Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 444 : Tak Pantas Menerima Kebaikanmu

 


Tepat jam tujuh malam, Jheni memarkirkan mobilnya di depan rumah besar berwarna putih yang dikelilingi pagar tinggi di wilayah Ketabang. Ia turun dari mobil dan langsung menekan bel rumah tersebut.

 

Beberapa menit kemudian, seorang wanita cantik keluar dan membukakan pagar untuk Jheni.

 

“Selamat malam ...!” sapa Jheni sambil tersenyum manis.

 

“Malam ...! Cari siapa ya?” tanya wanita itu sambil menatap tubuh Jheni dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.

 

“Aku temennya Amara.”

 

“Amara?” Wanita itu mengernyitkan dahinya.

 

“Sarah,” jawab Jheni meralat ucapannya.

 

“Oh. Sudah ada janji sama dia?” tanya wanita itu lagi.

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum.

 

“Oke. Masuk!” perintah wanita tersebut.

 

Jheni mengangguk dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke halaman rumah tersebut.

 

“Eh, wait!” Wanita cantik itu menahan tubuh Jheni.

 

“Kenapa?”

 

“Itu mobil kamu?” tanya wanita itu sambil menunjuk mobil yang masih terparkir di luar.

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

“Bawa masuk, ya!” perintahnya sambil membuka lebar pintu gerbang rumah tersebut.

 

Jheni mengangguk. Ia segera masuk ke dalam mobil dan memasukkan mobilnya ke halaman rumah besar tersebut.

 

“Sudah lama kenal sama Sarah?” tanya wanita itu saat Jheni turun dari mobilnya.

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

Wanita itu terus memerhatikan tubuh Jheni. “Cantik juga ini cewek? Penampilannya berkelas. Apa mau jual diri di sini juga?” batin wanita yang kerap dipanggil Barbie oleh teman-teman se-profesinya.

 

“Kenali, namaku Barbie.” Wanita itu menjulurkan tangannya ke arah Jheni.

 

Jheni tersenyum sambil membalas uluran tangan dari Barbie. “Jheni.”

 

Barbie mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengajak Jheni untuk masuk ke dalam rumah tersebut.

 

Jheni mengedarkan pandangannya saat masuk ke dalam rumah tersebut. Ia melewati beberapa orang yang menunjukkan adegan menggelikan. Seorang pria tua yang duduk di sofa bersama wanita muda sambil bercumbu mesra. Membuat Jheni menjadi tidak nyaman saat masuk ke tempat tersebut.

 

“Kamarnya Sarah ada di lantai tiga. Kayaknya, dia lagi di kamar,” tutur Barbie sambil menaiki anak tangga.

 

Jheni mengangguk tanda mengerti. Ia terus mengikuti langkah Barbie. Matanya bergerak liar melihat setiap sudut ruangan yang terlihat berantakan. Aroma parfum murahan juga menyengat di telinganya dan berhasil membuat kepalanya pusing.

 

Di lantai dua, lagi-lagi Jheni menemukan beberapa pasang pria dan wanita yang asyik bermesraan. Bahkan seorang wanita membiarkan dadanya dicumbu dengan liar oleh seorang pria, juga disaksikan oleh pasangan mata lain yang tak kalah gilanya bercumbu di sana.

 

“Tempat apa ini?” batin Jheni. Telinganya pun mulai terganggu dengan suara musik yang memekakkan telinga. Ia tak bisa mendengar suara dari orang-orang yang ada di lantai dua tersebut.

 

Lantai ketiga, adalah tempat yang paling sepi. Jheni tak menemukan satu orang pun yang ada di sana. Hanya lorong-lorong dengan deretan pintu yang berjejar rapi seperti kamar hotel.

 

“Kamu tunggu di sini ya!” perintah Barbie sambil mengajak Jheni untuk duduk di sofa yang ada di lantai tersebut.

 

Jheni menganggukkan kepala. Ia langsung duduk di sofa yang ada di sana.

 

“Aku panggilin Amara sebentar.” Barbie langsung beringsut ke salah satu pintu kamar yang letaknya tak jauh dari tempat Jheni duduk.

 

Beberapa menit kemudian, Barbie menghampiri Jheni. “Tunggu ya! Dia masih meeting sama klien-nya.”

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

Barbie tersenyum sambil menatap Jheni. “Aku turun dulu! Masih banyak urusan.”

 

Jheni menganggukkan kepala. Ia terus menatap tubuh Barbie yang berlalu meninggalkan dirinya. Jheni menatap beberapa pintu kamar yang ada di lantai tersebut. Ia tak bisa membayangkan berapa ukuran kamarnya karena rumah ini tidak terlalu luas tapi memiliki banyak ruangan kamar.

 

Dari pintu kamar yang hanya berjarak tiga meter di sebelahnya, ia bisa mendengarkan suara desahan dan erangan dari seorang wanita. Membuat rasa penasarannya semakin besar.

 

“Meeting?” Jheni melirik ke langit-langit ruangan. “Apa meeting yang mereka maksud adalah ...” Jheni semakin memasang telinganya saat suara erangan dari kamar tersebut semakin keras. Diikuti dengan suara desahan dan teriakan dari seorang pria.

 

Jheni bangkit dari tempat duduk. Ia sengaja memasang telinganya ke pintu kamar tersebut. Mendengar suaranya saja, ia bisa membayangkan kalau ada dua orang yang di dalam kamar tersebut dan sedang menikmati waktu yang begitu menggairahkan.

 

“Gimana, Oom? Puas?” tanya pemilik suara wanita yang ada di kamar tersebut saat suara desahannya berhenti.

 

“Sangat puas! Besok, Oom ke sini lagi. Kasih permainan yang lebih bagus lagi. Oom akan kasih banyak bonus kalau kamu bisa memuaskan Oom setiap malam.”

 

 

 

GLEG!

 

 

 

Jheni menelan ludah mendengar pembicaraan tersebut. Ia buru-buru kembali ke tempat duduk karena tak lagi mendengar suara dari kamar tersebut.

 

Beberapa menit kemudian, pria setengah baya dengan tubuh gempal keluar dari kamar tersebut. Diikuti dengan gadis cantik yang hanya mengenakan lingerie, memperlihatkan seluruh tubuhnya di balik kain transparan berwarna cream tersebut.

 

Jheni tak bergerak. Ia pura-pura tak melihat dua orang tersebut.

 

“Makasih ya, Oom!” Gadis itu tersenyum dan mengantar pria itu untuk turun ke tangga.

 

Begitu pria tua itu pergi, gadis itu langsung memutar kepalanya menatap Jheni. Ia menghampiri Jheni sambil memerhatikan wajah dan tubuh Jheni dengan seksama. “Kamu siapa? Anak baru?” tanya wanita muda tersebut.

 

Jheni hanya tersenyum menanggapi pertanyaan wanita itu.

 

“Bawaan siapa?” tanya wanita itu.

 

“Maksudnya?” Jheni balik bertanya.

 

“Kamu masuk ke sini karena siapa?” tanya wanita itu lagi.

 

“Oh. Aku nyari Sarah.”

 

“Sarah?” tanya wanita itu lagi.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Dia masih ngelayani Oom-Oom di kamarnya.”

 

“Ngelayani Oom-Oom? Tadi, kata si Barbie ... Sarah lagi meeting.”

 

“Oh. Sarah ngajak kamu ke sini, tapi nggak ngasih tahu?”

 

Jheni menggelengkan kepala.

 

“Plang perusahaan yang ada di depan itu cuma kedok doang. Mami sengaja bikin itu biar aman dan nggak ada orang yang tahu kalau ini adalah tempat prostitusi. Meeting adalah istilah yang kami gunakan saat kami sedang melayani pelanggan kami,” tutur wanita tersebut.

 

“Oh ...” Jheni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata benar gosip yang beredar selama ini kalau rumah besar ini memang tempat prostitusi dengan kedok perusahaan di bidang jasa periklanan dan event organizer.

 

“Kenalin, namaku Geisha.” Wanita itu mengulurkan tangan ke arah Jheni.

 

Jheni tersenyum sambil membalas uluran tangan wanita itu. “Jheni.”

 

“Nama asli kamu?” tanya Geisha.

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

“Di sini, nggak ada yang pakai nama asli. Kalau kamu mau main, sebaiknya cari nama lain yang cocok untuk menjual diri kamu ini.”

 

Jheni menarik napas dalam-dalam. “Aku bukan mau jual diri. Aku cuma mau cari Sarah.”

 

“Biasanya, cuma calon pelacur yang nyari pelacur ke tempat ini,” tutur Geisha sambil menatap wajah Jheni.

 

“Aku bukan calon pelacur. Nggak akan pernah jadi pelacur di tempat murahan kayak gini!” sahut Jheni kesal.

 

“Apa kamu bilang? Kamu ngatain kami murahan!?” seru Geisha. Emosinya langsung terpancing begitu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Jheni.

 

“Iya.” Jheni mengendus badan Geisha. “Parfum yang kamu pakai aja udah ketahuan kalau harganya cuma lima belas ribuan.”

 

“Heh!? Kamu nggak usah sombong!” Geisha langsung mendorong dada Jheni. “Emangnya parfum kamu semahal apa, hah!?”

 

“Nggak mahal, sih. Cuma seratus kalinya harga parfum yang kamu pakai ini,” jawab Jheni santai.

 

Geisha mengerutkan hidungnya sambil menatap Jheni dengan mata berapi-api. “Kalau kamu udah kaya, kenapa masuk ke sini?” tanyanya kesal.

 

“Aku ke sini, mau bawa pulang Sarah!” sahut Jheni.

 

Geisha tersenyum sinis. “Nggak usah mimpi ya! Sarah ada di sini karena dia punya hutang sama Mami. Nggak akan semudah itu keluar dari tempat ini. Kamu mampu bayar ganti rugi ke Mami?”

 

 Jheni menghela napas sambil menatap gadis yang ada di hadapannya. “Berapa semua hutangnya?”

 

“Hutang Sarah ke Mami itu ratusan juta. Suaminya udah jual dia ke Mami. Kamu nggak akan sanggup menebus dia.”

 

Jheni terdiam. Ia tidak tahu kalau Amara bisa terjerat di tempat yang rumit seperti ini. Belum sampai ia berbicara kembali dengan Geisha. Amara terlihat keluar dari kamarnya bersama seorang pria. Amara segera melepas kepergian pria itu dengan senyuman manis dan gestur tubuh yang menggoda.

 

“Sar, ada yang nyari kamu!” seru Geisha begitu melihat Amara keluar dari kamarnya.

 

“Siapa?” tanya Amara sambil menengok tubuh Jheni yang membelakanginya.

 

Jheni langsung memutar kepala menatap Amara.

 

“Jheni ...!?” Amara langsung gemetaran begitu melihat Jheni ada di sana. “Kamu ngapain di sini?”

 

“Aku cari kamu,” jawab Jheni sambil tersenyum ke arah Amara.

 

“Nyari aku?”

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

Amara tersenyum sinis. “Buat apa nyari aku? Kamu udah sampai sini, pasti kamu udah tahu semuanya. Kamu ke sini cuma mau ngetawain aku?”

 

“Kamu jangan negative thinking dulu, Ra!” pinta Jheni. “Aku ke sini buat nolongin kamu.”

 

Amara tertawa kecil menanggapi ucapan Jheni. “Nolongin? Nolongin apaan? Kamu itu bisa apa sih, Jhen?”

 

Jheni menatap wajah Amara. “Aku bisa carikan kamu tempat tinggal yang lebih baik. Nggak perlu tinggal di tempat kayak gini!”

 

“Jhen, aku tahu kamu sekarang udah jadi orang kaya karena pacaran sama Chandra. Tapi, bukan berarti aku bisa nerima bantuan kamu gitu aja. Kamu ke sini cuma mau ngeremehin aku karena sekarang aku udah miskin. Kamu pikir, aku bakal ngarepin belas kasih dari orang kayak kamu?”

 

“Ra, aku ke sini dengan niat baik. Kamu punya kemampuan yang bagus. Kamu bisa tinggal di tempat yang lebih baik dan memulai semuanya dari awal lagi. Nggak perlu jual diri kayak gini!” pinta Jheni.

 

“Kamu pikir, aku jual diri karena apa? Karena bisnis aku hancur, Jhen. Bisnis keluargaku dan keluarga Harry hancur bersamaan. Ini karena ulah kalian semua ‘kan?”

 

Jheni menggelengkan kepala. “Aku nggak ngelakuin apa-apa ke kamu.”

 

“Kamu pikir, aku nggak tahu? Aku udah lama tunangan sama Chandra. Aku tahu gimana ganasnya Yeriko dan orang-orangnya. Pasti kamu yang udah minta mereka bikin bangkrut keluarga aku ‘kan?”

 

“Kamu jangan asal nuduh, Ra! Aku nggak ada hubungannya sama sekali sama bisnis keluarga kamu,” sahut Jheni.

 

“Udahlah. Nggak usah munafik!” pinta Amara sambil melipat kedua tangannya. “Kamu senang kan kalau hidup aku kayak gini?”

 

“Ra, kalau aku senang ... aku nggak akan datang ke sini buat nolongin kamu.”

 

“Aku nggak butuh pertolongan kamu, Jhen!” tutur Amara sambil membuang pandangannya. “Lebih baik, kamu keluar secepatnya dari rumah ini!”

 

Jheni mendesah kesal. “Aku ke sini berniat baik. Aku mau kamu keluar dari kehidupan kelam kayak gini. Tapi kamunya malah kayak gini. Sama sekali nggak bisa menghargai niat baik orang lain.”

 

“Aku nggak mau punya hutang budi sama kamu. Masalahku, aku akan atasi sendiri. Nggak perlu ikut campur sama kehidupanku!” tegas Amara.

 

Jheni menghela napas. “Oke. Kalau emang itu mau kamu. Aku harap, kamu nggak akan pernah menyesali keputusan kamu karena sudah nolak bantuan dari aku!” ucapnya sambil bergegas pergi meninggalkan Amara.

 

Amara tak bereaksi. Ia tak punya pilihan lain. Terlebih, Jheni sudah memiliki niat yang begitu baik terhadap dirinya. Hal ini membuatnya sangat sakit. Sebab, orang yang peduli kepada dirinya adalah orang yang pernah ia sakiti. Ia merasa tak layak mendapatkan kebaikan dari wanita seperti Jheni.

 

 (( Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 443 : Kepergian Mr. Ye

 


“Ay, cepet pulang ya!” rengek Yuna manja sambil bergelayut di dada suaminya.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku pasti langsung pulang kalau masalah di sana sudah selesai.”

 

Yuna menggigit bibirnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selama tidak ada suaminya di rumah itu.

 

“Nggak usah sedih, ya!” tutur Yeriko ambil mengelus lembut pipi Yuna. “Setelah sampai di sana, aku pasti langsung telepon kamu.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Hati-hati ya! Semoga rencananya sukses besar. Aku akan selalu dukung kamu.”

 

Yeriko mengangguk. Ia mengecup kening Yuna. Kemudian beralih mengecup anaknya yang masih tersimpan dengan baik di dalam perut istrinya. “Jaga dia baik-baik ya!” pintanya sambil mengelus-elus perut Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko bangkit, ia menarik koper yang sudah disiapkan oleh Yuna dan bergegas keluar dari kamarnya.

 

Yuna terus memeluk lengan Yeriko sambil mengiringi langkah suaminya tersebut. Begitu membuka pintu rumah, ia terkejut dengan kehadiran Jheni yang sudah berdiri di depan pintu sambil membawa koper di tangannya.

 

“Jheni ...!?” Yuna mengernyitkan dahi menatap Jheni. “Kamu mau ikut Chandra ke Eropa?”

 

Jheni menggelengkan kepala. “Nggak. Aku mau nginap di sini.”

 

“Kenapa tiba-tiba mau nginap di sini?” tanya Yuna.

 

“Chandra nggak ada di rumahnya. Aku bakal sendirian juga di sana.”

 

“Balik aja ke rumah kamu yang lama!” sahut Yuna sambil menahan tawa.

 

“Sama aja. Sendirian juga.”

 

Yeriko dan Yuna saling pandang. Kemudian menatap Jheni.

 

“Kenapa? Kalian nggak suka kalau aku nginap di sini? Ya udah, aku pergi!” seru Jheni sambil membalikkan tubuhnya.

 

“Eits, kenapa ngambekan sih? Kayak emak-emak aja!” sahut Yuna sambil menahan lengan Jheni.

 

“Abisnya, kalian berdua itu nyebelin!” sahut Jheni kesal.

 

Yuna terkekeh menanggapi ucapan Jheni. “Kamu lagi ada masalah? Nggak biasanya sensitif kayak gini.”

 

“Aku lagi kesel sama Chandra!”

 

“Kesel kenapa?”

 

“Abis berantem sama dia. Dia itu nggak peka banget sama aku. Ngeselin!”

 

“Udah, jangan marah-marah! Katanya sayang?” goda Yuna.

 

“Akunya aja yang sayang. Dia nggak,” sahut Jheni kesal.

 

Yeriko tertawa kecil. “Jhen, Chandra itu sayang sama kamu. Dia emang udah kayak gitu sifatnya. Kayak baru kenal dia sehari aja.”

 

“Iya, aku tahu. Tapi lama-lama kesel juga, Yer. Jangan-jangan, dia itu emang nggak beneran cinta sama aku. Kalo aku putus sama dia, mungkin dia nggak akan peduli sama hidupku lagi!”

 

“Jhen, sabar ya! Nanti kita bicarakan lagi. Kamu masuk dulu, gih! Aku antar suamiku dulu. Ntar dia telat sampe bandara.”

 

“Kamu mau ngantar suami kamu sampai ke Bandara?” tanya Jheni.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Ada Jheni di sini. Sebaiknya, kamu di rumah aja!” pinta Yeriko sambil menatap Yuna.

 

“Serius?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Banyak istirahat, jangan terlalu banyak main!” pinta Yeriko sambil mengecup kening Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati ya!”

 

Yeriko mengangguk. “Jhen, aku titip Yuna ya!” pintanya sambil menatap Jheni.

 

“Siap, Bos!”

 

Yeriko tersenyum. Ia bergegas masuk ke mobil, sudah ada Riyan yang menunggunya sejak beberapa menit yang lalu. Ia membuka kaca mobil, melambaikan tangannya ke arah Yuna dan Jheni saat mobilnya bergerak keluar dari halaman rumah.

 

“Huft, akhirnya ... aku ngerasain ditinggal perjalanan dinas sama suamiku. Ke Eropa pula, satu minggu nggak ketemu,” gumam Yuna. Ia terduduk lemas di kursi yang ada di teras rumahnya.

 

“Emangnya kamu doang? Aku juga ditinggal sama Chandra. Nggak ada lagi temen berantem. Biasanya, aku udah ngomelin dia setiap hari. Seminggu ini, aku harus hidup kesepian.”

 

“Kita sama-sama wanita kesepian, Jhen.”

 

“Nasib kita sama. Sama-sama kesepian.”

 

“Gimana sama Icha yang sering ditinggal sama Lutfi ya?” tanya Jheni.

 

Yuna mengedikkan bahunya. “Sabar banget si Icha.”

 

“Kapan aku bisa jadi perempuan yang sabar kayak Icha?” tanya Jheni lagi.

 

“Kayaknya nggak bisa, Jhen.”

 

Jheni langsung memonyongkan bibirnya ke arah Yuna. “Eh, by the way ... Aku udah nemuin si Amara.”

 

“Ketemu di mana?” tanya Yuna.

 

“Dia tinggal di rumah besar yang nggak jauh dari perpustakaan tempat kita cari buku waktu itu. Aku nggak tahu itu rumah siapa. Tapi, rumah itu sering ada tamu keluar masuk gitu.”

 

“Emangnya gak kelihatan dari luar? Mungkin, itu kantor perusahaan barunya Amara.”

 

Rumah itu dikelilingi sama pagar tinggi. Nggak kelihatan, Yun. Kalau dibandingin sama rumah mertua kamu, nggak ada apa-apanya sih. Tapi, kayaknya yang tinggal di sana ada banyak, deh.”

 

“Mungkin aja emang kantor perusahaan di sana, Jhen. Sekarang banyak perusahaan yang memilih nyewa rumah tinggal untuk dijadikan kantor daripada sewa gedung.”

 

“Iya juga, sih.” Jheni mengangguk-anggukkan kepala. “Tapi, kalau malam ... tempat itu malah sering banget ada keluar masuk mobil. Masa, kantor bukanya sampe malam sih?”

 

“Ya bisa aja, Jhen. Karyawannya tinggal di sana sekalian biar lebih efektif kerjanya. Lagian, kamu niat banget nyelidiki si Amara itu. Sampai bisa tahu kalau malam masih ada aktivitas di sana.”

 

“Iih ... niat banget aku, Yun. Sampe jam empat pagi, aku masih standby di deket rumah itu.”

 

“Gila kamu, Jhen!” seru Yuna.

 

“Aku penasaran, Yun. Daripada aku di rumah nggak bisa tidur. Lebih baik aku cari tahu aja sekalian kehidupannya si Amara itu.”

 

“Kamu bener-bener kayak orang kurang kerjaan!” dengus Yuna.

 

“Huft, daripada aku dihantui terus sama dia. Kebawa-bawa mimpi, Yun. Sore ini, aku bakal cari dia lagi ke rumah itu.”

 

“Kamu yakin?” tanya Yuna.

 

Jheni mengangguk pasti. “Soalnya ....” Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Yuna dan berbisik.

 

“Hah!? Serius!?” tanya Yuna sambil melebarkan matanya. “Sampe segitunya?”

 

Jheni menganggukkan kepala. “Makanya, malam ini aku mau pastiin.”

 

Yuna menghela napas. “Nggak nyangka juga sih kalau dia begitu. Semoga nggak beneran, Jhen.”

 

“Dia jatuh miskin aja udah hukuman buat dia, Yun. Aku masih nggak tega lihat dia kayak gitu. Udah gitu, si Chandra cuek aja. Nggak mau bantuin. Nggak kebayang kalau suatu hari nanti, aku putus sama Chandra. Apa dia juga bakal memperlakukan aku seperti itu?” tutur Jheni sambil menggigit bibirnya.

 

“Jhen, jangan mikir macem-macem, deh!” pinta Yuna sambil menatap Jheni. “Nggak boleh mikir yang buruk-buruk kayak gitu. Emangnya, kamu mau putus sama Chandra?”

 

“Nggak mau, Yun. Aku susah payah buat dapetin dia. Masa mau putus gitu aja? Tapi, kalau aku sama dia sering berantem. Kemungkinan besar hubungan kita juga nggak akan lama.”

 

“Sumpah! Aku nggak suka kamu yang kayak gini. Kenapa nggak percaya sama diri kamu sendiri. Kamu harus bisa mempertahankan hubungan kamu, Jhen. Si Chandra emang pendiam dan sifatnya kayak gitu. Apa adanya dan nggak banyak omong. Tapi itu semua bukan berarti dia nggak sayang sama kamu. Dia sayang dan cara dia menyayangi kamu memang berbeda.”

 

Jheni memangku wajah dengan kedua telapak tangannya. “Ck, aku nggak paham sama dia. Dia itu lebih dingin dari Yeriko. Dulu, dia banyak omong. Akhir-akhir ini, dia cuek bebek banget. Apalagi kalau aku ngajak bahas soal Amara. Nggak ada respon, malah marah-marah.”

 

“Dia marah karena kamu nggak peka.”

 

“Nggak peka gimana? Dia yang nggak peka!” sahut Jheni.

 

“Huft, aku juga bingung.”

 

“Nggak usah bingung! Gimana si Refi? Udah diberesin sama Yeriko?”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Yeriko maunya si Refi sadar diri dan pergi dengan sendirinya.”

 

“Tapi, kayaknya itu anak makin gila aja!” sahut Jheni.

 

“Ah, udahlah. Nggak usah bahas Refi!” pinta Yuna. “Bahas Amara aja!”

 

“Nanti aku bahas lagi kalau udah tahu kebenarannya. Aku mau mandi dulu!” Jheni bergegas masuk ke dalam rumah Yuna. “Yun, kamarku di mana?”

 

“Kamar tamu yang sebelah kanan,” jawab Yuna.

 

“Boleh tidur di kamar kamu atau nggak?”

 

“Tidur aja, ya! Baju-baju kamu ini taruh di kamar tamu!”

 

Jheni mencebik ke arah Yuna. Ia bergegas melangkah masuk menuju kamar tamu yang dimaksud oleh Yuna.

 

“Suamiku bisa marah kalau ada barang orang lain di kamarnya!” seru Yuna.

 

“Iya, Ibu Bos! Aku paham!” teriak Jheni sambil menengok ke arah teras rumah karena Yuna tak beranjak dari tempat duduknya.

 

Jheni langsung masuk ke dalam kamar. Ia bersiap untuk menemui Amara malam ini dan harus mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar di kepalanya.

 

 ((Bersambung ...))

Apa yang akan terjadi saat Yeriko nggak ada di samping Yuna?

Dukung terus cerita ini biar makin semangat update babnya...

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 442 : Kegelisahan Jheni

 


“Jhen, aku jadi kayak gini karena kamu! Kamu yang udah ambil Chandra dari aku, bikin dia nggak pernah mau peduli lagi sama aku. Bahkan nggak mau menolong aku di saat aku kesulitan,” seru Amara sambil menatap wajah Jheni.

 

Jheni menggelengkan kepalanya. “Nggak, Ra. Aku nggak sejahat itu.”

 

“Kamu yang jahat! Kalau bukan karena kamu, aku nggak akan jadi kayak gini. Aku nggak akan hidup menderita kayak gini. Chandra pasti mau nolong aku!”

 

Jheni menggelengkan kepalanya sambil menatap Amara.

 

“Jhen, Chandra itu cowok yang baik. Dia selalu peduli sama aku, sama semua teman-temannya. Tapi sejak kenal sama kamu, dia jadi jahat. Kamu yang udah mengubah Chandra jadi penjahat. Dia nggak punya hati! Semua ini gara-gara pengaruh dari kamu!” seru Amara sambil terisak.

 

Jheni menggelengkan kepalanya. “Aku nggak pernah mempengaruhi Chandra. Aku nggak pernah ngelakuin itu.”

 

“Bohong ...! Kalau nggak ada kamu, Chandra pasti nolongin aku. Aku nggak perlu hidup menderita kayak gini. Kamu jahat, Jhen! KAMU JAHAT!”

 

Jheni menggelengkan kepala sambil menutup telinganya. “Aku nggak jahat,” ucapnya lirih sambil menitikkan air mata.

 

“KAMU YANG JAHAT! KAMU JAHAT! KAMU JAHAT, JHENI ...!” seru Amara.

 

Suara Amara terus terngiang di telinga Jheni.

 

Jheni menggelengkan kepala. Ia menutup telinga sambil memejamkan matanya. “Aku nggak jahat. Aku bukan orang jahat. Bukan aku!” seru Jheni sambil terisak.

 

Jheni membuka mata dan langsung bangkit dari kasur. “Cuma mimpi?” Ia menghela napas lega. Jheni segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, membasuh wajah dan menenangkan hatinya.

 

Mimpinya kali ini benar-benar mengganggu pikirannya. Ia tidak ingin terus menerus merasa bersalah pada Amara. Amara memang pernah berbuat jahat terhadap dirinya, tapi sampai sekarang hidupnya masih baik-baik saja. Sebaliknya, kehidupan Amara terus terpuruk karena Chandra memang tak pernah mau menerima kehadiran Amara kembali walau hanya sebagai seorang teman.

 

“Huft, aku harus cari Amara. Aku harus tahu, apa yang sebenarnya terjadi sama dia. Aku nggak boleh membiarkan ini terjadi. Aku nggak mau dihantui rasa bersalah kayak gini,” ucap Jheni sambil menatap wajahnya di depan cermin. Ia bergegas membersihkan diri dan buru-buru keluar untuk mencari keberadaan Amara tanpa harus menunggu bantuan dari Chandra.

 

 

 

...

 

 

 

“Hei, kalian lagi sibuk?” Lutfi langsung menghampiri Chandra dan Yeriko yang sedang berada di ruang kerjanya.

 

“Lumayan, Lut. Tumben pagi-pagi udah ke sini?” tanya Chandra balik sambil menatap tubuh Lutfi.

 

“Aih ... kayak gini rasanya kalau punya istri di rumah. Aku nggak bisa bangun siang lagi. Icha mulai bandel, jam tujuh pagi udah ngetok-ngetok kamarku.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Bukannya kamu bilang kalau calon istri kamu itu wanita yang baik dan penurut? Kenapa malah kamu yang kewalahan?”

 

“Kemarin-kemarin, aku bangun jam sepuluh pagi setiap harinya, dia nggak pernah protes. Sekarang, aku dibangunin pagi-pagi banget. Ini pasti kerjaan nenek, nih. Desak Icha buat bangunin aku pagi-pagi.”

 

“Bagus, Lut. Pagi-pagi, kamu bisa pergi kerja,” tutur Chandra.

 

“Bagus gundulmu! Aku baru tidur jam setengah empat pagi. Masa jam tujuh udah dibangunin?” keluh Lutfi.

 

“Kamu ngapain aja tidur sampai jam segitu?” tanya Yeriko.

 

“Halah ... kamu kayak nggak tahu aja. Kamu kalo main sama Kakak Ipar, pasti sampai pagi juga ‘kan?” goda Lutfi.

 

Yeriko tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

“Aku juga tiap malam main ML, Yer. Mobile Legend!” seru Lutfi sambil tertawa.

 

“Kenapa nggak main sama Icha aja? Malah main sama Hanabi,” tanya Chandra.

 

“Hanabi siapa?” tanya Yeriko sambil menatap Chandra dan Lutfi.

 

Chandra dan Lutfi menahan tawa. “Hero cewek di Mobile Legend!” seru Lutfi.

 

“Oh. Aku kira nama orang beneran,” sahut Yeriko.

 

“Kamu nggak pernah lihat apa gayanya Hanabi itu menggoda?” tanya Lutfi.

 

“Nggak perhatikan,” jawab Yeriko santai.

 

“Kenapa nggak perhatikan? Download sekarang, kita main!” ajak Lutfi.

 

“Kami lagi sibuk, Lut. Kamu malah ngajak main ML,” celetuk Chandra sambil memerhatikan dokumen yang ada di tangannya.

 

“Aih ... kalian ini bos. Buat apa sih tiap hari capek-capek kayak gini? Anak buah banyak.”

 

“Kita mau ekspansi ke Eropa. Nggak semua pekerjaan harus dikerjakan karyawan semua.”

 

“Wah ... serius? Makin gede aja perusahaan kamu ini, Yer.” Lutfi mengangguk-angguk sambil mengedarkan pandangannya.

 

Yeriko hanya tersenyum menanggapi ucapan Lutfi.

 

“Eh, gedung yang kamu buat di Jakarta udah selesai. Tinggi banget kamu bikin tower di sana. Ada rencana mau pindah kantor ke sana?” tanya Lutfi.

 

“Aku udah nyaman di sini. Semua kerjaan bisa dipantau dari sini. Kasihan istriku, Lut.”

 

“Bawa aja dia ke Jakarta sekalian!”

 

“Aku udah nyaman di sini. Akan ada orang yang menangani di sana. Nggak semuanya aku kerjain sendiri.”

 

Lutfi terkekeh. “Kali aja kamu bisa kayak jin, pindah sana, pindah sini.”

 

Yeriko tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Yer, semalam Jheni ada cerita sama aku soal Amara,” tutur Chandra.

 

“Kenapa si Amara?” tanya Lutfi.

 

“Jheni ketemu sama dia. Dia minta aku buat bantuin Amara.”

 

“Nggak usah dibantuin!” tegas Yeriko.

 

Lutfi dan Chandra langsung menatap wajah Yeriko.

 

“Aku juga nggak mau bantu, Yer. Tapi ...” Chandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Chandra.

 

“Huft, kayaknya si Jheni sama Yuna ini sebelas dua belas.”

 

“Sebelas dua belas kenapa, Chan?” tanya Lutfi.

 

“Dia malah nyuruh aku bantuin Amara. Gila kan?”

 

“Ck, orang baik memang punya pemikiran sendiri.” Lutfi menepuk-nepuk punggung Chandra.

 

Chandra menghela napas. “Masalahnya, dia bilang ... kalau seandainya Jheni yang ada di posisi Amara, apa aku juga nggak mau nolongin?”

 

“Kamu jawab apa?” tanya Lutfi.

 

“Mungkin iya,” jawab Chandra.

 

“Goblok!” Lutfi langsung mengeplak kepala Chandra.

 

“Sialan kamu, Lut. Ini kepala, bukan kelapa!” seru Chandra kesal.

 

“Kepalamu ini lebih cocok jadi kelapa. Isinya bukan otak, air doang! Kalo soal bisnis, kamu hebat, Chan. Urusan cewek, noob banget!”

 

Yeriko tertawa kecil menanggapi ucapan Lutfi.

 

“Ck, aku tuh nggak bisa kayak kalian. Jheni tuh terlalu terbuka sama semua orang. Dia juga terbuka sama perasaannya. Aku malah sering malu, Lut.”

 

“Malu kenapa?” tanya Lutfi.

 

“Malu aja kalau dia lebih perhatian dari aku. Harusnya, aku yang ngasih perhatian ke dia duluan.”

 

“Ya udah, tinggal kasih dia perhatian duluan! Gitu aja, kok repot?” sahut Lutfi.

 

“Gimana kalau keduluan dia?”

 

“Itu karena kamu nggak peka!” seru Lutfi kesal. “Kesel aku sama kamu, pengen kulempar ke luar jendela!”

 

Yeriko menahan tawa mendengar ucapan Lutfi. “Chan, belajarlah mengalah sama Jheni. Jheni itu sifatnya memang keras kepala. Tapi, dia perempuan yang baik. Setidaknya, kamu bisa mewujudkan keinginan-keinginan dia.”

 

“Maksud kamu, aku harus nurutin kemauan Jheni supaya aku nolongin Amara?” tanya Chandra sambil menatap Yeriko.

 

“Aku nggak setuju kalo ini.”

 

“Terus? Aku harus gimana?” tanya Chandra.

 

“Alihkan aja perhatian dia ke hal lain, Chan!” pinta Yeriko.

 

“Contohnya?”

 

“Ajak dia liburan!” sahut Lutfi. “Ayo, Chan! Aku ada agenda ke Labuan Bajo. Tempatnya keren banget di sana.”

 

“Mau ekspansi, Lut. Besok, aku sama Yeriko mau berangkat ke Eropa. Malah ngajakin liburan. Si Jheni itu juga banyak jobnya.”

 

“Lagian, kamu sudah punya duit banyak. Kenapa pacar dibiarkan kerja keras sendirian? Kasih aja uang bulanan, beres!” sahut Lutfi.

 

“Nggak mau, Lut. Kita juga harus menghargai posisi dia sebagai pacar. Dia itu mandiri dan punya harga diri. Nggak mau pake uangku.”

 

Lutfi menghela napas. “Kenapa kalian ini rumit banget, sih?”

 

Chandra dan Yeriko terdiam. Ia tak menanggapi ucapan Lutfi dan kembali fokus mendiskusikan dokumen yang ada di hadapan mereka.

 

Lutfi memilih berbaring santai di atas sofa sambil bermain game online di ponselnya. Sesekali ia melirik dua sahabatnya yang masih fokus dengan pekerjaannya. Setiap harinya, ia hanya bermain-main. Jauh berbeda dengan dua sahabatnya yang begitu bekerja keras untuk mengembangkan bisnis mereka.

 

“Chan, kamu beneran cinta atau nggak sama Jheni?” tanya Lutfi sambil memainkan ponselnya.

 

Chandra menoleh ke arah Lutfi. “Cinta.”

 

“Kenapa selalu nyuekin dia terus?”

 

“Aku nggak nyuekin.”

 

“Oh. Lebih cinta mana, Jheni atau Amara?” tanya Lutfi sambil memainkan ponselnya.

 

Chandra menghela napas. Ia menatap Lutfi dan Yeriko bergantian. “Mereka dua orang yang berbeda. Aku udah pernah bilang kalau hubunganku sama Amara itu sebatas tanggung jawab, bukan cinta.”

 

Lutfi tertawa kecil sambil menatap layar ponselnya. “Keluarga kamu itu aneh. Kamu sudah sebesar ini, masih aja mau diatur sama perjodohan keluarga.”

 

Chandra terdiam. Ia tak ingin lagi menanggapi ucapan Lutfi dan membuat masalahnya semakin melebar. Ia ingin fokus mengembangkan bisnisnya bersama Yeriko. Baginya, bertanggung jawab pada masa depan wanita yang ia cintai juga hal yang sangat penting. Ia tidak ingin membuat Jheni menderita karena hidup bersamanya.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Salam hangat dari Yeriko and The Gank

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas