Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 456 : Sepupu Bikin Pilu

 


-        The Harvest Patissier ,  19 September 2017 –

 

“Jhen, di kawasan Dharmawangsa, ada toko neil art baru loh. Besok ke sana, yuk!” ajak Icha sambil menatap Jheni yang duduk berhadapan dengannya.

 

“Aku nggak diajak?” sahut Yuna yang duduk di samping Icha.

 

“Emangnya ibu hamil boleh nail art?” tanya Icha balik.

 

Mereka bertiga langsung saling pandang.

 

“Huft, kenapa sih jadi ibu hamil rumit banget?” gumam Yuna.

 

“Boleh, kali. Asal nggak berlebihan,” tutur Icha.

 

“Kutek itu bahan kimia, Cha. Bahaya buat ibu hamil. Apalagi, kita datangi tempatnya,” tutur Jheni.

 

“Nggak sering, Jhen. Mungkin, kalau cuma sesekali, nggak papa.”

 

“Kita nggak pernah tahu gimana kondisi janin di perut Yuna. Dia susah buat bisa hamil karena cold uterus. Bisa jadi, janinnya juga sensitif sama bahan kimia. Kalau sampe ngebahayain janin Yuna, gimana?” tutur Jheni.

 

“Iya juga, sih. Kalo Yeriko tahu, kita juga bakal kena semprot. Kamu nggak usah ikut ya, Yun!” pinta Icha.

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, aku tahu,” ucapnya sambil memutar bola mata.

 

“Nggak usah gitu juga mukanya! Jelek tau!” sahut Jheni.

 

“Aku juga kan pengen kelihatan cantik kayak kalian,” tutur Yuna sambil menggigit bibirnya.

 

“Yun, kamu itu udah cantik. Nggak perlu kayak ginian juga tetep kelihatan cantik, kok. Jangan minder, dong!” pinta Icha sambil mengelus pundak Yuna.

 

“Akhir-akhir ini, aku selalu ngerasa minder sama penampilan aku sendiri. Aku takut aja Yeriko nggak suka lihat aku kalau biasa aja. Apalagi, aku makin gemuk. Aku pengen tetap kelihatan cantik dan modis walau lagi hamil. Biar nggak malu-maluin suamiku.”

 

Jheni dan Icha saling pandang. Mereka terlihat berkomunikasi hanya dengan isyarat matanya.

 

“Kamu tetep modis dan cantik gini, kok. Kenapa minder, sih? Nggak boleh kayak gini, Yun. Harusnya, kamu bahagia dan bangga karena perubahan fisik kamu adalah wujud cinta kamu dan Yeriko yang sesungguhnya,” tutur Icha.

 

“Iya, Yun. Kita nggak akan ke toko nail art, kok. Aku juga hapus make-up aku, nih!” tutur Jheni sambil mengeluarkan kapas kecantikan dan micellar water dari dalam tasnya. Ia melihat wajahnya dari kaca yang ada di dalam compact powder dan menghapus make-up tipis yang menghiasi wajahnya.

 

“Aku juga,” tutur Icha. Ia dan Jheni tidak ingin Yuna terus merasa minder karena tidak bisa menggunakan make-up semenjak hamil.

 

Yuna tertawa kecil. “Kalian nggak perlu kayak gini juga!” pintanya.

 

“Kita nggak mau kamu selalu minder terus-terusan. Padahal, kamu itu setiap hari malah makin cantik dan seksi. Kita nggak akan pakai make-up sehari-hari selama kamu hamil. Gimana?” tanya Icha.

 

“Kalian berdua nggak hamil. Buat apa ngikuti aku?” tanya Yuna.

 

“Buat ngeyakini kamu kalau kamu itu tetap cantik walau lagi hamil.”

 

“Aku nggak pake skincare, Jhen. Masa masih bagus, sih?”

 

Jheni dan Icha mengangguk bersamaan.

 

“Serius?” tanya Yuna lagi.

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum. “Aura kecantikan wanita hamil itu berbeda dengan wanita normal biasanya.”

 

Yuna tersenyum kecil. Ia harap, ucapan kedua sahabatnya itu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Bukan karena ingin mengerjainya atau sekadar membuat perasaannya bahagia.

 

“Eh, kamu lihat atau nggak postingan Refi hari inni?” tanya Jheni.

 

“Postingan yang  mana?” tanya Icha dan Yuna.

 

“Yang di Instagram tadi pagi.”

 

“Kamu perhatiin dia banget, Jhen?” tanya Yuna.

 

“Iih ... itu juga karena aku di DM sama penggemarku. Kalau bukan dari mereka. Aku nggak update postingan Refi, loh.”

 

“Apalagi yang dia buat hari ini?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

 

“Biasa. Video unfaedah!”

 

Yuna terkekeh mendengar ucapan Jheni. “Eh, dia beneran diberhentikan dari semua acara SD Entertainment?” tanya Yuna sambil menatap Icha.

 

Icha menganggukkan kepala. “Lutfi emang demen bercanda. Tapi soal kerjaan, dia nggak pernah bercanda. Dia beneran bikin Refi nggak berkutik. Di kontraknya dia, dia nggak boleh terikat kontrak dengan perusahaan lain selama kontrak sama SD Entertainment masih berjalan.”

 

“Kontrak berapa tahun?” tanya Yuna.

 

Icha mengedikkan bahunya. “Aku nggak tahu pastinya. Mungkin ... sekitar setahun atau dua tahunan gitu.”

 

“Lama juga ya? Terus, dia dibikin nganggur gitu sama Lutfi? Jadi artis yang nggak punya karya, dong?”

 

Icha mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dia di-blacklist dari semua kegiatan hiburan. Termasuk pihak iklan dan sponsor.”

 

“Ngeri juga si Lutfi,” sahut Jheni sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

Icha mengangguk-anggukan kepalanya. “Pasti, si Refi lagi uring-uringan karena semua kegiatannya dihentikan.”

 

Jheni mengangguk sambil tertawa. “Pantesan aja, waktu datang ke rumah Yuna sampe kayak orang gila. Aku curiga, dia punya kelainan jiwa kayak Bu Ratna. Kena delusi juga.”

 

“Wah ...! Bisa jadi begitu. Dia kan agak aneh, ya?” tanya Icha.

 

“Bukan agak aneh. Emang aneh,” sahut Jheni sambil menikmati cemilan dan minuman yang sudah mereka pesan sebelumnya.

 

Yuna dan Icha terkekeh mendengar ucapan Jheni.

 

“Semoga aja, si Refi nggak nyari kamu lagi, Yun. Kayaknya, dia menumpahkan semua kegagalan karir dan cintanya ke kamu. Ngeselin banget ‘kan? Udah nggak waras itu orang,” tutur Jheni.

 

Yuna hanya tersenyum kecil. Ia tidak begitu semangat untuk mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Jheni karena tiba-tiba ia ingin buang air kecil. “Aku ke toilet dulu ya!” pamit Yuna.

 

Jheni dan Icha menganggukkan kepala.”Hati-hati, Yun!”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia melangkahkan kakinya menuju toilet yang ada di tempat tersebut. Ia berada di dalam toilet selama beberapa menit.

 

Saat keluar dari pintu toilet, Yuna terkejut melihat sosok wanita yang sudah berdiri di hadapannya.

 

“Hai ...!” sapa wanita tersebut sambil tersenyum manis.

 

“Bellina!?” Yuna mengerutkan dahi. Ia merasa tidak nyaman menghadapi senyuman yang tersirat dari bibir Bellina.

 

Bellina tersenyum sambil menatap Yuna. “Apa kabar, Yun?”

 

“Baik,” jawab Yuna singkat. Ia meningkatkan kewaspadaaannya, ia khawatir kalau Bellina akan melukai anak yang ada di dalam perutnya.

 

“Kamu sama siapa ke sini?”

 

“Sama Jheni dan Icha.”

 

“Oh. Aku di sini sama mama juga. Gimana kalau kita duduk di meja makan bareng sambil ngobrol? Kita udah lama nggak ketemu. Pasti, ada banyak hal yang bisa kita obrolin sebagai saudara,” tutur Bellina sambil tersenyum.

 

Yuna menatap wajah Bellina. Meski Bellina tersenyum manis kepadanya, tapi Yuna malah membenci senyuman itu. Ia masih tidak mengerti dengan sikap Bellina. Semenjak kejadian itu, Bellina tak pernah lagi mengganggu dirinya. Namun, tatapan Bellina kembali seperti beberapa tahun lalu saat Yuna akan pergi ke Melbourne.

 

Bellina terus tersenyum menatap Yuna yang terdiam. “Gimana, Yun? Mumpung kita ketemu di sini.

 

“Nggak usah, Bel. Nggak ada hal yang bisa kita bicarakan. Aku ke sini bareng Icha dan Jheni. Makasih buat tawaran dan niat baik kamu,” tutur Yuna sambil melangkah pergi.

 

Bellina tersenyum menanggapi ucapan Bellina. “Oke. Aku nggak akan maksa. Hati-hati, Yun! Lantainya licin!” tutur Bellina sambil memegang pergelangan tangan Yuna dan membantunya keluar dari toilet tersebut.

 

Yuna tersenyum. “Makas—” Ucapannya terputus saat Bellina menancapkan kuku-kuku panjangnya ke pergelangan tangan Yuna.

 

Bellina tersenyum menatap wajah Yuna tanpa mengatakan apa pun.

 

“Sakit, Bel!” rintih Yuna, ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Bellina.

 

“Ini belum ada apa-apanya dibanding dengan rasa sakit yang udah aku terima selama ini,” tutur Bellina lirih.

 

Yuna tak mengerti maksud dari ucapan Bellina. Ia merasa tidak melakukan apa pun yang menyakiti hati Bellina. Tapi, Bellina terus-menerus menyerangnya. Sejak kecil, Bellina dan dirinya sering berebut banyak hal.

 

Bellina tak pernah bahagia sedikit pun melihat kehidupan Yuna yang selalu baik. Setiap kali ayahnya membelikan sesuatu untuk Yuna, ia akan selalu merebut dari tangan Yuna. Ia benci setiap kali Yuna lebih unggul darinya.

 

Saat mereka beranjak dewasa. Bellina bukan lagi merebut mainan atau pakaian Yuna. Tapi, ia sudah merebut semuanya dari tangan Yuna. Merebut perusahaan milik keluarganya, merebut kekasih milik Yuna. Semua kebahagiaan yang Yuna dapatkan, Bellina selalu menginginkannya. Terlebih, saat ini Yuna sangat bahagia akan memiliki seorang anak. Sedangkan dia, anaknya harus pergi meninggalkan dirinya karena ia terlalu stres memikirkan hubungannya dengan Lian yang tidak harmonis karena Lian selalu memerhatikan Yuna.

 

Kejadian di kafe hari itu, masih terus membayangi pikiran Bellina. Bagaimana bisa ia melihat suaminya sendiri duduk bersama wanita lain di dalam sana. Suaminya dengan sabar menunggu Yuna dijemput oleh supirnya. Hal ini, membuat rasa cemburu dan rasa iri di dalam hati Bellina kembali mencuat. Membuat ia tidak bisa memaafkan kehadiran Yuna begitu saja.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini  biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas