Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 432 : Semakin Terobsesi

 


“Akhirnya ... dia nelpon dan mau ketemuan sama aku!” seru Refi sambil merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Refi terus tersenyum bahagia sambil memeluk ponselnya.

 

“Mmh ... aku pakai baju yang mana ya?” Ia bangkit dari tempat tidur. Melangkah menuju lemari dan mengeluarkan semua koleksi pakaiannya. Ia ingin Yeriko melihat dirinya kembali seperti dulu. Karenanya, ia harus mengenakan pakaian yang bisa menarik perhatian Tuan Muda itu.

 

Sepanjang malam, Refi sibuk memilih pakaian yang akan ia kenakan saat bertemu dengan Yeriko. Membuat ia tertidur bersama semua pakaian yang ia keluarkan dari dalam lemari saat menjelang pagi.

 

“Aargh ...!” Refi langsung berteriak saat membuka mata dan melihat jam yang ada di ponselnya. Ia baru membuka matanya kembali saat sudah jam sepuluh pagi. Alhasil, ia terburu-buru untuk mandi dan make-up.

 

“Mau ke mana?” tanya Deny yang sudah ada di depan pintu apartemen saat Refi baru saja membuka pintu untuk pergi.

 

“Mau ke Galaxy,” jawab Refi sambil memasang sepatunya dengan terburu-buru.

 

“Kenapa pakai baju kayak gini?” tanya Deny sambil memerhatikan tubuh Refi dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Ia melihat bagian dada dan punggung Refi yang terbuka lebar.

 

“Emangnya kenapa? Ada yang salah?”

 

“Kamu tahu kalau kantor perusahaan itu semua karyawannya pakai pakaian yang formal dan sopan. Ini terlalu seksi. Kayak mau ke klub malam aja,” tutur Deny.

 

“Den, aku ini artis. Wajar aja kalau aku pakai baju gini. Kalo aku pake baju formal kayak orang kantoran, Yeriko nggak bakal tergoda. Harus tampil cantik dan seksi supaya bisa bikin dia tertarik sama aku lagi,” cerocos Refi.

 

Deny langsung mendorong tubuh Refi, masuk kembali ke dalam apartemen tersebut. “Ganti, Ref!” perintahnya.

 

“Kenapa? Aku biasa kayak gini, Den.”

 

“Ck, kamu ini masih nggak ngerti juga. Tuan Muda itu nggak akan tergoda dengan pakaian seksi kayak gini. Istrinya aja udah putih mulus kayak gitu. Kamu mau telanjang di depan dia pun, dia nggak akan tergoda.”

 

“Kamu malah perhatiin perempuan jalang yang udah ngerebut Yeriko dari aku? Jangan-jangan, kamu juga tergoda sama dia?”

 

Deny tertawa kecil. “Kenapa? Kamu cemburu? Udah mulai jatuh cinta sama aku?”

 

“Nggak akan jatuh cinta sama kamu!” seru Refi.

 

Deny tertawa kecil. “Nggak masalah. Yang penting bisa puasin aku kapan pun aku mau. Cinta nggak penting, yang penting nikmat.”

 

“Kamu ...!?” Refi mendelik ke arah Deny sambil menunjuk wajah pria itu.

 

Deny tersenyum puas menatap Refi. “Kenapa? Kamu menikmatinya juga ‘kan?”

 

Refi menghentakkan kaki, ia segera kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya.

 

“Antarin aku ke Galaxy!” perintah Refi usai mengganti pakaiannya.

 

Deny tersenyum dan bangkit dari duduknya. Mereka bergegas pergi ke kantor Galaxy Group untuk bertemu dengan Yeriko.

 

 

 

Sesampainya di kantor Galaxy Group, Refi tak mendapat sambutan baik. Semua karyawan yang ada di kantor tersebut sudah sangat mengenal Refi yang selalu berulah. Sehingga, banyak dari mereka yang mencibir. Memasang wajah tak bersahabat saat Refi memasuki kantor tersebut.

 

“Selamat pagi ...!” sapa Refi pada resepsionis yang berjaga sambil melepas kacamatanya. Ia memasang senyuman paling manis di dunia.

 

“Pagi ...!” balas resepsionis tersebut dengan wajah tak bersahabat.

 

“Yeriko ada di ruangannya?” tanya Refi.

 

“Maaf, Bu. Pak Yeri sedang rapat dan tidak bisa diganggu.”

 

“Aku udah janjian mau ketemu sama dia. Kenapa kamu halang-halangin?” tanya Refi.

 

“Saya tidak menghalangi. Pak Yeri memang sedang rapat.”

 

“Ya udah. Kasih tahu sama bos kamu kalau aku udah datang! Dia yang nyuruh aku ke kantor ini,”  perintah Refi dengan gaya angkuhnya.

 

“Sebentar, Bu!” pinta resepsionis tersebut sambil menelepon.

 

“Gimana?” tanya Refi begitu resepsionis tersebut mematikan teleponnya.

 

“Silakan tunggu sebentar. Mas Riyan akan segera ke sini.”

 

“Oke.” Refi mengedarkan pandangannya. Ia menatap langit-langit ruangan di lobi tersebut yang tingginya sekitar tujuh meter lebih. Dihiasi dengan lampu-lampu bergaya retro yang dihiasi dengan fitting pentagonal. Ada deretan sofa mewah yang bisa digunakan untuk menunggu, membuat kantor tersebut terlihat sangat mewah dan berkelas. E

 

“Hmm ... andai aku yang jadi istrinya Yeriko, gedung ini sudah pasti jadi milikku,” batin Refi sambil tersenyum. Ia terus membayangkan kehidupan bahagianya bersama Tuan Muda pewaris Galaxy Group tersebut.

 

“Selamat pagi, Mbak Refi!” sapaan dari Riyan membuyarkan lamunan Refi.

 

Refi langsung menoleh ke arah Riyan. “Eh, Riyan? Gimana? Yeriko udah ngasih tahu kalau dia nyuruh aku ke sini?”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Tapi, Pak Bos masih meeting. Mbak Refi terlambat dari waktu yang sudah dijanjikan Pak Bos. Jadi, Mbak Refi bisa tunggu dulu di lantai ruangan Pak Bos.”

 

Refi mengangguk. “Oke. Thanks!” Ia sangat senang karena Yeriko masih memberinya kesempatan walau ia terlambat beberapa menit dari waktu yang telah ditentukan. Ia bersedia menunggu sampai Yeriko selesai rapat.

 

“Ayo, ikuti saya!” pinta Riyan sambil melangkahkan kakinya menuju lift.

 

Beberapa menit kemudian, Riyan dan Refi sudah sampai di lantai dua puluh lima. Lantai gedung berukuran seratus meter persegi di paling atas adalah kekuasaan Yeriko. Semua fasilitas yang ada di sana hanya milik Yeriko dan tidak semua orang memiliki akses bebas untuk masuk ke lantai tersebut.

 

Begitu keluar dari lift, Refi langsung menyusuri lorong sepanjang sepuluh meter. Kemudian, ia berbelok ke kanan bersama dengan Riyan.

 

“Mbak Refi bisa duduk di sini terlebih dahulu sambil menunggu Pak Bos selesai rapat,” tutur Riyan sambil mengajak Refi untuk masuk ke ruangan tersebut.

 

Refi menganggukkan kepala. “Thanks ...!”

 

Riyan mengangguk. “Kalau gitu, saya permisi dulu!” pamit Riyan. Ia berlalu pergi meninggalkan Refi dan masuk ke lorong sebelah kiri untuk menyapa dua sekretaris Yeriko yang ada di sana.

 

Sebelum mencapai ruang kerja Yeriko, semua orang akan melewati dua orang sekretaris yang bekerja di sana. Juga ruangan Riyan, asisten pribadi yang  pintu ruangannya tak jauh dari ruangan bosnya.

 

“Bu, di ruang tunggu ada Mbak Refi. Jangan sampai dia masuk ke ruangan Pak Bos sebelum Pak Bos datang!” tutur Riyan pada dua sekretaris yang ada di sana.

 

“Siap, Pak Riyan!”

 

“Mbak Refi yang artis itu?” tanya sekretaris yang satunya lagi.

 

Riyan menganggukkan kepala. “Kalian tahu kalau Pak Bos nggak suka sama dia. Jangan sampai dia bikin onar sebelum Pak Bos datang. Apa aja yang dia minta, kasih aja! Kecuali masuk ke ruang kerja Pak Bos!”

 

“Oke.” Dua sekretaris itu mengacungkan jempol bersamaan.

 

Riyan tersenyum, ia bergegas masuk ke ruangannya dan kembali mengerjakan pekerjaannya seperti biasa.

 

 

 

Refi mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ruangan bernuansa putih emas itu benar-benar menunjukkan selera Yeriko yang mewah dan sempurna. Refi memerhatikan design interior dari ruangan berukuran tujuh meter persegi tersebut.

 

“Kantor ini mewah banget! Harusnya, aku bisa jadi nyonya di kantor ini. Aku pasti bisa ngerebut Yeriko lagi!” tutur Refi penuh percaya diri.

 

Refi masih saja membayangkan dan berharap kalau dirinya bisa kembali bersama Yeriko. Sementara, ia tidak mengetahui kalau Yeriko dan Yuna sengaja mempermainkan dirinya.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar Author makin semangat buat update bab setiap hari. Jangan lupa sapa di kolom komentar ya! Big thanks buat yang udah kasih hadiah untuk cerita ini.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas