“Yun, kamu lagi sibuk nggak?” tanya Bellina.
“Nggak terlalu. Kenapa?” tanya Yuna.
“Aku pengen ngajak kamu keluar, cari angin sambil cerita-cerita. Aku butuh
temen curhat, Yun. Please ...!”
Yuna menggigit bibirnya. “Aku nggak bisa jalan keluar, Bel. Cerita di sini
aja!” pintanya.
Bellina menghela napas. “Sekali aja, Yun. Nggak jauh, kok. Di sekitaran
sini aja. Di deket rumah kamu ini ada danau kecil ‘kan? Ada hal yang mau aku
bicarakan, berdua aja.”
Yuna menggelengkan kepala. “Bicarakan di sini aja, Bel!”
Bellina menatap kesal ke arah Yuna. “Kenapa? Kamu nggak berani ngadepin aku
sendirian!?”
Yuna langsung menatap wajah Bellina. Ia mulai menyadari kalau kedatangan
Bellina kali ini bukan bermaksud baik.
Bellina tersenyum sinis. Penolakan dari Yuna berhasil menyulut amarahnya
kali ini. “Yun, kalau emang kamu punya nyali, nggak perlu bersembunyi di balik
suami kamu dan orang-orangnya!”
“Bel, banyak hal yang sudah terjadi sama kamu. Tapi, kamu masih aja nggak
mau berubah. Kenapa masih aja seperti ini?”
“Karena kamu yang bikin aku kayak gini, Yun!” seru Bellina sambil menatap
kesal ke arah Yuna.
“Aku nggak ngelakuin apa-apa. Kamunya aja yang lebih suka menumpahkan
kekesalanmu ke aku. Kenapa? Nggak punya tempat pelampiasan yang lain?”
Braak ...!
Bellina langsung memukul meja begitu mendengar kalimat pertanyaan yang
keluar dari mulut Yuna. “Kamu nggak usah naif, Yun! Nggak usah pura-pura baik
di depan semua orang. Aku tahu banget kelakuan busuk kamu ini. Kamu cuma
pura-pura baik buat menarik simpati semua orang.”
Yuna menarik napas dalam-dalam. “Kumat lagi ini orang,” batinnya tanpa
menatap wajah Bellina.
“Kamu kan yang ngadu ke Mama Mega soal hubungan mamaku dengan laki-laki
lain? Kamu yang bocorin semuanya ‘kan?”
Yuna mengerutkan kening sambil menggelengkan kepala. “Aku nggak ada ketemu
sama Tante Mega. Gimana aku bisa ngomong sama dia?”
“Nggak usah membela diri terus, Yun! Aku tahu banget kelakuan busuk kamu
ini. Cuma kamu dan Yeriko yang ada di sana tadi pagi. Nggak mungkin ada orang
lain bisa tahu masalah ini kalau bukan mulut lemes kamu ini!”
“Aku nggak ada ngomong ke siapa-siapa.”
PLAK ...!
Bellina langsung menampar wajah Yuna sekuatnya. “BOHONG!”
Yuna langsung memegangi pipinya yang terasa sangat perih. “Kamu ...!?
Dateng ke sini cuma mau ngajak aku berantem!?”
Bibi War langsung keluar dari dalam rumah begitu mendengar Yuna dan Bellina
saling berteriak. “Ada apa ini?”
Yuna langsung bangkit dari tempat duduknya. “Usir dia dari sini, Bi!”
perintahnya sambil bergegas pergi.
Bellina tak gentar menghadapi Yuna. Amarahnya semakin tersulut dan berlari
menghampiri Yuna untuk menyerangnya.
“Kamu mau apa?” tanya Bibi War sambil menahan tubuh Bellina.
“Bibi nggak usah ikut campur urusan kami!” sentak Bellina sambil mendorong
tubuh Bibi War hingga tersungkur ke lantai.
PLAK ...!
Yuna dengan cepat berbalik dan langsung menampar Bellina. Tangan satunya,
berusaha melindungi anak yang ada di dalam perutnya.
“Gila kamu, Bel!” seru Yuna.Ia menyandarkan punggungnya ke dinding dan
mendorong tubuh Bellina hingga tersungkur ke lantai.
“Kamu yang gila, Yun!” seru Bellina. “Kalau bukan karena kamu, hidupku
nggak akan menderita kayak gini!”
“Aku nggak ngelakuin apa-apa ke kamu. Semua yang terjadi sama kamu, itu
balasan yang setimpal buat semua kejahatan kamu selama ini,” sahut Yuna tak mau
kalah.
Bibi War berusaha melindungi Yuna kembali dari serangan Bellina yang sudah
bangkit dari lantai.
“Kamu lupa sama semua yang udah kamu buat ke aku, hah!? Kamu udah bunuh
anak aku! Kamu udah ngerebut perhatian suami aku! Sekarang, kamu mau bikin aku
terusir dari keluarga Wijaya, hah!?”
“Apa yang terjadi sama kamu dan keluarga Wijaya. Itu bukan urusanku!” sahut
Yuna.
“Halah ... nggak usah pura-pura nggak tahu. Kamu yang ngomong ke mamanya
Lian soal kejadian hari ini ‘kan? Supaya aku diusir dari keluarga Wijaya. Kamu
masih nggak puas lihat hidup aku menderita!?” seru Bellina sambil mendorong
pundak Yuna.
Bibi War langsung menahan Bellina agar tidak mendekati majikannya itu.
“Bel, kalau kamu sekarang menderita. Itu karena ulah kamu sendiri. Nggak
ada hubungannya sama aku!” sahut Yuna kesal.
“Kamu yang udah ngadu ke Mama Mega soal mamaku. Masih nggak mau ngaku!?”
sentak Bellina. Ia menatap perut Yuna penuh kebencian.
“Pak Satpam ...!” seru Bibi War.
“Aku nggak ada ngomong apa pun ke Tante Mega. Kenapa kamu masih aja
ngotot!?” balas Yuna.
“Halah, aku nggak percaya!” seru Bellina. Ia berusaha menyerang Yuna
kembali. Namun, gerakan tubuhnya sudah ditahan oleh satpam yang sudah ada di
belakangnya.
“Awas kamu, Yun! Kalau sampai aku dikeluarkan dari keluarga Wijaya. Kamu
adalah orang paling pertama yang aku mintai pertanggungjawaban!” teriak Bellina
sambil berusaha melepaskan diri dari tangan satpam yang menyeretnya.
Yuna menarik napas dalam-dalam sambil memegangi perutnya. Ia tidak ingin
siapa pun melukai anaknya, terutama Bellina.
“Mbak Yuna, nggak papa?” tanya Bibi War. Ia merasa bersalah karena tidak
mendampingi Yuna sejak awal.
“Nggak papa, Bi.”
“Duduk dulu!” pinta Bibi War sambil memapah Yuna kembali ke kursi. “Bibi
ambilkan air hangat dulu.”
Yuna mengangguk dan langsung duduk di kursinya. Pandangannya beralih pada
mobil Rullyta yang kembali masuk ke pelataran, diikuti Lamborghini biru di
belakangnya.
“Mama? Kenapa balik lagi?” gumam Yuna sambil menutupi pipinya yang terasa
sakit karena tamparan keras yang ia terima dari Bellina.
Rullyta dan Yeriko sama-sama keluar dari mobil dan melangkah menghampiri
Yuna.
“Mama? Kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan?” tanya Yuna sambil menopang
pipinya. Ia tersenyum semanis mungkin agar mama mertua dan suaminya tidak
melihat luka di pipinya.
“Iya, mama mau ambil ...” Ucapan Rullyta terhenti saat melihat Bibi War
keluar sambil membawa gelas dan baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil
di tangannya.
“Ada apa ini?” tanya Rullyta.
Bibi War menoleh
ke arah Yuna.
Yeriko langsung menghampiri Yuna begitu ia menyadari sebelah mata Yuna
membengkak. “Kamu kenapa?” tanyanya sambil menangkap lengan Yuna.
“Nggak papa,” jawab Yuna sambil meringis.
“Buka tangannya!” perintah Yeriko sambil menarik lengan Yuna.
Yuna berusaha mempertahankan tangannya. Ia tidak ingin membuat suami dan
mama mertuanya menjadi cemas karena hal ini.
“BUKA!” seru Yeriko kesal.
Yuna tersenyum kecut. Ia menurunkan tangannya perlahan. Pipinya yang merah
dan membengkak tanpa ia sadari, membuat Yeriko panik.
“Kenapa bisa kayak gini?” tanya Yeriko. “Bi, cepet bawa sini airnya!”
Bibi War mengangguk. Ia segera memberikan baskom berisi air hangat itu ke
tangan Yeriko, beserta handuk kecil yang dibawanya. “Ini ... diminum dulu,
Mbak!” tutur Bibi War sambil menyodorkan air hangat ke arah Yuna.
Yuna menganggukkan kepala. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha
menstabilkan perasaannya sambil menyesap air hangat yang dibawakan Bibi War.
“Mana si Bellina? Ini pasti perbuatan dia ‘kan?” tanya Rullyta sambil
menatap Yuna dan Bibi War.
Bibi War menganggukkan kepala. “Iya, Bu. Awalnya, mereka terlihat baik-baik
aja. Mbak Belli tiba-tiba menyerang Mbak Yuna.”
Yuna tersenyum kecut. Ia terdiam sambil menatap wajah Yeriko yang sedang
mengompres pipinya dengan air hangat.
“Yer, lihat kelakuan Bellina itu! Makin hari makin parah. Dia nggak bisa
hidup tenang di luar sana? Kalau Yuna kenapa-kenapa, gimana? Mama nggak akan
ngelepasin dia gitu aja!”
Yeriko menghela napas. “Aku akan pikirin cara membalas dia, Ma.”
“Masih mau mikir? Kamu bisa nggak bergerak cepat? Kebanyakan mikir aja!”
sahut Rullyta kesal.
“Ma, aku masih banyak urusan di perusahaan. Aku pasti balas apa yang sudah
dia lakuin ke istriku.”
“Perusahaan jadi alasan!” sahut Rullyta kesal. “Mama tahu, dari dulu kamu
gila bisnis. Setiap hari sibuk ngurus perusahaan. Tapi, sekarang kamu udah
punya keluarga. Mama udah bilang berapa kali, hah!? Istri kamu sering terluka
karena kamu nggak becus ngurus keluarga.”
Yeriko memejamkan mata sambil menghela napas. “Ma, aku udah berusaha
melindungi dia. Di sini ada banyak orang, istriku masih terluka. Mama jangan
bikin aku makin sakit kepala! Keluarga
dan perusahaan sama pentingnya. Aku nggak bisa ada di samping Yuna selama dua
puluh empat jam. Ini di luar kendaliku.”
“Ya udah, kamu usaha buat ada di samping Yuna selama dua puluh empat jam!”
“Perusahaan gimana?” tanya Yeriko sambil menatap tajam ke arah Rullyta.
“Mama mau aku ninggalin perusahaan? Biar nggak bisa kasih makan untuk anak dan
istriku?”
Rullyta terdiam mendengar pertanyaan Yeriko.
“Aku kerja keras demi keluarga. Supaya mereka bisa bahagia, hidup layak dan
dihargai semua orang. Mama bisanya cuma ngomel aja!” tutur Yeriko sambil
memeras handuk hangat yang ada di hadapannya dan menempelkan kembali di pipi
Yuna.
“Ay, nggak usah marah-marah!” pinta Yuna lembut.
“Aku nggak marah,” sahut Yeriko ketus.
Rullyta menghela napas. “Biar mama yang selesaikan ini semua!” tegasnya. Ia
melangkah masuk ke dalam rumah untuk mengambil barangnya yang tertinggal dan
bergegas keluar dari rumah Yeriko.
“Ay, jangan sering marah-marah sama Mama Rully!” pinta Yuna.
“Dia sering bikin aku kesel.”
“Dia ‘kan mama kamu juga. Aku sedih kalau lihat kalian berantem karena
aku.”
Yeriko menghela napas. Ia tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Nggak usah
sedih! Mamaku juga sayang sama kamu seperti anaknya sendiri. Dia bahkan lebih
sayang sama kamu daripada aku. Harusnya kamu bahagia mendapatkan ini semua,”
tuturnya sambil mengusap lembut pipi Yuna.
Yuna tersenyum sambil menatap wajah Yeriko. Ia merasa sangat beruntung
memiliki keluarga baru yang sangat menyayanginya. Sejak menikah dengan Yeriko,
ia mendapatkan begitu banyak perhatian dan kasih sayang dari orang-orang di
sekitarnya. Membuat dia berpikir kalau Bellina menginginkan kebahagiaan yang ia
miliki saat ini. Sebab, keluarga
Lian memperlakukan Bellina tidak begitu baik.
Yuna berharap
kalau Bellina bisa berubah dan hidup dengan baik di luar sana. Banyak hal yang
dimiliki Bellina, tidak dimiliki oleh orang lain. Menerima apa yang sudah
dimiliki, tentunya akan lebih baik daripada harus mencari-cari kebahagiaan semu
yang tidak bisa dimilikinya.

0 komentar:
Post a Comment