“Ay,
cepet pulang ya!” rengek Yuna manja sambil bergelayut di dada suaminya.
Yeriko
menganggukkan kepala. “Aku pasti langsung pulang kalau masalah di sana sudah
selesai.”
Yuna
menggigit bibirnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selama tidak ada
suaminya di rumah itu.
“Nggak
usah sedih, ya!” tutur Yeriko ambil mengelus lembut pipi Yuna. “Setelah sampai
di sana, aku pasti langsung telepon kamu.”
Yuna
menganggukkan kepala. “Hati-hati ya! Semoga rencananya sukses besar. Aku akan
selalu dukung kamu.”
Yeriko
mengangguk. Ia mengecup kening Yuna. Kemudian beralih mengecup anaknya yang
masih tersimpan dengan baik di dalam perut istrinya. “Jaga dia baik-baik ya!”
pintanya sambil mengelus-elus perut Yuna.
Yuna
menganggukkan kepala.
Yeriko
bangkit, ia menarik koper yang sudah disiapkan oleh Yuna dan bergegas keluar
dari kamarnya.
Yuna
terus memeluk lengan Yeriko sambil mengiringi langkah suaminya tersebut. Begitu
membuka pintu rumah, ia terkejut dengan kehadiran Jheni yang sudah berdiri di
depan pintu sambil membawa koper di tangannya.
“Jheni
...!?” Yuna mengernyitkan dahi menatap Jheni. “Kamu mau ikut Chandra ke Eropa?”
Jheni
menggelengkan kepala. “Nggak. Aku mau nginap di sini.”
“Kenapa
tiba-tiba mau nginap di sini?” tanya Yuna.
“Chandra
nggak ada di rumahnya. Aku bakal sendirian juga di sana.”
“Balik
aja ke rumah kamu yang lama!” sahut Yuna sambil menahan tawa.
“Sama
aja. Sendirian juga.”
Yeriko
dan Yuna saling pandang. Kemudian menatap Jheni.
“Kenapa?
Kalian nggak suka kalau aku nginap di sini? Ya udah, aku pergi!” seru Jheni
sambil membalikkan tubuhnya.
“Eits,
kenapa ngambekan sih? Kayak emak-emak aja!” sahut Yuna sambil menahan lengan
Jheni.
“Abisnya,
kalian berdua itu nyebelin!” sahut Jheni kesal.
Yuna
terkekeh menanggapi ucapan Jheni. “Kamu lagi ada masalah? Nggak biasanya
sensitif kayak gini.”
“Aku
lagi kesel sama Chandra!”
“Kesel
kenapa?”
“Abis
berantem sama dia. Dia itu nggak peka banget sama aku. Ngeselin!”
“Udah,
jangan marah-marah! Katanya sayang?” goda Yuna.
“Akunya
aja yang sayang. Dia nggak,” sahut Jheni kesal.
Yeriko
tertawa kecil. “Jhen, Chandra itu sayang sama kamu. Dia emang udah kayak gitu
sifatnya. Kayak baru kenal dia sehari aja.”
“Iya,
aku tahu. Tapi lama-lama kesel juga, Yer. Jangan-jangan, dia itu emang nggak
beneran cinta sama aku. Kalo aku putus sama dia, mungkin dia nggak akan peduli
sama hidupku lagi!”
“Jhen,
sabar ya! Nanti kita bicarakan lagi. Kamu masuk dulu, gih! Aku antar suamiku
dulu. Ntar dia telat sampe bandara.”
“Kamu
mau ngantar suami kamu sampai ke Bandara?” tanya Jheni.
Yuna
menganggukkan kepala.
“Ada
Jheni di sini. Sebaiknya, kamu di rumah aja!” pinta Yeriko sambil menatap Yuna.
“Serius?”
Yeriko
menganggukkan kepala. “Banyak istirahat, jangan terlalu banyak main!” pinta
Yeriko sambil mengecup kening Yuna.
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati ya!”
Yeriko
mengangguk. “Jhen, aku titip Yuna ya!” pintanya sambil menatap Jheni.
“Siap,
Bos!”
Yeriko
tersenyum. Ia bergegas masuk ke mobil, sudah ada Riyan yang menunggunya sejak
beberapa menit yang lalu. Ia membuka kaca mobil, melambaikan tangannya ke arah
Yuna dan Jheni saat mobilnya bergerak keluar dari halaman rumah.
“Huft,
akhirnya ... aku ngerasain ditinggal perjalanan dinas sama suamiku. Ke Eropa
pula, satu minggu nggak ketemu,” gumam Yuna. Ia terduduk lemas di kursi yang
ada di teras rumahnya.
“Emangnya
kamu doang? Aku juga ditinggal sama Chandra. Nggak ada lagi temen berantem.
Biasanya, aku udah ngomelin dia setiap hari. Seminggu ini, aku harus hidup
kesepian.”
“Kita
sama-sama wanita kesepian, Jhen.”
“Nasib
kita sama. Sama-sama kesepian.”
“Gimana
sama Icha yang sering ditinggal sama Lutfi ya?” tanya Jheni.
Yuna
mengedikkan bahunya. “Sabar banget si Icha.”
“Kapan
aku bisa jadi perempuan yang sabar kayak Icha?” tanya Jheni lagi.
“Kayaknya
nggak bisa, Jhen.”
Jheni
langsung memonyongkan bibirnya ke arah Yuna. “Eh, by the way ... Aku udah
nemuin si Amara.”
“Ketemu
di mana?” tanya Yuna.
“Dia
tinggal di rumah besar yang nggak jauh dari perpustakaan tempat kita cari buku
waktu itu. Aku nggak tahu itu rumah siapa. Tapi, rumah itu sering ada tamu
keluar masuk gitu.”
“Emangnya
gak kelihatan dari luar? Mungkin, itu kantor perusahaan barunya Amara.”
Rumah
itu dikelilingi sama pagar tinggi. Nggak kelihatan, Yun. Kalau dibandingin sama
rumah mertua kamu, nggak ada apa-apanya sih. Tapi, kayaknya yang tinggal di
sana ada banyak, deh.”
“Mungkin
aja emang kantor perusahaan di sana, Jhen. Sekarang banyak perusahaan yang
memilih nyewa rumah tinggal untuk dijadikan kantor daripada sewa gedung.”
“Iya
juga, sih.” Jheni mengangguk-anggukkan kepala. “Tapi, kalau malam ... tempat
itu malah sering banget ada keluar masuk mobil. Masa, kantor bukanya sampe
malam sih?”
“Ya
bisa aja, Jhen. Karyawannya tinggal di sana sekalian biar lebih efektif
kerjanya. Lagian, kamu niat banget nyelidiki si Amara itu. Sampai bisa tahu
kalau malam masih ada aktivitas di sana.”
“Iih
... niat banget aku, Yun. Sampe jam empat pagi, aku masih standby di deket
rumah itu.”
“Gila
kamu, Jhen!” seru Yuna.
“Aku
penasaran, Yun. Daripada aku di rumah nggak bisa tidur. Lebih baik aku cari
tahu aja sekalian kehidupannya si Amara itu.”
“Kamu
bener-bener kayak orang kurang kerjaan!” dengus Yuna.
“Huft,
daripada aku dihantui terus sama dia. Kebawa-bawa mimpi, Yun. Sore ini, aku
bakal cari dia lagi ke rumah itu.”
“Kamu
yakin?” tanya Yuna.
Jheni
mengangguk pasti. “Soalnya ....” Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Yuna dan
berbisik.
“Hah!?
Serius!?” tanya Yuna sambil melebarkan matanya. “Sampe segitunya?”
Jheni
menganggukkan kepala. “Makanya, malam ini aku mau pastiin.”
Yuna
menghela napas. “Nggak nyangka juga sih kalau dia begitu. Semoga nggak beneran,
Jhen.”
“Dia
jatuh miskin aja udah hukuman buat dia, Yun. Aku masih nggak tega lihat dia
kayak gitu. Udah gitu, si Chandra cuek aja. Nggak mau bantuin. Nggak kebayang
kalau suatu hari nanti, aku putus sama Chandra. Apa dia juga bakal
memperlakukan aku seperti itu?” tutur Jheni sambil menggigit bibirnya.
“Jhen,
jangan mikir macem-macem, deh!” pinta Yuna sambil menatap Jheni. “Nggak boleh
mikir yang buruk-buruk kayak gitu. Emangnya, kamu mau putus sama Chandra?”
“Nggak
mau, Yun. Aku susah payah buat dapetin dia. Masa mau putus gitu aja? Tapi,
kalau aku sama dia sering berantem. Kemungkinan besar hubungan kita juga nggak
akan lama.”
“Sumpah!
Aku nggak suka kamu yang kayak gini. Kenapa nggak percaya sama diri kamu
sendiri. Kamu harus bisa mempertahankan hubungan kamu, Jhen. Si Chandra emang
pendiam dan sifatnya kayak gitu. Apa adanya dan nggak banyak omong. Tapi itu
semua bukan berarti dia nggak sayang sama kamu. Dia sayang dan cara dia
menyayangi kamu memang berbeda.”
Jheni
memangku wajah dengan kedua telapak tangannya. “Ck, aku nggak paham sama dia.
Dia itu lebih dingin dari Yeriko. Dulu, dia banyak omong. Akhir-akhir ini, dia
cuek bebek banget. Apalagi kalau aku ngajak bahas soal Amara. Nggak ada respon,
malah marah-marah.”
“Dia
marah karena kamu nggak peka.”
“Nggak
peka gimana? Dia yang nggak peka!” sahut Jheni.
“Huft,
aku juga bingung.”
“Nggak
usah bingung! Gimana si Refi? Udah diberesin sama Yeriko?”
Yuna
mengangguk-anggukkan kepala. “Yeriko maunya si Refi sadar diri dan pergi dengan
sendirinya.”
“Tapi,
kayaknya itu anak makin gila aja!” sahut Jheni.
“Ah,
udahlah. Nggak usah bahas Refi!” pinta Yuna. “Bahas Amara aja!”
“Nanti
aku bahas lagi kalau udah tahu kebenarannya. Aku mau mandi dulu!” Jheni
bergegas masuk ke dalam rumah Yuna. “Yun, kamarku di mana?”
“Kamar
tamu yang sebelah kanan,” jawab Yuna.
“Boleh
tidur di kamar kamu atau nggak?”
“Tidur
aja, ya! Baju-baju kamu ini taruh di kamar tamu!”
Jheni
mencebik ke arah Yuna. Ia bergegas melangkah masuk menuju kamar tamu yang
dimaksud oleh Yuna.
“Suamiku
bisa marah kalau ada barang orang lain di kamarnya!” seru Yuna.
“Iya,
Ibu Bos! Aku paham!” teriak Jheni sambil menengok ke arah teras rumah karena
Yuna tak beranjak dari tempat duduknya.
Jheni
langsung masuk ke dalam kamar. Ia bersiap untuk menemui Amara malam ini dan
harus mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar di kepalanya.
((Bersambung ...))
Apa yang akan terjadi saat Yeriko nggak ada di
samping Yuna?
Dukung terus cerita ini biar makin semangat
update babnya...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment