“Akhirnya
... dia nelpon dan mau ketemuan sama aku!” seru Refi sambil merebahkan tubuhnya
ke atas kasur. Refi terus tersenyum bahagia sambil memeluk ponselnya.
“Mmh
... aku pakai baju yang mana ya?” Ia bangkit dari tempat tidur. Melangkah
menuju lemari dan mengeluarkan semua koleksi pakaiannya. Ia ingin Yeriko
melihat dirinya kembali seperti dulu. Karenanya, ia harus mengenakan pakaian
yang bisa menarik perhatian Tuan Muda itu.
Sepanjang
malam, Refi sibuk memilih pakaian yang akan ia kenakan saat bertemu dengan
Yeriko. Membuat ia tertidur bersama semua pakaian yang ia keluarkan dari dalam
lemari saat menjelang pagi.
“Aargh
...!” Refi langsung berteriak saat membuka mata dan melihat jam yang ada di
ponselnya. Ia baru membuka matanya kembali saat sudah jam sepuluh pagi.
Alhasil, ia terburu-buru untuk mandi dan make-up.
“Mau
ke mana?” tanya Deny yang sudah ada di depan pintu apartemen saat Refi baru
saja membuka pintu untuk pergi.
“Mau
ke Galaxy,” jawab Refi sambil memasang sepatunya dengan terburu-buru.
“Kenapa
pakai baju kayak gini?” tanya Deny sambil memerhatikan tubuh Refi dari ujung
kepala hingga ke ujung kaki. Ia melihat bagian dada dan punggung Refi yang
terbuka lebar.
“Emangnya
kenapa? Ada yang salah?”
“Kamu
tahu kalau kantor perusahaan itu semua karyawannya pakai pakaian yang formal
dan sopan. Ini terlalu seksi. Kayak mau ke klub malam aja,” tutur Deny.
“Den,
aku ini artis. Wajar aja kalau aku pakai baju gini. Kalo aku pake baju formal
kayak orang kantoran, Yeriko nggak bakal tergoda. Harus tampil cantik dan seksi
supaya bisa bikin dia tertarik sama aku lagi,” cerocos Refi.
Deny
langsung mendorong tubuh Refi, masuk kembali ke dalam apartemen tersebut.
“Ganti, Ref!” perintahnya.
“Kenapa?
Aku biasa kayak gini, Den.”
“Ck,
kamu ini masih nggak ngerti juga. Tuan Muda itu nggak akan tergoda dengan
pakaian seksi kayak gini. Istrinya aja udah putih mulus kayak gitu. Kamu mau
telanjang di depan dia pun, dia nggak akan tergoda.”
“Kamu
malah perhatiin perempuan jalang yang udah ngerebut Yeriko dari aku?
Jangan-jangan, kamu juga tergoda sama dia?”
Deny
tertawa kecil. “Kenapa? Kamu cemburu? Udah mulai jatuh cinta sama aku?”
“Nggak
akan jatuh cinta sama kamu!” seru Refi.
Deny
tertawa kecil. “Nggak masalah. Yang penting bisa puasin aku kapan pun aku mau.
Cinta nggak penting, yang penting nikmat.”
“Kamu
...!?” Refi mendelik ke arah Deny sambil menunjuk wajah pria itu.
Deny
tersenyum puas menatap Refi. “Kenapa? Kamu menikmatinya juga ‘kan?”
Refi
menghentakkan kaki, ia segera kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
“Antarin
aku ke Galaxy!” perintah Refi usai mengganti pakaiannya.
Deny
tersenyum dan bangkit dari duduknya. Mereka bergegas pergi ke kantor Galaxy
Group untuk bertemu dengan Yeriko.
Sesampainya
di kantor Galaxy Group, Refi tak mendapat sambutan baik. Semua karyawan yang
ada di kantor tersebut sudah sangat mengenal Refi yang selalu berulah.
Sehingga, banyak dari mereka yang mencibir. Memasang wajah tak bersahabat saat
Refi memasuki kantor tersebut.
“Selamat
pagi ...!” sapa Refi pada resepsionis yang berjaga sambil melepas kacamatanya.
Ia memasang senyuman paling manis di dunia.
“Pagi
...!” balas resepsionis tersebut dengan wajah tak bersahabat.
“Yeriko
ada di ruangannya?” tanya Refi.
“Maaf,
Bu. Pak Yeri sedang rapat dan tidak bisa diganggu.”
“Aku
udah janjian mau ketemu sama dia. Kenapa kamu halang-halangin?” tanya Refi.
“Saya
tidak menghalangi. Pak Yeri memang sedang rapat.”
“Ya
udah. Kasih tahu sama bos kamu kalau aku udah datang! Dia yang nyuruh aku ke
kantor ini,” perintah Refi dengan gaya angkuhnya.
“Sebentar,
Bu!” pinta resepsionis tersebut sambil menelepon.
“Gimana?”
tanya Refi begitu resepsionis tersebut mematikan teleponnya.
“Silakan
tunggu sebentar. Mas Riyan akan segera ke sini.”
“Oke.”
Refi mengedarkan pandangannya. Ia menatap langit-langit ruangan di lobi
tersebut yang tingginya sekitar tujuh meter lebih. Dihiasi dengan lampu-lampu
bergaya retro yang dihiasi dengan fitting pentagonal. Ada deretan sofa mewah
yang bisa digunakan untuk menunggu, membuat kantor tersebut terlihat sangat
mewah dan berkelas. E
“Hmm
... andai aku yang jadi istrinya Yeriko, gedung ini sudah pasti jadi milikku,”
batin Refi sambil tersenyum. Ia terus membayangkan kehidupan bahagianya bersama
Tuan Muda pewaris Galaxy Group tersebut.
“Selamat
pagi, Mbak Refi!” sapaan dari Riyan membuyarkan lamunan Refi.
Refi
langsung menoleh ke arah Riyan. “Eh, Riyan? Gimana? Yeriko udah ngasih tahu
kalau dia nyuruh aku ke sini?”
Riyan
menganggukkan kepala. “Tapi, Pak Bos masih meeting. Mbak Refi terlambat dari
waktu yang sudah dijanjikan Pak Bos. Jadi, Mbak Refi bisa tunggu dulu di lantai
ruangan Pak Bos.”
Refi
mengangguk. “Oke. Thanks!” Ia sangat senang karena Yeriko masih memberinya
kesempatan walau ia terlambat beberapa menit dari waktu yang telah ditentukan.
Ia bersedia menunggu sampai Yeriko selesai rapat.
“Ayo,
ikuti saya!” pinta Riyan sambil melangkahkan kakinya menuju lift.
Beberapa
menit kemudian, Riyan dan Refi sudah sampai di lantai dua puluh lima. Lantai
gedung berukuran seratus meter persegi di paling atas adalah kekuasaan Yeriko.
Semua fasilitas yang ada di sana hanya milik Yeriko dan tidak semua orang
memiliki akses bebas untuk masuk ke lantai tersebut.
Begitu
keluar dari lift, Refi langsung menyusuri lorong sepanjang sepuluh meter.
Kemudian, ia berbelok ke kanan bersama dengan Riyan.
“Mbak
Refi bisa duduk di sini terlebih dahulu sambil menunggu Pak Bos selesai rapat,”
tutur Riyan sambil mengajak Refi untuk masuk ke ruangan tersebut.
Refi
menganggukkan kepala. “Thanks ...!”
Riyan
mengangguk. “Kalau gitu, saya permisi dulu!” pamit Riyan. Ia berlalu pergi
meninggalkan Refi dan masuk ke lorong sebelah kiri untuk menyapa dua sekretaris
Yeriko yang ada di sana.
Sebelum
mencapai ruang kerja Yeriko, semua orang akan melewati dua orang sekretaris
yang bekerja di sana. Juga ruangan Riyan, asisten pribadi yang pintu
ruangannya tak jauh dari ruangan bosnya.
“Bu,
di ruang tunggu ada Mbak Refi. Jangan sampai dia masuk ke ruangan Pak Bos
sebelum Pak Bos datang!” tutur Riyan pada dua sekretaris yang ada di sana.
“Siap,
Pak Riyan!”
“Mbak
Refi yang artis itu?” tanya sekretaris yang satunya lagi.
Riyan
menganggukkan kepala. “Kalian tahu kalau Pak Bos nggak suka sama dia. Jangan
sampai dia bikin onar sebelum Pak Bos datang. Apa aja yang dia minta, kasih
aja! Kecuali masuk ke ruang kerja Pak Bos!”
“Oke.”
Dua sekretaris itu mengacungkan jempol bersamaan.
Riyan
tersenyum, ia bergegas masuk ke ruangannya dan kembali mengerjakan pekerjaannya
seperti biasa.
Refi
mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ruangan bernuansa putih emas itu
benar-benar menunjukkan selera Yeriko yang mewah dan sempurna. Refi
memerhatikan design interior dari ruangan berukuran tujuh meter persegi
tersebut.
“Kantor
ini mewah banget! Harusnya, aku bisa jadi nyonya di kantor ini. Aku pasti bisa
ngerebut Yeriko lagi!” tutur Refi penuh percaya diri.
Refi
masih saja membayangkan dan berharap kalau dirinya bisa kembali bersama Yeriko.
Sementara, ia tidak mengetahui kalau Yeriko dan Yuna sengaja mempermainkan
dirinya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar Author makin semangat buat update bab setiap
hari. Jangan lupa sapa di kolom komentar ya! Big thanks buat yang udah kasih
hadiah untuk cerita ini.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment