Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 430 : Iseng Banget!

 


“Yer, kemarin si Icha ngasih tahu aku kalau dia ketemu sama Amara di klub malam tempat dia pernah kerja,” tutur Lutfi.

 

“Terus?”

 

“Katanya, dia datang dan pergi sama Oom-Oom gitu dan ganti-ganti. Jangan-jangan, dia jual badan buat bayar hutang-hutang suaminya itu.”

 

“Dia udah keluar dari Menur?”

 

“Iya. Sempat dirawat di sana karena stress. Tapi, kayaknya dia malah menikmati kerjaannya yang sekarang. Mungkin, karena bisa dapet uang banyak dengan cara yang nikmat.”

 

Yeriko tersenyum sinis.

 

“Untung aja si Chandra gak beneran nikah sama tuh cewek. Heran gua, mantan-mantan kalian ini nggak ada yang bener satu pun,” celetuk Lutfi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Kayak mantanmu ada yang bener aja,” sahut Yeriko.

 

“Mantan-mantanku nggak ada yang gila kayak Refi,” ucap Lutfi tak mau kalah.

 

Yeriko langsung memijat keningnya. “Kenapa dia terlalu terobsesi sama aku? Padahal, di luar sana masih ada banyak cowok yang bisa bikin dia bahagia.”

 

“Dulu, kamu memperlakukan dia terlalu manja. Semua kamu kasih gitu aja. Sekarang, dia terobsesi banget sama kamu.”

 

“Ah, sudahlah! Nggak usah membicarakan kesalahanku yang dulu. Aku yang udah salah menilai dia.”

 

Lutfi tersenyum menatap Yeriko. Ia mengalihkan pandangannya pada Icha yang tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka.

 

“Makan, yuk!” ajak Icha.

 

Lutfi dan Yeriko mengangguk. Mereka bergegas ke meja makan untuk menikmati makan siang bersama.

 

Usai makan siang, Icha dan Yuna bersantai di balkon. Sementara Yeriko dan Lutfi memilih untuk bersantai di halaman belakang seperti biasa.

 

“Yun, mereka lagi ngobrolin apa ya? Kelihatannya serius banget,” tanya Icha sambil menatap dua pria yang sedang duduk santai di halaman belakang.

 

Yuna mengedikkan bahunya sambil menyandarkan lengannya di pagar balkon yang menghadap ke belakang rumahnya. “Palingan ngomongin bisnis.”

 

“Cowok-cowok, kalau ngumpul yang diomongin kerjaan mulu,” celetuk Icha.

 

“Nggak kayak kita, yang diomongin cowok-cowok ganteng di drama televisi, belanja online, gosip artis, sampai hal-hal nggak penting yang nggak ada hubungannya sama sekali sama kehidupan kita.”

 

Icha tertawa mendengar ucapan Yuna. “Iya juga, sih. Apalagi gosipin temen sendiri, nggak ada habisnya.”

 

“Jangan-jangan, kamu juga gosipin aku ya?” dengus Yuna.

 

Icha menganggukkan kepala. “Emang iya. Tapi, gosipnya sama Jheni dan Lutfi doang.”

 

“Bagus gosip di medsos kayak Refi, tuh. Biar makin terkenal.”

 

“Kamu udah terkenal, Yun. Nggak pengen jadi artis?”

 

“Ogah, ah! Lebih enak kayak gini. Aku nggak suka hidupku di eksploitasi. Kamu sendiri, kenapa nggak jadi artis? Lutfi kan punya perusahaan perfilman. Kalau kamu mau, bisa jadi artis dengan mudah.”

 

 Icha mengedikkan bahunya. “Jadi artis, sibuk melayani penggemar. Udah gitu, privasi kita bakal dikorek-korek sampai ke akar-akarnya kalau udah ketemu sama haters. Mentalku nggak kuat buat menghadapi komentar pedas dari netizen. Enak kayak gini aja. Mau ngapa-ngapain bebas.”

 

“Iya, juga sih.Aku juga ngerasa begitu. Dulu, mau makan di pinggir jalan pun bisa. Suka-suka aja gitu. Makanya, Yeriko nggak mau diajak makan di sembarang tempat. Dia takut dikerubungi orang banyak. Padahal, suamiku itu bukan artis.”

 

“Emangnya ada yang berani deketin Yeriko?”

 

“Banyak, Emak-emak.”

 

Icha tertawa kecil. “Nggak papa, kali. Paling cuma ngajak foto bareng doang. Lutfi pun gitu.”

 

“Apalagi, Lutfi sering digosipin sama artis dan selebgram juga ya? Kuat banget mental kamu, Cha. Bisa nerima Lutfi foto mesra sama cewek lain. Kalo aku ... udah mencak-mencak lihat Yeriko deket sama perempuan lain.”

 

Icha tertawa kecil sambil menatap Yuna. “Aku udah biasa sama Lutfi yang kayak gitu. Aku percaya sama dia, kok. Udah kehidupannya dia dari awal seperti itu. Aku nggak mungkin memaksa dia untuk berubah. Aku terima dia apa adanya.”

 

Yuna menatap Icha sambil memain-mainkan matanya. “So sweet! Aku jadi pengen punya pacar kayak kamu.”

 

Icha tertawa kecil sambil mengacak rambut Yuna. “Kalo kamu cowok, boleh deh jadi selingkuhanku.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Enak aja!”

 

Icha terkekeh. “Eh, ada Chandra.” Pandangannya langsung beralih pada tiga pria yang ada di bawah mereka.

 

Yuna langsung menoleh ke bawah. “Iya. Bukannya dia seharusnya sibuk?”

 

“Udah nggak, kali. Riyan aja udah ada di sana.”

 

“Woi ...!” seru Jheni sambil menepuk pundak Yuna dan Icha bersamaan.

 

“Astaga! Kamu bikin aku kaget aja!” Yuna langsung berbalik dan menatap Jheni penuh kekesalan. “Kalo aku jantungan gimana? Mau tanggung jawab!?”

 

Jheni terkekeh melihat reaksi Yuna. Sementara, Icha terlihat biasa saja. “Icha aja nggak kaget.”

 

“Dia kaget juga. Cuma dia diam aja,” sahut Yuna.

 

“Udah, jangan marah-marah! Ntar bayi di perut kamu ngamuk loh. Emaknya pemarah banget!”

 

Yuna memonyongkan bibirnya.

 

“Kalian baik-baik aja kan tanpa aku?” tanya Jheni.

 

Icha mengangguk sambil tersenyum.

 

“Masalah Refi gimana?” tanya Jheni lagi.

 

“Makin ngeselin,” sahut Yuna.

 

“Enaknya kita apain? Udah lihat postingan barunya dia di Instagram?”

 

“Udah. Ngeselin, kan?” sahut Yuna.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Iya. Nggak usah dihiraukan, Yun!” tutur Jheni sambil duduk di kursi yang ada di balkon tersebut.

 

“Maunya sih gitu. Tapi, aku kesel banget sama dia karena makin hari makin menjadi. Udah gitu, Yeriko terus yang dibahas sama dia. Apa coba maunya? Cinta pertama ... cinta pertama ... gayanya sok manis. Jijik aku lihatnya!” ucap Yuna kesal.

 

“Hush, kamu lagi hamil. Nggak boleh maki-maki orang sembarangan. Ntar anakmu mirip Refi,” tutur Icha.

 

“Iih ... kenapa kalian ngomong gitu terus!” seru Yuna kesal. “Ini anakku, bukan anaknya Refi. Gimana bisa mirip dia?”

 

Jheni dan Icha terkekeh sambil menatap Yuna.

 

“Cha, aku barusan bawa buah-buahan. Kamu bikinin kita jus, dong!” pinta Jheni.

 

“Kok, aku?”

 

“Jus bikinan kamu enak banget, sumpah! Kalo aku yang bikin, nggak seenak jus buatan kamu,” tutur Jheni.

 

“Halah ... alasan! Padahal malas bikin,” sahut Icha sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Jheni dan Yuna. Ia berjalan menuju dapur yang ada di lantai bawah untuk membuat jus.

 

“Cha, lagi bikin apa?” seru Lutfi yang melihat Icha dari balik kaca jendela. “Aku mau ya!”

 

Icha tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

Jheni terus memerhatikan layar ponselnya. Ia tak berhenti mengikuti postingan Refi di media sosial. Ia sangat penasaran dengan komentar-komentar yang ada di postingan itu. Fans berat Refi mulai menyerang Yuna lagi dan hal ini membuat ia semakin geram.

 

“Mereka ini bego atau gimana? Waktu itu si Yeriko udah bikin konferensi pers. Kenapa masih aja ngatain kamu sebagai pelakor,” tutur Jheni.

 

“Mana, Jhen?” tanya Yuna sambil melihat layar ponsel Jheni. Ia juga penasaran dengan komentar-komentar yang ada di dalam postingan tersebut.

 

“Ini loh, lihat!” Jheni menyodorkan ponselnya. “Biar aku balasin netizen yang sok tahu ini!”

 

“Nggak papa dibalas?”

 

“Harus gitu, biar nggak sembarangan berkomentar. Nggak tahu aslinya gimana, bisanya ngata-ngatain kamu sebagai pelakor. Jelas-jelas, si Reptil itu yang pelakor nggak tahu diri!” cerocos Jheni kesal.

 

“Aku juga mau komentarin, ah. Biar Refi makin kepanasan. Bikinin aku akun instagram!” perintah Yuna.

 

“Bikin sendiri, tinggal download aja, Yun!” sahut Jheni.

 

“Bagusnya pakai nama apa, Jhen?”

 

“Pake nama kamu aja, biar makin seru,” jawab Jheni.

 

“Hahaha.”

 

Yuna dan Jheni mulai asik membaca komentar yang ada di dalam postingan Refi.

 

“Aku komen satu aja, Jhen.” Yuna langsung mengirim satu komentar ke postingan tersebut dan langsung mendapatkan banyak balasan dari penggemar Refi. Ada yang terus menyerang Yuna, ada juga yang berpihak pada Yuna.

 

Icha yang baru muncul pun ikut berkomentar. Seketika, komentar di postingan Refi semakin ramai dan membuat ketiga gadis itu terus mengikutinya satu per satu.

 

Jheni terlihat sangat bersemangat membalas komentar-komentar yang ada di dalam postingan tersebut. Ia berharap, komentar satire yang ia tulis bisa membuat perasaan Refi semakin tak karuan. Ia ingin membuat Refi semakin resah karena Yuna menanggapi postingan Refi dengan santai dan elegan.

 

“Please, kalo nggak tahu apa-apa nggak usah berkomentar!” dengus Jheni sambil menatap layar ponselnya.

 

“Eh, ada yang bawa-bawa undang-undang ITE, nih. Dikiranya kita takut apa? Orang dia yang fitnah. Oke. Kita jabanin aja. Kita lihat, siapa yang akan menang kalau sampai pencemaran nama baik ini dibawa ke meja hijau,” gumam Jheni.

 

“Udah, Jhen. Palingan si Refi sekarang lagi kebingungan sendiri.”

 

“Hahaha. Biar kepok! Aku mau bawa penggemar-penggemarku buat nyerang di Refi juga, hihihi.” Jheni terkekeh geli.

 

Ketiga gadis itu semakin iseng dengan postingan Refi yang ada di media sosial. Yuna yang awalnya ingin marah-marah, justru sering tertawa membaca kekonyolan-kekonyolan yang ada di postingan tersebut.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar Author makin semangat buat update bab setiap hari. Jangan lupa sapa di kolom komentar ya! Big thanks buat yang udah kasih hadiah untuk cerita ini.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas