Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 442 : Kegelisahan Jheni

 


“Jhen, aku jadi kayak gini karena kamu! Kamu yang udah ambil Chandra dari aku, bikin dia nggak pernah mau peduli lagi sama aku. Bahkan nggak mau menolong aku di saat aku kesulitan,” seru Amara sambil menatap wajah Jheni.

 

Jheni menggelengkan kepalanya. “Nggak, Ra. Aku nggak sejahat itu.”

 

“Kamu yang jahat! Kalau bukan karena kamu, aku nggak akan jadi kayak gini. Aku nggak akan hidup menderita kayak gini. Chandra pasti mau nolong aku!”

 

Jheni menggelengkan kepalanya sambil menatap Amara.

 

“Jhen, Chandra itu cowok yang baik. Dia selalu peduli sama aku, sama semua teman-temannya. Tapi sejak kenal sama kamu, dia jadi jahat. Kamu yang udah mengubah Chandra jadi penjahat. Dia nggak punya hati! Semua ini gara-gara pengaruh dari kamu!” seru Amara sambil terisak.

 

Jheni menggelengkan kepalanya. “Aku nggak pernah mempengaruhi Chandra. Aku nggak pernah ngelakuin itu.”

 

“Bohong ...! Kalau nggak ada kamu, Chandra pasti nolongin aku. Aku nggak perlu hidup menderita kayak gini. Kamu jahat, Jhen! KAMU JAHAT!”

 

Jheni menggelengkan kepala sambil menutup telinganya. “Aku nggak jahat,” ucapnya lirih sambil menitikkan air mata.

 

“KAMU YANG JAHAT! KAMU JAHAT! KAMU JAHAT, JHENI ...!” seru Amara.

 

Suara Amara terus terngiang di telinga Jheni.

 

Jheni menggelengkan kepala. Ia menutup telinga sambil memejamkan matanya. “Aku nggak jahat. Aku bukan orang jahat. Bukan aku!” seru Jheni sambil terisak.

 

Jheni membuka mata dan langsung bangkit dari kasur. “Cuma mimpi?” Ia menghela napas lega. Jheni segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, membasuh wajah dan menenangkan hatinya.

 

Mimpinya kali ini benar-benar mengganggu pikirannya. Ia tidak ingin terus menerus merasa bersalah pada Amara. Amara memang pernah berbuat jahat terhadap dirinya, tapi sampai sekarang hidupnya masih baik-baik saja. Sebaliknya, kehidupan Amara terus terpuruk karena Chandra memang tak pernah mau menerima kehadiran Amara kembali walau hanya sebagai seorang teman.

 

“Huft, aku harus cari Amara. Aku harus tahu, apa yang sebenarnya terjadi sama dia. Aku nggak boleh membiarkan ini terjadi. Aku nggak mau dihantui rasa bersalah kayak gini,” ucap Jheni sambil menatap wajahnya di depan cermin. Ia bergegas membersihkan diri dan buru-buru keluar untuk mencari keberadaan Amara tanpa harus menunggu bantuan dari Chandra.

 

 

 

...

 

 

 

“Hei, kalian lagi sibuk?” Lutfi langsung menghampiri Chandra dan Yeriko yang sedang berada di ruang kerjanya.

 

“Lumayan, Lut. Tumben pagi-pagi udah ke sini?” tanya Chandra balik sambil menatap tubuh Lutfi.

 

“Aih ... kayak gini rasanya kalau punya istri di rumah. Aku nggak bisa bangun siang lagi. Icha mulai bandel, jam tujuh pagi udah ngetok-ngetok kamarku.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Bukannya kamu bilang kalau calon istri kamu itu wanita yang baik dan penurut? Kenapa malah kamu yang kewalahan?”

 

“Kemarin-kemarin, aku bangun jam sepuluh pagi setiap harinya, dia nggak pernah protes. Sekarang, aku dibangunin pagi-pagi banget. Ini pasti kerjaan nenek, nih. Desak Icha buat bangunin aku pagi-pagi.”

 

“Bagus, Lut. Pagi-pagi, kamu bisa pergi kerja,” tutur Chandra.

 

“Bagus gundulmu! Aku baru tidur jam setengah empat pagi. Masa jam tujuh udah dibangunin?” keluh Lutfi.

 

“Kamu ngapain aja tidur sampai jam segitu?” tanya Yeriko.

 

“Halah ... kamu kayak nggak tahu aja. Kamu kalo main sama Kakak Ipar, pasti sampai pagi juga ‘kan?” goda Lutfi.

 

Yeriko tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

“Aku juga tiap malam main ML, Yer. Mobile Legend!” seru Lutfi sambil tertawa.

 

“Kenapa nggak main sama Icha aja? Malah main sama Hanabi,” tanya Chandra.

 

“Hanabi siapa?” tanya Yeriko sambil menatap Chandra dan Lutfi.

 

Chandra dan Lutfi menahan tawa. “Hero cewek di Mobile Legend!” seru Lutfi.

 

“Oh. Aku kira nama orang beneran,” sahut Yeriko.

 

“Kamu nggak pernah lihat apa gayanya Hanabi itu menggoda?” tanya Lutfi.

 

“Nggak perhatikan,” jawab Yeriko santai.

 

“Kenapa nggak perhatikan? Download sekarang, kita main!” ajak Lutfi.

 

“Kami lagi sibuk, Lut. Kamu malah ngajak main ML,” celetuk Chandra sambil memerhatikan dokumen yang ada di tangannya.

 

“Aih ... kalian ini bos. Buat apa sih tiap hari capek-capek kayak gini? Anak buah banyak.”

 

“Kita mau ekspansi ke Eropa. Nggak semua pekerjaan harus dikerjakan karyawan semua.”

 

“Wah ... serius? Makin gede aja perusahaan kamu ini, Yer.” Lutfi mengangguk-angguk sambil mengedarkan pandangannya.

 

Yeriko hanya tersenyum menanggapi ucapan Lutfi.

 

“Eh, gedung yang kamu buat di Jakarta udah selesai. Tinggi banget kamu bikin tower di sana. Ada rencana mau pindah kantor ke sana?” tanya Lutfi.

 

“Aku udah nyaman di sini. Semua kerjaan bisa dipantau dari sini. Kasihan istriku, Lut.”

 

“Bawa aja dia ke Jakarta sekalian!”

 

“Aku udah nyaman di sini. Akan ada orang yang menangani di sana. Nggak semuanya aku kerjain sendiri.”

 

Lutfi terkekeh. “Kali aja kamu bisa kayak jin, pindah sana, pindah sini.”

 

Yeriko tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Yer, semalam Jheni ada cerita sama aku soal Amara,” tutur Chandra.

 

“Kenapa si Amara?” tanya Lutfi.

 

“Jheni ketemu sama dia. Dia minta aku buat bantuin Amara.”

 

“Nggak usah dibantuin!” tegas Yeriko.

 

Lutfi dan Chandra langsung menatap wajah Yeriko.

 

“Aku juga nggak mau bantu, Yer. Tapi ...” Chandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Chandra.

 

“Huft, kayaknya si Jheni sama Yuna ini sebelas dua belas.”

 

“Sebelas dua belas kenapa, Chan?” tanya Lutfi.

 

“Dia malah nyuruh aku bantuin Amara. Gila kan?”

 

“Ck, orang baik memang punya pemikiran sendiri.” Lutfi menepuk-nepuk punggung Chandra.

 

Chandra menghela napas. “Masalahnya, dia bilang ... kalau seandainya Jheni yang ada di posisi Amara, apa aku juga nggak mau nolongin?”

 

“Kamu jawab apa?” tanya Lutfi.

 

“Mungkin iya,” jawab Chandra.

 

“Goblok!” Lutfi langsung mengeplak kepala Chandra.

 

“Sialan kamu, Lut. Ini kepala, bukan kelapa!” seru Chandra kesal.

 

“Kepalamu ini lebih cocok jadi kelapa. Isinya bukan otak, air doang! Kalo soal bisnis, kamu hebat, Chan. Urusan cewek, noob banget!”

 

Yeriko tertawa kecil menanggapi ucapan Lutfi.

 

“Ck, aku tuh nggak bisa kayak kalian. Jheni tuh terlalu terbuka sama semua orang. Dia juga terbuka sama perasaannya. Aku malah sering malu, Lut.”

 

“Malu kenapa?” tanya Lutfi.

 

“Malu aja kalau dia lebih perhatian dari aku. Harusnya, aku yang ngasih perhatian ke dia duluan.”

 

“Ya udah, tinggal kasih dia perhatian duluan! Gitu aja, kok repot?” sahut Lutfi.

 

“Gimana kalau keduluan dia?”

 

“Itu karena kamu nggak peka!” seru Lutfi kesal. “Kesel aku sama kamu, pengen kulempar ke luar jendela!”

 

Yeriko menahan tawa mendengar ucapan Lutfi. “Chan, belajarlah mengalah sama Jheni. Jheni itu sifatnya memang keras kepala. Tapi, dia perempuan yang baik. Setidaknya, kamu bisa mewujudkan keinginan-keinginan dia.”

 

“Maksud kamu, aku harus nurutin kemauan Jheni supaya aku nolongin Amara?” tanya Chandra sambil menatap Yeriko.

 

“Aku nggak setuju kalo ini.”

 

“Terus? Aku harus gimana?” tanya Chandra.

 

“Alihkan aja perhatian dia ke hal lain, Chan!” pinta Yeriko.

 

“Contohnya?”

 

“Ajak dia liburan!” sahut Lutfi. “Ayo, Chan! Aku ada agenda ke Labuan Bajo. Tempatnya keren banget di sana.”

 

“Mau ekspansi, Lut. Besok, aku sama Yeriko mau berangkat ke Eropa. Malah ngajakin liburan. Si Jheni itu juga banyak jobnya.”

 

“Lagian, kamu sudah punya duit banyak. Kenapa pacar dibiarkan kerja keras sendirian? Kasih aja uang bulanan, beres!” sahut Lutfi.

 

“Nggak mau, Lut. Kita juga harus menghargai posisi dia sebagai pacar. Dia itu mandiri dan punya harga diri. Nggak mau pake uangku.”

 

Lutfi menghela napas. “Kenapa kalian ini rumit banget, sih?”

 

Chandra dan Yeriko terdiam. Ia tak menanggapi ucapan Lutfi dan kembali fokus mendiskusikan dokumen yang ada di hadapan mereka.

 

Lutfi memilih berbaring santai di atas sofa sambil bermain game online di ponselnya. Sesekali ia melirik dua sahabatnya yang masih fokus dengan pekerjaannya. Setiap harinya, ia hanya bermain-main. Jauh berbeda dengan dua sahabatnya yang begitu bekerja keras untuk mengembangkan bisnis mereka.

 

“Chan, kamu beneran cinta atau nggak sama Jheni?” tanya Lutfi sambil memainkan ponselnya.

 

Chandra menoleh ke arah Lutfi. “Cinta.”

 

“Kenapa selalu nyuekin dia terus?”

 

“Aku nggak nyuekin.”

 

“Oh. Lebih cinta mana, Jheni atau Amara?” tanya Lutfi sambil memainkan ponselnya.

 

Chandra menghela napas. Ia menatap Lutfi dan Yeriko bergantian. “Mereka dua orang yang berbeda. Aku udah pernah bilang kalau hubunganku sama Amara itu sebatas tanggung jawab, bukan cinta.”

 

Lutfi tertawa kecil sambil menatap layar ponselnya. “Keluarga kamu itu aneh. Kamu sudah sebesar ini, masih aja mau diatur sama perjodohan keluarga.”

 

Chandra terdiam. Ia tak ingin lagi menanggapi ucapan Lutfi dan membuat masalahnya semakin melebar. Ia ingin fokus mengembangkan bisnisnya bersama Yeriko. Baginya, bertanggung jawab pada masa depan wanita yang ia cintai juga hal yang sangat penting. Ia tidak ingin membuat Jheni menderita karena hidup bersamanya.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Salam hangat dari Yeriko and The Gank

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas