Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 427 : Bukan Pacar Resmi

 


“Lut, kamu dari mana? Lama banget ke sininya?” tanya Satria begitu Lutfi muncul.

 

Chandra, Satria dan Yeriko sudah berkumpul terlebih dahulu di teras rumah Yeriko sambil menikmati kopi buatan Bibi War.

 

“Kalian tadi pada pesen sate. Sate di Paklek langgananku ngantri, rame banget yang beli. Ini aja aku nyerobot duluan,” jawab Lutfi sambil meletakkan dua kantong plastik berisi makanan dan minuman.

 

“Contoh nggak baik, nih. Nggak menerapkan budaya antre,” celetuk Satria.

 

“Bodo amat!” sahut Lutfi. “Yang penting bisa dapet duluan. Paklek mah sayang aku,” lanjutnya sambil membuka satu kaleng bir yang dibawanya.

 

“Wah ... memang enak satenya Paklek itu,” sahut Satria. Ia bergegas mengeluarkan makanan dari kantong plastik tersebut. Ia langsung menoleh ke arah Riyan yang duduk di hadapannya sambil memain-mainkan alisnya.

 

“Iya, Bang. Ngerti.” Riyan langsung bangkit dari tempat duduk. Ia berjalan ke dapur untuk mengambil beberapa piring.

 

“Asisten Yeriko emang paling joss. Dikode dikit aja langsung peka,” tutur Satria.

 

“Nggak kayak Chandra, pekok!” sahut Lutfi.

 

“Pekok kenapa?” tanya Satria.

 

“Ceweknya dia itu kan bar-bar. Kalo ngomong terang-terangan, tapi Chandra masih aja nggak peka. Lamar kek tuh cewek. Nggak ada kemajuan sama sekali,” tutur Lutfi.

 

Satria tergelak.

 

“Dia belum mau nikah, masa aku paksa?” sahut Chandra.

 

“Kenapa nggak mau nikah? Beneran sayang atau nggak sama kamu?” tanya Satria.

 

“Jheni beneran sayang. Si Chandra aja yang nggak peka. Cewek mana ada yang ngaku kalo pengen dilamar. Harusnya, Chandra langsung lamar aja tuh Jheni. Bukannya malah nanyain ke Jheni. Malu cewek kalo digitukan,” cerocos Lutfi.

 

“Halah, kamu sama Icha aja masih gitu-gitu aja,” celetuk Chandra.

 

“Aku sama Icha mau nikah tahun depan!” sahut Lutfi.

 

“Serius, Lut?” tanya Satria.

 

“Serius,” jawab Lutfi.

 

“Aih, aku nggak punya kesempatan buat deketin adik kamu itu dong?” tanya Satria.

 

“Bukan adikku, bego!” sahut Lutfi.

 

“Ya, aku ngarepnya begitu, Lut.”

 

“Nggak usah ngimpi! Masih aja ngarepin pacar orang. Cari pacar sana!” tutur Lutfi kesal.

 

“Aku masih polos, Lut. Kata Papa, aku belum boleh pacaran,” tutur Satria.

 

“Bangsat ... mantan pacarmu lebih banyak dari aku,” sahut Lutfi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Bukan pacar resmi, Lut.”

 

“Kenapa gitu, Bang?” tanya Riyan.

 

“Pacar resmi itu ... pacar yang kita kenalin ke temen deket, saudara dan keluarga. Kalo yang lain, bukan pacar beneran.”

 

“Pacar pura-pura?” tanya Riyan.

 

“Bukan pura-pura, cuma nggak diseriusin aja. Kalo dikenalin ke keluarga, nanti ditanyain terus. Kapan nikah? Kalo udah putus pasti ditanyain, si Anu kok nggak ke sini lagi? Kan emosi.”

 

“Anu atau Ani?” tanya Lutfi menahan tawa.

 

“Si Anu cowok, kalo si Ani cewek,” sahut Satria sambil menendang kaki Lutfi. “Tahi kamu, Lut.”

 

“Hahaha.” Lutfi tergelak. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Yeriko. “Yer, aku punya berita bagus buat kamu.”

 

“Apa?” tanya Yeriko sambil mengunyah satai yang ada di hadapannya.

 

“Cowok yang waktu itu kita interogasi di gudang perusahaan kamu ... siapa namanya? Mmh ... Deny! Iya, Deny. Dia itu ternyata selalu ada di dekat Refi. Bahkan, sekarang dia jadi managernya Refi. Kalau kata Ajeng, Deny itu manager Refi juga waktu masih di Paris.”

 

“Jadi, mereka memang ada hubungan?” tanya Chandra. Ia menatap serius ke arah Lutfi.

 

Lutfi mengangguk-anggukkan kepala sambil asyik mengunyah satai di mulutnya.

 

“Si Deny lumayan punya nyali juga dan menutup rapat-rapat rahasia hubungannya sama Refi,” tutur Chandra.

 

“Deny siapa?” tanya Satria.

 

“Orang yang selama ini ikut main di belakang Refi. Bikin heboh dunia maya,” jawab Chandra.

 

“Kenapa dia bisa selalu ada di belakang Refi? Apalagi, dia sampai jadi manager Refi. Aku rasa, mereka punya ikatan yang lumayan dekat,” tutur Satria.

 

“Nah, ini yang harus kita selidiki!” tutur Lutfi. “Makanya, aku bikin dia masuk ke SD Entertainment. Supaya bisa lebih mudah menyelidiki dan mengendalikan dia.”

 

“Bagus juga ide kamu, Lut.” Chandra menatap wajah Lutfi.

 

“Dia beneran masuk ke perusahaan kamu, Lut?” tanya Satria.

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

“Bukannya dia kerja di perusahaan Yeriko?” tanya Satria lagi.

 

“Udah resign,” jawab Yeriko santai.

 

“Hahaha. Keluar dari kandang singa, masuk kandang buaya.” Satria tergelak. Ia terus tertawa sementara yang lainnya hanya menatap wajah Satria dengan serius.

 

“Eh, kenapa kalian ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Satria sambil menghentikan tawanya.

 

“Apa yang lucu?” tanya Lutfi.

 

“Si Refi.”

 

Lutfi tersenyum sinis. “Nggak ada lucu-lucunya sama sekali. Bego sih iya!”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Sat, bantu aku awasi gerak-gerik si Deny!”

 

Satria langsung menoleh ke arah Yeriko. “Deny yang mana?”

 

“Managernya Refi. Nanti aku kirimin fotonya.”

 

“Oh ... yang ikut koar-koar di acara gosip itu?” tanya Satria.

 

“Kamu nonton acara gosip, Sat?” tanya Chandra.

 

Satria menggelengkan kepala. “Terpaksa aja karena yang bikin ulah mantan pacarnya Yeriko. Cantik dan seksi banget dia. Body-nya mulus, cocok buat objek ereksi.”

 

“Hahaha. Pake sana! Pake!” seru Lutfi. “Kayak nggak pernah lihat cewek cantik dan seksi aja. Lihat satu aja langsung nafsu,” lanjutnya.

 

“Aku masih normal, Lut. Lihat ada yang terbuka di antara dilipatan-lipatan kulit, sedikit aja, langsung tegang.”

 

Yeriko tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Cepet tegang karena nggak ada pelampiasan ya?”

 

“Hahaha.” Lutfi tergelak sambil mengacak kepala Satria.

 

“Kalian ini nggak ada akhlak! Senang banget menyiksa jomblo kayak gini,” tutur Satria.

 

“Makanya, pilih satu cewek aja buat diseriusin!” sahut Chandra.

 

“Belum dapet yang cocok.”

 

“Aku juga mau nyarikan cewek buat kamu. Tapi, kriterianya terlalu berat. Masalahnya, cewek yang dimauin sama Satria, udah dikapling sama orang lain. Hahaha,” ucap Lutfi sambil tertawa.

 

“Selama janur kuning belum melengkung, aku masih berani bersaing,” sahut Satria.

 

“Zaman sekarang udah nggak pake janur kuning kalo nikah. Pakai artificial flower!” sahut Lutfi sambil tertawa. “Jadi, walau itu cewek udah punya anak dua ... nggak akan ada janur kuning yang melengkung di depan rumahnya.”

 

“Ck, itu kan cuma istilah,” sahut Satria sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Selama belum nikah, masih milik siapa aja. Yang udah tunangan aja bisa putus.”

 

“Kayak dia?” ucap Lutfi sambil menunjuk Chandra dengan dagunya.

 

Chandra langsung mengangkat kedua alisnya.

 

“Sabar ya, Chan!” ucap Satria sambil menepuk-nepuk bahu Chandra.

 

Chandra langsung menepis tangan Satria dan menjauhkan tubuhnya. “Ngelap ya?” tanyanya sambil memberikan kaosnya sendiri.

 

Satria meringis sambil menatap Chandra. “Nggak sengaja, Chan.”

 

“Ah, kamu mah kebiasaan ngelap di baju orang. Ada tisu!” seru Chandra kesal.

 

“Hemat tisu untuk menyelematkan bumi dari kerusakan alam,” dalih Satria.

 

“Nggak ngelap di baju orang juga!” seru Chandra kesal. Ia mengendus kaosnya sendiri. “Bau gini jadinya.”

 

“Astaga! Kotor gini doang, bisa dicuci,” sahut Satria.

 

Chandra tak menyahut. Wajahnya terlihat sangat tak bersahabat.

 

“Eh, kamu kayak cewek lagi PMS aja!” seru Lutfi sambil melempar kaleng bir yang kosong ke arah Chandra. “Kamu hitung, berapa kali cewekmu itu ngotorin bajuku? Aku nggak marah ke dia. Jheni pun suka banget ngelempar orang pake makanan.”

 

“Nah, iya. Kenapa cuma kotor dikit aja marah?” tanya Satria.

 

“Ini baju dikasih Jheni. Aku nggak mau sampai kotor. Kalau nodanya nggak bisa hilang, gimana?”

 

“Bisa. Kalo nggak bisa hilang, antar ke rumahku!” sahut Satria.

 

Lutfi menahan tawa melihat perseteruan Satria dan Chandra. “Udah, jangan berantem cuma masalah kecil kayak gini. Childish banget!”

 

“Kamu yang childish!” sahut Chandra dan Satria bersamaan sambil menoleh ke arah Lutfi.

 

Lutfi langsung menaikkan kedua alisnya karena Chandra dan Satria sangat kompak menyerang dirinya.

 

“Udah bercandanya, sekarang serius!” pinta Yeriko.

 

Semua orang langsung diam. Yeriko mengajak ketiga sahabatnya untuk membicarakan soal bisnis ke depannya. Terlebih, mereka juga akan bekerjasama untuk menghadapi pengganggu yang terus menyerang Yuna. Ia tidak ingin, istrinya yang sedang hamil menjadi terganggu karena pemberitaan di media-media online yang terlalu berlebihan.

 

 

(( Bersambung ... ))

Thanks udah dukung terus cerita ini dan setia menyapaku. Dukung terus biar aku makin semangat ya!

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas