Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 428 : Perhatian dari Kejauhan

 


“Mbak, ada Mbak Icha di luar.” Bibi War menghampiri Yuna yang sedang menonton televisi.

 

“Suruh ke sini aja, Bi!” perintah Yuna.

 

“Udah Bibi suruh masuk.”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. Ia bergegas bangkit dari tempat duduknya. Namun, langkahnya terhenti saat ia mendengarkan nama Refi muncul dari layar televisi. Ia langsung memutar kepala dan menatap wajah Refi yang ada di dalam acara variety show di stasiun televisi tersebut.

 

“Kok, dia bisa masuk acara tv?” tanya Yuna sambil mengerutkan dahi. Ia terus menatap layar televisi karena penasaran dengan apa yang ingin dilakukan oleh Refi.

 

“Selamat pagi, Mbak Refina ...!” sapa host yang ada di acara variety show tersebut.

 

“Selamat pagi ...!” sapa Refi sambil tersenyum manis.

 

Yuna terus menyaksikan acara tersebut dengan seksama. Ia mendengarkan perkenalan yang dilakukan Refi dan host di acara tersebut.

 

“Mbak Refi, sampai sekarang video Mbak Refi masih ada di pencarian teratas nih. Banyak banget netizen yang baper sama video itu. Mereka bilang, videonya romantis banget. Inspirasinya dari mana, Mbak?” tanya host acara tersebut.

 

Refi tersenyum manis. “Inspirasinya datang dari cinta pertamaku.”

 

“Wow ...! Cinta pertama? Cinta pertama memang sangat indah. Pasti, dia sosok yang tidak akan pernah terlupakan. Sampai sekarang, cinta pertama itu masih?”

 

Refi menggelengkan kepala. “Kami sudah berpisah sejak tiga tahun lalu. Hanya saja, ikatan hati di antara kami masih ada. Rasanya, sulit untuk melupakan dia. Makanya, aku buat video itu sebagai curahan hati saya selama ini.”

 

“Wah ...! Cinta pertama memang sulit untuk dilupakan. Kata orang, cinta pertama yang paling melekat seumur hidup. Saya jadi penasaran, nih. Apa yang bikin Mbak Refi jatuh cinta sama dia?”

 

Refi tersenyum kecil. “Dia ... sosok pria yang romantis, baik, penyayang dan selalu mendukung saya dalam meraih impian.”

 

“Sosok yang sempurna. Lalu, apa yang membuat kalian berpisah?”

 

“Kami hanya berpisah sementara. Terpisah jarak karena aku harus mengejar impianku untuk menjadi ballerina.”

 

“Di video itu juga ada cuplikan tarian Mbak Refi yang sangat indah. Kira-kira, bisa nggak menampilkan tari balet di hadapan semua pemirsa televisi kami?”

 

Refi tertawa kecil. “Saya sudah tidak bisa menari lagi sejak kecelakaan. Jadi, saya memilih untuk mencari profesi lain.”

 

“Sedih banget. Padahal, karir Mbak Refi di Paris lumayan bagus.”

 

Refi hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Jadi, rencana selanjutnya ... apa nih, Mbak?” tanya host tersebut. “Apakah akan merambah ke dunia akting atau tarik suara?”

 

“Saya tertarik untuk akting, sih.”

 

“Semoga makin sukses, Mbak Refi. Oh ya, ada beberapa pertanyaan dari netizen untuk Mbak Refi, nih. Apa benar kalau cinta pertama Mbak Refi adalah Tuan Ye?”

 

Refi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan host tersebut.

 

“Tersenyum itu ... apa artinya iya?” desak host tersebut.

 

“Ah, Mbak bisa aja,” jawab Refi tersipu.

 

“Mbak, apa Tuan Ye yang dimaksud ini adalah pengusaha muda yang kaya raya itu? Yang waktu itu pernah digosipkan sama Mbak Refi juga?”

 

Refi tertawa kecil menanggapi pertanyaan host tersebut.

 

Yuna yang menonton acara tersebut mulai bergumam kesal.

 

“Apa benar Mbak Refi dan dia putus karena dia selingkuh dengan wanita lain?” tanya host tersebut.

 

Refi menghela napas. “Sepertinya, semua orang sudah tahu soal ini,” jawabnya sambil tersenyum.

 

“Berarti, rumor yang beredar di luar sana itu benar?”

 

“Ada yang benar, ada juga yang tidak benar,” jawab Refi.

 

“Yang nggak bener yang mana nih, Mbak?” tanya host tersebut.

 

“Biarkan orang yang menilai. Rasanya, saya sudah sangat terbuka akan hal ini.”

 

“Wah, sepertinya akan terus menjadi kontroversi, nih. Soalnya, saya dengar kalau cinta pertamanya Mbak Refi itu sudah menikah. Apa yang dinikahi adalah wanita selingkuhan yang digosipkan itu?”

 

“No comment,” jawab Refi sambil menahan tawa.

 

“Jangan no comment, Mbak! Netizen udah terlanjur menerka-nerka, nih. Rumor mana yang benar?

 

“Cuma rumor, belum tentu fakta,” jawab Refi.

 

“Jadi, faktanya seperti apa?”

 

“Faktanya, seperti yang sudah kalian semua lihat dalam video itu.”

 

“Terenyuh sekali kalau melihat video itu. Cinta memang memberikan inspirasi yang sangat besar untuk seseorang. Kalau saya jadi cowoknya, saya pasti akan terharu melihat video yang dibuat sama Mbak Refi ini.”

 

“What!? Ini host ngeselin juga!” Yuna mulai mencibir. “Suamiku nggak mungkin terharu lihat video sampah kayak gitu! Si Refi makin ngeselin aja, sih? Dikasih hati, minta jantung!” seru Yuna kesal sambil mengetuk-ngetuk wajah Refi di televisi.

 

“Kamu kenapa, Yun?” tanya Icha yang tiba-tiba sudah ada di belakang Yuna.

 

Yuna langsung berbalik, ia menatap Icha yang sudah berdiri di sana. “Icha? Sorry ...! Aku lupa mau nyamperin kamu gara-gara acara tv ngeselin ini!” tutur Yuna kesal.

 

“Sabar, Yun! Bumil nggak boleh marah-marah terus! Ntar anakmu jadi kayak Refi, loh.”

 

“Ya Tuhan ... amit-amit jabang bayi,” sahut Yuna sambil mengelus-ngelus perutnya.

 

Icha tersenyum sambil mengajak Yuna untuk duduk kembali di sofa. Ia langsung mematikan televisi agar Yuna tak mendengarkan lagi acara yang ada di stasiun televisi tersebut.

 

“Tumben kamu ke sini pagi-pagi gini? Nggak sibuk ngurus si Bayiik?” tanya Yuna sambil menatap wajah Icha.

 

“Yeriko yang nyuruh aku ke sini. Lagian, jam segini si Lutfi masih tidur,” jawab Icha.

 

“Itu si Bayiik santai banget hidupnya. Dia kan pengusaha juga kayak Yeriko. Kenapa suamiku sibuk banget?”

 

“Beda, Yun. Mana bisa kamu bandingkan Lutfi sama Yeriko. Yeriko menangani sendiri semua bisnisnya. Lutfi masih dibantu papa dan neneknya. Jadi, masih sesukanya. Dia juga nocturnal, tuh. Kalo malam baru sibuk ngerjain kerjaannya. Subuh tidur sampe siang.”

 

“Enak banget kalo udah nikah. Bisa kelonan sepuasnya sampe siang,” celetuk Yuna.

 

“Emangnya kamu nggak puas kelonan sama suami kamu?”

 

“Nggak ada puasnya. Dia tidur jam sepuluh malam. Bukan tidur beneran, cuma nunggu aku tidur. Kalau aku terbangun tengah malam, dia masih aja mantengin laptopnya. Kadang sampe pagi begitu. Pagi-pagi udah berangkat ke kantor lagi. Malang banget nasibku. Udah hamil, suami sibuk kerja mulu.”

 

Icha tersenyum menatap Yuna. “Suami kamu kerja untuk masa depan kamu dan anak-anak kamu, Yun. Dia itu udah sayang banget sama kamu. Semua hal dia lakuin buat kamu. Masih nggak bersyukur.”

 

“Huft ...!” Yuna menghela napas. “Iya juga, sih. Tapi, aku pengennya dia itu nggak kerja terus, Cha.”

 

“Sabtu sama Minggu, dia udah libur kerja, Yun. Masih kurang?”

 

“Masih kurang!” sahut Yuna sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Icha. “Kamu tahu, aku kayak kelinci kesepian di rumah ini. Tiap hari cuma baring-baring, nonton tv, makan. Gimana gak makin gemuk?”

 

Icha tertawa kecil. “Kamu lagi hamil, wajar aja kalau tambah gemuk.”

 

“Iya, Cha. Menurut kamu ... apa Yeriko bakal berpaling dari aku kalau aku berubah jadi gemuk?”

 

“Yeriko nggak mungkin berpikir sesempit itu, Yun.”

 

“Iya juga, sih. Tapi ...”

 

“Tapi apa?”

 

“Refi terus-terusan ngejar Yeriko. Gimana kalau Yeriko berubah, bosen lihat aku yang udah gemuk dan jelek kayak gini, terus ... dia balik ke Refi lagi?”

 

“Yun, buang jauh-jauh pikiran yang kayak gini!” pinta Icha.

 

“Entahlah, Cha. Akhir-akhir ini, aku sering baperan. Padahal, Yeriko udah ngelakuin banyak hal buat aku. Aku masih ngerasa kurang terus,” tutur Yuna sambil menatap wajah Icha. “Apa karena Yeriko selalu manjain aku ya? Aku jadi kayak gini, nggak mau kalau sampai dia ngelakuin hal yang nggak aku inginkan.”

 

Icha tersenyum menatap Yuna. “Yun, kamu itu selalu kuat, berani dan hebat dalam menghadapi masalah. Dulu, kamu berhadapan dengan Refi nggak pernah takut kehilangan Yeriko. Kenapa sekarang malah kayak gini?”

 

“Iya, Cha. Aku tahu, aku cuma ...”

 

“Aku tahu kamu mau ngomong apa. Jheni udah cerita semua ke aku.”

 

Yuna menghela napasnya. “Aku harus gimana?”

 

“Kamu duduk tenang, Yun. Yeriko makin khawatir kalau kamu kayak gini terus. Kamu tahu nggak kenapa Yeriko nyuruh aku pagi-pagi ke sini?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Karena dia khawatir sama kamu. Dia udah tahu kalau Refi bakal ada di televisi hari ini dan aku diminta sama dia buat nemenin kamu karena Jheni lagi hectic banget. Kamu bisa ngerti nggak, gimana sayangnya suami kamu itu? Jadi, kamu nggak perlu khawatir kehilangan dia. Dia pasti setia sama kamu.”

 

Yuna terdiam. Ucapan Icha ada benarnya juga. Tidak seharusnya ia mengkhawatirkan hal itu. Bukannya Yeriko sudah berjanji untuk tetap setia bersamanya? Ia juga seharusnya percaya dengan suaminya sendiri. Bukannya malah berpikir yang tidak-tidak.

 

Yuna mulai kesal dengan dirinya sendiri karena perasaannya yang sulit untuk dikendalikan. Walau ia tidak ingin memikirkan apa yang sudah terjadi, tapi hatinya tetap saja gelisah. Ia merasa, keinginan hati dan pikirannya selalu berlawanan.

 

(( Bersambung ... ))

Thanks udah dukung terus cerita ini dan setia menyapaku. Dukung terus biar aku makin semangat ya!

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas