“Mbak,
ada Mbak Icha di luar.” Bibi War menghampiri Yuna yang sedang menonton
televisi.
“Suruh
ke sini aja, Bi!” perintah Yuna.
“Udah
Bibi suruh masuk.”
Yuna
mengangguk-anggukkan kepala. Ia bergegas bangkit dari tempat duduknya. Namun,
langkahnya terhenti saat ia mendengarkan nama Refi muncul dari layar televisi.
Ia langsung memutar kepala dan menatap wajah Refi yang ada di dalam acara
variety show di stasiun televisi tersebut.
“Kok,
dia bisa masuk acara tv?” tanya Yuna sambil mengerutkan dahi. Ia terus menatap
layar televisi karena penasaran dengan apa yang ingin dilakukan oleh Refi.
“Selamat
pagi, Mbak Refina ...!” sapa host yang ada di acara variety show tersebut.
“Selamat
pagi ...!” sapa Refi sambil tersenyum manis.
Yuna
terus menyaksikan acara tersebut dengan seksama. Ia mendengarkan perkenalan
yang dilakukan Refi dan host di acara tersebut.
“Mbak
Refi, sampai sekarang video Mbak Refi masih ada di pencarian teratas nih.
Banyak banget netizen yang baper sama video itu. Mereka bilang, videonya
romantis banget. Inspirasinya dari mana, Mbak?” tanya host acara tersebut.
Refi
tersenyum manis. “Inspirasinya datang dari cinta pertamaku.”
“Wow
...! Cinta pertama? Cinta pertama memang sangat indah. Pasti, dia sosok yang
tidak akan pernah terlupakan. Sampai sekarang, cinta pertama itu masih?”
Refi
menggelengkan kepala. “Kami sudah berpisah sejak tiga tahun lalu. Hanya saja,
ikatan hati di antara kami masih ada. Rasanya, sulit untuk melupakan dia.
Makanya, aku buat video itu sebagai curahan hati saya selama ini.”
“Wah
...! Cinta pertama memang sulit untuk dilupakan. Kata orang, cinta pertama yang
paling melekat seumur hidup. Saya jadi penasaran, nih. Apa yang bikin Mbak Refi
jatuh cinta sama dia?”
Refi
tersenyum kecil. “Dia ... sosok pria yang romantis, baik, penyayang dan selalu
mendukung saya dalam meraih impian.”
“Sosok
yang sempurna. Lalu, apa yang membuat kalian berpisah?”
“Kami
hanya berpisah sementara. Terpisah jarak karena aku harus mengejar impianku
untuk menjadi ballerina.”
“Di
video itu juga ada cuplikan tarian Mbak Refi yang sangat indah. Kira-kira, bisa
nggak menampilkan tari balet di hadapan semua pemirsa televisi kami?”
Refi
tertawa kecil. “Saya sudah tidak bisa menari lagi sejak kecelakaan. Jadi, saya
memilih untuk mencari profesi lain.”
“Sedih
banget. Padahal, karir Mbak Refi di Paris lumayan bagus.”
Refi
hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Jadi,
rencana selanjutnya ... apa nih, Mbak?” tanya host tersebut. “Apakah akan
merambah ke dunia akting atau tarik suara?”
“Saya
tertarik untuk akting, sih.”
“Semoga
makin sukses, Mbak Refi. Oh ya, ada beberapa pertanyaan dari netizen untuk Mbak
Refi, nih. Apa benar kalau cinta pertama Mbak Refi adalah Tuan Ye?”
Refi
hanya tersenyum menanggapi pertanyaan host tersebut.
“Tersenyum
itu ... apa artinya iya?” desak host tersebut.
“Ah,
Mbak bisa aja,” jawab Refi tersipu.
“Mbak,
apa Tuan Ye yang dimaksud ini adalah pengusaha muda yang kaya raya itu? Yang
waktu itu pernah digosipkan sama Mbak Refi juga?”
Refi
tertawa kecil menanggapi pertanyaan host tersebut.
Yuna
yang menonton acara tersebut mulai bergumam kesal.
“Apa
benar Mbak Refi dan dia putus karena dia selingkuh dengan wanita lain?” tanya
host tersebut.
Refi
menghela napas. “Sepertinya, semua orang sudah tahu soal ini,” jawabnya sambil
tersenyum.
“Berarti,
rumor yang beredar di luar sana itu benar?”
“Ada
yang benar, ada juga yang tidak benar,” jawab Refi.
“Yang
nggak bener yang mana nih, Mbak?” tanya host tersebut.
“Biarkan
orang yang menilai. Rasanya, saya sudah sangat terbuka akan hal ini.”
“Wah,
sepertinya akan terus menjadi kontroversi, nih. Soalnya, saya dengar kalau
cinta pertamanya Mbak Refi itu sudah menikah. Apa yang dinikahi adalah wanita
selingkuhan yang digosipkan itu?”
“No
comment,” jawab Refi sambil menahan tawa.
“Jangan
no comment, Mbak! Netizen udah terlanjur menerka-nerka, nih. Rumor mana yang
benar?
“Cuma
rumor, belum tentu fakta,” jawab Refi.
“Jadi,
faktanya seperti apa?”
“Faktanya,
seperti yang sudah kalian semua lihat dalam video itu.”
“Terenyuh
sekali kalau melihat video itu. Cinta memang memberikan inspirasi yang sangat
besar untuk seseorang. Kalau saya jadi cowoknya, saya pasti akan terharu
melihat video yang dibuat sama Mbak Refi ini.”
“What!?
Ini host ngeselin juga!” Yuna mulai mencibir. “Suamiku nggak mungkin terharu
lihat video sampah kayak gitu! Si Refi makin ngeselin aja, sih? Dikasih hati,
minta jantung!” seru Yuna kesal sambil mengetuk-ngetuk wajah Refi di televisi.
“Kamu
kenapa, Yun?” tanya Icha yang tiba-tiba sudah ada di belakang Yuna.
Yuna
langsung berbalik, ia menatap Icha yang sudah berdiri di sana. “Icha? Sorry
...! Aku lupa mau nyamperin kamu gara-gara acara tv ngeselin ini!” tutur Yuna
kesal.
“Sabar,
Yun! Bumil nggak boleh marah-marah terus! Ntar anakmu jadi kayak Refi, loh.”
“Ya
Tuhan ... amit-amit jabang bayi,” sahut Yuna sambil mengelus-ngelus perutnya.
Icha
tersenyum sambil mengajak Yuna untuk duduk kembali di sofa. Ia langsung
mematikan televisi agar Yuna tak mendengarkan lagi acara yang ada di stasiun
televisi tersebut.
“Tumben
kamu ke sini pagi-pagi gini? Nggak sibuk ngurus si Bayiik?” tanya Yuna sambil
menatap wajah Icha.
“Yeriko
yang nyuruh aku ke sini. Lagian, jam segini si Lutfi masih tidur,” jawab Icha.
“Itu
si Bayiik santai banget hidupnya. Dia kan pengusaha juga kayak Yeriko. Kenapa
suamiku sibuk banget?”
“Beda,
Yun. Mana bisa kamu bandingkan Lutfi sama Yeriko. Yeriko menangani sendiri
semua bisnisnya. Lutfi masih dibantu papa dan neneknya. Jadi, masih sesukanya.
Dia juga nocturnal, tuh. Kalo malam baru sibuk ngerjain kerjaannya. Subuh tidur
sampe siang.”
“Enak
banget kalo udah nikah. Bisa kelonan sepuasnya sampe siang,” celetuk Yuna.
“Emangnya
kamu nggak puas kelonan sama suami kamu?”
“Nggak
ada puasnya. Dia tidur jam sepuluh malam. Bukan tidur beneran, cuma nunggu aku
tidur. Kalau aku terbangun tengah malam, dia masih aja mantengin laptopnya.
Kadang sampe pagi begitu. Pagi-pagi udah berangkat ke kantor lagi. Malang
banget nasibku. Udah hamil, suami sibuk kerja mulu.”
Icha
tersenyum menatap Yuna. “Suami kamu kerja untuk masa depan kamu dan anak-anak
kamu, Yun. Dia itu udah sayang banget sama kamu. Semua hal dia lakuin buat
kamu. Masih nggak bersyukur.”
“Huft
...!” Yuna menghela napas. “Iya juga, sih. Tapi, aku pengennya dia itu nggak
kerja terus, Cha.”
“Sabtu
sama Minggu, dia udah libur kerja, Yun. Masih kurang?”
“Masih
kurang!” sahut Yuna sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Icha. “Kamu tahu, aku
kayak kelinci kesepian di rumah ini. Tiap hari cuma baring-baring, nonton tv,
makan. Gimana gak makin gemuk?”
Icha
tertawa kecil. “Kamu lagi hamil, wajar aja kalau tambah gemuk.”
“Iya,
Cha. Menurut kamu ... apa Yeriko bakal berpaling dari aku kalau aku berubah
jadi gemuk?”
“Yeriko
nggak mungkin berpikir sesempit itu, Yun.”
“Iya
juga, sih. Tapi ...”
“Tapi
apa?”
“Refi
terus-terusan ngejar Yeriko. Gimana kalau Yeriko berubah, bosen lihat aku yang
udah gemuk dan jelek kayak gini, terus ... dia balik ke Refi lagi?”
“Yun,
buang jauh-jauh pikiran yang kayak gini!” pinta Icha.
“Entahlah,
Cha. Akhir-akhir ini, aku sering baperan. Padahal, Yeriko udah ngelakuin banyak
hal buat aku. Aku masih ngerasa kurang terus,” tutur Yuna sambil menatap wajah
Icha. “Apa karena Yeriko selalu manjain aku ya? Aku jadi kayak gini, nggak mau
kalau sampai dia ngelakuin hal yang nggak aku inginkan.”
Icha
tersenyum menatap Yuna. “Yun, kamu itu selalu kuat, berani dan hebat dalam
menghadapi masalah. Dulu, kamu berhadapan dengan Refi nggak pernah takut
kehilangan Yeriko. Kenapa sekarang malah kayak gini?”
“Iya,
Cha. Aku tahu, aku cuma ...”
“Aku
tahu kamu mau ngomong apa. Jheni udah cerita semua ke aku.”
Yuna
menghela napasnya. “Aku harus gimana?”
“Kamu
duduk tenang, Yun. Yeriko makin khawatir kalau kamu kayak gini terus. Kamu tahu
nggak kenapa Yeriko nyuruh aku pagi-pagi ke sini?”
Yuna
menggelengkan kepala.
“Karena
dia khawatir sama kamu. Dia udah tahu kalau Refi bakal ada di televisi hari ini
dan aku diminta sama dia buat nemenin kamu karena Jheni lagi hectic banget.
Kamu bisa ngerti nggak, gimana sayangnya suami kamu itu? Jadi, kamu nggak perlu
khawatir kehilangan dia. Dia pasti setia sama kamu.”
Yuna
terdiam. Ucapan Icha ada benarnya juga. Tidak seharusnya ia mengkhawatirkan hal
itu. Bukannya Yeriko sudah berjanji untuk tetap setia bersamanya? Ia juga
seharusnya percaya dengan suaminya sendiri. Bukannya malah berpikir yang
tidak-tidak.
Yuna
mulai kesal dengan dirinya sendiri karena perasaannya yang sulit untuk
dikendalikan. Walau ia tidak ingin memikirkan apa yang sudah terjadi, tapi
hatinya tetap saja gelisah. Ia merasa, keinginan hati dan pikirannya selalu
berlawanan.
(( Bersambung ... ))
Thanks udah dukung terus cerita ini dan setia
menyapaku. Dukung terus biar aku makin semangat ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment