“Ma, masuk dulu!” pinta Lian sambil mengajak
mamanya masuk ke dalam rumah.
“Nggak perlu!” sahut Mega ketus. Matanya
tertuju pada Bellina yang bergeming di tempatnya.
Bellina menelan ludah begitu mendapati
tatapan mata Mega yang menghunus ke arahnya.
“Kenapa? Kamu nggak mau mengakui kesalahan
mama kamu itu?” tanya Mega tanpa basa-basi.
“Ma, ini nggak ada hubungannya sama Bellina,”
jawab Lian.
“Apa!? Kamu bilang nggak ada!? Lihat! Dia
anaknya perempuan itu. Bahkan, sekarang dia sendiri nggak tahu siapa bapak
kandungnya!”
Lian menatap Bellina sejenak. Lalu, menoleh
kembali ke arah Mega. Ia tidak menyangka kalau berita tentang keluarga Bellina
begitu cepat sampai ke telinga mamanya.
“Ma, Mama jangan mudah percaya sama rumor
yang beredar di luar sana. Ini cuma salah paham,” tutur Lian.
Mega tersenyum sinis. “Salah paham? Mama
sudah cek ke rumah sakit. Tarudi beneran dirawat di sana. Parahnya lagi, mama
lihat dengan mata kepala mama sendiri kalau si Melan itu makan bareng laki-laki
lain di restoran. Kamu pikir, mama kamu ini buta, hah!?”
Lian terdiam. Ia hanya melirik Bellina yang
juga tidak bisa mengelak ucapan Mega.
“Kenapa kalian diam? Kalian nggak mau ngomong
yang sebenarnya? Mau menutupi semuanya dari mama? Supaya apa? Supaya mama nggak
tahu kalau menantu dan besan mama itu nggak becus!?”
“Ma, jangan marah-marah dulu! Semua bisa
dibicarakan baik-baik!”
“Mama nggak akan membiarkan dia dan
keluarganya merusak kehormatan keluarga kita. Lian, kamu harus ingat posisimu
saat ini! Kalau semua orang tahu, kita punya besan menjijikkan kayak gini. Apa
kata dunia!?”
“Ma, apa yang terjadi pada Tante Melan, nggak
ada hubungannya sama Bellina. Dia hanya harus menanggung perbuatan orang tua di
masa lalunya.”
Mega tersenyum sinis. “Kamu bilang nggak ada
hubungannya? Bellina ini siapa? Anaknya ‘kan? Anak yang bakal ngikutin jejak
orang tuanya. Mama mau, kamu ceraikan Bellina sekarang juga!”
“Ma, aku nggak bisa ceraikan Bellina gitu
aja. Dia istri yang harus aku sayangi dan lindungi. Apalagi, ini semua bukan
kesalahan dia.”
“Oh, oke.” Mega mengangguk-anggukkan
kepalanya. “Kamu mau nunggu istri kamu ini ketahuan selingkuh dulu, baru kamu
mau ceraikan!?”
Lian menarik napas dalam-dalam. Ia melirik
Bellina yang berdiri di hadapannya.
“Kenapa diam? Apa yang bakal kamu lakuin
kalau Bellina juga selingkuh di belakang kamu?” tanya Mega. “Kamu masih mau
belain istri kamu yang liar ini? Setiap hari, suaminya kerja keras nyari uang.
Dia kelayapan ke mana-mana pakai baju seksi. Apa yang dia cari kalau bukan
laki-laki lain? Udah jadi istri orang, masih aja gatal!” sahut Mega sambil
menatap wajah Bellina.
Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak
kayak gitu, Ma. Aku cuma ...”
“Cuma apa? Cuma nggak bisa nahan gatal kalau
berdiam diri di rumah?”
“Ma, Bellina pergi ke mana pun, aku selalu
tahu. Nggak ada yang dia tutupi dari aku.”
Mega tersenyum sinis. “Kamu bisa jamin kalau
istri kamu ini jujur, hah!?”
Lian terdiam, ia menghela napas sejenak.
Tidak tahu bagaimana harus menghadapi mamanya sendiri. Saat masih bersama Yuna,
mamanya juga menentang hubungannya dengan wanita itu.
“Kalau tahu kelakuan aslinya kayak gini, mama
nggak akan mengizinkan kamu menikahi Bellina. Dia yang setiap hari menghasut
mama dan mengatakan kalau Yuna itu bukan wanita baik-baik. Kenyataannya, dia
wanita yang baik dan pintar mengurus keluarga. Nggak liar kayak Bellina. Kalau
tahu kayak gini, lebih baik kamu nikah sama perempuan itu aja!”
“Ma, nggak perlu bahas masa lalu! Aku sudah
menikahi Bellina, baik dan buruknya akan aku terima.”
“Termasuk, kalau dia main gila sama laki-laki
lain di belakang kamu? Kamu mau terima?”
Lian melirik sejenak ke arah Bellina. Lalu,
ia menggelengkan kepalanya.
Mega tersenyum sinis sambil menatap Bellina.
“Kamu tahu, keluarga Wijaya adalah keluarga baik-baik dan terhormat. Saya nggak
mau keluarga kami jadi kotor karena kelakuan kotor kamu dan keluarga kamu itu.
Sebagai seorang ibu, saya nggak akan membiarkan siapa pun mempermainkan anak
saya!”
Bellina menatap Mega dengan mata
berkaca-kaca. Ia berpikir kalau Mega diam-diam sudah mengetahui kalau ia sering
pergi ke klub dan pernah tidur dengan pria lain.
“Mama tetap ingin, kamu menceraikan perempuan
ini!” tegas Mega sambil menunjuk Bellina dengan dagunya.
Bellina menggelengkan kepala. Ia langsung
menghampiri Mega dan berlutut di bawahnya. “Ma, jangan pisahin aku sama Lian!”
pintanya sambil menangis pilu.
PLAK ...!
Mega langsung menampar pipi Bellina yang ada
di hadapannya. “Sampai kapan pun, saya nggak akan membiarkan kamu mencoreng
nama baik keluarga kami!”
Bellina memegangi pipinya yang terasa perih.
“Ma, aku nggak ngelakuin apa pun. Aku mohon, jangan pisahkan kami!”
“Kamu lupa sama kesalahan-kesalahan yang udah
kamu buat kemarin-kemarin?” tanya Mega. “Aku sudah muak sama mulut manis kamu
yang penuh kebohongan ini!”
“Ma, aku nggak bohong! Aku bener-bener sayang
sama Lian. Tolong, Ma! Jangan paksa kami untuk bercerai!”
Mega tak menyahut, ia tetap mengangkat
dagunya, menunjukkan keangkuhannya sebagai keluarga terhormat.
“Hiks ... hiks ....hiks ...! Aku nggak mau
pisah sama Lian, Ma. Aku beneran sayang sama dia. Kami saling mencintai. Jangan
pisahkan kami! Aku minta maaf soal kelakuan mamaku. Semua ini di luar kuasaku.
Aku juga nggak mau hal ini terjadi di keluargaku.”
Mega tersenyum sinis. “Buat apa kamu minta
maaf atas nama mama kamu? Kamu sendiri, bisa setia sama Lian?”
Bellina menganggukkan kepala. “Aku akan setia
sama Lian. Nggak akan nyakiti dia, Ma.”
“Kalau memang kamu setia sama Lian, kenapa
kamu nggak mau ngasih kami keturunan? Apa artinya menantu buat kami kalau nggak
bisa memberikan keturunan untuk keluarga Wijaya?”
Bibir Bellina gemetaran saat mendengar
pertanyaan mama mertuanya. Ia tidak tahu harus bagaimana menyikapi pertanyaan
kali ini. Kalau ia mengatakan dirinya tidak bisa hamil, keluarga Wijaya
benar-benar akan menendangnya keluar begitu saja.
“Kenapa diam!?” sentak Mega.
“Ma, kami sudah berusaha. Soal kehamilan, itu
bermacam-macam. Bisa lebih cepat atau lambat. Bellina baru
saja keguguran beberapa bulan lalu. Kondisi rahimnya masih dalam pemulihan.”
Mega tersenyum sinis. “Alasan aja! Mama tetap
nggak mau percaya sama perempuan ini. Udah banyak kebohongan yang dia buat
selama ini. Kamu tinggal menunggu perempuan ini selingkuh di belakang kamu,
baru kamu akan merasakan rasanya menyesal!”
Bellina masih tertunduk sambil menangis.
Membuat Lian tidak tega melihatnya dan merengkuh tubuh Bellina agar bangkit
dari lantai.
“Ma, ini urusan rumah tanggaku. Bagaimana ke
depannya, akulah yang memutuskan, bukan mama!” tegas Lian.
Mega melebarkan kelopak matanya begitu
mendengar pembelaan dari Lian. “Kamu lebih memilih perempuan ini dibanding mama
kamu sendiri, hah!?”
“Ma, aku nggak milih siapa pun. Mama tanggung
jawabku, begitu juga dengan Bellina. Apa mama nggak bisa biarkan kami tenang
terlebih dahulu. Kami akan berusaha menyelesaikannya.”
“Kamu ...!?” Mega mendelik ke arah Lian. Ia
semakin membenci Bellina yang telah berhasil mengendalikan putera
kesayangannya.
“Ma, kejadian ini terlalu tiba-tiba untuk
Bellina. Mama kasih kesempatan untuk kami berpikir lebih dulu. Jangan membuat
suasana semakin keruh dengan opini-opini baru yang mama ciptakan!”
Mega langsung menatap tajam ke arah Lian. Ia
langsung bergegas pergi meninggalkan rumah anaknya tersebut.
Lian memeluk tubuh Bellina dan membawanya
masuk ke rumah. Ia mencoba menenangkan Bellina agar ke depannya bisa bersikap
lebih baik lagi.
((Bersambung ...))

0 komentar:
Post a Comment