- The Harvest Patissier , 19 September 2017
–
“Jhen,
di kawasan Dharmawangsa, ada toko neil art baru loh. Besok ke sana, yuk!” ajak
Icha sambil menatap Jheni yang duduk berhadapan dengannya.
“Aku
nggak diajak?” sahut Yuna yang duduk di samping Icha.
“Emangnya
ibu hamil boleh nail art?” tanya Icha balik.
Mereka
bertiga langsung saling pandang.
“Huft,
kenapa sih jadi ibu hamil rumit banget?” gumam Yuna.
“Boleh,
kali. Asal nggak berlebihan,” tutur Icha.
“Kutek
itu bahan kimia, Cha. Bahaya buat ibu hamil. Apalagi, kita datangi tempatnya,”
tutur Jheni.
“Nggak
sering, Jhen. Mungkin, kalau cuma sesekali, nggak papa.”
“Kita
nggak pernah tahu gimana kondisi janin di perut Yuna. Dia susah buat bisa hamil
karena cold uterus. Bisa jadi, janinnya juga sensitif sama bahan kimia. Kalau
sampe ngebahayain janin Yuna, gimana?” tutur Jheni.
“Iya
juga, sih. Kalo Yeriko tahu, kita juga bakal kena semprot. Kamu nggak usah ikut
ya, Yun!” pinta Icha.
Yuna
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, aku tahu,” ucapnya sambil memutar bola
mata.
“Nggak
usah gitu juga mukanya! Jelek tau!” sahut Jheni.
“Aku
juga kan pengen kelihatan cantik kayak kalian,” tutur Yuna sambil menggigit
bibirnya.
“Yun,
kamu itu udah cantik. Nggak perlu kayak ginian juga tetep kelihatan cantik,
kok. Jangan minder, dong!” pinta Icha sambil mengelus pundak Yuna.
“Akhir-akhir
ini, aku selalu ngerasa minder sama penampilan aku sendiri. Aku takut aja
Yeriko nggak suka lihat aku kalau biasa aja. Apalagi, aku makin gemuk. Aku
pengen tetap kelihatan cantik dan modis walau lagi hamil. Biar nggak
malu-maluin suamiku.”
Jheni
dan Icha saling pandang. Mereka terlihat berkomunikasi hanya dengan isyarat
matanya.
“Kamu
tetep modis dan cantik gini, kok. Kenapa minder, sih? Nggak boleh kayak gini,
Yun. Harusnya, kamu bahagia dan bangga karena perubahan fisik kamu adalah wujud
cinta kamu dan Yeriko yang sesungguhnya,” tutur Icha.
“Iya,
Yun. Kita nggak akan ke toko nail art, kok. Aku juga hapus make-up aku, nih!”
tutur Jheni sambil mengeluarkan kapas kecantikan dan micellar water dari dalam
tasnya. Ia melihat wajahnya dari kaca yang ada di dalam compact powder dan
menghapus make-up tipis yang menghiasi wajahnya.
“Aku
juga,” tutur Icha. Ia dan Jheni tidak ingin Yuna terus merasa minder karena
tidak bisa menggunakan make-up semenjak hamil.
Yuna
tertawa kecil. “Kalian nggak perlu kayak gini juga!” pintanya.
“Kita
nggak mau kamu selalu minder terus-terusan. Padahal, kamu itu setiap hari malah
makin cantik dan seksi. Kita nggak akan pakai make-up sehari-hari selama kamu
hamil. Gimana?” tanya Icha.
“Kalian
berdua nggak hamil. Buat apa ngikuti aku?” tanya Yuna.
“Buat
ngeyakini kamu kalau kamu itu tetap cantik walau lagi hamil.”
“Aku
nggak pake skincare, Jhen. Masa masih bagus, sih?”
Jheni
dan Icha mengangguk bersamaan.
“Serius?”
tanya Yuna lagi.
Jheni
mengangguk sambil tersenyum. “Aura kecantikan wanita hamil itu berbeda dengan
wanita normal biasanya.”
Yuna
tersenyum kecil. Ia harap, ucapan kedua sahabatnya itu dilakukan dengan
sungguh-sungguh. Bukan karena ingin mengerjainya atau sekadar membuat
perasaannya bahagia.
“Eh,
kamu lihat atau nggak postingan Refi hari inni?” tanya Jheni.
“Postingan
yang mana?” tanya Icha dan Yuna.
“Yang
di Instagram tadi pagi.”
“Kamu
perhatiin dia banget, Jhen?” tanya Yuna.
“Iih
... itu juga karena aku di DM sama penggemarku. Kalau bukan dari mereka. Aku
nggak update postingan Refi, loh.”
“Apalagi
yang dia buat hari ini?” tanya Yuna sambil menahan tawa.
“Biasa.
Video unfaedah!”
Yuna
terkekeh mendengar ucapan Jheni. “Eh, dia beneran diberhentikan dari semua
acara SD Entertainment?” tanya Yuna sambil menatap Icha.
Icha
menganggukkan kepala. “Lutfi emang demen bercanda. Tapi soal kerjaan, dia nggak
pernah bercanda. Dia beneran bikin Refi nggak berkutik. Di kontraknya dia, dia
nggak boleh terikat kontrak dengan perusahaan lain selama kontrak sama SD
Entertainment masih berjalan.”
“Kontrak
berapa tahun?” tanya Yuna.
Icha
mengedikkan bahunya. “Aku nggak tahu pastinya. Mungkin ... sekitar setahun atau
dua tahunan gitu.”
“Lama
juga ya? Terus, dia dibikin nganggur gitu sama Lutfi? Jadi artis yang nggak
punya karya, dong?”
Icha
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dia di-blacklist dari semua kegiatan hiburan.
Termasuk pihak iklan dan sponsor.”
“Ngeri
juga si Lutfi,” sahut Jheni sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Icha
mengangguk-anggukan kepalanya. “Pasti, si Refi lagi uring-uringan karena semua
kegiatannya dihentikan.”
Jheni
mengangguk sambil tertawa. “Pantesan aja, waktu datang ke rumah Yuna sampe
kayak orang gila. Aku curiga, dia punya kelainan jiwa kayak Bu Ratna. Kena
delusi juga.”
“Wah
...! Bisa jadi begitu. Dia kan agak aneh, ya?” tanya Icha.
“Bukan
agak aneh. Emang aneh,” sahut Jheni sambil menikmati cemilan dan minuman yang
sudah mereka pesan sebelumnya.
Yuna
dan Icha terkekeh mendengar ucapan Jheni.
“Semoga
aja, si Refi nggak nyari kamu lagi, Yun. Kayaknya, dia menumpahkan semua
kegagalan karir dan cintanya ke kamu. Ngeselin banget ‘kan? Udah nggak waras
itu orang,” tutur Jheni.
Yuna
hanya tersenyum kecil. Ia tidak begitu semangat untuk mendengarkan ucapan yang
keluar dari mulut Jheni karena tiba-tiba ia ingin buang air kecil. “Aku ke
toilet dulu ya!” pamit Yuna.
Jheni
dan Icha menganggukkan kepala.”Hati-hati, Yun!”
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. Ia melangkahkan kakinya menuju toilet yang ada di
tempat tersebut. Ia berada di dalam toilet selama beberapa menit.
Saat
keluar dari pintu toilet, Yuna terkejut melihat sosok wanita yang sudah berdiri
di hadapannya.
“Hai
...!” sapa wanita tersebut sambil tersenyum manis.
“Bellina!?”
Yuna mengerutkan dahi. Ia merasa tidak nyaman menghadapi senyuman yang tersirat
dari bibir Bellina.
Bellina
tersenyum sambil menatap Yuna. “Apa kabar, Yun?”
“Baik,”
jawab Yuna singkat. Ia meningkatkan kewaspadaaannya, ia khawatir kalau Bellina
akan melukai anak yang ada di dalam perutnya.
“Kamu
sama siapa ke sini?”
“Sama
Jheni dan Icha.”
“Oh.
Aku di sini sama mama juga. Gimana kalau kita duduk di meja makan bareng sambil
ngobrol? Kita udah lama nggak ketemu. Pasti, ada banyak hal yang bisa kita
obrolin sebagai saudara,” tutur Bellina sambil tersenyum.
Yuna
menatap wajah Bellina. Meski Bellina tersenyum manis kepadanya, tapi Yuna malah
membenci senyuman itu. Ia masih tidak mengerti dengan sikap Bellina. Semenjak
kejadian itu, Bellina tak pernah lagi mengganggu dirinya. Namun, tatapan
Bellina kembali seperti beberapa tahun lalu saat Yuna akan pergi ke Melbourne.
Bellina
terus tersenyum menatap Yuna yang terdiam. “Gimana, Yun? Mumpung kita ketemu di
sini.
“Nggak
usah, Bel. Nggak ada hal yang bisa kita bicarakan. Aku ke sini bareng Icha dan
Jheni. Makasih buat tawaran dan niat baik kamu,” tutur Yuna sambil melangkah
pergi.
Bellina
tersenyum menanggapi ucapan Bellina. “Oke. Aku nggak akan maksa. Hati-hati,
Yun! Lantainya licin!” tutur Bellina sambil memegang pergelangan tangan Yuna
dan membantunya keluar dari toilet tersebut.
Yuna
tersenyum. “Makas—” Ucapannya terputus saat Bellina menancapkan kuku-kuku
panjangnya ke pergelangan tangan Yuna.
Bellina
tersenyum menatap wajah Yuna tanpa mengatakan apa pun.
“Sakit,
Bel!” rintih Yuna, ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Bellina.
“Ini
belum ada apa-apanya dibanding dengan rasa sakit yang udah aku terima selama
ini,” tutur Bellina lirih.
Yuna
tak mengerti maksud dari ucapan Bellina. Ia merasa tidak melakukan apa pun yang
menyakiti hati Bellina. Tapi, Bellina terus-menerus menyerangnya. Sejak kecil,
Bellina dan dirinya sering berebut banyak hal.
Bellina
tak pernah bahagia sedikit pun melihat kehidupan Yuna yang selalu baik. Setiap
kali ayahnya membelikan sesuatu untuk Yuna, ia akan selalu merebut dari tangan
Yuna. Ia benci setiap kali Yuna lebih unggul darinya.
Saat
mereka beranjak dewasa. Bellina bukan lagi merebut mainan atau pakaian Yuna.
Tapi, ia sudah merebut semuanya dari tangan Yuna. Merebut perusahaan milik
keluarganya, merebut kekasih milik Yuna. Semua kebahagiaan yang Yuna dapatkan,
Bellina selalu menginginkannya. Terlebih, saat ini Yuna sangat bahagia akan
memiliki seorang anak. Sedangkan dia, anaknya harus pergi meninggalkan dirinya
karena ia terlalu stres memikirkan hubungannya dengan Lian yang tidak harmonis
karena Lian selalu memerhatikan Yuna.
Kejadian
di kafe hari itu, masih terus membayangi pikiran Bellina. Bagaimana bisa ia
melihat suaminya sendiri duduk bersama wanita lain di dalam sana. Suaminya
dengan sabar menunggu Yuna dijemput oleh supirnya. Hal ini, membuat rasa
cemburu dan rasa iri di dalam hati Bellina kembali mencuat. Membuat ia tidak
bisa memaafkan kehadiran Yuna begitu saja.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini
biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment