“Jhen,
bantu aku cari buku-buku yang bagus!” pinta Yuna sambil melihat-lihat deretan
rak buku yang berjejar rapi di Perpustakaan Kota.
“Buku
apa, Yun?” tanya Jheni.
“Buku
tentang pendidikan parental dan cara mengasuh anak,” jawab Yuna sambil meraih
satu buku yang menarik matanya.
“Baca
bukuku aja, Yun!” sahut Jheni sambil menahan tawa.
“Idih,
buku kamu itu isinya apaan? Bukan cara merawat anak, tapi cara bikin anak!”
sahut Yuna sambil menatap wajah Jheni.
Jheni
terkekeh mendengar ucapan Yuna. “Kamu kan udah ikut kelas mengasuh bayi. Kenapa
masih cari buku lagi?”
“Buat
referensi, Jhen. Siapa tahu ada hal-hal yang belum aku tahu. Aku juga bisa
konsultasikan ke bidan atau dokter kandunganku ‘kan?”
“Kamu
mau cari tahu apa sih?” tanya Jheni. “Cara gendong bayi yang baik? Cara nyuapin
bayi yang baik atau apa?”
“Apa
aja. Yang penting, aku bisa jadi ibu terbaik buat anakku.”
Jheni
mengangguk-anggukkan kepala. Ia membantu Yuna memilih beberapa buku yang ada di
sana. Kemudian, mereka duduk di salah satu meja untuk membaca buku tersebut.
“Yun,
buku sebanyak ini ... mau kamu baca semua?”
Yuna
menganggukkan kepala.
“Hebat
juga. Biasanya, paling malas kalau disuruh baca buku.”
“Aku
paling rajin di perpus waktu kuliah!” sahut Yuna kesal.
Jheni
tertawa kecil. “Iya. Ngerjain tugas doang. Bukan buat baca buku. Lagian, kalo
kamu emang anak pintar dan berbakat, nggak perlu sampe tidur di perpustakaan
setiap hari buat ngerjain tugas.”
“Iih
... nggak usah ungkit masa lalu!” pinta Yuna sambil memonyongkan bibirnya.
“Kenapa?”
tanya Jheni terkekeh.
“Aku
kan tetap harus kerja keras supaya bisa lulus tepat waktu, Jhen. Aku nggak bisa
berlama-lama di sana karena ayah lagi sakit. Kalo aku nggak belajar
bener-bener, aku bakal ngecewain ayah waktu dia bangun.”
“Hmm
... iya, iya. Nggak usah ingat-ingat lagi masa lalu yang bikin kamu sedih!
Sekarang, kamu sudah bahagia punya suami kamu yang perfect banget itu.”
“Kamu
yang ungkit duluan,” sahut Yuna.
“Iya,
iya. Nggak ungkit lagi,” tutur Jheni. Ia melihat-lihat buku yang sudah menumpuk
di atas meja, tepat di hadapannya. “Kamu mau tidur di perpustakaan lagi? Buku
segini banyaknya, kapan kelar bacanya?”
Yuna
menghela napas sambil menatap Jheni. “Kamu tadi sarapan apa sih, Jhen?”
Jheni
melirik ke langit-langit ruangan. “Aku sarapan mie instan. Nggak sempat masak.”
“Pantes
aja isi otaknya nggak bernutrisi,” celetuk Yuna.
“Kamu
ngatain aku apa? Otak kamu yang sering error.”
“Otak
kamu juga!” dengus Yuna sambil memilih beberapa buku yang ada di hadapannya.
“Bantu aku cari buku yang bagus!”
“Ini
udha bagus semua, Yun.”
“Aku
mau bawa pinjam bukunya. Nggak mungkin aku baca di sini semua, Jhen. Beberapa
buku aja. Aku lihat-lihat dulu mana yang cocok.”
“Hmm.”
Jheni langsung mengambil satu buku dan membacanya. “Yun, yang ini bagus. Kamu
mau?”
Yuna
menganggukkan kepala tanpa mengalahkan pandangannya dari buku.
“Jhen,
kamu tahu nggak obat herbal yang cocok untuk bayi?”
“Obat
herbal?”
Yuna
menganggukkan kepala. “Iya. Buat persiapan pertolongan pertama kalau misalnya
si kecil demam, batuk atau pilek. Kalau bayi, nggak boleh minum obat ‘kan?”
“Oh.”
“Di
buku KIA ada panduan sih, tapi aku masih perlu banyak referensi. Nggak mau jadi
ibu yang payah buat baby-ku,” tutur Yuna sambil membaca-baca isi buku yang
ingin ia pinjam.
Jheni
mengangguk-anggukkan kepala menanggapi ucapan Yuna. “Yun, aku haus. Aku keluar,
beli minum dulu ya!”
Yuna
mengangguk sambil tersenyum.
“Kamu
mau minum apa?”
“Air
mineral aja, Jhen.”
“Nggak
mau susu?”
“Mmh
... boleh juga.”
“Huu
... dasar!” dengus Jheni sambil bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi
meninggalkan Yuna.
Jheni
melangkahkan kakinya memasuki toko kelontong yang letaknya tak jauh dari
perpustakaan tersebut. Ia membeli beberapa minuman dan cemilan untuk ia nikmati
bersama Yuna.
Jheni
langsung keluar dari toko kelontong tersebut usai membayar semua belanjaannya.
BRUUG
...!
Seorang
wanita dengan pakaian yang berantakan dan rambut yang tak teratur, tiba-tiba
menabrak tubuh Jheni. Membuat kantong belanjaan yang ada di tangannya jatuh ke
lantai.
“Ma-Maaf,
Mbak!” tutur wanita itu sambil menundukkan kepala dan membantu mengambil
kantong belanjaan Jheni yang terjatuh.
“Nggak
papa. Lain kali lebih hati-hati kalau jalan. Untung aku bukan mobil,” sahut
Jheni sambil memerhatikan wajah wanita itu.
Wanita
itu menganggukkan kepala sambil menyembunyikan wajahnya dari tatapan Jheni.
Jheni
semakin penasaran, ia terus memerhatikan perempuan itu dengan seksama. “Kok,
kayak familiar? Kita pernah kenal?” tanya Jheni sambil mendekati wanita
tersebut.
Wanita
itu menggelengkan kepala.
Jheni
mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi. “Kamu ... Amara ‘kan? Mantan tunangan
Chandra?” tanyanya kemudian.
Wanita
itu menggelengkan kepala. Ia tak memiliki keberanian untuk menatap wajah Jheni.
Dunia seperti berputar begitu cepat. Saat masih menjadi tunangan Chandra, ia
bisa berjalan penuh percaya diri dengan segala hal yang dimilikinya. Perawatan
tubuh yang mahal, pakaian yang berkelas dan semua orang menghargainya.
Sekarang,
ia bahkan tak punya keberanian untuk menatap Jheni. Ia hanya bisa menundukkan
kepala, menatap lantai yang ada di bawah kakinya. Kakinya yang dulu terbiasa
mengenakan sepatu mahal dan pergi ke tempat-tempat mahal pula, kini hanya
mengenakan sendal jepit yang membawanya pergi ke pasar-pasar kecil.
“Kenapa
kamu jadi kayak gini?” tanya Jheni sambil menatap tubuh Amara yang terlihat
sangat berantakan. Pakaiannya juga terlihat biasa saja. Pergi keluar hanya
mengenakan daster yang harganya tak lebih dari lima puluh ribu rupiah.
“Kamu
salah mengenali orang. Aku bukan Amara,” tutur wanita itu sambil berbalik dan
melangkah pergi.
“Tunggu
...!” pinta Jheni sambil menghadang Amara agar tidak pergi meninggalkannya
begitu saja. “Aku tahu kalau kamu Amara. Aku nggak buta.”
Amara
tetap saja tak ingin mengakui dirinya. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya dari
pandangan Jheni.
“Amara
...!” panggil Jheni. “Kamu sekarang tinggal di dekat sini?”
Wanita
itu menggelengkan kepala. “Aku nggak kenal sama kamu,” ucapnya sambil berlari
pergi meninggalkan Jheni.
Jheni
menautkan kedua alisnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Masa aku
salah ngenalin orang?” gumamnya. “Mirip banget sama Amara, cuma penampilannya
aja yang beda jauh.”
Mata
Jheni kemudian tertuju pada wanita pemilik toko kelontong, ia menghampiri
wanita tersebut dan bertanya, “Bu, Ibu kenal sama cewek itu?” tanya Jheni.
“Kenal,
namanya Mbak Sarah.”
“Sarah?”
Jheni mengernyitkan dahi. Ia tidak mempercayainya begitu saja. Ia sangat yakin
kalau wanita itu adalah Amara, bukan Sarah.
Jheni
tersenyum menatap wanita pemilik toko tersebut. “Makasih informasinya, Bu!”
tuturnya sambil berlalu pergi. Ia buru-buru kembali ke perpustakan dan
menghampiri Yuna.
“Yun
...!”
“Umh.”
“Kamu
tahu nggak, aku ketemu siapa?”
“Nggak,”
jawab Yuna sambil menggelengkan kepala.
“Aku
kasih tahu. Aku barusan ketemu sama Sarah.”
“Sarah?
Siapa?”
“Amara,
mantan tunangan Chandra.”
“Oh.
Amara ...,” sahut Yuna sambil manggut-manggut. “Eh, kenapa jadi Sarah?”
tanyanya sambil menatap wajah Jheni.
“Otakmu
ini kenapa responnya lambat banget!?” seru Jheni kesal.
“Aku
lagi baca buku, Jhen. Fokusku terbagi.”
“Dengerin
aku dulu!” pinta Jheni.
Yuna
langsung menatap wajah Jheni. “Gimana?”
“Si
Amara itu berubah namanya jadi Sarah. Penampilannya dia juga jauh beda. Nggak
kayak biasanya. Dia nggak kelihatan kayak orang kaya. Cuma pake daster murahan
dan sendal jepit.”
“Kok
bisa? Kamu salah ngenalin orang, kali.”
“Aku
nggak mungkin salah. Aku yakin banget kalo itu si Amara.”
“Nggak
mungkin. Aku yakin banget itu si Amara. Apa dia bener-bener udah jatuh miskin?”
“Bisa
jadi. Suaminya dia banyak hutang.”
“Kasihan
juga ya?” tutur Jheni sambil melihat ke luar jendela. “Menurut kamu, apa aku
harus ngasih tahu Chandra?”
Yuna
menghela napas. “Aku juga nggak tahu, Jhen. Kamu yang pacarnya Chandra.
Kira-kira, gimana reaksi dia kalau tahu mantan tunangannya jadi kayak gitu?”
“Huft,
aku juga bingung.”
“Ya
udahlah. Pura-pura nggak tahu aja.”
“Mana
bisa begitu. Aku udah lihat dengan mata kepalaku sendiri, Yun.”
“Dia
pernah jahat sama kamu. Nggak usah baik sama dia!” celetuk Yuna sambil
menyeruput susu kotak yang dibelikan Jheni.
“Emangnya
kalau dia pernah jahat sama kita, kita harus jahat juga? Semua orang bisa
berubah. Kamu juga seumur hidup dijahatin sama Bellina. Tapi nggak pernah balas
jahatin dia.”
“Aku
nggak bisa jadi orang jahat,” sahut Yuna.
Jheni
tersenyum. Ia mencubit kedua pipi Yuna. “Ini yang bikin aku kagum sama kamu.
Makanya, jangan nyuruh aku jadi jahat juga! Aku mau selidiki si Amara. Kamu
yang kasih tahu si Chandra ya!” pintanya.
“Kasih
tahu apa?” tanya Yuna.
“Kasih
tahu soal Amara yang sekarang.”
Yuna
mengangguk-anggukkan kepala. “Aku pikirin dulu caranya.”
“Nggak
usah dipikirin, langsung ngomong aja ke Chandra!”
“Terus,
kamu maunya Chandra ngapain kalo aku udah bilang ke dia? Kamu mau si Chandra
balik ke Amara lagi? Kamu udah susah payah bikin Chandra move on dari Amara.
Sekarang, malah mau sodorin Amara ke Chandra lagi? Kamu gila ya!?”
“Yun,
aku emang cinta sama Chandra. Tapi aku juga nggak bisa maksain Chandra harus
cinta sama aku. Dengan begini, aku bisa tahu sebenarnya hati Chandra saat ini
untuk siapa.”
Yuna
terdiam selama beberapa saat. “Kamu masih ragu sama Chandra?”
“Aku
nggak mau ragu, Yun. Tapi Chandra itu pendiem banget di depan semua orang.
Nggak romantis kayak Yeriko. Nggak lucu kayak Lutfi. Kalau dia sayang sama aku,
dia nggak akan balik ke Amara lagi walau Amara godain dia. Kayak Yeriko yang
selalu bisa nolak Refi meskipun cewek gila itu ngejar-ngejar Yeriko.”
“Oh
... jadi, kamu mau menguji cintanya Chandra?” goda Yuna.
“Sekalian
aja. Aku bisa bantu hidup Amara, juga bisa lihat seberapa besar cintanya
Chandra ke aku.”
“Oke,
kalo begitu. Aku dukung!” seru Yuna.
“Sst
...! Jangan keras-keras!” bisik Jheni karena semua mata tiba-tiba tertuju
padanya.
Yuna
tersenyum. Mereka bergegas memilih buku-buku yang akan mereka pinjam dari
perpustakaan tersebut.
((Bersambung ...))
Thanks udah dukung cerita ini terus.
Sapa terus di kolom komentar biar author makin semangat
ngais ide setiap hari.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment