Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 457 : Dia Lebih Menarik

 


Yuna memegangi pergelangan tangannya begitu ia bisa melepaskan diri dari tangan Bellina. “Bellina sialan!” umpatnya sambil melangkah pergi. Ia meringis sambil mengusap kuat bekas kuku Bellina yang tergambar jelas di kulitnya yang putih.

 

Yuna mengerjapkan mata karena ia merasakan kepalanya tiba-tiba pening, seperti orang yang terkena anemia. “Apa karena cengkeraman Bellina tadi?” batin Yuna yang memang terkejut dengan tindakan Bellina.

 

BRUG!

 

“Hati-hati!” Tangan seseorang langsung menangkap tangan Yuna agar tak terhuyung ke lantai saat Yuna menabrak tubuhnya.

 

Yuna langsung mendongak menatap pria yang ada di hadapannya itu. Pria muda itu terlihat sangat tampan dan mempesona. “Ganteng banget!” batin Yuna yang sempat terpesona di detik pertama menatap pria itu.

 

Yuna mengerjap, ia berusaha menyadarkan diri dari kekaguman dan khayalan nakalnya.

 

Pria itu tersenyum pada Yuna. “Kamu nggak papa?”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Makasih,” ucapnya kemudian.

 

Pria itu mengangguk sambil tersenyum. “Lain kali, jalannya hati-hati!” tuturnya sambil melepaskan tangan Yuna.

 

Yuna mengangguk. Ia tersenyum dan bergegas melangkah pergi menghampiri Jheni dan Icha.

 

Pria itu terus tersenyum, pandangannya terus mengikuti Yuna hingga Yuna duduk di mejanya. Ia menggeleng-gelengkan kepala, namun hatinya mengagumi kecantikan yang terpancar dari wajah Yuna yang sederhana tanpa polesan make-up. Dari gaya pakaiannya yang berkelas, ia tahu kalau Yuna bukanlah wanita biasa.

 

“Cowok ganteng itu siapa, Yun?” tanya Jheni begitu Yuna sudah duduk di hadapannya.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak tahu.”

 

“Bukan temen kamu? Kenapa kelihatan akrab banget? Senyum-senyum pula.”

 

“Nggak sengaja nabrak dia.”

 

“Oh. Kirain, kamu kenal sama dia,” tutur Jheni.

 

“Emangnya kenapa kalo kenal?” tanya Yuna.

 

“Nggak papa. Ganteng aja.”

 

“Udah punya pacar, matanya nggak usah jelalatan!” dengus Yuna sambil menoyor dahi Jheni.

 

“Pacar ya pacar. Lihat cowok ganteng ya normal kalo kita kagum. Mengagumi bukan berarti mencintai, Yun.”

 

“Hala, ngeles! Kamu sama Chandra awalnya gimana? Kagum, terus jatuh cinta.”

 

“Iih ... itu kan beda!” sahut Jheni.

 

“Bedanya apa?”

 

“Aku cinta beneran ke Chandra. Biarpun ada seribu cowok yang jauh lebih ganteng dari Chandra. Aku tetep cinta sama Chandra seorang.”

 

“Preet ...!” dengus Yuna.

 

“Sialan kamu, Yun!” Jheni langsung melempar Yuna dengan potongan kentang goreng di tangannya.

 

“Aku nggak suka dilempar makanan, Jhen!” Yuna langsung menarik tisu dan mengusap gaunnya yang terkena kotoran makanan.

 

“Kamu pakai dress motif batik gitu, nggak kelihatan kalau kotor.”

 

“Tapi tetep bau makanan, Jhen.”

 

“Kamu udah ketularan Yeriko, ya? Sejak kapan kamu jadi orang super higenis kayak gini? Biasanya, makan apa aja bajunya kotor semua. Nggak pernah ribet.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya ke arah Jheni. “Yeriko orangnya bersih banget. Aku jadi terbiasa, Jhen. Nggak enak banget kalo kotor.”

 

Icha tertawa kecil. “Pantesan aja semalam dia protes pas Lutfi ngelempar makanan. Biasanya, nggak pernah protes kalau kotor.”

 

“Nggak nyaman aja, Cha. Nggak tahu kenapa, aku mulai risih lihat yang kotor-kotor.”

 

“Bawaan bayi kali, tuh. Bukan Yuna banget, malah Yeriko banget,” sahut Jheni.

 

“Emangnya bisa begitu?” tanya Icha.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Bawaan bayi macem-macem, kali. Kadang, ada yang malas dandan. Kadang, ada yang rajin berdandan. Mungkin, anak kamu mau perempuan, Yun. Makanya kamu bersih banget. Muka kamu juga kelihatan cantik.”

 

“Sok tahu! Kayak udah pernah hamil aja,” dengus Yuna.

 

“Tahu aku, Yun. Sering baca-baca literatur buat bahan tulisan aku. Kamu kan pinjam banyak buku di perpustakaan. Nggak ada yang nyantol satu pun di otak kamu?”

 

“Aku belum baca semua, Jhen.”

 

“Makanya, dibaca!” seru Jheni. “Nggak suka baca buku, tapi sok-sokan pinjam buku di perpustakaan banyak banget. Endingnya, nggak terbaca juga.”

 

“Aku baca. Cuma belum kelar aja.”

 

“Nggak usah ikutan Yeriko! Dia mah emang hobi baca buku,” tutur Jheni.

 

Yuna tertawa kecil. “Bacanya buku bisnis pula. Isinya tulisan semua. Bikin ngantuk.”

 

“Terus, yang kamu baca buku apa, Yun?” tanya Icha.

 

“Buku pendidikan prenatal dan cara mengasuh bayi. Tapi, buku yang banyak gambar-gambarnya aja. Biar nggak bosen bacanya.”

 

“Sekarang, semua informasi bisa diakses lewat internet. Kenapa masih nyari di buku, Yun? Itu kan ribet?” tanya Icha.

 

“Ini udah mulai ketularan Lutfi juga, nih. Nggak mau yang ribet-ribet,” sela Jheni sambil menatap Icha.

 

Icha tertawa kecil. “Eh, tahu nggak sih. Kalau kita terbiasa hidup sama seseorang, tanpa sadar kita ngikuti kebiasaan-kebiasaan mereka?”

 

“Iya, juga ya?” sahut Jheni sambil menimbang-nimbang ucapan Icha.

 

“Semoga aja si Jheni ngikuti kebiasaan Chandra yang pendiem,” celetuk Yuna.

 

“Aku rasa, si Chandra yang udah mulai ngikuti kebiasaan Jheni.”

 

“Masa, sih? Aku kok nggak nyadar, ya?” tanya Yuna.

 

“Aku juga mulai sadar semalam waktu makan malam bareng. Si Chandra banyak cerita, nggak kayak biasanya.”

 

“Eh, kalo udah cerita soal bisnis dan kerjaan dia emang banyak omong,” sahut Jheni.

 

“Gitu ya?” tanya Icha.

 

“Iya,” jawab Jheni sambil tertawa. “Nggak ada bedanya.”

 

Yuna dan Icha ikut tertawa. Mereka terus bercanda sambil menikmati cemilan sore yang ada di tempat tersebut.

 

“Hai ...!” sapa Bellina sambil menghampiri meja Yuna.

 

Tawa Yuna dan dua sahabatnya seketika berhenti saat Bellina dan mamanya sudah berdiri di dekat meja mereka. Semuanya terdiam, tidak tahu harus bagaimana menanggapi sapaan Bellina kali ini.

 

“Hai, juga!” balas Jheni sambil tersenyum kecut ke arah Bellina.

 

“Kamu mau apa? Mau ganggu Yuna?” tanya Icha sambil menatap Bellina.

 

Bellina tertawa kecil menanggapi pertanyaan Icha. “Kamu itu karyawan rendahan di perusahaan suamiku, nggak usah sok-sokan mau ngelawan aku!”

 

Icha tersenyum sinis, ia sudah berkali-kali berhadapan dengan Bellina. Walau sering terluka, ia akan tetap melindungi Yuna.

 

Bellina tersenyum. “Kami boleh gabung di meja kalian?” tanyanya.

 

“Kita udah selesai, udah mau pulang,” jawab Yuna sambil meraih tas tangannya dan bangkit dari tempat duduk.

 

Bellina menghadang tubuh Yuna. “Kenapa? Kamu takut berhadapan sama aku?” tanya Bellina sambil tersenyum.

 

Yuna menarik napas panjang. Ia tidak ingin meladeni Bellina dan membahayakan orang-orang di sekitarnya.

 

Bellina tersenyum sambil menatap Yuna yang sudah berhadapan dengannya. Tangannya mencoba menyentuh perut Yuna.

 

Yuna langsung menahan tangan Bellina agar tidak menyentuh anak yang ada di dalam perutnya.

 

“Hati-hati ya, Yun!” tutur Bellina sambil tersenyum ke arah Yuna. Tatapan kali ini, mengisyaratkan sebuah ancaman yang tak biasa.

 

Melan yang berdiri di samping Bellina, tak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum sinis menatap wajah Yuna.

 

Yuna melangkah mundur, berusaha menghindari Bellina dan tantenya yang selalu bersikap kejam terhadap dirinya. Ia tidak ingin hidupnya kembali dikuasai oleh dua wanita mengerikan itu. Sejak menikah dengan Yeriko, kehidupannya jauh lebih baik dan bahagia.

 

“Yun, nggak usah terlalu dipikirin omongan Bellina. Kita semua pasti melindungi kamu, kok,” ucap Jheni saat mereka bertiga melangkah keluar dari kafe dessert tersebut.

 

Di sudut lain, ada dua pasang mata milik pria tampan yang memerhatikan gerak-gerik Yuna dan Bellina.

 

“Jun, kamu perhatiin yang mana? Yang pake dress batik itu atau yang pake baju biru?” tanya pria yang ada di sebelah Arjuna.

 

“Dua-duanya,” jawab Arjuna sambil terus menatap tubuh Yuna yang perlahan keluar dari tempat tersebut.

 

“Target kamu sebenarnya yang mana?” tanya pria yang ada di sebelah Arjuna.

 

“Yang baju biru itu. Tapi, perempuan yang pakai dress batik itu jauh lebih menarik.”

 

Pria yang ada di sebelah Arjuna menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa melihat tingkah sahabatnya.

 

“Malvino ...!” panggil Arjuna tanpa mengalihkan pandangannya dari tubuh Bellina yang berjarak cukup jauh dari mejanya.

 

“Apa?” tanya pria yang duduk di sebelah Arjuna.

 

“Bantu aku selidiki wanita yang pakai baju batik tadi. Apa hubungannya sama cewek yang pakai baju biru itu?”

 

Pria yang bernama Malvino itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

Arjuna terus tersenyum, sudah lama ia tidak memiliki mainan yang bisa menyenangkan hatinya. Ia merasa kalau dirinya akan mendapatkan mainan baru yang bisa ia gunakan untuk menyenangkan dirinya sendiri.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini supaya aku bisa bikin cerita yang lebih seru dan lebih menarik lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas