Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 444 : Tak Pantas Menerima Kebaikanmu

 


Tepat jam tujuh malam, Jheni memarkirkan mobilnya di depan rumah besar berwarna putih yang dikelilingi pagar tinggi di wilayah Ketabang. Ia turun dari mobil dan langsung menekan bel rumah tersebut.

 

Beberapa menit kemudian, seorang wanita cantik keluar dan membukakan pagar untuk Jheni.

 

“Selamat malam ...!” sapa Jheni sambil tersenyum manis.

 

“Malam ...! Cari siapa ya?” tanya wanita itu sambil menatap tubuh Jheni dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.

 

“Aku temennya Amara.”

 

“Amara?” Wanita itu mengernyitkan dahinya.

 

“Sarah,” jawab Jheni meralat ucapannya.

 

“Oh. Sudah ada janji sama dia?” tanya wanita itu lagi.

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum.

 

“Oke. Masuk!” perintah wanita tersebut.

 

Jheni mengangguk dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke halaman rumah tersebut.

 

“Eh, wait!” Wanita cantik itu menahan tubuh Jheni.

 

“Kenapa?”

 

“Itu mobil kamu?” tanya wanita itu sambil menunjuk mobil yang masih terparkir di luar.

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

“Bawa masuk, ya!” perintahnya sambil membuka lebar pintu gerbang rumah tersebut.

 

Jheni mengangguk. Ia segera masuk ke dalam mobil dan memasukkan mobilnya ke halaman rumah besar tersebut.

 

“Sudah lama kenal sama Sarah?” tanya wanita itu saat Jheni turun dari mobilnya.

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

Wanita itu terus memerhatikan tubuh Jheni. “Cantik juga ini cewek? Penampilannya berkelas. Apa mau jual diri di sini juga?” batin wanita yang kerap dipanggil Barbie oleh teman-teman se-profesinya.

 

“Kenali, namaku Barbie.” Wanita itu menjulurkan tangannya ke arah Jheni.

 

Jheni tersenyum sambil membalas uluran tangan dari Barbie. “Jheni.”

 

Barbie mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengajak Jheni untuk masuk ke dalam rumah tersebut.

 

Jheni mengedarkan pandangannya saat masuk ke dalam rumah tersebut. Ia melewati beberapa orang yang menunjukkan adegan menggelikan. Seorang pria tua yang duduk di sofa bersama wanita muda sambil bercumbu mesra. Membuat Jheni menjadi tidak nyaman saat masuk ke tempat tersebut.

 

“Kamarnya Sarah ada di lantai tiga. Kayaknya, dia lagi di kamar,” tutur Barbie sambil menaiki anak tangga.

 

Jheni mengangguk tanda mengerti. Ia terus mengikuti langkah Barbie. Matanya bergerak liar melihat setiap sudut ruangan yang terlihat berantakan. Aroma parfum murahan juga menyengat di telinganya dan berhasil membuat kepalanya pusing.

 

Di lantai dua, lagi-lagi Jheni menemukan beberapa pasang pria dan wanita yang asyik bermesraan. Bahkan seorang wanita membiarkan dadanya dicumbu dengan liar oleh seorang pria, juga disaksikan oleh pasangan mata lain yang tak kalah gilanya bercumbu di sana.

 

“Tempat apa ini?” batin Jheni. Telinganya pun mulai terganggu dengan suara musik yang memekakkan telinga. Ia tak bisa mendengar suara dari orang-orang yang ada di lantai dua tersebut.

 

Lantai ketiga, adalah tempat yang paling sepi. Jheni tak menemukan satu orang pun yang ada di sana. Hanya lorong-lorong dengan deretan pintu yang berjejar rapi seperti kamar hotel.

 

“Kamu tunggu di sini ya!” perintah Barbie sambil mengajak Jheni untuk duduk di sofa yang ada di lantai tersebut.

 

Jheni menganggukkan kepala. Ia langsung duduk di sofa yang ada di sana.

 

“Aku panggilin Amara sebentar.” Barbie langsung beringsut ke salah satu pintu kamar yang letaknya tak jauh dari tempat Jheni duduk.

 

Beberapa menit kemudian, Barbie menghampiri Jheni. “Tunggu ya! Dia masih meeting sama klien-nya.”

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

Barbie tersenyum sambil menatap Jheni. “Aku turun dulu! Masih banyak urusan.”

 

Jheni menganggukkan kepala. Ia terus menatap tubuh Barbie yang berlalu meninggalkan dirinya. Jheni menatap beberapa pintu kamar yang ada di lantai tersebut. Ia tak bisa membayangkan berapa ukuran kamarnya karena rumah ini tidak terlalu luas tapi memiliki banyak ruangan kamar.

 

Dari pintu kamar yang hanya berjarak tiga meter di sebelahnya, ia bisa mendengarkan suara desahan dan erangan dari seorang wanita. Membuat rasa penasarannya semakin besar.

 

“Meeting?” Jheni melirik ke langit-langit ruangan. “Apa meeting yang mereka maksud adalah ...” Jheni semakin memasang telinganya saat suara erangan dari kamar tersebut semakin keras. Diikuti dengan suara desahan dan teriakan dari seorang pria.

 

Jheni bangkit dari tempat duduk. Ia sengaja memasang telinganya ke pintu kamar tersebut. Mendengar suaranya saja, ia bisa membayangkan kalau ada dua orang yang di dalam kamar tersebut dan sedang menikmati waktu yang begitu menggairahkan.

 

“Gimana, Oom? Puas?” tanya pemilik suara wanita yang ada di kamar tersebut saat suara desahannya berhenti.

 

“Sangat puas! Besok, Oom ke sini lagi. Kasih permainan yang lebih bagus lagi. Oom akan kasih banyak bonus kalau kamu bisa memuaskan Oom setiap malam.”

 

 

 

GLEG!

 

 

 

Jheni menelan ludah mendengar pembicaraan tersebut. Ia buru-buru kembali ke tempat duduk karena tak lagi mendengar suara dari kamar tersebut.

 

Beberapa menit kemudian, pria setengah baya dengan tubuh gempal keluar dari kamar tersebut. Diikuti dengan gadis cantik yang hanya mengenakan lingerie, memperlihatkan seluruh tubuhnya di balik kain transparan berwarna cream tersebut.

 

Jheni tak bergerak. Ia pura-pura tak melihat dua orang tersebut.

 

“Makasih ya, Oom!” Gadis itu tersenyum dan mengantar pria itu untuk turun ke tangga.

 

Begitu pria tua itu pergi, gadis itu langsung memutar kepalanya menatap Jheni. Ia menghampiri Jheni sambil memerhatikan wajah dan tubuh Jheni dengan seksama. “Kamu siapa? Anak baru?” tanya wanita muda tersebut.

 

Jheni hanya tersenyum menanggapi pertanyaan wanita itu.

 

“Bawaan siapa?” tanya wanita itu.

 

“Maksudnya?” Jheni balik bertanya.

 

“Kamu masuk ke sini karena siapa?” tanya wanita itu lagi.

 

“Oh. Aku nyari Sarah.”

 

“Sarah?” tanya wanita itu lagi.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Dia masih ngelayani Oom-Oom di kamarnya.”

 

“Ngelayani Oom-Oom? Tadi, kata si Barbie ... Sarah lagi meeting.”

 

“Oh. Sarah ngajak kamu ke sini, tapi nggak ngasih tahu?”

 

Jheni menggelengkan kepala.

 

“Plang perusahaan yang ada di depan itu cuma kedok doang. Mami sengaja bikin itu biar aman dan nggak ada orang yang tahu kalau ini adalah tempat prostitusi. Meeting adalah istilah yang kami gunakan saat kami sedang melayani pelanggan kami,” tutur wanita tersebut.

 

“Oh ...” Jheni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata benar gosip yang beredar selama ini kalau rumah besar ini memang tempat prostitusi dengan kedok perusahaan di bidang jasa periklanan dan event organizer.

 

“Kenalin, namaku Geisha.” Wanita itu mengulurkan tangan ke arah Jheni.

 

Jheni tersenyum sambil membalas uluran tangan wanita itu. “Jheni.”

 

“Nama asli kamu?” tanya Geisha.

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

“Di sini, nggak ada yang pakai nama asli. Kalau kamu mau main, sebaiknya cari nama lain yang cocok untuk menjual diri kamu ini.”

 

Jheni menarik napas dalam-dalam. “Aku bukan mau jual diri. Aku cuma mau cari Sarah.”

 

“Biasanya, cuma calon pelacur yang nyari pelacur ke tempat ini,” tutur Geisha sambil menatap wajah Jheni.

 

“Aku bukan calon pelacur. Nggak akan pernah jadi pelacur di tempat murahan kayak gini!” sahut Jheni kesal.

 

“Apa kamu bilang? Kamu ngatain kami murahan!?” seru Geisha. Emosinya langsung terpancing begitu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Jheni.

 

“Iya.” Jheni mengendus badan Geisha. “Parfum yang kamu pakai aja udah ketahuan kalau harganya cuma lima belas ribuan.”

 

“Heh!? Kamu nggak usah sombong!” Geisha langsung mendorong dada Jheni. “Emangnya parfum kamu semahal apa, hah!?”

 

“Nggak mahal, sih. Cuma seratus kalinya harga parfum yang kamu pakai ini,” jawab Jheni santai.

 

Geisha mengerutkan hidungnya sambil menatap Jheni dengan mata berapi-api. “Kalau kamu udah kaya, kenapa masuk ke sini?” tanyanya kesal.

 

“Aku ke sini, mau bawa pulang Sarah!” sahut Jheni.

 

Geisha tersenyum sinis. “Nggak usah mimpi ya! Sarah ada di sini karena dia punya hutang sama Mami. Nggak akan semudah itu keluar dari tempat ini. Kamu mampu bayar ganti rugi ke Mami?”

 

 Jheni menghela napas sambil menatap gadis yang ada di hadapannya. “Berapa semua hutangnya?”

 

“Hutang Sarah ke Mami itu ratusan juta. Suaminya udah jual dia ke Mami. Kamu nggak akan sanggup menebus dia.”

 

Jheni terdiam. Ia tidak tahu kalau Amara bisa terjerat di tempat yang rumit seperti ini. Belum sampai ia berbicara kembali dengan Geisha. Amara terlihat keluar dari kamarnya bersama seorang pria. Amara segera melepas kepergian pria itu dengan senyuman manis dan gestur tubuh yang menggoda.

 

“Sar, ada yang nyari kamu!” seru Geisha begitu melihat Amara keluar dari kamarnya.

 

“Siapa?” tanya Amara sambil menengok tubuh Jheni yang membelakanginya.

 

Jheni langsung memutar kepala menatap Amara.

 

“Jheni ...!?” Amara langsung gemetaran begitu melihat Jheni ada di sana. “Kamu ngapain di sini?”

 

“Aku cari kamu,” jawab Jheni sambil tersenyum ke arah Amara.

 

“Nyari aku?”

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

Amara tersenyum sinis. “Buat apa nyari aku? Kamu udah sampai sini, pasti kamu udah tahu semuanya. Kamu ke sini cuma mau ngetawain aku?”

 

“Kamu jangan negative thinking dulu, Ra!” pinta Jheni. “Aku ke sini buat nolongin kamu.”

 

Amara tertawa kecil menanggapi ucapan Jheni. “Nolongin? Nolongin apaan? Kamu itu bisa apa sih, Jhen?”

 

Jheni menatap wajah Amara. “Aku bisa carikan kamu tempat tinggal yang lebih baik. Nggak perlu tinggal di tempat kayak gini!”

 

“Jhen, aku tahu kamu sekarang udah jadi orang kaya karena pacaran sama Chandra. Tapi, bukan berarti aku bisa nerima bantuan kamu gitu aja. Kamu ke sini cuma mau ngeremehin aku karena sekarang aku udah miskin. Kamu pikir, aku bakal ngarepin belas kasih dari orang kayak kamu?”

 

“Ra, aku ke sini dengan niat baik. Kamu punya kemampuan yang bagus. Kamu bisa tinggal di tempat yang lebih baik dan memulai semuanya dari awal lagi. Nggak perlu jual diri kayak gini!” pinta Jheni.

 

“Kamu pikir, aku jual diri karena apa? Karena bisnis aku hancur, Jhen. Bisnis keluargaku dan keluarga Harry hancur bersamaan. Ini karena ulah kalian semua ‘kan?”

 

Jheni menggelengkan kepala. “Aku nggak ngelakuin apa-apa ke kamu.”

 

“Kamu pikir, aku nggak tahu? Aku udah lama tunangan sama Chandra. Aku tahu gimana ganasnya Yeriko dan orang-orangnya. Pasti kamu yang udah minta mereka bikin bangkrut keluarga aku ‘kan?”

 

“Kamu jangan asal nuduh, Ra! Aku nggak ada hubungannya sama sekali sama bisnis keluarga kamu,” sahut Jheni.

 

“Udahlah. Nggak usah munafik!” pinta Amara sambil melipat kedua tangannya. “Kamu senang kan kalau hidup aku kayak gini?”

 

“Ra, kalau aku senang ... aku nggak akan datang ke sini buat nolongin kamu.”

 

“Aku nggak butuh pertolongan kamu, Jhen!” tutur Amara sambil membuang pandangannya. “Lebih baik, kamu keluar secepatnya dari rumah ini!”

 

Jheni mendesah kesal. “Aku ke sini berniat baik. Aku mau kamu keluar dari kehidupan kelam kayak gini. Tapi kamunya malah kayak gini. Sama sekali nggak bisa menghargai niat baik orang lain.”

 

“Aku nggak mau punya hutang budi sama kamu. Masalahku, aku akan atasi sendiri. Nggak perlu ikut campur sama kehidupanku!” tegas Amara.

 

Jheni menghela napas. “Oke. Kalau emang itu mau kamu. Aku harap, kamu nggak akan pernah menyesali keputusan kamu karena sudah nolak bantuan dari aku!” ucapnya sambil bergegas pergi meninggalkan Amara.

 

Amara tak bereaksi. Ia tak punya pilihan lain. Terlebih, Jheni sudah memiliki niat yang begitu baik terhadap dirinya. Hal ini membuatnya sangat sakit. Sebab, orang yang peduli kepada dirinya adalah orang yang pernah ia sakiti. Ia merasa tak layak mendapatkan kebaikan dari wanita seperti Jheni.

 

 (( Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas