Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 438 : Sarah atau Amara?

 


“Jhen, bantu aku cari buku-buku yang bagus!” pinta Yuna sambil melihat-lihat deretan rak buku yang berjejar rapi di Perpustakaan Kota.

 

“Buku apa, Yun?” tanya Jheni.

 

“Buku tentang pendidikan parental dan cara mengasuh anak,” jawab Yuna sambil meraih satu buku yang menarik matanya.

 

“Baca bukuku aja, Yun!” sahut Jheni sambil menahan tawa.

 

“Idih, buku kamu itu isinya apaan? Bukan cara merawat anak, tapi cara bikin anak!” sahut Yuna sambil menatap wajah Jheni.

 

Jheni terkekeh mendengar ucapan Yuna. “Kamu kan udah ikut kelas mengasuh bayi. Kenapa masih cari buku lagi?”

 

“Buat referensi, Jhen. Siapa tahu ada hal-hal yang belum aku tahu. Aku juga bisa konsultasikan ke bidan atau dokter kandunganku ‘kan?”

 

“Kamu mau cari tahu apa sih?” tanya Jheni. “Cara gendong bayi yang baik? Cara nyuapin bayi yang baik atau apa?”

 

“Apa aja. Yang penting, aku bisa jadi ibu terbaik buat anakku.”

 

Jheni mengangguk-anggukkan kepala. Ia membantu Yuna memilih beberapa buku yang ada di sana. Kemudian, mereka duduk di salah satu meja untuk membaca buku tersebut.

 

“Yun, buku sebanyak ini ... mau kamu baca semua?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Hebat juga. Biasanya, paling malas kalau disuruh baca buku.”

 

“Aku paling rajin di perpus waktu kuliah!” sahut Yuna kesal.

 

Jheni tertawa kecil. “Iya. Ngerjain tugas doang. Bukan buat baca buku. Lagian, kalo kamu emang anak pintar dan berbakat, nggak perlu sampe tidur di perpustakaan setiap hari buat ngerjain tugas.”

 

“Iih ... nggak usah ungkit masa lalu!” pinta Yuna sambil memonyongkan bibirnya.

 

“Kenapa?” tanya Jheni terkekeh.

 

“Aku kan tetap harus kerja keras supaya bisa lulus tepat waktu, Jhen. Aku nggak bisa berlama-lama di sana karena ayah lagi sakit. Kalo aku nggak belajar bener-bener, aku bakal ngecewain ayah waktu dia bangun.”

 

“Hmm ... iya, iya. Nggak usah ingat-ingat lagi masa lalu yang bikin kamu sedih! Sekarang, kamu sudah bahagia punya suami kamu yang perfect banget itu.”

 

“Kamu yang ungkit duluan,” sahut Yuna.

 

“Iya, iya. Nggak ungkit lagi,” tutur Jheni. Ia melihat-lihat buku yang sudah menumpuk di atas meja, tepat di hadapannya. “Kamu mau tidur di perpustakaan lagi? Buku segini banyaknya, kapan kelar bacanya?”

 

Yuna menghela napas sambil menatap Jheni. “Kamu tadi sarapan apa sih, Jhen?”

 

Jheni melirik ke langit-langit ruangan. “Aku sarapan mie instan. Nggak sempat masak.”

 

“Pantes aja isi otaknya nggak bernutrisi,” celetuk Yuna.

 

“Kamu ngatain aku apa? Otak kamu yang sering error.”

 

“Otak kamu juga!” dengus Yuna sambil memilih beberapa buku yang ada di hadapannya. “Bantu aku cari buku yang bagus!”

 

“Ini udha bagus semua, Yun.”

 

“Aku mau bawa pinjam bukunya. Nggak mungkin aku baca di sini semua, Jhen. Beberapa buku aja. Aku lihat-lihat dulu mana yang cocok.”

 

“Hmm.” Jheni langsung mengambil satu buku dan membacanya. “Yun, yang ini bagus. Kamu mau?”

 

Yuna menganggukkan kepala tanpa mengalahkan pandangannya dari buku.

 

“Jhen, kamu tahu nggak obat herbal yang cocok untuk bayi?”

 

“Obat herbal?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Iya. Buat persiapan pertolongan pertama kalau misalnya si kecil demam, batuk atau pilek. Kalau bayi, nggak boleh minum obat ‘kan?”

 

“Oh.”

 

“Di buku KIA ada panduan sih, tapi aku masih perlu banyak referensi. Nggak mau jadi ibu yang payah buat baby-ku,” tutur Yuna sambil membaca-baca isi buku yang ingin ia pinjam.

 

Jheni mengangguk-anggukkan kepala menanggapi ucapan Yuna. “Yun, aku haus. Aku keluar, beli minum dulu ya!”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Kamu mau minum apa?”

 

“Air mineral aja, Jhen.”

 

“Nggak mau susu?”

 

“Mmh ... boleh juga.”

 

“Huu ... dasar!” dengus Jheni sambil bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Yuna.

 

Jheni melangkahkan kakinya memasuki toko kelontong yang letaknya tak jauh dari perpustakaan tersebut. Ia membeli beberapa minuman dan cemilan untuk ia nikmati bersama Yuna.

 

Jheni langsung keluar dari toko kelontong tersebut usai membayar semua belanjaannya.

 

 

 

BRUUG ...!

 

 

 

Seorang wanita dengan pakaian yang berantakan dan rambut yang tak teratur, tiba-tiba menabrak tubuh Jheni. Membuat kantong belanjaan yang ada di tangannya jatuh ke lantai.

 

“Ma-Maaf, Mbak!” tutur wanita itu sambil menundukkan kepala dan membantu mengambil kantong belanjaan Jheni yang terjatuh.

 

“Nggak papa. Lain kali lebih hati-hati kalau jalan. Untung aku bukan mobil,” sahut Jheni sambil memerhatikan wajah wanita itu.

 

Wanita itu menganggukkan kepala sambil menyembunyikan wajahnya dari tatapan Jheni.

 

Jheni semakin penasaran, ia terus memerhatikan perempuan itu dengan seksama. “Kok, kayak familiar? Kita pernah kenal?” tanya Jheni sambil mendekati wanita tersebut.

 

Wanita itu menggelengkan kepala.

 

Jheni mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi. “Kamu ... Amara ‘kan? Mantan tunangan Chandra?” tanyanya kemudian.

 

Wanita itu menggelengkan kepala. Ia tak memiliki keberanian untuk menatap wajah Jheni. Dunia seperti berputar begitu cepat. Saat masih menjadi tunangan Chandra, ia bisa berjalan penuh percaya diri dengan segala hal yang dimilikinya. Perawatan tubuh yang mahal, pakaian yang berkelas dan semua orang menghargainya.

 

Sekarang, ia bahkan tak punya keberanian untuk menatap Jheni. Ia hanya bisa menundukkan kepala, menatap lantai yang ada di bawah kakinya. Kakinya yang dulu terbiasa mengenakan sepatu mahal dan pergi ke tempat-tempat mahal pula, kini hanya mengenakan sendal jepit yang membawanya pergi ke pasar-pasar kecil.

 

“Kenapa kamu jadi kayak gini?” tanya Jheni sambil menatap tubuh Amara yang terlihat sangat berantakan. Pakaiannya juga terlihat biasa saja. Pergi keluar hanya mengenakan daster yang harganya tak lebih dari lima puluh ribu rupiah.

 

“Kamu salah mengenali orang. Aku bukan Amara,” tutur wanita itu sambil berbalik dan melangkah pergi.

 

“Tunggu ...!” pinta Jheni sambil menghadang Amara agar tidak pergi meninggalkannya begitu saja. “Aku tahu kalau kamu Amara. Aku nggak buta.”

 

Amara tetap saja tak ingin mengakui dirinya. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya dari pandangan Jheni.

 

“Amara ...!” panggil Jheni. “Kamu sekarang tinggal di dekat sini?”

 

Wanita itu menggelengkan kepala. “Aku nggak kenal sama kamu,” ucapnya sambil berlari pergi meninggalkan Jheni.

 

Jheni menautkan kedua alisnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Masa aku salah ngenalin orang?” gumamnya. “Mirip banget sama Amara, cuma penampilannya aja yang beda jauh.”

 

Mata Jheni kemudian tertuju pada wanita pemilik toko kelontong, ia menghampiri wanita tersebut dan bertanya, “Bu, Ibu kenal sama cewek itu?” tanya Jheni.

 

“Kenal, namanya Mbak Sarah.”

 

“Sarah?” Jheni mengernyitkan dahi. Ia tidak mempercayainya begitu saja. Ia sangat yakin kalau wanita itu adalah Amara, bukan Sarah.

 

Jheni tersenyum menatap wanita pemilik toko tersebut. “Makasih informasinya, Bu!” tuturnya sambil berlalu pergi. Ia buru-buru kembali ke perpustakan dan menghampiri Yuna.

 

“Yun ...!”

 

“Umh.”

 

“Kamu tahu nggak, aku ketemu siapa?”

 

“Nggak,” jawab Yuna sambil menggelengkan kepala.

 

“Aku kasih tahu. Aku barusan ketemu sama Sarah.”

 

“Sarah? Siapa?”

 

“Amara, mantan tunangan Chandra.”

 

“Oh. Amara ...,” sahut Yuna sambil manggut-manggut. “Eh, kenapa jadi Sarah?” tanyanya sambil menatap wajah Jheni.

 

“Otakmu ini kenapa responnya lambat banget!?” seru Jheni kesal.

 

“Aku lagi baca buku, Jhen. Fokusku terbagi.”

 

“Dengerin aku dulu!” pinta Jheni.

 

Yuna langsung menatap wajah Jheni. “Gimana?”

 

“Si Amara itu berubah namanya jadi Sarah. Penampilannya dia juga jauh beda. Nggak kayak biasanya. Dia nggak kelihatan kayak orang kaya. Cuma pake daster murahan dan sendal jepit.”

 

“Kok bisa? Kamu salah ngenalin orang, kali.”

 

“Aku nggak mungkin salah. Aku yakin banget kalo itu si Amara.”

 

“Nggak mungkin. Aku yakin banget itu si Amara. Apa dia bener-bener udah jatuh miskin?”

 

“Bisa jadi. Suaminya dia banyak hutang.”

 

“Kasihan juga ya?” tutur Jheni sambil melihat ke luar jendela. “Menurut kamu, apa aku harus ngasih tahu Chandra?”

 

Yuna menghela napas. “Aku juga nggak tahu, Jhen. Kamu yang pacarnya Chandra. Kira-kira, gimana reaksi dia kalau tahu mantan tunangannya jadi kayak gitu?”

 

“Huft, aku juga bingung.”

 

“Ya udahlah. Pura-pura nggak tahu aja.”

 

“Mana bisa begitu. Aku udah lihat dengan mata kepalaku sendiri, Yun.”

 

“Dia pernah jahat sama kamu. Nggak usah baik sama dia!” celetuk Yuna sambil menyeruput susu kotak yang dibelikan Jheni.

 

“Emangnya kalau dia pernah jahat sama kita, kita harus jahat juga? Semua orang bisa berubah. Kamu juga seumur hidup dijahatin sama Bellina. Tapi nggak pernah balas jahatin dia.”

 

“Aku nggak bisa jadi orang jahat,” sahut Yuna.

 

Jheni tersenyum. Ia mencubit kedua pipi Yuna. “Ini yang bikin aku kagum sama kamu. Makanya, jangan nyuruh aku jadi jahat juga! Aku mau selidiki si Amara. Kamu yang kasih tahu si Chandra ya!” pintanya.

 

“Kasih tahu apa?” tanya Yuna.

 

“Kasih tahu soal Amara yang sekarang.”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Aku pikirin dulu caranya.”

 

“Nggak usah dipikirin, langsung ngomong aja ke Chandra!”

 

“Terus, kamu maunya Chandra ngapain kalo aku udah bilang ke dia? Kamu mau si Chandra balik ke Amara lagi? Kamu udah susah payah bikin Chandra move on dari Amara. Sekarang, malah mau sodorin Amara ke Chandra lagi? Kamu gila ya!?”

 

“Yun, aku emang cinta sama Chandra. Tapi aku juga nggak bisa maksain Chandra harus cinta sama aku. Dengan begini, aku bisa tahu sebenarnya hati Chandra saat ini untuk siapa.”

 

Yuna terdiam selama beberapa saat. “Kamu masih ragu sama Chandra?”

 

“Aku nggak mau ragu, Yun. Tapi Chandra itu pendiem banget di depan semua orang. Nggak romantis kayak Yeriko. Nggak lucu kayak Lutfi. Kalau dia sayang sama aku, dia nggak akan balik ke Amara lagi walau Amara godain dia. Kayak Yeriko yang selalu bisa nolak Refi meskipun cewek gila itu ngejar-ngejar Yeriko.”

 

“Oh ... jadi, kamu mau menguji cintanya Chandra?” goda Yuna.

 

“Sekalian aja. Aku bisa bantu hidup Amara, juga bisa lihat seberapa besar cintanya Chandra ke aku.”

 

“Oke, kalo begitu. Aku dukung!” seru Yuna.

 

“Sst ...! Jangan keras-keras!” bisik Jheni karena semua mata tiba-tiba tertuju padanya.

 

Yuna tersenyum. Mereka bergegas memilih buku-buku yang akan mereka pinjam dari perpustakaan tersebut.  

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Sapa terus di kolom komentar biar author makin semangat ngais ide setiap hari.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas