Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 427 : Bukan Pacar Resmi

 


“Lut, kamu dari mana? Lama banget ke sininya?” tanya Satria begitu Lutfi muncul.

 

Chandra, Satria dan Yeriko sudah berkumpul terlebih dahulu di teras rumah Yeriko sambil menikmati kopi buatan Bibi War.

 

“Kalian tadi pada pesen sate. Sate di Paklek langgananku ngantri, rame banget yang beli. Ini aja aku nyerobot duluan,” jawab Lutfi sambil meletakkan dua kantong plastik berisi makanan dan minuman.

 

“Contoh nggak baik, nih. Nggak menerapkan budaya antre,” celetuk Satria.

 

“Bodo amat!” sahut Lutfi. “Yang penting bisa dapet duluan. Paklek mah sayang aku,” lanjutnya sambil membuka satu kaleng bir yang dibawanya.

 

“Wah ... memang enak satenya Paklek itu,” sahut Satria. Ia bergegas mengeluarkan makanan dari kantong plastik tersebut. Ia langsung menoleh ke arah Riyan yang duduk di hadapannya sambil memain-mainkan alisnya.

 

“Iya, Bang. Ngerti.” Riyan langsung bangkit dari tempat duduk. Ia berjalan ke dapur untuk mengambil beberapa piring.

 

“Asisten Yeriko emang paling joss. Dikode dikit aja langsung peka,” tutur Satria.

 

“Nggak kayak Chandra, pekok!” sahut Lutfi.

 

“Pekok kenapa?” tanya Satria.

 

“Ceweknya dia itu kan bar-bar. Kalo ngomong terang-terangan, tapi Chandra masih aja nggak peka. Lamar kek tuh cewek. Nggak ada kemajuan sama sekali,” tutur Lutfi.

 

Satria tergelak.

 

“Dia belum mau nikah, masa aku paksa?” sahut Chandra.

 

“Kenapa nggak mau nikah? Beneran sayang atau nggak sama kamu?” tanya Satria.

 

“Jheni beneran sayang. Si Chandra aja yang nggak peka. Cewek mana ada yang ngaku kalo pengen dilamar. Harusnya, Chandra langsung lamar aja tuh Jheni. Bukannya malah nanyain ke Jheni. Malu cewek kalo digitukan,” cerocos Lutfi.

 

“Halah, kamu sama Icha aja masih gitu-gitu aja,” celetuk Chandra.

 

“Aku sama Icha mau nikah tahun depan!” sahut Lutfi.

 

“Serius, Lut?” tanya Satria.

 

“Serius,” jawab Lutfi.

 

“Aih, aku nggak punya kesempatan buat deketin adik kamu itu dong?” tanya Satria.

 

“Bukan adikku, bego!” sahut Lutfi.

 

“Ya, aku ngarepnya begitu, Lut.”

 

“Nggak usah ngimpi! Masih aja ngarepin pacar orang. Cari pacar sana!” tutur Lutfi kesal.

 

“Aku masih polos, Lut. Kata Papa, aku belum boleh pacaran,” tutur Satria.

 

“Bangsat ... mantan pacarmu lebih banyak dari aku,” sahut Lutfi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Bukan pacar resmi, Lut.”

 

“Kenapa gitu, Bang?” tanya Riyan.

 

“Pacar resmi itu ... pacar yang kita kenalin ke temen deket, saudara dan keluarga. Kalo yang lain, bukan pacar beneran.”

 

“Pacar pura-pura?” tanya Riyan.

 

“Bukan pura-pura, cuma nggak diseriusin aja. Kalo dikenalin ke keluarga, nanti ditanyain terus. Kapan nikah? Kalo udah putus pasti ditanyain, si Anu kok nggak ke sini lagi? Kan emosi.”

 

“Anu atau Ani?” tanya Lutfi menahan tawa.

 

“Si Anu cowok, kalo si Ani cewek,” sahut Satria sambil menendang kaki Lutfi. “Tahi kamu, Lut.”

 

“Hahaha.” Lutfi tergelak. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Yeriko. “Yer, aku punya berita bagus buat kamu.”

 

“Apa?” tanya Yeriko sambil mengunyah satai yang ada di hadapannya.

 

“Cowok yang waktu itu kita interogasi di gudang perusahaan kamu ... siapa namanya? Mmh ... Deny! Iya, Deny. Dia itu ternyata selalu ada di dekat Refi. Bahkan, sekarang dia jadi managernya Refi. Kalau kata Ajeng, Deny itu manager Refi juga waktu masih di Paris.”

 

“Jadi, mereka memang ada hubungan?” tanya Chandra. Ia menatap serius ke arah Lutfi.

 

Lutfi mengangguk-anggukkan kepala sambil asyik mengunyah satai di mulutnya.

 

“Si Deny lumayan punya nyali juga dan menutup rapat-rapat rahasia hubungannya sama Refi,” tutur Chandra.

 

“Deny siapa?” tanya Satria.

 

“Orang yang selama ini ikut main di belakang Refi. Bikin heboh dunia maya,” jawab Chandra.

 

“Kenapa dia bisa selalu ada di belakang Refi? Apalagi, dia sampai jadi manager Refi. Aku rasa, mereka punya ikatan yang lumayan dekat,” tutur Satria.

 

“Nah, ini yang harus kita selidiki!” tutur Lutfi. “Makanya, aku bikin dia masuk ke SD Entertainment. Supaya bisa lebih mudah menyelidiki dan mengendalikan dia.”

 

“Bagus juga ide kamu, Lut.” Chandra menatap wajah Lutfi.

 

“Dia beneran masuk ke perusahaan kamu, Lut?” tanya Satria.

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

“Bukannya dia kerja di perusahaan Yeriko?” tanya Satria lagi.

 

“Udah resign,” jawab Yeriko santai.

 

“Hahaha. Keluar dari kandang singa, masuk kandang buaya.” Satria tergelak. Ia terus tertawa sementara yang lainnya hanya menatap wajah Satria dengan serius.

 

“Eh, kenapa kalian ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Satria sambil menghentikan tawanya.

 

“Apa yang lucu?” tanya Lutfi.

 

“Si Refi.”

 

Lutfi tersenyum sinis. “Nggak ada lucu-lucunya sama sekali. Bego sih iya!”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Sat, bantu aku awasi gerak-gerik si Deny!”

 

Satria langsung menoleh ke arah Yeriko. “Deny yang mana?”

 

“Managernya Refi. Nanti aku kirimin fotonya.”

 

“Oh ... yang ikut koar-koar di acara gosip itu?” tanya Satria.

 

“Kamu nonton acara gosip, Sat?” tanya Chandra.

 

Satria menggelengkan kepala. “Terpaksa aja karena yang bikin ulah mantan pacarnya Yeriko. Cantik dan seksi banget dia. Body-nya mulus, cocok buat objek ereksi.”

 

“Hahaha. Pake sana! Pake!” seru Lutfi. “Kayak nggak pernah lihat cewek cantik dan seksi aja. Lihat satu aja langsung nafsu,” lanjutnya.

 

“Aku masih normal, Lut. Lihat ada yang terbuka di antara dilipatan-lipatan kulit, sedikit aja, langsung tegang.”

 

Yeriko tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Cepet tegang karena nggak ada pelampiasan ya?”

 

“Hahaha.” Lutfi tergelak sambil mengacak kepala Satria.

 

“Kalian ini nggak ada akhlak! Senang banget menyiksa jomblo kayak gini,” tutur Satria.

 

“Makanya, pilih satu cewek aja buat diseriusin!” sahut Chandra.

 

“Belum dapet yang cocok.”

 

“Aku juga mau nyarikan cewek buat kamu. Tapi, kriterianya terlalu berat. Masalahnya, cewek yang dimauin sama Satria, udah dikapling sama orang lain. Hahaha,” ucap Lutfi sambil tertawa.

 

“Selama janur kuning belum melengkung, aku masih berani bersaing,” sahut Satria.

 

“Zaman sekarang udah nggak pake janur kuning kalo nikah. Pakai artificial flower!” sahut Lutfi sambil tertawa. “Jadi, walau itu cewek udah punya anak dua ... nggak akan ada janur kuning yang melengkung di depan rumahnya.”

 

“Ck, itu kan cuma istilah,” sahut Satria sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Selama belum nikah, masih milik siapa aja. Yang udah tunangan aja bisa putus.”

 

“Kayak dia?” ucap Lutfi sambil menunjuk Chandra dengan dagunya.

 

Chandra langsung mengangkat kedua alisnya.

 

“Sabar ya, Chan!” ucap Satria sambil menepuk-nepuk bahu Chandra.

 

Chandra langsung menepis tangan Satria dan menjauhkan tubuhnya. “Ngelap ya?” tanyanya sambil memberikan kaosnya sendiri.

 

Satria meringis sambil menatap Chandra. “Nggak sengaja, Chan.”

 

“Ah, kamu mah kebiasaan ngelap di baju orang. Ada tisu!” seru Chandra kesal.

 

“Hemat tisu untuk menyelematkan bumi dari kerusakan alam,” dalih Satria.

 

“Nggak ngelap di baju orang juga!” seru Chandra kesal. Ia mengendus kaosnya sendiri. “Bau gini jadinya.”

 

“Astaga! Kotor gini doang, bisa dicuci,” sahut Satria.

 

Chandra tak menyahut. Wajahnya terlihat sangat tak bersahabat.

 

“Eh, kamu kayak cewek lagi PMS aja!” seru Lutfi sambil melempar kaleng bir yang kosong ke arah Chandra. “Kamu hitung, berapa kali cewekmu itu ngotorin bajuku? Aku nggak marah ke dia. Jheni pun suka banget ngelempar orang pake makanan.”

 

“Nah, iya. Kenapa cuma kotor dikit aja marah?” tanya Satria.

 

“Ini baju dikasih Jheni. Aku nggak mau sampai kotor. Kalau nodanya nggak bisa hilang, gimana?”

 

“Bisa. Kalo nggak bisa hilang, antar ke rumahku!” sahut Satria.

 

Lutfi menahan tawa melihat perseteruan Satria dan Chandra. “Udah, jangan berantem cuma masalah kecil kayak gini. Childish banget!”

 

“Kamu yang childish!” sahut Chandra dan Satria bersamaan sambil menoleh ke arah Lutfi.

 

Lutfi langsung menaikkan kedua alisnya karena Chandra dan Satria sangat kompak menyerang dirinya.

 

“Udah bercandanya, sekarang serius!” pinta Yeriko.

 

Semua orang langsung diam. Yeriko mengajak ketiga sahabatnya untuk membicarakan soal bisnis ke depannya. Terlebih, mereka juga akan bekerjasama untuk menghadapi pengganggu yang terus menyerang Yuna. Ia tidak ingin, istrinya yang sedang hamil menjadi terganggu karena pemberitaan di media-media online yang terlalu berlebihan.

 

 

(( Bersambung ... ))

Thanks udah dukung terus cerita ini dan setia menyapaku. Dukung terus biar aku makin semangat ya!

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 426 : Agreement with SD Entertaintment

 


Refi melangkahkan kakinya penuh percaya diri saat ia memasuki kantor cabang Son’s Digital Entertainment. Penampilannya kali ini jauh berbeda dengan penampilan sebelumnya saat ia bekerja di anak perusahaan Galaxy Group. Ia tak lagi mengenakan pakaian formal, tapi mengenakan dress buatan salah seorang designer ternama di kota tersebut.

 

“Selamat pagi ...!” sapa Refi pada seorang resepsionis yang sedang bertugas.

 

“Pagi ...! Mbak Refi ya?”

 

Refi menganggukkan kepala sambil tersenyum. Videonya kali ini berada di puncak pencarian, membuat Refi semakin dikenal oleh banyak orang sebagai artis yang penuh sensasi dan kontroversi. Hal ini yang membuat Refi terus menaikkan popularitasnya dengan menjadi selebgram dan vlogger agar karirnya di dunia hiburan bisa tetap bertahan.

 

“Manager kami sudah menunggu,” tutur resepsionis tersebut sambil melangkahkan kakinya menuju ruangan manager yang tak jauh dari meja resepsionis.

 

Refi menganggukkan kepala. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Untuk skala kantor cabang, gedung tersebut lumayan luas, design interior juga dibuat dengan gaya vintage yang artistik.

 

Tok ... tok ... tok ...!

 

Resepsionis tersebut mengetuk pintu yang di atasnya bertuliskan nama dan jabatan seorang manager.

 

“Masuk ...!”

 

Resepsionis tersebut langsung membuka pintu dan mempersilakan Refi untuk masuk ke ruangan tersebut.

 

“Selamat pagi ...!” sapa Refi sambil melangkahkan kakinya masuk ke ruangan manager tersebut.

 

“Pagi ...!” Manager tersebut langsung memutar kepalanya menatap Refi. “Refi? Sudah datang?”

 

Refi menganggukkan kepala.

 

“Apa kabar?” tanya Manager tersebut sambil merangkul tubuh Refi penuh kehangatan.

 

“Baik, Bu.”

 

“Nggak usah panggil, Bu. Panggil saja Kak Ajeng!” pinta wanita berambut pendek yang ada di dalam ruangan tersebut.”Saya manager di sini, bertanggung jawab untuk mengorbitkan artis-artis berbakat dari berbagai daerah. Salah satunya adalah kota ini. Saya senang sekali bisa bertemu dengan Mbak Refi.”

 

“Saya juga senang bisa bertemu dengan Kak Ajeng,” balas Refi sambil tersenyum manis.

 

Ajeng tertawa kecil. “Ke sini sama siapa? Sendiri?”

 

“Sama temen.”

 

“Mana?”

 

“Dia tunggu di mobil.”

 

“Oh. Oke.” Ajeng mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

Refi hanya membalas dengan senyuman.

 

“To the point saja. Saya nggak punya banyak waktu untuk basa-basi. Ini kontrak kerjasama yang akan kami berikan pada Mbak Refi. Dibaca baik-baik! Setelahnya, bisa langsung ditandatangani kalau Mbak Refi setuju dengan isi kontraknya.” Ajeng menyodorkan dokumen ke hadapan Refi.

 

Refi mengangguk, ia meraih dokumen tersebut dan langsung membacanya. “Mmh ... saya punya satu permintaan sebelum menandatangani kontrak ini.”

 

“Apa itu?”

 

“Saya mau, manager untuk saya adalah hasil dari pilihan saya sendiri.”

 

“Mmh ...” Ajeng terlihat menimbang-nimbang.

 

“Saya baru mau tanda tangan kontrak kalau Anda memenuhi syarat yang saya ajukan.”

 

Ajeng menghela napas sejenak. “Apa orang yang mau Mbak Refi pakai berkompeten dalam hal ini?” tanya Ajeng.

 

Refi menganggukkan kepala. “Dia juga manager saya saat saya masih berkarir di Paris.”

 

Ajeng mengangguk-anggukkan kepalanya. “Oke. Saya akan ubah isi kontrak ini terlebih dahulu. Mbak Refi tunggu di sini sebentar!”

 

Refi menganggukkan sambil tersenyum.

 

Ajeng bergegas keluar dari ruangan tersebut. Ia memerintahkan admin perusahaan untuk merevisi isi kontrak sesuai dengan apa yang diinginkan Refi.

 

Beberapa menit kemudian, Ajeng kembali menghampiri Refi sambil membawa dokumen kontrak yang sudah direvisi. “Ini kontrak yang sudah kami revisi sesuai dengan keinginan kamu,” tuturnya sambil menyodorkan dokumen tersebut ke arah Refi.

 

Refi tersenyum sambil menerima dokumen tersebut. Ia memeriksanya terlebih dahulu. Setelah semuanya sesuai dengan apa yang dia inginkan, ia langsung menandatangani dokumen kontrak tersebut.

 

Ajeng tersenyum saat Refi sudah menandatangani kontrak tersebut. “Terima kasih, Mbak Refi sudah bersedia untuk bekerjasama dengan kami. Kami harap, kerjasama ini bisa saling memberi keuntungan. Mulai besok, asisten saya akan menjadwalkan beberapa program untuk Mbak Refi.”

 

Refi menganggukkan kepala.

 

“Karena sudah menjadi artis yang berada di bawah naungan perusahaan kami, kami memberikan beberapa fasilitas untuk artis-artis kami,” tutur Ajeng. “Ini kunci apartemen untuk Mbak Refi,” lanjutnya sambil menyodorkan sebuah kunci ke hadapan Refi.

 

“Terima kasih, Kak Ajeng!” ucap Refi sambil tersenyum manis.

 

Ajeng mengangguk sambil tersenyum. “Mulai hari ini, kamu harus pindah ke apartemen. Nggak tinggal di rumah kecil itu lagi. Saya nggak mau artis di bawah naungan SD Entertainment terlihat tak terurus.”

 

“Baik, Kak Ajeng.”

 

“Ada yang mau ditanyakan lagi?” tanya Ajeng.

 

“Mmh ... ini apartemen di kota ini? Bukan di Jakarta?”

 

Ajeng menggelengkan kepala. “Nggak semua artis kami tinggal di kota Jakarta. Mereka akan ke Jakarta sesuai dengan kebutuhan saja. SD Entertainment memiliki studio syuting di lima kota besar di Indonesia. Salah satunya adalah kota Surabaya. Kami terbiasa melakukan syuting dari sini. Baik siaran langsung maupun tidak langsung. Semuanya akan dilakukan sesuai jadwal dan sudah terintegrasi dengan baik. Kecuali untuk sinetron striping dan film yang memang menggunakan latar Jakarta.”

 

“Oh.” Refi mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

 

“Kalau karir kamu bagus, bisa ikut striping sinetron, kemungkinan kamu juga akan menjadi artis ibukota. Karena misi kami bukan hanya membesarkan nama artis ibukota. Tapi juga membesarkan nama artis daerah juga. Tidak perlu ke Ibukota untuk meniti karir sebagai artis. Karena agency kami sudah tersebar di beberapa kota besar,” jelas Ajeng.

 

Refi mengangguk-anggukkan kepala. Ia sudah mengetahui nama besar SD Entertainment. Hanya saja, ia baru mengetahui kalau SD Entertainment memiliki banyak agency yang tersebar di beberapa kota. Ia pikir, hanya ada satu studio di ibukota saja.

 

“Ada yang mau ditanyakan lagi?” tanya Ajeng.

 

Refi menggelengkan kepala. “Untuk sementara, belum ada.”

 

“Oke. Kalau gitu, kamu sudah boleh pulang dan bersiap pindahan ke apartemen. Besok, kamu datang lagi ke kantor ini jam sembilan pagi. Asisten saya akan mengatur pekerjaan buat kamu.”

 

“Baik, Kak. Saya pamit dulu!” pamit Refi sambil bergegas pergi meninggalkan ruangan manager tersebut.

 

Ajeng menghela napas setelah Refi keluar dari ruangan itu. Ia tersenyum sambil menatap kontrak yang ada di tangannya. Ia bergegas mengambil telepon dan langsung menghubungi seseorang.

 

“Halo ...!” sapa seseorang di ujung sana begitu panggilan telepon dari Ajeng tersambung.

 

“Halo, Pak Lutfi. Perintah dari Bapak sudah saya jalankan dengan baik. Mbak Refi sudah menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan kita.”

 

“Bagus. Lanjutkan misi selanjutnya! Buat semuanya terlihat secara alami. Saya ingin mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari dia!” perintah Lutfi dari balik telepon.

 

“Baik, Pak.”

 

“Oke. Terima kasih atas informasinya!” Lutfi langsung mematikan panggilan telepon dari Ajeng.

 

Ajeng tersenyum. Ia membawa dokumen kontrak keluar dari ruangannya dan menghampiri admin yang ada di sana. “Mbak, tolong kirim salinan dokumen ini ke kantor pusat untuk verifikasi!” perintah Ajeng.

 

“Baik, Kak Ajeng!”

 

“Mulai besok, Refi sudah bekerja di perusahaan kita. Kamu aturkan jadwal program untuk dia secepatnya. Video dia masih ada di pencarian teratas dan ini kesempatan yang baik untuk perusahaan kita.”

 

“Siap, Kak!”

 

Ajeng bergegas pergi, ia masuk ke studio yang ada di belakang ruang kerjanya untuk memastikan pekerjaan beberapa model yang sedang melakukan pemotretan berjalan dengan baik.

 

 

 

Di tempat lain ...

 

“Yes ...! Akhirnya, masuk perangkap juga!” seru Lutfi sambil melemparkan ponselnya ke atas kepalanya dan menangkapnya lagi. Ia langsung membaringkan tubuhnya di kasur sambil tersenyum bahagia.

 

“Telepon Yeriko dulu,” tuturnya sambil menatap layar ponsel kembali dan menekan nomor ponsel Yeriko.

 

“Halo ...! Kenapa, Lut?” tanya Yeriko begitu panggilan telepon dari Lutfi tersambung.

 

“Aku punya berita bagus buat kamu,” tutur Lutfi sambil tersenyum bahagia.

 

“Apa itu? Mau nikah sama Icha?”

 

“Mau banget kalo itu. Masih diurus sama asistenku. Ada berita yang lebih seru lagi.”

 

“Apa?”

 

“Si Reptil udah masuk ke kandang Buaya.”

 

“Maksudnya?”

 

“Aih, kamu lagi di mana sih?”

 

“Di kantor.”

 

“Lagi sibuk?”

 

“Lagi verifikasi data.”

 

“Pantes aja roaming,” celetuk Lutfi.

 

Yeriko terdengar mendesah.

 

“Si Refi udah tanda tangan kontrak sama perusahaanku. Terus, aku apain lagi nih enaknya?”

 

“Suka-sukamu, Lut!”

 

“Serius? Aku udah nggak sabar nih.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Biarkan aja dulu dia kerja di situ. Buat semuanya terlihat secara alami. Jangan buru-buru ambil tindakan, pakai cara seperti biasa!” perintahnya.

 

“Oh. Oke, oke. I see.” Lutfi tersenyum lebar mendengar ucapan Yeriko.

 

“Update terus perkembangan selanjutnya. Aku mau sibuk dulu.”

 

“Siap, Pak Bos!” seru Lutfi.

 

Yeriko langsung memutuskan panggilan telepon dari Lutfi.

 

Lutfi tersenyum bahagia. “Akhirnya, aku bisa jadi pahlawan buat Kakak Ipar. Dia harus berterima kasih dan ngasih pelukkan buat aku. Si Yeriko yang cemburuan itu bakal marah nggak ya kalau Kakak Ipar peluk aku? Hihihi.”

 

“Lutfi ...!” panggil Icha sambil mengetuk pintu kamar Lutfi.

 

“Ya.”

 

“Sudah bangun?”

 

“Sudah, Cha,” jawab Lutfi sambil menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan jam sepuluh pagi. Dia memang terbiasa bangun tidur sesukanya. Lebih senang bermalas-malasan.

 

“Aku udah siapin sarapan di bawah,” tutur Icha dari balik pintu.

 

“Siap, Nyonya Cantik! Aku mandi dulu!” seru Lutfi. Ia melompat dari atas kasur dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

 

Meski tinggal dalam satu rumah, Lutfi dan Icha tidak tinggal di kamar yang sama. Neneknya selalu memperingatkan untuk tidak melakukan tindakan berlebihan sebelum mereka resmi menjadi suami istri, ia tidak ingin kejadian yang terjadi pada Surya di masa lalu juga menimpa cucunya hanya karena tak bisa mengendalikan diri untuk berhubungan dengan wanita-wanita cantik yang ditemuinya.

 

 

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya  supaya aku bisa bikin cerita yang menarik, menghibur dan lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 425 : Penawaran SD Entertainment

 


“Kenapa Yeriko masih belum bereaksi juga?” gumam Refi sambil memutar-mutar ponselnya.

 

Sudah tiga hari video yang diupload oleh Deny berada di pencarian teratas. Namun, tak ada pergerakan sedikit pun dari Yeriko  atau pun Yuna.

 

“Kamu tenang aja!” pinta Deny sambil duduk santai di sofa.

 

“Gimana aku bisa tenang? Kamu bilang, video ini bakal bikin Yeriko balik ke aku. Kenyataannya, boro-boro dia nelpon. Nggak ada tanggapan apa pun dari dia. Nggak ada klarifikasi ke media mana pun. Padahal, video yang kamu upload udah bikin heboh se-Indonesia. Kenapa dia nggak bereaksi. Lihat aja di wawancara acara-acara gosip itu. Dia cuma senyum sambil bilang ‘no comment’ doang.”

 

Deny hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Refi.

 

“Den, kamu bisa nggak bikin sesuatu yang menarik perhatian Yeriko dengan cepat?” tanya Refi kesal. “Kalo dia cuek terus kayak gini, aku cuma capek doang!” lanjutnya sambil duduk di sofa.

 

“Kamu tenang dulu!” pinta Deny. “Kamu mau karir dulu atau Tuan Muda itu dulu?”

 

“Kalo bisa, Yeriko dulu yang balik ke aku!”

 

Deny tersenyum sinis. “Dia mau lihat kamu yang kayak gini? Cewek payah!”

 

“Apa kamu bilang?”

 

“Kamu payah! Gimana mau menarik perhatian Tuan Muda itu? Istrinya kelihatan berkelas. Sepatunya dia aja harga lima belas juta. Mana bisa dibandingkan sama kamu yang udah jatuh miskin. Karir aja nggak punya. Gimana bisa bikin Tuan Muda itu tertarik, hah!?”

 

Refi mengerutkan hidungnya. “Kamu ...!?” Ia menatap kesal ke arah Deny. Ia ingin memaki Deny, hanya saja tak sempat ia keluarkan karena ponselnya tiba-tiba berdering.

 

Refi terus menatap layar ponsel yang menunjukkan nomor baru yang tidak ia kenal.

 

“Siapa?” tanya Deny.

 

“Nomor baru,” jawab Refi.

 

“Angkat!”

 

Refi langsung menjawab panggilan telepon dari nomor tersebut. “Halo ...!”

 

“Halo, selamat malam ...! Apa benar ini dengan Mbak Refina Tata Widuri?” tanya seseorang di seberang sana.

 

“Iya, benar.”

 

“Maaf mengganggu waktunya malam-malam. Kami dari SD Entertainment. Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang perfilman dan hiburan. Kami ingin menawarkan kerjasama dengan Mbak Refi. Apakah Mbak Refi bersedia untuk masuk ke dunia hiburan melalui gosip yang sedang viral?”

 

Refi langsung melirik Deny yang duduk di sampingnya. “Ini beneran SD Entertainment?” tanya Refi.

 

“Benar, Mbak. Jika Mbak berkenan menerima tawaran kami. Mbak Refi bisa datang ke kantor kami yang berada di daerah Kuningan, Jakarta Selatan.”

 

“Jakarta?”

 

“Iya, benar.”

 

“Tapi, saya tinggal di Surabaya.”

 

“Oh. Mbak Refi tinggal di Surabaya? Kalau begitu, bisa datang ke kantor agency kami yang ada di Surabaya. Saya akan kirimkan alamat kantornya ke Mbak Refi.”

 

“Bisa?”

 

“Bisa, Mbak.”

 

“Mmh ... saya pikir-pikir dulu ya, Mbak.”

 

“Baik, Mbak Refi. Kami tunggu kabar baiknya. Jika Mbak Refi berkenan, kami tunggu keputusannya sampai besok lusa. Kami harap, bisa bekerja sama dengan Mbak Refi. Untuk selanjutnya, akan dihubungi langsung oleh agency yang ada di kantor cabang kami di kota Surabaya. Terima kasih atas waktunya ...! Selamat malam dan selamat beristirahat!” tutur seseorang di seberang sana dengan suara lembut.

 

“Selamat malam ...!” sahut Refi dengan nada yang manis.

 

Refi langsung menutup panggilan teleponnya. “Yes!” serunya penuh bahagia.

 

Deny langsung tersenyum menatap Refi.

 

“Den, jadi ini rencana kamu? Kamu sengaja upload video dan bikin sensasi baru supaya aku bisa masuk dunia hiburan lagi?”

 

Deny menganggukkan kepala. “Kamu udah nggak bisa masuk dengan prestasi kamu yang udah nggak bisa nari lagi. Cuma bisa lewat sensasi ini.”

 

“Uch ... kamu memang paling the best kalo soal ginian,” tutur Refi sambil menepuk-nepuk pipi Deny.

 

Deny langsung menangkap lengan Refi. “Semua ini nggak gratis.”

 

“Iya, aku tahu.”

 

“Ada syarat yang harus kamu penuhi!”

 

“Apa itu? Bukannya, syarat yang kamu minta udah aku penuhi semua?”

 

“Masih ada satu lagi.”

 

“Apa itu?” tanya Refi sambil menahan senyum. Ia tak bisa menahan perasaan bahagianya karena ia bisa memiliki kesempatan untuk kembali ke dunia hiburan.

 

“Cuma aku yang boleh jadi manager kamu!” pinta Deny.

 

“Manager?” Refi mengerutkan dahi menatap Deny.

 

Deny menganggukkan kepala.

 

Refi berpikir sejenak. “Oke. Bukan syarat yang susah.”

 

“Baguslah. Sebelum kamu tanda tangan kontrak dengan mereka. Kamu harus pastikan kalau dalam kontrak itu mereka tidak mengatur soal manager untuk artisnya!” pinta Deny.

 

“Oke. Oke. Bukan hal yang susah, kok. Aku akan bicarakan dengan pihak mereka.”

 

“Kamu siap bolak-balik Jakarta-Surabaya?”

 

“Jakarta-Surabaya itu deket. Naik pesawat nggak nyampe dua jam. Lagian, kalo aku udah jadi artis dan banyak duit. Aku bisa sewa apartemen di sana. Hidupku pasti lebih baik daripada harus bertahan di sini.”

 

Deny mengangguk-anggukkan kepala. “Aku mau tetap di kota ini. Karena udah terlanjur ambil banyak job di sini.”

 

Refi mengangguk-anggukkan kepala. “Tenang aja! Kalau aku udah banyak duit. Kamu cukup jadi manager aku aja. Nggak perlu ambil job di luar lagi!”

 

“Buatku, berapa pun uang yang kamu kasih, akan selalu kurang. Lagian, kamu baru mau mulai dari nol lagi. Aku nggak mau ngelepasin klienku begitu aja.”

 

“Iya. Terserah kamu. Suka-suka kamu!” sahut Refi.

 

Deny menganggukka  kepala. Ia terus tersenyum sambil menatap tubuh Refi. “Kamu nggak takut kehilangan Tuan Muda itu kalau kamu sudah jadi artis ibukota?”

 

“Aku masih tetap di kota ini. Kamu harus pintar-pintar atur jadwal buat aku!” perintah Refi.

 

“Kapan aku pernah ngecewain kamu?”

 

“Hmm ...” Refi mengetuk-ngetuk dagunya. “Belum pernah sih. Tapi, kalo gagal, udah sering banget.”

 

“Hasil akhirnya tetap ada di tangan kamu sendiri. Aku cuma berusaha membantu dan menunjukkan jalannya,” tutur Deny.

 

Refi memutar bola matanya. “Nggak usah sok bijak! Bikin aku laper aja!” Ia bangkit dari sofa.

 

“Mau ke mana?”

 

“Mau makan. Laper banget, nih,” jawab Refi sambil  melangkah menuju meja makan.

 

“Masak apa?” tanya Deny.

 

“Aku masak sup daging. Mau?” tanya Refi balik.

 

“Daging apa?”

 

“Daging sapi,” jawab Refi sambil menatap Deny yang tak bergerak dari sofa.

 

“Ogah! Nggak doyan makan daging sapi.”

 

“Baguslah.” Refi tersenyum sambil duduk dan mulai menikmati makanannya.

 

“Aku lebih suka daging kamu. Abis makan, kamu harus suapin aku!” seru Deny.

 

“Suapin apaan?”

 

“Suapin daging kamu.”

 

“Dasar kanibal!” celetuk Refi.

 

Deny tak menghiraukan celetukkan Refi.

 

Usai makan, Refi kembali menghampiri Deny yang duduk santai di atas sofa sambil menikmati bir kaleng di hadapannya.

 

“Besok, kamu temenin aku!” pinta Refi.

 

“Ke mana?”

 

“Ke kantor cabang SD Entertainment. Alamatnya udah dikirim ke aku.”

 

“Oke.” Deny mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kamu tahu kan apa yang harus dilakukan sekarang?”

 

Refi mengangguk-anggukkan kepala. “Aku harus mempersiapkan diri untuk wawancara besok. Harus memberikan kesan yang menarik dan dramatis supaya mereka bisa kontrak aku jadi artis.”

 

Deny tersenyum kecil. “Ada hal yang harus kamu lakukan terlebih dahulu sebelum melakukan persiapan itu.”

 

“Apa itu?”

 

“Kamu pura-pura lupa?” tanya Deny sambil menyondongkan tubuhnya ke wajah Refi.

 

Refi memundurkan punggungnya hingga menempel ke sofa.

 

“Harusnya kamu suapin aku!” bisik Deny sambil tersenyum nakal. Matanya terus menatap tajam ke arah Refi, bersiap untuk menelan tubuh Refi.

 

Refi berusaha mendorong dada Deny yang sudah menekan tubuhnya di sofa. Tapi, ia selalu tak punya tenaga untuk melawan kekuatan pria tersebut.

 

Deny tersenyum puas, ia berusaha melumat tubuh Refi secara perlahan hingga wanita itu tak lagi punya daya untuk melawannya. Setiap gerakan tubuhnya, diiringi tetesan peluh yang membasahi keduanya.

 

Refi sangat membenci Deny. Namun, ia tetap tak bisa mengendalikan diri setiap kali area sensitifnya tersentuh. Ia juga tak bisa menahan diri untuk melampiaskan hasrat yang terpendam dalam dirinya. Meluap begitu saja seiring dengan sentuhan lembut yang bermain di sekujur tubuhnya.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya  supaya aku bisa bikin cerita yang menarik, menghibur dan lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas