“Bi,
si Angga udah datang?” tanya Yuna. Seperti biasa, ia selalu memasak setiap hari
dan mengantarkan makan siang untuk ayah dan suaminya.
“Sudah,
Mbak. Sudah nunggu di halaman dari tadi.”
“Tumben
banget dia datang cepat? Nggak antar Mama Rully dulu?” tanya Yuna sambil
merapikan kotak makanan yang ada di atas meja.
“Katanya,
udah antar Ibu pagi-pagi ke bandara.”
“Bandara?”
Yuna mengerutkan dahinya. “Oh, iya. Mama bilang mau urus bisnis yang di
Jakarta,” ucapnya sambil menepuk dahi. Ia hampir lupa, padahal mama mertuanya
sudah memberitahunya terlebih dahulu lewat panggilan telepon.
Bibi
War membantu Yuna membawa kotak bekalnya sampai ke dalam mobil.
“Bi,
aku antar makan siang untuk ayah dan suamiku dulu ya!” pamit Yuna.
“Iya,
hati-hati ya!”
“Iya,
Bi.” Yuna segera masuk ke dalam mobil.
“Hati-hati
bawa Mbak Yuna!” pinta Bibi War sambil menepuk bahu Angga.
“Siap,
Bi!” Angga mengangguk. Ia segera masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya
perlahan keluar dari halaman rumah.
Belum
sampai ke jalan raya, Angga tiba-tiba menghentikan mobilnya.
“Ada
apa, Ngga?” tanya Yuna sambil memainkan ponselnya.
“Ada
orang iseng kayaknya. Masa tong sampah besar-besar gitu ditaruh di tengah
jalan?” jawab Angga sambil melepas safety belt.
“Ada-ada
aja,” celetuk Yuna tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Ia sedang
membaca artikel tentang ibu hamil yang berhasil menarik perhatiannya.
“Nyonya
Bos tunggu di sini. Saya turun dulu!” tutur Angga sambil membuka pintu mobil.
“Umh.”
Yuna mengangguk.
Angga
keluar dari mobil. Ia mengedarkan pandangannya. Tak ada satu orang pun di sana
yang bisa ia minta tolong. Juga tak ada kendaraan lain yang melintas di jalan
tersebut.
Angga
menarik napas dalam-dalam. Ia menarik tong sampah tersebut ke tepi jalan agar
ia bisa melintas dengan mudah. “Beres!” ucapnya sambil mengibaskan tangannya
yang sedikit kotor.
Belum
sampai berbalik, tiba-tiba kepala Angga dimasukan ke dalam karung oleh tiga
orang pria yang muncul dari balik tanaman pagar yang ada di tempat itu.
“Hei,
kalian siapa!?” seru Angga sambil berusaha melepas kedua tangan yang diikat
menggunakan tali.
“Diapain
ini supir?” tanya salah seorang pria yang ada di sana.
“Taruh
situ aja!” jawab salah seorang pria sambil menunjuk tanaman pagar yang ada di
sana.
Satu
pria mendorong tubuh Angga masuk ke belakang tanaman pagar tersebut. Sedang dua
pria lainnya langsung masuk ke dalam mobil.
“Eh!?
Kalian siapa?” tanya Yuna begitu melihat dua pria masuk ke dalam mobil.
Dua
pria yang menutup wajah itu langsung menarik Yuna keluar dari dalam mobil.
Yuna
terus memberontak, ia berusaha untuk melepaskan diri. “TOLONG ...!” teriaknya.
“Nyonya
Bos ...!” Angga yang mendengar teriakan majikannya, langsung panik. Ia berusaha
melepas ikatan di tangannya.
“Nggak
usah teriak-teriak!” salah seorang pria langsung membungkam mulut Yuna
menggunakan sapu tangan, kemudian membawa Yuna masuk ke dalam mobil lain.
Mereka langsung melaju kencang meninggalkan tempat tersebut.
Angga
tak bisa lagi mendengar suara Yuna setelah deru suara mobil meninggalkan tempat
itu. “Nyonya Bos ...!” teriaknya.
“TOLONG
...!”
“TOLONG
...!”
“TOLONG
...!” Angga berteriak sekuat-kuatnya, berharap ada orang yang mendengar dan
membebaskannya dari ikatan tali tersebut.
Angga
menitikan air mata. Ia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi majikannya
dengan baik. Ia tidak tahu harus berapa lama ada di tempat ini jika tidak ada
satu orang pun yang menolong dirinya.
Beberapa
menit kemudian, terdengar suara beberapa langkah kaki yang mendekat ke arahnya.
“Kayaknya,
tadi ada yang teriak minta tolong?” tanya seorang pria yang ada di sana.
“Iya.
Ini ada mobil, di mana orangnya?”
Angga
langsung bernapas lega. “Tolong ...!” seru Angga sekali lagi.
“Eh,
suaranya dari sini!” seru salah seorang pria. Mereka langsung menghampiri
sumber suara.
Begitu
melihat tubuh Angga. Mereka langsung membantu untuk melepaskan karung yang
menutupi wajah Angga dan melepas tali yang mengikat tangannya.
“Mas,
kok bisa di sini?” tanya pria yang membantu Angga.
“Bapak-bapak,
terima kasih atas bantuannya!” tutur Angga. Ia langsung berlari ke arah
mobilnya. Ia membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa. Angga gemetaran begitu
melihat kotak bekal yang masih ada di mobilnya. Tas tangan milik Yuna dan
ponsel yang tergeletak begitu saja di bawah kursi.
“Pak,
ada lihat perempuan hamil yang ada di dalam mobil ini?” tanya Angga pada
orang-orang yang menolongnya.
Semua
orang menggelengkan kepala. “Saat kami sampai, tidak ada siapa-siapa di dalam
mobil itu.”
“Aku
harus gimana?” Angga langsung gelisah saat mengetahui kalau Yuna sudah tidak
ada di dalam mobil tersebut. “Aku harus cari Pak Bos!” Ia langsung bergegas
masuk ke mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Angga
menghentikan mobilnya sudah sampai di depan kantor Galaxy Group. Ban mobil yang
bergesekan dengan jalanan, menimbulkan suara decitan yang langsung menarik
perhatian dua orang satpam yang berjaga di depan pintu utama gedung tersebut.
“Pak
Bos masih di kantor?” tanya Angga panik.
“Ada
apa, Ngga?” tanya Yeriko yang kebetulan muncul di pintu. “Kenapa istriku nggak
angkat telepon? Dia masih di apartemen ayahnya?” tanya Yeriko.
Angga
menangis sambil menjatuhkan lututnya ke lantai.
“Ada
apa?” Wajah Yeriko langsung memerah begitu melihat Angga menangis di
hadapannya.
“Pak
Bos, ini salah saya. Saya tidak menjaga Nyonya Bos dengan baik,” tutur Angga
sambil terisak.
“Nggak
usah bertele-tele. Yuna kenapa!?” seru Yeriko sambil menarik kerah baju Angga.
Riyan
yang berdiri di belakang Yeriko, ikut panik saat melihat Angga yang terlihat
sangat kacau. Kemejanya yang berantakan kotor dengan tanah.
“Nyonya
... Nyo-Nyonya Bos ... diculik sama orang!” seru Angga langsung terisak.
DEG!
Jantung
Yeriko berhenti sesaat ketika mendengar ucapan Angga. Ia begitu terpukul
mendengar istrinya diculik oleh seseorang. Ia sudah mengerahkan seluruh tenaga
dan sumber daya yang ia miliki untuk melindungi Yuna.
“Gimana
ceritanya bisa diculik?”
Angga
langsung menceritakan kejadian yang baru saja terjadi di jalanan yang tak jauh
dari rumah Yeriko.
“Pasti
ada orang yang udah bocorin jadwal kegiatan istriku!” seru Yeriko kesal.
Angga
menggelengkan kepala. “Saya nggak melakukan itu, Pak Bos,” ucapnya sambil
gemetaran.
Yeriko
menarik napas dalam-dalam. Ia menoleh ke arah Riyan yang ada di belakangnya.
Yeriko langsung berlari ke arah meja resepsionis. “Suruh semua orang berhenti
kerja!” seru Yeriko sambil memukul-mukul meja resepsionis. Ia terus melangkah
masuk menuju kantornya.
“Yan,
suruh semua orang cari keberadaan Yuna!” pinta Yeriko.
Riyan
menganggukkan kepala.
“Kerahkan
semua sumber daya yang ada di perusahaan. Semua yang punya media sosial, wajib
cari istriku!” seru Yeriko. “Cepat! Cepat! Cepat!” Ia terus berjalan ke
departemen humas yang ada di lantai dasar.
Semua
orang langsung bergerak cepat. Mereka mencari informasi keberadaan Yuna melalui
internet dan beberapa media sosial.
“Yan,
hubungi Satria. Minta akses ke Ditlantas Polda untuk mengecek semua CCTV di
kota ini!” teriak Yeriko. Ia terus berbicara tanpa menghentikan langkahnya.
Yeriko
kembali keluar dari perusahaan.
“Kunci
mobil mana!?” tanyanya sambil menatap Riyan.
Riyan
langsung menyerahkan kunci mobil pada bosnya tersebut.
“Angga,
kamu supirin Riyan! Bantu cari Yuna!” perintah Yeriko sambil melintasi Angga
yang masih berdiri di pintu perusahaan.
“Baik,
Pak Bos!”
Yeriko
melangkah pergi. Ia menghentikan langkahnya saat teringat sesuatu. Ia berbalik
menatap Riyan dan Angga yang ada di belakangnya.
“Yan,
Mama dan Kakek, jangan dikasih tahu dulu masalah ini!” pinta Yeriko sambil
menatap Riyan.
“Siap,
Pak Bos!”
Yeriko
kembali mempercepat langkahnya. Ia langsung menuju mobilnya yang ada di
parkiran. Pikirannya melayang ke mana-mana. Ia mencoba menenangkan diri agar
tidak panik menghadapi masalah yang tiba-tiba menimpa istri tercintanya.
Yeriko
langsung melaju dengan kecepatan tinggi, ia terus menekan klakson penuh emosi
setiap kali ada kendaraan yang menghalangi jalannya. Ia tak sabar ingin
mencapai rumah secepatnya.
Tin
... Tin ... Tin ...!
Yeriko
terus menekan klakson saat ia sudah sampai di depan pintu gerbang rumahnya.
Pria
setengah baya yang biasa menjaga rumah tersebut, langsung membukakan pintu
gerbang untuk Yeriko.
“Kenapa
pintunya ditutup!?” sentak Yeriko kesal.
Satpam
yang berjaga hanya membungkukkan badannya. “Maaf, Pak!” Ia tak berani
berargumen melihat wajah Yeriko yang memendam amarah. Ia melihat bosnya tak
seperti biasanya. Padahal, Yeriko juga yang menyuruhnya untuk terus menutup
pintu gerbang rumahnya.
Yeriko
memarkirkan mobilnya. Ia melepas safety belt dan keluar dari mobil tanpa
mematikan mesin.
Kakinya
yang panjang, langsung melompati dua anak tangga sekaligus memasuki rumahnya.
“Bibi
...!” teriak Yeriko sambil berkacak pinggang.
Bibi
War langsung berlari keluar mendengar teriakan Yeriko. “Ada apa?” tanyanya. Ia
bisa menangkap amarah yang keluar dari wajah Yeriko.
“Kumpulkan
semua pelayan di rumah ini! CEPAT!” teriak Yeriko.
Bibi
War mengangguk. Ia langsung memanggil semua pelayan yang ada di rumah itu.
Yeriko
berkacak pinggang melihat semua pekerja yang sudah berbaris rapi di hadapannya.
“Kalian semua tahu istriku di mana?” tanya Yeriko.
Semua
orang saling pandang. Mereka tidak mengerti maksud dari pertanyaan Yeriko.
“Tadi,
Mbak Yuna berangkat ngantar makan siang sama Mas Angga,” jawab Bibi War.
Yeriko
mengunci bibir sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bener. Dia diculik di
perjalanan.”
“Apa!?”
Bibi War langsung memegangi dadanya. “Terus dia gimana sekarang? Mbak Yuna lagi
hamil, Siapa yang culik dia?”
“Kalau
aku tahu, udah aku tangkap penculiknya!” sentak Yeriko.
Semua
orang langsung terdiam. Mereka tak ada yang berani berkata-kata. Kemarahan
Yeriko kali ini tidak memberikan ruang pada orang lain untuk melakukan
pembelaan atau menenangkan perasaannya.
“Cuma
orang di rumah ini yang tahu jadwal kegiatan istriku. Kenapa dia bisa dicegat
tepat waktu? Pasti, ada satu orang di antara kalian yang sudah membocorkan
jadwal kegiatan istriku!” tutur Yeriko sambil menatap semua orang satu per
satu.
Semua
pelayan yang ada di rumah itu menundukkan kepala.
Bibi
War juga ikut mengamati satu per satu. Ia sangat khawatir dengan keadaan Yuna
yang kini berada di tangan orang lain. Ia sangat takut kalau penculik itu
melukai Yuna dan anaknya.
Yeriko
langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Rani sebab pelayan itu memperlihatkan
tubuhnya yang gemetar ketakutan.
“Yang
lain boleh pergi. Kecuali Rani!” perintah Yeriko.
Semua
orang mengangguk dan berlalu pergi. Mereka tak ada yang berani menghadapi
kemarahan Yeriko.
Yeriko
menatap tajam ke arah Rani sambil melipat kedua tangan di dadanya. Ia tak
mengatakan apa pun selama beberapa menit.
“Nggak
ada yang mau kamu katakan?” tanya Yeriko dingin.
Rani
meremas jemari tangannya. Ia langsung menjatuhkan lututnya ke lantai. “Maafin
saya, Tuan Muda!” tuturnya sambil menangis.
Yeriko
menatap Rani yang berlutut di hadapannya.
“Kemarin,
waktu saya ke pasar ... ada Mbak Refi yang menghampiri saya dan menanyakan
kegiatan Nyonya Muda hari ini,” jelas Rani.
“Semudah
itu kamu ngasih informasi Nyonya kamu ke orang luar? Kamu dikasih apa sama
dia?” tanya Yeriko.
Rani
langsung membungkukkan tubuhnya. “Ma-Maafkan saya, Tuan Muda. Saya tidak
sengaja mengucapkannya. Mbak itu terus mengajak saya bercanda dan tidak sadar
kalau sudah mengatakan jadwal Nyonya hari ini.”
Yeriko
mengerutkan hidung dan Bibirnya. Ia menatap Rani berapi-api. “Kalau sampai Yuna
kenapa-kenapa, aku bakal bikin perhitungan ke kamu!” sentak Yeriko.
“Ampun,
Tuan Muda! Saya nggak sengaja membocorkan jadwal Nyonya,” tutur Rani sambil
menangis.
Yeriko
menarik napas sambil memejamkan mata. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Semua
ini bukan sepenuhnya kesalahan pelayannya karena pelayan itu telah dipengaruhi
oleh Refi. Ia juga tidak bisa menuduh Refi begitu saja karena belum ada bukti
kalau yang melakukan penculikan istrinya adalah mantan pacarnya sendiri.
Yeriko
menelepon dan memerintahkan Riyan untuk mencari keberadaan Refi secepatnya.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca Perfect Hero sampai di sini. Dukung terus biar aku makin
semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Yang nggak suka konflik besar,
menepi dulu ya ... bab selanjutnya akan mengandung banyak bawang. Please ... be
carefull!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment