Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 531 : Mertua Kejam



“Ma, masuk dulu!” pinta Lian sambil mengajak mamanya masuk ke dalam rumah.

 

“Nggak perlu!” sahut Mega ketus. Matanya tertuju pada Bellina yang bergeming di tempatnya.

 

Bellina menelan ludah begitu mendapati tatapan mata Mega yang menghunus ke arahnya.

 

“Kenapa? Kamu nggak mau mengakui kesalahan mama kamu itu?” tanya Mega tanpa basa-basi.

 

“Ma, ini nggak ada hubungannya sama Bellina,” jawab Lian.

 

“Apa!? Kamu bilang nggak ada!? Lihat! Dia anaknya perempuan itu. Bahkan, sekarang dia sendiri nggak tahu siapa bapak kandungnya!”

 

Lian menatap Bellina sejenak. Lalu, menoleh kembali ke arah Mega. Ia tidak menyangka kalau berita tentang keluarga Bellina begitu cepat sampai ke telinga mamanya.

 

“Ma, Mama jangan mudah percaya sama rumor yang beredar di luar sana. Ini cuma salah paham,” tutur Lian.

 

Mega tersenyum sinis. “Salah paham? Mama sudah cek ke rumah sakit. Tarudi beneran dirawat di sana. Parahnya lagi, mama lihat dengan mata kepala mama sendiri kalau si Melan itu makan bareng laki-laki lain di restoran. Kamu pikir, mama kamu ini buta, hah!?”

 

Lian terdiam. Ia hanya melirik Bellina yang juga tidak bisa mengelak ucapan Mega.

 

“Kenapa kalian diam? Kalian nggak mau ngomong yang sebenarnya? Mau menutupi semuanya dari mama? Supaya apa? Supaya mama nggak tahu kalau menantu dan besan mama itu nggak becus!?”

 

“Ma, jangan marah-marah dulu! Semua bisa dibicarakan baik-baik!”

 

“Mama nggak akan membiarkan dia dan keluarganya merusak kehormatan keluarga kita. Lian, kamu harus ingat posisimu saat ini! Kalau semua orang tahu, kita punya besan menjijikkan kayak gini. Apa kata dunia!?”

 

“Ma, apa yang terjadi pada Tante Melan, nggak ada hubungannya sama Bellina. Dia hanya harus menanggung perbuatan orang tua di masa lalunya.”

 

Mega tersenyum sinis. “Kamu bilang nggak ada hubungannya? Bellina ini siapa? Anaknya ‘kan? Anak yang bakal ngikutin jejak orang tuanya. Mama mau, kamu ceraikan Bellina sekarang juga!”

 

“Ma, aku nggak bisa ceraikan Bellina gitu aja. Dia istri yang harus aku sayangi dan lindungi. Apalagi, ini semua bukan kesalahan dia.”

 

“Oh, oke.” Mega mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kamu mau nunggu istri kamu ini ketahuan selingkuh dulu, baru kamu mau ceraikan!?”

 

Lian menarik napas dalam-dalam. Ia melirik Bellina yang berdiri di hadapannya.

 

“Kenapa diam? Apa yang bakal kamu lakuin kalau Bellina juga selingkuh di belakang kamu?” tanya Mega. “Kamu masih mau belain istri kamu yang liar ini? Setiap hari, suaminya kerja keras nyari uang. Dia kelayapan ke mana-mana pakai baju seksi. Apa yang dia cari kalau bukan laki-laki lain? Udah jadi istri orang, masih aja gatal!” sahut Mega sambil menatap wajah Bellina.

 

Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak kayak gitu, Ma. Aku cuma ...”

 

“Cuma apa? Cuma nggak bisa nahan gatal kalau berdiam diri di rumah?”

 

“Ma, Bellina pergi ke mana pun, aku selalu tahu. Nggak ada yang dia tutupi dari aku.”

 

Mega tersenyum sinis. “Kamu bisa jamin kalau istri kamu ini jujur, hah!?”

 

Lian terdiam, ia menghela napas sejenak. Tidak tahu bagaimana harus menghadapi mamanya sendiri. Saat masih bersama Yuna, mamanya juga menentang hubungannya dengan wanita itu.

 

“Kalau tahu kelakuan aslinya kayak gini, mama nggak akan mengizinkan kamu menikahi Bellina. Dia yang setiap hari menghasut mama dan mengatakan kalau Yuna itu bukan wanita baik-baik. Kenyataannya, dia wanita yang baik dan pintar mengurus keluarga. Nggak liar kayak Bellina. Kalau tahu kayak gini, lebih baik kamu nikah sama perempuan itu aja!”

 

“Ma, nggak perlu bahas masa lalu! Aku sudah menikahi Bellina, baik dan buruknya akan aku terima.”

 

“Termasuk, kalau dia main gila sama laki-laki lain di belakang kamu? Kamu mau terima?”

 

Lian melirik sejenak ke arah Bellina. Lalu, ia menggelengkan kepalanya.

 

Mega tersenyum sinis sambil menatap Bellina. “Kamu tahu, keluarga Wijaya adalah keluarga baik-baik dan terhormat. Saya nggak mau keluarga kami jadi kotor karena kelakuan kotor kamu dan keluarga kamu itu. Sebagai seorang ibu, saya nggak akan membiarkan siapa pun mempermainkan anak saya!”

 

Bellina menatap Mega dengan mata berkaca-kaca. Ia berpikir kalau Mega diam-diam sudah mengetahui kalau ia sering pergi ke klub dan pernah tidur dengan pria lain.

 

“Mama tetap ingin, kamu menceraikan perempuan ini!” tegas Mega sambil menunjuk Bellina dengan dagunya.

 

Bellina menggelengkan kepala. Ia langsung menghampiri Mega dan berlutut di bawahnya. “Ma, jangan pisahin aku sama Lian!” pintanya sambil menangis pilu.

 

PLAK ...!

 

Mega langsung menampar pipi Bellina yang ada di hadapannya. “Sampai kapan pun, saya nggak akan membiarkan kamu mencoreng nama baik keluarga kami!”

 

Bellina memegangi pipinya yang terasa perih. “Ma, aku nggak ngelakuin apa pun. Aku mohon, jangan pisahkan kami!”

 

“Kamu lupa sama kesalahan-kesalahan yang udah kamu buat kemarin-kemarin?” tanya Mega. “Aku sudah muak sama mulut manis kamu yang penuh kebohongan ini!”

 

“Ma, aku nggak bohong! Aku bener-bener sayang sama Lian. Tolong, Ma! Jangan paksa kami untuk bercerai!”

 

Mega tak menyahut, ia tetap mengangkat dagunya, menunjukkan keangkuhannya sebagai keluarga terhormat.

 

“Hiks ... hiks ....hiks ...! Aku nggak mau pisah sama Lian, Ma. Aku beneran sayang sama dia. Kami saling mencintai. Jangan pisahkan kami! Aku minta maaf soal kelakuan mamaku. Semua ini di luar kuasaku. Aku juga nggak mau hal ini terjadi di keluargaku.”

 

Mega tersenyum sinis. “Buat apa kamu minta maaf atas nama mama kamu? Kamu sendiri, bisa setia sama Lian?”

 

Bellina menganggukkan kepala. “Aku akan setia sama Lian. Nggak akan nyakiti dia, Ma.”

 

“Kalau memang kamu setia sama Lian, kenapa kamu nggak mau ngasih kami keturunan? Apa artinya menantu buat kami kalau nggak bisa memberikan keturunan untuk keluarga Wijaya?”

 

Bibir Bellina gemetaran saat mendengar pertanyaan mama mertuanya. Ia tidak tahu harus bagaimana menyikapi pertanyaan kali ini. Kalau ia mengatakan dirinya tidak bisa hamil, keluarga Wijaya benar-benar akan menendangnya keluar begitu saja.

 

“Kenapa diam!?” sentak Mega.

 

“Ma, kami sudah berusaha. Soal kehamilan, itu bermacam-macam. Bisa lebih cepat atau lambat. Bellina baru saja keguguran beberapa bulan lalu. Kondisi rahimnya masih dalam pemulihan.”

 

Mega tersenyum sinis. “Alasan aja! Mama tetap nggak mau percaya sama perempuan ini. Udah banyak kebohongan yang dia buat selama ini. Kamu tinggal menunggu perempuan ini selingkuh di belakang kamu, baru kamu akan merasakan rasanya menyesal!”

 

Bellina masih tertunduk sambil menangis. Membuat Lian tidak tega melihatnya dan merengkuh tubuh Bellina agar bangkit dari lantai.

 

“Ma, ini urusan rumah tanggaku. Bagaimana ke depannya, akulah yang memutuskan, bukan mama!” tegas Lian.

 

Mega melebarkan kelopak matanya begitu mendengar pembelaan dari Lian. “Kamu lebih memilih perempuan ini dibanding mama kamu sendiri, hah!?”

 

“Ma, aku nggak milih siapa pun. Mama tanggung jawabku, begitu juga dengan Bellina. Apa mama nggak bisa biarkan kami tenang terlebih dahulu. Kami akan berusaha menyelesaikannya.”

 

“Kamu ...!?” Mega mendelik ke arah Lian. Ia semakin membenci Bellina yang telah berhasil mengendalikan putera kesayangannya.

 

“Ma, kejadian ini terlalu tiba-tiba untuk Bellina. Mama kasih kesempatan untuk kami berpikir lebih dulu. Jangan membuat suasana semakin keruh dengan opini-opini baru yang mama ciptakan!”

 

Mega langsung menatap tajam ke arah Lian. Ia langsung bergegas pergi meninggalkan rumah anaknya tersebut.

 

Lian memeluk tubuh Bellina dan membawanya masuk ke rumah. Ia mencoba menenangkan Bellina agar ke depannya bisa bersikap lebih baik lagi.

 

 ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas