar ada?” tanya pelayan yang lainnya lagi.

Nanda langsung menyembunyikan wajahnya ke tembok dan memasang telinga dengan baik agar ia bisa mendengarkan pembicaraan wanita-wanita yang ada di sana.

“Beneran ada. Sudah ratusan tahun tidak pernah ada puteri mahkota yang melanggar peraturan seperti ini. Aku dengar, ini kedua kalinya. Puteri mahkota yang pertama kali menjalani hukuman, sudah meninggal lebih dahulu sebelum hukuman dia selesai,” jawab wanita pelayan yang lain lagi.

Nanda melebarkan kelopak matanya saat ia mendengar desas-desus tentang peraturan keluarga keraton yang begitu mengerikan itu. “Gimana caranya menyelamatkan Ayu? Apa harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk diterima di keluargamu lagi? Ini salahku, Ay. Bukan salahmu,” batinnya sambil menitikan air mata.

Nanda memukul-mukul dinding yang ada di hadapannya.

“Aargh ...!” Tiba-tiba seorang pelayan yang tertinggal seorang diri, terjatuh tak jauh di belakang Nanda.

“Kenapa, Mbak?” tanya Nanda sambil membantu pelayan itu bangkit dari tanah.

“Nggak papa, Mas. Cuma terkilir saja. Terima kasih!” jawab pelayan itu sambil menatap buah-buahan yang jatuh berserakan di sekitarnya.

Nanda buru-buru membantu memungut buah-buahan tersebut dan mengumpulkannya kembali ke dalam keranjang yang dibawa oleh pelayan tersebut. “Kamu kerja di keraton ini?”

“Iya, Mas.”

“Kamu tahu soal puteri mahkota yang akan menjalani hukuman di dalam sana?” tanya Nanda.

Pelayan itu mengangguk sambil mengusap air matanya yang basah.

“Kenapa nangis?” tanya Nanda sambil menatap wajah wanita itu.

“Saya nggak tega lihat Tuan Puteri dihukum seperti itu, Mas. Sejak kecil saya sudah mengenal tuan puteri dan selalu melayani dia jika dia kembali ke keraton. Dia wanita baik-baik, kenapa harus menerima hukuman seperti ini. Pria yang menodai dia sangatlah kejam,” jawab pelayan itu sambil mengusap air matanya yang berderai.

“Pria yang kamu maksud itu aku,” tutur Nanda sambil menatap wajah pelayan itu.

“Ha!?” Pelayan itu menutup mulutnya yang ternganga lebar. “Maafkan kelancangan saya, Tuan Muda!” ucapnya sambil membungkuk hormat di hadapan Nanda.

“Nggak papa. Saya memang bersalah dan pantas menerima semua hinaan ini. Aku sangat mencintai Roro Ayu. Bisakah kamu membantuku menyelamatkan tuan puterimu?” tanya Nanda penuh harap.

Pelayan itu sontak menengadahkan kepala menatap Nanda. “Maaf, Tuan Muda ...! Saya tidak berani,” jawabnya sambil menunduk hormat. Ia memundurkan lututnya dan bangkit dari tanah dengan susah payah.

“Kamu tidak perlu melakukan apa pun. Kamu hanya perlu bantu aku masuk ke dalam kediaman. Aku hanya ingin memastikan kalau Roro Ayu baik-baik saja di dalam sana,” tutur Nanda sambil menghadang pelayan itu.

Pelayan itu terdiam. Ia terus menundukkan kepala dengan perasaan tak karuan.

“Aku tahu, kamu pasti sangat menyayangi dan mempedulikan majikan kamu itu ‘kan? Kamu mau kalau dia mati di dalam sana karena nggak ada yang nolong dia?” tanya Nanda.

Pelayan itu terdiam sambil menggigit bibir bawahnya.

“Bantu aku masuk ke istana ini. Aku janji, tidak akan melibatkan kamu. Aku akan melindungimu dari siapa pun,” tutur Nanda lagi. Ia sangat berharap, pelayan kecil ini bisa membantunya.

“Ikut saya!” pinta pelayan kecil itu sambil melangkahkan kakinya menuju ke suatu tempat yang ada di halaman belakang keraton tersebut.

“Mas, tunggu di sini ya!” pinta pelayan itu sambil masuk ke dalam pintu kecil yang ada di hadapannya.

Nanda mengangguk. Ia segera duduk di salah satu pot besar yang ada di sana.

Beberapa menit kemudian, pelayan kecil itu keluar dari sana sambil membawa tottebag di tangannya. “Mas pakai ini dan silakan masuk ke kediaman tuan puteri. Kepala pelayan memerintahkan untuk mengambil susu di peternakan sapi perah dan membawanya untuk tuan puteri. Mas bisa masuk lewat pintu ini karena pintu ini khusus untuk pelayan dan ada penjaga di dalamnya. Pelayan dilarang masuk lewat pintu depan. Lakukan dengan baik!” ucap pelayan itu buru-buru dan kembali masuk ke dalam pintu khusus yang diperuntukkan bagi pelayan-pelayan di sana.

Nanda mengangguk. “Terima kasih, Mbak!”

Pelayan kecil itu mengangguk dan segera masuk kembali ke pintu kecil yang ada di sana.

Nanda tersenyum melihat tottebag yang ada di tangannya. Ia pikir, pelayan itu sedang memberinya seragam pelayan pria atau pengawal keraton tersebut. Tapi saat ia mengeluarkan kain yang ada di dalamnya, ia menghela napas lemas. “Aku disuruh pakai baju pelayan? Nggak salah?” Ia mengernyitkan dahi menatap gaun khas pelayan keraton tersebut.

Nanda menghela napas. Ia bangkit sambil melangkah perlahan menuju ke mobilnya yang terparkir di salah satu halaman gedung yang ada di seberang keraton tersebut. “Nggak papalah jadi banci demi Ayu. Daripada nggak bisa masuk sama sekali,” gumamnya.

Nanda segera mencari peternakan sapi perah yang dimaksud oleh pelayan kecil itu. Berbekal sifatnya yang ramah dan sok kenal, membuatnya begitu mudah mendapatkan informasi langganan peternakan sapi perah keraton tersebut.

Nanda segera mengenakan pakaian pelayan sebelum ia keluar dari dalam mobil. Ia memperhatikan bagian tubuhnya sebelum ia keluar dari mobil. “Kayak ada yang kurang?” gumamnya sembari memperhatikan wajahnya sendiri.

“Cewek harus pakai make-up ‘kan? Gimana caranya?” tanya Nanda pada dirinya sendiri.

Nanda membuka ponsel miliknya dan mencari salon kecantikan yang ada di tempat itu. Ia memilih salon kecantikan tersebut untuk mengubah wujudnya menjadi lebih sempurna dan mengajarinya cara menggunakan make-up yang baik. Banyaknya wanita cantik di sekelilingnya yang suka berdandan, membuatnya tidak asing dengan alat-alat rias khas wanita.

Setelah memastikan penampilannya sempurna, Nanda langsung keluar dari salon tersebut dan kembali ke peternakan sapi perah. Pakaian khas pelayan keraton, membuatnya langsung disambut dengan baik oleh pemilik usaha susu tersebut.

“Saya baru lihat ada pelayan secantik ini di keraton. Pelayan baru?” tanya pengusaha susu tersebut sambil menatap wajah Nanda.

Nanda mengangguk sambil tersenyum sinis. Ia kesulitan mengatur bicaranya agar bisa menyerupai suara wanita.

“Ini susu pesanan untuk tuan puteri. Sudah lama dia tidak terdengar berada di kediaman karena sekolah di luar negeri. Sudah pulang ke sini?”

Nanda mengangguk. Ia tersenyum manis ke arah pengusaha tersebut. “Terima kasih, Pak! Saya harus segera kembali.”

Pengusaha itu mengangguk. “Bergegaslah! Jangan sampai terlambat! Tuan Puteri sangat menyukai susu yang masih segar.”

Nanda mengangguk sambil tersenyum manis. “Baik, Pak. Permisi ...!” ucapnya sambil membungkuk sopan dan segera masuk ke dalam mobilnya.

“Tumben pelayan naik mobil? Biasanya jalan kaki? Aturan di keraton sudah mulai modern juga?” gumam pengusaha itu sambil menatap tubuh Nanda yang sudah bergerak pergi meninggalkan pelataran tokonya.

Nanda menarik napas dalam-dalam. Ia segera kembali ke halaman belakang keraton tersebut dan mengetuk pintu belakang yang terkunci rapat.

Tok ... tok ... tok ...!

Pintu besi itu terbuka dan seorang pengawal langsung menatap ke arah Nanda. “Bawa susu untuk tuan puteri?”

Nanda mengangguk.

“Cepat! Dari tadi sudah ditanya kepala pelayan!” perintah pengawal itu.

Nanda mengangguk. Ia berjalan menundukkan kepala sembari memperbaiki selendang yang menutupi bagian lehernya. Ia bergegas mengikuti langkah pengawal yang ada di hadapannya dan segera masuk ke gedung yang ditinggali oleh Ayu.

“Sumpah, aku ngerasa kayak balik ke zaman kerajaan Majapahit. Tempat kayak gini beneran masih ada?” batin Nanda sambil memperhatikan arsitektur tempat itu yang begitu menakjubkan. Bahkan, pilar-pilar bangunan tersebut dihiasi oleh emas asli.

“Bawa masuk ke dalam kamar Ndoro Puteri! Dia belum makan dari pagi dan besok harus menjalani hukuman. Bujuk dia supaya mau minum susu dan makan!” perintah kepala pelayan yang sudah menunggu pelayannya mengambilkan susu untuk Roro Ayu.

Nanda mengangguk sambil melangkah masuk ke pintu yang sudah ada di hadapannya. Ia segera menutup pintu berbahan kayu ulin megah itu dan menghampiri Ayu yang sedang duduk berdiam diri di dekat jendela.

“Ay ...!” panggil Nanda berbisik sambil menghampiri Ayu.

Ayu langsung memutar kepala begitu ia mendengar suara Nanda. Ia mengernyitkan dahi menatap wajah pelayan yang tersenyum manis ke arahnya. “Kenapa aku denger suara Nanda? Apa aku berhalusinasi? Apa aku terlalu kangen sama dia? Jangan-jangan aku udah mau mati?” batinnya.

 

 

((Bersambung...))

 

 

Terima kasih sudah jadi sahabat setia bercerita!

Dukung terus supaya author makin semangat berkarya!

Jangan lupa, bantu promosiin juga, yak! Biar makin banyak yang bisa nikmati cerita dari author.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 


Lokasi: Indonesia

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas