Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 425 : Penawaran SD Entertainment

 


“Kenapa Yeriko masih belum bereaksi juga?” gumam Refi sambil memutar-mutar ponselnya.

 

Sudah tiga hari video yang diupload oleh Deny berada di pencarian teratas. Namun, tak ada pergerakan sedikit pun dari Yeriko  atau pun Yuna.

 

“Kamu tenang aja!” pinta Deny sambil duduk santai di sofa.

 

“Gimana aku bisa tenang? Kamu bilang, video ini bakal bikin Yeriko balik ke aku. Kenyataannya, boro-boro dia nelpon. Nggak ada tanggapan apa pun dari dia. Nggak ada klarifikasi ke media mana pun. Padahal, video yang kamu upload udah bikin heboh se-Indonesia. Kenapa dia nggak bereaksi. Lihat aja di wawancara acara-acara gosip itu. Dia cuma senyum sambil bilang ‘no comment’ doang.”

 

Deny hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Refi.

 

“Den, kamu bisa nggak bikin sesuatu yang menarik perhatian Yeriko dengan cepat?” tanya Refi kesal. “Kalo dia cuek terus kayak gini, aku cuma capek doang!” lanjutnya sambil duduk di sofa.

 

“Kamu tenang dulu!” pinta Deny. “Kamu mau karir dulu atau Tuan Muda itu dulu?”

 

“Kalo bisa, Yeriko dulu yang balik ke aku!”

 

Deny tersenyum sinis. “Dia mau lihat kamu yang kayak gini? Cewek payah!”

 

“Apa kamu bilang?”

 

“Kamu payah! Gimana mau menarik perhatian Tuan Muda itu? Istrinya kelihatan berkelas. Sepatunya dia aja harga lima belas juta. Mana bisa dibandingkan sama kamu yang udah jatuh miskin. Karir aja nggak punya. Gimana bisa bikin Tuan Muda itu tertarik, hah!?”

 

Refi mengerutkan hidungnya. “Kamu ...!?” Ia menatap kesal ke arah Deny. Ia ingin memaki Deny, hanya saja tak sempat ia keluarkan karena ponselnya tiba-tiba berdering.

 

Refi terus menatap layar ponsel yang menunjukkan nomor baru yang tidak ia kenal.

 

“Siapa?” tanya Deny.

 

“Nomor baru,” jawab Refi.

 

“Angkat!”

 

Refi langsung menjawab panggilan telepon dari nomor tersebut. “Halo ...!”

 

“Halo, selamat malam ...! Apa benar ini dengan Mbak Refina Tata Widuri?” tanya seseorang di seberang sana.

 

“Iya, benar.”

 

“Maaf mengganggu waktunya malam-malam. Kami dari SD Entertainment. Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang perfilman dan hiburan. Kami ingin menawarkan kerjasama dengan Mbak Refi. Apakah Mbak Refi bersedia untuk masuk ke dunia hiburan melalui gosip yang sedang viral?”

 

Refi langsung melirik Deny yang duduk di sampingnya. “Ini beneran SD Entertainment?” tanya Refi.

 

“Benar, Mbak. Jika Mbak berkenan menerima tawaran kami. Mbak Refi bisa datang ke kantor kami yang berada di daerah Kuningan, Jakarta Selatan.”

 

“Jakarta?”

 

“Iya, benar.”

 

“Tapi, saya tinggal di Surabaya.”

 

“Oh. Mbak Refi tinggal di Surabaya? Kalau begitu, bisa datang ke kantor agency kami yang ada di Surabaya. Saya akan kirimkan alamat kantornya ke Mbak Refi.”

 

“Bisa?”

 

“Bisa, Mbak.”

 

“Mmh ... saya pikir-pikir dulu ya, Mbak.”

 

“Baik, Mbak Refi. Kami tunggu kabar baiknya. Jika Mbak Refi berkenan, kami tunggu keputusannya sampai besok lusa. Kami harap, bisa bekerja sama dengan Mbak Refi. Untuk selanjutnya, akan dihubungi langsung oleh agency yang ada di kantor cabang kami di kota Surabaya. Terima kasih atas waktunya ...! Selamat malam dan selamat beristirahat!” tutur seseorang di seberang sana dengan suara lembut.

 

“Selamat malam ...!” sahut Refi dengan nada yang manis.

 

Refi langsung menutup panggilan teleponnya. “Yes!” serunya penuh bahagia.

 

Deny langsung tersenyum menatap Refi.

 

“Den, jadi ini rencana kamu? Kamu sengaja upload video dan bikin sensasi baru supaya aku bisa masuk dunia hiburan lagi?”

 

Deny menganggukkan kepala. “Kamu udah nggak bisa masuk dengan prestasi kamu yang udah nggak bisa nari lagi. Cuma bisa lewat sensasi ini.”

 

“Uch ... kamu memang paling the best kalo soal ginian,” tutur Refi sambil menepuk-nepuk pipi Deny.

 

Deny langsung menangkap lengan Refi. “Semua ini nggak gratis.”

 

“Iya, aku tahu.”

 

“Ada syarat yang harus kamu penuhi!”

 

“Apa itu? Bukannya, syarat yang kamu minta udah aku penuhi semua?”

 

“Masih ada satu lagi.”

 

“Apa itu?” tanya Refi sambil menahan senyum. Ia tak bisa menahan perasaan bahagianya karena ia bisa memiliki kesempatan untuk kembali ke dunia hiburan.

 

“Cuma aku yang boleh jadi manager kamu!” pinta Deny.

 

“Manager?” Refi mengerutkan dahi menatap Deny.

 

Deny menganggukkan kepala.

 

Refi berpikir sejenak. “Oke. Bukan syarat yang susah.”

 

“Baguslah. Sebelum kamu tanda tangan kontrak dengan mereka. Kamu harus pastikan kalau dalam kontrak itu mereka tidak mengatur soal manager untuk artisnya!” pinta Deny.

 

“Oke. Oke. Bukan hal yang susah, kok. Aku akan bicarakan dengan pihak mereka.”

 

“Kamu siap bolak-balik Jakarta-Surabaya?”

 

“Jakarta-Surabaya itu deket. Naik pesawat nggak nyampe dua jam. Lagian, kalo aku udah jadi artis dan banyak duit. Aku bisa sewa apartemen di sana. Hidupku pasti lebih baik daripada harus bertahan di sini.”

 

Deny mengangguk-anggukkan kepala. “Aku mau tetap di kota ini. Karena udah terlanjur ambil banyak job di sini.”

 

Refi mengangguk-anggukkan kepala. “Tenang aja! Kalau aku udah banyak duit. Kamu cukup jadi manager aku aja. Nggak perlu ambil job di luar lagi!”

 

“Buatku, berapa pun uang yang kamu kasih, akan selalu kurang. Lagian, kamu baru mau mulai dari nol lagi. Aku nggak mau ngelepasin klienku begitu aja.”

 

“Iya. Terserah kamu. Suka-suka kamu!” sahut Refi.

 

Deny menganggukka  kepala. Ia terus tersenyum sambil menatap tubuh Refi. “Kamu nggak takut kehilangan Tuan Muda itu kalau kamu sudah jadi artis ibukota?”

 

“Aku masih tetap di kota ini. Kamu harus pintar-pintar atur jadwal buat aku!” perintah Refi.

 

“Kapan aku pernah ngecewain kamu?”

 

“Hmm ...” Refi mengetuk-ngetuk dagunya. “Belum pernah sih. Tapi, kalo gagal, udah sering banget.”

 

“Hasil akhirnya tetap ada di tangan kamu sendiri. Aku cuma berusaha membantu dan menunjukkan jalannya,” tutur Deny.

 

Refi memutar bola matanya. “Nggak usah sok bijak! Bikin aku laper aja!” Ia bangkit dari sofa.

 

“Mau ke mana?”

 

“Mau makan. Laper banget, nih,” jawab Refi sambil  melangkah menuju meja makan.

 

“Masak apa?” tanya Deny.

 

“Aku masak sup daging. Mau?” tanya Refi balik.

 

“Daging apa?”

 

“Daging sapi,” jawab Refi sambil menatap Deny yang tak bergerak dari sofa.

 

“Ogah! Nggak doyan makan daging sapi.”

 

“Baguslah.” Refi tersenyum sambil duduk dan mulai menikmati makanannya.

 

“Aku lebih suka daging kamu. Abis makan, kamu harus suapin aku!” seru Deny.

 

“Suapin apaan?”

 

“Suapin daging kamu.”

 

“Dasar kanibal!” celetuk Refi.

 

Deny tak menghiraukan celetukkan Refi.

 

Usai makan, Refi kembali menghampiri Deny yang duduk santai di atas sofa sambil menikmati bir kaleng di hadapannya.

 

“Besok, kamu temenin aku!” pinta Refi.

 

“Ke mana?”

 

“Ke kantor cabang SD Entertainment. Alamatnya udah dikirim ke aku.”

 

“Oke.” Deny mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kamu tahu kan apa yang harus dilakukan sekarang?”

 

Refi mengangguk-anggukkan kepala. “Aku harus mempersiapkan diri untuk wawancara besok. Harus memberikan kesan yang menarik dan dramatis supaya mereka bisa kontrak aku jadi artis.”

 

Deny tersenyum kecil. “Ada hal yang harus kamu lakukan terlebih dahulu sebelum melakukan persiapan itu.”

 

“Apa itu?”

 

“Kamu pura-pura lupa?” tanya Deny sambil menyondongkan tubuhnya ke wajah Refi.

 

Refi memundurkan punggungnya hingga menempel ke sofa.

 

“Harusnya kamu suapin aku!” bisik Deny sambil tersenyum nakal. Matanya terus menatap tajam ke arah Refi, bersiap untuk menelan tubuh Refi.

 

Refi berusaha mendorong dada Deny yang sudah menekan tubuhnya di sofa. Tapi, ia selalu tak punya tenaga untuk melawan kekuatan pria tersebut.

 

Deny tersenyum puas, ia berusaha melumat tubuh Refi secara perlahan hingga wanita itu tak lagi punya daya untuk melawannya. Setiap gerakan tubuhnya, diiringi tetesan peluh yang membasahi keduanya.

 

Refi sangat membenci Deny. Namun, ia tetap tak bisa mengendalikan diri setiap kali area sensitifnya tersentuh. Ia juga tak bisa menahan diri untuk melampiaskan hasrat yang terpendam dalam dirinya. Meluap begitu saja seiring dengan sentuhan lembut yang bermain di sekujur tubuhnya.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya  supaya aku bisa bikin cerita yang menarik, menghibur dan lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas