Amara
masuk ke dalam rumah besar yang ada di jalan Ketabang, hanya sekitar sepuluh
menit dengan berjalan kaki dari wilayah perpustakaan kota yang ada di wilayah
Yos Sudarso. Amara masuk ke dapur dengan tubuh gemetaran. Semua jari tangannya
sangat dingin, wajahnya pucat pasi. Ia sangat ketakutan melihat Jheni memergoki
dirinya dalam keadaan yang begitu buruk.
“Kamu
kenapa?” tanya Geisha, wanita yang tinggal bersama dengan Amara. Sudah pasti,
Geisha bukanlah nama asli yang sesuai dengan ID penduduk. Hampir semua wanita
yang menghuni rumah ini, menggunakan nama lain untuk menutupi identitas mereka,
termasuk Amara.
“Nggak
papa,” jawab Amara sambil menuangkan air minum.
“Kalau
mukanya begitu, udah pasti dia abis ketemu sama orang yang dia kenal,” tutur
salah seorang wanita yang berdiri di sana dengan santai.
“Barbie,
kamu memang paling bisa menebak raut wajah orang lain,” sahut Geisha sambil
menatap wanita cantik yang mirip dengan boneka Barbie.
Barbie
tersenyum kecil. “Lagian, walau kamu nyamar jadi gembel kayak gini. Orang lain
akan tetap mengenali kamu, kecuali kalau kamu operasi plastik.”
“Dia
ada di sini buat bayar hutang, gimana bisa mau oplas,” sahut Geisha.
“Untungnya,
kamu masih punya badan yang bagus buat dijual. Jadi, bisa secepatnya ngelunasi
hutang-hutang kamu itu,” tutur Barbie sambil menatap tubuh Amara.
Amara
menatap wajah dua wanita yang ada di hadapannya. “Aku nggak mau kayak gini
terus,” tuturnya lemas. Ia terduduk di kursi, meratapi hidupnya yang kini
sangat menyedihkan.
“Sar,
udahlah nggak usah drama. Kamu nikmati aja takdir kamu di sini. Toh, suami kamu
juga yang jual kamu ke Mami,” tutur Barbie sambil menatap wajah Amara.
“Sampai
kapan aku harus kayak gini terus?” tanya Amara sambil menutup wajahnya. “Kenapa
hidup aku jadi kayak gini?” tuturnya sambil terisak.
“Sarah,
nggak ada yang perlu kamu sesali. Lebih baik kamu nikmati aja apa yang udah ada
di depan kamu. Daripada kamu sibuk nangis kayak gini. Malam ini jadwal kamu
melayani pelanggan. Jangan sampai kelihatan jelek dan bikin Mami kita marah!”
tutur Geisha.
“Nah,
bener. Daripada kamu nangis-nangis kayak gini, nggak akan merubah hidup kamu.
Lebih baik, kamu siap-siap buat ngelayani pelanggan malam ini. Kamu tahu, kalau
Mami marah, kita semua bisa kena imbasnya.”
Amara
terdiam. Ia tak memiliki pilihan lain selain melakukan pekerjaannya dengan
baik. Ia terus memijat kepalanya yang berdenyut. Ia bahkan tidak pernah
membayangkan kalau hidupnya akan berakhir seperti ini. Memiliki suami gila yang
memiliki banyak hutang dan menjual istrinya pada pria-pria hidung belang.
Amara
melangkahkan kakinya tak bersemangat, ia masuk ke dalam kamar tanpa menutup
pintu. Kemudian, ia duduk di kursi meja rias sambil menatap wajahnya yang
terlihat sangat kacau.
“Aargh
...!” seru Amara sambil mengacak-ngacak kepalanya sendiri. Membuat bayangannya
di cermin semakin kacau dari kekacauan yang sudah terjadi sebelumnya. “Jheni
pasti bahagia lihat aku sekacau ini. Dia pasti bakal ngasih tahu si Chandra dan
semua orang bakal ngetawain aku yang sekarang kayak gini,” ucapnya sambil
menjatuhkan kepalanya ke atas meja.
“Aku
benci, kenapa hidupku sekarang jadi kayak gini? Gara-gara Harry sialan, cowok
nggak bertanggung jawab! Dia yang punya hutang, aku yang kena imbasnya. Kenapa
bisa kayak gini? Padahal, dulu keluargaku dan keluarga dia sama-sama kaya.
Setelah menikah, malah berantakan kayak gini,” gerutu Amara sambil meneteskan
air mata.
BRAAK
...!
PRANG
...!
TING
...!
“Aargh
...! Aku benci hidup kayak gini!” seru Amara sambil menjatuhkan semua
barang-barang yang ada di atas meja riasnya. Semua alat-alat make-up berjatuhan
di lantai dan menimbulkan suara keributan.
“Eh,
kamu udah gila ya!” seru Geisha sambil menghampiri Amara.
“Bodo
amat! Nggak usah ngurusin aku! Urus aja diri kamu sendiri!” sahut Amara kesal.
“Heh!?
Kamu sadar nggak kalau kamu masih bisa hidup enak di sini karena siapa? Kalau
bukan karena kebaikan hati kita-kita, kita nggak mau ada kamu di sini.
Ngurangin jatah buat kita aja,” seru Geisha kesal.
“Ambil
aja jatahku! Aku udah capek kayak gini terus!” sahut Amara.
“Kalo
udah capek, keluar aja dari rumah ini. Tinggal di kolong jembatan, sana!” sahut
Geisha. “Udah untung diselamatkan hidupnya. Kurang apa? Bisa hidup enak,
tinggal di rumah dengan fasilitas yang bagus. Tinggal melayani pelanggan aja
susah banget. Modal badan aja udah dapet duit banyak. Mau ngegembel di luar
sana!?”
Amara
terdiam. Ia mengatur napasnya yang tersengal. Ucapan Geisha benar-benar
membuatnya sangat kesal. Ia tidak ingin hidup susah seperti sebelumnya. Tapi
dia juga tidak ingin terus-menerus menjadi pelacur di rumah ini.
“Sarah,
kalau kamu mau jadi tukang sapu jalanan atau cleaning service di luar sana. Ya
keluar aja dari rumah ini. Kamu nggak perlu melayani pelanggan lagi. Tapi,
jangan berharap kalau suamimu itu bisa ngelepasin kamu. Kalo nggak dijual ke
Mami, pasti dijual ke orang lain.”
Amara
terdiam, ia berusaha mencerna ucapan Geisha. Ada banyak hal yang membuatnya
tidak bisa keluar dari rumah ini. Ia harus membayar semua hutang-hutangnya pada
rentenir.
“Aku
juga udah terlanjur kotor, udah terlanjur masuk ke dunia hitam ini. Bahkan
laki-laki yang tidur sama aku, sudah nggak terhitung lagi,” gumam Amara tak
bersemangat.
“Hahaha.
Kamu baru nyadar? Daripada mikir buat keluar dari rumah ini. Mending kamu
pikirin gimana caranya bisa dapetin pelanggan yang banyak dan kaya raya. Kamu
mantan orang kaya, pelanggan kamu juga banyak duitnya,” tutur Geisha.
“Aku
nggak akan main sama orang yang aku kenal!” tegas Amara.
Geisha
tertawa geli. “Orang yang awalnya nggak kenal kamu, mereka juga sekarang kenal
sama kamu. Apalagi, mereka yang jadi pelanggan tetap. Kamu pikir, bisa lari
gitu aja? Nggak ketemu sama mereka di sini, tetap akan ketemu sama mereka di
luar sana,” tutur Geisha sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Amara. “Mereka
akan mengenal kamu sebagai seorang pelacur,” bisiknya.
“Aku
kayak gini karena terpaksa, Sha,” sahut Amara.
“Awalnya,
kami juga terpaksa melakukan ini semua. Tapi, lama-lama kami menikmatinya. Toh,
seks itu kebutuhan dasar setiap orang. Walau kamu nggak jadi pelacur, kamu akan
tetap melakukannya setiap hari sama pacar atau suami kamu.”
Amara
menarik napas mendengar ucapan Geisha.
“Sensasinya
sama aja. Pria-pria itu butuh pelampiasan dan kita butuh uang,” ucap Geisha
sambil menatap Amara.
“Udahlah.
Nggak usah sok suci! Terima aja kenyataannya kalau sekarang kamu itu cuma
pelacur!” tutur Geisha sambil tersenyum.
“Kamu
jangan ngatain orang sembarangan! Kalau bukan karena kalian, aku nggak akan
terpenjara di tempat ini! Kamu terlalu bangga sama profesi kamu yang jadi
pelacur!” sahut Amara kesal.
“Oh
... jelas aku bangga, dong. Secara, aku adalah wanita ter-hot di sini. Yang
paling banyak melayani pelanggan dan bisa memuaskan mereka. Daripada kamu,
kalau bukan karena kemurahan hati kami ... nggak akan ada cowok yang tertarik
buat make kamu karena nggak bisa memuaskan pelanggan,” tutur Geisha dengan gaya
tenangnya yang khas.
“Mau
sepuas apa pun pelanggan kamu. Kamu tetep aja perempuan murahan!” sahut Amara
kesal.
“Hei,
pelacur itu bukan perempuan murahan. Kita dihargai per malam bahkan per jam. Di
luar sana, banyak cewek murahan yang mau tidur sama laki-laki, cukup dibayar
pake rayuan. Mau-maunya dibohongi sama laki-laki yang cari pelampiasan atas
nama cinta.”
Amara
terdiam mendengar ucapan Geisha.
Geisha
tersenyum sinis. “Kamu udah main berapa kali sama suami kamu sebelum nikah?”
tanyanya.
“Bukan
urusan kamu!” jawab Amara kesal.
Geisha
tertawa kecil. “Pasti kamu gratisin tubuh kamu ini buat pacar kamu ‘kan? Masih
mending aku. Aku jual keperawananku seharga satu buah motor. Sekarang, udah
terbukti ... siapa perempuan murahan yang sebenarnya.”
“Udah,
deh! Aku sakit kepala dengerin kamu ngomong terus!” seru Amara.
“Cewek
murahan, sok-sokan jual mahal,” celetuk Geisha sambil berlalu pergi.
Amara
menarik napas, ia semakin kesal dengan kata-kata yang keluar dari mulut Geisha.
Ia tak bisa lagi menahan emosinya. Amara mengejar tubuh Geisha dan menjambak
rambut panjangnya.
“Apa-apaan
sih!?” teriak Geisha. Ia balas menjambak rambut Amara.
Seketika,
ruangan itu ramai dengan suara dua orang wanita yang sedang berseteru itu.
Mereka saling memaki dan berusaha mempertahankan diri. Hal ini menarik
perhatian wanita-wanita lain yang tinggal di rumah tersebut dan membuat mereka
kewalahan melerai perkelahian yang terjadi antara Amara dan Geisha.
((Bersambung ...))
Ah, entahlah ... nulis bab ini ketawa geli sendiri.
Thanks buat semua yang sudah mendukung Perfect Hero.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment