“Jhen,
aku jadi kayak gini karena kamu! Kamu yang udah ambil Chandra dari aku, bikin
dia nggak pernah mau peduli lagi sama aku. Bahkan nggak mau menolong aku di
saat aku kesulitan,” seru Amara sambil menatap wajah Jheni.
Jheni
menggelengkan kepalanya. “Nggak, Ra. Aku nggak sejahat itu.”
“Kamu
yang jahat! Kalau bukan karena kamu, aku nggak akan jadi kayak gini. Aku nggak
akan hidup menderita kayak gini. Chandra pasti mau nolong aku!”
Jheni
menggelengkan kepalanya sambil menatap Amara.
“Jhen,
Chandra itu cowok yang baik. Dia selalu peduli sama aku, sama semua
teman-temannya. Tapi sejak kenal sama kamu, dia jadi jahat. Kamu yang udah
mengubah Chandra jadi penjahat. Dia nggak punya hati! Semua ini gara-gara
pengaruh dari kamu!” seru Amara sambil terisak.
Jheni
menggelengkan kepalanya. “Aku nggak pernah mempengaruhi Chandra. Aku nggak
pernah ngelakuin itu.”
“Bohong
...! Kalau nggak ada kamu, Chandra pasti nolongin aku. Aku nggak perlu hidup
menderita kayak gini. Kamu jahat, Jhen! KAMU JAHAT!”
Jheni
menggelengkan kepala sambil menutup telinganya. “Aku nggak jahat,” ucapnya
lirih sambil menitikkan air mata.
“KAMU
YANG JAHAT! KAMU JAHAT! KAMU JAHAT, JHENI ...!” seru Amara.
Suara
Amara terus terngiang di telinga Jheni.
Jheni
menggelengkan kepala. Ia menutup telinga sambil memejamkan matanya. “Aku nggak
jahat. Aku bukan orang jahat. Bukan aku!” seru Jheni sambil terisak.
Jheni
membuka mata dan langsung bangkit dari kasur. “Cuma mimpi?” Ia menghela napas
lega. Jheni segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, membasuh wajah dan
menenangkan hatinya.
Mimpinya
kali ini benar-benar mengganggu pikirannya. Ia tidak ingin terus menerus merasa
bersalah pada Amara. Amara memang pernah berbuat jahat terhadap dirinya, tapi
sampai sekarang hidupnya masih baik-baik saja. Sebaliknya, kehidupan Amara
terus terpuruk karena Chandra memang tak pernah mau menerima kehadiran Amara
kembali walau hanya sebagai seorang teman.
“Huft,
aku harus cari Amara. Aku harus tahu, apa yang sebenarnya terjadi sama dia. Aku
nggak boleh membiarkan ini terjadi. Aku nggak mau dihantui rasa bersalah kayak
gini,” ucap Jheni sambil menatap wajahnya di depan cermin. Ia bergegas
membersihkan diri dan buru-buru keluar untuk mencari keberadaan Amara tanpa
harus menunggu bantuan dari Chandra.
...
“Hei,
kalian lagi sibuk?” Lutfi langsung menghampiri Chandra dan Yeriko yang sedang
berada di ruang kerjanya.
“Lumayan,
Lut. Tumben pagi-pagi udah ke sini?” tanya Chandra balik sambil menatap tubuh
Lutfi.
“Aih
... kayak gini rasanya kalau punya istri di rumah. Aku nggak bisa bangun siang
lagi. Icha mulai bandel, jam tujuh pagi udah ngetok-ngetok kamarku.”
Yeriko
tertawa kecil. “Bukannya kamu bilang kalau calon istri kamu itu wanita yang
baik dan penurut? Kenapa malah kamu yang kewalahan?”
“Kemarin-kemarin,
aku bangun jam sepuluh pagi setiap harinya, dia nggak pernah protes. Sekarang,
aku dibangunin pagi-pagi banget. Ini pasti kerjaan nenek, nih. Desak Icha buat
bangunin aku pagi-pagi.”
“Bagus,
Lut. Pagi-pagi, kamu bisa pergi kerja,” tutur Chandra.
“Bagus
gundulmu! Aku baru tidur jam setengah empat pagi. Masa jam tujuh udah
dibangunin?” keluh Lutfi.
“Kamu
ngapain aja tidur sampai jam segitu?” tanya Yeriko.
“Halah
... kamu kayak nggak tahu aja. Kamu kalo main sama Kakak Ipar, pasti sampai
pagi juga ‘kan?” goda Lutfi.
Yeriko
tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Aku
juga tiap malam main ML, Yer. Mobile Legend!” seru Lutfi sambil tertawa.
“Kenapa
nggak main sama Icha aja? Malah main sama Hanabi,” tanya Chandra.
“Hanabi
siapa?” tanya Yeriko sambil menatap Chandra dan Lutfi.
Chandra
dan Lutfi menahan tawa. “Hero cewek di Mobile Legend!” seru Lutfi.
“Oh.
Aku kira nama orang beneran,” sahut Yeriko.
“Kamu
nggak pernah lihat apa gayanya Hanabi itu menggoda?” tanya Lutfi.
“Nggak
perhatikan,” jawab Yeriko santai.
“Kenapa
nggak perhatikan? Download sekarang, kita main!” ajak Lutfi.
“Kami
lagi sibuk, Lut. Kamu malah ngajak main ML,” celetuk Chandra sambil
memerhatikan dokumen yang ada di tangannya.
“Aih
... kalian ini bos. Buat apa sih tiap hari capek-capek kayak gini? Anak buah
banyak.”
“Kita
mau ekspansi ke Eropa. Nggak semua pekerjaan harus dikerjakan karyawan semua.”
“Wah
... serius? Makin gede aja perusahaan kamu ini, Yer.” Lutfi mengangguk-angguk
sambil mengedarkan pandangannya.
Yeriko
hanya tersenyum menanggapi ucapan Lutfi.
“Eh,
gedung yang kamu buat di Jakarta udah selesai. Tinggi banget kamu bikin tower
di sana. Ada rencana mau pindah kantor ke sana?” tanya Lutfi.
“Aku
udah nyaman di sini. Semua kerjaan bisa dipantau dari sini. Kasihan istriku,
Lut.”
“Bawa
aja dia ke Jakarta sekalian!”
“Aku
udah nyaman di sini. Akan ada orang yang menangani di sana. Nggak semuanya aku
kerjain sendiri.”
Lutfi
terkekeh. “Kali aja kamu bisa kayak jin, pindah sana, pindah sini.”
Yeriko
tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Yer,
semalam Jheni ada cerita sama aku soal Amara,” tutur Chandra.
“Kenapa
si Amara?” tanya Lutfi.
“Jheni
ketemu sama dia. Dia minta aku buat bantuin Amara.”
“Nggak
usah dibantuin!” tegas Yeriko.
Lutfi
dan Chandra langsung menatap wajah Yeriko.
“Aku
juga nggak mau bantu, Yer. Tapi ...” Chandra menggaruk kepalanya yang tidak
gatal.
“Kenapa?”
tanya Yeriko sambil menatap wajah Chandra.
“Huft,
kayaknya si Jheni sama Yuna ini sebelas dua belas.”
“Sebelas
dua belas kenapa, Chan?” tanya Lutfi.
“Dia
malah nyuruh aku bantuin Amara. Gila kan?”
“Ck,
orang baik memang punya pemikiran sendiri.” Lutfi menepuk-nepuk punggung
Chandra.
Chandra
menghela napas. “Masalahnya, dia bilang ... kalau seandainya Jheni yang ada di
posisi Amara, apa aku juga nggak mau nolongin?”
“Kamu
jawab apa?” tanya Lutfi.
“Mungkin
iya,” jawab Chandra.
“Goblok!”
Lutfi langsung mengeplak kepala Chandra.
“Sialan
kamu, Lut. Ini kepala, bukan kelapa!” seru Chandra kesal.
“Kepalamu
ini lebih cocok jadi kelapa. Isinya bukan otak, air doang! Kalo soal bisnis, kamu hebat, Chan. Urusan
cewek, noob banget!”
Yeriko
tertawa kecil menanggapi ucapan Lutfi.
“Ck,
aku tuh nggak bisa kayak kalian. Jheni tuh terlalu terbuka sama semua orang.
Dia juga terbuka sama perasaannya. Aku malah sering malu, Lut.”
“Malu
kenapa?” tanya Lutfi.
“Malu
aja kalau dia lebih perhatian dari aku. Harusnya, aku yang ngasih perhatian ke
dia duluan.”
“Ya
udah, tinggal kasih dia perhatian duluan! Gitu aja, kok repot?” sahut Lutfi.
“Gimana
kalau keduluan dia?”
“Itu
karena kamu nggak peka!” seru Lutfi kesal. “Kesel aku sama kamu, pengen
kulempar ke luar jendela!”
Yeriko
menahan tawa mendengar ucapan Lutfi. “Chan, belajarlah mengalah sama Jheni.
Jheni itu sifatnya memang keras kepala. Tapi, dia perempuan yang baik.
Setidaknya, kamu bisa mewujudkan keinginan-keinginan dia.”
“Maksud
kamu, aku harus nurutin kemauan Jheni supaya aku nolongin Amara?” tanya Chandra
sambil menatap Yeriko.
“Aku
nggak setuju kalo ini.”
“Terus?
Aku harus gimana?” tanya Chandra.
“Alihkan
aja perhatian dia ke hal lain, Chan!” pinta Yeriko.
“Contohnya?”
“Ajak
dia liburan!” sahut Lutfi. “Ayo, Chan! Aku ada agenda ke Labuan Bajo. Tempatnya
keren banget di sana.”
“Mau
ekspansi, Lut. Besok, aku sama Yeriko mau berangkat ke Eropa. Malah ngajakin
liburan. Si Jheni itu juga banyak jobnya.”
“Lagian,
kamu sudah punya duit banyak. Kenapa pacar dibiarkan kerja keras sendirian?
Kasih aja uang bulanan, beres!” sahut Lutfi.
“Nggak
mau, Lut. Kita juga harus menghargai posisi dia sebagai pacar. Dia itu mandiri
dan punya harga diri. Nggak mau pake uangku.”
Lutfi
menghela napas. “Kenapa kalian ini rumit banget, sih?”
Chandra
dan Yeriko terdiam. Ia tak menanggapi ucapan Lutfi dan kembali fokus
mendiskusikan dokumen yang ada di hadapan mereka.
Lutfi
memilih berbaring santai di atas sofa sambil bermain game online di ponselnya.
Sesekali ia melirik dua sahabatnya yang masih fokus dengan pekerjaannya. Setiap
harinya, ia hanya bermain-main. Jauh berbeda dengan dua sahabatnya yang begitu
bekerja keras untuk mengembangkan bisnis mereka.
“Chan,
kamu beneran cinta atau nggak sama Jheni?” tanya Lutfi sambil memainkan
ponselnya.
Chandra
menoleh ke arah Lutfi. “Cinta.”
“Kenapa
selalu nyuekin dia terus?”
“Aku
nggak nyuekin.”
“Oh.
Lebih cinta mana, Jheni atau Amara?” tanya Lutfi sambil memainkan ponselnya.
Chandra
menghela napas. Ia menatap Lutfi dan Yeriko bergantian. “Mereka dua orang yang
berbeda. Aku udah pernah bilang kalau hubunganku sama Amara itu sebatas
tanggung jawab, bukan cinta.”
Lutfi
tertawa kecil sambil menatap layar ponselnya. “Keluarga kamu itu aneh. Kamu
sudah sebesar ini, masih aja mau diatur sama perjodohan keluarga.”
Chandra
terdiam. Ia tak ingin lagi menanggapi ucapan Lutfi dan membuat masalahnya
semakin melebar. Ia ingin fokus mengembangkan bisnisnya bersama Yeriko.
Baginya, bertanggung jawab pada masa depan wanita yang ia cintai juga hal yang
sangat penting. Ia tidak ingin membuat Jheni menderita karena hidup bersamanya.
((Bersambung ...))
Thanks udah dukung cerita ini terus.
Salam hangat dari Yeriko and The Gank
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment