“Lut,
kamu dari mana? Lama banget ke sininya?” tanya Satria begitu Lutfi muncul.
Chandra,
Satria dan Yeriko sudah berkumpul terlebih dahulu di teras rumah Yeriko sambil
menikmati kopi buatan Bibi War.
“Kalian
tadi pada pesen sate. Sate di Paklek langgananku ngantri, rame banget yang
beli. Ini aja aku nyerobot duluan,” jawab Lutfi sambil meletakkan dua kantong
plastik berisi makanan dan minuman.
“Contoh
nggak baik, nih. Nggak menerapkan budaya antre,” celetuk Satria.
“Bodo
amat!” sahut Lutfi. “Yang penting bisa dapet duluan. Paklek mah sayang aku,”
lanjutnya sambil membuka satu kaleng bir yang dibawanya.
“Wah
... memang enak satenya Paklek itu,” sahut Satria. Ia bergegas mengeluarkan
makanan dari kantong plastik tersebut. Ia langsung menoleh ke arah Riyan yang
duduk di hadapannya sambil memain-mainkan alisnya.
“Iya,
Bang. Ngerti.” Riyan langsung bangkit dari tempat duduk. Ia berjalan ke dapur
untuk mengambil beberapa piring.
“Asisten
Yeriko emang paling joss. Dikode dikit aja langsung peka,” tutur Satria.
“Nggak
kayak Chandra, pekok!” sahut Lutfi.
“Pekok
kenapa?” tanya Satria.
“Ceweknya
dia itu kan bar-bar. Kalo ngomong terang-terangan, tapi Chandra masih aja nggak
peka. Lamar kek tuh cewek. Nggak ada kemajuan sama sekali,” tutur Lutfi.
Satria
tergelak.
“Dia
belum mau nikah, masa aku paksa?” sahut Chandra.
“Kenapa
nggak mau nikah? Beneran sayang atau nggak sama kamu?” tanya Satria.
“Jheni
beneran sayang. Si Chandra aja yang nggak peka. Cewek mana ada yang ngaku kalo
pengen dilamar. Harusnya, Chandra langsung lamar aja tuh Jheni. Bukannya malah
nanyain ke Jheni. Malu cewek kalo digitukan,” cerocos Lutfi.
“Halah,
kamu sama Icha aja masih gitu-gitu aja,” celetuk Chandra.
“Aku
sama Icha mau nikah tahun depan!” sahut Lutfi.
“Serius,
Lut?” tanya Satria.
“Serius,”
jawab Lutfi.
“Aih,
aku nggak punya kesempatan buat deketin adik kamu itu dong?” tanya Satria.
“Bukan
adikku, bego!” sahut Lutfi.
“Ya,
aku ngarepnya begitu, Lut.”
“Nggak
usah ngimpi! Masih aja ngarepin pacar orang. Cari pacar sana!” tutur Lutfi
kesal.
“Aku
masih polos, Lut. Kata Papa, aku belum boleh pacaran,” tutur Satria.
“Bangsat
... mantan pacarmu lebih banyak dari aku,” sahut Lutfi sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Bukan
pacar resmi, Lut.”
“Kenapa
gitu, Bang?” tanya Riyan.
“Pacar
resmi itu ... pacar yang kita kenalin ke temen deket, saudara dan keluarga.
Kalo yang lain, bukan pacar beneran.”
“Pacar
pura-pura?” tanya Riyan.
“Bukan
pura-pura, cuma nggak diseriusin aja. Kalo dikenalin ke keluarga, nanti
ditanyain terus. Kapan nikah? Kalo udah putus pasti ditanyain, si Anu kok nggak
ke sini lagi? Kan emosi.”
“Anu
atau Ani?” tanya Lutfi menahan tawa.
“Si
Anu cowok, kalo si Ani cewek,” sahut Satria sambil menendang kaki Lutfi. “Tahi
kamu, Lut.”
“Hahaha.”
Lutfi tergelak. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Yeriko. “Yer, aku punya
berita bagus buat kamu.”
“Apa?”
tanya Yeriko sambil mengunyah satai yang ada di hadapannya.
“Cowok
yang waktu itu kita interogasi di gudang perusahaan kamu ... siapa namanya? Mmh
... Deny! Iya, Deny. Dia itu ternyata selalu ada di dekat Refi. Bahkan,
sekarang dia jadi managernya Refi. Kalau kata Ajeng, Deny itu manager Refi juga
waktu masih di Paris.”
“Jadi,
mereka memang ada hubungan?” tanya Chandra. Ia menatap serius ke arah Lutfi.
Lutfi
mengangguk-anggukkan kepala sambil asyik mengunyah satai di mulutnya.
“Si
Deny lumayan punya nyali juga dan menutup rapat-rapat rahasia hubungannya sama
Refi,” tutur Chandra.
“Deny
siapa?” tanya Satria.
“Orang
yang selama ini ikut main di belakang Refi. Bikin heboh dunia maya,” jawab
Chandra.
“Kenapa
dia bisa selalu ada di belakang Refi? Apalagi, dia sampai jadi manager Refi.
Aku rasa, mereka punya ikatan yang lumayan dekat,” tutur Satria.
“Nah,
ini yang harus kita selidiki!” tutur Lutfi. “Makanya, aku bikin dia masuk ke SD
Entertainment. Supaya bisa lebih mudah menyelidiki dan mengendalikan dia.”
“Bagus
juga ide kamu, Lut.” Chandra menatap wajah Lutfi.
“Dia
beneran masuk ke perusahaan kamu, Lut?” tanya Satria.
Lutfi
menganggukkan kepala.
“Bukannya
dia kerja di perusahaan Yeriko?” tanya Satria lagi.
“Udah
resign,” jawab Yeriko santai.
“Hahaha.
Keluar dari kandang singa, masuk kandang buaya.” Satria tergelak. Ia terus
tertawa sementara yang lainnya hanya menatap wajah Satria dengan serius.
“Eh,
kenapa kalian ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Satria sambil menghentikan
tawanya.
“Apa
yang lucu?” tanya Lutfi.
“Si
Refi.”
Lutfi
tersenyum sinis. “Nggak ada lucu-lucunya sama sekali. Bego sih iya!”
Yeriko
tersenyum kecil. “Sat, bantu aku awasi gerak-gerik si Deny!”
Satria
langsung menoleh ke arah Yeriko. “Deny yang mana?”
“Managernya
Refi. Nanti aku kirimin fotonya.”
“Oh
... yang ikut koar-koar di acara gosip itu?” tanya Satria.
“Kamu
nonton acara gosip, Sat?” tanya Chandra.
Satria
menggelengkan kepala. “Terpaksa aja karena yang bikin ulah mantan pacarnya
Yeriko. Cantik dan seksi banget dia. Body-nya mulus, cocok buat objek ereksi.”
“Hahaha.
Pake sana! Pake!” seru Lutfi. “Kayak nggak pernah lihat cewek cantik dan seksi
aja. Lihat satu aja langsung nafsu,” lanjutnya.
“Aku
masih normal, Lut. Lihat ada yang terbuka di antara dilipatan-lipatan kulit,
sedikit aja, langsung tegang.”
Yeriko
tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Cepet tegang karena nggak
ada pelampiasan ya?”
“Hahaha.”
Lutfi tergelak sambil mengacak kepala Satria.
“Kalian
ini nggak ada akhlak! Senang banget menyiksa jomblo kayak gini,” tutur Satria.
“Makanya,
pilih satu cewek aja buat diseriusin!” sahut Chandra.
“Belum
dapet yang cocok.”
“Aku
juga mau nyarikan cewek buat kamu. Tapi, kriterianya terlalu berat. Masalahnya,
cewek yang dimauin sama Satria, udah dikapling sama orang lain. Hahaha,” ucap
Lutfi sambil tertawa.
“Selama
janur kuning belum melengkung, aku masih berani bersaing,” sahut Satria.
“Zaman
sekarang udah nggak pake janur kuning kalo nikah. Pakai artificial flower!”
sahut Lutfi sambil tertawa. “Jadi, walau itu cewek udah punya anak dua ...
nggak akan ada janur kuning yang melengkung di depan rumahnya.”
“Ck,
itu kan cuma istilah,” sahut Satria sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak
gatal. “Selama belum nikah, masih milik siapa aja. Yang udah tunangan aja bisa
putus.”
“Kayak
dia?” ucap Lutfi sambil menunjuk Chandra dengan dagunya.
Chandra
langsung mengangkat kedua alisnya.
“Sabar
ya, Chan!” ucap Satria sambil menepuk-nepuk bahu Chandra.
Chandra
langsung menepis tangan Satria dan menjauhkan tubuhnya. “Ngelap ya?” tanyanya
sambil memberikan kaosnya sendiri.
Satria
meringis sambil menatap Chandra. “Nggak sengaja, Chan.”
“Ah,
kamu mah kebiasaan ngelap di baju orang. Ada tisu!” seru Chandra kesal.
“Hemat
tisu untuk menyelematkan bumi dari kerusakan alam,” dalih Satria.
“Nggak
ngelap di baju orang juga!” seru Chandra kesal. Ia mengendus kaosnya sendiri.
“Bau gini jadinya.”
“Astaga!
Kotor gini doang, bisa dicuci,” sahut Satria.
Chandra
tak menyahut. Wajahnya terlihat sangat tak bersahabat.
“Eh,
kamu kayak cewek lagi PMS aja!” seru Lutfi sambil melempar kaleng bir yang
kosong ke arah Chandra. “Kamu hitung, berapa kali cewekmu itu ngotorin bajuku?
Aku nggak marah ke dia. Jheni pun suka banget ngelempar orang pake makanan.”
“Nah,
iya. Kenapa cuma kotor dikit aja marah?” tanya Satria.
“Ini
baju dikasih Jheni. Aku nggak mau sampai kotor. Kalau nodanya nggak bisa
hilang, gimana?”
“Bisa.
Kalo nggak bisa hilang, antar ke rumahku!” sahut Satria.
Lutfi
menahan tawa melihat perseteruan Satria dan Chandra. “Udah, jangan berantem
cuma masalah kecil kayak gini. Childish banget!”
“Kamu
yang childish!” sahut Chandra dan Satria bersamaan sambil menoleh ke arah
Lutfi.
Lutfi
langsung menaikkan kedua alisnya karena Chandra dan Satria sangat kompak
menyerang dirinya.
“Udah
bercandanya, sekarang serius!” pinta Yeriko.
Semua
orang langsung diam. Yeriko mengajak ketiga sahabatnya untuk membicarakan soal
bisnis ke depannya. Terlebih, mereka juga akan bekerjasama untuk menghadapi
pengganggu yang terus menyerang Yuna. Ia tidak ingin, istrinya yang sedang
hamil menjadi terganggu karena pemberitaan di media-media online yang terlalu
berlebihan.
(( Bersambung ... ))
Thanks udah dukung terus cerita ini dan setia
menyapaku. Dukung terus biar aku makin semangat ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment