Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 430 : Iseng Banget!

 


“Yer, kemarin si Icha ngasih tahu aku kalau dia ketemu sama Amara di klub malam tempat dia pernah kerja,” tutur Lutfi.

 

“Terus?”

 

“Katanya, dia datang dan pergi sama Oom-Oom gitu dan ganti-ganti. Jangan-jangan, dia jual badan buat bayar hutang-hutang suaminya itu.”

 

“Dia udah keluar dari Menur?”

 

“Iya. Sempat dirawat di sana karena stress. Tapi, kayaknya dia malah menikmati kerjaannya yang sekarang. Mungkin, karena bisa dapet uang banyak dengan cara yang nikmat.”

 

Yeriko tersenyum sinis.

 

“Untung aja si Chandra gak beneran nikah sama tuh cewek. Heran gua, mantan-mantan kalian ini nggak ada yang bener satu pun,” celetuk Lutfi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Kayak mantanmu ada yang bener aja,” sahut Yeriko.

 

“Mantan-mantanku nggak ada yang gila kayak Refi,” ucap Lutfi tak mau kalah.

 

Yeriko langsung memijat keningnya. “Kenapa dia terlalu terobsesi sama aku? Padahal, di luar sana masih ada banyak cowok yang bisa bikin dia bahagia.”

 

“Dulu, kamu memperlakukan dia terlalu manja. Semua kamu kasih gitu aja. Sekarang, dia terobsesi banget sama kamu.”

 

“Ah, sudahlah! Nggak usah membicarakan kesalahanku yang dulu. Aku yang udah salah menilai dia.”

 

Lutfi tersenyum menatap Yeriko. Ia mengalihkan pandangannya pada Icha yang tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka.

 

“Makan, yuk!” ajak Icha.

 

Lutfi dan Yeriko mengangguk. Mereka bergegas ke meja makan untuk menikmati makan siang bersama.

 

Usai makan siang, Icha dan Yuna bersantai di balkon. Sementara Yeriko dan Lutfi memilih untuk bersantai di halaman belakang seperti biasa.

 

“Yun, mereka lagi ngobrolin apa ya? Kelihatannya serius banget,” tanya Icha sambil menatap dua pria yang sedang duduk santai di halaman belakang.

 

Yuna mengedikkan bahunya sambil menyandarkan lengannya di pagar balkon yang menghadap ke belakang rumahnya. “Palingan ngomongin bisnis.”

 

“Cowok-cowok, kalau ngumpul yang diomongin kerjaan mulu,” celetuk Icha.

 

“Nggak kayak kita, yang diomongin cowok-cowok ganteng di drama televisi, belanja online, gosip artis, sampai hal-hal nggak penting yang nggak ada hubungannya sama sekali sama kehidupan kita.”

 

Icha tertawa mendengar ucapan Yuna. “Iya juga, sih. Apalagi gosipin temen sendiri, nggak ada habisnya.”

 

“Jangan-jangan, kamu juga gosipin aku ya?” dengus Yuna.

 

Icha menganggukkan kepala. “Emang iya. Tapi, gosipnya sama Jheni dan Lutfi doang.”

 

“Bagus gosip di medsos kayak Refi, tuh. Biar makin terkenal.”

 

“Kamu udah terkenal, Yun. Nggak pengen jadi artis?”

 

“Ogah, ah! Lebih enak kayak gini. Aku nggak suka hidupku di eksploitasi. Kamu sendiri, kenapa nggak jadi artis? Lutfi kan punya perusahaan perfilman. Kalau kamu mau, bisa jadi artis dengan mudah.”

 

 Icha mengedikkan bahunya. “Jadi artis, sibuk melayani penggemar. Udah gitu, privasi kita bakal dikorek-korek sampai ke akar-akarnya kalau udah ketemu sama haters. Mentalku nggak kuat buat menghadapi komentar pedas dari netizen. Enak kayak gini aja. Mau ngapa-ngapain bebas.”

 

“Iya, juga sih.Aku juga ngerasa begitu. Dulu, mau makan di pinggir jalan pun bisa. Suka-suka aja gitu. Makanya, Yeriko nggak mau diajak makan di sembarang tempat. Dia takut dikerubungi orang banyak. Padahal, suamiku itu bukan artis.”

 

“Emangnya ada yang berani deketin Yeriko?”

 

“Banyak, Emak-emak.”

 

Icha tertawa kecil. “Nggak papa, kali. Paling cuma ngajak foto bareng doang. Lutfi pun gitu.”

 

“Apalagi, Lutfi sering digosipin sama artis dan selebgram juga ya? Kuat banget mental kamu, Cha. Bisa nerima Lutfi foto mesra sama cewek lain. Kalo aku ... udah mencak-mencak lihat Yeriko deket sama perempuan lain.”

 

Icha tertawa kecil sambil menatap Yuna. “Aku udah biasa sama Lutfi yang kayak gitu. Aku percaya sama dia, kok. Udah kehidupannya dia dari awal seperti itu. Aku nggak mungkin memaksa dia untuk berubah. Aku terima dia apa adanya.”

 

Yuna menatap Icha sambil memain-mainkan matanya. “So sweet! Aku jadi pengen punya pacar kayak kamu.”

 

Icha tertawa kecil sambil mengacak rambut Yuna. “Kalo kamu cowok, boleh deh jadi selingkuhanku.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Enak aja!”

 

Icha terkekeh. “Eh, ada Chandra.” Pandangannya langsung beralih pada tiga pria yang ada di bawah mereka.

 

Yuna langsung menoleh ke bawah. “Iya. Bukannya dia seharusnya sibuk?”

 

“Udah nggak, kali. Riyan aja udah ada di sana.”

 

“Woi ...!” seru Jheni sambil menepuk pundak Yuna dan Icha bersamaan.

 

“Astaga! Kamu bikin aku kaget aja!” Yuna langsung berbalik dan menatap Jheni penuh kekesalan. “Kalo aku jantungan gimana? Mau tanggung jawab!?”

 

Jheni terkekeh melihat reaksi Yuna. Sementara, Icha terlihat biasa saja. “Icha aja nggak kaget.”

 

“Dia kaget juga. Cuma dia diam aja,” sahut Yuna.

 

“Udah, jangan marah-marah! Ntar bayi di perut kamu ngamuk loh. Emaknya pemarah banget!”

 

Yuna memonyongkan bibirnya.

 

“Kalian baik-baik aja kan tanpa aku?” tanya Jheni.

 

Icha mengangguk sambil tersenyum.

 

“Masalah Refi gimana?” tanya Jheni lagi.

 

“Makin ngeselin,” sahut Yuna.

 

“Enaknya kita apain? Udah lihat postingan barunya dia di Instagram?”

 

“Udah. Ngeselin, kan?” sahut Yuna.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Iya. Nggak usah dihiraukan, Yun!” tutur Jheni sambil duduk di kursi yang ada di balkon tersebut.

 

“Maunya sih gitu. Tapi, aku kesel banget sama dia karena makin hari makin menjadi. Udah gitu, Yeriko terus yang dibahas sama dia. Apa coba maunya? Cinta pertama ... cinta pertama ... gayanya sok manis. Jijik aku lihatnya!” ucap Yuna kesal.

 

“Hush, kamu lagi hamil. Nggak boleh maki-maki orang sembarangan. Ntar anakmu mirip Refi,” tutur Icha.

 

“Iih ... kenapa kalian ngomong gitu terus!” seru Yuna kesal. “Ini anakku, bukan anaknya Refi. Gimana bisa mirip dia?”

 

Jheni dan Icha terkekeh sambil menatap Yuna.

 

“Cha, aku barusan bawa buah-buahan. Kamu bikinin kita jus, dong!” pinta Jheni.

 

“Kok, aku?”

 

“Jus bikinan kamu enak banget, sumpah! Kalo aku yang bikin, nggak seenak jus buatan kamu,” tutur Jheni.

 

“Halah ... alasan! Padahal malas bikin,” sahut Icha sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Jheni dan Yuna. Ia berjalan menuju dapur yang ada di lantai bawah untuk membuat jus.

 

“Cha, lagi bikin apa?” seru Lutfi yang melihat Icha dari balik kaca jendela. “Aku mau ya!”

 

Icha tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

Jheni terus memerhatikan layar ponselnya. Ia tak berhenti mengikuti postingan Refi di media sosial. Ia sangat penasaran dengan komentar-komentar yang ada di postingan itu. Fans berat Refi mulai menyerang Yuna lagi dan hal ini membuat ia semakin geram.

 

“Mereka ini bego atau gimana? Waktu itu si Yeriko udah bikin konferensi pers. Kenapa masih aja ngatain kamu sebagai pelakor,” tutur Jheni.

 

“Mana, Jhen?” tanya Yuna sambil melihat layar ponsel Jheni. Ia juga penasaran dengan komentar-komentar yang ada di dalam postingan tersebut.

 

“Ini loh, lihat!” Jheni menyodorkan ponselnya. “Biar aku balasin netizen yang sok tahu ini!”

 

“Nggak papa dibalas?”

 

“Harus gitu, biar nggak sembarangan berkomentar. Nggak tahu aslinya gimana, bisanya ngata-ngatain kamu sebagai pelakor. Jelas-jelas, si Reptil itu yang pelakor nggak tahu diri!” cerocos Jheni kesal.

 

“Aku juga mau komentarin, ah. Biar Refi makin kepanasan. Bikinin aku akun instagram!” perintah Yuna.

 

“Bikin sendiri, tinggal download aja, Yun!” sahut Jheni.

 

“Bagusnya pakai nama apa, Jhen?”

 

“Pake nama kamu aja, biar makin seru,” jawab Jheni.

 

“Hahaha.”

 

Yuna dan Jheni mulai asik membaca komentar yang ada di dalam postingan Refi.

 

“Aku komen satu aja, Jhen.” Yuna langsung mengirim satu komentar ke postingan tersebut dan langsung mendapatkan banyak balasan dari penggemar Refi. Ada yang terus menyerang Yuna, ada juga yang berpihak pada Yuna.

 

Icha yang baru muncul pun ikut berkomentar. Seketika, komentar di postingan Refi semakin ramai dan membuat ketiga gadis itu terus mengikutinya satu per satu.

 

Jheni terlihat sangat bersemangat membalas komentar-komentar yang ada di dalam postingan tersebut. Ia berharap, komentar satire yang ia tulis bisa membuat perasaan Refi semakin tak karuan. Ia ingin membuat Refi semakin resah karena Yuna menanggapi postingan Refi dengan santai dan elegan.

 

“Please, kalo nggak tahu apa-apa nggak usah berkomentar!” dengus Jheni sambil menatap layar ponselnya.

 

“Eh, ada yang bawa-bawa undang-undang ITE, nih. Dikiranya kita takut apa? Orang dia yang fitnah. Oke. Kita jabanin aja. Kita lihat, siapa yang akan menang kalau sampai pencemaran nama baik ini dibawa ke meja hijau,” gumam Jheni.

 

“Udah, Jhen. Palingan si Refi sekarang lagi kebingungan sendiri.”

 

“Hahaha. Biar kepok! Aku mau bawa penggemar-penggemarku buat nyerang di Refi juga, hihihi.” Jheni terkekeh geli.

 

Ketiga gadis itu semakin iseng dengan postingan Refi yang ada di media sosial. Yuna yang awalnya ingin marah-marah, justru sering tertawa membaca kekonyolan-kekonyolan yang ada di postingan tersebut.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar Author makin semangat buat update bab setiap hari. Jangan lupa sapa di kolom komentar ya! Big thanks buat yang udah kasih hadiah untuk cerita ini.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 429 : Jangan Gegabah!

 


Refi langsung dikepung oleh banyak wartawan begitu ia keluar dari studio.

 

“Mbak Refi, jadi gosip yang selama ini beredar itu benar? Kalau Mbak Refi dan Tuan Ye masih memiliki hubungan rahasia?” tanya salah seorang wartawan kepada Refi.

 

Refi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari wartawan tersebut.

 

“Mbak, kenapa nggak berusaha mempertahankan cinta pertamanya Mbak Refi?”

 

“Mbak, waktu konferensi pers beberapa bulan lalu. Tuan Ye sudah membuat pernyataan kalau pernikahan dia tidak ada hubungannya dengan Mbak Refi. Kenapa kabar yang beredar sekarang justru hubungan kalian yang terlihat sangat dekat?”

 

Refi tersenyum ke arah wartawan yang mengerubungi dirinya. “Mungkin, hanya perasaan kalian saja. Saya sudah tidak memiliki hubungan serius dengan pria yang kalian maksud.”

 

“Tapi, dari video yang diunggah Mbak Refi, kami semua bisa mengerti kalau pria yang dimaksud oleh Mbak Refi adalah pria yang sangat mencintai Mbak Refi. Kenapa dia bisa selingkuh dan menikah dengan perempuan lain?”

 

“Kalau itu, tanyakan langsung ke dia!”

 

“Dia siapa, Mbak? Apa orang yang disebut Tuan Ye itu?”

 

Refi tersenyum menanggapi pertanyaan dari wartawan tersebut. Ia langsung masuk ke dalam mobil yang sudah disediakan oleh Deny.

 

“Huft ...!” Refi menghela napas begitu ia sudah masuk ke dalam mobil. “Gila itu wartawan, pertanyaannya muter-muter. Aku bingung gimana jawabnya,” celetuknya.

 

Deny tersenyum kecil. “Jawab aja sesuai dengan kejadian yang sebenarnya!” perintahnya.

 

“Masalah konferensi pers yang waktu itu, masih dibahas sama mereka,” tutur Refi sambil mengibaskan tangan ke wajahnya. “Aku harus gimana?”

 

“Kamu tunggu aja gimana Tuan Muda itu bereaksi!” pinta Deny.

 

“Gimana kalau dia masih nggak ngerespon?”

 

“Dia pasti akan ngerespon. Cuma butuh waktu sedikit lagi. Ini masih pemanasan,” tutur Deny.

 

“Kamu bisa jamin kalau Yeriko bakal muncul dan nyari aku?” tanya Refi.

 

Deny menganggukkan kepala. “Setelah dia muncul, selanjutnya aku serahin ke kamu.”

 

“Kamu harus bantu aku, Den!” pinta Refi.

 

“Aku udah banyak bantu kamu. Kalau begini terus, aku nggak punya waktu banyak untuk bersenang-senang.”

 

“Kamu sendiri yang menawarkan diri untuk jadi managerku. Kenapa sekarang malah ngeluh terus?” protes Refi kesal.

 

“Kalau gitu, kasih aku waktu untuk bersenang-senang!”

 

“Oke. Oke.”

 

Deny tersenyum penuh kemenangan.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain, Icha masih terus menghibur Yuna agar tidak terlalu memikirkan gosip yang sedang beredar.

 

“Udah, Yun. Nggak usah mikirin kelakuan si Refi yang gila itu!” pinta icha sambil mengelus-elus bahu Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Perhatian mereka tiba-tiba beralih pada suara siulan yang masuk ke dalam rumah Yuna.

 

“Jam berapa ini?” tanya Icha sambil melihat jam di ponselnya. “Jam sembilan,” jawabnya sendiri.

 

“Itu si Bayiik?” tanya Yuna balik.

 

“Kayaknya sih, iya.” Icha langsung bangkit dari sofa. Ia bergegas ke ruang tamu dan mendapati Lutfi sudah berdiri di sana.

 

“Kamu? Ngapain pagi-pagi udah ke sini?” tanya Icha.

 

“Harusnya aku yang tanya itu ke kamu,” jawab Lutfi. “Bisa-bisanya keluar rumah pagi-pagi, suami ditinggalin gitu aja.”

 

“Udah aku bikinin sarapan buat kamu. Aku juga udah siapin pakaian ganti kamu seperti biasa. Aku disuruh Yeriko ke sini buat nemenin Yuna.”

 

“Yeriko juga nyuruh aku ke sini.”

 

“Ngapain?” tanya Icha.

 

“Menghibur Kakak Ipar,” jawab Lutfi sambil memainkan alisnya. “Aku kan pria penghibur nomor satu di kota ini.”

 

“Halah, masih lucuan Cak Percil dari pada kamu.”

 

“Kenapa bawa-bawa Cak Percil?” tanya Lutfi.

 

“Emang kenyataannya gitu.”

 

“Jangan kamu bandingin aku sama dia. Dia kan emang pelawak. Eh, Kakak Ipar mana?” tanya Lutfi.

 

“Di ruang tengah.”

 

“Tumben banget dia nggak menyambut kedatanganku?” Lutfi langsung melangkahkan kakinya ke ruang tengah.

 

“Emangnya kamu siapa? Kok, minta disambut?” tanya Icha sambil mengiringi langkah Lutfi.

 

Lutfi terkekeh. “Eh, dia udah lihat acara tv-nya Refi?” bisiknya di telinga Icha.

 

Icha menganggukkan kepala. “Makanya, sekarang dia lagi galau banget.”

 

“Galau kenapa?”

 

Icha tersenyum sambil menggelengkan sedikit kepalanya.

 

Lutfi menghampiri Yuna yang sedang berbaring di atas sofa. “Kakak Ipar ...!” serunya.

 

“Hmm,” sahut Yuna santai.

 

“Kenapa nggak menyambut kedatanganku?” tanya Lutfi.

 

“Males,” jawab Yuna. Ia terlihat tak bersemangat. “Udah ada Icha juga.”

 

“Aku punya hadiah buat Kakak Ipar,” tutur Lutfi sambil menyodorkan cake box ke arah Yuna.

 

“Wah ...!” Yuna langsung meraih box tersebut dan membukanya. “Kamu beli di mana? Ini toko bukanya jam sepuluhan. Kamu bisa dapet di jam segini?” tanya Yuna.

 

Lutfi tersenyum menatap Yuna. “Yang punya toko kue temenku. Gampanglah soal kayak gini, mah.”

 

Yuna manggut-manggut sambil menikmati dessert yang dibawa Lutfi. “Mmh ... enak!”

 

Icha dan Lutfi saling pandang sambil tersenyum. Mereka berusaha membuat suasana hati Yuna membaik.

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko muncul dan langsung menghampiri Yuna.

 

“Ay, kenapa pulang jam segini?” tanya Yuna sambil melihat jam yang masih menunjukkan jam sebelas siang.

 

“Pengen makan siang di rumah bareng kalian,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

“Chandra nggak ikut?” tanya Lutfi.

 

“Chandra sama Riyan, aku suruh kelarin kerjaan dulu. Banyak hal yang harus diurus.”

 

“Oh ... iya. Aku dengar-dengar, kamu mau akuisisi perusahaan teknologi itu ya? Gila kamu, Yer. Semuanya kamu lahap.”

 

“Aku butuh tambahan tim IT. Produk mereka bagus dan bisa bikin semua perusahaan lebih terintegrasi. Kemarin aku ada pertemuan dengan komunitas pecinta lingkungan. Salah satu program CSR perusahaan juga mengurangi penggunaan kertas. Semua laporan akan perlahan berubah ke sistem digitalisasi. Aku tertarik dengan produk mereka itu.”

 

“Bukannya kamu sudah punya tim IT sendiri?”

 

“Iya. Tapi, mereka semua masih fokus ke maintenance data. Belum sampai peluncuran produk.”

 

“Pasti sibuk banget, nih. Aku rasa, nggak mudah mengambil alih perusahaan itu.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Kita lihat nanti!”

 

“Kalau kamu sibuk banget, kenapa masih sempat pulang ke rumah? Aku bisa antar makan siang ke kantor kamu,” tutur Yuna.

 

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Kamu udah masak?”

 

“Belum.” Yuna langsung bangkit dari tempat duduk. “Aku ke dapur dulu!”

 

“Cha, temenin dia!” perintah Yeriko.

 

Icha menganggukkan kepala. Ia mengerti maksud Yeriko. Yeriko memang meminta dirinya untuk mengalihkan perhatian Yuna pada hal lain agar tidak kepikiran dengan apa yang sudah dilakukan oleh Refi.

 

“Yer, sekarang si Refi makin jadi. Kakak Ipar juga kelihatan mulai murung. Gimana? Apa kita percepat aja?” tanya Lutfi.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Kita pantau dulu!” pintanya. “Aku tahu apa yang diinginkan mereka. Mereka menargetkan aku.”

 

Lutfi menghela napas. “Aku heran, kenapa ada perempuan kayak Refi gitu. Belum si Belatung itu kalo bikin masalah lagi. Kasihan banget Kakak Ipar. Lagi hamil, harus berhadapan dengan dua wanita gila itu.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Mental Yuna cukup kuat walau dia memang banyak berpikir. Dia pernah mengalami masalah yang lebih besar lagi. Aku cuma khawatir, trauma masa lalunya kembali dan mempengaruhi kehamilannya.”

 

“Ya udah, kita percepat aja!”

 

“Jangan gegabah, Lut!” pinta Yeriko. “Jalani aja sesuai prosedur dan peraturan perusahaan kamu itu.”

 

“Oke. Oke. Tapi, gimana sama Kakak Ipar kalau kayak gini terus?”

 

“Dia mudah untuk dihibur. Asal nggak sering buka televisi dan baca berita di internet. Aku bisa meyakinkan dia kalau semua akan baik-baik aja. Refi makin berbahaya buat dia.”

 

“Enaknya diapain itu si Reptil?”

 

Yeriko berbisik ke telinga Lutfi.

 

“Hahaha. Bener-bener,” tutur Lutfi sambil tertawa lebar.

 

Yeriko dan Lutfi terus berbicara tentang banyak hal yang akan mereka rencanakan. Sementara, wanita-wanita mereka sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang bersama. Tentunya, dibantu oleh Bibi War yang tak pernah membiarkan Yuna bekerja sendirian.

 

Icha terus memerhatikan wajah Yuna untuk memastikan kalau sahabatnya itu tidak murung lagi. Ia juga bercerita tentang banyak hal, termasuk tentang kedua orangtuanya. Kini, ia memilih memulai hidup baru bersama kekasih dan sahabat-sahabat yang selalu mendukungnya.

 

 

((Bersambung ...))

Terima kasih sudah setia menemani keseharian Mr. & Ms. Ye ...

Dukung terus biar author semangat update setiap hari.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 428 : Perhatian dari Kejauhan

 


“Mbak, ada Mbak Icha di luar.” Bibi War menghampiri Yuna yang sedang menonton televisi.

 

“Suruh ke sini aja, Bi!” perintah Yuna.

 

“Udah Bibi suruh masuk.”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. Ia bergegas bangkit dari tempat duduknya. Namun, langkahnya terhenti saat ia mendengarkan nama Refi muncul dari layar televisi. Ia langsung memutar kepala dan menatap wajah Refi yang ada di dalam acara variety show di stasiun televisi tersebut.

 

“Kok, dia bisa masuk acara tv?” tanya Yuna sambil mengerutkan dahi. Ia terus menatap layar televisi karena penasaran dengan apa yang ingin dilakukan oleh Refi.

 

“Selamat pagi, Mbak Refina ...!” sapa host yang ada di acara variety show tersebut.

 

“Selamat pagi ...!” sapa Refi sambil tersenyum manis.

 

Yuna terus menyaksikan acara tersebut dengan seksama. Ia mendengarkan perkenalan yang dilakukan Refi dan host di acara tersebut.

 

“Mbak Refi, sampai sekarang video Mbak Refi masih ada di pencarian teratas nih. Banyak banget netizen yang baper sama video itu. Mereka bilang, videonya romantis banget. Inspirasinya dari mana, Mbak?” tanya host acara tersebut.

 

Refi tersenyum manis. “Inspirasinya datang dari cinta pertamaku.”

 

“Wow ...! Cinta pertama? Cinta pertama memang sangat indah. Pasti, dia sosok yang tidak akan pernah terlupakan. Sampai sekarang, cinta pertama itu masih?”

 

Refi menggelengkan kepala. “Kami sudah berpisah sejak tiga tahun lalu. Hanya saja, ikatan hati di antara kami masih ada. Rasanya, sulit untuk melupakan dia. Makanya, aku buat video itu sebagai curahan hati saya selama ini.”

 

“Wah ...! Cinta pertama memang sulit untuk dilupakan. Kata orang, cinta pertama yang paling melekat seumur hidup. Saya jadi penasaran, nih. Apa yang bikin Mbak Refi jatuh cinta sama dia?”

 

Refi tersenyum kecil. “Dia ... sosok pria yang romantis, baik, penyayang dan selalu mendukung saya dalam meraih impian.”

 

“Sosok yang sempurna. Lalu, apa yang membuat kalian berpisah?”

 

“Kami hanya berpisah sementara. Terpisah jarak karena aku harus mengejar impianku untuk menjadi ballerina.”

 

“Di video itu juga ada cuplikan tarian Mbak Refi yang sangat indah. Kira-kira, bisa nggak menampilkan tari balet di hadapan semua pemirsa televisi kami?”

 

Refi tertawa kecil. “Saya sudah tidak bisa menari lagi sejak kecelakaan. Jadi, saya memilih untuk mencari profesi lain.”

 

“Sedih banget. Padahal, karir Mbak Refi di Paris lumayan bagus.”

 

Refi hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Jadi, rencana selanjutnya ... apa nih, Mbak?” tanya host tersebut. “Apakah akan merambah ke dunia akting atau tarik suara?”

 

“Saya tertarik untuk akting, sih.”

 

“Semoga makin sukses, Mbak Refi. Oh ya, ada beberapa pertanyaan dari netizen untuk Mbak Refi, nih. Apa benar kalau cinta pertama Mbak Refi adalah Tuan Ye?”

 

Refi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan host tersebut.

 

“Tersenyum itu ... apa artinya iya?” desak host tersebut.

 

“Ah, Mbak bisa aja,” jawab Refi tersipu.

 

“Mbak, apa Tuan Ye yang dimaksud ini adalah pengusaha muda yang kaya raya itu? Yang waktu itu pernah digosipkan sama Mbak Refi juga?”

 

Refi tertawa kecil menanggapi pertanyaan host tersebut.

 

Yuna yang menonton acara tersebut mulai bergumam kesal.

 

“Apa benar Mbak Refi dan dia putus karena dia selingkuh dengan wanita lain?” tanya host tersebut.

 

Refi menghela napas. “Sepertinya, semua orang sudah tahu soal ini,” jawabnya sambil tersenyum.

 

“Berarti, rumor yang beredar di luar sana itu benar?”

 

“Ada yang benar, ada juga yang tidak benar,” jawab Refi.

 

“Yang nggak bener yang mana nih, Mbak?” tanya host tersebut.

 

“Biarkan orang yang menilai. Rasanya, saya sudah sangat terbuka akan hal ini.”

 

“Wah, sepertinya akan terus menjadi kontroversi, nih. Soalnya, saya dengar kalau cinta pertamanya Mbak Refi itu sudah menikah. Apa yang dinikahi adalah wanita selingkuhan yang digosipkan itu?”

 

“No comment,” jawab Refi sambil menahan tawa.

 

“Jangan no comment, Mbak! Netizen udah terlanjur menerka-nerka, nih. Rumor mana yang benar?

 

“Cuma rumor, belum tentu fakta,” jawab Refi.

 

“Jadi, faktanya seperti apa?”

 

“Faktanya, seperti yang sudah kalian semua lihat dalam video itu.”

 

“Terenyuh sekali kalau melihat video itu. Cinta memang memberikan inspirasi yang sangat besar untuk seseorang. Kalau saya jadi cowoknya, saya pasti akan terharu melihat video yang dibuat sama Mbak Refi ini.”

 

“What!? Ini host ngeselin juga!” Yuna mulai mencibir. “Suamiku nggak mungkin terharu lihat video sampah kayak gitu! Si Refi makin ngeselin aja, sih? Dikasih hati, minta jantung!” seru Yuna kesal sambil mengetuk-ngetuk wajah Refi di televisi.

 

“Kamu kenapa, Yun?” tanya Icha yang tiba-tiba sudah ada di belakang Yuna.

 

Yuna langsung berbalik, ia menatap Icha yang sudah berdiri di sana. “Icha? Sorry ...! Aku lupa mau nyamperin kamu gara-gara acara tv ngeselin ini!” tutur Yuna kesal.

 

“Sabar, Yun! Bumil nggak boleh marah-marah terus! Ntar anakmu jadi kayak Refi, loh.”

 

“Ya Tuhan ... amit-amit jabang bayi,” sahut Yuna sambil mengelus-ngelus perutnya.

 

Icha tersenyum sambil mengajak Yuna untuk duduk kembali di sofa. Ia langsung mematikan televisi agar Yuna tak mendengarkan lagi acara yang ada di stasiun televisi tersebut.

 

“Tumben kamu ke sini pagi-pagi gini? Nggak sibuk ngurus si Bayiik?” tanya Yuna sambil menatap wajah Icha.

 

“Yeriko yang nyuruh aku ke sini. Lagian, jam segini si Lutfi masih tidur,” jawab Icha.

 

“Itu si Bayiik santai banget hidupnya. Dia kan pengusaha juga kayak Yeriko. Kenapa suamiku sibuk banget?”

 

“Beda, Yun. Mana bisa kamu bandingkan Lutfi sama Yeriko. Yeriko menangani sendiri semua bisnisnya. Lutfi masih dibantu papa dan neneknya. Jadi, masih sesukanya. Dia juga nocturnal, tuh. Kalo malam baru sibuk ngerjain kerjaannya. Subuh tidur sampe siang.”

 

“Enak banget kalo udah nikah. Bisa kelonan sepuasnya sampe siang,” celetuk Yuna.

 

“Emangnya kamu nggak puas kelonan sama suami kamu?”

 

“Nggak ada puasnya. Dia tidur jam sepuluh malam. Bukan tidur beneran, cuma nunggu aku tidur. Kalau aku terbangun tengah malam, dia masih aja mantengin laptopnya. Kadang sampe pagi begitu. Pagi-pagi udah berangkat ke kantor lagi. Malang banget nasibku. Udah hamil, suami sibuk kerja mulu.”

 

Icha tersenyum menatap Yuna. “Suami kamu kerja untuk masa depan kamu dan anak-anak kamu, Yun. Dia itu udah sayang banget sama kamu. Semua hal dia lakuin buat kamu. Masih nggak bersyukur.”

 

“Huft ...!” Yuna menghela napas. “Iya juga, sih. Tapi, aku pengennya dia itu nggak kerja terus, Cha.”

 

“Sabtu sama Minggu, dia udah libur kerja, Yun. Masih kurang?”

 

“Masih kurang!” sahut Yuna sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Icha. “Kamu tahu, aku kayak kelinci kesepian di rumah ini. Tiap hari cuma baring-baring, nonton tv, makan. Gimana gak makin gemuk?”

 

Icha tertawa kecil. “Kamu lagi hamil, wajar aja kalau tambah gemuk.”

 

“Iya, Cha. Menurut kamu ... apa Yeriko bakal berpaling dari aku kalau aku berubah jadi gemuk?”

 

“Yeriko nggak mungkin berpikir sesempit itu, Yun.”

 

“Iya juga, sih. Tapi ...”

 

“Tapi apa?”

 

“Refi terus-terusan ngejar Yeriko. Gimana kalau Yeriko berubah, bosen lihat aku yang udah gemuk dan jelek kayak gini, terus ... dia balik ke Refi lagi?”

 

“Yun, buang jauh-jauh pikiran yang kayak gini!” pinta Icha.

 

“Entahlah, Cha. Akhir-akhir ini, aku sering baperan. Padahal, Yeriko udah ngelakuin banyak hal buat aku. Aku masih ngerasa kurang terus,” tutur Yuna sambil menatap wajah Icha. “Apa karena Yeriko selalu manjain aku ya? Aku jadi kayak gini, nggak mau kalau sampai dia ngelakuin hal yang nggak aku inginkan.”

 

Icha tersenyum menatap Yuna. “Yun, kamu itu selalu kuat, berani dan hebat dalam menghadapi masalah. Dulu, kamu berhadapan dengan Refi nggak pernah takut kehilangan Yeriko. Kenapa sekarang malah kayak gini?”

 

“Iya, Cha. Aku tahu, aku cuma ...”

 

“Aku tahu kamu mau ngomong apa. Jheni udah cerita semua ke aku.”

 

Yuna menghela napasnya. “Aku harus gimana?”

 

“Kamu duduk tenang, Yun. Yeriko makin khawatir kalau kamu kayak gini terus. Kamu tahu nggak kenapa Yeriko nyuruh aku pagi-pagi ke sini?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Karena dia khawatir sama kamu. Dia udah tahu kalau Refi bakal ada di televisi hari ini dan aku diminta sama dia buat nemenin kamu karena Jheni lagi hectic banget. Kamu bisa ngerti nggak, gimana sayangnya suami kamu itu? Jadi, kamu nggak perlu khawatir kehilangan dia. Dia pasti setia sama kamu.”

 

Yuna terdiam. Ucapan Icha ada benarnya juga. Tidak seharusnya ia mengkhawatirkan hal itu. Bukannya Yeriko sudah berjanji untuk tetap setia bersamanya? Ia juga seharusnya percaya dengan suaminya sendiri. Bukannya malah berpikir yang tidak-tidak.

 

Yuna mulai kesal dengan dirinya sendiri karena perasaannya yang sulit untuk dikendalikan. Walau ia tidak ingin memikirkan apa yang sudah terjadi, tapi hatinya tetap saja gelisah. Ia merasa, keinginan hati dan pikirannya selalu berlawanan.

 

(( Bersambung ... ))

Thanks udah dukung terus cerita ini dan setia menyapaku. Dukung terus biar aku makin semangat ya!

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas