Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 443 : Kepergian Mr. Ye

 


“Ay, cepet pulang ya!” rengek Yuna manja sambil bergelayut di dada suaminya.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku pasti langsung pulang kalau masalah di sana sudah selesai.”

 

Yuna menggigit bibirnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selama tidak ada suaminya di rumah itu.

 

“Nggak usah sedih, ya!” tutur Yeriko ambil mengelus lembut pipi Yuna. “Setelah sampai di sana, aku pasti langsung telepon kamu.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Hati-hati ya! Semoga rencananya sukses besar. Aku akan selalu dukung kamu.”

 

Yeriko mengangguk. Ia mengecup kening Yuna. Kemudian beralih mengecup anaknya yang masih tersimpan dengan baik di dalam perut istrinya. “Jaga dia baik-baik ya!” pintanya sambil mengelus-elus perut Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko bangkit, ia menarik koper yang sudah disiapkan oleh Yuna dan bergegas keluar dari kamarnya.

 

Yuna terus memeluk lengan Yeriko sambil mengiringi langkah suaminya tersebut. Begitu membuka pintu rumah, ia terkejut dengan kehadiran Jheni yang sudah berdiri di depan pintu sambil membawa koper di tangannya.

 

“Jheni ...!?” Yuna mengernyitkan dahi menatap Jheni. “Kamu mau ikut Chandra ke Eropa?”

 

Jheni menggelengkan kepala. “Nggak. Aku mau nginap di sini.”

 

“Kenapa tiba-tiba mau nginap di sini?” tanya Yuna.

 

“Chandra nggak ada di rumahnya. Aku bakal sendirian juga di sana.”

 

“Balik aja ke rumah kamu yang lama!” sahut Yuna sambil menahan tawa.

 

“Sama aja. Sendirian juga.”

 

Yeriko dan Yuna saling pandang. Kemudian menatap Jheni.

 

“Kenapa? Kalian nggak suka kalau aku nginap di sini? Ya udah, aku pergi!” seru Jheni sambil membalikkan tubuhnya.

 

“Eits, kenapa ngambekan sih? Kayak emak-emak aja!” sahut Yuna sambil menahan lengan Jheni.

 

“Abisnya, kalian berdua itu nyebelin!” sahut Jheni kesal.

 

Yuna terkekeh menanggapi ucapan Jheni. “Kamu lagi ada masalah? Nggak biasanya sensitif kayak gini.”

 

“Aku lagi kesel sama Chandra!”

 

“Kesel kenapa?”

 

“Abis berantem sama dia. Dia itu nggak peka banget sama aku. Ngeselin!”

 

“Udah, jangan marah-marah! Katanya sayang?” goda Yuna.

 

“Akunya aja yang sayang. Dia nggak,” sahut Jheni kesal.

 

Yeriko tertawa kecil. “Jhen, Chandra itu sayang sama kamu. Dia emang udah kayak gitu sifatnya. Kayak baru kenal dia sehari aja.”

 

“Iya, aku tahu. Tapi lama-lama kesel juga, Yer. Jangan-jangan, dia itu emang nggak beneran cinta sama aku. Kalo aku putus sama dia, mungkin dia nggak akan peduli sama hidupku lagi!”

 

“Jhen, sabar ya! Nanti kita bicarakan lagi. Kamu masuk dulu, gih! Aku antar suamiku dulu. Ntar dia telat sampe bandara.”

 

“Kamu mau ngantar suami kamu sampai ke Bandara?” tanya Jheni.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Ada Jheni di sini. Sebaiknya, kamu di rumah aja!” pinta Yeriko sambil menatap Yuna.

 

“Serius?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Banyak istirahat, jangan terlalu banyak main!” pinta Yeriko sambil mengecup kening Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati ya!”

 

Yeriko mengangguk. “Jhen, aku titip Yuna ya!” pintanya sambil menatap Jheni.

 

“Siap, Bos!”

 

Yeriko tersenyum. Ia bergegas masuk ke mobil, sudah ada Riyan yang menunggunya sejak beberapa menit yang lalu. Ia membuka kaca mobil, melambaikan tangannya ke arah Yuna dan Jheni saat mobilnya bergerak keluar dari halaman rumah.

 

“Huft, akhirnya ... aku ngerasain ditinggal perjalanan dinas sama suamiku. Ke Eropa pula, satu minggu nggak ketemu,” gumam Yuna. Ia terduduk lemas di kursi yang ada di teras rumahnya.

 

“Emangnya kamu doang? Aku juga ditinggal sama Chandra. Nggak ada lagi temen berantem. Biasanya, aku udah ngomelin dia setiap hari. Seminggu ini, aku harus hidup kesepian.”

 

“Kita sama-sama wanita kesepian, Jhen.”

 

“Nasib kita sama. Sama-sama kesepian.”

 

“Gimana sama Icha yang sering ditinggal sama Lutfi ya?” tanya Jheni.

 

Yuna mengedikkan bahunya. “Sabar banget si Icha.”

 

“Kapan aku bisa jadi perempuan yang sabar kayak Icha?” tanya Jheni lagi.

 

“Kayaknya nggak bisa, Jhen.”

 

Jheni langsung memonyongkan bibirnya ke arah Yuna. “Eh, by the way ... Aku udah nemuin si Amara.”

 

“Ketemu di mana?” tanya Yuna.

 

“Dia tinggal di rumah besar yang nggak jauh dari perpustakaan tempat kita cari buku waktu itu. Aku nggak tahu itu rumah siapa. Tapi, rumah itu sering ada tamu keluar masuk gitu.”

 

“Emangnya gak kelihatan dari luar? Mungkin, itu kantor perusahaan barunya Amara.”

 

Rumah itu dikelilingi sama pagar tinggi. Nggak kelihatan, Yun. Kalau dibandingin sama rumah mertua kamu, nggak ada apa-apanya sih. Tapi, kayaknya yang tinggal di sana ada banyak, deh.”

 

“Mungkin aja emang kantor perusahaan di sana, Jhen. Sekarang banyak perusahaan yang memilih nyewa rumah tinggal untuk dijadikan kantor daripada sewa gedung.”

 

“Iya juga, sih.” Jheni mengangguk-anggukkan kepala. “Tapi, kalau malam ... tempat itu malah sering banget ada keluar masuk mobil. Masa, kantor bukanya sampe malam sih?”

 

“Ya bisa aja, Jhen. Karyawannya tinggal di sana sekalian biar lebih efektif kerjanya. Lagian, kamu niat banget nyelidiki si Amara itu. Sampai bisa tahu kalau malam masih ada aktivitas di sana.”

 

“Iih ... niat banget aku, Yun. Sampe jam empat pagi, aku masih standby di deket rumah itu.”

 

“Gila kamu, Jhen!” seru Yuna.

 

“Aku penasaran, Yun. Daripada aku di rumah nggak bisa tidur. Lebih baik aku cari tahu aja sekalian kehidupannya si Amara itu.”

 

“Kamu bener-bener kayak orang kurang kerjaan!” dengus Yuna.

 

“Huft, daripada aku dihantui terus sama dia. Kebawa-bawa mimpi, Yun. Sore ini, aku bakal cari dia lagi ke rumah itu.”

 

“Kamu yakin?” tanya Yuna.

 

Jheni mengangguk pasti. “Soalnya ....” Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Yuna dan berbisik.

 

“Hah!? Serius!?” tanya Yuna sambil melebarkan matanya. “Sampe segitunya?”

 

Jheni menganggukkan kepala. “Makanya, malam ini aku mau pastiin.”

 

Yuna menghela napas. “Nggak nyangka juga sih kalau dia begitu. Semoga nggak beneran, Jhen.”

 

“Dia jatuh miskin aja udah hukuman buat dia, Yun. Aku masih nggak tega lihat dia kayak gitu. Udah gitu, si Chandra cuek aja. Nggak mau bantuin. Nggak kebayang kalau suatu hari nanti, aku putus sama Chandra. Apa dia juga bakal memperlakukan aku seperti itu?” tutur Jheni sambil menggigit bibirnya.

 

“Jhen, jangan mikir macem-macem, deh!” pinta Yuna sambil menatap Jheni. “Nggak boleh mikir yang buruk-buruk kayak gitu. Emangnya, kamu mau putus sama Chandra?”

 

“Nggak mau, Yun. Aku susah payah buat dapetin dia. Masa mau putus gitu aja? Tapi, kalau aku sama dia sering berantem. Kemungkinan besar hubungan kita juga nggak akan lama.”

 

“Sumpah! Aku nggak suka kamu yang kayak gini. Kenapa nggak percaya sama diri kamu sendiri. Kamu harus bisa mempertahankan hubungan kamu, Jhen. Si Chandra emang pendiam dan sifatnya kayak gitu. Apa adanya dan nggak banyak omong. Tapi itu semua bukan berarti dia nggak sayang sama kamu. Dia sayang dan cara dia menyayangi kamu memang berbeda.”

 

Jheni memangku wajah dengan kedua telapak tangannya. “Ck, aku nggak paham sama dia. Dia itu lebih dingin dari Yeriko. Dulu, dia banyak omong. Akhir-akhir ini, dia cuek bebek banget. Apalagi kalau aku ngajak bahas soal Amara. Nggak ada respon, malah marah-marah.”

 

“Dia marah karena kamu nggak peka.”

 

“Nggak peka gimana? Dia yang nggak peka!” sahut Jheni.

 

“Huft, aku juga bingung.”

 

“Nggak usah bingung! Gimana si Refi? Udah diberesin sama Yeriko?”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Yeriko maunya si Refi sadar diri dan pergi dengan sendirinya.”

 

“Tapi, kayaknya itu anak makin gila aja!” sahut Jheni.

 

“Ah, udahlah. Nggak usah bahas Refi!” pinta Yuna. “Bahas Amara aja!”

 

“Nanti aku bahas lagi kalau udah tahu kebenarannya. Aku mau mandi dulu!” Jheni bergegas masuk ke dalam rumah Yuna. “Yun, kamarku di mana?”

 

“Kamar tamu yang sebelah kanan,” jawab Yuna.

 

“Boleh tidur di kamar kamu atau nggak?”

 

“Tidur aja, ya! Baju-baju kamu ini taruh di kamar tamu!”

 

Jheni mencebik ke arah Yuna. Ia bergegas melangkah masuk menuju kamar tamu yang dimaksud oleh Yuna.

 

“Suamiku bisa marah kalau ada barang orang lain di kamarnya!” seru Yuna.

 

“Iya, Ibu Bos! Aku paham!” teriak Jheni sambil menengok ke arah teras rumah karena Yuna tak beranjak dari tempat duduknya.

 

Jheni langsung masuk ke dalam kamar. Ia bersiap untuk menemui Amara malam ini dan harus mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar di kepalanya.

 

 ((Bersambung ...))

Apa yang akan terjadi saat Yeriko nggak ada di samping Yuna?

Dukung terus cerita ini biar makin semangat update babnya...

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas