Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 437 : Kehadiran Arjuna

 


“Cewek sialan! Sombong banget! Awas aja, kamu bakal tahu akibatnya karena udah nolak bantuanku!” umpat Bellina begitu ia keluar dari salon. Ia sangat kesal dengan sikap Refi yang begitu acuh tak acuh terhadap dirinya.

 

“Aku kesel banget sama dia!” seru Bellina sambil menghentakkan kakinya. Ia menarik napas untuk menenangkan hatinya. “Shopping dulu, deh. Biar suasana hati kembali happy. Ketemu sama orang kayak gitu, bikin rusak mood!” tutur Bellina sambil melangkahkan kakinya menyusuri trotoar.

 

“Enaknya belanja apa ya?” tanya Bellina menimbang-nimbang. Ia terus melangkahkan kakinya masuk ke pusat perbelanjaan yang tak jauh dari salon tersebut. Ia memilih untuk berbelanja sambil menunggu waktu makan malam.

 

Belum sampai ia masuk ke pusat perbelanjaan, tiba-tiba mobil Ferarri warna putih berhenti tepat di depannya.

 

“Eh, kamu punya mata atau nggak!?” seru Bellina sambil memukul badan mobil yang berjarak tak lebih dari tiga puluh senti dari tempatnya berdiri. “Kalau aku keserempet gimana? Mau tanggung jawab, hah!?”

 

Pria yang ada di belakang kemudi itu langsung melepas kacamata hitamnya. Ia langsung menoleh ke arah Bellina yang berdiri di samping mobilnya. “Hai ...!” sapanya sambil tersenyum menatap Bellina.

 

Bellina membelalakkan matanya bersama dengan mulutnya yang terbuka lebar. “Kamu ...!?” tanyanya sambil menunjuk wajah pria itu.

 

“Masih ingat sama aku?” tanya Arjuna.

 

Bellina gelagapan. Ia mengedarkan pandangannya karena khawatir akan ada orang lain yang mengetahui kesalahan yang ia lakukan di klub waktu itu.

 

“Aku Arjuna, kamu nggak ingat sama aku?” tanya Juna sambil menatap Bellina yang salah tingkah. Melihat wajah ketakutan yang tersirat dari wanita itu, membuat ia semakin tertarik.

 

“Aku nggak kenal sama kamu,” tutur Bellina sambil berusaha menutupi rasa gugupnya.

 

Juna tertawa kecil sambil menatap wajah Bellina. “Bella ... Bella ... kamu ini lucu banget!”

 

Bellina mengerutkan wajah sambil menatap Arjuna. “Kamu salah orang. Namaku Bellina, bukan Bella!” tegasnya.

 

Arjuna tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku tahu. Aku lebih suka manggil kamu Bella. Lebih cocok sama kamu yang cantik dan anggun,” tuturnya sambil mengedipkan mata.

 

“Aku nggak kenal sama kamu. Nggak usah sok kenal!” sahut Bellina sambil melangkah pergi.

 

“Aku kenal banget sama kamu!” seru Arjuna. “Bellina Widya Linandar, salah satu puteri dari keluarga Linandar yang terhormat, sekaligus menantu dari keluarga Wijaya yang terhormat!” seru Juna sambil meninggikan nada suaranya.

 

Bellina langsung berbalik. Ia mengedarkan pandangannya, khawatir akan ada orang lain yang mengenalnya dan menimbulkan masalah besar dalam keluarganya. Ia langsung berlari menghampiri Juna dan masuk ke dalam mobil pria itu.

 

“Nggak usah teriak-teriak!” pinta Yuna ketakutan. “Kamu mau apa dari aku? Aku udah kasih uang buat kamu. Kamu masih mau neror aku?”

 

Juna tersenyum sambil menjalankan mobilnya perlahan, kemudian melaju kencang membelah jalan raya.

 

“Hei, apa yang kamu mau dari aku?” tanya Bellina karena Juna tak kunjung mengajaknya bicara, juga tak menjawab pertanyaannya.

 

“Aku mau kamu,” jawab Juna sambil tersenyum.

 

“Maksud kamu?” tanya Bellina sambil menatap wajah Juna.

 

Arjuna tersenyum kecil. “Kita sudah sama-sama dewasa. Aku rasa, nggak perlu menjelaskan lagi.”

 

Bellina menatap pria yang duduk di sampingnya. Arjuna terlihat sangat tampan dengan gaya khasnya.

 

“Kamu mau neror aku dan ngambil keuntungan dari aku?” tanya Bellina sambil menatap wajah Juna.

 

Juna tersenyum. Ia memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Bellina.

 

“Kamu tahu rumahku?” Bellina mengernyitkan dahi.

 

Juna mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

Bellina semakin salah tingkah. Ia khawatir dengan kehadiran Arjuna yang menjadi ancaman rumah tangganya.

 

“Asal kamu mau nuruti semua keinginanku, aku nggak akan banyak tingkah. Tapi ... kalau sampai kamu bikin aku kecewa, aku akan memperkenalkan diri di hadapan suami kamu,” tutur Juna sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Bellina. “Sebagai selingkuhan kamu,” lanjutnya lirih.

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. Ia sangat kesal dengan kehadiran Arjuna yang mulai mengancam hidupnya. Ia melirik ke arah Arjuna yang masih tersenyum kepadanya. “Ganteng, sih. Tapi ...,” batin Bellina sambil menggigit bibirnya.

 

Arjuna tersenyum ke arah Bellina. Ia menyodorkan kartu nama ke wajah wanita itu. “Aku tunggu kamu di klub, malam ini!”

 

Bellina menautkan alisnya. “Aku nggak akan nemui kamu lagi!”

 

“Nggak masalah.” Juna mengintip area rumah Bellina. “Suami kamu pulang jam berapa?”

 

“Bukan urusan kamu,” jawab Bellina sambil melepas safety belt.

 

“Kalau kamu nggak datang sampai jam sepuluh malam. Aku bakal ke sini.”

 

“Kamu gila ya!?” Bellina mendelik ke arah Juna.

 

“Aku bisa lebih gila dari yang kamu pikirkan,” sahut Juna sambil tersenyum.

 

“Nggak usah macem-macem!” pinta Bellina.

 

“Cuma kamu yang tahu caranya bikin aku nggak macem-macem. Asal kamu bisa temui aku malam ini, aku nggak akan bertingkah. Gimana?” tanya Juna sambil menggigit bibir dan memainkan alisnya.

 

Bellina menghela napas. “Oke. Aku temui kamu malam ini!”

 

“Nah, gitu dong!” tutur Arjuna sambil menyentuh kepala Bellina.

 

Bellina langsung menepis tangan Juna dengan kasar. “Nggak usah pegang-pegang!” pintanya ketus sambil membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Juna.

 

Juna tertawa kecil saat Bellina menutup pintu mobilnya dengan kasar. Ia terus menatap tubuh Bellina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

Juna merogoh ponsel yang ada di sakunya. Ia menekan nomor yang ada di ponselnya. “Target udah masuk,” ucapnya saat ia sudah menempelkan ponsel ke telinganya. “Mmh ... ngerti,” lanjutnya. Ia langsung mematikan panggilan telepon dan menjalankan mobilnya kembali.

 

Sementara, Bellina masuk ke dalam rumah sambil menahan amarah. “Kurang ajar! Siapa sih cowok itu? Ngeselin banget! Tapi ... dia cakep banget, sih.”

 

“Huft, malam ini aku ada janji makan malam sama suamiku. Gimana caranya pergi ke klub dan nemuin bocah gila itu?” gumam Bellina sambil masuk ke kamarnya.

 

Bellina meraih ponsel dan langsung menelepon Lian.

 

“Halo ...!” sapa Lian begitu panggilan telepon dari Bellina tersambung.

 

“Halo ... kamu masih di kantor?” tanya Bellina.

 

“Aku masih ketemu sama klien. Kamu masih di rumah mama kamu?” tanya Lian.

 

“He-em.” Bellina menganggukkan kepala. “Li, mama lagi nggak enak badan. Malam ini, aku temenin mama ya!”

 

“Oh. Iya, nggak papa. Salam buat Mama Melan, ya!”

 

“Iya. Soal makan malam kita ...”

 

“Nggak papa. Aku juga masih banyak kerjaan. Aku bisa pergi cari makan bareng asistenku seperti biasanya.”

 

“Oke. Hati-hati ya! Semangat terus kerjanya. I Love you ...”

 

“I Love you too. Jaga diri baik-baik ya!”

 

“He-em. Aku mau tutup teleponnya ya!”

 

“Iya.”

 

Bellina langsung menutup panggilan teleponnya. “Yes ...!” serunya. Ia tertawa bahagia sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur. “Lian emang paling mudah dibohongi dan dikendalikan.”

 

Bellina bangkit dari tempat duduk. Ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai mandi, ia memilih pakaian yang bagus, juga merias wajahnya agar terlihat lebih cantik sebelum ia pergi ke klub malam.

 

Bellina menatap kartu nama yang ada di tangannya. “Arjuna Club? Ternyata, klub itu punya dia?” tanyanya sambil tersenyum. “Lumayan nih cowok.”

 

Bellina bergegas merobek kartu nama tersebut dan membuangnya ke dalam closet toilet. Ia tidak ingin Wilian mengetahui apa yang terjadi antara Bellina dan pria pemilik klub malam itu.

 

“Lian nggak boleh tahu hubunganku hubunganku sama cowok itu. Lagian, dia juga masih suka sama perempuan lain walau udah nikah sama aku. Aku juga bisa jalan cowok lain kali,” tuturnya sambil menatap tubuhnya di depan cermin. Ia bersiap untuk menemui Arjuna di dalam klub malam milik pria itu.

 

“Waktunya bersenang-senang ...!” seru Bellina sambil melenggang keluar dari kamarnya. Ia bergegas menuju ke klub malam yang telah dijanjikan sebelumnya.

 

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Sapa terus di kolom komentar biar author makin semangat ngais ide setiap hari.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas