Thursday, February 12, 2026

Perfect Hero Bab 433 : Sengaja Bikin Panas

 


 

 

“Bi, Angga udah datang atau belum?” tanya Yuna sambil menyiapkan bekal makan siang untuk Yeriko. Kali ini, ia sengaja membuat beberapa menu kesukaan suaminya. Ia terlihat sangat bersemangat seperti biasanya.

 

“Belum,” jawab Bibi War sambil membantu Yuna.

 

“Tumben?” tanya Yuna sambil celingukan menatap halaman rumahnya.

 

“Tunggu aja, Mbak! Mungkin, sebentar lagi sampai,” ucap Bibi War.

 

“Iya, juga sih. Takutnya telat, Bi. Ntar Yeriko telat makan siang.”

 

Bibi War tersenyum sambil menatap Yuna. “Mas Yeri sudah biasa begitu.”

 

“Itu kan dulu waktu belum punya istri. Masa, udah punya istri masih telat makan terus? Aku kayak istri yang nggak berguna,” tutur Yuna. Ia mulai gelisah karena Angga tak kunjung muncul.

 

Beberapa menit kemudian, mobil mama mertuanya muncul ke halaman rumahnya. Yuna bergegas keluar dan langsung menghampiri Angga. “Tumben lama banget datangnya?”

 

“Maaf, Nyonya Bos. Jalanan macet.”

 

“Tumben macet?” tanya Yuna sambil masuk ke dalam mobil.

 

“Ada kecelakaan bus.”

 

“Hah!? Terus gimana penumpangnya?”

 

“Nggak papa. Cuma busnya melintang di jalan aja. Bikin macet sebentar.”

 

“Oh. Syukur deh kalo nggak papa.”

 

Angga tersenyum. Ia bergegas menggerakkan setirnya dan keluar dari halaman rumah Yuna.

 

Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai ke kantor Galaxy.

 

“Selamat siang, Bu ...!” sapa beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengan Yuna.

 

“Siang ...!” balas Yuna sambil tersenyum manis. Sudah menjadi hal biasa bagi semua karyawan jika setiap hari ia mengirim makan siang untuk suaminya.

 

Yuna langsung naik ke lantai paling atas. Ia menyusuri koridor, berbelok ke kiri menuju ruang kerja suaminya. Langkahnya kemudian terhenti, ia merasa ada seseorang di belakangnya. Benar saja, saat ia berbalik, Refi sudah ada di belakangnya.

 

“Kamu ngapain di sini?” tanya Yuna.

 

“Yeriko yang minta aku buat ke sini,” jawab Refi sambil tersenyum.

 

“Oh.” Yuna terlihat menanggapinya sangat santai.

 

Refi menatap kesal ke arah Yuna karena tak ada reaksi yang memuaskan hatinya. Ia memerhatikan Yuna yang membawa tas bekal untuk suaminya. “Kamu bawain bekal buat Yeriko?”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Setiap hari aku selalu masak untuk suamiku.”

 

Refi tersenyum sinis. “Masak itu kerjaan pembantu. Kamu nikah sama Yeriko, cuma dijadiin pembantu doang?”

 

Yuna menahan tawa mendengar ucapan Refi. “Walau cuma dijadiin pembantu, setidaknya bisa selalu ada di dekat dia. Setiap hari makan di meja makan yang sama, tidur di ranjang yang sama dan mandi di bathtub yang sama. Pembantu yang sangat beruntung kan?” sahut Yuna sambil tersenyum.

 

Refi langsung mengerutkan wajahnya. Dadanya dipenuhi kebencian setiap kali melihat senyuman dari bibir Yuna.

 

Yuna tersenyum sinis ke arah Refi. “Orang kayak kamu, nggak akan pernah mengerti apa itu arti ketulusan. Memasak itu pekerjaan yang dilakukan dengan penuh cinta. Sebenarnya, Yeriko selalu ngelarang aku masak supaya istrinya tetap santai dan cantik sepanjang hari. Tapi dia lebih bahagia ketika makan masakanku. Jadi aku selalu melakukannya penuh cinta.”

 

Refi mengerutkan hidungnya menatap Yuna. “Kamu mau pamer sama aku?”

 

Yuna tersenyum sambil menatap Refi. “Iya. Karena kamu harus tahu gimana cintanya Yeriko ke aku. Jadi, jangan ngimpi mau ngerusak rumah tangga orang!” Ia berbalik dan melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Yeriko.

 

“Siang, Bu ...!” sapa dua orang sekretaris Yeriko dengan ramah.

 

“Siang juga. Bapak ada di ruangannya?” tanya Yuna.

 

“Masih rapat, Bu. Ibu tunggu saja di dalam!” tutur sekretaris itu dengan ramah.

 

“Oke. Thanks ...! Eh, jangan panggil Ibu terus, dong! Emangnya, aku kelihatan tua ya?” tanya Yuna sambil memegangi wajahnya sendiri.

 

Dua sekretaris itu tertawa kecil. “Nggak, Bu. Masih muda dan cantik. Hanya saja, kami tidak berani selancang itu sama istrinya Pak Bos.”

 

Yuna menghela napas. “Apa suamiku memang sekejam ini? Semua karyawannya takut sama dia,” batin Yuna sambil melenggang masuk ke ruang kerja suaminya.

 

Yuna langsung menyiapkan makan siang untuk suaminya karena waktu istirahatnya hanya tinggal beberapa menit lagi.

 

 

 

Di saat yang sama ...

 

“Pak, Mbak Refi sudah datang dan menunggu Bapak di ruang tunggu,” tutur Riyan saat Yeriko keluar dari ruang rapatnya.

 

“Ruang tunggu mana? Lobi?”

 

Riyan menggelengkan kepala. “Di lantai ruangan Pak Bos.”

 

“Oh, Oke. Istri saya sudah datang?”

 

“Sudah, Pak. Baru masuk ruangan Pak Bos lima menit yang lalu.”

 

Yeriko mengangguk kecil sambil merapikan posisi dasi dan jasnya yang sebenarnya sudah terlihat rapi. Sebelum masuk ke ruangannya, ia lebih dulu menghampiri Refi yang menunggunya di ruang tunggu.

 

“Udah lama nunggu?” tanya Yeriko sambil berdiri di pintu.

 

Refi langsung memutar kepalanya menatap Yeriko. Ia sudah menunggu di sana lebih dari satu jam. “Eh!? Nggak, kok. Udah selesai rapatnya?” tanya Refi sambil bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Yeriko.

 

Yeriko melangkah mundur menghindari tubuh Refi. “Udah. Kita ngobrol di ruanganku aja ya!” perintah Yeriko sambil berbalik dan melangkah menuju ruangannya yang berseberangan dengan ruang tunggu.

 

Refi tersenyum bahagia. Ia buru-buru mengikuti langkah kaki Yeriko. Ia pikir, bisa leluasa mendekati Yeriko jika hanya berduaan di dalam ruangannya.

 

“Selamat siang, Pak Ye!” sapa dua sekretaris Yeriko yang sedang sibuk di mejanya.

 

“Siang. Kalian masih di sini? Nggak pergi makan siang?” tanya Yeriko sambil menyentuh salah satu meja sekretarisnya.

 

Dua sekretaris itu menoleh ke arah Refi yang berdiri di belakang Yeriko. “Sebentar lagi kami ke kantin, Pak.”

 

“Oke. Jangan telat makan! Kalau kalian sakit, saya juga yang repot,” tutur Yeriko.

 

“Baik, Pak!” Dua sekretaris itu menganggukkan kepala.

 

Yeriko tersenyum, ia melangkah santai masuk ke dalam ruangannya sambil memasukkan tangan ke saku celananya.

 

Refi tersenyum manis ke arah dua sekretaris Yeriko. “Kenapa sekretarisnya Yeriko emak-emak semua? Emangnya, nggak ada sekretaris yang lebih cantik dan seksi kayak di tv gitu?” batinnya sambil melangkahkan kakinya menyusul Yeriko.

 

“Sepertinya, bakal ada perang dingin di dalam sana. Pak Bos bawa mantan pacar ketemu sama istrinya. Amazing banget!” tutur salah seorang sekretaris Yeriko.

 

“Biar aja! Kita ke kantin aja! Nggak usah ngurusin urusan pribadinya Pak Bos. Ntar kita di depak dari sini.”

 

Dua sekretaris itu bergegas turun ke kantin yang ada di lantai paling bawah.

 

Yeriko langsung tersenyum begitu melihat punggung Yuna yang sedang sibuk menyiapkan makan siang untuknya.

 

“Udah lama datangnya?” bisik Yeriko sambil memeluk tubuh Yuna dari belakang.

 

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko. “Baru aja, kok,” jawabnya sambil tersenyum.

 

Yeriko meletakkan dagunya di punggung Yuna. “Masak apa hari ini?” tanyanya sambil memainkan ujung hidungnya di pipi dan leher Yuna.

 

“Geli ...!” seru Yuna sambil menahan wajah Yeriko agar tidak bergerak lagi. “Makan, yuk! Aku masak banyak makanan enak hari ini.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengendus bahu Yuna. Tangannya sibuk mengelus-elus perut Yuna yang terasa sangat kencang.

 

“Ay, geli ...!” seru Yuna.

 

“Geli atau nafsu?” tanya Yeriko.

 

Yuna tertawa kecil sambil mencubit pinggang Yeriko. “Nakal banget, sih?”

 

Yeriko ikut tertawa. Ia semakin liar menciumi istrinya.

 

Yuna berusaha berkelit. “Makan siang dulu! Ciumnya nanti lagi!” perintah Yuna sambil menghalau wajah Yeriko dengan telapak tangannya.

 

“Aku maunya sekarang,” tutur Yeriko sambil terus mengejar wajah Yuna.

 

Yuna berusaha menghindari ciuman dari Yeriko yang sedang memeluknya. Ia terus tertawa karena sikap suaminya yang begitu agresif. Namun, ia langsung menghentikan tawanya begitu melihat Refi berdiri tak jauh dari mereka. Ia buru-buru melepas pelukkan dari suaminya.

 

“Refi ...!?” Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko. “Kamu nggak bilang kalau ada tamu?”

 

Yeriko menepuk dahinya. “Lupa,” jawabnya sambil menahan tawa.

 

Refi menatap Yuna dan Yeriko penuh kekesalan. Hanya saja, ia coba menyembunyikan di balik senyuman manis bibirnya. Ia tidak ingin terpancing amarah karena Yuna dan Yeriko yang sengaja menunjukkan kemesraan di hadapannya. Sebisa mungkin, ia bersikap tenang agar menarik perhatian Yeriko seperti yang dia inginkan.

 

“Duduk, Ref!” pinta Yeriko sambil menunjuk sofa yang tak jauh dari hadapan mereka. “Aku lupa kalau ada kamu di belakangku.”

 

“Kamu dateng bareng dia?” tanya Yuna sambil tersenyum menatap Yeriko.

 

Yeriko mengangguk kecil.

 

“Ya udah, kelarin aja urusan kalian dulu!” tutur Yuna sambil mempersilakan suaminya menghampiri Refi.

 

Yeriko mengangguk. Ia tersenyum sambil menarik lengan Yuna untuk duduk bersamanya.

 

Refi semakin kesal melihat Yeriko dan Yuna yang tidak berjarak. Ia semakin kesal karena Yuna selalu menempel pada Yeriko. Namun, ia tidak akan menyerah begitu saja untuk membuat Yuna salah paham dan menghancurkan rumah tangga dua orang yang ada di hadapannya itu.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Buat teman-teman yang nggak suka konflik berat, boleh skip dulu babnya karena akan menuju klimaks. Sapa terus di kolom komentar biar author makin gila semangat menulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas