“Kenapa
Yeriko masih belum bereaksi juga?” gumam Refi sambil memutar-mutar ponselnya.
Sudah
tiga hari video yang diupload oleh Deny berada di pencarian teratas. Namun, tak
ada pergerakan sedikit pun dari Yeriko atau pun Yuna.
“Kamu
tenang aja!” pinta Deny sambil duduk santai di sofa.
“Gimana
aku bisa tenang? Kamu bilang, video ini bakal bikin Yeriko balik ke aku.
Kenyataannya, boro-boro dia nelpon. Nggak ada tanggapan apa pun dari dia. Nggak
ada klarifikasi ke media mana pun. Padahal, video yang kamu upload udah bikin
heboh se-Indonesia. Kenapa dia nggak bereaksi. Lihat aja di wawancara
acara-acara gosip itu. Dia cuma senyum sambil bilang ‘no comment’ doang.”
Deny
hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Refi.
“Den,
kamu bisa nggak bikin sesuatu yang menarik perhatian Yeriko dengan cepat?”
tanya Refi kesal. “Kalo dia cuek terus kayak gini, aku cuma capek doang!”
lanjutnya sambil duduk di sofa.
“Kamu
tenang dulu!” pinta Deny. “Kamu mau karir dulu atau Tuan Muda itu dulu?”
“Kalo
bisa, Yeriko dulu yang balik ke aku!”
Deny
tersenyum sinis. “Dia mau lihat kamu yang kayak gini? Cewek payah!”
“Apa
kamu bilang?”
“Kamu
payah! Gimana mau menarik perhatian Tuan Muda itu? Istrinya kelihatan berkelas.
Sepatunya dia aja harga lima belas juta. Mana bisa dibandingkan sama kamu yang
udah jatuh miskin. Karir aja nggak punya. Gimana bisa bikin Tuan Muda itu
tertarik, hah!?”
Refi
mengerutkan hidungnya. “Kamu ...!?” Ia menatap kesal ke arah Deny. Ia ingin
memaki Deny, hanya saja tak sempat ia keluarkan karena ponselnya tiba-tiba
berdering.
Refi
terus menatap layar ponsel yang menunjukkan nomor baru yang tidak ia kenal.
“Siapa?”
tanya Deny.
“Nomor
baru,” jawab Refi.
“Angkat!”
Refi
langsung menjawab panggilan telepon dari nomor tersebut. “Halo ...!”
“Halo,
selamat malam ...! Apa benar ini dengan Mbak Refina Tata Widuri?” tanya
seseorang di seberang sana.
“Iya,
benar.”
“Maaf
mengganggu waktunya malam-malam. Kami dari SD Entertainment. Salah satu
perusahaan yang bergerak di bidang perfilman dan hiburan. Kami ingin menawarkan
kerjasama dengan Mbak Refi. Apakah Mbak Refi bersedia untuk masuk ke dunia
hiburan melalui gosip yang sedang viral?”
Refi
langsung melirik Deny yang duduk di sampingnya. “Ini beneran SD Entertainment?”
tanya Refi.
“Benar,
Mbak. Jika Mbak berkenan menerima tawaran kami. Mbak Refi bisa datang ke kantor
kami yang berada di daerah Kuningan, Jakarta Selatan.”
“Jakarta?”
“Iya,
benar.”
“Tapi,
saya tinggal di Surabaya.”
“Oh.
Mbak Refi tinggal di Surabaya? Kalau begitu, bisa datang ke kantor agency kami
yang ada di Surabaya. Saya akan kirimkan alamat kantornya ke Mbak Refi.”
“Bisa?”
“Bisa,
Mbak.”
“Mmh
... saya pikir-pikir dulu ya, Mbak.”
“Baik,
Mbak Refi. Kami tunggu kabar baiknya. Jika Mbak Refi berkenan, kami tunggu
keputusannya sampai besok lusa. Kami harap, bisa bekerja sama dengan Mbak Refi.
Untuk selanjutnya, akan dihubungi langsung oleh agency yang ada di kantor
cabang kami di kota Surabaya. Terima kasih atas waktunya ...! Selamat malam dan
selamat beristirahat!” tutur seseorang di seberang sana dengan suara lembut.
“Selamat
malam ...!” sahut Refi dengan nada yang manis.
Refi
langsung menutup panggilan teleponnya. “Yes!” serunya penuh bahagia.
Deny
langsung tersenyum menatap Refi.
“Den,
jadi ini rencana kamu? Kamu sengaja upload video dan bikin sensasi baru supaya
aku bisa masuk dunia hiburan lagi?”
Deny
menganggukkan kepala. “Kamu udah nggak bisa masuk dengan prestasi kamu yang
udah nggak bisa nari lagi. Cuma bisa lewat sensasi ini.”
“Uch
... kamu memang paling the best kalo soal ginian,” tutur Refi sambil
menepuk-nepuk pipi Deny.
Deny
langsung menangkap lengan Refi. “Semua ini nggak gratis.”
“Iya,
aku tahu.”
“Ada
syarat yang harus kamu penuhi!”
“Apa
itu? Bukannya, syarat yang kamu minta udah aku penuhi semua?”
“Masih
ada satu lagi.”
“Apa
itu?” tanya Refi sambil menahan senyum. Ia tak bisa menahan perasaan bahagianya
karena ia bisa memiliki kesempatan untuk kembali ke dunia hiburan.
“Cuma
aku yang boleh jadi manager kamu!” pinta Deny.
“Manager?”
Refi mengerutkan dahi menatap Deny.
Deny
menganggukkan kepala.
Refi
berpikir sejenak. “Oke. Bukan syarat yang susah.”
“Baguslah.
Sebelum kamu tanda tangan kontrak dengan mereka. Kamu harus pastikan kalau
dalam kontrak itu mereka tidak mengatur soal manager untuk artisnya!” pinta
Deny.
“Oke.
Oke. Bukan hal yang susah, kok. Aku akan bicarakan dengan pihak mereka.”
“Kamu
siap bolak-balik Jakarta-Surabaya?”
“Jakarta-Surabaya
itu deket. Naik pesawat nggak nyampe dua jam. Lagian, kalo aku udah jadi artis
dan banyak duit. Aku bisa sewa apartemen di sana. Hidupku pasti lebih baik
daripada harus bertahan di sini.”
Deny
mengangguk-anggukkan kepala. “Aku mau tetap di kota ini. Karena udah terlanjur
ambil banyak job di sini.”
Refi
mengangguk-anggukkan kepala. “Tenang aja! Kalau aku udah banyak duit. Kamu
cukup jadi manager aku aja. Nggak perlu ambil job di luar lagi!”
“Buatku,
berapa pun uang yang kamu kasih, akan selalu kurang. Lagian, kamu baru mau
mulai dari nol lagi. Aku nggak mau ngelepasin klienku begitu aja.”
“Iya.
Terserah kamu. Suka-suka kamu!” sahut Refi.
Deny
menganggukka kepala. Ia terus tersenyum sambil menatap tubuh Refi. “Kamu
nggak takut kehilangan Tuan Muda itu kalau kamu sudah jadi artis ibukota?”
“Aku
masih tetap di kota ini. Kamu harus pintar-pintar atur jadwal buat aku!”
perintah Refi.
“Kapan
aku pernah ngecewain kamu?”
“Hmm
...” Refi mengetuk-ngetuk dagunya. “Belum pernah sih. Tapi, kalo gagal, udah
sering banget.”
“Hasil
akhirnya tetap ada di tangan kamu sendiri. Aku cuma berusaha membantu dan
menunjukkan jalannya,” tutur Deny.
Refi
memutar bola matanya. “Nggak usah sok bijak! Bikin aku laper aja!” Ia bangkit
dari sofa.
“Mau
ke mana?”
“Mau
makan. Laper banget, nih,” jawab Refi sambil melangkah menuju meja makan.
“Masak
apa?” tanya Deny.
“Aku
masak sup daging. Mau?” tanya Refi balik.
“Daging
apa?”
“Daging
sapi,” jawab Refi sambil menatap Deny yang tak bergerak dari sofa.
“Ogah!
Nggak doyan makan daging sapi.”
“Baguslah.”
Refi tersenyum sambil duduk dan mulai menikmati makanannya.
“Aku
lebih suka daging kamu. Abis makan, kamu harus suapin aku!” seru Deny.
“Suapin
apaan?”
“Suapin
daging kamu.”
“Dasar
kanibal!” celetuk Refi.
Deny
tak menghiraukan celetukkan Refi.
Usai
makan, Refi kembali menghampiri Deny yang duduk santai di atas sofa sambil
menikmati bir kaleng di hadapannya.
“Besok,
kamu temenin aku!” pinta Refi.
“Ke
mana?”
“Ke
kantor cabang SD Entertainment. Alamatnya udah dikirim ke aku.”
“Oke.”
Deny mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kamu tahu kan apa yang harus dilakukan
sekarang?”
Refi
mengangguk-anggukkan kepala. “Aku harus mempersiapkan diri untuk wawancara
besok. Harus memberikan kesan yang menarik dan dramatis supaya mereka bisa
kontrak aku jadi artis.”
Deny
tersenyum kecil. “Ada hal yang harus kamu lakukan terlebih dahulu sebelum
melakukan persiapan itu.”
“Apa
itu?”
“Kamu
pura-pura lupa?” tanya Deny sambil menyondongkan tubuhnya ke wajah Refi.
Refi
memundurkan punggungnya hingga menempel ke sofa.
“Harusnya
kamu suapin aku!” bisik Deny sambil tersenyum nakal. Matanya terus menatap
tajam ke arah Refi, bersiap untuk menelan tubuh Refi.
Refi
berusaha mendorong dada Deny yang sudah menekan tubuhnya di sofa. Tapi, ia
selalu tak punya tenaga untuk melawan kekuatan pria tersebut.
Deny
tersenyum puas, ia berusaha melumat tubuh Refi secara perlahan hingga wanita
itu tak lagi punya daya untuk melawannya. Setiap gerakan tubuhnya, diiringi
tetesan peluh yang membasahi keduanya.
Refi
sangat membenci Deny. Namun, ia tetap tak bisa mengendalikan diri setiap kali
area sensitifnya tersentuh. Ia juga tak bisa menahan diri untuk melampiaskan
hasrat yang terpendam dalam dirinya. Meluap begitu saja seiring dengan sentuhan
lembut yang bermain di sekujur tubuhnya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini ya supaya aku bisa bikin cerita yang menarik,
menghibur dan lebih berkualitas lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment