Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 429 : Jangan Gegabah!

 


Refi langsung dikepung oleh banyak wartawan begitu ia keluar dari studio.

 

“Mbak Refi, jadi gosip yang selama ini beredar itu benar? Kalau Mbak Refi dan Tuan Ye masih memiliki hubungan rahasia?” tanya salah seorang wartawan kepada Refi.

 

Refi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari wartawan tersebut.

 

“Mbak, kenapa nggak berusaha mempertahankan cinta pertamanya Mbak Refi?”

 

“Mbak, waktu konferensi pers beberapa bulan lalu. Tuan Ye sudah membuat pernyataan kalau pernikahan dia tidak ada hubungannya dengan Mbak Refi. Kenapa kabar yang beredar sekarang justru hubungan kalian yang terlihat sangat dekat?”

 

Refi tersenyum ke arah wartawan yang mengerubungi dirinya. “Mungkin, hanya perasaan kalian saja. Saya sudah tidak memiliki hubungan serius dengan pria yang kalian maksud.”

 

“Tapi, dari video yang diunggah Mbak Refi, kami semua bisa mengerti kalau pria yang dimaksud oleh Mbak Refi adalah pria yang sangat mencintai Mbak Refi. Kenapa dia bisa selingkuh dan menikah dengan perempuan lain?”

 

“Kalau itu, tanyakan langsung ke dia!”

 

“Dia siapa, Mbak? Apa orang yang disebut Tuan Ye itu?”

 

Refi tersenyum menanggapi pertanyaan dari wartawan tersebut. Ia langsung masuk ke dalam mobil yang sudah disediakan oleh Deny.

 

“Huft ...!” Refi menghela napas begitu ia sudah masuk ke dalam mobil. “Gila itu wartawan, pertanyaannya muter-muter. Aku bingung gimana jawabnya,” celetuknya.

 

Deny tersenyum kecil. “Jawab aja sesuai dengan kejadian yang sebenarnya!” perintahnya.

 

“Masalah konferensi pers yang waktu itu, masih dibahas sama mereka,” tutur Refi sambil mengibaskan tangan ke wajahnya. “Aku harus gimana?”

 

“Kamu tunggu aja gimana Tuan Muda itu bereaksi!” pinta Deny.

 

“Gimana kalau dia masih nggak ngerespon?”

 

“Dia pasti akan ngerespon. Cuma butuh waktu sedikit lagi. Ini masih pemanasan,” tutur Deny.

 

“Kamu bisa jamin kalau Yeriko bakal muncul dan nyari aku?” tanya Refi.

 

Deny menganggukkan kepala. “Setelah dia muncul, selanjutnya aku serahin ke kamu.”

 

“Kamu harus bantu aku, Den!” pinta Refi.

 

“Aku udah banyak bantu kamu. Kalau begini terus, aku nggak punya waktu banyak untuk bersenang-senang.”

 

“Kamu sendiri yang menawarkan diri untuk jadi managerku. Kenapa sekarang malah ngeluh terus?” protes Refi kesal.

 

“Kalau gitu, kasih aku waktu untuk bersenang-senang!”

 

“Oke. Oke.”

 

Deny tersenyum penuh kemenangan.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain, Icha masih terus menghibur Yuna agar tidak terlalu memikirkan gosip yang sedang beredar.

 

“Udah, Yun. Nggak usah mikirin kelakuan si Refi yang gila itu!” pinta icha sambil mengelus-elus bahu Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Perhatian mereka tiba-tiba beralih pada suara siulan yang masuk ke dalam rumah Yuna.

 

“Jam berapa ini?” tanya Icha sambil melihat jam di ponselnya. “Jam sembilan,” jawabnya sendiri.

 

“Itu si Bayiik?” tanya Yuna balik.

 

“Kayaknya sih, iya.” Icha langsung bangkit dari sofa. Ia bergegas ke ruang tamu dan mendapati Lutfi sudah berdiri di sana.

 

“Kamu? Ngapain pagi-pagi udah ke sini?” tanya Icha.

 

“Harusnya aku yang tanya itu ke kamu,” jawab Lutfi. “Bisa-bisanya keluar rumah pagi-pagi, suami ditinggalin gitu aja.”

 

“Udah aku bikinin sarapan buat kamu. Aku juga udah siapin pakaian ganti kamu seperti biasa. Aku disuruh Yeriko ke sini buat nemenin Yuna.”

 

“Yeriko juga nyuruh aku ke sini.”

 

“Ngapain?” tanya Icha.

 

“Menghibur Kakak Ipar,” jawab Lutfi sambil memainkan alisnya. “Aku kan pria penghibur nomor satu di kota ini.”

 

“Halah, masih lucuan Cak Percil dari pada kamu.”

 

“Kenapa bawa-bawa Cak Percil?” tanya Lutfi.

 

“Emang kenyataannya gitu.”

 

“Jangan kamu bandingin aku sama dia. Dia kan emang pelawak. Eh, Kakak Ipar mana?” tanya Lutfi.

 

“Di ruang tengah.”

 

“Tumben banget dia nggak menyambut kedatanganku?” Lutfi langsung melangkahkan kakinya ke ruang tengah.

 

“Emangnya kamu siapa? Kok, minta disambut?” tanya Icha sambil mengiringi langkah Lutfi.

 

Lutfi terkekeh. “Eh, dia udah lihat acara tv-nya Refi?” bisiknya di telinga Icha.

 

Icha menganggukkan kepala. “Makanya, sekarang dia lagi galau banget.”

 

“Galau kenapa?”

 

Icha tersenyum sambil menggelengkan sedikit kepalanya.

 

Lutfi menghampiri Yuna yang sedang berbaring di atas sofa. “Kakak Ipar ...!” serunya.

 

“Hmm,” sahut Yuna santai.

 

“Kenapa nggak menyambut kedatanganku?” tanya Lutfi.

 

“Males,” jawab Yuna. Ia terlihat tak bersemangat. “Udah ada Icha juga.”

 

“Aku punya hadiah buat Kakak Ipar,” tutur Lutfi sambil menyodorkan cake box ke arah Yuna.

 

“Wah ...!” Yuna langsung meraih box tersebut dan membukanya. “Kamu beli di mana? Ini toko bukanya jam sepuluhan. Kamu bisa dapet di jam segini?” tanya Yuna.

 

Lutfi tersenyum menatap Yuna. “Yang punya toko kue temenku. Gampanglah soal kayak gini, mah.”

 

Yuna manggut-manggut sambil menikmati dessert yang dibawa Lutfi. “Mmh ... enak!”

 

Icha dan Lutfi saling pandang sambil tersenyum. Mereka berusaha membuat suasana hati Yuna membaik.

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko muncul dan langsung menghampiri Yuna.

 

“Ay, kenapa pulang jam segini?” tanya Yuna sambil melihat jam yang masih menunjukkan jam sebelas siang.

 

“Pengen makan siang di rumah bareng kalian,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

“Chandra nggak ikut?” tanya Lutfi.

 

“Chandra sama Riyan, aku suruh kelarin kerjaan dulu. Banyak hal yang harus diurus.”

 

“Oh ... iya. Aku dengar-dengar, kamu mau akuisisi perusahaan teknologi itu ya? Gila kamu, Yer. Semuanya kamu lahap.”

 

“Aku butuh tambahan tim IT. Produk mereka bagus dan bisa bikin semua perusahaan lebih terintegrasi. Kemarin aku ada pertemuan dengan komunitas pecinta lingkungan. Salah satu program CSR perusahaan juga mengurangi penggunaan kertas. Semua laporan akan perlahan berubah ke sistem digitalisasi. Aku tertarik dengan produk mereka itu.”

 

“Bukannya kamu sudah punya tim IT sendiri?”

 

“Iya. Tapi, mereka semua masih fokus ke maintenance data. Belum sampai peluncuran produk.”

 

“Pasti sibuk banget, nih. Aku rasa, nggak mudah mengambil alih perusahaan itu.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Kita lihat nanti!”

 

“Kalau kamu sibuk banget, kenapa masih sempat pulang ke rumah? Aku bisa antar makan siang ke kantor kamu,” tutur Yuna.

 

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Kamu udah masak?”

 

“Belum.” Yuna langsung bangkit dari tempat duduk. “Aku ke dapur dulu!”

 

“Cha, temenin dia!” perintah Yeriko.

 

Icha menganggukkan kepala. Ia mengerti maksud Yeriko. Yeriko memang meminta dirinya untuk mengalihkan perhatian Yuna pada hal lain agar tidak kepikiran dengan apa yang sudah dilakukan oleh Refi.

 

“Yer, sekarang si Refi makin jadi. Kakak Ipar juga kelihatan mulai murung. Gimana? Apa kita percepat aja?” tanya Lutfi.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Kita pantau dulu!” pintanya. “Aku tahu apa yang diinginkan mereka. Mereka menargetkan aku.”

 

Lutfi menghela napas. “Aku heran, kenapa ada perempuan kayak Refi gitu. Belum si Belatung itu kalo bikin masalah lagi. Kasihan banget Kakak Ipar. Lagi hamil, harus berhadapan dengan dua wanita gila itu.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Mental Yuna cukup kuat walau dia memang banyak berpikir. Dia pernah mengalami masalah yang lebih besar lagi. Aku cuma khawatir, trauma masa lalunya kembali dan mempengaruhi kehamilannya.”

 

“Ya udah, kita percepat aja!”

 

“Jangan gegabah, Lut!” pinta Yeriko. “Jalani aja sesuai prosedur dan peraturan perusahaan kamu itu.”

 

“Oke. Oke. Tapi, gimana sama Kakak Ipar kalau kayak gini terus?”

 

“Dia mudah untuk dihibur. Asal nggak sering buka televisi dan baca berita di internet. Aku bisa meyakinkan dia kalau semua akan baik-baik aja. Refi makin berbahaya buat dia.”

 

“Enaknya diapain itu si Reptil?”

 

Yeriko berbisik ke telinga Lutfi.

 

“Hahaha. Bener-bener,” tutur Lutfi sambil tertawa lebar.

 

Yeriko dan Lutfi terus berbicara tentang banyak hal yang akan mereka rencanakan. Sementara, wanita-wanita mereka sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang bersama. Tentunya, dibantu oleh Bibi War yang tak pernah membiarkan Yuna bekerja sendirian.

 

Icha terus memerhatikan wajah Yuna untuk memastikan kalau sahabatnya itu tidak murung lagi. Ia juga bercerita tentang banyak hal, termasuk tentang kedua orangtuanya. Kini, ia memilih memulai hidup baru bersama kekasih dan sahabat-sahabat yang selalu mendukungnya.

 

 

((Bersambung ...))

Terima kasih sudah setia menemani keseharian Mr. & Ms. Ye ...

Dukung terus biar author semangat update setiap hari.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas