Monday, May 4, 2026

Perfect Hero Bab 533 : Kesayangan Mertua




“Yun, kamu lagi sibuk nggak?” tanya Bellina.

“Nggak terlalu. Kenapa?” tanya Yuna.

“Aku pengen ngajak kamu keluar, cari angin sambil cerita-cerita. Aku butuh temen curhat, Yun. Please ...!”

Yuna menggigit bibirnya. “Aku nggak bisa jalan keluar, Bel. Cerita di sini aja!” pintanya.

Bellina menghela napas. “Sekali aja, Yun. Nggak jauh, kok. Di sekitaran sini aja. Di deket rumah kamu ini ada danau kecil ‘kan? Ada hal yang mau aku bicarakan, berdua aja.”

Yuna menggelengkan kepala. “Bicarakan di sini aja, Bel!”

Bellina menatap kesal ke arah Yuna. “Kenapa? Kamu nggak berani ngadepin aku sendirian!?”

Yuna langsung menatap wajah Bellina. Ia mulai menyadari kalau kedatangan Bellina kali ini bukan bermaksud baik.

Bellina tersenyum sinis. Penolakan dari Yuna berhasil menyulut amarahnya kali ini. “Yun, kalau emang kamu punya nyali, nggak perlu bersembunyi di balik suami kamu dan orang-orangnya!”

“Bel, banyak hal yang sudah terjadi sama kamu. Tapi, kamu masih aja nggak mau berubah. Kenapa masih aja seperti ini?”

“Karena kamu yang bikin aku kayak gini, Yun!” seru Bellina sambil menatap kesal ke arah Yuna.

“Aku nggak ngelakuin apa-apa. Kamunya aja yang lebih suka menumpahkan kekesalanmu ke aku. Kenapa? Nggak punya tempat pelampiasan yang lain?”

Braak ...!

Bellina langsung memukul meja begitu mendengar kalimat pertanyaan yang keluar dari mulut Yuna. “Kamu nggak usah naif, Yun! Nggak usah pura-pura baik di depan semua orang. Aku tahu banget kelakuan busuk kamu ini. Kamu cuma pura-pura baik buat menarik simpati semua orang.”

Yuna menarik napas dalam-dalam. “Kumat lagi ini orang,” batinnya tanpa menatap wajah Bellina.

“Kamu kan yang ngadu ke Mama Mega soal hubungan mamaku dengan laki-laki lain? Kamu yang bocorin semuanya ‘kan?”

Yuna mengerutkan kening sambil menggelengkan kepala. “Aku nggak ada ketemu sama Tante Mega. Gimana aku bisa ngomong sama dia?”

“Nggak usah membela diri terus, Yun! Aku tahu banget kelakuan busuk kamu ini. Cuma kamu dan Yeriko yang ada di sana tadi pagi. Nggak mungkin ada orang lain bisa tahu masalah ini kalau bukan mulut lemes kamu ini!”

“Aku nggak ada ngomong ke siapa-siapa.”

PLAK ...!

Bellina langsung menampar wajah Yuna sekuatnya. “BOHONG!”

Yuna langsung memegangi pipinya yang terasa sangat perih. “Kamu ...!? Dateng ke sini cuma mau ngajak aku berantem!?”

Bibi War langsung keluar dari dalam rumah begitu mendengar Yuna dan Bellina saling berteriak. “Ada apa ini?”

Yuna langsung bangkit dari tempat duduknya. “Usir dia dari sini, Bi!” perintahnya sambil bergegas pergi.

Bellina tak gentar menghadapi Yuna. Amarahnya semakin tersulut dan berlari menghampiri Yuna untuk menyerangnya.

“Kamu mau apa?” tanya Bibi War sambil menahan tubuh Bellina.

“Bibi nggak usah ikut campur urusan kami!” sentak Bellina sambil mendorong tubuh Bibi War hingga tersungkur ke lantai.

PLAK ...!

Yuna dengan cepat berbalik dan langsung menampar Bellina. Tangan satunya, berusaha melindungi anak yang ada di dalam perutnya.

“Gila kamu, Bel!” seru Yuna.Ia menyandarkan punggungnya ke dinding dan mendorong tubuh Bellina hingga tersungkur ke lantai.

“Kamu yang gila, Yun!” seru Bellina. “Kalau bukan karena kamu, hidupku nggak akan menderita kayak gini!”

“Aku nggak ngelakuin apa-apa ke kamu. Semua yang terjadi sama kamu, itu balasan yang setimpal buat semua kejahatan kamu selama ini,” sahut Yuna tak mau kalah.

Bibi War berusaha melindungi Yuna kembali dari serangan Bellina yang sudah bangkit dari lantai.

“Kamu lupa sama semua yang udah kamu buat ke aku, hah!? Kamu udah bunuh anak aku! Kamu udah ngerebut perhatian suami aku! Sekarang, kamu mau bikin aku terusir dari keluarga Wijaya, hah!?”

“Apa yang terjadi sama kamu dan keluarga Wijaya. Itu bukan urusanku!” sahut Yuna.

“Halah ... nggak usah pura-pura nggak tahu. Kamu yang ngomong ke mamanya Lian soal kejadian hari ini ‘kan? Supaya aku diusir dari keluarga Wijaya. Kamu masih nggak puas lihat hidup aku menderita!?” seru Bellina sambil mendorong pundak Yuna.

Bibi War langsung menahan Bellina agar tidak mendekati majikannya itu.

“Bel, kalau kamu sekarang menderita. Itu karena ulah kamu sendiri. Nggak ada hubungannya sama aku!” sahut Yuna kesal.

“Kamu yang udah ngadu ke Mama Mega soal mamaku. Masih nggak mau ngaku!?” sentak Bellina. Ia menatap perut Yuna penuh kebencian.

“Pak Satpam ...!” seru Bibi War.

“Aku nggak ada ngomong apa pun ke Tante Mega. Kenapa kamu masih aja ngotot!?” balas Yuna.

“Halah, aku nggak percaya!” seru Bellina. Ia berusaha menyerang Yuna kembali. Namun, gerakan tubuhnya sudah ditahan oleh satpam yang sudah ada di belakangnya.

“Awas kamu, Yun! Kalau sampai aku dikeluarkan dari keluarga Wijaya. Kamu adalah orang paling pertama yang aku mintai pertanggungjawaban!” teriak Bellina sambil berusaha melepaskan diri dari tangan satpam yang menyeretnya.

Yuna menarik napas dalam-dalam sambil memegangi perutnya. Ia tidak ingin siapa pun melukai anaknya, terutama Bellina.

“Mbak Yuna, nggak papa?” tanya Bibi War. Ia merasa bersalah karena tidak mendampingi Yuna sejak awal.

“Nggak papa, Bi.”

“Duduk dulu!” pinta Bibi War sambil memapah Yuna kembali ke kursi. “Bibi ambilkan air hangat dulu.”

Yuna mengangguk dan langsung duduk di kursinya. Pandangannya beralih pada mobil Rullyta yang kembali masuk ke pelataran, diikuti Lamborghini biru di belakangnya.

“Mama? Kenapa balik lagi?” gumam Yuna sambil menutupi pipinya yang terasa sakit karena tamparan keras yang ia terima dari Bellina.

Rullyta dan Yeriko sama-sama keluar dari mobil dan melangkah menghampiri Yuna.

“Mama? Kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan?” tanya Yuna sambil menopang pipinya. Ia tersenyum semanis mungkin agar mama mertua dan suaminya tidak melihat luka di pipinya.

“Iya, mama mau ambil ...” Ucapan Rullyta terhenti saat melihat Bibi War keluar sambil membawa gelas dan baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil di tangannya.

“Ada apa ini?” tanya Rullyta.

Bibi War menoleh ke arah Yuna.

Yeriko langsung menghampiri Yuna begitu ia menyadari sebelah mata Yuna membengkak. “Kamu kenapa?” tanyanya sambil menangkap lengan Yuna.

“Nggak papa,” jawab Yuna sambil meringis.

“Buka tangannya!” perintah Yeriko sambil menarik lengan Yuna.

Yuna berusaha mempertahankan tangannya. Ia tidak ingin membuat suami dan mama mertuanya menjadi cemas karena hal ini.

“BUKA!” seru Yeriko kesal.

Yuna tersenyum kecut. Ia menurunkan tangannya perlahan. Pipinya yang merah dan membengkak tanpa ia sadari, membuat Yeriko panik.

“Kenapa bisa kayak gini?” tanya Yeriko. “Bi, cepet bawa sini airnya!”

Bibi War mengangguk. Ia segera memberikan baskom berisi air hangat itu ke tangan Yeriko, beserta handuk kecil yang dibawanya. “Ini ... diminum dulu, Mbak!” tutur Bibi War sambil menyodorkan air hangat ke arah Yuna.

Yuna menganggukkan kepala. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menstabilkan perasaannya sambil menyesap air hangat yang dibawakan Bibi War.

“Mana si Bellina? Ini pasti perbuatan dia ‘kan?” tanya Rullyta sambil menatap Yuna dan Bibi War.

Bibi War menganggukkan kepala. “Iya, Bu. Awalnya, mereka terlihat baik-baik aja. Mbak Belli tiba-tiba menyerang Mbak Yuna.”

Yuna tersenyum kecut. Ia terdiam sambil menatap wajah Yeriko yang sedang mengompres pipinya dengan air hangat.

“Yer, lihat kelakuan Bellina itu! Makin hari makin parah. Dia nggak bisa hidup tenang di luar sana? Kalau Yuna kenapa-kenapa, gimana? Mama nggak akan ngelepasin dia gitu aja!”

Yeriko menghela napas. “Aku akan pikirin cara membalas dia, Ma.”

“Masih mau mikir? Kamu bisa nggak bergerak cepat? Kebanyakan mikir aja!” sahut Rullyta kesal.

“Ma, aku masih banyak urusan di perusahaan. Aku pasti balas apa yang sudah dia lakuin ke istriku.”

“Perusahaan jadi alasan!” sahut Rullyta kesal. “Mama tahu, dari dulu kamu gila bisnis. Setiap hari sibuk ngurus perusahaan. Tapi, sekarang kamu udah punya keluarga. Mama udah bilang berapa kali, hah!? Istri kamu sering terluka karena kamu nggak becus ngurus keluarga.”

Yeriko memejamkan mata sambil menghela napas. “Ma, aku udah berusaha melindungi dia. Di sini ada banyak orang, istriku masih terluka. Mama jangan bikin aku makin sakit kepala! Keluarga dan perusahaan sama pentingnya. Aku nggak bisa ada di samping Yuna selama dua puluh empat jam. Ini di luar kendaliku.”

“Ya udah, kamu usaha buat ada di samping Yuna selama dua puluh empat jam!”

“Perusahaan gimana?” tanya Yeriko sambil menatap tajam ke arah Rullyta. “Mama mau aku ninggalin perusahaan? Biar nggak bisa kasih makan untuk anak dan istriku?”

Rullyta terdiam mendengar pertanyaan Yeriko.

“Aku kerja keras demi keluarga. Supaya mereka bisa bahagia, hidup layak dan dihargai semua orang. Mama bisanya cuma ngomel aja!” tutur Yeriko sambil memeras handuk hangat yang ada di hadapannya dan menempelkan kembali di pipi Yuna.

“Ay, nggak usah marah-marah!” pinta Yuna lembut.

“Aku nggak marah,” sahut Yeriko ketus.

Rullyta menghela napas. “Biar mama yang selesaikan ini semua!” tegasnya. Ia melangkah masuk ke dalam rumah untuk mengambil barangnya yang tertinggal dan bergegas keluar dari rumah Yeriko.

“Ay, jangan sering marah-marah sama Mama Rully!” pinta Yuna.

“Dia sering bikin aku kesel.”

“Dia ‘kan mama kamu juga. Aku sedih kalau lihat kalian berantem karena aku.”

Yeriko menghela napas. Ia tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Nggak usah sedih! Mamaku juga sayang sama kamu seperti anaknya sendiri. Dia bahkan lebih sayang sama kamu daripada aku. Harusnya kamu bahagia mendapatkan ini semua,” tuturnya sambil mengusap lembut pipi Yuna.

Yuna tersenyum sambil menatap wajah Yeriko. Ia merasa sangat beruntung memiliki keluarga baru yang sangat menyayanginya. Sejak menikah dengan Yeriko, ia mendapatkan begitu banyak perhatian dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Membuat dia berpikir kalau Bellina menginginkan kebahagiaan yang ia miliki saat ini. Sebab, keluarga Lian memperlakukan Bellina tidak begitu baik.

Yuna berharap kalau Bellina bisa berubah dan hidup dengan baik di luar sana. Banyak hal yang dimiliki Bellina, tidak dimiliki oleh orang lain. Menerima apa yang sudah dimiliki, tentunya akan lebih baik daripada harus mencari-cari kebahagiaan semu yang tidak bisa dimilikinya.

 

 

 

 

  

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas