Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 458 : Diculik

 


“Bi, si Angga udah datang?” tanya Yuna. Seperti biasa, ia selalu memasak setiap hari dan mengantarkan makan siang untuk ayah dan suaminya.

 

“Sudah, Mbak. Sudah nunggu di halaman dari tadi.”

 

“Tumben banget dia datang cepat? Nggak antar Mama Rully dulu?” tanya Yuna sambil merapikan kotak makanan yang ada di atas meja.

 

“Katanya, udah antar Ibu pagi-pagi ke bandara.”

 

“Bandara?” Yuna mengerutkan dahinya. “Oh, iya. Mama bilang mau urus bisnis yang di Jakarta,” ucapnya sambil menepuk dahi. Ia hampir lupa, padahal mama mertuanya sudah memberitahunya terlebih dahulu lewat panggilan telepon.

 

Bibi War membantu Yuna membawa kotak bekalnya sampai ke dalam mobil.

 

“Bi, aku antar makan siang untuk ayah dan suamiku dulu ya!” pamit Yuna.

 

“Iya, hati-hati ya!”

 

“Iya, Bi.” Yuna segera masuk ke dalam mobil.

 

“Hati-hati bawa Mbak Yuna!” pinta Bibi War sambil menepuk bahu Angga.

 

“Siap, Bi!” Angga mengangguk. Ia segera masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya perlahan keluar dari halaman rumah.

 

Belum sampai ke jalan raya, Angga tiba-tiba menghentikan mobilnya.

 

“Ada apa, Ngga?” tanya Yuna sambil memainkan ponselnya.

 

“Ada orang iseng kayaknya. Masa tong sampah besar-besar gitu ditaruh di tengah jalan?” jawab Angga sambil melepas safety belt.

 

“Ada-ada aja,” celetuk Yuna tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Ia sedang membaca artikel tentang ibu hamil yang berhasil menarik perhatiannya.

 

“Nyonya Bos tunggu di sini. Saya turun dulu!” tutur Angga sambil membuka pintu mobil.

 

“Umh.” Yuna mengangguk.

 

Angga keluar dari mobil. Ia mengedarkan pandangannya. Tak ada satu orang pun di sana yang bisa ia minta tolong. Juga tak ada kendaraan lain yang melintas di jalan tersebut.

 

Angga menarik napas dalam-dalam. Ia menarik tong sampah tersebut ke tepi jalan agar ia bisa melintas dengan mudah. “Beres!” ucapnya sambil mengibaskan tangannya yang sedikit kotor.

 

Belum sampai berbalik, tiba-tiba kepala Angga dimasukan ke dalam karung oleh tiga orang pria yang muncul dari balik tanaman pagar yang ada di tempat itu.

 

“Hei, kalian siapa!?” seru Angga sambil berusaha melepas kedua tangan yang diikat menggunakan tali.

 

“Diapain ini supir?” tanya salah seorang pria yang ada di sana.

 

“Taruh situ aja!” jawab salah seorang pria sambil menunjuk tanaman pagar yang ada di sana.

 

Satu pria mendorong tubuh Angga masuk ke belakang tanaman pagar tersebut. Sedang dua pria lainnya langsung masuk ke dalam mobil.

 

“Eh!? Kalian siapa?” tanya Yuna begitu melihat dua pria masuk ke dalam mobil.

 

Dua pria yang menutup wajah itu langsung menarik Yuna keluar dari dalam mobil.

 

Yuna terus memberontak, ia berusaha untuk melepaskan diri. “TOLONG ...!” teriaknya.

 

“Nyonya Bos ...!” Angga yang mendengar teriakan majikannya, langsung panik. Ia berusaha melepas ikatan di tangannya.

 

“Nggak usah teriak-teriak!” salah seorang pria langsung membungkam mulut Yuna menggunakan sapu tangan, kemudian membawa Yuna masuk ke dalam mobil lain. Mereka langsung melaju kencang meninggalkan tempat tersebut.

 

Angga tak bisa lagi mendengar suara Yuna setelah deru suara mobil meninggalkan tempat itu. “Nyonya Bos ...!” teriaknya.

 

“TOLONG ...!”

 

“TOLONG ...!”

 

“TOLONG ...!” Angga berteriak sekuat-kuatnya, berharap ada orang yang mendengar dan membebaskannya dari ikatan tali tersebut.

 

Angga menitikan air mata. Ia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi majikannya dengan baik. Ia tidak tahu harus berapa lama ada di tempat ini jika tidak ada satu orang pun yang menolong dirinya.

 

Beberapa menit kemudian, terdengar suara beberapa langkah kaki yang mendekat ke arahnya.

 

“Kayaknya, tadi ada yang teriak minta tolong?” tanya seorang pria yang ada di sana.

 

“Iya. Ini ada mobil, di mana orangnya?”

 

Angga langsung bernapas lega. “Tolong ...!” seru Angga sekali lagi.

 

“Eh, suaranya dari sini!” seru salah seorang pria. Mereka langsung menghampiri sumber suara.

 

Begitu melihat tubuh Angga. Mereka langsung membantu untuk melepaskan karung yang menutupi wajah Angga dan melepas tali yang mengikat tangannya.

 

“Mas, kok bisa di sini?” tanya pria yang membantu Angga.

 

“Bapak-bapak, terima kasih atas bantuannya!” tutur Angga. Ia langsung berlari ke arah mobilnya. Ia membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa. Angga gemetaran begitu melihat kotak bekal yang masih ada di mobilnya. Tas tangan milik Yuna dan ponsel yang tergeletak begitu saja di bawah kursi.

 

“Pak, ada lihat perempuan hamil yang ada di dalam mobil ini?” tanya Angga pada orang-orang yang menolongnya.

 

Semua orang menggelengkan kepala. “Saat kami sampai, tidak ada siapa-siapa di dalam mobil itu.”

 

“Aku harus gimana?” Angga langsung gelisah saat mengetahui kalau Yuna sudah tidak ada di dalam mobil tersebut. “Aku harus cari Pak Bos!” Ia langsung bergegas masuk ke mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

 

Angga menghentikan mobilnya sudah sampai di depan kantor Galaxy Group. Ban mobil yang bergesekan dengan jalanan, menimbulkan suara decitan yang langsung menarik perhatian dua orang satpam yang berjaga di depan pintu utama gedung tersebut.

 

“Pak Bos masih di kantor?” tanya Angga panik.

 

“Ada apa, Ngga?” tanya Yeriko yang kebetulan muncul di pintu. “Kenapa istriku nggak angkat telepon? Dia masih di apartemen ayahnya?” tanya Yeriko.

 

Angga menangis sambil menjatuhkan lututnya ke lantai.

 

“Ada apa?” Wajah Yeriko langsung memerah begitu melihat Angga menangis di hadapannya.

 

“Pak Bos, ini salah saya. Saya tidak menjaga Nyonya Bos dengan baik,” tutur Angga sambil terisak.

 

“Nggak usah bertele-tele. Yuna kenapa!?” seru Yeriko sambil menarik kerah baju Angga.

 

Riyan yang berdiri di belakang Yeriko, ikut panik saat melihat Angga yang terlihat sangat kacau. Kemejanya yang berantakan kotor dengan tanah.

 

“Nyonya ... Nyo-Nyonya Bos ... diculik sama orang!” seru Angga langsung terisak.

 

 

 

DEG!

 

Jantung Yeriko berhenti sesaat ketika mendengar ucapan Angga. Ia begitu terpukul mendengar istrinya diculik oleh seseorang. Ia sudah mengerahkan seluruh tenaga dan sumber daya yang ia miliki untuk melindungi Yuna.

 

“Gimana ceritanya bisa diculik?”

 

Angga langsung menceritakan kejadian yang baru saja terjadi di jalanan yang tak jauh dari rumah Yeriko.

 

“Pasti ada orang yang udah bocorin jadwal kegiatan istriku!” seru Yeriko kesal.

 

Angga menggelengkan kepala. “Saya nggak melakukan itu, Pak Bos,” ucapnya sambil gemetaran.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia menoleh ke arah Riyan yang ada di belakangnya. Yeriko langsung berlari ke arah meja resepsionis. “Suruh semua orang berhenti kerja!” seru Yeriko sambil memukul-mukul meja resepsionis. Ia terus melangkah masuk menuju kantornya.

 

“Yan, suruh semua orang cari keberadaan Yuna!” pinta Yeriko.

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

“Kerahkan semua sumber daya yang ada di perusahaan. Semua yang punya media sosial, wajib cari istriku!” seru Yeriko. “Cepat! Cepat! Cepat!” Ia terus berjalan ke departemen humas yang ada di lantai dasar.

 

Semua orang langsung bergerak cepat. Mereka mencari informasi keberadaan Yuna melalui internet dan beberapa media sosial.

 

“Yan, hubungi Satria. Minta akses ke Ditlantas Polda untuk mengecek semua CCTV di kota ini!” teriak Yeriko. Ia terus berbicara tanpa menghentikan langkahnya.

 

Yeriko kembali keluar dari perusahaan.

 

“Kunci mobil mana!?” tanyanya sambil menatap Riyan.

 

Riyan langsung menyerahkan kunci mobil pada bosnya tersebut.

 

“Angga, kamu supirin Riyan! Bantu cari Yuna!” perintah Yeriko sambil melintasi Angga yang masih berdiri di pintu perusahaan.

 

“Baik, Pak Bos!”

 

Yeriko melangkah pergi. Ia menghentikan langkahnya saat teringat sesuatu. Ia berbalik menatap Riyan dan Angga yang ada di belakangnya.

 

“Yan, Mama dan Kakek, jangan dikasih tahu dulu masalah ini!” pinta Yeriko sambil menatap Riyan.

 

“Siap, Pak Bos!”

 

Yeriko kembali mempercepat langkahnya. Ia langsung menuju mobilnya yang ada di parkiran. Pikirannya melayang ke mana-mana. Ia mencoba menenangkan diri agar tidak panik menghadapi masalah yang tiba-tiba menimpa istri tercintanya.

 

Yeriko langsung melaju dengan kecepatan tinggi, ia terus menekan klakson penuh emosi setiap kali ada kendaraan yang menghalangi jalannya. Ia tak sabar ingin mencapai rumah secepatnya.

 

Tin ... Tin ... Tin ...!

 

Yeriko terus menekan klakson saat ia sudah sampai di depan pintu gerbang rumahnya.

 

Pria setengah baya yang biasa menjaga rumah tersebut, langsung membukakan pintu gerbang untuk Yeriko.

 

“Kenapa pintunya ditutup!?” sentak Yeriko kesal.

 

Satpam yang berjaga hanya membungkukkan badannya. “Maaf, Pak!” Ia tak berani berargumen melihat wajah Yeriko yang memendam amarah. Ia melihat bosnya tak seperti biasanya. Padahal, Yeriko juga yang menyuruhnya untuk terus menutup pintu gerbang rumahnya.

 

Yeriko memarkirkan mobilnya. Ia melepas safety belt dan keluar dari mobil tanpa mematikan mesin.

 

Kakinya yang panjang, langsung melompati dua anak tangga sekaligus memasuki rumahnya.

 

“Bibi ...!” teriak Yeriko sambil berkacak pinggang.

 

Bibi War langsung berlari keluar mendengar teriakan Yeriko. “Ada apa?” tanyanya. Ia bisa menangkap amarah yang keluar dari wajah Yeriko.

 

“Kumpulkan semua pelayan di rumah ini! CEPAT!” teriak Yeriko.

 

Bibi War mengangguk. Ia langsung memanggil semua pelayan yang ada di rumah itu.

 

Yeriko berkacak pinggang melihat semua pekerja yang sudah berbaris rapi di hadapannya. “Kalian semua tahu istriku di mana?” tanya Yeriko.

 

Semua orang saling pandang. Mereka tidak mengerti maksud dari pertanyaan Yeriko.

 

“Tadi, Mbak Yuna berangkat ngantar makan siang sama Mas Angga,” jawab Bibi War.

 

Yeriko mengunci bibir sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bener. Dia diculik di perjalanan.”

 

“Apa!?” Bibi War langsung memegangi dadanya. “Terus dia gimana sekarang? Mbak Yuna lagi hamil, Siapa yang culik dia?”

 

“Kalau aku tahu, udah aku tangkap penculiknya!” sentak Yeriko.

 

Semua orang langsung terdiam. Mereka tak ada yang berani berkata-kata. Kemarahan Yeriko kali ini tidak memberikan ruang pada orang lain untuk melakukan pembelaan atau menenangkan perasaannya.

 

“Cuma orang di rumah ini yang tahu jadwal kegiatan istriku. Kenapa dia bisa dicegat tepat waktu? Pasti, ada satu orang di antara kalian yang sudah membocorkan jadwal kegiatan istriku!” tutur Yeriko sambil menatap semua orang satu per satu.

 

Semua pelayan yang ada di rumah itu menundukkan kepala.

 

Bibi War juga ikut mengamati satu per satu. Ia sangat khawatir dengan keadaan Yuna yang kini berada di tangan orang lain. Ia sangat takut kalau penculik itu melukai Yuna dan anaknya.

 

Yeriko langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Rani sebab pelayan itu memperlihatkan tubuhnya yang gemetar ketakutan.

 

“Yang lain boleh pergi. Kecuali Rani!” perintah Yeriko.

 

Semua orang mengangguk dan berlalu pergi. Mereka tak ada yang berani menghadapi kemarahan Yeriko.

 

Yeriko menatap tajam ke arah Rani sambil melipat kedua tangan di dadanya. Ia tak mengatakan apa pun selama beberapa menit.

 

“Nggak ada yang mau kamu katakan?” tanya Yeriko dingin.

 

Rani meremas jemari tangannya. Ia langsung menjatuhkan lututnya ke lantai. “Maafin saya, Tuan Muda!” tuturnya sambil menangis.

 

Yeriko menatap Rani yang berlutut di hadapannya.

 

“Kemarin, waktu saya ke pasar ... ada Mbak Refi yang menghampiri saya dan menanyakan kegiatan Nyonya Muda hari ini,” jelas Rani.  

 

“Semudah itu kamu ngasih informasi Nyonya kamu ke orang luar? Kamu dikasih apa sama dia?” tanya Yeriko.

 

Rani langsung membungkukkan tubuhnya. “Ma-Maafkan saya, Tuan Muda. Saya tidak sengaja mengucapkannya. Mbak itu terus mengajak saya bercanda dan tidak sadar kalau sudah mengatakan jadwal Nyonya hari ini.”

 

Yeriko mengerutkan hidung dan Bibirnya. Ia menatap Rani berapi-api. “Kalau sampai Yuna kenapa-kenapa, aku bakal bikin perhitungan ke kamu!” sentak Yeriko.

 

“Ampun, Tuan Muda! Saya nggak sengaja membocorkan jadwal Nyonya,” tutur Rani sambil menangis.

 

Yeriko menarik napas sambil memejamkan mata. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Semua ini bukan sepenuhnya kesalahan pelayannya karena pelayan itu telah dipengaruhi oleh Refi. Ia juga tidak bisa menuduh Refi begitu saja karena belum ada bukti kalau yang melakukan penculikan istrinya adalah mantan pacarnya sendiri.

 

Yeriko menelepon dan memerintahkan Riyan untuk mencari keberadaan Refi secepatnya.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca Perfect Hero sampai di sini. Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Yang nggak suka konflik besar, menepi dulu ya ... bab selanjutnya akan mengandung banyak bawang. Please ... be carefull!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas