Blog ini menceritakan tentang Kehidupan yang aku jalani. Keseharian yang ada dalam hidupku. Tentang cinta, tentang perjuangan dan pengorbanan, tentang rasa sakit dan tentang orang-orang yang ada di dalam kehidupanku. Tentang Desa Kecil dan gadis kecil yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat sekitar.

Thursday, March 21, 2019

Proses Belajar Menggambar [from Penciller to Painter]

Dokumen Pribadi
Aku adalah wanita yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah ketimbang di luar rumah. Bisa dibilang, aku termasuk orang yang introvert tapi juga nyaman berada di keramaian. Hanya saja, rasa percaya diriku memang sedikit bermasalah.

Sejak masih sekolah, aku suka sekali menghabiskan waktuku di kamar bersama buku atau coret-coret buku. Dan kebiasaan itu masih saja melekat dalam diriku hingga saat ini.

Awalnya, aku memang belajar melukis menggunakan pensil saja. Alasannya, karena masih belajar lah. Kalau udah pro mah medianya udah lain. Makanya, aku lebih banyak membuay lukisan pensil sejak dulu. Selain mudah, juga bahannya murah. Hehehe ...

Akhir-akhir ini aku mulai belajar painting karena sebuah tuntutan. Mungkin, kalau tidak ada pemicunya, aku tidak akan pernah belajar melukis dengan warna. Yang pertama, modalnya lumayan mahal. Aku harus beli kanvas, beli cat, kuas dan aksesoris lainnya. Buatku yang cuma ibu rumah tangga, harga itu termasuk mahal. Mending uangnya dipake buat jajan anaknya kan lumayan.

Untungnya selalu ada rejeki lebih yang membuat aku akhirnya bisa beli peralatan melukis. Walau belum selengkap Art Studio Painting. Ah, itu mah buat level master. Buat aku mah levelnya ngelukis di teras rumah doang.

Masa peralihan dari penciller ke painter jelas masa-masa yang sulit buatku. Biasanya aku hanya belajar membuat gradasi warna hitam putih, sekarang aku harus belajar mix colour. Karena, warna cat lukis adalah warna-warna standar yang harus kita campur sendiri untuk menghasilkan warna sesuai dengan keinginan kita. Ini masih sulit bagiku.

Bisa dilihat di video ini, bagaimana proses aku belajar selama bertahun-tahun dan masih belum bisa bagus juga sampai sekarang.


Belajar yang paling mudah adalah menggambar pemandangan. Aku coba-coba cari referensi di internet untuk mencari obyek yang bagus. Akhirnya aku dapet contoh gambar seperti yang lukisan aku di atas. Yah, emang belum bisa mirip 100% sih. Beda banget kalau Abi Cadio yang gambar, dia mah super-super realis.

Karena aku menghabiskan waktuku 24 jam di dalam rumah, aku lebih banyak melukis dan membaca buku. Pokoknya, istri kayak aku tuh nggak ribet. Nggak demen belanja macem-macrm atau keluyuran ke mana-mana. Asal sudah dibelikan buku sama alat lukis. Ndilek aja di rumah, nggak bakal ke mana-mana.

Kalau banyak ibu-ibu muda sepertiku demen ngeluyur ke rumah temannya buat ngerumpi atau shopping. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Yah, bukan berarti aku nggak pernah jalan sama sekali. Aku juga kadang keluar rumah kalau ada undangan, keperluan atau diajak adikku jalan-jalan. Kalau suami aku sih, nggak pernah ngajakin jalan-jalan kalau aku nggak merengek-rengek minta keluar rumah. Hiks ... hiks... sedih ya?

Buat ibu rumah tangga sepertiku, apalagi yang mau dilakuin selain gambar sama nulis. Dan keduanya memang hobiku, tapi sempat vakum berkarya karena sibuk kerja. Rasanya, jari ini gatal kalau nggak menulis apa pun. Mungkin ini salah satu caraku menghindari kebiasaan gosip yang udah jadi naluri emak-emak.

Oke, cukup sampai sini aja tulisan dari saya. Kalau kepanjangan entar malah curhat macem-macem pula. Mending fokus sama kegiatan-kegiatan aku aja. Semoga bisa menginspirasi ibu-ibu muda untuk mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang bermanfaat.

Buat kalian yang suka menghina karya orang lain, sesekali lihatlah bagaimana cara mereka berproses. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bukan hanya dituntut untuk telaten dan kreatif, tapi modal peralatannya juga lumayan. Hargailah walau belum bagus supaya semangat untuk belajar lagi. Mengkritik boleh, menghina jangan ya! Apalagi buat adik-adik yang masih belajar, semangat terus ya!

Salam,

Rin Muna

6 comments:

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas