Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 458 : Diculik

 


“Bi, si Angga udah datang?” tanya Yuna. Seperti biasa, ia selalu memasak setiap hari dan mengantarkan makan siang untuk ayah dan suaminya.

 

“Sudah, Mbak. Sudah nunggu di halaman dari tadi.”

 

“Tumben banget dia datang cepat? Nggak antar Mama Rully dulu?” tanya Yuna sambil merapikan kotak makanan yang ada di atas meja.

 

“Katanya, udah antar Ibu pagi-pagi ke bandara.”

 

“Bandara?” Yuna mengerutkan dahinya. “Oh, iya. Mama bilang mau urus bisnis yang di Jakarta,” ucapnya sambil menepuk dahi. Ia hampir lupa, padahal mama mertuanya sudah memberitahunya terlebih dahulu lewat panggilan telepon.

 

Bibi War membantu Yuna membawa kotak bekalnya sampai ke dalam mobil.

 

“Bi, aku antar makan siang untuk ayah dan suamiku dulu ya!” pamit Yuna.

 

“Iya, hati-hati ya!”

 

“Iya, Bi.” Yuna segera masuk ke dalam mobil.

 

“Hati-hati bawa Mbak Yuna!” pinta Bibi War sambil menepuk bahu Angga.

 

“Siap, Bi!” Angga mengangguk. Ia segera masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya perlahan keluar dari halaman rumah.

 

Belum sampai ke jalan raya, Angga tiba-tiba menghentikan mobilnya.

 

“Ada apa, Ngga?” tanya Yuna sambil memainkan ponselnya.

 

“Ada orang iseng kayaknya. Masa tong sampah besar-besar gitu ditaruh di tengah jalan?” jawab Angga sambil melepas safety belt.

 

“Ada-ada aja,” celetuk Yuna tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Ia sedang membaca artikel tentang ibu hamil yang berhasil menarik perhatiannya.

 

“Nyonya Bos tunggu di sini. Saya turun dulu!” tutur Angga sambil membuka pintu mobil.

 

“Umh.” Yuna mengangguk.

 

Angga keluar dari mobil. Ia mengedarkan pandangannya. Tak ada satu orang pun di sana yang bisa ia minta tolong. Juga tak ada kendaraan lain yang melintas di jalan tersebut.

 

Angga menarik napas dalam-dalam. Ia menarik tong sampah tersebut ke tepi jalan agar ia bisa melintas dengan mudah. “Beres!” ucapnya sambil mengibaskan tangannya yang sedikit kotor.

 

Belum sampai berbalik, tiba-tiba kepala Angga dimasukan ke dalam karung oleh tiga orang pria yang muncul dari balik tanaman pagar yang ada di tempat itu.

 

“Hei, kalian siapa!?” seru Angga sambil berusaha melepas kedua tangan yang diikat menggunakan tali.

 

“Diapain ini supir?” tanya salah seorang pria yang ada di sana.

 

“Taruh situ aja!” jawab salah seorang pria sambil menunjuk tanaman pagar yang ada di sana.

 

Satu pria mendorong tubuh Angga masuk ke belakang tanaman pagar tersebut. Sedang dua pria lainnya langsung masuk ke dalam mobil.

 

“Eh!? Kalian siapa?” tanya Yuna begitu melihat dua pria masuk ke dalam mobil.

 

Dua pria yang menutup wajah itu langsung menarik Yuna keluar dari dalam mobil.

 

Yuna terus memberontak, ia berusaha untuk melepaskan diri. “TOLONG ...!” teriaknya.

 

“Nyonya Bos ...!” Angga yang mendengar teriakan majikannya, langsung panik. Ia berusaha melepas ikatan di tangannya.

 

“Nggak usah teriak-teriak!” salah seorang pria langsung membungkam mulut Yuna menggunakan sapu tangan, kemudian membawa Yuna masuk ke dalam mobil lain. Mereka langsung melaju kencang meninggalkan tempat tersebut.

 

Angga tak bisa lagi mendengar suara Yuna setelah deru suara mobil meninggalkan tempat itu. “Nyonya Bos ...!” teriaknya.

 

“TOLONG ...!”

 

“TOLONG ...!”

 

“TOLONG ...!” Angga berteriak sekuat-kuatnya, berharap ada orang yang mendengar dan membebaskannya dari ikatan tali tersebut.

 

Angga menitikan air mata. Ia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi majikannya dengan baik. Ia tidak tahu harus berapa lama ada di tempat ini jika tidak ada satu orang pun yang menolong dirinya.

 

Beberapa menit kemudian, terdengar suara beberapa langkah kaki yang mendekat ke arahnya.

 

“Kayaknya, tadi ada yang teriak minta tolong?” tanya seorang pria yang ada di sana.

 

“Iya. Ini ada mobil, di mana orangnya?”

 

Angga langsung bernapas lega. “Tolong ...!” seru Angga sekali lagi.

 

“Eh, suaranya dari sini!” seru salah seorang pria. Mereka langsung menghampiri sumber suara.

 

Begitu melihat tubuh Angga. Mereka langsung membantu untuk melepaskan karung yang menutupi wajah Angga dan melepas tali yang mengikat tangannya.

 

“Mas, kok bisa di sini?” tanya pria yang membantu Angga.

 

“Bapak-bapak, terima kasih atas bantuannya!” tutur Angga. Ia langsung berlari ke arah mobilnya. Ia membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa. Angga gemetaran begitu melihat kotak bekal yang masih ada di mobilnya. Tas tangan milik Yuna dan ponsel yang tergeletak begitu saja di bawah kursi.

 

“Pak, ada lihat perempuan hamil yang ada di dalam mobil ini?” tanya Angga pada orang-orang yang menolongnya.

 

Semua orang menggelengkan kepala. “Saat kami sampai, tidak ada siapa-siapa di dalam mobil itu.”

 

“Aku harus gimana?” Angga langsung gelisah saat mengetahui kalau Yuna sudah tidak ada di dalam mobil tersebut. “Aku harus cari Pak Bos!” Ia langsung bergegas masuk ke mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

 

Angga menghentikan mobilnya sudah sampai di depan kantor Galaxy Group. Ban mobil yang bergesekan dengan jalanan, menimbulkan suara decitan yang langsung menarik perhatian dua orang satpam yang berjaga di depan pintu utama gedung tersebut.

 

“Pak Bos masih di kantor?” tanya Angga panik.

 

“Ada apa, Ngga?” tanya Yeriko yang kebetulan muncul di pintu. “Kenapa istriku nggak angkat telepon? Dia masih di apartemen ayahnya?” tanya Yeriko.

 

Angga menangis sambil menjatuhkan lututnya ke lantai.

 

“Ada apa?” Wajah Yeriko langsung memerah begitu melihat Angga menangis di hadapannya.

 

“Pak Bos, ini salah saya. Saya tidak menjaga Nyonya Bos dengan baik,” tutur Angga sambil terisak.

 

“Nggak usah bertele-tele. Yuna kenapa!?” seru Yeriko sambil menarik kerah baju Angga.

 

Riyan yang berdiri di belakang Yeriko, ikut panik saat melihat Angga yang terlihat sangat kacau. Kemejanya yang berantakan kotor dengan tanah.

 

“Nyonya ... Nyo-Nyonya Bos ... diculik sama orang!” seru Angga langsung terisak.

 

 

 

DEG!

 

Jantung Yeriko berhenti sesaat ketika mendengar ucapan Angga. Ia begitu terpukul mendengar istrinya diculik oleh seseorang. Ia sudah mengerahkan seluruh tenaga dan sumber daya yang ia miliki untuk melindungi Yuna.

 

“Gimana ceritanya bisa diculik?”

 

Angga langsung menceritakan kejadian yang baru saja terjadi di jalanan yang tak jauh dari rumah Yeriko.

 

“Pasti ada orang yang udah bocorin jadwal kegiatan istriku!” seru Yeriko kesal.

 

Angga menggelengkan kepala. “Saya nggak melakukan itu, Pak Bos,” ucapnya sambil gemetaran.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia menoleh ke arah Riyan yang ada di belakangnya. Yeriko langsung berlari ke arah meja resepsionis. “Suruh semua orang berhenti kerja!” seru Yeriko sambil memukul-mukul meja resepsionis. Ia terus melangkah masuk menuju kantornya.

 

“Yan, suruh semua orang cari keberadaan Yuna!” pinta Yeriko.

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

“Kerahkan semua sumber daya yang ada di perusahaan. Semua yang punya media sosial, wajib cari istriku!” seru Yeriko. “Cepat! Cepat! Cepat!” Ia terus berjalan ke departemen humas yang ada di lantai dasar.

 

Semua orang langsung bergerak cepat. Mereka mencari informasi keberadaan Yuna melalui internet dan beberapa media sosial.

 

“Yan, hubungi Satria. Minta akses ke Ditlantas Polda untuk mengecek semua CCTV di kota ini!” teriak Yeriko. Ia terus berbicara tanpa menghentikan langkahnya.

 

Yeriko kembali keluar dari perusahaan.

 

“Kunci mobil mana!?” tanyanya sambil menatap Riyan.

 

Riyan langsung menyerahkan kunci mobil pada bosnya tersebut.

 

“Angga, kamu supirin Riyan! Bantu cari Yuna!” perintah Yeriko sambil melintasi Angga yang masih berdiri di pintu perusahaan.

 

“Baik, Pak Bos!”

 

Yeriko melangkah pergi. Ia menghentikan langkahnya saat teringat sesuatu. Ia berbalik menatap Riyan dan Angga yang ada di belakangnya.

 

“Yan, Mama dan Kakek, jangan dikasih tahu dulu masalah ini!” pinta Yeriko sambil menatap Riyan.

 

“Siap, Pak Bos!”

 

Yeriko kembali mempercepat langkahnya. Ia langsung menuju mobilnya yang ada di parkiran. Pikirannya melayang ke mana-mana. Ia mencoba menenangkan diri agar tidak panik menghadapi masalah yang tiba-tiba menimpa istri tercintanya.

 

Yeriko langsung melaju dengan kecepatan tinggi, ia terus menekan klakson penuh emosi setiap kali ada kendaraan yang menghalangi jalannya. Ia tak sabar ingin mencapai rumah secepatnya.

 

Tin ... Tin ... Tin ...!

 

Yeriko terus menekan klakson saat ia sudah sampai di depan pintu gerbang rumahnya.

 

Pria setengah baya yang biasa menjaga rumah tersebut, langsung membukakan pintu gerbang untuk Yeriko.

 

“Kenapa pintunya ditutup!?” sentak Yeriko kesal.

 

Satpam yang berjaga hanya membungkukkan badannya. “Maaf, Pak!” Ia tak berani berargumen melihat wajah Yeriko yang memendam amarah. Ia melihat bosnya tak seperti biasanya. Padahal, Yeriko juga yang menyuruhnya untuk terus menutup pintu gerbang rumahnya.

 

Yeriko memarkirkan mobilnya. Ia melepas safety belt dan keluar dari mobil tanpa mematikan mesin.

 

Kakinya yang panjang, langsung melompati dua anak tangga sekaligus memasuki rumahnya.

 

“Bibi ...!” teriak Yeriko sambil berkacak pinggang.

 

Bibi War langsung berlari keluar mendengar teriakan Yeriko. “Ada apa?” tanyanya. Ia bisa menangkap amarah yang keluar dari wajah Yeriko.

 

“Kumpulkan semua pelayan di rumah ini! CEPAT!” teriak Yeriko.

 

Bibi War mengangguk. Ia langsung memanggil semua pelayan yang ada di rumah itu.

 

Yeriko berkacak pinggang melihat semua pekerja yang sudah berbaris rapi di hadapannya. “Kalian semua tahu istriku di mana?” tanya Yeriko.

 

Semua orang saling pandang. Mereka tidak mengerti maksud dari pertanyaan Yeriko.

 

“Tadi, Mbak Yuna berangkat ngantar makan siang sama Mas Angga,” jawab Bibi War.

 

Yeriko mengunci bibir sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bener. Dia diculik di perjalanan.”

 

“Apa!?” Bibi War langsung memegangi dadanya. “Terus dia gimana sekarang? Mbak Yuna lagi hamil, Siapa yang culik dia?”

 

“Kalau aku tahu, udah aku tangkap penculiknya!” sentak Yeriko.

 

Semua orang langsung terdiam. Mereka tak ada yang berani berkata-kata. Kemarahan Yeriko kali ini tidak memberikan ruang pada orang lain untuk melakukan pembelaan atau menenangkan perasaannya.

 

“Cuma orang di rumah ini yang tahu jadwal kegiatan istriku. Kenapa dia bisa dicegat tepat waktu? Pasti, ada satu orang di antara kalian yang sudah membocorkan jadwal kegiatan istriku!” tutur Yeriko sambil menatap semua orang satu per satu.

 

Semua pelayan yang ada di rumah itu menundukkan kepala.

 

Bibi War juga ikut mengamati satu per satu. Ia sangat khawatir dengan keadaan Yuna yang kini berada di tangan orang lain. Ia sangat takut kalau penculik itu melukai Yuna dan anaknya.

 

Yeriko langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Rani sebab pelayan itu memperlihatkan tubuhnya yang gemetar ketakutan.

 

“Yang lain boleh pergi. Kecuali Rani!” perintah Yeriko.

 

Semua orang mengangguk dan berlalu pergi. Mereka tak ada yang berani menghadapi kemarahan Yeriko.

 

Yeriko menatap tajam ke arah Rani sambil melipat kedua tangan di dadanya. Ia tak mengatakan apa pun selama beberapa menit.

 

“Nggak ada yang mau kamu katakan?” tanya Yeriko dingin.

 

Rani meremas jemari tangannya. Ia langsung menjatuhkan lututnya ke lantai. “Maafin saya, Tuan Muda!” tuturnya sambil menangis.

 

Yeriko menatap Rani yang berlutut di hadapannya.

 

“Kemarin, waktu saya ke pasar ... ada Mbak Refi yang menghampiri saya dan menanyakan kegiatan Nyonya Muda hari ini,” jelas Rani.  

 

“Semudah itu kamu ngasih informasi Nyonya kamu ke orang luar? Kamu dikasih apa sama dia?” tanya Yeriko.

 

Rani langsung membungkukkan tubuhnya. “Ma-Maafkan saya, Tuan Muda. Saya tidak sengaja mengucapkannya. Mbak itu terus mengajak saya bercanda dan tidak sadar kalau sudah mengatakan jadwal Nyonya hari ini.”

 

Yeriko mengerutkan hidung dan Bibirnya. Ia menatap Rani berapi-api. “Kalau sampai Yuna kenapa-kenapa, aku bakal bikin perhitungan ke kamu!” sentak Yeriko.

 

“Ampun, Tuan Muda! Saya nggak sengaja membocorkan jadwal Nyonya,” tutur Rani sambil menangis.

 

Yeriko menarik napas sambil memejamkan mata. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Semua ini bukan sepenuhnya kesalahan pelayannya karena pelayan itu telah dipengaruhi oleh Refi. Ia juga tidak bisa menuduh Refi begitu saja karena belum ada bukti kalau yang melakukan penculikan istrinya adalah mantan pacarnya sendiri.

 

Yeriko menelepon dan memerintahkan Riyan untuk mencari keberadaan Refi secepatnya.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca Perfect Hero sampai di sini. Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Yang nggak suka konflik besar, menepi dulu ya ... bab selanjutnya akan mengandung banyak bawang. Please ... be carefull!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 457 : Dia Lebih Menarik

 


Yuna memegangi pergelangan tangannya begitu ia bisa melepaskan diri dari tangan Bellina. “Bellina sialan!” umpatnya sambil melangkah pergi. Ia meringis sambil mengusap kuat bekas kuku Bellina yang tergambar jelas di kulitnya yang putih.

 

Yuna mengerjapkan mata karena ia merasakan kepalanya tiba-tiba pening, seperti orang yang terkena anemia. “Apa karena cengkeraman Bellina tadi?” batin Yuna yang memang terkejut dengan tindakan Bellina.

 

BRUG!

 

“Hati-hati!” Tangan seseorang langsung menangkap tangan Yuna agar tak terhuyung ke lantai saat Yuna menabrak tubuhnya.

 

Yuna langsung mendongak menatap pria yang ada di hadapannya itu. Pria muda itu terlihat sangat tampan dan mempesona. “Ganteng banget!” batin Yuna yang sempat terpesona di detik pertama menatap pria itu.

 

Yuna mengerjap, ia berusaha menyadarkan diri dari kekaguman dan khayalan nakalnya.

 

Pria itu tersenyum pada Yuna. “Kamu nggak papa?”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Makasih,” ucapnya kemudian.

 

Pria itu mengangguk sambil tersenyum. “Lain kali, jalannya hati-hati!” tuturnya sambil melepaskan tangan Yuna.

 

Yuna mengangguk. Ia tersenyum dan bergegas melangkah pergi menghampiri Jheni dan Icha.

 

Pria itu terus tersenyum, pandangannya terus mengikuti Yuna hingga Yuna duduk di mejanya. Ia menggeleng-gelengkan kepala, namun hatinya mengagumi kecantikan yang terpancar dari wajah Yuna yang sederhana tanpa polesan make-up. Dari gaya pakaiannya yang berkelas, ia tahu kalau Yuna bukanlah wanita biasa.

 

“Cowok ganteng itu siapa, Yun?” tanya Jheni begitu Yuna sudah duduk di hadapannya.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak tahu.”

 

“Bukan temen kamu? Kenapa kelihatan akrab banget? Senyum-senyum pula.”

 

“Nggak sengaja nabrak dia.”

 

“Oh. Kirain, kamu kenal sama dia,” tutur Jheni.

 

“Emangnya kenapa kalo kenal?” tanya Yuna.

 

“Nggak papa. Ganteng aja.”

 

“Udah punya pacar, matanya nggak usah jelalatan!” dengus Yuna sambil menoyor dahi Jheni.

 

“Pacar ya pacar. Lihat cowok ganteng ya normal kalo kita kagum. Mengagumi bukan berarti mencintai, Yun.”

 

“Hala, ngeles! Kamu sama Chandra awalnya gimana? Kagum, terus jatuh cinta.”

 

“Iih ... itu kan beda!” sahut Jheni.

 

“Bedanya apa?”

 

“Aku cinta beneran ke Chandra. Biarpun ada seribu cowok yang jauh lebih ganteng dari Chandra. Aku tetep cinta sama Chandra seorang.”

 

“Preet ...!” dengus Yuna.

 

“Sialan kamu, Yun!” Jheni langsung melempar Yuna dengan potongan kentang goreng di tangannya.

 

“Aku nggak suka dilempar makanan, Jhen!” Yuna langsung menarik tisu dan mengusap gaunnya yang terkena kotoran makanan.

 

“Kamu pakai dress motif batik gitu, nggak kelihatan kalau kotor.”

 

“Tapi tetep bau makanan, Jhen.”

 

“Kamu udah ketularan Yeriko, ya? Sejak kapan kamu jadi orang super higenis kayak gini? Biasanya, makan apa aja bajunya kotor semua. Nggak pernah ribet.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya ke arah Jheni. “Yeriko orangnya bersih banget. Aku jadi terbiasa, Jhen. Nggak enak banget kalo kotor.”

 

Icha tertawa kecil. “Pantesan aja semalam dia protes pas Lutfi ngelempar makanan. Biasanya, nggak pernah protes kalau kotor.”

 

“Nggak nyaman aja, Cha. Nggak tahu kenapa, aku mulai risih lihat yang kotor-kotor.”

 

“Bawaan bayi kali, tuh. Bukan Yuna banget, malah Yeriko banget,” sahut Jheni.

 

“Emangnya bisa begitu?” tanya Icha.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Bawaan bayi macem-macem, kali. Kadang, ada yang malas dandan. Kadang, ada yang rajin berdandan. Mungkin, anak kamu mau perempuan, Yun. Makanya kamu bersih banget. Muka kamu juga kelihatan cantik.”

 

“Sok tahu! Kayak udah pernah hamil aja,” dengus Yuna.

 

“Tahu aku, Yun. Sering baca-baca literatur buat bahan tulisan aku. Kamu kan pinjam banyak buku di perpustakaan. Nggak ada yang nyantol satu pun di otak kamu?”

 

“Aku belum baca semua, Jhen.”

 

“Makanya, dibaca!” seru Jheni. “Nggak suka baca buku, tapi sok-sokan pinjam buku di perpustakaan banyak banget. Endingnya, nggak terbaca juga.”

 

“Aku baca. Cuma belum kelar aja.”

 

“Nggak usah ikutan Yeriko! Dia mah emang hobi baca buku,” tutur Jheni.

 

Yuna tertawa kecil. “Bacanya buku bisnis pula. Isinya tulisan semua. Bikin ngantuk.”

 

“Terus, yang kamu baca buku apa, Yun?” tanya Icha.

 

“Buku pendidikan prenatal dan cara mengasuh bayi. Tapi, buku yang banyak gambar-gambarnya aja. Biar nggak bosen bacanya.”

 

“Sekarang, semua informasi bisa diakses lewat internet. Kenapa masih nyari di buku, Yun? Itu kan ribet?” tanya Icha.

 

“Ini udah mulai ketularan Lutfi juga, nih. Nggak mau yang ribet-ribet,” sela Jheni sambil menatap Icha.

 

Icha tertawa kecil. “Eh, tahu nggak sih. Kalau kita terbiasa hidup sama seseorang, tanpa sadar kita ngikuti kebiasaan-kebiasaan mereka?”

 

“Iya, juga ya?” sahut Jheni sambil menimbang-nimbang ucapan Icha.

 

“Semoga aja si Jheni ngikuti kebiasaan Chandra yang pendiem,” celetuk Yuna.

 

“Aku rasa, si Chandra yang udah mulai ngikuti kebiasaan Jheni.”

 

“Masa, sih? Aku kok nggak nyadar, ya?” tanya Yuna.

 

“Aku juga mulai sadar semalam waktu makan malam bareng. Si Chandra banyak cerita, nggak kayak biasanya.”

 

“Eh, kalo udah cerita soal bisnis dan kerjaan dia emang banyak omong,” sahut Jheni.

 

“Gitu ya?” tanya Icha.

 

“Iya,” jawab Jheni sambil tertawa. “Nggak ada bedanya.”

 

Yuna dan Icha ikut tertawa. Mereka terus bercanda sambil menikmati cemilan sore yang ada di tempat tersebut.

 

“Hai ...!” sapa Bellina sambil menghampiri meja Yuna.

 

Tawa Yuna dan dua sahabatnya seketika berhenti saat Bellina dan mamanya sudah berdiri di dekat meja mereka. Semuanya terdiam, tidak tahu harus bagaimana menanggapi sapaan Bellina kali ini.

 

“Hai, juga!” balas Jheni sambil tersenyum kecut ke arah Bellina.

 

“Kamu mau apa? Mau ganggu Yuna?” tanya Icha sambil menatap Bellina.

 

Bellina tertawa kecil menanggapi pertanyaan Icha. “Kamu itu karyawan rendahan di perusahaan suamiku, nggak usah sok-sokan mau ngelawan aku!”

 

Icha tersenyum sinis, ia sudah berkali-kali berhadapan dengan Bellina. Walau sering terluka, ia akan tetap melindungi Yuna.

 

Bellina tersenyum. “Kami boleh gabung di meja kalian?” tanyanya.

 

“Kita udah selesai, udah mau pulang,” jawab Yuna sambil meraih tas tangannya dan bangkit dari tempat duduk.

 

Bellina menghadang tubuh Yuna. “Kenapa? Kamu takut berhadapan sama aku?” tanya Bellina sambil tersenyum.

 

Yuna menarik napas panjang. Ia tidak ingin meladeni Bellina dan membahayakan orang-orang di sekitarnya.

 

Bellina tersenyum sambil menatap Yuna yang sudah berhadapan dengannya. Tangannya mencoba menyentuh perut Yuna.

 

Yuna langsung menahan tangan Bellina agar tidak menyentuh anak yang ada di dalam perutnya.

 

“Hati-hati ya, Yun!” tutur Bellina sambil tersenyum ke arah Yuna. Tatapan kali ini, mengisyaratkan sebuah ancaman yang tak biasa.

 

Melan yang berdiri di samping Bellina, tak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum sinis menatap wajah Yuna.

 

Yuna melangkah mundur, berusaha menghindari Bellina dan tantenya yang selalu bersikap kejam terhadap dirinya. Ia tidak ingin hidupnya kembali dikuasai oleh dua wanita mengerikan itu. Sejak menikah dengan Yeriko, kehidupannya jauh lebih baik dan bahagia.

 

“Yun, nggak usah terlalu dipikirin omongan Bellina. Kita semua pasti melindungi kamu, kok,” ucap Jheni saat mereka bertiga melangkah keluar dari kafe dessert tersebut.

 

Di sudut lain, ada dua pasang mata milik pria tampan yang memerhatikan gerak-gerik Yuna dan Bellina.

 

“Jun, kamu perhatiin yang mana? Yang pake dress batik itu atau yang pake baju biru?” tanya pria yang ada di sebelah Arjuna.

 

“Dua-duanya,” jawab Arjuna sambil terus menatap tubuh Yuna yang perlahan keluar dari tempat tersebut.

 

“Target kamu sebenarnya yang mana?” tanya pria yang ada di sebelah Arjuna.

 

“Yang baju biru itu. Tapi, perempuan yang pakai dress batik itu jauh lebih menarik.”

 

Pria yang ada di sebelah Arjuna menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa melihat tingkah sahabatnya.

 

“Malvino ...!” panggil Arjuna tanpa mengalihkan pandangannya dari tubuh Bellina yang berjarak cukup jauh dari mejanya.

 

“Apa?” tanya pria yang duduk di sebelah Arjuna.

 

“Bantu aku selidiki wanita yang pakai baju batik tadi. Apa hubungannya sama cewek yang pakai baju biru itu?”

 

Pria yang bernama Malvino itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

Arjuna terus tersenyum, sudah lama ia tidak memiliki mainan yang bisa menyenangkan hatinya. Ia merasa kalau dirinya akan mendapatkan mainan baru yang bisa ia gunakan untuk menyenangkan dirinya sendiri.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini supaya aku bisa bikin cerita yang lebih seru dan lebih menarik lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 456 : Sepupu Bikin Pilu

 


-        The Harvest Patissier ,  19 September 2017 –

 

“Jhen, di kawasan Dharmawangsa, ada toko neil art baru loh. Besok ke sana, yuk!” ajak Icha sambil menatap Jheni yang duduk berhadapan dengannya.

 

“Aku nggak diajak?” sahut Yuna yang duduk di samping Icha.

 

“Emangnya ibu hamil boleh nail art?” tanya Icha balik.

 

Mereka bertiga langsung saling pandang.

 

“Huft, kenapa sih jadi ibu hamil rumit banget?” gumam Yuna.

 

“Boleh, kali. Asal nggak berlebihan,” tutur Icha.

 

“Kutek itu bahan kimia, Cha. Bahaya buat ibu hamil. Apalagi, kita datangi tempatnya,” tutur Jheni.

 

“Nggak sering, Jhen. Mungkin, kalau cuma sesekali, nggak papa.”

 

“Kita nggak pernah tahu gimana kondisi janin di perut Yuna. Dia susah buat bisa hamil karena cold uterus. Bisa jadi, janinnya juga sensitif sama bahan kimia. Kalau sampe ngebahayain janin Yuna, gimana?” tutur Jheni.

 

“Iya juga, sih. Kalo Yeriko tahu, kita juga bakal kena semprot. Kamu nggak usah ikut ya, Yun!” pinta Icha.

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, aku tahu,” ucapnya sambil memutar bola mata.

 

“Nggak usah gitu juga mukanya! Jelek tau!” sahut Jheni.

 

“Aku juga kan pengen kelihatan cantik kayak kalian,” tutur Yuna sambil menggigit bibirnya.

 

“Yun, kamu itu udah cantik. Nggak perlu kayak ginian juga tetep kelihatan cantik, kok. Jangan minder, dong!” pinta Icha sambil mengelus pundak Yuna.

 

“Akhir-akhir ini, aku selalu ngerasa minder sama penampilan aku sendiri. Aku takut aja Yeriko nggak suka lihat aku kalau biasa aja. Apalagi, aku makin gemuk. Aku pengen tetap kelihatan cantik dan modis walau lagi hamil. Biar nggak malu-maluin suamiku.”

 

Jheni dan Icha saling pandang. Mereka terlihat berkomunikasi hanya dengan isyarat matanya.

 

“Kamu tetep modis dan cantik gini, kok. Kenapa minder, sih? Nggak boleh kayak gini, Yun. Harusnya, kamu bahagia dan bangga karena perubahan fisik kamu adalah wujud cinta kamu dan Yeriko yang sesungguhnya,” tutur Icha.

 

“Iya, Yun. Kita nggak akan ke toko nail art, kok. Aku juga hapus make-up aku, nih!” tutur Jheni sambil mengeluarkan kapas kecantikan dan micellar water dari dalam tasnya. Ia melihat wajahnya dari kaca yang ada di dalam compact powder dan menghapus make-up tipis yang menghiasi wajahnya.

 

“Aku juga,” tutur Icha. Ia dan Jheni tidak ingin Yuna terus merasa minder karena tidak bisa menggunakan make-up semenjak hamil.

 

Yuna tertawa kecil. “Kalian nggak perlu kayak gini juga!” pintanya.

 

“Kita nggak mau kamu selalu minder terus-terusan. Padahal, kamu itu setiap hari malah makin cantik dan seksi. Kita nggak akan pakai make-up sehari-hari selama kamu hamil. Gimana?” tanya Icha.

 

“Kalian berdua nggak hamil. Buat apa ngikuti aku?” tanya Yuna.

 

“Buat ngeyakini kamu kalau kamu itu tetap cantik walau lagi hamil.”

 

“Aku nggak pake skincare, Jhen. Masa masih bagus, sih?”

 

Jheni dan Icha mengangguk bersamaan.

 

“Serius?” tanya Yuna lagi.

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum. “Aura kecantikan wanita hamil itu berbeda dengan wanita normal biasanya.”

 

Yuna tersenyum kecil. Ia harap, ucapan kedua sahabatnya itu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Bukan karena ingin mengerjainya atau sekadar membuat perasaannya bahagia.

 

“Eh, kamu lihat atau nggak postingan Refi hari inni?” tanya Jheni.

 

“Postingan yang  mana?” tanya Icha dan Yuna.

 

“Yang di Instagram tadi pagi.”

 

“Kamu perhatiin dia banget, Jhen?” tanya Yuna.

 

“Iih ... itu juga karena aku di DM sama penggemarku. Kalau bukan dari mereka. Aku nggak update postingan Refi, loh.”

 

“Apalagi yang dia buat hari ini?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

 

“Biasa. Video unfaedah!”

 

Yuna terkekeh mendengar ucapan Jheni. “Eh, dia beneran diberhentikan dari semua acara SD Entertainment?” tanya Yuna sambil menatap Icha.

 

Icha menganggukkan kepala. “Lutfi emang demen bercanda. Tapi soal kerjaan, dia nggak pernah bercanda. Dia beneran bikin Refi nggak berkutik. Di kontraknya dia, dia nggak boleh terikat kontrak dengan perusahaan lain selama kontrak sama SD Entertainment masih berjalan.”

 

“Kontrak berapa tahun?” tanya Yuna.

 

Icha mengedikkan bahunya. “Aku nggak tahu pastinya. Mungkin ... sekitar setahun atau dua tahunan gitu.”

 

“Lama juga ya? Terus, dia dibikin nganggur gitu sama Lutfi? Jadi artis yang nggak punya karya, dong?”

 

Icha mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dia di-blacklist dari semua kegiatan hiburan. Termasuk pihak iklan dan sponsor.”

 

“Ngeri juga si Lutfi,” sahut Jheni sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

Icha mengangguk-anggukan kepalanya. “Pasti, si Refi lagi uring-uringan karena semua kegiatannya dihentikan.”

 

Jheni mengangguk sambil tertawa. “Pantesan aja, waktu datang ke rumah Yuna sampe kayak orang gila. Aku curiga, dia punya kelainan jiwa kayak Bu Ratna. Kena delusi juga.”

 

“Wah ...! Bisa jadi begitu. Dia kan agak aneh, ya?” tanya Icha.

 

“Bukan agak aneh. Emang aneh,” sahut Jheni sambil menikmati cemilan dan minuman yang sudah mereka pesan sebelumnya.

 

Yuna dan Icha terkekeh mendengar ucapan Jheni.

 

“Semoga aja, si Refi nggak nyari kamu lagi, Yun. Kayaknya, dia menumpahkan semua kegagalan karir dan cintanya ke kamu. Ngeselin banget ‘kan? Udah nggak waras itu orang,” tutur Jheni.

 

Yuna hanya tersenyum kecil. Ia tidak begitu semangat untuk mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Jheni karena tiba-tiba ia ingin buang air kecil. “Aku ke toilet dulu ya!” pamit Yuna.

 

Jheni dan Icha menganggukkan kepala.”Hati-hati, Yun!”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia melangkahkan kakinya menuju toilet yang ada di tempat tersebut. Ia berada di dalam toilet selama beberapa menit.

 

Saat keluar dari pintu toilet, Yuna terkejut melihat sosok wanita yang sudah berdiri di hadapannya.

 

“Hai ...!” sapa wanita tersebut sambil tersenyum manis.

 

“Bellina!?” Yuna mengerutkan dahi. Ia merasa tidak nyaman menghadapi senyuman yang tersirat dari bibir Bellina.

 

Bellina tersenyum sambil menatap Yuna. “Apa kabar, Yun?”

 

“Baik,” jawab Yuna singkat. Ia meningkatkan kewaspadaaannya, ia khawatir kalau Bellina akan melukai anak yang ada di dalam perutnya.

 

“Kamu sama siapa ke sini?”

 

“Sama Jheni dan Icha.”

 

“Oh. Aku di sini sama mama juga. Gimana kalau kita duduk di meja makan bareng sambil ngobrol? Kita udah lama nggak ketemu. Pasti, ada banyak hal yang bisa kita obrolin sebagai saudara,” tutur Bellina sambil tersenyum.

 

Yuna menatap wajah Bellina. Meski Bellina tersenyum manis kepadanya, tapi Yuna malah membenci senyuman itu. Ia masih tidak mengerti dengan sikap Bellina. Semenjak kejadian itu, Bellina tak pernah lagi mengganggu dirinya. Namun, tatapan Bellina kembali seperti beberapa tahun lalu saat Yuna akan pergi ke Melbourne.

 

Bellina terus tersenyum menatap Yuna yang terdiam. “Gimana, Yun? Mumpung kita ketemu di sini.

 

“Nggak usah, Bel. Nggak ada hal yang bisa kita bicarakan. Aku ke sini bareng Icha dan Jheni. Makasih buat tawaran dan niat baik kamu,” tutur Yuna sambil melangkah pergi.

 

Bellina tersenyum menanggapi ucapan Bellina. “Oke. Aku nggak akan maksa. Hati-hati, Yun! Lantainya licin!” tutur Bellina sambil memegang pergelangan tangan Yuna dan membantunya keluar dari toilet tersebut.

 

Yuna tersenyum. “Makas—” Ucapannya terputus saat Bellina menancapkan kuku-kuku panjangnya ke pergelangan tangan Yuna.

 

Bellina tersenyum menatap wajah Yuna tanpa mengatakan apa pun.

 

“Sakit, Bel!” rintih Yuna, ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Bellina.

 

“Ini belum ada apa-apanya dibanding dengan rasa sakit yang udah aku terima selama ini,” tutur Bellina lirih.

 

Yuna tak mengerti maksud dari ucapan Bellina. Ia merasa tidak melakukan apa pun yang menyakiti hati Bellina. Tapi, Bellina terus-menerus menyerangnya. Sejak kecil, Bellina dan dirinya sering berebut banyak hal.

 

Bellina tak pernah bahagia sedikit pun melihat kehidupan Yuna yang selalu baik. Setiap kali ayahnya membelikan sesuatu untuk Yuna, ia akan selalu merebut dari tangan Yuna. Ia benci setiap kali Yuna lebih unggul darinya.

 

Saat mereka beranjak dewasa. Bellina bukan lagi merebut mainan atau pakaian Yuna. Tapi, ia sudah merebut semuanya dari tangan Yuna. Merebut perusahaan milik keluarganya, merebut kekasih milik Yuna. Semua kebahagiaan yang Yuna dapatkan, Bellina selalu menginginkannya. Terlebih, saat ini Yuna sangat bahagia akan memiliki seorang anak. Sedangkan dia, anaknya harus pergi meninggalkan dirinya karena ia terlalu stres memikirkan hubungannya dengan Lian yang tidak harmonis karena Lian selalu memerhatikan Yuna.

 

Kejadian di kafe hari itu, masih terus membayangi pikiran Bellina. Bagaimana bisa ia melihat suaminya sendiri duduk bersama wanita lain di dalam sana. Suaminya dengan sabar menunggu Yuna dijemput oleh supirnya. Hal ini, membuat rasa cemburu dan rasa iri di dalam hati Bellina kembali mencuat. Membuat ia tidak bisa memaafkan kehadiran Yuna begitu saja.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini  biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas