Monday, March 25, 2019

Bermain Sambil Belajar Memanen Padi

 Hari ini aku langkahkan kakiku menuju area persawahan milik nenekku. Awalnya, aku dilarang pergi ke sawah dengan berbagai alasan. Nanti kotor, di sawah panas, banyak binatang, nanti gatal-gatal dan lain-lain. Tapi aku tetap keukeuh untuk berangkat ke sawah. Aku ingin membantu nenek, walau aku tahu kalau niatku membantu lebih banyak merepotkan orang tua.

Setiap hari, Mama, Bapak, Nenek dan Mbah Buyut bekerja keras untuk mencarikan uang jajan. Apa aku tidak boleh membantu? Setidaknya, aku bisa tahu bagaimana caranya mendapatkan uang. Kenapa nenek dan kakek rela kepanasan dan kehujanan setiap hari hanga untuk menanam padi, kemudian memotongnya.



Aku merasa geli saat jerami kering menyentuh kulitku, bahkan meninggalkan rasa gatal. Tapi, aku tetap semangat membantu walau cuaca sangat panas. Aku tidak takut menjadi hitam asalkan bisa membantu orang tua.
Aku merasa senang sekali bisa bermain di sawah sambil membantu orang tua. Aku juga bisa tahu bagaimana proses memanen padi di sawah. Banyak ilmu yang bisa aku dapatkan. Aku tahu bagaimana orang tua bekerja keras demi bisa memberikan yang terbaik untukku. Orang tua selalu mengajarkan kami kesederhanaan. Menjadi seorang petani memanglah tidak mulia di mata manusia, tapi petani selalu mulia di mata Allah SWT. Kenapa bisa dibilang mulia? Sebab petani tidak tahu bagaimana caranya korupsi hak orang lain. Yang mereka tahu hanyalah bagaimana caranya hasil panen satu musim bisa cukup untuk makan sampai musim panen berikutnya.

Sunday, March 24, 2019

Diary | Sederhana Itu Indah

Asih Nurdiati
Terik mentari begitu menyengat, dengan suhu udara sekitar 31°C.
Jam sepuluh pagi dapur orang tuaku riuh dengan kehadiran anak-anaknya yang kebetulan sedang berkumpul. Foto yang di atas adalah adikku yang paling bungsu, dia bekerja di Balikpapan dan jarang sekali pulang ke rumah. Kebetulan, semalam dia ikut pulang bersamaku dan adikku yang cowok saat kami berbelanja ke kota.
Ada hal yang menimbulkan kehebohan di rumah yakni adik keponakanku yang bernama Tony. Semalam, dia bilang mau bangun pagi-pagi supaya bisa membantu mbah ngungsung padi. Ternyata, paginya buat dia itu jam sepuluh pagi. Alhasil, aku meledeknya habis-habisan.
"Ton, sudah selesai kah ngungsung padinya?" tanyaku saat dia baru keluar dari kamar.
"Uwis."
"Neng impen?" Aku tertawa, diiringi riuh tawa yang lainnya.
Kebetulan, adik laki-lakiku juga datang, katanya mau cari kelapa buat bikin kolak pisang. Dia ragu-ragu untul memanjat pohon kelapa. Sibuk mencari di bawah pohon, siapa tahu masih ada kelapa tua yang jatuh. Dia dapat beberapa tapi  buahnya tak lagi bagus. Akhirnya, dia memanjat pohon kelapa yang memang sudah tinggi menjulang dan berhasil memetik beberapa buah.

Tak berapa lama, aku pulang ke rumah karena kebetulan aku masih ada pekerjaan rumah yang belum aku selesaikan.
Tiba-tiba saja rumah Mamak sudah sepi. Mereka semua sudah pergi ke sawah termasuk si kecil juga. Katanya, mau bantuin mbahnya.

Setiap hari libur kerja, adikku memang sering ikut ke sawah untuk membantu orang tuanya. Sama seperti masa remajaku dulu, aku juga selalu menyempatkan membantu nenek di sawah setiap libur kerja.

Aku memang lebih banyak membantu nenek dan kakek, sampai sekarang pun nenek dan kakekku masih sehat dan masih menjadi bagian dari tanggung jawabku. Yah, bisa dibilang aku dan adik-adikku berbagi tugas untuk merawat orang tua. Si bungsu membantu orang tua sedangkan aku masih punya tugas menjaga dan merawat nenek kakekku.

Sudah bekerj di sebuah perusahaa  dengan gaji yang lumayan, tidak menjadikan adikku pribadi yang angkuh dan sombong. Ia tahu dari mana dia berasal. Ia tahu dari mana dia dilahirkan. Sehingga, ia selalu membantu kedua orang tuanya setiap kali ada kesempatan pulang ke rumah.

Bukan cuma karena membantu orang tua. Kurasa dia rindu suasana sawah. Dia rindu masa-masa kecilnya di sana. Yang aku ingat, setiap hari dia tidak pernah absen mancing di sungai-sungai yang ada di areal persawahan. Sampai rambutnya tidak bisa berwarna hitam karena terus terpanggang sinar matahari.

Tapi, sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan sederhana. Yah, dia memang nggak pernah macem-macem. Kerjanya aja dari pagi sampai malam. Jarang banget liburnya. Dia jarang punya waktu buat keluarga atau liburan. Sudah sibuk dengan kerjaan dan kegiatan kursusnya.

Hari ini, dia membantu orang tua mengumpulkan padi dari petakan sawah untuk dibawa ke pondok.
Aku cukup senang dengan pribadinya saat ini. Ia tahu bagaimana dahulu kedua orang tuanya berjuang untuk bisa menyekolahkan dia. Dia tahu bagaimana mbaknya  berjuang memenuhi kebutuhan sekolahnya. Kuharap dia tidak akan lupa kalau nanti dia sudah sukses. Hehehe...
Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Begitulah kesederhanaan yang seharusnya ada di dalam diri kita. Belajar menjadi pribadi yang sederhana.



Puisi | Cahaya Cinta


geralt

Satu.
Setelahnya, harus aku hitung mundur atau maju?
Beriku satu alasan saja.
Agar aku tahu, ke mana langkah kan tertuju

Di tengah ruang pekatnya malamku
Satu per satu kuhitung rindu.
Supaya kamu tahu,
Ada milyaran rindu dalam sedetik waktu

Kamulah ...
Kamulah tersangkanya.
Kamulah satu-satunya orang yang kudakwa.
Sebab telah mencuri hatiku
Dan tak pernah membawanya kembali

Dan jadilah kamu pemilik hatiku
Dan jadilah kamu cahaya dalam gelapku
Dan jadilah kamu tawa bahagia dalam setiap langkahku.

Jangan pernah coba tuk pergi
Sebab aku tak mampu melangkah dalam gelap.
Kaulah satu-satunya cahaya cinta di hati ini.
Maka, tetaplah bersinar walau sinarmu tak hanya untukku...


Rin Muna
20 Marer 2019

Friday, March 22, 2019

AKU

Pixel2013

Aku ...
Laksana siluet pohon di antara bias cahya senja yang indah
Aku ...
Bergumul pada titik hitam yang menghiburku

Aku berdiri di sini
Dalam kelam
Dalam tangis
Dalam lelah
Dalam sendu
Dalam kegelapan

Di antara ...
Bias cahaya mentari yang mengintip dari peraduan
Awan-awan yang dilukis begitu indah
Air tenang yang menyadarkanku bahwa aku tak sendiri

Walau aku kelam, aku hitam
Di mata bias cahaya indah yang hiasi senja
Aku tetap bisa lihat keindahan
Yang terbentang indah di sekitarku



Rin Muna
East Borneo, 22 Maret 2019

Thursday, March 21, 2019

Proses Belajar Menggambar [from Penciller to Painter]

Dokumen Pribadi
Aku adalah wanita yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah ketimbang di luar rumah. Bisa dibilang, aku termasuk orang yang introvert tapi juga nyaman berada di keramaian. Hanya saja, rasa percaya diriku memang sedikit bermasalah.

Sejak masih sekolah, aku suka sekali menghabiskan waktuku di kamar bersama buku atau coret-coret buku. Dan kebiasaan itu masih saja melekat dalam diriku hingga saat ini.

Awalnya, aku memang belajar melukis menggunakan pensil saja. Alasannya, karena masih belajar lah. Kalau udah pro mah medianya udah lain. Makanya, aku lebih banyak membuay lukisan pensil sejak dulu. Selain mudah, juga bahannya murah. Hehehe ...

Akhir-akhir ini aku mulai belajar painting karena sebuah tuntutan. Mungkin, kalau tidak ada pemicunya, aku tidak akan pernah belajar melukis dengan warna. Yang pertama, modalnya lumayan mahal. Aku harus beli kanvas, beli cat, kuas dan aksesoris lainnya. Buatku yang cuma ibu rumah tangga, harga itu termasuk mahal. Mending uangnya dipake buat jajan anaknya kan lumayan.

Untungnya selalu ada rejeki lebih yang membuat aku akhirnya bisa beli peralatan melukis. Walau belum selengkap Art Studio Painting. Ah, itu mah buat level master. Buat aku mah levelnya ngelukis di teras rumah doang.

Masa peralihan dari penciller ke painter jelas masa-masa yang sulit buatku. Biasanya aku hanya belajar membuat gradasi warna hitam putih, sekarang aku harus belajar mix colour. Karena, warna cat lukis adalah warna-warna standar yang harus kita campur sendiri untuk menghasilkan warna sesuai dengan keinginan kita. Ini masih sulit bagiku.

Bisa dilihat di video ini, bagaimana proses aku belajar selama bertahun-tahun dan masih belum bisa bagus juga sampai sekarang.


Belajar yang paling mudah adalah menggambar pemandangan. Aku coba-coba cari referensi di internet untuk mencari obyek yang bagus. Akhirnya aku dapet contoh gambar seperti yang lukisan aku di atas. Yah, emang belum bisa mirip 100% sih. Beda banget kalau Abi Cadio yang gambar, dia mah super-super realis.

Karena aku menghabiskan waktuku 24 jam di dalam rumah, aku lebih banyak melukis dan membaca buku. Pokoknya, istri kayak aku tuh nggak ribet. Nggak demen belanja macem-macrm atau keluyuran ke mana-mana. Asal sudah dibelikan buku sama alat lukis. Ndilek aja di rumah, nggak bakal ke mana-mana.

Kalau banyak ibu-ibu muda sepertiku demen ngeluyur ke rumah temannya buat ngerumpi atau shopping. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Yah, bukan berarti aku nggak pernah jalan sama sekali. Aku juga kadang keluar rumah kalau ada undangan, keperluan atau diajak adikku jalan-jalan. Kalau suami aku sih, nggak pernah ngajakin jalan-jalan kalau aku nggak merengek-rengek minta keluar rumah. Hiks ... hiks... sedih ya?

Buat ibu rumah tangga sepertiku, apalagi yang mau dilakuin selain gambar sama nulis. Dan keduanya memang hobiku, tapi sempat vakum berkarya karena sibuk kerja. Rasanya, jari ini gatal kalau nggak menulis apa pun. Mungkin ini salah satu caraku menghindari kebiasaan gosip yang udah jadi naluri emak-emak.

Oke, cukup sampai sini aja tulisan dari saya. Kalau kepanjangan entar malah curhat macem-macem pula. Mending fokus sama kegiatan-kegiatan aku aja. Semoga bisa menginspirasi ibu-ibu muda untuk mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang bermanfaat.

Buat kalian yang suka menghina karya orang lain, sesekali lihatlah bagaimana cara mereka berproses. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bukan hanya dituntut untuk telaten dan kreatif, tapi modal peralatannya juga lumayan. Hargailah walau belum bagus supaya semangat untuk belajar lagi. Mengkritik boleh, menghina jangan ya! Apalagi buat adik-adik yang masih belajar, semangat terus ya!

Salam,

Rin Muna

Wednesday, March 20, 2019

Puisi | Cinta Cita Kita

Silviarita


Telah kurajut detik demi detik
Hanya untuk tahu siapa aku bagimu
Dalam setiap simpul waktu
Kamu yang kujaga menepi di sana

Haruskah aku hapus yang aku yakini?
Haruskah aku buang yang aku punyai?

Tak mudah bagiku mengulang waktu yang hilang
Tak mudah bagiku mengulang kisah yang usang

Kita selalu bersama tapi tak pernah bicara
Aku lukis semua dinding dengan kisah kita
Agar kamu bisa sesekali menyapa
Mengingat bahwa kita pernah berjalan bersama

Namun semua tetap terasa bisu dan semu
Tak pernah kudengar sapamu
Walau ribuan detik kita habiskan duduk bersama
Bagaimana aku tahu masih ada cinta?
Sementara sapamu tak lagi ramah untuk cita kita.
Bunuh saja semua cinta dan cita kita!
Dan hancurkan, melayang jadi debu ...



Rin Muna
East Borneo, 20 Maret 2019 

Cukup Jadi "AKU" untuk Mengabdi Pada Masyarakat | Tidak Harus Nyaleg

Dokpri
Hai temen-temen, kemarin aku ada jadwal bareng pihak Pemdes (BPD) dan Bpk. Rohman (Nurul Jadid) buat cari bahan-bahan dan alat-alat kaligrafi yang akan kita pakai di lomba MTQ tingkat kecamatan akhir bulan Maret 2019.

Kita berangkat dari Samboja jam 11 pagi. Aku rada salah paham sih, kata Pak Kuat berangkatnya nunggu Pak Rohman pulang sekolah, jam 11. Jadi, aku pikir Pak Rohman pulang sekolahnya jam 11. Akunya malah santai-santai. Jam sebelas ketika mobil Pak Rohman udah di depan rumah, akunya masih mandi. Hahaha ...

Alhasil, harus nungguin aku kelar semuanya baru berangkat. Tapi, nggak terlalu lama juga sih karena aku mandinya nggak lama-lama amat dan si kecil juga udah siap duluan dari jam sepuluh pagi. Mamanya aja yang lelet.

Kami sampai di Balikpapan saat azan Dzuhur. Kebetulan, Bu Misna (Istri Pak Rohman) juga sedang ada keperluan di daerah Ruko Bandar Klandasan. Aku dan yang lainnya menyempatkan diri untuk sholat Dzuhur di Masjid Baitul Aman Polres Balikpapan.

Setelah sholat, kami berkeliling untuk mencari alat-alat kaligrafi di toko grosir yang menyediakan perlengkapan menggambar dan melukis. Kami memang tidak masuk ke Gramedia. Karena kami sudah pernah ke sana dan peralatan yang kami cari tidak ada.

Usai mendapat semua peralatan yang kami cari sudah lengkap. Kami langsung cari makan, Bakso Popeye yang terletak di Balikpapan Baru jadi tempat tujuan kami.

Di sini ada banyak aneka menu bakso. Dari yang paling kecil sampai yang paling besar.  Bisa dilihat gambar di atas untuk melihat daftar menu baksonya.

Aku senang sekali karena bakso di sini memang enak. Bakso Jumbo isinya daging cincang. Dagingnya nggak amis dan nggak berlemak. Rasa kuahnya juga enak banget. Ini bisa jadi salah satu bakso favorite karena rasanya emang gurih, pentol baksonya juga lembut banget. Pokoknya, ini enak banget deh. Buat yang penasaran, silakan langsung datang ke Ruko Balikpapan Baru yang letaknya tidak jauh dari Mall Balikpapan Baru. Bangunan-bangunan di wilayah sini memang terlihat sangat bagus, bersih dan rapi.

Udeh ya, aku nggak bisa banyak-banyak ceritain soal Bakso Popeye karena aku nggak di-endorse, wkwkwk. Takutnya nanti kalian ngiler kalau aku ceritain detil banget.

Aku mau kasih lihat peralatan kaligrafi yang bakal dipakai anak-anak nantinya, termasuk aku juga. Desa Beringin Agung akan mengirimkan 8 peserta untuk lomba kaligrafi untuk 4 cabang, yakni :
1. Cabang Penulisan Naskah Al-Qur'an (Putera & Puteri)
2. Cabang Mushaf (Putera & Puteri)
3. Cabang Dekorasi (Putera & Puteri)
4. Cabang Kontemporer (Putera & Puteri. 

Itulah alasannya kenapa kami harus membeli peralatan untuk mengikuti lomba tersebut. Aku sendiri masih nggak paham kenapa semua peralatan harus kami sediakan sendiri. Sementara, hasil lukisannya kemungkinan menjadi hak panitia. Apa ini salah satu cara panitia ingin memiliki gambar karya peserta tanpa membayar sepeser pun. Yah, setidaknya ada uang untuk mengganti biaya cat yang kami gunakan. Makanya, kalau boleh diminta untuk dibawa pulang, itu adalah pilihan terbaik karena biaya yang sudah dikeluarkan tidak sedikit. Terlebih dari Desa Beringin Agung, pertama kalinya mengikuti lomba kaligrafi ini. Sehingga, kami juga belum benar-benar paham mekanisme lomba kaligrafi ini.





Ini dia peralatan lomba kaligrafi yang kami siapkan untuk 8 peserta yang akan mengikuti lomba MTQ ke-42 cabang kaligrafi. Kalau dilihat memang sedikit banget, tapi harganya sudah hampir 1,5 juta dan masih ada peralatan yang tidak kami temukan. Walau semua dibiayai oleh desa, aku juga mikir waktu belanjanya. Mikir supaya bisa sehemat mungkin tapi hasilnya bisa maksimal mengingat media yang digunakan dalam lomba ukurannya lumayan besar. Sekitar 60x80 cm untuk kontemporer.

Yah, harapannya semoga Desa Beringin Agung bisa melahirkan seniman-seniman kaligrafi dan menginspirasi banyak anak muda untuk mengisi waktu luangnya dengan berkegiatan positif. Semoga saja kami bisa mendatangkan pelatih kaligrafi profesional agar ke depannya bisa menjadi lebih baik lagi, tidak berhenti hanya di sini saja.


Salam kreatif...!

Terima kasih untuk banyak pihak yang sudah membantu dan mendukung kegiatan-kegiatan sosial saya. Semoga bisa terus memberikan manfaat untuk banyak orang. Aku tidak begitu banyak show up tentang diriku dan kegiatan-kegiatanku. Nanti dikiranya mau pamer, hehehe .... Padahal, emang iya sih. Tapi, tujuan show up untuk menginspirasi orang lain agar terus berkarya dan mengabdi pada masyarakat tanpa mengharap diberi upah. Emangnya siapa yang mau ngasih upah? Niatnya ingin membantu orang lain, bukan ingin dibantu, hehehe.
Mengabdi pada masyarakat tidak harus menjadi seorang caleg, cukup jadi "AKU" saja dan mendapatkan dukungan dari masyarakat sekitar.



Kunjungan dari PHSS (Pertamina Hulu Sanga-Sanga) dan Yayasan Taman Kita


Beringin Agung, 16 Maret 2019

Sabtu pagi, taman baca mendapat kesempatan untuk bertemu dengan kawan-kawan literasi di Balikpapan yakni Yayasan Taman Kita dan pihak PHSS (Pertamina Hulu Sanga-Sanga).

Jam sepuluh pagi, mereka sudah datang ke Taman Baca dan kami berdiskusi dengan pihak PHSS ( Bpk. Hidayah & Bpk. Efendi Zarkasi) dan Yayasan Taman Kita ( Mbak Inne, Mbak Yusna, Mas Adine, Mas Rendi, Mas Danar, Mas Iswahyudi dan Mas Edi).

Yayasan Taman Kita adalah yayasan yang bergerak dalam kegiatan Sosial and Education. Kalau Pertamina Hulu Sanga-Sanga, saya rasa semua masyarakat Indonesia sudah mengenal nama Pertamina.
Kami berdiskusi untuk menyusun program taman baca ke depannya.

Dari hasil diskusi yang terjadi selama beberapa jam. Kami mendapat gambaran tentang program-program taman baca ke depannya.

Saya senang sekali karena ada teman-teman dari Yayasan Taman Kita yang sudah bersedia membantu, meluangkan waktu dan pikirannya untuk membantu program kegiatan di taman baca. Mereka memang orang-orang yang ahli di bidang pengembangan literasi, sedangkan aku masih termasuk baru berkecimpung di dunia literasi dan masih perlu banyak belajar.

Bukan hanya dari pihak PHSS (Pertamina Hulu Sanga-Sanga) dan Yayasan Taman Kita yang hadir, tapi juga ada pihak Pemerintah Desa yakni BPD yang juga ikut bergabung dalam diskusi ini.

Harapan ke depannya taman baca bisa berkembang menjadi lebih baik lagi. Berkat dukungan dari masyarakat, pihak Pemerintah Desa, Yayasan Taman Kita dan Pertamina Hulu Sanga-Sanga.

Apa saja program-program yang akan kita jalankan di taman baca?
Ikuti terus ya kegiatan-kegiatan taman baca ke depannya.

Sampai hari ini, kegiatan aktif yang sudah berjalan yakni perkumpulan ibu-ibu kreatif dengan nama "Mamuja" dan latihan kaligrafi. Bisa dilihat profilnya di halaman Taman Literasi.

Terima kasih untuk pihak-pihak yang sudah membantu berdiri dan berjalannya aktivitas di taman baca.
Semoga ke depannya taman baca bisa memberikan manfaat bagi warga sekitar khususnya dan seluruh generasi muda Indonesia pada umumnya.



Terima kasih,


Rin Muna (Founder Taman Baca Bunga Kertas & Mamuja)

Tuesday, March 19, 2019

Short Story | I'm Alone for Love

[Beejees]
Clue : Jomblo dari Ummi Karla Wulaniyati

Jam istirahat aku jarang sekali ke kantin. Kebetulan ini hari senin, aku memang sedang puasa. Untungnya Maya dan teman-temanku yang lain mengerti kalau aku rutin berpuasa setiap hari senin dan kamis. Aku selalu menghabiskan waktu dengan menggambar di dalam kelas saat jam istirahat.

"Rin, ada salam dari Andi." Maya yang baru saja kembali dari kantin mengagetkanku. Karena aku sedang fokus menggoreskan pensil ke atas kertas, aku sama sekali tidak menyadari langkah kaki Maya saat masuk ke dalam kelas.

"Mmm," sahutku, masih tetap fokus dengan gambar yang sedang aku buat.

"Rin, kenapa sih kamu selalu nolak salam dari Andi? Dia kan ganteng, pinter, baik hati pula. Susah lho dapet cowok kayak gitu." Maya duduk di hadapanku.

Aku melirik ke arahnya. "Kamu dikasih apa sama dia? Muji-muji sampe segitunya," celetukku.

"Kamu nih buruk sangka mulu loh. Itu kenyataan tau! Kalo dia nggak naksir kamu, udah aku gebet deh biar jadi pacarku."

"Kelanjiannya pang," celetukku.

"Rin, kamu dicari sama Andi!" Linda langsung berteriak saat masih berada di pintu kelas.

"Sibuk!" sahutku.

"Ndi, Rinanya lagi sibuk katanya!" Linda berteriak sembari mengeluarkan kepalanya dari pintu kelas.

"Ada orangnya?" Aku langsung berdiri menghampiri Linda yang masih berpegangan dengan pintu kelas.

"Ada, tuh!" Linda menunjuk dengan dagunya. Aku melihat Andi sedang bersandar di dinding luar kelas sambil tersenyum ke arahku.

Aku segera menghampirinya. "Ada apa, Ndi?"

"Pulang sekolah nanti ada acara, nggak?" tanya Andi.

"Eh!? Ada." Aku mengangguk-anggukan kepala. "Aku mau ke rumah Maya bareng Linda, mau ngerjain tugas."

"Enggak, Ndi! Bohong dia," sahut Linda.

Aku langsung melemparnya dengan pensil yang sedari tadi masih aku pegang. "Nggak usah nguping!"

"Aku tau kalo kamu hari ini nggak ada jadwal les, kan? Tapi kamu masih mau ngeles mulu. Pulang sekolah, aku tunggu di parkiran ya!" pinta Andi tak lepas memandangku.

"Insya Allah ya! Aku nggak janji."

Andi tersenyum ke arahku.

"Ciyee ... ciyee.... jadian ciyee ...." Beberapa anak mulai menggodaku dengan kata "ciye" yang membuatku risih.

"Udah, ya! Aku mau masuk kelas. Itu aja, kan?"

Andi mengangguk dan mempersilakan aku masuk dengan isyarat tangannya. "Idih, aku bener-bener risih dengan sikap Andi yang sok-sok jadi cowok romantis."

Sepulang sekolah, aku bermalas-malasan melangkahkan kaki keluar dari kelas atau pun sekolah karena harus menemui Andi di parkiran. Jelas aku tidak bisa menghindar. Aku harus melewati parkiran terlebih dahulu untuk bisa keluar dari sekolah ini. Ini membuatku harus menemui Andi yang sudah menungguku di sisi mobilnya.

"Ada apa, Ndi?" Aku langsung bertanya saat sampai di hadapan Andi.

"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Tapi, nggak di sini."

"Di mana?"

"Masuk ke mobil dulu, yuk!"

Aku menggelengkan kepala.

"Kenapa?"

"Ngomong di sini aja!"

"Di sini nggak enak ngomongnya."

"Ya udah, nggak usah ngomong aja sekalian!" Aku membalikkan tubuhku dan bergegas pergi. Namun tangan Andi berhasil menahanku. Hal ini mengundang perhatian banyak mata yang sedang sibuk keluar dari parkiran sekolah.

Aku menghela napas dan kembali berhadapan dengan Andi.

"Please, Rin. Sekali ini aja!" pinta Andi.

Belum sempat menjawab, tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku langsung merogoh saku tasku dan mendapati nomor telepon dari pengurus Panti Asuhan.

"Assalamu'alaikum. Ada apa, Bu?"

"Wa'alaikumussalam. Kamu cepet ke sini ya! Sella sakit, abis diserempet mobil pas pulang sekolah."

"Apa!? Iya, iya. Aku langsung ke sana." Aku menutup telepon tanpa mengucap salam terlebih dahulu. Aku sudah panik dengan kabar kalau Sella sakit. Sella adalah anak yang masih kecil. Aku  nggak bisa ngebayangin gimana keadaan Sella sekarang.

"Kenapa?" Andi tiba-tiba menyentuh pundakku. Menyadarkan kalau aku sedang tidak sendirian. Dia pasti tahu kalau aku sedang dalam keadaan panik.

"Aku harus cepet-cepet pulang. Sorry!" Aku setengah berlari tanpa menghiraukan Andi lagi. Secepatnya aku keluar dari gerbang sekolah. Berjalan kaki sekitar 300 meter keluar dari gang untuk bisa menunggu angkot yang lewat.

Aku sudah berdiri beberapa menit di tepi jalan, tapi angkot tak kunjung muncul. Murid-murid yang biasa menunggu angkot bersamaku juga sudah tidak ada lagi. Sepertinya aku sedikit terlambat keluar dari sekolah sehingga supir angkot sudah tidak ngetem lagi di jalan masuk ke SMA-ku.

"Ayo, masuk! Buru-buru kan?" Tiba-tiba mobil Andi sudah berhenti di depanku. Aku sedikit ragu untuk menerima tawarannya. Apa iya aku harus berduaan di dalam mobil bersamanya. Aku takut kalau ... ah, aku nggak boleh suudzon sama orang. Lagipula, Andi terkenal sebagai cowok baik-baik di sekolah, entah kalau di luar sekolah.

Aku langsung masuk ke dalam mobil Andi. Ia mulai menjalankan mobilnya perlahan-lahan.

"Rumahmu di Regency, kan?" tanya Andi sebelum memutar arah mobilnya.

"Iya. Tapi, kita nggak usah muter. Aku mau ke kilo."

"Mau ngapain?" Andi menaikkan kedua alisnya karena heran.

"Aku mau ke Panti."

"Panti mana?"

"Ibu Pertiwi. Yang di kilo lapan."

"Oh, yang di belakang Poltek itu ya?" Andi mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Iya."

Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing selama beberapa saat.

"Rin!" panggil Andi dengan nada lirih.

"Iya."

"Kenapa kamu selalu menolak ajakan aku buat ketemu?"

"Kapan aku nolak?"

"Yah, nggak nolak sih. Tapi, sepertinya kamu memang sengaja menghindar setiap kali aku ngajak jalan."

"Aku banyak kegiatan, Ndi."

"Kamu belum punya pacar, kan?"

Aku menggelengkan kepala. "Nggak sempat mikirin pacar."

"Emangnya nggak pengen punya cowok kayak temen-temen kamu yang lain? Bukannya semua cewek seneng diperhatiin?"

"Iya, mungkin. Tapi buat aku, pacaran cuma bikin hidupku makin ribet."

"Kenapa?"

"Karena ada banyak hal yang bisa aku lakuin buat ngisi waktu luang aku daripada cuma ngabisin waktu buat dating sama pacar."

"Apa itu salah satu alasan kamu ngejauhin aku terus?"

"Iya," jawabku tanpa menoleh ke arahnya. Aku bisa melihat dari ekor mataku kalau wajah Andi terkejut dengan jawabanku yang to the point banget.

"Jadi, kamu belum pernah jatuh cinta sama seseorang?" tanya Andi lagi.

"Belum tau soal definisi jatuh cinta itu sendiri apa. Aku mencintai banyak orang di sekitarku. Menyayangi mereka semua. Dan aku sendiri nggak tahu kenapa kata cinta harus diawali dengan kata jatuh untuk mengungkapkan sebuah perasaan yang istimewa. Kalau kata orang jatuh cinta itu indah, kenapa harus pakai kata jatuh. Bukannya jatuh itu sakit?"

"Jatuhnya emang sakit. Apalagi cintanya nggak terbalaskan. Sangat sakit, Rin. Tapi cinta membuat kita rela merasakan sakit berkali-kali demi orang yang kita cintai." Andi menyandarkan tubuhnya setelah mesin mobilnya mati tepat di halaman Panti Asuhan Ibu Pertiwi.

Aku menatap Andi untuk pertama kalinya. Ia kini tak menoleh ke arahku sedikitpun. Pandangannya lurus ke depan dan aku bisa melihat guratan lelah dan rasa kecewa di dalam dirinya. Sebegitu jahatnya kah aku selama ini membiarkan Andi terus-menerus mengejarku tanpa tahu bagaimana akhirnya. Sejak kelas satu sampai kelas tiga SMA, dia tidak pernah lelah dan menyerah untuk bisa menyapaku. Walau di antara sapaan itu, ada jarak yang terbentang jauh. Kegigihannya memang patut untuk dihargai. Tapi, menghargainya bukan dengan cara menerimanya menjadi seorang pacar. Ini terlalu rumit bagiku.

Andi menoleh ke arahku dan berhasil membuat aku salah tingkah. Entah ... ketika ia menatapku tanpa bicara, justru membuat dadaku sesak dan berdebar-debar. Jauh berbeda dengan Andi yang konyol dan sering malu-maluin saat di sekolah. Bahkan ia tidak malu menyatakan pada semua murid kalau dia menyukaiku. Tingkahnya itu justru membuatku malu dan risih, itu juga salah satu alasan kenapa aku selalu menghindar untuk bertemu dengannya.

"Belum mau turun? Mau sampai kapan diem-dieman di mobil?"

Aku tersenyum, melepaskan safety belt yang masih melingkar di tubuhku dan bergegas keluar dari mobil. Andi mengikuti langkahku dari belakang.

Semua anak-anak panti menyambutku dengan riang gembira. Mereka selalu ceria saat aku datang dan itu adalah kebahagiaan tak terkira bagiku.

"Sella gimana?" tanyaku pada mereka.

"Lagi tidur, Kak." Aku melangkahkan kaki masuk ke kamar Sella ditemani dengan anak-anak yang lainnya. Aku bersyukur karena luka Sella tidak begitu parah. Untungnya si pelaku mau bertanggung jawab dan membawa Sella berobat ke klinik.

"Ya, sudah. Biarkan dia istirahat. Kita keluar yuk!" ajakku pada anak-anak panti yang ikut masuk ke dalam kamar Sella. Aku mengusap kepala mungil Sella dan mencium keningnya sebelum aku keluar kamar.

Aku melihat Andi sedang berkumpul dengan anak-anak lainnya di aula yang berada di depan musholla. Tempat anak-anak berkumpul dan berkegiatan di sana. Sepertinya dia sedang asyik mendongeng. Karena, laki-laki tidak boleh masuk ke kamar wanita. Andi memilih menunggu di aula bersama dengan anak-anak yang lainnya. Aku juga ikut bergabung mendengarkan dongeng yang sedang diceritakan oleh Andi.

Aku tidak menyangka kalau Andi punya kemampuan story telling yang baik. Dia juga terlihat nyaman berbaur dengan anak-anak panti. Bahkan ia tak sungkan menggendong salah satu anak yang memang tubuhnya paling kecil. Keceriaan dan kebahagiaan itu hadir di antara kita. Aku bisa melihatnya. Sesekali Andi memandang ke arahku sembari bermain dengan anak-anak.

Hampir dua jam kami menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak panti. Aku berpamitan usai memastikan kalau Sella akan baik-baik saja. Aku memang menjadi relawan di panti ini. Apa pun tentang keadaan anak-anak, aku selalu tahu. Kebetulan, ayahku juga menjadi salah satu donatur di panti asuhan ini. Aku mulai tertarik dengan anak-anak panti saat aku merayakan ulang tahunku yang ke-14. Ketika itu, ayah mengajakku merayakannya di Panti Asuhan. Sejak itulah aku menjadi rutin ke panti untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka secara moril dan materil.

"Kamu bisa mendongeng?" tanyaku saat kami sudah berada di dalam mobil.

"Sedikit."

"Tadi itu lumayan bagus, lho!"

"Oh ya?"

Aku mengangguk kepala. Ini pertama kalinya aku memuji Andi. Itu bukan berarti aku mulai menyukainya atau bahkan jatuh cinta dengannya. Tapi hanya sekedar pujian seorang teman, tak ada yang istimewa.

"Kamu sudah sering ke panti itu? Kelihatannya kamu deket banget sama anak-anaknya."

Aku mengangguk.

"Dari tadi cuma manggut-manggut aja. Pas di Panti, kamu kelihatan ceria dan cerewet banget. Kenapa kalau sama aku, cuma manggut-manggut aja?"

Aku tersenyum. "Nggak tau mau ngomong apa," jawabku sambil nyengir.

"Ngomong I Love You,kek!"

"Idih, maksa!"

"Biarin, daripada jomblo mulu!?"

"Mending jomblo."

"Emang kamu seneng jomblo mulu? Nggak ada yang sayang."

"Yee ... jomblo itu bukan berarti nggak disayang atau nggak punya cinta. Aku punya banyak anak-anak panti yang aku sayang banget dan mereka juga sayang sama aku. Cinta itu bukan cuma untuk satu orang saja, tapi buat semuanya juga. Biar hidup kita jauh lebih bahagia."

"Asal jangan cinta sesama jenis aja!" celetuk Andi.

"Iih ... apaan sih!?" Aku mendelik sembari menyubit lengan Andi.

"Sakit tau!" Andi mengelus lengan yang aku cubit. Ups ... sorry! Aku bener-bener nggak sadar sama tindakanku kali ini. Kok, bisa tanganku selancang ini?

"Sorry!"

Andi tersenyum. "Nggak papa, kok. Aku pasti bakal kangen sama cubitanmu."

Aku mengerucutkan bibirku. Lagi-lagi Andi memulai bualannya yang bikin perutku mual.

"Ndi ...!" panggilku tanpa menatap ke arahnya.

"Ya." Andi tetap berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.

"Kenapa kamu nggak pacaran sama cewek lain aja? Daripada kamu ditolak melulu sama aku, daripada kamu jomblo mulu."

Andi tersenyum ke arahku. "Rin, kalau aku nembak cewek lain dan ditolak lagi, lagi dan lagi ... itu namanya aku ngejatuhin derajat aku sebagai cowok paling ganteng se-Balikpapan."

Aku mengerutkan kening, rasanya mataku mau keluar mendengar ucapan Andi kali ini. Sumpah ini cowok, pede banget!

"Apa bedanya dengan ditolak berkali-kali? Pasti akan ada cewek yang mau jadi pacar kamu, kok."

"Kamu sendiri kenapa nolak aku berkali-kali?" tanya Andi balik. Aku merasa pertanyaanku tadi adalah senjata yang akan membunuhku sendiri.

"Eh!? Aku!? Karena ... aku nggak mau pacaran. Aku mau fokus sekolah dulu."

"Emangnya aku ganggu banget ya? Padahal, kamu ini kan pinter. Harusnya kamu bisa membagi waktu antara pacaran sama pelajaran!"

"Apa!?"

"Anak pinter harus bisa me-manage waktu dan pikirannya. Masa cuma karena pacar doang, belajarmu terganggu? Lemah!" celetuk Andi.

"Terserah! Aku nggak akan ngubah komitmen aku sampai aku ketemu cowok yang ngajak aku menikah, bukan pacaran!" Aku mendengus ke arah Andi.

"Jadi, kamu udah pengen nikah?"

Aku gelagapan dengan pertanyaan Andi. Seharusnya aku tidak mengatakah hal itu di usiaku yang masih delapan belas tahun.

"Lulus sekolah aku lamar kamu, boleh?"

"Eh!?"

"Diajak pacaran, katanya maunya nikah. Diajak nikah, malah plonga-plongo gitu."

"Eh ... aneh aja. Kita masih terlalu muda buat nikah. Lagipula aku masih mau kuliah dulu."

"Ya udah, abis wisuda aku lamar kamu!"

Aku tersenyum. "Oke. I'm wait! Sekarang, kamu coba aja dulu cari cewek lain yang bisa kamu jadiin pacar, biar nggak jomblo mulu! Siapa tau lima tahun lagi pikiran dan hatimu akan berubah."

"No. Insya Allah aku nggak akan berubah sampai lima puluh tahun ke depan."

"Sok yakin. Belum tentu kita jodoh!"

"Aku yakin kita jodoh. Itulah kenapa aku milih buat ngejomblo ketimbang cari cewek lain."

"Why?"

"Karena kamu adalah berlian yang sulit buat aku dapetin. Aku nggak akan nyia-nyian. I'm alone for love, because love is you!" Andi menunjuk tepat ke arah dadaku.
"Kamu tunggu aku lima tahun lagi! Aku harap kamu nggak nerima cowok lain di hatimu selain aku."

Aku mengedikkan bahuku.

"Ck. Please, Rin! Jangan terima cowok lain selain aku!" Andi menghentikan mobilnya tepat di halaman rumahku.

"Maksa!"

"Aku nggak maksa, aku cuma memohon."

"Iya. Insya Allah."

"Serius ya! Aku nggak bercanda ini."

"Iya!" Aku mendengus ke arah Andi.

"Galak amat, sih!" celetuknya.

"Udah tau galak, kenapa suka?" Aku makin kesal.

"Hehe ... justru aku suka kamu karena kamu galak, cuek dan jutek banget!" Andi memencet hidungku. "Aku tau kamu tipe cewek setia."

"Sakit, nah!" Aku mengelus hidungku yang digapit jemari tangan Andi.

"Ya udah, cepet masuk rumah dan jangan keluar lagi buat cowok lain selain aku ya!" goda Andi.

"Siap, Bos!" Aku bergegas melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah usai melambaikan tangan pada Andi yang mulai menjauh dari halaman rumah.

Aku menjalani hari-hariku seperti biasa. Andi tak lagi menggodaku di depan umum seperti biasa. Dia bisa lebih bersikap dewasa untuk menyatakan perasaannya. Aku tak perlu menahan malu karena olokan seisi kelas atau sekolahan. Dia lebih banyak menemuiku di rumah. Bercengkerama dengan ayah hampir setiap malam. Bahkan, ia jarang mengajakku bicara. Sepertinya, Andi sudah berhasil mengganti posisiku sebagai anak ayah.

Kita nggak perlu pacaran cuma untuk mencari dengan siapa kita akan menjalani hari-hari kita. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan bersama tanpa harus menjadi pacar.
Kalau jodoh, Tuhan pasti akan menyatukan kita. Kalau bukan jodoh, sekuat apa pun keinginan kita untuk bersamanya ... kita akan tetap berpisah.

Aku tidak memimpikan apa pun tentang masa depan. Sampai waktu itu benar-benar tiba.
                          Aku masih menunggu ... sendiri ... untuk cinta.


Rin Muna
East Borneo, 19 Maret 2019

Monday, March 18, 2019

Donasi Buku dari Ummi Karla Wulaniyati



Hari minggu, 17 Maret 2019 kemarin aku lumayan sibuk dengan kegiatan di rumah. Mulai dari nyuci pakaian sampai beres-beres semua ruangan. Walau setiap hari diberesin, setiap hari pula berantakan karena aku punya anak kecil.

Sementara aku sedang sibuk di dapur, si anak sudah merengek minta diajak jalan keluar karena hari Minggu. Awalnya, dia minta ke Balikpapan karena kangen sama mbahnya. Mengingat jarak antara Balikpapan-Samboja tidak dekat dan perlu waktu ke sana, aku minta Papanya untuk mengajaknya keliling di sekitar rumah saja agar terhibur. Karena kalau ke Balikpapan, terlalu jauh untuk pergi-pulang. Kalau kecapean, nanti emaknya juga yang repot.

Aku langsung teringat dengan kiriman buku yang dititipkan di Samboja Mart. Kebetulan, sabtu kemarin pihak JNE memang sudah menelepon dan mengatakan kalau ada paketan buku dari Karla Wulaniyati dan dititipkan di Samboja Mart. Sudah menjadi hal biasa kalau kurir nggak mau masuk ke desaku. Karena jaraknya memang lumayan, sekitar 7,9 kilometer dengan kondisi jalan yang tidak begitu mulus.

Aku meminta suamiku untuk mengajak anaknya keluar sekalian mengambil paketan buku dari Ummi Karla. Dengan senang hati suami, anak dan adik sepupuku jalan-jalan ke luar rumah. Kebetulan juga hari minggu dan banyak juga orang yang jalan-jalan ke luar.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah kembali dengan membawa bingkisan yang dilapisi kertas kado berwarna pink.

Anakku paling senang kalau dapet paketan buku. Yah, walau sebenarnya buku-buku itu bukan buat dia. Tapi, melihat ekspresi bahagianya ketika mendapat buku juga menjadi salah satu kebahagiaan tersendiri bagiku. Ada keinginan untuk terus mendekatkan dia dengan buku sejak dini.
Kebetulan, anak-anak yang lain juga sedang berkumpul di taman baca. Jadi, sekalian deh aku mintain foto mereka memegang buku-buku kiriman  Ummi Karla. Fotonya langsung aku kirim deh ke Ummi Karla via Whatsapp.

Aku mengenal Ummi Karla dari sebuah platform bernama "Plukme" yang saat ini sedang vakum dengan alasan yang kami tidak mengerti. Akan hadir kembali atau tidak, yang jelas semua teman-teman masih sangat merindukan platform yang hangat itu. Alhamdulillah sampai sekarang kami masih saling bersilaturahmi melalu grup WA yang memang dibuat sebagai ajang silaturahmi dan belajar menulis ketika di platform Plukme. Sampai saat ini, grup ini masih aktif walau menulisnya masih tersebar ke mana-mana. Ada yang menulis di Kompasiana, di Kaskus, di Blog pribadi seperti aku dan beberapa media lainnya. Bagiku, asal tetap bisa belajar menulis dengan baik dan benar. Apa pun platformnya sama saja. Yang penting tulisannya baik dan bisa memberikan manfaat untuk generasi masa depan.

Sebenarnya, aku lebih mengenal anaknya terlebih dahulu yang aktif belajar menulis di platform menulis tersebut. Kelakuan Bije yang rame membuat grup menjadi hidup, walau kadang sering bikin sebel juga. Bije lah yang mengajak Ummi-nya untuk ikut bergabung di grup kepenulisan yang aku buat untuk belajar menulis bersama-sama.

Seiring berjalannya waktu, teman-teman di grup mulai mengetahui kalau aku mempunyai sebuah taman baca yang aku berdirikan secara mandiri, dengan biaya sendiri dan memang masih tertatih karena kurangnya dana untuk kegiatan anak-anak. Maklum saja, aku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang fokus mengurus rumah dan anak. Suamiku juga hanya bekerja di kebun. Tentunya aku harus menyisihkan uang sedikit demi sedikit untuk bisa menambah koleksi buku atau membuat rak buku. Karena kami tidak bisa berharap banyak dari donatur yang tidak menentu datangnya.

Alhamdulillah, seiring dengan niat baikku membuka taman bacaan  yang bisa diakses untuk umum. Allah memberikan banyak kemudahan dalam mengiringi setiap langkahku. Selalu ada rezeki yang Allah berikan agar aku bisa tetap aktif mengadakan kegiatan di taman baca.

Hingga  hari ini, aku masih banyak belajar tentang dunia literasi dari teman-teman literasi lainnya. Karena aku termasuk baru berkecimpung di dunia literasi ketika aku membuka sebuah taman baca. Tentunya tidak mudah membagi waktu antara aktivitas rumah tangga dan kegiatan anak-anak.

Untuk saat ini, kegiatan rutin di taman baca adalah belajar kaligrafi untuk anak-anak dan membuat kerajinan tangan untuk ibu-ibu.

Bisa dibilang, aku harus membagi waktu dan pikiranku untuk semua hal yang berkaitan dengan kegiatan sosial yang aku buat. Memang belum ada sumber dana yang tetap untuk membiayai operasional taman baca. Karena usahaku sendiri vakum semenjak aku membuka taman baca. Waktu dan pikiranku masih aku fokuskan untuk membangun lebih baik lagi taman bacaan yang aku buat.

Ke depannya aku berharap taman baca bisa menjadi pusat berkreatifitas dan menghasilkan produk-produk (Sumber Daya Manusia) yang baik dan mampu menyejahterakan masyarakats sekitar.
Impian terbesarnya tentu bisa membuka banyak taman baca di tempat lain terutama di wilayah terpencil agar anak-anak desa mendapatkan pengetahuan selayaknya anak-anak yang tinggal di kota.

Terima kasih untuk Ummi Karla Wulaniyati.
Semoga buku-bukunya bermanfaat untuk anak-anak desa yang membacanya dan menjadi amalan jariyah untuk Ummi dan keluarga.



Salam Literasi ...!

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas