Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 439 : Pelampiasan vs Uang

 


Amara masuk ke dalam rumah besar yang ada di jalan Ketabang, hanya sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki dari wilayah perpustakaan kota yang ada di wilayah Yos Sudarso. Amara masuk ke dapur dengan tubuh gemetaran. Semua jari tangannya sangat dingin, wajahnya pucat pasi. Ia sangat ketakutan melihat Jheni memergoki dirinya dalam keadaan yang begitu buruk.

 

“Kamu kenapa?” tanya Geisha, wanita yang tinggal bersama dengan Amara. Sudah pasti, Geisha bukanlah nama asli yang sesuai dengan ID penduduk. Hampir semua wanita yang menghuni rumah ini, menggunakan nama lain untuk menutupi identitas mereka, termasuk Amara.

 

“Nggak papa,” jawab Amara sambil menuangkan air minum.

 

“Kalau mukanya begitu, udah pasti dia abis ketemu sama orang yang dia kenal,” tutur salah seorang wanita yang berdiri di sana dengan santai.

 

“Barbie, kamu memang paling bisa menebak raut wajah orang lain,” sahut Geisha sambil menatap wanita cantik yang mirip dengan boneka Barbie.

 

Barbie tersenyum kecil. “Lagian, walau kamu nyamar jadi gembel kayak gini. Orang lain akan tetap mengenali kamu, kecuali kalau kamu operasi plastik.”

 

“Dia ada di sini buat bayar hutang, gimana bisa mau oplas,” sahut Geisha.

 

“Untungnya, kamu masih punya badan yang bagus buat dijual. Jadi, bisa secepatnya ngelunasi hutang-hutang kamu itu,” tutur Barbie sambil menatap tubuh Amara.

 

Amara menatap wajah dua wanita yang ada di hadapannya. “Aku nggak mau kayak gini terus,” tuturnya lemas. Ia terduduk di kursi, meratapi hidupnya yang kini sangat menyedihkan.

 

“Sar, udahlah nggak usah drama. Kamu nikmati aja takdir kamu di sini. Toh, suami kamu juga yang jual kamu ke Mami,” tutur Barbie sambil menatap wajah Amara.

 

“Sampai kapan aku harus kayak gini terus?” tanya Amara sambil menutup wajahnya. “Kenapa hidup aku jadi kayak gini?” tuturnya sambil terisak.

 

“Sarah, nggak ada yang perlu kamu sesali. Lebih baik kamu nikmati aja apa yang udah ada di depan kamu. Daripada kamu sibuk nangis kayak gini. Malam ini jadwal kamu melayani pelanggan. Jangan sampai kelihatan jelek dan bikin Mami kita marah!” tutur Geisha.

 

“Nah, bener. Daripada kamu nangis-nangis kayak gini, nggak akan merubah hidup kamu. Lebih baik, kamu siap-siap buat ngelayani pelanggan malam ini. Kamu tahu, kalau Mami marah, kita semua bisa kena imbasnya.”

 

Amara terdiam. Ia tak memiliki pilihan lain selain melakukan pekerjaannya dengan baik. Ia terus memijat kepalanya yang berdenyut. Ia bahkan tidak pernah membayangkan kalau hidupnya akan berakhir seperti ini. Memiliki suami gila yang memiliki banyak hutang dan menjual istrinya pada pria-pria hidung belang.

 

Amara melangkahkan kakinya tak bersemangat, ia masuk ke dalam kamar tanpa menutup pintu. Kemudian, ia duduk di kursi meja rias sambil menatap wajahnya yang terlihat sangat kacau.

 

“Aargh ...!” seru Amara sambil mengacak-ngacak kepalanya sendiri. Membuat bayangannya di cermin semakin kacau dari kekacauan yang sudah terjadi sebelumnya. “Jheni pasti bahagia lihat aku sekacau ini. Dia pasti bakal ngasih tahu si Chandra dan semua orang bakal ngetawain aku yang sekarang kayak gini,” ucapnya sambil menjatuhkan kepalanya ke atas meja.

 

“Aku benci, kenapa hidupku sekarang jadi kayak gini? Gara-gara Harry sialan, cowok nggak bertanggung jawab! Dia yang punya hutang, aku yang kena imbasnya. Kenapa bisa kayak gini? Padahal, dulu keluargaku dan keluarga dia sama-sama kaya. Setelah menikah, malah berantakan kayak gini,” gerutu Amara sambil meneteskan air mata.

 

BRAAK ...!

 

PRANG ...!

 

TING ...!

 

“Aargh ...! Aku benci hidup kayak gini!” seru Amara sambil menjatuhkan semua barang-barang yang ada di atas meja riasnya. Semua alat-alat make-up berjatuhan di lantai dan menimbulkan suara keributan.

 

“Eh, kamu udah gila ya!” seru Geisha sambil menghampiri Amara.

 

“Bodo amat! Nggak usah ngurusin aku! Urus aja diri kamu sendiri!” sahut Amara kesal.

 

“Heh!? Kamu sadar nggak kalau kamu masih bisa hidup enak di sini karena siapa? Kalau bukan karena kebaikan hati kita-kita, kita nggak mau ada kamu di sini. Ngurangin jatah buat kita aja,” seru Geisha kesal.

 

“Ambil aja jatahku! Aku udah capek kayak gini terus!” sahut Amara.

 

“Kalo udah capek, keluar aja dari rumah ini. Tinggal di kolong jembatan, sana!” sahut Geisha. “Udah untung diselamatkan hidupnya. Kurang apa? Bisa hidup enak, tinggal di rumah dengan fasilitas yang bagus. Tinggal melayani pelanggan aja susah banget. Modal badan aja udah dapet duit banyak. Mau ngegembel di luar sana!?”

 

Amara terdiam. Ia mengatur napasnya yang tersengal. Ucapan Geisha benar-benar membuatnya sangat kesal. Ia tidak ingin hidup susah seperti sebelumnya. Tapi dia juga tidak ingin terus-menerus menjadi pelacur di rumah ini.

 

“Sarah, kalau kamu mau jadi tukang sapu jalanan atau cleaning service di luar sana. Ya keluar aja dari rumah ini. Kamu nggak perlu melayani pelanggan lagi. Tapi, jangan berharap kalau suamimu itu bisa ngelepasin kamu. Kalo nggak dijual ke Mami, pasti dijual ke orang lain.”

 

Amara terdiam, ia berusaha mencerna ucapan Geisha. Ada banyak hal yang membuatnya tidak bisa keluar dari rumah ini. Ia harus membayar semua hutang-hutangnya pada rentenir.

 

“Aku juga udah terlanjur kotor, udah terlanjur masuk ke dunia hitam ini. Bahkan laki-laki yang tidur sama aku, sudah nggak terhitung lagi,” gumam Amara tak bersemangat.

 

“Hahaha. Kamu baru nyadar? Daripada mikir buat keluar dari rumah ini. Mending kamu pikirin gimana caranya bisa dapetin pelanggan yang banyak dan kaya raya. Kamu mantan orang kaya, pelanggan kamu juga banyak duitnya,” tutur Geisha.

 

“Aku nggak akan main sama orang yang aku kenal!” tegas Amara.

 

Geisha tertawa geli. “Orang yang awalnya nggak kenal kamu, mereka juga sekarang kenal sama kamu. Apalagi, mereka yang jadi pelanggan tetap. Kamu pikir, bisa lari gitu aja? Nggak ketemu sama mereka di sini, tetap akan ketemu sama mereka di luar sana,” tutur Geisha sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Amara. “Mereka akan mengenal kamu sebagai seorang pelacur,” bisiknya.

 

“Aku kayak gini karena terpaksa, Sha,” sahut Amara.

 

“Awalnya, kami juga terpaksa melakukan ini semua. Tapi, lama-lama kami menikmatinya. Toh, seks itu kebutuhan dasar setiap orang. Walau kamu nggak jadi pelacur, kamu akan tetap melakukannya setiap hari sama pacar atau suami kamu.”

 

Amara menarik napas mendengar ucapan Geisha.

 

“Sensasinya sama aja. Pria-pria itu butuh pelampiasan dan kita butuh uang,” ucap Geisha sambil menatap Amara.

 

“Udahlah. Nggak usah sok suci! Terima aja kenyataannya kalau sekarang kamu itu cuma pelacur!” tutur Geisha sambil tersenyum.

 

“Kamu jangan ngatain orang sembarangan! Kalau bukan karena kalian, aku nggak akan terpenjara di tempat ini! Kamu terlalu bangga sama profesi kamu yang jadi pelacur!” sahut Amara kesal.

 

“Oh ... jelas aku bangga, dong. Secara, aku adalah wanita ter-hot di sini. Yang paling banyak melayani pelanggan dan bisa memuaskan mereka. Daripada kamu, kalau bukan karena kemurahan hati kami ... nggak akan ada cowok yang tertarik buat make kamu karena nggak bisa memuaskan pelanggan,” tutur Geisha dengan gaya tenangnya yang khas.

 

“Mau sepuas apa pun pelanggan kamu. Kamu tetep aja perempuan murahan!” sahut Amara kesal.

 

“Hei, pelacur itu bukan perempuan murahan. Kita dihargai per malam bahkan per jam. Di luar sana, banyak cewek murahan yang mau tidur sama laki-laki, cukup dibayar pake rayuan. Mau-maunya dibohongi sama laki-laki yang cari pelampiasan atas nama cinta.”

 

Amara terdiam mendengar ucapan Geisha.

 

Geisha tersenyum sinis. “Kamu udah main berapa kali sama suami kamu sebelum nikah?” tanyanya.

 

“Bukan urusan kamu!” jawab Amara kesal.

 

Geisha tertawa kecil. “Pasti kamu gratisin tubuh kamu ini buat pacar kamu ‘kan? Masih mending aku. Aku jual keperawananku seharga satu buah motor. Sekarang, udah terbukti ... siapa perempuan murahan yang sebenarnya.”

 

“Udah, deh! Aku sakit kepala dengerin kamu ngomong terus!” seru Amara.

 

“Cewek murahan, sok-sokan jual mahal,” celetuk Geisha sambil berlalu pergi.

 

Amara menarik napas, ia semakin kesal dengan kata-kata yang keluar dari mulut Geisha. Ia tak bisa lagi menahan emosinya. Amara mengejar tubuh Geisha dan menjambak rambut panjangnya.

 

“Apa-apaan sih!?” teriak Geisha. Ia balas menjambak rambut Amara.

 

Seketika, ruangan itu ramai dengan suara dua orang wanita yang sedang berseteru itu. Mereka saling memaki dan berusaha mempertahankan diri. Hal ini menarik perhatian wanita-wanita lain yang tinggal di rumah tersebut dan membuat mereka kewalahan melerai perkelahian yang terjadi antara Amara dan Geisha.

 

 

((Bersambung ...))

Ah, entahlah ... nulis bab ini ketawa geli sendiri.

Thanks buat semua yang sudah mendukung Perfect Hero.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 438 : Sarah atau Amara?

 


“Jhen, bantu aku cari buku-buku yang bagus!” pinta Yuna sambil melihat-lihat deretan rak buku yang berjejar rapi di Perpustakaan Kota.

 

“Buku apa, Yun?” tanya Jheni.

 

“Buku tentang pendidikan parental dan cara mengasuh anak,” jawab Yuna sambil meraih satu buku yang menarik matanya.

 

“Baca bukuku aja, Yun!” sahut Jheni sambil menahan tawa.

 

“Idih, buku kamu itu isinya apaan? Bukan cara merawat anak, tapi cara bikin anak!” sahut Yuna sambil menatap wajah Jheni.

 

Jheni terkekeh mendengar ucapan Yuna. “Kamu kan udah ikut kelas mengasuh bayi. Kenapa masih cari buku lagi?”

 

“Buat referensi, Jhen. Siapa tahu ada hal-hal yang belum aku tahu. Aku juga bisa konsultasikan ke bidan atau dokter kandunganku ‘kan?”

 

“Kamu mau cari tahu apa sih?” tanya Jheni. “Cara gendong bayi yang baik? Cara nyuapin bayi yang baik atau apa?”

 

“Apa aja. Yang penting, aku bisa jadi ibu terbaik buat anakku.”

 

Jheni mengangguk-anggukkan kepala. Ia membantu Yuna memilih beberapa buku yang ada di sana. Kemudian, mereka duduk di salah satu meja untuk membaca buku tersebut.

 

“Yun, buku sebanyak ini ... mau kamu baca semua?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Hebat juga. Biasanya, paling malas kalau disuruh baca buku.”

 

“Aku paling rajin di perpus waktu kuliah!” sahut Yuna kesal.

 

Jheni tertawa kecil. “Iya. Ngerjain tugas doang. Bukan buat baca buku. Lagian, kalo kamu emang anak pintar dan berbakat, nggak perlu sampe tidur di perpustakaan setiap hari buat ngerjain tugas.”

 

“Iih ... nggak usah ungkit masa lalu!” pinta Yuna sambil memonyongkan bibirnya.

 

“Kenapa?” tanya Jheni terkekeh.

 

“Aku kan tetap harus kerja keras supaya bisa lulus tepat waktu, Jhen. Aku nggak bisa berlama-lama di sana karena ayah lagi sakit. Kalo aku nggak belajar bener-bener, aku bakal ngecewain ayah waktu dia bangun.”

 

“Hmm ... iya, iya. Nggak usah ingat-ingat lagi masa lalu yang bikin kamu sedih! Sekarang, kamu sudah bahagia punya suami kamu yang perfect banget itu.”

 

“Kamu yang ungkit duluan,” sahut Yuna.

 

“Iya, iya. Nggak ungkit lagi,” tutur Jheni. Ia melihat-lihat buku yang sudah menumpuk di atas meja, tepat di hadapannya. “Kamu mau tidur di perpustakaan lagi? Buku segini banyaknya, kapan kelar bacanya?”

 

Yuna menghela napas sambil menatap Jheni. “Kamu tadi sarapan apa sih, Jhen?”

 

Jheni melirik ke langit-langit ruangan. “Aku sarapan mie instan. Nggak sempat masak.”

 

“Pantes aja isi otaknya nggak bernutrisi,” celetuk Yuna.

 

“Kamu ngatain aku apa? Otak kamu yang sering error.”

 

“Otak kamu juga!” dengus Yuna sambil memilih beberapa buku yang ada di hadapannya. “Bantu aku cari buku yang bagus!”

 

“Ini udha bagus semua, Yun.”

 

“Aku mau bawa pinjam bukunya. Nggak mungkin aku baca di sini semua, Jhen. Beberapa buku aja. Aku lihat-lihat dulu mana yang cocok.”

 

“Hmm.” Jheni langsung mengambil satu buku dan membacanya. “Yun, yang ini bagus. Kamu mau?”

 

Yuna menganggukkan kepala tanpa mengalahkan pandangannya dari buku.

 

“Jhen, kamu tahu nggak obat herbal yang cocok untuk bayi?”

 

“Obat herbal?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Iya. Buat persiapan pertolongan pertama kalau misalnya si kecil demam, batuk atau pilek. Kalau bayi, nggak boleh minum obat ‘kan?”

 

“Oh.”

 

“Di buku KIA ada panduan sih, tapi aku masih perlu banyak referensi. Nggak mau jadi ibu yang payah buat baby-ku,” tutur Yuna sambil membaca-baca isi buku yang ingin ia pinjam.

 

Jheni mengangguk-anggukkan kepala menanggapi ucapan Yuna. “Yun, aku haus. Aku keluar, beli minum dulu ya!”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Kamu mau minum apa?”

 

“Air mineral aja, Jhen.”

 

“Nggak mau susu?”

 

“Mmh ... boleh juga.”

 

“Huu ... dasar!” dengus Jheni sambil bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Yuna.

 

Jheni melangkahkan kakinya memasuki toko kelontong yang letaknya tak jauh dari perpustakaan tersebut. Ia membeli beberapa minuman dan cemilan untuk ia nikmati bersama Yuna.

 

Jheni langsung keluar dari toko kelontong tersebut usai membayar semua belanjaannya.

 

 

 

BRUUG ...!

 

 

 

Seorang wanita dengan pakaian yang berantakan dan rambut yang tak teratur, tiba-tiba menabrak tubuh Jheni. Membuat kantong belanjaan yang ada di tangannya jatuh ke lantai.

 

“Ma-Maaf, Mbak!” tutur wanita itu sambil menundukkan kepala dan membantu mengambil kantong belanjaan Jheni yang terjatuh.

 

“Nggak papa. Lain kali lebih hati-hati kalau jalan. Untung aku bukan mobil,” sahut Jheni sambil memerhatikan wajah wanita itu.

 

Wanita itu menganggukkan kepala sambil menyembunyikan wajahnya dari tatapan Jheni.

 

Jheni semakin penasaran, ia terus memerhatikan perempuan itu dengan seksama. “Kok, kayak familiar? Kita pernah kenal?” tanya Jheni sambil mendekati wanita tersebut.

 

Wanita itu menggelengkan kepala.

 

Jheni mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi. “Kamu ... Amara ‘kan? Mantan tunangan Chandra?” tanyanya kemudian.

 

Wanita itu menggelengkan kepala. Ia tak memiliki keberanian untuk menatap wajah Jheni. Dunia seperti berputar begitu cepat. Saat masih menjadi tunangan Chandra, ia bisa berjalan penuh percaya diri dengan segala hal yang dimilikinya. Perawatan tubuh yang mahal, pakaian yang berkelas dan semua orang menghargainya.

 

Sekarang, ia bahkan tak punya keberanian untuk menatap Jheni. Ia hanya bisa menundukkan kepala, menatap lantai yang ada di bawah kakinya. Kakinya yang dulu terbiasa mengenakan sepatu mahal dan pergi ke tempat-tempat mahal pula, kini hanya mengenakan sendal jepit yang membawanya pergi ke pasar-pasar kecil.

 

“Kenapa kamu jadi kayak gini?” tanya Jheni sambil menatap tubuh Amara yang terlihat sangat berantakan. Pakaiannya juga terlihat biasa saja. Pergi keluar hanya mengenakan daster yang harganya tak lebih dari lima puluh ribu rupiah.

 

“Kamu salah mengenali orang. Aku bukan Amara,” tutur wanita itu sambil berbalik dan melangkah pergi.

 

“Tunggu ...!” pinta Jheni sambil menghadang Amara agar tidak pergi meninggalkannya begitu saja. “Aku tahu kalau kamu Amara. Aku nggak buta.”

 

Amara tetap saja tak ingin mengakui dirinya. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya dari pandangan Jheni.

 

“Amara ...!” panggil Jheni. “Kamu sekarang tinggal di dekat sini?”

 

Wanita itu menggelengkan kepala. “Aku nggak kenal sama kamu,” ucapnya sambil berlari pergi meninggalkan Jheni.

 

Jheni menautkan kedua alisnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Masa aku salah ngenalin orang?” gumamnya. “Mirip banget sama Amara, cuma penampilannya aja yang beda jauh.”

 

Mata Jheni kemudian tertuju pada wanita pemilik toko kelontong, ia menghampiri wanita tersebut dan bertanya, “Bu, Ibu kenal sama cewek itu?” tanya Jheni.

 

“Kenal, namanya Mbak Sarah.”

 

“Sarah?” Jheni mengernyitkan dahi. Ia tidak mempercayainya begitu saja. Ia sangat yakin kalau wanita itu adalah Amara, bukan Sarah.

 

Jheni tersenyum menatap wanita pemilik toko tersebut. “Makasih informasinya, Bu!” tuturnya sambil berlalu pergi. Ia buru-buru kembali ke perpustakan dan menghampiri Yuna.

 

“Yun ...!”

 

“Umh.”

 

“Kamu tahu nggak, aku ketemu siapa?”

 

“Nggak,” jawab Yuna sambil menggelengkan kepala.

 

“Aku kasih tahu. Aku barusan ketemu sama Sarah.”

 

“Sarah? Siapa?”

 

“Amara, mantan tunangan Chandra.”

 

“Oh. Amara ...,” sahut Yuna sambil manggut-manggut. “Eh, kenapa jadi Sarah?” tanyanya sambil menatap wajah Jheni.

 

“Otakmu ini kenapa responnya lambat banget!?” seru Jheni kesal.

 

“Aku lagi baca buku, Jhen. Fokusku terbagi.”

 

“Dengerin aku dulu!” pinta Jheni.

 

Yuna langsung menatap wajah Jheni. “Gimana?”

 

“Si Amara itu berubah namanya jadi Sarah. Penampilannya dia juga jauh beda. Nggak kayak biasanya. Dia nggak kelihatan kayak orang kaya. Cuma pake daster murahan dan sendal jepit.”

 

“Kok bisa? Kamu salah ngenalin orang, kali.”

 

“Aku nggak mungkin salah. Aku yakin banget kalo itu si Amara.”

 

“Nggak mungkin. Aku yakin banget itu si Amara. Apa dia bener-bener udah jatuh miskin?”

 

“Bisa jadi. Suaminya dia banyak hutang.”

 

“Kasihan juga ya?” tutur Jheni sambil melihat ke luar jendela. “Menurut kamu, apa aku harus ngasih tahu Chandra?”

 

Yuna menghela napas. “Aku juga nggak tahu, Jhen. Kamu yang pacarnya Chandra. Kira-kira, gimana reaksi dia kalau tahu mantan tunangannya jadi kayak gitu?”

 

“Huft, aku juga bingung.”

 

“Ya udahlah. Pura-pura nggak tahu aja.”

 

“Mana bisa begitu. Aku udah lihat dengan mata kepalaku sendiri, Yun.”

 

“Dia pernah jahat sama kamu. Nggak usah baik sama dia!” celetuk Yuna sambil menyeruput susu kotak yang dibelikan Jheni.

 

“Emangnya kalau dia pernah jahat sama kita, kita harus jahat juga? Semua orang bisa berubah. Kamu juga seumur hidup dijahatin sama Bellina. Tapi nggak pernah balas jahatin dia.”

 

“Aku nggak bisa jadi orang jahat,” sahut Yuna.

 

Jheni tersenyum. Ia mencubit kedua pipi Yuna. “Ini yang bikin aku kagum sama kamu. Makanya, jangan nyuruh aku jadi jahat juga! Aku mau selidiki si Amara. Kamu yang kasih tahu si Chandra ya!” pintanya.

 

“Kasih tahu apa?” tanya Yuna.

 

“Kasih tahu soal Amara yang sekarang.”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Aku pikirin dulu caranya.”

 

“Nggak usah dipikirin, langsung ngomong aja ke Chandra!”

 

“Terus, kamu maunya Chandra ngapain kalo aku udah bilang ke dia? Kamu mau si Chandra balik ke Amara lagi? Kamu udah susah payah bikin Chandra move on dari Amara. Sekarang, malah mau sodorin Amara ke Chandra lagi? Kamu gila ya!?”

 

“Yun, aku emang cinta sama Chandra. Tapi aku juga nggak bisa maksain Chandra harus cinta sama aku. Dengan begini, aku bisa tahu sebenarnya hati Chandra saat ini untuk siapa.”

 

Yuna terdiam selama beberapa saat. “Kamu masih ragu sama Chandra?”

 

“Aku nggak mau ragu, Yun. Tapi Chandra itu pendiem banget di depan semua orang. Nggak romantis kayak Yeriko. Nggak lucu kayak Lutfi. Kalau dia sayang sama aku, dia nggak akan balik ke Amara lagi walau Amara godain dia. Kayak Yeriko yang selalu bisa nolak Refi meskipun cewek gila itu ngejar-ngejar Yeriko.”

 

“Oh ... jadi, kamu mau menguji cintanya Chandra?” goda Yuna.

 

“Sekalian aja. Aku bisa bantu hidup Amara, juga bisa lihat seberapa besar cintanya Chandra ke aku.”

 

“Oke, kalo begitu. Aku dukung!” seru Yuna.

 

“Sst ...! Jangan keras-keras!” bisik Jheni karena semua mata tiba-tiba tertuju padanya.

 

Yuna tersenyum. Mereka bergegas memilih buku-buku yang akan mereka pinjam dari perpustakaan tersebut.  

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Sapa terus di kolom komentar biar author makin semangat ngais ide setiap hari.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 437 : Kehadiran Arjuna

 


“Cewek sialan! Sombong banget! Awas aja, kamu bakal tahu akibatnya karena udah nolak bantuanku!” umpat Bellina begitu ia keluar dari salon. Ia sangat kesal dengan sikap Refi yang begitu acuh tak acuh terhadap dirinya.

 

“Aku kesel banget sama dia!” seru Bellina sambil menghentakkan kakinya. Ia menarik napas untuk menenangkan hatinya. “Shopping dulu, deh. Biar suasana hati kembali happy. Ketemu sama orang kayak gitu, bikin rusak mood!” tutur Bellina sambil melangkahkan kakinya menyusuri trotoar.

 

“Enaknya belanja apa ya?” tanya Bellina menimbang-nimbang. Ia terus melangkahkan kakinya masuk ke pusat perbelanjaan yang tak jauh dari salon tersebut. Ia memilih untuk berbelanja sambil menunggu waktu makan malam.

 

Belum sampai ia masuk ke pusat perbelanjaan, tiba-tiba mobil Ferarri warna putih berhenti tepat di depannya.

 

“Eh, kamu punya mata atau nggak!?” seru Bellina sambil memukul badan mobil yang berjarak tak lebih dari tiga puluh senti dari tempatnya berdiri. “Kalau aku keserempet gimana? Mau tanggung jawab, hah!?”

 

Pria yang ada di belakang kemudi itu langsung melepas kacamata hitamnya. Ia langsung menoleh ke arah Bellina yang berdiri di samping mobilnya. “Hai ...!” sapanya sambil tersenyum menatap Bellina.

 

Bellina membelalakkan matanya bersama dengan mulutnya yang terbuka lebar. “Kamu ...!?” tanyanya sambil menunjuk wajah pria itu.

 

“Masih ingat sama aku?” tanya Arjuna.

 

Bellina gelagapan. Ia mengedarkan pandangannya karena khawatir akan ada orang lain yang mengetahui kesalahan yang ia lakukan di klub waktu itu.

 

“Aku Arjuna, kamu nggak ingat sama aku?” tanya Juna sambil menatap Bellina yang salah tingkah. Melihat wajah ketakutan yang tersirat dari wanita itu, membuat ia semakin tertarik.

 

“Aku nggak kenal sama kamu,” tutur Bellina sambil berusaha menutupi rasa gugupnya.

 

Juna tertawa kecil sambil menatap wajah Bellina. “Bella ... Bella ... kamu ini lucu banget!”

 

Bellina mengerutkan wajah sambil menatap Arjuna. “Kamu salah orang. Namaku Bellina, bukan Bella!” tegasnya.

 

Arjuna tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku tahu. Aku lebih suka manggil kamu Bella. Lebih cocok sama kamu yang cantik dan anggun,” tuturnya sambil mengedipkan mata.

 

“Aku nggak kenal sama kamu. Nggak usah sok kenal!” sahut Bellina sambil melangkah pergi.

 

“Aku kenal banget sama kamu!” seru Arjuna. “Bellina Widya Linandar, salah satu puteri dari keluarga Linandar yang terhormat, sekaligus menantu dari keluarga Wijaya yang terhormat!” seru Juna sambil meninggikan nada suaranya.

 

Bellina langsung berbalik. Ia mengedarkan pandangannya, khawatir akan ada orang lain yang mengenalnya dan menimbulkan masalah besar dalam keluarganya. Ia langsung berlari menghampiri Juna dan masuk ke dalam mobil pria itu.

 

“Nggak usah teriak-teriak!” pinta Yuna ketakutan. “Kamu mau apa dari aku? Aku udah kasih uang buat kamu. Kamu masih mau neror aku?”

 

Juna tersenyum sambil menjalankan mobilnya perlahan, kemudian melaju kencang membelah jalan raya.

 

“Hei, apa yang kamu mau dari aku?” tanya Bellina karena Juna tak kunjung mengajaknya bicara, juga tak menjawab pertanyaannya.

 

“Aku mau kamu,” jawab Juna sambil tersenyum.

 

“Maksud kamu?” tanya Bellina sambil menatap wajah Juna.

 

Arjuna tersenyum kecil. “Kita sudah sama-sama dewasa. Aku rasa, nggak perlu menjelaskan lagi.”

 

Bellina menatap pria yang duduk di sampingnya. Arjuna terlihat sangat tampan dengan gaya khasnya.

 

“Kamu mau neror aku dan ngambil keuntungan dari aku?” tanya Bellina sambil menatap wajah Juna.

 

Juna tersenyum. Ia memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Bellina.

 

“Kamu tahu rumahku?” Bellina mengernyitkan dahi.

 

Juna mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

Bellina semakin salah tingkah. Ia khawatir dengan kehadiran Arjuna yang menjadi ancaman rumah tangganya.

 

“Asal kamu mau nuruti semua keinginanku, aku nggak akan banyak tingkah. Tapi ... kalau sampai kamu bikin aku kecewa, aku akan memperkenalkan diri di hadapan suami kamu,” tutur Juna sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Bellina. “Sebagai selingkuhan kamu,” lanjutnya lirih.

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. Ia sangat kesal dengan kehadiran Arjuna yang mulai mengancam hidupnya. Ia melirik ke arah Arjuna yang masih tersenyum kepadanya. “Ganteng, sih. Tapi ...,” batin Bellina sambil menggigit bibirnya.

 

Arjuna tersenyum ke arah Bellina. Ia menyodorkan kartu nama ke wajah wanita itu. “Aku tunggu kamu di klub, malam ini!”

 

Bellina menautkan alisnya. “Aku nggak akan nemui kamu lagi!”

 

“Nggak masalah.” Juna mengintip area rumah Bellina. “Suami kamu pulang jam berapa?”

 

“Bukan urusan kamu,” jawab Bellina sambil melepas safety belt.

 

“Kalau kamu nggak datang sampai jam sepuluh malam. Aku bakal ke sini.”

 

“Kamu gila ya!?” Bellina mendelik ke arah Juna.

 

“Aku bisa lebih gila dari yang kamu pikirkan,” sahut Juna sambil tersenyum.

 

“Nggak usah macem-macem!” pinta Bellina.

 

“Cuma kamu yang tahu caranya bikin aku nggak macem-macem. Asal kamu bisa temui aku malam ini, aku nggak akan bertingkah. Gimana?” tanya Juna sambil menggigit bibir dan memainkan alisnya.

 

Bellina menghela napas. “Oke. Aku temui kamu malam ini!”

 

“Nah, gitu dong!” tutur Arjuna sambil menyentuh kepala Bellina.

 

Bellina langsung menepis tangan Juna dengan kasar. “Nggak usah pegang-pegang!” pintanya ketus sambil membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Juna.

 

Juna tertawa kecil saat Bellina menutup pintu mobilnya dengan kasar. Ia terus menatap tubuh Bellina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

Juna merogoh ponsel yang ada di sakunya. Ia menekan nomor yang ada di ponselnya. “Target udah masuk,” ucapnya saat ia sudah menempelkan ponsel ke telinganya. “Mmh ... ngerti,” lanjutnya. Ia langsung mematikan panggilan telepon dan menjalankan mobilnya kembali.

 

Sementara, Bellina masuk ke dalam rumah sambil menahan amarah. “Kurang ajar! Siapa sih cowok itu? Ngeselin banget! Tapi ... dia cakep banget, sih.”

 

“Huft, malam ini aku ada janji makan malam sama suamiku. Gimana caranya pergi ke klub dan nemuin bocah gila itu?” gumam Bellina sambil masuk ke kamarnya.

 

Bellina meraih ponsel dan langsung menelepon Lian.

 

“Halo ...!” sapa Lian begitu panggilan telepon dari Bellina tersambung.

 

“Halo ... kamu masih di kantor?” tanya Bellina.

 

“Aku masih ketemu sama klien. Kamu masih di rumah mama kamu?” tanya Lian.

 

“He-em.” Bellina menganggukkan kepala. “Li, mama lagi nggak enak badan. Malam ini, aku temenin mama ya!”

 

“Oh. Iya, nggak papa. Salam buat Mama Melan, ya!”

 

“Iya. Soal makan malam kita ...”

 

“Nggak papa. Aku juga masih banyak kerjaan. Aku bisa pergi cari makan bareng asistenku seperti biasanya.”

 

“Oke. Hati-hati ya! Semangat terus kerjanya. I Love you ...”

 

“I Love you too. Jaga diri baik-baik ya!”

 

“He-em. Aku mau tutup teleponnya ya!”

 

“Iya.”

 

Bellina langsung menutup panggilan teleponnya. “Yes ...!” serunya. Ia tertawa bahagia sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur. “Lian emang paling mudah dibohongi dan dikendalikan.”

 

Bellina bangkit dari tempat duduk. Ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai mandi, ia memilih pakaian yang bagus, juga merias wajahnya agar terlihat lebih cantik sebelum ia pergi ke klub malam.

 

Bellina menatap kartu nama yang ada di tangannya. “Arjuna Club? Ternyata, klub itu punya dia?” tanyanya sambil tersenyum. “Lumayan nih cowok.”

 

Bellina bergegas merobek kartu nama tersebut dan membuangnya ke dalam closet toilet. Ia tidak ingin Wilian mengetahui apa yang terjadi antara Bellina dan pria pemilik klub malam itu.

 

“Lian nggak boleh tahu hubunganku hubunganku sama cowok itu. Lagian, dia juga masih suka sama perempuan lain walau udah nikah sama aku. Aku juga bisa jalan cowok lain kali,” tuturnya sambil menatap tubuhnya di depan cermin. Ia bersiap untuk menemui Arjuna di dalam klub malam milik pria itu.

 

“Waktunya bersenang-senang ...!” seru Bellina sambil melenggang keluar dari kamarnya. Ia bergegas menuju ke klub malam yang telah dijanjikan sebelumnya.

 

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Sapa terus di kolom komentar biar author makin semangat ngais ide setiap hari.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas