“Cewek
sialan! Sombong banget! Awas aja, kamu bakal tahu akibatnya karena udah nolak
bantuanku!” umpat Bellina begitu ia keluar dari salon. Ia sangat kesal dengan
sikap Refi yang begitu acuh tak acuh terhadap dirinya.
“Aku
kesel banget sama dia!” seru Bellina sambil menghentakkan kakinya. Ia menarik
napas untuk menenangkan hatinya. “Shopping dulu, deh. Biar suasana hati kembali
happy. Ketemu sama orang kayak gitu, bikin rusak mood!” tutur Bellina sambil
melangkahkan kakinya menyusuri trotoar.
“Enaknya
belanja apa ya?” tanya Bellina menimbang-nimbang. Ia terus melangkahkan kakinya
masuk ke pusat perbelanjaan yang tak jauh dari salon tersebut. Ia memilih untuk
berbelanja sambil menunggu waktu makan malam.
Belum
sampai ia masuk ke pusat perbelanjaan, tiba-tiba mobil Ferarri warna putih
berhenti tepat di depannya.
“Eh,
kamu punya mata atau nggak!?” seru Bellina sambil memukul badan mobil yang
berjarak tak lebih dari tiga puluh senti dari tempatnya berdiri. “Kalau aku
keserempet gimana? Mau tanggung jawab, hah!?”
Pria
yang ada di belakang kemudi itu langsung melepas kacamata hitamnya. Ia langsung
menoleh ke arah Bellina yang berdiri di samping mobilnya. “Hai ...!” sapanya
sambil tersenyum menatap Bellina.
Bellina
membelalakkan matanya bersama dengan mulutnya yang terbuka lebar. “Kamu ...!?”
tanyanya sambil menunjuk wajah pria itu.
“Masih
ingat sama aku?” tanya Arjuna.
Bellina
gelagapan. Ia mengedarkan pandangannya karena khawatir akan ada orang lain yang
mengetahui kesalahan yang ia lakukan di klub waktu itu.
“Aku
Arjuna, kamu nggak ingat sama aku?” tanya Juna sambil menatap Bellina yang
salah tingkah. Melihat wajah ketakutan yang tersirat dari wanita itu, membuat
ia semakin tertarik.
“Aku
nggak kenal sama kamu,” tutur Bellina sambil berusaha menutupi rasa gugupnya.
Juna
tertawa kecil sambil menatap wajah Bellina. “Bella ... Bella ... kamu ini lucu
banget!”
Bellina
mengerutkan wajah sambil menatap Arjuna. “Kamu salah orang. Namaku Bellina,
bukan Bella!” tegasnya.
Arjuna
tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku tahu. Aku lebih suka
manggil kamu Bella. Lebih cocok sama kamu yang cantik dan anggun,” tuturnya
sambil mengedipkan mata.
“Aku
nggak kenal sama kamu. Nggak usah sok kenal!” sahut Bellina sambil melangkah
pergi.
“Aku
kenal banget sama kamu!” seru Arjuna. “Bellina Widya Linandar, salah satu
puteri dari keluarga Linandar yang terhormat, sekaligus menantu dari keluarga
Wijaya yang terhormat!” seru Juna sambil meninggikan nada suaranya.
Bellina
langsung berbalik. Ia mengedarkan pandangannya, khawatir akan ada orang lain
yang mengenalnya dan menimbulkan masalah besar dalam keluarganya. Ia langsung
berlari menghampiri Juna dan masuk ke dalam mobil pria itu.
“Nggak
usah teriak-teriak!” pinta Yuna ketakutan. “Kamu mau apa dari aku? Aku udah
kasih uang buat kamu. Kamu masih mau neror aku?”
Juna
tersenyum sambil menjalankan mobilnya perlahan, kemudian melaju kencang
membelah jalan raya.
“Hei,
apa yang kamu mau dari aku?” tanya Bellina karena Juna tak kunjung mengajaknya
bicara, juga tak menjawab pertanyaannya.
“Aku
mau kamu,” jawab Juna sambil tersenyum.
“Maksud
kamu?” tanya Bellina sambil menatap wajah Juna.
Arjuna
tersenyum kecil. “Kita sudah sama-sama dewasa. Aku rasa, nggak perlu
menjelaskan lagi.”
Bellina
menatap pria yang duduk di sampingnya. Arjuna terlihat sangat tampan dengan
gaya khasnya.
“Kamu
mau neror aku dan ngambil keuntungan dari aku?” tanya Bellina sambil menatap
wajah Juna.
Juna
tersenyum. Ia memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Bellina.
“Kamu
tahu rumahku?” Bellina mengernyitkan dahi.
Juna
mengangguk-anggukkan kepalanya.
Bellina
semakin salah tingkah. Ia khawatir dengan kehadiran Arjuna yang menjadi ancaman
rumah tangganya.
“Asal
kamu mau nuruti semua keinginanku, aku nggak akan banyak tingkah. Tapi ...
kalau sampai kamu bikin aku kecewa, aku akan memperkenalkan diri di hadapan
suami kamu,” tutur Juna sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Bellina.
“Sebagai selingkuhan kamu,” lanjutnya lirih.
Bellina
menarik napas dalam-dalam. Ia sangat kesal dengan kehadiran Arjuna yang mulai
mengancam hidupnya. Ia melirik ke arah Arjuna yang masih tersenyum kepadanya.
“Ganteng, sih. Tapi ...,” batin Bellina sambil menggigit bibirnya.
Arjuna
tersenyum ke arah Bellina. Ia menyodorkan kartu nama ke wajah wanita itu. “Aku
tunggu kamu di klub, malam ini!”
Bellina
menautkan alisnya. “Aku nggak akan nemui kamu lagi!”
“Nggak
masalah.” Juna mengintip area rumah Bellina. “Suami kamu pulang jam berapa?”
“Bukan
urusan kamu,” jawab Bellina sambil melepas safety belt.
“Kalau
kamu nggak datang sampai jam sepuluh malam. Aku bakal ke sini.”
“Kamu
gila ya!?” Bellina mendelik ke arah Juna.
“Aku
bisa lebih gila dari yang kamu pikirkan,” sahut Juna sambil tersenyum.
“Nggak
usah macem-macem!” pinta Bellina.
“Cuma
kamu yang tahu caranya bikin aku nggak macem-macem. Asal kamu bisa temui aku
malam ini, aku nggak akan bertingkah. Gimana?” tanya Juna sambil menggigit
bibir dan memainkan alisnya.
Bellina
menghela napas. “Oke. Aku temui kamu malam ini!”
“Nah,
gitu dong!” tutur Arjuna sambil menyentuh kepala Bellina.
Bellina
langsung menepis tangan Juna dengan kasar. “Nggak usah pegang-pegang!” pintanya
ketus sambil membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Juna.
Juna
tertawa kecil saat Bellina menutup pintu mobilnya dengan kasar. Ia terus
menatap tubuh Bellina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Juna
merogoh ponsel yang ada di sakunya. Ia menekan nomor yang ada di ponselnya.
“Target udah masuk,” ucapnya saat ia sudah menempelkan ponsel ke telinganya.
“Mmh ... ngerti,” lanjutnya. Ia langsung mematikan panggilan telepon dan
menjalankan mobilnya kembali.
Sementara,
Bellina masuk ke dalam rumah sambil menahan amarah. “Kurang ajar! Siapa sih
cowok itu? Ngeselin banget! Tapi ... dia cakep banget, sih.”
“Huft,
malam ini aku ada janji makan malam sama suamiku. Gimana caranya pergi ke klub
dan nemuin bocah gila itu?” gumam Bellina sambil masuk ke kamarnya.
Bellina
meraih ponsel dan langsung menelepon Lian.
“Halo
...!” sapa Lian begitu panggilan telepon dari Bellina tersambung.
“Halo
... kamu masih di kantor?” tanya Bellina.
“Aku
masih ketemu sama klien. Kamu masih di rumah mama kamu?” tanya Lian.
“He-em.”
Bellina menganggukkan kepala. “Li, mama lagi nggak enak badan. Malam ini, aku
temenin mama ya!”
“Oh.
Iya, nggak papa. Salam buat Mama Melan, ya!”
“Iya.
Soal makan malam kita ...”
“Nggak
papa. Aku juga masih banyak kerjaan. Aku bisa pergi cari makan bareng asistenku
seperti biasanya.”
“Oke.
Hati-hati ya! Semangat terus kerjanya. I Love you ...”
“I
Love you too. Jaga diri baik-baik ya!”
“He-em.
Aku mau tutup teleponnya ya!”
“Iya.”
Bellina
langsung menutup panggilan teleponnya. “Yes ...!” serunya. Ia tertawa bahagia
sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur. “Lian emang paling mudah dibohongi
dan dikendalikan.”
Bellina
bangkit dari tempat duduk. Ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan
diri. Usai mandi, ia memilih pakaian yang bagus, juga merias wajahnya agar
terlihat lebih cantik sebelum ia pergi ke klub malam.
Bellina
menatap kartu nama yang ada di tangannya. “Arjuna Club? Ternyata, klub itu
punya dia?” tanyanya sambil tersenyum. “Lumayan nih cowok.”
Bellina
bergegas merobek kartu nama tersebut dan membuangnya ke dalam closet toilet. Ia
tidak ingin Wilian mengetahui apa yang terjadi antara Bellina dan pria pemilik
klub malam itu.
“Lian
nggak boleh tahu hubunganku hubunganku sama cowok itu. Lagian, dia juga masih
suka sama perempuan lain walau udah nikah sama aku. Aku juga bisa jalan cowok
lain kali,” tuturnya sambil menatap tubuhnya di depan cermin. Ia bersiap untuk
menemui Arjuna di dalam klub malam milik pria itu.
“Waktunya
bersenang-senang ...!” seru Bellina sambil melenggang keluar dari kamarnya. Ia
bergegas menuju ke klub malam yang telah dijanjikan sebelumnya.
((Bersambung ...))
Thanks udah dukung cerita ini terus.
Sapa terus di kolom komentar biar author makin semangat
ngais ide setiap hari.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment