Tuesday, April 28, 2026

Cerpen "Rumah Ini"




Tidak ada yang benar-benar peduli pada rumah ini selain kamu yang bekerja keras untuk membuatnya 'ADA'.
Hari ini aku merasa sangat lelah. Lelah yang tertumpuk selama berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Menjadi seorang ibu rumah tangga sekaligus pencari nafkah, bukanlah hal yang mudah. Saat lelah dan perlu sandaran, kita masih harus memaksakan diri menjadi tempat bersandar.
Di satu sisi, aku harus memastikan rumah terjaga dan terawat dengan baik. Di sisi lain, aku juga harus memastikan kalau nafkah keluarga tetap bisa kupenuhi. Anak-anak tidak kelaparan, bisa bersekolah setiap hari, mengenakan pakaian yang layak dan bisa beli jajan seperti anak-anak yang lain.
Betapa sulitnya harus menjaga dua peran sekaligus. Peran sebagai penjaga rumah, juga peran sebagai penjaga nafkah. Aku harus memaksakan diri agar bisa memiliki semua yang aku butuhkan untuk keluargaku. Mengorbankan semua waktu istirahat dan waktu untuk menyenangkan diri sendiri.
Sampai-sampai jatah tidurku hanya 2 jam setiap harinya. Tidak bisa lebih dari itu. Setiap kali mata ini ingin terpejam, ada rasa takut yang luar biasa. Ketakutan jika esok anak-anak kelaparan. Ketakutan tidak bisq membayar biaya sekolah. Ketakutan jika anak-anak tidak bisa mengenakan pakaian yang layak.
Di zaman yang serba mahal, kita tidak bisa duduk bersantai lebih dari lima belas menit. Sebab, pada menit ke enam belas, akan muncul rasa takut menghadapi kenyataan hidup yang tidak mudah. Kita dipaksa untuk kuat dan bisa dalam keterbatasan.
Hal yang lebih melelahkan lagi, ketika kita punya tempat bersandar, tapi tidak mampu untuk bersandar di tempat itu.
Hari ini ... rasa lelah yang sudah tertumpuk itu sangat ingin aku lepaskan. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku harus mengorbankan yang saat ini aku miliki untuk melepaskan semuanya.
Di sudut ruangan, sambil memegang sapu yang sudah usang, aku bercerita. Bercerita pada diri sendiri, bercerita pada sapu yang setiap hari menemani, bercerita pada dinding rumah yang selalu bisu.
Sebelum adzan Subuh, mata ini sudah terbuka. Tangan dan kaki sudah bergerak membersihkan rumah, memasak, mencuci piring, dan mencuci pakaian. Sampai terdengar kumandang adzan dzuhur, pekerjaanku di rumah belum usai. Padahal, aku tidak berhenti bergerak sedikitpun.
"Bagaimana aku bisa menghasilkan uang untuk jajan anak-anak besok? Kalau jam segini saja aku masih sibuk merawat rumah?" tanyaku pada sapu yang membisu.
Aku kembali bergerak. Memastikan anak-anakku bisa makan siang dengan baik. Juga melanjutkan sekolah agama agar mereka bisa menjadi anak yang berbakti dan bermoral.
Tubuhku rasanya sudah lelah, tapi aku tak punya waktu istirahat lama. Sampai Sore hari, aku masih sibuk di dapur. Memastikan makan malam untuk keluarga tersedia. Merapikan teras belakang rumah. Memilah pakaian yang sudah kering untuk aku lipat dan setrika. Begitulah setiap hari kesibukanku sebagai ibu rumah tangga. Tidak ada waktu untuk bekerja atau menghasilkan uang. Lalu, bagaimana dengan biaya hidup sehari-hari? Keluarga mau makan apa?
Aku mulai berpikir untuk bekerja. Menghasilkan uang untuk jajan anak-anak. Sebab, itu biaya yang tidak bisa aku tunda.
Pagi-pagi sekali aku sudah siap pergi bekerja dan pulang di sore hari. Tidak ada waktu untuk merawat rumah. Satu hari, dua hari, tiga hari, dan seterusnya ... aku sibuk mencari nafkah. Tidak ada waktu untuk memasak, mencuci pakaian atau mencuci piring. Sebab, tubuh yang tak lagi muda ini merasa sangat lelah saat pulang kerja.
Rumah kotor dan berantakan. Aku hampir gila dibuatnya. Sampai rumah, aku ingin istirahat dengan tenang tanpa gangguan. Tapi kenyataannya ... aku justru harus bekerja ekstra di ujung lelahku. Memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan rumah hingga mengorbankan waktuku untuk sekadar beristirahat. Tidak ada yang bisa kuandalkan selain diriku sendiri.
Aku punya pasangan, tapi tidak bisa kuandalkan. Dia sudah lelah bekerja seharian di luar sana. Tidak mau membantu pekerjaan rumah. Dia bilang, "Malam itu waktunya istirahat". Lalu, bagaimana denganku yang tidak punya waktu istirahat sama sekali. Sementara, penghasilannya pas-pasan dan tidak menentu. Hanya cukup untuk membayar tagihan bulanan dan utang yang tidak sedikit. Aku masih harus bekerja keras untuk memastikan kebutuhan sehari-hari bisa tercukupi. Sebab, penghasilan suami belum mampu mencukupi segalanya.
Pada akhirnya, wanita memang harus lebih banyak berkorban. Tidak tega melihat suami kelelahan. Bibir ini tak sampai berucap 'minta tolong' dan memilih untuk menyelesaikan semuanya sendiri.
Di ujung beban yang terus bertambah setiap harinya, membuatku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri. Rumah ini ... rumah kita bersama atau hanya rumahku seorang? Kenapa hanya aku yang peduli untuk menjaga dan merawatnya? Sementara yang lain hanya sekedar tinggal. Seolah tak punya rasa memiliki, tak ada keinginan untuk menjaga dan merawatnya bersama.
Terkadang, aku juga ingin berpikir seperti itu. Tapi tidak pernah aku lupa bagaimana pengorbanan dan rasa sakit yang sudah aku terima karena ingin punya 'rumah yang layak'. Rumah yang atapnya tidak bocor saat hujan deras. Rumah yang tidak sering dimasuki ular karena dinding dan lantainya bolong-bolong.
Perjuangan yang tidak mudah untuk membuat rumah ini 'ADA'. Lalu, apa aku harus menyia-nyiakannya begitu saja? Rasanya, aku menjadi manusia tidak bersyukur atas apa yang telah Allah berikan.
Haruskah aku tega membiarkan rumah ini usang dan hancur secara perlahan hanya karena aku tidak ingin lebih lelah dari yang lain?
Terkadang, kita ingin menjaganya bersama-sama. Tapi, tak semua memiliki kepedulian tanpa diminta. Tak semua memiliki rasa tanggung jawab pada hal yang telah ada. Sama seperti isi bumi ini. Hanya ada satu dari satu juta orang yang peduli pada keberlangsungan bumi. Sembilan ratus ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang memilih untuk sekedar tinggal dan menunggu kematian. Tidak peduli bahwa bumi masih bisa jadi tempat tinggal untuk anak-cucunya. Bagi mereka, mereka sudah puas menyelamatkan diri mereka sendiri. Seperti apa nasib generasi mereka, mereka tidak akan peduli.
Mungkin ... rumah ini juga sama. Tidak akan ada cerita di masa depan. Sebab, ia sudah usang dan hancur lebih dahulu dari waktu yang pernah aku impikan.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas