Yuna
memegangi pergelangan tangannya begitu ia bisa melepaskan diri dari tangan
Bellina. “Bellina sialan!” umpatnya sambil melangkah pergi. Ia meringis sambil
mengusap kuat bekas kuku Bellina yang tergambar jelas di kulitnya yang putih.
Yuna
mengerjapkan mata karena ia merasakan kepalanya tiba-tiba pening, seperti orang
yang terkena anemia. “Apa karena cengkeraman Bellina tadi?” batin Yuna yang
memang terkejut dengan tindakan Bellina.
BRUG!
“Hati-hati!”
Tangan seseorang langsung menangkap tangan Yuna agar tak terhuyung ke lantai
saat Yuna menabrak tubuhnya.
Yuna
langsung mendongak menatap pria yang ada di hadapannya itu. Pria muda itu
terlihat sangat tampan dan mempesona. “Ganteng banget!” batin Yuna yang sempat
terpesona di detik pertama menatap pria itu.
Yuna
mengerjap, ia berusaha menyadarkan diri dari kekaguman dan khayalan nakalnya.
Pria
itu tersenyum pada Yuna. “Kamu nggak papa?”
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. “Makasih,” ucapnya kemudian.
Pria
itu mengangguk sambil tersenyum. “Lain kali, jalannya hati-hati!” tuturnya
sambil melepaskan tangan Yuna.
Yuna
mengangguk. Ia tersenyum dan bergegas melangkah pergi menghampiri Jheni dan
Icha.
Pria
itu terus tersenyum, pandangannya terus mengikuti Yuna hingga Yuna duduk di
mejanya. Ia menggeleng-gelengkan kepala, namun hatinya mengagumi kecantikan
yang terpancar dari wajah Yuna yang sederhana tanpa polesan make-up. Dari gaya
pakaiannya yang berkelas, ia tahu kalau Yuna bukanlah wanita biasa.
“Cowok
ganteng itu siapa, Yun?” tanya Jheni begitu Yuna sudah duduk di hadapannya.
Yuna
menggelengkan kepala. “Nggak tahu.”
“Bukan
temen kamu? Kenapa kelihatan akrab banget? Senyum-senyum pula.”
“Nggak
sengaja nabrak dia.”
“Oh.
Kirain, kamu kenal sama dia,” tutur Jheni.
“Emangnya
kenapa kalo kenal?” tanya Yuna.
“Nggak
papa. Ganteng aja.”
“Udah
punya pacar, matanya nggak usah jelalatan!” dengus Yuna sambil menoyor dahi
Jheni.
“Pacar
ya pacar. Lihat cowok ganteng ya normal kalo kita kagum. Mengagumi bukan
berarti mencintai, Yun.”
“Hala,
ngeles! Kamu sama Chandra awalnya gimana? Kagum, terus jatuh cinta.”
“Iih
... itu kan beda!” sahut Jheni.
“Bedanya
apa?”
“Aku
cinta beneran ke Chandra. Biarpun ada seribu cowok yang jauh lebih ganteng dari
Chandra. Aku tetep cinta sama Chandra seorang.”
“Preet
...!” dengus Yuna.
“Sialan
kamu, Yun!” Jheni langsung melempar Yuna dengan potongan kentang goreng di
tangannya.
“Aku
nggak suka dilempar makanan, Jhen!” Yuna langsung menarik tisu dan mengusap
gaunnya yang terkena kotoran makanan.
“Kamu
pakai dress motif batik gitu, nggak kelihatan kalau kotor.”
“Tapi
tetep bau makanan, Jhen.”
“Kamu
udah ketularan Yeriko, ya? Sejak kapan kamu jadi orang super higenis kayak
gini? Biasanya, makan apa aja bajunya kotor semua. Nggak pernah ribet.”
Yuna
memonyongkan bibirnya ke arah Jheni. “Yeriko orangnya bersih banget. Aku jadi
terbiasa, Jhen. Nggak enak banget kalo kotor.”
Icha
tertawa kecil. “Pantesan aja semalam dia protes pas Lutfi ngelempar makanan.
Biasanya, nggak pernah protes kalau kotor.”
“Nggak
nyaman aja, Cha. Nggak tahu kenapa, aku mulai risih lihat yang kotor-kotor.”
“Bawaan
bayi kali, tuh. Bukan Yuna banget, malah Yeriko banget,” sahut Jheni.
“Emangnya
bisa begitu?” tanya Icha.
Jheni
menganggukkan kepala. “Bawaan bayi macem-macem, kali. Kadang, ada yang malas
dandan. Kadang, ada yang rajin berdandan. Mungkin, anak kamu mau perempuan,
Yun. Makanya kamu bersih banget. Muka kamu juga kelihatan cantik.”
“Sok
tahu! Kayak udah pernah hamil aja,” dengus Yuna.
“Tahu
aku, Yun. Sering baca-baca literatur buat bahan tulisan aku. Kamu kan pinjam
banyak buku di perpustakaan. Nggak ada yang nyantol satu pun di otak kamu?”
“Aku
belum baca semua, Jhen.”
“Makanya,
dibaca!” seru Jheni. “Nggak suka baca buku, tapi sok-sokan pinjam buku di
perpustakaan banyak banget. Endingnya, nggak terbaca juga.”
“Aku
baca. Cuma belum kelar aja.”
“Nggak
usah ikutan Yeriko! Dia mah emang hobi baca buku,” tutur Jheni.
Yuna
tertawa kecil. “Bacanya buku bisnis pula. Isinya tulisan semua. Bikin ngantuk.”
“Terus,
yang kamu baca buku apa, Yun?” tanya Icha.
“Buku
pendidikan prenatal dan cara mengasuh bayi. Tapi, buku yang banyak
gambar-gambarnya aja. Biar nggak bosen bacanya.”
“Sekarang,
semua informasi bisa diakses lewat internet. Kenapa masih nyari di buku, Yun?
Itu kan ribet?” tanya Icha.
“Ini
udah mulai ketularan Lutfi juga, nih. Nggak mau yang ribet-ribet,” sela Jheni
sambil menatap Icha.
Icha
tertawa kecil. “Eh, tahu nggak sih. Kalau kita terbiasa hidup sama seseorang,
tanpa sadar kita ngikuti kebiasaan-kebiasaan mereka?”
“Iya,
juga ya?” sahut Jheni sambil menimbang-nimbang ucapan Icha.
“Semoga
aja si Jheni ngikuti kebiasaan Chandra yang pendiem,” celetuk Yuna.
“Aku
rasa, si Chandra yang udah mulai ngikuti kebiasaan Jheni.”
“Masa,
sih? Aku kok nggak nyadar, ya?” tanya Yuna.
“Aku
juga mulai sadar semalam waktu makan malam bareng. Si Chandra banyak cerita,
nggak kayak biasanya.”
“Eh,
kalo udah cerita soal bisnis dan kerjaan dia emang banyak omong,” sahut Jheni.
“Gitu
ya?” tanya Icha.
“Iya,”
jawab Jheni sambil tertawa. “Nggak ada bedanya.”
Yuna
dan Icha ikut tertawa. Mereka terus bercanda sambil menikmati cemilan sore yang
ada di tempat tersebut.
“Hai
...!” sapa Bellina sambil menghampiri meja Yuna.
Tawa
Yuna dan dua sahabatnya seketika berhenti saat Bellina dan mamanya sudah
berdiri di dekat meja mereka. Semuanya terdiam, tidak tahu harus bagaimana
menanggapi sapaan Bellina kali ini.
“Hai,
juga!” balas Jheni sambil tersenyum kecut ke arah Bellina.
“Kamu
mau apa? Mau ganggu Yuna?” tanya Icha sambil menatap Bellina.
Bellina
tertawa kecil menanggapi pertanyaan Icha. “Kamu itu karyawan rendahan di
perusahaan suamiku, nggak usah sok-sokan mau ngelawan aku!”
Icha
tersenyum sinis, ia sudah berkali-kali berhadapan dengan Bellina. Walau sering
terluka, ia akan tetap melindungi Yuna.
Bellina
tersenyum. “Kami boleh gabung di meja kalian?” tanyanya.
“Kita
udah selesai, udah mau pulang,” jawab Yuna sambil meraih tas tangannya dan
bangkit dari tempat duduk.
Bellina
menghadang tubuh Yuna. “Kenapa? Kamu takut berhadapan sama aku?” tanya Bellina
sambil tersenyum.
Yuna
menarik napas panjang. Ia tidak ingin meladeni Bellina dan membahayakan
orang-orang di sekitarnya.
Bellina
tersenyum sambil menatap Yuna yang sudah berhadapan dengannya. Tangannya
mencoba menyentuh perut Yuna.
Yuna
langsung menahan tangan Bellina agar tidak menyentuh anak yang ada di dalam
perutnya.
“Hati-hati
ya, Yun!” tutur Bellina sambil tersenyum ke arah Yuna. Tatapan kali ini,
mengisyaratkan sebuah ancaman yang tak biasa.
Melan
yang berdiri di samping Bellina, tak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum sinis
menatap wajah Yuna.
Yuna
melangkah mundur, berusaha menghindari Bellina dan tantenya yang selalu
bersikap kejam terhadap dirinya. Ia tidak ingin hidupnya kembali dikuasai oleh
dua wanita mengerikan itu. Sejak menikah dengan Yeriko, kehidupannya jauh lebih
baik dan bahagia.
“Yun,
nggak usah terlalu dipikirin omongan Bellina. Kita semua pasti melindungi kamu,
kok,” ucap Jheni saat mereka bertiga melangkah keluar dari kafe dessert
tersebut.
Di
sudut lain, ada dua pasang mata milik pria tampan yang memerhatikan gerak-gerik
Yuna dan Bellina.
“Jun,
kamu perhatiin yang mana? Yang pake dress batik itu atau yang pake baju biru?”
tanya pria yang ada di sebelah Arjuna.
“Dua-duanya,”
jawab Arjuna sambil terus menatap tubuh Yuna yang perlahan keluar dari tempat
tersebut.
“Target
kamu sebenarnya yang mana?” tanya pria yang ada di sebelah Arjuna.
“Yang
baju biru itu. Tapi, perempuan yang pakai dress batik itu jauh lebih menarik.”
Pria
yang ada di sebelah Arjuna menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa melihat
tingkah sahabatnya.
“Malvino
...!” panggil Arjuna tanpa mengalihkan pandangannya dari tubuh Bellina yang
berjarak cukup jauh dari mejanya.
“Apa?”
tanya pria yang duduk di sebelah Arjuna.
“Bantu
aku selidiki wanita yang pakai baju batik tadi. Apa hubungannya sama cewek yang
pakai baju biru itu?”
Pria
yang bernama Malvino itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Arjuna
terus tersenyum, sudah lama ia tidak memiliki mainan yang bisa menyenangkan
hatinya. Ia merasa kalau dirinya akan mendapatkan mainan baru yang bisa ia
gunakan untuk menyenangkan dirinya sendiri.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini supaya aku bisa bikin
cerita yang lebih seru dan lebih menarik lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment