Tepat
jam tujuh malam, Jheni memarkirkan mobilnya di depan rumah besar berwarna putih
yang dikelilingi pagar tinggi di wilayah Ketabang. Ia turun dari mobil dan langsung menekan bel rumah
tersebut.
Beberapa
menit kemudian, seorang wanita cantik keluar dan membukakan pagar untuk Jheni.
“Selamat
malam ...!” sapa Jheni sambil tersenyum manis.
“Malam
...! Cari siapa ya?” tanya wanita itu sambil menatap tubuh Jheni dari ujung
kepala hingga ke ujung kaki.
“Aku
temennya Amara.”
“Amara?”
Wanita itu mengernyitkan dahinya.
“Sarah,”
jawab Jheni meralat ucapannya.
“Oh.
Sudah ada janji sama dia?” tanya wanita itu lagi.
Jheni
mengangguk sambil tersenyum.
“Oke.
Masuk!” perintah wanita tersebut.
Jheni
mengangguk dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke halaman rumah tersebut.
“Eh,
wait!” Wanita cantik itu menahan tubuh Jheni.
“Kenapa?”
“Itu
mobil kamu?” tanya wanita itu sambil menunjuk mobil yang masih terparkir di
luar.
Jheni
menganggukkan kepala.
“Bawa
masuk, ya!” perintahnya sambil membuka lebar pintu gerbang rumah tersebut.
Jheni
mengangguk. Ia segera masuk ke dalam mobil dan memasukkan mobilnya ke halaman
rumah besar tersebut.
“Sudah
lama kenal sama Sarah?” tanya wanita itu saat Jheni turun dari mobilnya.
Jheni
menganggukkan kepala.
Wanita
itu terus memerhatikan tubuh Jheni. “Cantik juga ini cewek? Penampilannya
berkelas. Apa mau jual diri di sini juga?” batin wanita yang kerap dipanggil
Barbie oleh teman-teman se-profesinya.
“Kenali,
namaku Barbie.” Wanita itu menjulurkan tangannya ke arah Jheni.
Jheni
tersenyum sambil membalas uluran tangan dari Barbie. “Jheni.”
Barbie
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengajak Jheni untuk masuk ke dalam rumah
tersebut.
Jheni
mengedarkan pandangannya saat masuk ke dalam rumah tersebut. Ia melewati
beberapa orang yang menunjukkan adegan menggelikan. Seorang pria tua yang duduk
di sofa bersama wanita muda sambil bercumbu mesra. Membuat Jheni menjadi tidak
nyaman saat masuk ke tempat tersebut.
“Kamarnya
Sarah ada di lantai tiga. Kayaknya, dia lagi di kamar,” tutur Barbie sambil
menaiki anak tangga.
Jheni
mengangguk tanda mengerti. Ia terus mengikuti langkah Barbie. Matanya bergerak
liar melihat setiap sudut ruangan yang terlihat berantakan. Aroma parfum
murahan juga menyengat di telinganya dan berhasil membuat kepalanya pusing.
Di
lantai dua, lagi-lagi Jheni menemukan beberapa pasang pria dan wanita yang
asyik bermesraan. Bahkan seorang wanita membiarkan dadanya dicumbu dengan liar
oleh seorang pria, juga disaksikan oleh pasangan mata lain yang tak kalah
gilanya bercumbu di sana.
“Tempat
apa ini?” batin Jheni. Telinganya pun mulai terganggu dengan suara musik yang
memekakkan telinga. Ia tak bisa mendengar suara dari orang-orang yang ada di
lantai dua tersebut.
Lantai
ketiga, adalah tempat yang paling sepi. Jheni tak menemukan satu orang pun yang
ada di sana. Hanya lorong-lorong dengan deretan pintu yang berjejar rapi
seperti kamar hotel.
“Kamu
tunggu di sini ya!” perintah Barbie sambil mengajak Jheni untuk duduk di sofa
yang ada di lantai tersebut.
Jheni
menganggukkan kepala. Ia langsung duduk di sofa yang ada di sana.
“Aku
panggilin Amara sebentar.” Barbie langsung beringsut ke salah satu pintu kamar
yang letaknya tak jauh dari tempat Jheni duduk.
Beberapa
menit kemudian, Barbie menghampiri Jheni. “Tunggu ya! Dia masih meeting sama
klien-nya.”
Jheni
menganggukkan kepala.
Barbie
tersenyum sambil menatap Jheni. “Aku turun dulu! Masih banyak urusan.”
Jheni
menganggukkan kepala. Ia terus menatap tubuh Barbie yang berlalu meninggalkan
dirinya. Jheni menatap beberapa pintu kamar yang ada di lantai tersebut. Ia tak
bisa membayangkan berapa ukuran kamarnya karena rumah ini tidak terlalu luas
tapi memiliki banyak ruangan kamar.
Dari
pintu kamar yang hanya berjarak tiga meter di sebelahnya, ia bisa mendengarkan
suara desahan dan erangan dari seorang wanita. Membuat rasa penasarannya
semakin besar.
“Meeting?”
Jheni melirik ke langit-langit ruangan. “Apa meeting yang mereka maksud adalah
...” Jheni semakin memasang telinganya saat suara erangan dari kamar tersebut
semakin keras. Diikuti dengan suara desahan dan teriakan dari seorang pria.
Jheni
bangkit dari tempat duduk. Ia sengaja memasang telinganya ke pintu kamar
tersebut. Mendengar suaranya saja, ia bisa membayangkan kalau ada dua orang
yang di dalam kamar tersebut dan sedang menikmati waktu yang begitu
menggairahkan.
“Gimana,
Oom? Puas?” tanya pemilik suara wanita yang ada di kamar tersebut saat suara
desahannya berhenti.
“Sangat
puas! Besok, Oom ke sini lagi. Kasih permainan yang lebih bagus lagi. Oom akan
kasih banyak bonus kalau kamu bisa memuaskan Oom setiap malam.”
GLEG!
Jheni
menelan ludah mendengar pembicaraan tersebut. Ia buru-buru kembali ke tempat
duduk karena tak lagi mendengar suara dari kamar tersebut.
Beberapa
menit kemudian, pria setengah baya dengan tubuh gempal keluar dari kamar
tersebut. Diikuti dengan gadis cantik yang hanya mengenakan lingerie,
memperlihatkan seluruh tubuhnya di balik kain transparan berwarna cream
tersebut.
Jheni
tak bergerak. Ia pura-pura tak melihat dua orang tersebut.
“Makasih
ya, Oom!” Gadis itu tersenyum dan mengantar pria itu untuk turun ke tangga.
Begitu
pria tua itu pergi, gadis itu langsung memutar kepalanya menatap Jheni. Ia
menghampiri Jheni sambil memerhatikan wajah dan tubuh Jheni dengan seksama.
“Kamu siapa? Anak baru?” tanya wanita muda tersebut.
Jheni
hanya tersenyum menanggapi pertanyaan wanita itu.
“Bawaan
siapa?” tanya wanita itu.
“Maksudnya?”
Jheni balik bertanya.
“Kamu
masuk ke sini karena siapa?” tanya wanita itu lagi.
“Oh.
Aku nyari Sarah.”
“Sarah?”
tanya wanita itu lagi.
Jheni
menganggukkan kepala. “Dia masih ngelayani Oom-Oom di kamarnya.”
“Ngelayani
Oom-Oom? Tadi, kata si Barbie ... Sarah lagi meeting.”
“Oh.
Sarah ngajak kamu ke sini, tapi nggak ngasih tahu?”
Jheni
menggelengkan kepala.
“Plang
perusahaan yang ada di depan itu cuma kedok doang. Mami sengaja bikin itu biar
aman dan nggak ada orang yang tahu kalau ini adalah tempat prostitusi. Meeting
adalah istilah yang kami gunakan saat kami sedang melayani pelanggan kami,”
tutur wanita tersebut.
“Oh
...” Jheni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata benar gosip yang beredar
selama ini kalau rumah besar ini memang tempat prostitusi dengan kedok
perusahaan di bidang jasa periklanan dan event organizer.
“Kenalin,
namaku Geisha.” Wanita itu mengulurkan tangan ke arah Jheni.
Jheni
tersenyum sambil membalas uluran tangan wanita itu. “Jheni.”
“Nama
asli kamu?” tanya Geisha.
Jheni
menganggukkan kepala.
“Di
sini, nggak ada yang pakai nama asli. Kalau kamu mau main, sebaiknya cari nama
lain yang cocok untuk menjual diri kamu ini.”
Jheni
menarik napas dalam-dalam. “Aku bukan mau jual diri. Aku cuma mau cari Sarah.”
“Biasanya,
cuma calon pelacur yang nyari pelacur ke tempat ini,” tutur Geisha sambil
menatap wajah Jheni.
“Aku
bukan calon pelacur. Nggak akan pernah jadi pelacur di tempat murahan kayak
gini!” sahut Jheni kesal.
“Apa
kamu bilang? Kamu ngatain kami murahan!?” seru Geisha. Emosinya langsung
terpancing begitu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Jheni.
“Iya.”
Jheni mengendus badan Geisha. “Parfum yang kamu pakai aja udah ketahuan kalau
harganya cuma lima belas ribuan.”
“Heh!?
Kamu nggak usah sombong!” Geisha langsung mendorong dada Jheni. “Emangnya
parfum kamu semahal apa, hah!?”
“Nggak
mahal, sih. Cuma seratus kalinya harga parfum yang kamu pakai ini,” jawab Jheni
santai.
Geisha
mengerutkan hidungnya sambil menatap Jheni dengan mata berapi-api. “Kalau kamu
udah kaya, kenapa masuk ke sini?” tanyanya kesal.
“Aku
ke sini, mau bawa pulang Sarah!” sahut Jheni.
Geisha
tersenyum sinis. “Nggak usah mimpi ya! Sarah ada di sini karena dia punya
hutang sama Mami. Nggak akan semudah itu keluar dari tempat ini. Kamu mampu
bayar ganti rugi ke Mami?”
Jheni
menghela napas sambil menatap gadis yang ada di hadapannya. “Berapa semua
hutangnya?”
“Hutang
Sarah ke Mami itu ratusan juta. Suaminya udah jual dia ke Mami. Kamu nggak akan
sanggup menebus dia.”
Jheni
terdiam. Ia tidak tahu kalau Amara bisa terjerat di tempat yang rumit seperti
ini. Belum sampai ia berbicara kembali dengan Geisha. Amara terlihat keluar
dari kamarnya bersama seorang pria. Amara segera melepas kepergian pria itu
dengan senyuman manis dan gestur tubuh yang menggoda.
“Sar,
ada yang nyari kamu!” seru Geisha begitu melihat Amara keluar dari kamarnya.
“Siapa?”
tanya Amara sambil menengok tubuh Jheni yang membelakanginya.
Jheni
langsung memutar kepala menatap Amara.
“Jheni
...!?” Amara langsung gemetaran begitu melihat Jheni ada di sana. “Kamu ngapain
di sini?”
“Aku
cari kamu,” jawab Jheni sambil tersenyum ke arah Amara.
“Nyari
aku?”
Jheni
menganggukkan kepala.
Amara
tersenyum sinis. “Buat apa nyari aku? Kamu udah sampai sini, pasti kamu udah
tahu semuanya. Kamu ke sini cuma mau ngetawain aku?”
“Kamu
jangan negative thinking dulu, Ra!” pinta Jheni. “Aku ke sini buat nolongin
kamu.”
Amara
tertawa kecil menanggapi ucapan Jheni. “Nolongin? Nolongin apaan? Kamu itu bisa
apa sih, Jhen?”
Jheni
menatap wajah Amara. “Aku bisa carikan kamu tempat tinggal yang lebih baik.
Nggak perlu tinggal di tempat kayak gini!”
“Jhen,
aku tahu kamu sekarang udah jadi orang kaya karena pacaran sama Chandra. Tapi,
bukan berarti aku bisa nerima bantuan kamu gitu aja. Kamu ke sini cuma mau
ngeremehin aku karena sekarang aku udah miskin. Kamu pikir, aku bakal ngarepin
belas kasih dari orang kayak kamu?”
“Ra,
aku ke sini dengan niat baik. Kamu punya kemampuan yang bagus. Kamu bisa
tinggal di tempat yang lebih baik dan memulai semuanya dari awal lagi. Nggak
perlu jual diri kayak gini!” pinta Jheni.
“Kamu
pikir, aku jual diri karena apa? Karena bisnis aku hancur, Jhen. Bisnis
keluargaku dan keluarga Harry hancur bersamaan. Ini karena ulah kalian semua
‘kan?”
Jheni
menggelengkan kepala. “Aku nggak ngelakuin apa-apa ke kamu.”
“Kamu
pikir, aku nggak tahu? Aku udah lama tunangan sama Chandra. Aku tahu gimana
ganasnya Yeriko dan orang-orangnya. Pasti kamu yang udah minta mereka bikin
bangkrut keluarga aku ‘kan?”
“Kamu
jangan asal nuduh, Ra! Aku nggak ada hubungannya sama sekali sama bisnis
keluarga kamu,” sahut Jheni.
“Udahlah.
Nggak usah munafik!” pinta Amara sambil melipat kedua tangannya. “Kamu senang
kan kalau hidup aku kayak gini?”
“Ra,
kalau aku senang ... aku nggak akan datang ke sini buat nolongin kamu.”
“Aku
nggak butuh pertolongan kamu, Jhen!” tutur Amara sambil membuang pandangannya.
“Lebih baik, kamu keluar secepatnya dari rumah ini!”
Jheni
mendesah kesal. “Aku ke sini berniat baik. Aku mau kamu keluar dari kehidupan
kelam kayak gini. Tapi kamunya malah kayak gini. Sama sekali nggak bisa
menghargai niat baik orang lain.”
“Aku
nggak mau punya hutang budi sama kamu. Masalahku, aku akan atasi sendiri. Nggak
perlu ikut campur sama kehidupanku!” tegas Amara.
Jheni
menghela napas. “Oke. Kalau emang itu mau kamu. Aku harap, kamu nggak akan
pernah menyesali keputusan kamu karena sudah nolak bantuan dari aku!” ucapnya
sambil bergegas pergi meninggalkan Amara.
Amara
tak bereaksi. Ia tak punya pilihan lain. Terlebih, Jheni sudah memiliki niat
yang begitu baik terhadap dirinya. Hal ini membuatnya sangat sakit. Sebab,
orang yang peduli kepada dirinya adalah orang yang pernah ia sakiti. Ia merasa
tak layak mendapatkan kebaikan dari wanita seperti Jheni.
(( Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin
cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment