“Yer,
kita bisa ngobrol berdua aja?” tanya Refi sambil menatap Yeriko.
“Yuna
bukan orang lain buat aku. Ngomong aja!”
Refi
menarik napas dalam-dalam sambil menatap Yeriko.
“Ay,
aku bikinin teh dulu ya!” tutur Yuna sambil mengangkat pantatnya dari sofa. Ia
mencari alasan untuk tidak mendengarkan pembicaraan Refi dan suaminya.
Yeriko
langsung menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Nggak usah pergi!” tuturnya
sambil mengecup ujung kepala Yeriko.
Refi
tersenyum menatap Yeriko. Ia sangat kesal melihat Yeriko dan Yuna yang
memamerkan kemesraan. Namun, ia tak punya pilihan lain karena ini adalah
satu-satunya kesempatan untuk membuat Yuna salah paham dengan suaminya.
“Kenapa
diam? Kalau kamu nggak mau ngomong, aku yang mau ngomong sama kamu,” tutur
Yeriko sambil menatap Refi.
Refi
menarik napas dalam-dalam. “Aku ke sini mau bahas soal video yang aku buat.”
Yeriko
mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu udah menyadari kesalahan kamu?”
“Kamu
menganggap ini kesalahan?” tanya Refi.
“Terus
apa? Kehebohan?”
Refi
terdiam sejenak.
“Apa
yang sebenarnya kamu mau, Ref? Kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Buat
apa kamu bikin video kayak gitu dan bikin heboh semua orang?”
Refi
tersenyum menanggapi pertanyaan Yeriko. “Aku cuma mau bikin kenang-kenangan
tentang cerita cinta kita.”
Yuna
tersenyum sinis ke arah Refi. Ia sangat kesal dengan sikap Refi yang begitu
menjijikkan.
Yeriko
menarik napas sambil memejamkan matanya. Ia teringat tiga tahun lalu saat
berlutut di hadapan Refi, memohonnya untuk tidak pergi meninggalkan dirinya.
Tapi, Refi tetap pergi demi mengejar karir dan impiannya.
“Yer,
aku tahu ... nggak mudah untuk ngelupain semua kenangan yang terjadi di antara
kita. Terlalu banyak hal manis yang udah kita lalui bareng. Bahkan, tahun
kemarin kamu masih ngucapin ulang tahun buat aku.”
Yeriko
terdiam, tatapannya terlihat santai. Namun tak menyanggah ucapan Refi.
Yuna
meremas bajunya sendiri saat melihat Refi menatap suaminya penuh cinta.
Yeriko
tersenyum kecil sambil melirik Yuna. Tangannya yang melingkar ke perut Yuna,
terus mengelus lembut perut Yuna yang sedang mengandung anaknya.
“Apa
pun yang terjadi di masa lalu kita. Anggap aja, kita nggak pernah melewatinya,”
tutur Yeriko.
Yuna
langsung menatap wajah Yeriko. Ia tak bisa membaca apa yang dirasakan suaminya
saat ini. “Apa kamu terluka sama masa lalu kamu?” tanya Yuna dalam hati.
Refi
tersenyum. “Aku nggak akan bisa ngelupain semuanya. Selama aku masih hidup,
nggak akan bisa melupakan apa yang sudah terjadi di antara kita. Aku yakin,
dalam hati kecil kamu juga seperti itu ‘kan?”
Yeriko
tertawa kecil sambil memijat keningnya. “Kamu nggak usah ngimpi! Aku nggak
pernah menganggap itu semua sebagai sesuatu yang spesial.”
“Aku
yang akan menganggap itu semua spesial. Aku harap, kamu cuma tersesat sementara
dan mau kembali ke keadaan seperti dulu lagi. Keadaan di mana kita saling
mencintai dan menyayangi.”
“Ref,
aku udah nikah. Kamu nggak bisa jadi perempuan yang lebih bermartabat sedikit
aja? Nggak perlu ganggu rumah tangga orang. Di luar sana, masih ada banyak
cowok yang mau sama kamu. Kamu cantik, terkenal dan berbakat. Nggak susah buat
cari penggantiku,” tutur Yeriko.
“Aku
nggak akan ganggu rumah tangga kalian, kok,” ucap Refi sambil tersenyum.
Yuna
menatap kesal ke arah Refi. “Jelas-jelas, tadi kamu bilang mau ambil Yeriko
dari aku!” ucapnya dalam hati.
“Yer,
kita pernah saling mencintai. Sampai sekarang, aku masih cinta sama kamu. Aku
harap, kamu nggak pernah benar-benar melupakan cinta kita meskipun kamu sudah
bersama dengan wanita lain,” ucap Refi.
Yeriko
menggelengkan kepalanya. “Aku memang pernah cinta sama kamu. Itu dulu. Sebelum
kamu mencampakkan aku begitu aja.”
“Maafin
aku ...! Kalau waktu bisa diputar lagi, aku nggak mau meninggalkan kamu dan
membiarkan kamu menunggu.”
“Udah,
Ref!” seru Yeriko. “Sekarang, apa mau kamu?” tanya Yeriko. “Nggak usah
kebanyakan basa-basi!” lanjutnya menahan kesal.
Refi
menghela napas. “Aku cuma mau ... kamu jujur sama aku kalau kamu masih cinta
sama aku, Yer.”
“Aku?
Cinta sama kamu? Ck, kamu ngerti bahasa manusia ‘kan? Cintaku buat kamu udah
nggak ada sejak tiga tahun lalu waktu kamu memilih untuk pergi ke Paris. Yang
nggak punya perasaan itu kamu!?” sentak Yeriko sambil bangkit dari duduknya.
Yuna
langsung menahan lengan Yeriko agar duduk kembali. “Sabar, Ay!” bisiknya lirih.
“Yer,
aku pergi ke Paris untuk mengejar impianku. Supaya aku bisa sukses dan layak
berada di samping kamu.”
Yeriko
tersenyum sinis. “Saat kamu udah sukses di sana. Apa kamu pernah mikirin
keadaanku?”
Refi
langsung menatap mata Yeriko. “Yer, aku selalu mikirin kamu. Aku pikir, kamu
akan tetap setia menunggu aku kembali. Bukannya malah menikahi wanita lain.”
“Aku
nggak pernah menyesali keputusanku sendiri. Aku menikahi Yuna karena aku
mencintai dia.”
Refi
tersenyum sinis. “Kamu yakin? Bukannya kamu jadiin dia sebagai pelampiasan
karena kamu nggak bisa lupain aku?”
“Itu
asumsi kamu sendiri. Kalau cuma sebagai pelampiasan, aku nggak perlu menikahi
Yuna. Di luar sana, banyak perempuan yang mau ditiduri tanpa harus menikah.”
Refi
terdiam. Kalimat Yeriko tepat menusuk jantungnya. Ia tidak bisa berkata-kata.
Namun, ia tersenyum saat melihat Yuna juga diam. Ia harap, Yuna akan semakin
ragu dengan perasaan Yeriko sehingga ia bisa dengan mudah memisahkan keduanya.
“Ref,
dramamu itu bagus banget. Kamu pikir, aku nggak tahu apa maksud kamu ngomong
kayak gini? Kamu mau bikin kami berantem?” tanya Yuna kesal.
Refi
membelalakkan matanya. “Bukan itu maksud aku, Yun. Aku cuma mau mengungkapkan
perasaan antara aku dan suami kamu. Aku kasihan sama kamu karena Yeriko cuma
manfaatin kamu doang untuk pelampiasan.”
Yuna
tersenyum sinis. “Aku nggak percaya sama semua yang kamu omongin. Aku lebih
percaya sama suamiku.”
“Nggak
usah naif, Yun. Suatu saat, kamu bakal ngerasain kalau suami kamu ini nggak
beneran cinta sama kamu,” tutur Refi kesal.
“Aku
yang ngerasain, suamiku cinta sama aku atau enggak. Kamu nggak usah terlalu
peduli sama perasaanku. Lebih baik, kamu urus diri kamu sendiri. Cari cowok
lain yang mau sama kamu. Bukannya ganggu rumah tangga orang!”
Refi
langsung bangkit dari tempat duduk sambil menunjuk wajah Yuna. “Kamu ...!? Kamu
yang udah ngerusak hubungan aku sama Yeriko. Sekarang, kamu malah ngatain aku
ngerusak rumah tangga kamu. Kamu sadar nggak kalau udah ngerebut Yeriko dari
aku!”
“Aku
nggak ngerebut Yeriko, Ref. Ish ... kenapa sih otak kamu ini pikirannya selalu
aneh. Kamu tahu banget kalau Yeriko nggak ada hubungan dengan siapa pun saat
menikah sama aku. Kamu udah putus sama dia. Kenapa masih aja ngotot mau balik
lagi saat dia udah nikah sama aku?”
“Karena
Yeriko masih cinta sama aku kalau kamu nggak kecentilan godain dia!” seru Refi.
Yeriko
menggaruk keningnya yang tidak gatal, ia hanya tersenyum kecil melihat
perdebatan istri dan mantan pacarnya itu.
“Ref,
kamu nggak usah racuni otak istriku!” pinta Yeriko lembut sambil menatap tajam
ke arah Refi. “Aku yang jatuh cinta lebih dulu sama dia sejak pertama kami
ketemu.”
“Aku
nggak percaya. Bukannya kamu cuma cinta sama aku, Yer.”
“Kesalahan
terbesar dalam hidupku adalah ... pernah cinta sama kamu!” tegas Yeriko. Ia
semakin kesal, tidak tahan melihat tingkah Refi yang semakin menggila. Ia
takut, kalimat yang keluar dari mulut Refi akan mengganggu perasaan istrinya.
Refi
menatap Yeriko dengan mata berkaca-kaca. “Kamu setega ini sama aku? Aku juga
punya hati, Yer. Gimana kalau Yuna yang ada di posisi aku? Kamu saat ini cinta
banget sama dia. Bisa jadi, suatu saat Yuna kamu ginikan juga.”
Yeriko
langsung menoleh ke arah Yuna sambil memeluk erat tubuh istrinya itu. Ia
khawatir, Refi benar-benar mempengaruhi pemikiran Yuna. “Pergi dari sini, Ref!”
pinta Yeriko.
Refi
tersenyum sinis. Ia sudah gagal membuat Yuna salah paham, tapi ia tidak akan
menyerah begitu saja.
“RIYAN
...!” teriak Yeriko.
Riyan
langsung beregegas masuk ke dalam ruangannya. “Ada apa, Pak Bos?”
“Bawa
perempuan ini keluar dari sini!” perintah Yeriko sambil menunjuk Refi dengan
dagunya.
“Baik,
Pak Bos!” Riyan langsung meraih lengan Refi untuk membawa gadis itu keluar.
Refi
menepiskan tangan Riyan. “Aku bisa keluar sendiri!” ucapnya kesal.
Yeriko
memberi isyarat dengan tangannya agar Refi segera pergi dari ruangannya.
Refi
menatap tajam ke arah Yeriko. “Yer, aku udah berusaha menjaga bersikap baik
sama kamu dan istrimu. Tapi, kamu masih aja memperlakukan aku kayak gini. Aku
nggak terima kalian perlakukan seperti ini. Aku bakal balas apa yang sudah kamu
lakuin ke aku! Aku bakal bikin Yuna ngerasain apa yang udah aku rasain!”
ancamnya sambil melirik Yuna.
“Kalau
kamu berani menyentuh istri dan anakku, aku nggak akan pernah maafin kamu
seumur hidup!” balas Yeriko sambil menunjuk wajah kamu.
“Aku
nggak perlu maaf kamu. Asal bisa lihat kalian menderita, aku udah puas!” seru
Refi.
“Yan,
cepet bawa dia pergi dari sini!” Yeriko tak sabar melihat Refi yang masih ada
di ruangannya.
Riyan
akhirnya memaksa Refi keluar dari ruangan tersebut.
Refi
terus memaki Yuna dan Yeriko sambil keluar. Ia sangat kesal karena Yeriko
memperlakukan dirinya seperti orang yang tak punya hati. Ia berniat untuk
membalas semuanya dan membuat Yuna benar-benar menderita.
((Bersambung ...))
Thanks udah dukung cerita ini terus.
Buat teman-teman yang nggak suka konflik berat, boleh
skip dulu babnya karena akan menuju klimaks. Sapa terus di kolom komentar biar
author makin gila semangat menulisnya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment