Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 335 : Pengusiran untuk Refi

 


“Tunggu!” seru Refi sambil menatap punggung Yeriko.

Yeriko berdecak kesal. “Yan, bawa perempuan ini pergi dari sini!” teriaknya sambil berbalik dan menunjuk wajah Refi.

Riyan mengangguk. Ia segera menarik lengan Refi.

“Jangan sentuh aku!” sentak Refi sambil menepiskan tangan Riyan.

Yeriko membuka pintu mobil dengan santai.

Refi langsung berlari dan menahan pintu mobil Yeriko agar tidak terbuka. “Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kita masih bisa berteman? Kenapa kamu ngindar terus dari aku?”

 Yeriko tak menyahut. Ia berusaha membuka pintu mobilnya kembali.

“Aku salah apa sama kamu?” seru Refi sambil menutup kembali pintu mobil yang sedikit terbuka.

Yeriko melipat kedua tangan di dadanya sambil menatap tajam ke arah Refi. “Sejak pertama kali kamu nemuin istriku, sejak itu kamu udah salah!” sentak Yeriko.

Refi mengerutkan dahinya. “Aku nemuin istri kamu cuma buat berteman. Emangnya salah?”

“Yan, bawa dia pergi dari sini!” teriak Yeriko. “Kamu denger perintah aku atau nggak!”

Riyan menganggukkan kepala. “Maaf, Mbak Refi!” ucapnya sambil menarik lengan Refi agar menjauh dari bosnya.

“Yer, kalau kamu nggak mau ngasih aku kesempatan buat kerja di sini. Aku bakal cari Yuna dan nggak akan ngelepasin dia sampai aku dapet kerjaan!” seru Refi.

Yeriko tersenyum sinis. “Coba aja!” Ia langsung masuk ke dalam mobil. Bergegas membawa mobilnya keluar dari parkiran.

“Aargh …! Ngeselin banget!” seru Refi sambil menghentakkam kakinya. Ia menatap wajah Riyan yang masih memegang lengannya. “Lepasin!”

Riyan melepas genggamannya perlahan.

Refi mendengus kesal dan melangkah pergi meninggalkan Riyan. Belum sampai jauh, ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Riyan.

“Eh, aku mau tanya sama kamu. Lebih cantik siapa antara aku sama Yuna?” tanya Refi.

“Lebih cantik Mbak Refi,” jawab Riyan.

Refi langsung tersenyum mendengar jawaban Riyan. Ia sangat yakin kalau bisa mendapatkan Yeriko kembali.

“Tapi jauh lebih baik Nyonya Muda,” lanjut Riyan.

Refi langsung menautkan kedua alisnya. “Maksud kamu!?”

Riyan menahan tawa.

Refi menghentakkan kakinya dan berbalik. Ia bergegas meninggalkan Riyan dengan perasaan kesal. Ia tidak menyangka kalau dirinya juga akan dipermalukan oleh Riyan yang hanya seorang asisten.

Riyan tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia memesan taksi karena bosnya meninggalkan dirinya begitu saja.

 

Sepanjang perjalanan, Yeriko sangat kesal karena sikap Refi yang masih saja ingin memanfaatkan kebaikan istrinya. Sesampainya di rumah, Yeriko langsung menghampiri istrinya yang sedang bersantai sambil membaca buku.

“Udah pulang?” Yuna langsung meletakkan bukunya ke atas meja begitu melihat suaminya pulang.

Yeriko mengangguk sambil melepas jasnya.

“Aku kira mau lembur sampai larut malam. Aku siapin makan malam dulu!” Yuna langsung beranjak dari tempat duduknya.

“Nggak usah!” pinta Yeriko.

“Kenapa?”

“Kita makan di luar aja.”

“Eh!?”

“Aku mandi dulu!”

“Kamu nggak capek?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. Ia bergegas naik ke kamarnya.

Yuna menggigit bibirnya. Yeriko terlihat sangat lelah. Alangkah baiknya jika ia memberikan banyak waktu untuk istirahat daripada harus keluar rumah.

Beberapa menit kemudian, Yeriko sudah bersiap untuk pergi.

“Ayo!” ajak Yeriko.

Yuna bergeming. “Kamu yakin, nggak capek?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku perlu udara segar.”

Yuna tersenyum. Ia tidak bisa menolak keinginan suaminya, ia hanya bisa menurutinya. “Apa dia lagi banyak masalah?” batin Yuna.

 

Tepat jam delapan malam, Yuna dan Yeriko sampai di Kawi Lounge Sheraton Hotel & Tower Surabaya.

“Mau makan apa?” tanya Yeriko.

“Steak aja,” jawab Yuna.

Yeriko langsung memesan beberapa makanan.

“Yun …!”

“Ya.”

“Tadi, Refi nungguin aku di parkiran sampai aku pulang.”

“Hah!?” Yuna melongo mendengar ucapan Yeriko. “Kenapa? Apa karena … dia nggak lolos masuk perusahaan?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Kamu bisa menghindari dia kan?”

“Eh!?”

“Kemungkinan, dia bakal nyari kamu lagi. Aku harap, kamu nggak terpengaruh sama dia.”

Yuna menganggukkan kepala.

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna. Ia pikir, menolak Refi masuk ke perusahaannya adalah hal yang tepat.

Yuna menangkap kekhawatiran yang tergambar dari wajah Yeriko. “Kamu nggak perlu khawatir sama aku. Aku bakal jaga diri baik-baik,” tutur Yuna sambil menggenggam tangan Yeriko.

Yeriko balik menggenggam tangan Yuna dan mengecupnya penuh kasih sayang. “Aku akan jaga kamu dan anak kita,” tuturnya lembut.

Yuna tertawa kecil. “Kenapa kamu kelihatan khawatir cuma karena Refi? Apa ada masalah lain?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Cuma masalah kerjaan. Lumayan rumit.”

“Aku yakin, kamu pasti bisa menghadapinya dengan mudah.”

Yeriko tersenyum sambil mengangguk.

“Besok, kamu ada waktu kan?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Jadwal pemeriksaan kandungan sudah masuk dalam agendaku.”

Yuna tersenyum senang. “Oh ya, kamu udah pergi ke pengrajin keramik yang aku kasih tahu kemarin?”

Yuna menggelengkan kepala. “Rencananya, mau ke sana besok. Setelah periksa kandungan aku.”

Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Temenin ya!” pinta Yuna manja.

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. Ia menikmati makan malamnya sambil menatap wajah Yuna. Ia bahagia bisa melihat Yuna tersenyum. Ia akan terus berusaha menjaga senyuman itu di bibir Yuna.

 

 

Keesokan harinya …

Yeriko menemani Yuna memeriksakan kandungannya. Ia juga mengikuti kelas mengasuh bayi yang disarankan oleh dokter.

“Ay, makasih ya! Kamu udah sempatkan waktu buat ikut kelas ini.”

Yeriko tersenyum kecil. “Udah kewajiban aku sebagai suami dan calon ayah.”

Yuna tersenyum. Ia dan Yeriko menyimak dan mengikuti instruksi dari salah satu bidan yang memberikan pelatihan perawatan pada bayi baru lahir.

“Aku sudah biasa mandiin kamu. Mandiin bayi, kayaknya mandiin bayi nggak terlalu sulit,” bisik Yeriko sambil mengamati boneka yang ia pegang.

Yuna nyengir menatap Yeriko. “Sombongnya keluar,” celetuknya sambil mencipratkan air di tangannya ke wajah Yeriko.

“Argh, bajuku basah!” Yeriko mendelik ke arah Yuna.

Yuna terkekeh menatap Yeriko.

Yeriko mengerutkan hidung sambil menahan tawa. Ia balik mencipratkan air ke wajah Yuna.

“Iih … kamu kok balas?” seru Yuna balik mencipratkan air ke wajah Yeriko.

Yeriko tergelak sambil menghindari tangan Yuna.

“Hei, jangan main air! Lantainya jadi basah, bahaya buat ibu hamil,” tegur bidan yang mendampingi mereka.

Yuna dan Yeriko saling pandang, mereka tertawa dalam hati.

Yeriko bergegas mencari kain untuk mengelap lantai yang basah.

“Biar aku aja yang ngelap lantainya,” pinta Yuna sambil merebut kain dari tangan Yeriko.

“Biar aku aja!”

“Iih … gimana kalau dilihat orang banyak? Tuan Muda ngepel lantai?” bisik Yuna.

“Gimana kalau orang yang ngelihat berpikir aku sudah menindas istriku sendiri?” balas Yeriko. Ia merebut kembali kain dari tangan Yuna dan langsung mengelap lantai di bawahnya yang basah karena percikan air.

Yuna tertawa kecil.

“Kenapa ketawa?”

“Bukannya kamu lebih suka menindas aku?”

Yeriko menatap wajah Yuna. “Aku nggak suka menindas, aku lebih suka menindis kamu,” jawab Yeriko berbisik.

Yuna tertawa kecil sambil memukul dada Yeriko.

“Aw …! Rasanya, kamu yang lebih suka menindas aku!” rintih Yeriko lirih sambil menahan tawa.

Yuna mencebik ke arah Yeriko. “Biar adil. Kamu yang menindih, aku yang menindas. Hahaha.”

Yeriko ikut tergelak. “Baiklah. Malam ini kamu harus nyiapin kekuatan lebih,”  bisik Yeriko.

Yuna nyengir sambil menyikut perut Yeriko. “Apa-apaan sih!?” dengusnya.

 

 ((Bersambung...))

Thanks udah dukung karya ini terus. Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku semangat terus nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas