“Yer,
kemarin si Icha ngasih tahu aku kalau dia ketemu sama Amara di klub malam
tempat dia pernah kerja,” tutur Lutfi.
“Terus?”
“Katanya,
dia datang dan pergi sama Oom-Oom gitu dan ganti-ganti. Jangan-jangan, dia jual
badan buat bayar hutang-hutang suaminya itu.”
“Dia
udah keluar dari Menur?”
“Iya.
Sempat dirawat di sana karena stress. Tapi, kayaknya dia malah menikmati
kerjaannya yang sekarang. Mungkin, karena bisa dapet uang banyak dengan cara
yang nikmat.”
Yeriko
tersenyum sinis.
“Untung
aja si Chandra gak beneran nikah sama tuh cewek. Heran gua, mantan-mantan
kalian ini nggak ada yang bener satu pun,” celetuk Lutfi sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kayak
mantanmu ada yang bener aja,” sahut Yeriko.
“Mantan-mantanku
nggak ada yang gila kayak Refi,” ucap Lutfi tak mau kalah.
Yeriko
langsung memijat keningnya. “Kenapa dia terlalu terobsesi sama aku? Padahal, di
luar sana masih ada banyak cowok yang bisa bikin dia bahagia.”
“Dulu,
kamu memperlakukan dia terlalu manja. Semua kamu kasih gitu aja. Sekarang, dia
terobsesi banget sama kamu.”
“Ah,
sudahlah! Nggak usah membicarakan kesalahanku yang dulu. Aku yang udah salah
menilai dia.”
Lutfi
tersenyum menatap Yeriko. Ia mengalihkan pandangannya pada Icha yang tiba-tiba
sudah ada di hadapan mereka.
“Makan,
yuk!” ajak Icha.
Lutfi
dan Yeriko mengangguk. Mereka bergegas ke meja makan untuk menikmati makan
siang bersama.
Usai
makan siang, Icha dan Yuna bersantai di balkon. Sementara Yeriko dan Lutfi
memilih untuk bersantai di halaman belakang seperti biasa.
“Yun,
mereka lagi ngobrolin apa ya? Kelihatannya serius banget,” tanya Icha sambil
menatap dua pria yang sedang duduk santai di halaman belakang.
Yuna
mengedikkan bahunya sambil menyandarkan lengannya di pagar balkon yang
menghadap ke belakang rumahnya. “Palingan ngomongin bisnis.”
“Cowok-cowok,
kalau ngumpul yang diomongin kerjaan mulu,” celetuk Icha.
“Nggak
kayak kita, yang diomongin cowok-cowok ganteng di drama televisi, belanja
online, gosip artis, sampai hal-hal nggak penting yang nggak ada hubungannya
sama sekali sama kehidupan kita.”
Icha
tertawa mendengar ucapan Yuna. “Iya juga, sih. Apalagi gosipin temen sendiri,
nggak ada habisnya.”
“Jangan-jangan,
kamu juga gosipin aku ya?” dengus Yuna.
Icha
menganggukkan kepala. “Emang iya. Tapi, gosipnya sama Jheni dan Lutfi doang.”
“Bagus
gosip di medsos kayak Refi, tuh. Biar makin terkenal.”
“Kamu
udah terkenal, Yun. Nggak pengen jadi artis?”
“Ogah,
ah! Lebih enak kayak gini. Aku nggak suka hidupku di eksploitasi. Kamu sendiri,
kenapa nggak jadi artis? Lutfi kan punya perusahaan perfilman. Kalau kamu mau,
bisa jadi artis dengan mudah.”
Icha
mengedikkan bahunya. “Jadi artis, sibuk melayani penggemar. Udah gitu, privasi
kita bakal dikorek-korek sampai ke akar-akarnya kalau udah ketemu sama haters.
Mentalku nggak kuat buat menghadapi komentar pedas dari netizen. Enak kayak
gini aja. Mau ngapa-ngapain bebas.”
“Iya,
juga sih.Aku juga ngerasa begitu. Dulu, mau makan di pinggir jalan pun bisa.
Suka-suka aja gitu. Makanya, Yeriko nggak mau diajak makan di sembarang tempat.
Dia takut dikerubungi orang banyak. Padahal, suamiku itu bukan artis.”
“Emangnya
ada yang berani deketin Yeriko?”
“Banyak,
Emak-emak.”
Icha
tertawa kecil. “Nggak papa, kali. Paling cuma ngajak foto bareng doang. Lutfi
pun gitu.”
“Apalagi,
Lutfi sering digosipin sama artis dan selebgram juga ya? Kuat banget mental
kamu, Cha. Bisa nerima Lutfi foto mesra sama cewek lain. Kalo aku ... udah
mencak-mencak lihat Yeriko deket sama perempuan lain.”
Icha
tertawa kecil sambil menatap Yuna. “Aku udah biasa sama Lutfi yang kayak gitu.
Aku percaya sama dia, kok. Udah kehidupannya dia dari awal seperti itu. Aku
nggak mungkin memaksa dia untuk berubah. Aku terima dia apa adanya.”
Yuna
menatap Icha sambil memain-mainkan matanya. “So sweet! Aku jadi pengen punya
pacar kayak kamu.”
Icha
tertawa kecil sambil mengacak rambut Yuna. “Kalo kamu cowok, boleh deh jadi
selingkuhanku.”
Yuna
memonyongkan bibirnya. “Enak aja!”
Icha
terkekeh. “Eh, ada Chandra.” Pandangannya langsung beralih pada tiga pria yang
ada di bawah mereka.
Yuna
langsung menoleh ke bawah. “Iya. Bukannya dia seharusnya sibuk?”
“Udah
nggak, kali. Riyan aja udah ada di sana.”
“Woi
...!” seru Jheni sambil menepuk pundak Yuna dan Icha bersamaan.
“Astaga!
Kamu bikin aku kaget aja!” Yuna langsung berbalik dan menatap Jheni penuh
kekesalan. “Kalo aku jantungan gimana? Mau tanggung jawab!?”
Jheni
terkekeh melihat reaksi Yuna. Sementara, Icha terlihat biasa saja. “Icha aja
nggak kaget.”
“Dia
kaget juga. Cuma dia diam aja,” sahut Yuna.
“Udah,
jangan marah-marah! Ntar bayi di perut kamu ngamuk loh. Emaknya pemarah
banget!”
Yuna
memonyongkan bibirnya.
“Kalian
baik-baik aja kan tanpa aku?” tanya Jheni.
Icha
mengangguk sambil tersenyum.
“Masalah
Refi gimana?” tanya Jheni lagi.
“Makin
ngeselin,” sahut Yuna.
“Enaknya
kita apain? Udah lihat postingan barunya dia di Instagram?”
“Udah.
Ngeselin, kan?” sahut Yuna.
Jheni
menganggukkan kepala. “Iya. Nggak usah dihiraukan, Yun!” tutur Jheni sambil
duduk di kursi yang ada di balkon tersebut.
“Maunya
sih gitu. Tapi, aku kesel banget sama dia karena makin hari makin menjadi. Udah
gitu, Yeriko terus yang dibahas sama dia. Apa coba maunya? Cinta pertama ...
cinta pertama ... gayanya sok manis. Jijik aku lihatnya!” ucap Yuna kesal.
“Hush,
kamu lagi hamil. Nggak boleh maki-maki orang sembarangan. Ntar anakmu mirip
Refi,” tutur Icha.
“Iih
... kenapa kalian ngomong gitu terus!” seru Yuna kesal. “Ini anakku, bukan
anaknya Refi. Gimana bisa mirip dia?”
Jheni
dan Icha terkekeh sambil menatap Yuna.
“Cha,
aku barusan bawa buah-buahan. Kamu bikinin kita jus, dong!” pinta Jheni.
“Kok,
aku?”
“Jus
bikinan kamu enak banget, sumpah! Kalo aku yang bikin, nggak seenak jus buatan
kamu,” tutur Jheni.
“Halah
... alasan! Padahal malas bikin,” sahut Icha sambil melangkahkan kakinya
meninggalkan Jheni dan Yuna. Ia berjalan menuju dapur yang ada di lantai bawah
untuk membuat jus.
“Cha,
lagi bikin apa?” seru Lutfi yang melihat Icha dari balik kaca jendela. “Aku mau
ya!”
Icha
tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Jheni
terus memerhatikan layar ponselnya. Ia tak berhenti mengikuti postingan Refi di
media sosial. Ia sangat penasaran dengan komentar-komentar yang ada di
postingan itu. Fans berat Refi mulai menyerang Yuna lagi dan hal ini membuat ia
semakin geram.
“Mereka
ini bego atau gimana? Waktu itu si Yeriko udah bikin konferensi pers. Kenapa
masih aja ngatain kamu sebagai pelakor,” tutur Jheni.
“Mana,
Jhen?” tanya Yuna sambil melihat layar ponsel Jheni. Ia juga penasaran dengan
komentar-komentar yang ada di dalam postingan tersebut.
“Ini
loh, lihat!” Jheni menyodorkan ponselnya. “Biar aku balasin netizen yang sok
tahu ini!”
“Nggak
papa dibalas?”
“Harus
gitu, biar nggak sembarangan berkomentar. Nggak tahu aslinya gimana, bisanya
ngata-ngatain kamu sebagai pelakor. Jelas-jelas, si Reptil itu yang pelakor
nggak tahu diri!” cerocos Jheni kesal.
“Aku
juga mau komentarin, ah. Biar Refi makin kepanasan. Bikinin aku akun
instagram!” perintah Yuna.
“Bikin
sendiri, tinggal download aja, Yun!” sahut Jheni.
“Bagusnya
pakai nama apa, Jhen?”
“Pake
nama kamu aja, biar makin seru,” jawab Jheni.
“Hahaha.”
Yuna
dan Jheni mulai asik membaca komentar yang ada di dalam postingan Refi.
“Aku
komen satu aja, Jhen.” Yuna langsung mengirim satu komentar ke postingan
tersebut dan langsung mendapatkan banyak balasan dari penggemar Refi. Ada yang
terus menyerang Yuna, ada juga yang berpihak pada Yuna.
Icha
yang baru muncul pun ikut berkomentar. Seketika, komentar di postingan Refi
semakin ramai dan membuat ketiga gadis itu terus mengikutinya satu per satu.
Jheni
terlihat sangat bersemangat membalas komentar-komentar yang ada di dalam
postingan tersebut. Ia berharap, komentar satire yang ia tulis bisa membuat
perasaan Refi semakin tak karuan. Ia ingin membuat Refi semakin resah karena
Yuna menanggapi postingan Refi dengan santai dan elegan.
“Please,
kalo nggak tahu apa-apa nggak usah berkomentar!” dengus Jheni sambil menatap
layar ponselnya.
“Eh,
ada yang bawa-bawa undang-undang ITE, nih. Dikiranya kita takut apa? Orang dia
yang fitnah. Oke. Kita jabanin aja. Kita lihat, siapa yang akan menang kalau
sampai pencemaran nama baik ini dibawa ke meja hijau,” gumam Jheni.
“Udah,
Jhen. Palingan si Refi sekarang lagi kebingungan sendiri.”
“Hahaha.
Biar kepok! Aku mau bawa penggemar-penggemarku buat nyerang di Refi juga,
hihihi.” Jheni terkekeh geli.
Ketiga
gadis itu semakin iseng dengan postingan Refi yang ada di media sosial. Yuna
yang awalnya ingin marah-marah, justru sering tertawa membaca
kekonyolan-kekonyolan yang ada di postingan tersebut.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar Author makin semangat buat update bab setiap
hari. Jangan lupa sapa di kolom komentar ya! Big thanks buat yang udah kasih
hadiah untuk cerita ini.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment