Thursday, February 12, 2026

Perfect Hero Bab 434 : Misi Refi Gagal Lagi

 


“Yer, kita bisa ngobrol berdua aja?” tanya Refi sambil menatap Yeriko.

 

“Yuna bukan orang lain buat aku. Ngomong aja!”

 

Refi menarik napas dalam-dalam sambil menatap Yeriko.

 

“Ay, aku bikinin teh dulu ya!” tutur Yuna sambil mengangkat pantatnya dari sofa. Ia mencari alasan untuk tidak mendengarkan pembicaraan Refi dan suaminya.

 

Yeriko langsung menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Nggak usah pergi!” tuturnya sambil mengecup ujung kepala Yeriko.

 

Refi tersenyum menatap Yeriko. Ia sangat kesal melihat Yeriko dan Yuna yang memamerkan kemesraan. Namun, ia tak punya pilihan lain karena ini adalah satu-satunya kesempatan untuk membuat Yuna salah paham dengan suaminya.

 

“Kenapa diam? Kalau kamu nggak mau ngomong, aku yang mau ngomong sama kamu,” tutur Yeriko sambil menatap Refi.

 

Refi menarik napas dalam-dalam. “Aku ke sini mau bahas soal video yang aku buat.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu  udah menyadari kesalahan kamu?”

 

“Kamu menganggap ini kesalahan?” tanya Refi.

 

“Terus apa? Kehebohan?”

 

Refi terdiam sejenak.

 

“Apa yang sebenarnya kamu mau, Ref? Kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Buat apa kamu bikin video kayak gitu dan bikin heboh semua orang?”

 

Refi tersenyum menanggapi pertanyaan Yeriko. “Aku cuma mau bikin kenang-kenangan tentang cerita cinta kita.”

 

Yuna tersenyum sinis ke arah Refi. Ia sangat kesal dengan sikap Refi yang begitu menjijikkan.

 

Yeriko menarik napas sambil memejamkan matanya. Ia teringat tiga tahun lalu saat berlutut di hadapan Refi, memohonnya untuk tidak pergi meninggalkan dirinya. Tapi, Refi tetap pergi demi mengejar karir dan impiannya.

 

“Yer, aku tahu ... nggak mudah untuk ngelupain semua kenangan yang terjadi di antara kita. Terlalu banyak hal manis yang udah kita lalui bareng. Bahkan, tahun kemarin kamu masih ngucapin ulang tahun buat aku.”

 

Yeriko terdiam, tatapannya terlihat santai. Namun tak menyanggah ucapan Refi.

 

Yuna meremas bajunya sendiri saat melihat Refi menatap suaminya penuh cinta.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil melirik Yuna. Tangannya yang melingkar ke perut Yuna, terus mengelus lembut perut Yuna yang sedang mengandung anaknya.

 

“Apa pun yang terjadi di masa lalu kita. Anggap aja, kita nggak pernah melewatinya,” tutur Yeriko.

 

Yuna langsung menatap wajah Yeriko. Ia tak bisa membaca apa yang dirasakan suaminya saat ini. “Apa kamu terluka sama masa lalu kamu?” tanya Yuna dalam hati.

 

Refi tersenyum. “Aku nggak akan bisa ngelupain semuanya. Selama aku masih hidup, nggak akan bisa melupakan apa yang sudah terjadi di antara kita. Aku yakin, dalam hati kecil kamu juga seperti itu ‘kan?”

 

Yeriko tertawa kecil sambil memijat keningnya. “Kamu nggak usah ngimpi! Aku nggak pernah menganggap itu semua sebagai sesuatu yang spesial.”

 

“Aku yang akan menganggap itu semua spesial. Aku harap, kamu cuma tersesat sementara dan mau kembali ke keadaan seperti dulu lagi. Keadaan di mana kita saling mencintai dan menyayangi.”

 

“Ref, aku udah nikah. Kamu nggak bisa jadi perempuan yang lebih bermartabat sedikit aja? Nggak perlu ganggu rumah tangga orang. Di luar sana, masih ada banyak cowok yang mau sama kamu. Kamu cantik, terkenal dan berbakat. Nggak susah buat cari penggantiku,” tutur Yeriko.

 

“Aku nggak akan ganggu rumah tangga kalian, kok,” ucap Refi sambil tersenyum.

 

Yuna menatap kesal ke arah Refi. “Jelas-jelas, tadi kamu bilang mau ambil Yeriko dari aku!” ucapnya dalam hati.

 

“Yer, kita pernah saling mencintai. Sampai sekarang, aku masih cinta sama kamu. Aku harap, kamu nggak pernah benar-benar melupakan cinta kita meskipun kamu sudah bersama dengan wanita lain,” ucap Refi.

 

Yeriko menggelengkan kepalanya. “Aku memang pernah cinta sama kamu. Itu dulu. Sebelum kamu mencampakkan aku begitu aja.”

 

“Maafin aku ...! Kalau waktu bisa diputar lagi, aku nggak mau meninggalkan kamu dan membiarkan kamu menunggu.”

 

“Udah, Ref!” seru Yeriko. “Sekarang, apa mau kamu?” tanya Yeriko. “Nggak usah kebanyakan basa-basi!” lanjutnya menahan kesal.

 

Refi menghela napas. “Aku cuma mau ... kamu jujur sama aku kalau kamu masih cinta sama aku, Yer.”

 

“Aku? Cinta sama kamu? Ck, kamu ngerti bahasa manusia ‘kan? Cintaku buat kamu udah nggak ada sejak tiga tahun lalu waktu kamu memilih untuk pergi ke Paris. Yang nggak punya perasaan itu kamu!?” sentak Yeriko sambil bangkit dari duduknya.

 

Yuna langsung menahan lengan Yeriko agar duduk kembali. “Sabar, Ay!” bisiknya lirih.

 

“Yer, aku pergi ke Paris untuk mengejar impianku. Supaya aku bisa sukses dan layak berada di samping kamu.”

 

Yeriko tersenyum sinis. “Saat kamu udah sukses di sana. Apa kamu pernah mikirin keadaanku?”

 

Refi langsung menatap mata Yeriko. “Yer, aku selalu mikirin kamu. Aku pikir, kamu akan tetap setia menunggu aku kembali. Bukannya malah menikahi wanita lain.”

 

“Aku nggak pernah menyesali keputusanku sendiri. Aku menikahi Yuna karena aku mencintai dia.”

 

Refi tersenyum sinis. “Kamu yakin? Bukannya kamu jadiin dia sebagai pelampiasan karena kamu nggak bisa lupain aku?”

 

“Itu asumsi kamu sendiri. Kalau cuma sebagai pelampiasan, aku nggak perlu menikahi Yuna. Di luar sana, banyak perempuan yang mau ditiduri tanpa harus menikah.”

 

Refi terdiam. Kalimat Yeriko tepat menusuk jantungnya. Ia tidak bisa berkata-kata. Namun, ia tersenyum saat melihat Yuna juga diam. Ia harap, Yuna akan semakin ragu dengan perasaan Yeriko sehingga ia bisa dengan mudah memisahkan keduanya.

 

“Ref, dramamu itu bagus banget. Kamu pikir, aku nggak tahu apa maksud kamu ngomong kayak gini? Kamu mau bikin kami berantem?” tanya Yuna kesal.

 

Refi membelalakkan matanya. “Bukan itu maksud aku, Yun. Aku cuma mau mengungkapkan perasaan antara aku dan suami kamu. Aku kasihan sama kamu karena Yeriko cuma manfaatin kamu doang untuk pelampiasan.”

 

Yuna tersenyum sinis. “Aku nggak percaya sama semua yang kamu omongin. Aku lebih percaya sama suamiku.”

 

“Nggak usah naif, Yun. Suatu saat, kamu bakal ngerasain kalau suami kamu ini nggak beneran cinta sama kamu,” tutur Refi kesal.

 

“Aku yang ngerasain, suamiku cinta sama aku atau enggak. Kamu nggak usah terlalu peduli sama perasaanku. Lebih baik, kamu urus diri kamu sendiri. Cari cowok lain yang mau sama kamu. Bukannya ganggu rumah tangga orang!”

 

Refi langsung bangkit dari tempat duduk sambil menunjuk wajah Yuna. “Kamu ...!? Kamu yang udah ngerusak hubungan aku sama Yeriko. Sekarang, kamu malah ngatain aku ngerusak rumah tangga kamu. Kamu sadar nggak kalau udah ngerebut Yeriko dari aku!”

 

“Aku nggak ngerebut Yeriko, Ref. Ish ... kenapa sih otak kamu ini pikirannya selalu aneh. Kamu tahu banget kalau Yeriko nggak ada hubungan dengan siapa pun saat menikah sama aku. Kamu udah putus sama dia. Kenapa masih aja ngotot mau balik lagi saat dia udah nikah sama aku?”

 

“Karena Yeriko masih cinta sama aku kalau kamu nggak kecentilan godain dia!” seru Refi.

 

Yeriko menggaruk keningnya yang tidak gatal, ia hanya tersenyum kecil melihat perdebatan istri dan mantan pacarnya itu.

 

“Ref, kamu nggak usah racuni otak istriku!” pinta Yeriko lembut sambil menatap tajam ke arah Refi. “Aku yang jatuh cinta lebih dulu sama dia sejak pertama kami ketemu.”

 

“Aku nggak percaya. Bukannya kamu cuma cinta sama aku, Yer.”

 

“Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah ... pernah cinta sama kamu!” tegas Yeriko. Ia semakin kesal, tidak tahan melihat tingkah Refi yang semakin menggila. Ia takut, kalimat yang keluar dari mulut Refi akan mengganggu perasaan istrinya.

 

Refi menatap Yeriko dengan mata berkaca-kaca. “Kamu setega ini sama aku? Aku juga punya hati, Yer. Gimana kalau Yuna yang ada di posisi aku? Kamu saat ini cinta banget sama dia. Bisa jadi, suatu saat Yuna kamu ginikan juga.”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna sambil memeluk erat tubuh istrinya itu. Ia khawatir, Refi benar-benar mempengaruhi pemikiran Yuna. “Pergi dari sini, Ref!” pinta Yeriko.

 

Refi tersenyum sinis. Ia sudah gagal membuat Yuna salah paham, tapi ia tidak akan menyerah begitu saja.

 

“RIYAN ...!” teriak Yeriko.

 

Riyan langsung beregegas masuk ke dalam ruangannya. “Ada apa, Pak Bos?”

 

“Bawa perempuan ini keluar dari sini!” perintah Yeriko sambil menunjuk Refi dengan dagunya.

 

“Baik, Pak Bos!” Riyan langsung meraih lengan Refi untuk membawa gadis itu keluar.

 

Refi menepiskan tangan Riyan. “Aku bisa keluar sendiri!” ucapnya kesal.

 

Yeriko memberi isyarat dengan tangannya agar Refi segera pergi dari ruangannya.

 

Refi menatap tajam ke arah Yeriko. “Yer, aku udah berusaha menjaga bersikap baik sama kamu dan istrimu. Tapi, kamu masih aja memperlakukan aku kayak gini. Aku nggak terima kalian perlakukan seperti ini. Aku bakal balas apa yang sudah kamu lakuin ke aku! Aku bakal bikin Yuna ngerasain apa yang udah aku rasain!” ancamnya sambil melirik Yuna.

 

“Kalau kamu berani menyentuh istri dan anakku, aku nggak akan pernah maafin kamu seumur hidup!” balas Yeriko sambil menunjuk wajah kamu.

 

“Aku nggak perlu maaf kamu. Asal bisa lihat kalian menderita, aku udah puas!” seru Refi.

 

“Yan, cepet bawa dia pergi dari sini!” Yeriko tak sabar melihat Refi yang masih ada di ruangannya.

 

Riyan akhirnya memaksa Refi keluar dari ruangan tersebut.

 

Refi terus memaki Yuna dan Yeriko sambil keluar. Ia sangat kesal karena Yeriko memperlakukan dirinya seperti orang yang tak punya hati. Ia berniat untuk membalas semuanya dan membuat Yuna benar-benar menderita.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Buat teman-teman yang nggak suka konflik berat, boleh skip dulu babnya karena akan menuju klimaks. Sapa terus di kolom komentar biar author makin gila semangat menulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas