Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 426 : Agreement with SD Entertaintment

 


Refi melangkahkan kakinya penuh percaya diri saat ia memasuki kantor cabang Son’s Digital Entertainment. Penampilannya kali ini jauh berbeda dengan penampilan sebelumnya saat ia bekerja di anak perusahaan Galaxy Group. Ia tak lagi mengenakan pakaian formal, tapi mengenakan dress buatan salah seorang designer ternama di kota tersebut.

 

“Selamat pagi ...!” sapa Refi pada seorang resepsionis yang sedang bertugas.

 

“Pagi ...! Mbak Refi ya?”

 

Refi menganggukkan kepala sambil tersenyum. Videonya kali ini berada di puncak pencarian, membuat Refi semakin dikenal oleh banyak orang sebagai artis yang penuh sensasi dan kontroversi. Hal ini yang membuat Refi terus menaikkan popularitasnya dengan menjadi selebgram dan vlogger agar karirnya di dunia hiburan bisa tetap bertahan.

 

“Manager kami sudah menunggu,” tutur resepsionis tersebut sambil melangkahkan kakinya menuju ruangan manager yang tak jauh dari meja resepsionis.

 

Refi menganggukkan kepala. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Untuk skala kantor cabang, gedung tersebut lumayan luas, design interior juga dibuat dengan gaya vintage yang artistik.

 

Tok ... tok ... tok ...!

 

Resepsionis tersebut mengetuk pintu yang di atasnya bertuliskan nama dan jabatan seorang manager.

 

“Masuk ...!”

 

Resepsionis tersebut langsung membuka pintu dan mempersilakan Refi untuk masuk ke ruangan tersebut.

 

“Selamat pagi ...!” sapa Refi sambil melangkahkan kakinya masuk ke ruangan manager tersebut.

 

“Pagi ...!” Manager tersebut langsung memutar kepalanya menatap Refi. “Refi? Sudah datang?”

 

Refi menganggukkan kepala.

 

“Apa kabar?” tanya Manager tersebut sambil merangkul tubuh Refi penuh kehangatan.

 

“Baik, Bu.”

 

“Nggak usah panggil, Bu. Panggil saja Kak Ajeng!” pinta wanita berambut pendek yang ada di dalam ruangan tersebut.”Saya manager di sini, bertanggung jawab untuk mengorbitkan artis-artis berbakat dari berbagai daerah. Salah satunya adalah kota ini. Saya senang sekali bisa bertemu dengan Mbak Refi.”

 

“Saya juga senang bisa bertemu dengan Kak Ajeng,” balas Refi sambil tersenyum manis.

 

Ajeng tertawa kecil. “Ke sini sama siapa? Sendiri?”

 

“Sama temen.”

 

“Mana?”

 

“Dia tunggu di mobil.”

 

“Oh. Oke.” Ajeng mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

Refi hanya membalas dengan senyuman.

 

“To the point saja. Saya nggak punya banyak waktu untuk basa-basi. Ini kontrak kerjasama yang akan kami berikan pada Mbak Refi. Dibaca baik-baik! Setelahnya, bisa langsung ditandatangani kalau Mbak Refi setuju dengan isi kontraknya.” Ajeng menyodorkan dokumen ke hadapan Refi.

 

Refi mengangguk, ia meraih dokumen tersebut dan langsung membacanya. “Mmh ... saya punya satu permintaan sebelum menandatangani kontrak ini.”

 

“Apa itu?”

 

“Saya mau, manager untuk saya adalah hasil dari pilihan saya sendiri.”

 

“Mmh ...” Ajeng terlihat menimbang-nimbang.

 

“Saya baru mau tanda tangan kontrak kalau Anda memenuhi syarat yang saya ajukan.”

 

Ajeng menghela napas sejenak. “Apa orang yang mau Mbak Refi pakai berkompeten dalam hal ini?” tanya Ajeng.

 

Refi menganggukkan kepala. “Dia juga manager saya saat saya masih berkarir di Paris.”

 

Ajeng mengangguk-anggukkan kepalanya. “Oke. Saya akan ubah isi kontrak ini terlebih dahulu. Mbak Refi tunggu di sini sebentar!”

 

Refi menganggukkan sambil tersenyum.

 

Ajeng bergegas keluar dari ruangan tersebut. Ia memerintahkan admin perusahaan untuk merevisi isi kontrak sesuai dengan apa yang diinginkan Refi.

 

Beberapa menit kemudian, Ajeng kembali menghampiri Refi sambil membawa dokumen kontrak yang sudah direvisi. “Ini kontrak yang sudah kami revisi sesuai dengan keinginan kamu,” tuturnya sambil menyodorkan dokumen tersebut ke arah Refi.

 

Refi tersenyum sambil menerima dokumen tersebut. Ia memeriksanya terlebih dahulu. Setelah semuanya sesuai dengan apa yang dia inginkan, ia langsung menandatangani dokumen kontrak tersebut.

 

Ajeng tersenyum saat Refi sudah menandatangani kontrak tersebut. “Terima kasih, Mbak Refi sudah bersedia untuk bekerjasama dengan kami. Kami harap, kerjasama ini bisa saling memberi keuntungan. Mulai besok, asisten saya akan menjadwalkan beberapa program untuk Mbak Refi.”

 

Refi menganggukkan kepala.

 

“Karena sudah menjadi artis yang berada di bawah naungan perusahaan kami, kami memberikan beberapa fasilitas untuk artis-artis kami,” tutur Ajeng. “Ini kunci apartemen untuk Mbak Refi,” lanjutnya sambil menyodorkan sebuah kunci ke hadapan Refi.

 

“Terima kasih, Kak Ajeng!” ucap Refi sambil tersenyum manis.

 

Ajeng mengangguk sambil tersenyum. “Mulai hari ini, kamu harus pindah ke apartemen. Nggak tinggal di rumah kecil itu lagi. Saya nggak mau artis di bawah naungan SD Entertainment terlihat tak terurus.”

 

“Baik, Kak Ajeng.”

 

“Ada yang mau ditanyakan lagi?” tanya Ajeng.

 

“Mmh ... ini apartemen di kota ini? Bukan di Jakarta?”

 

Ajeng menggelengkan kepala. “Nggak semua artis kami tinggal di kota Jakarta. Mereka akan ke Jakarta sesuai dengan kebutuhan saja. SD Entertainment memiliki studio syuting di lima kota besar di Indonesia. Salah satunya adalah kota Surabaya. Kami terbiasa melakukan syuting dari sini. Baik siaran langsung maupun tidak langsung. Semuanya akan dilakukan sesuai jadwal dan sudah terintegrasi dengan baik. Kecuali untuk sinetron striping dan film yang memang menggunakan latar Jakarta.”

 

“Oh.” Refi mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

 

“Kalau karir kamu bagus, bisa ikut striping sinetron, kemungkinan kamu juga akan menjadi artis ibukota. Karena misi kami bukan hanya membesarkan nama artis ibukota. Tapi juga membesarkan nama artis daerah juga. Tidak perlu ke Ibukota untuk meniti karir sebagai artis. Karena agency kami sudah tersebar di beberapa kota besar,” jelas Ajeng.

 

Refi mengangguk-anggukkan kepala. Ia sudah mengetahui nama besar SD Entertainment. Hanya saja, ia baru mengetahui kalau SD Entertainment memiliki banyak agency yang tersebar di beberapa kota. Ia pikir, hanya ada satu studio di ibukota saja.

 

“Ada yang mau ditanyakan lagi?” tanya Ajeng.

 

Refi menggelengkan kepala. “Untuk sementara, belum ada.”

 

“Oke. Kalau gitu, kamu sudah boleh pulang dan bersiap pindahan ke apartemen. Besok, kamu datang lagi ke kantor ini jam sembilan pagi. Asisten saya akan mengatur pekerjaan buat kamu.”

 

“Baik, Kak. Saya pamit dulu!” pamit Refi sambil bergegas pergi meninggalkan ruangan manager tersebut.

 

Ajeng menghela napas setelah Refi keluar dari ruangan itu. Ia tersenyum sambil menatap kontrak yang ada di tangannya. Ia bergegas mengambil telepon dan langsung menghubungi seseorang.

 

“Halo ...!” sapa seseorang di ujung sana begitu panggilan telepon dari Ajeng tersambung.

 

“Halo, Pak Lutfi. Perintah dari Bapak sudah saya jalankan dengan baik. Mbak Refi sudah menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan kita.”

 

“Bagus. Lanjutkan misi selanjutnya! Buat semuanya terlihat secara alami. Saya ingin mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari dia!” perintah Lutfi dari balik telepon.

 

“Baik, Pak.”

 

“Oke. Terima kasih atas informasinya!” Lutfi langsung mematikan panggilan telepon dari Ajeng.

 

Ajeng tersenyum. Ia membawa dokumen kontrak keluar dari ruangannya dan menghampiri admin yang ada di sana. “Mbak, tolong kirim salinan dokumen ini ke kantor pusat untuk verifikasi!” perintah Ajeng.

 

“Baik, Kak Ajeng!”

 

“Mulai besok, Refi sudah bekerja di perusahaan kita. Kamu aturkan jadwal program untuk dia secepatnya. Video dia masih ada di pencarian teratas dan ini kesempatan yang baik untuk perusahaan kita.”

 

“Siap, Kak!”

 

Ajeng bergegas pergi, ia masuk ke studio yang ada di belakang ruang kerjanya untuk memastikan pekerjaan beberapa model yang sedang melakukan pemotretan berjalan dengan baik.

 

 

 

Di tempat lain ...

 

“Yes ...! Akhirnya, masuk perangkap juga!” seru Lutfi sambil melemparkan ponselnya ke atas kepalanya dan menangkapnya lagi. Ia langsung membaringkan tubuhnya di kasur sambil tersenyum bahagia.

 

“Telepon Yeriko dulu,” tuturnya sambil menatap layar ponsel kembali dan menekan nomor ponsel Yeriko.

 

“Halo ...! Kenapa, Lut?” tanya Yeriko begitu panggilan telepon dari Lutfi tersambung.

 

“Aku punya berita bagus buat kamu,” tutur Lutfi sambil tersenyum bahagia.

 

“Apa itu? Mau nikah sama Icha?”

 

“Mau banget kalo itu. Masih diurus sama asistenku. Ada berita yang lebih seru lagi.”

 

“Apa?”

 

“Si Reptil udah masuk ke kandang Buaya.”

 

“Maksudnya?”

 

“Aih, kamu lagi di mana sih?”

 

“Di kantor.”

 

“Lagi sibuk?”

 

“Lagi verifikasi data.”

 

“Pantes aja roaming,” celetuk Lutfi.

 

Yeriko terdengar mendesah.

 

“Si Refi udah tanda tangan kontrak sama perusahaanku. Terus, aku apain lagi nih enaknya?”

 

“Suka-sukamu, Lut!”

 

“Serius? Aku udah nggak sabar nih.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Biarkan aja dulu dia kerja di situ. Buat semuanya terlihat secara alami. Jangan buru-buru ambil tindakan, pakai cara seperti biasa!” perintahnya.

 

“Oh. Oke, oke. I see.” Lutfi tersenyum lebar mendengar ucapan Yeriko.

 

“Update terus perkembangan selanjutnya. Aku mau sibuk dulu.”

 

“Siap, Pak Bos!” seru Lutfi.

 

Yeriko langsung memutuskan panggilan telepon dari Lutfi.

 

Lutfi tersenyum bahagia. “Akhirnya, aku bisa jadi pahlawan buat Kakak Ipar. Dia harus berterima kasih dan ngasih pelukkan buat aku. Si Yeriko yang cemburuan itu bakal marah nggak ya kalau Kakak Ipar peluk aku? Hihihi.”

 

“Lutfi ...!” panggil Icha sambil mengetuk pintu kamar Lutfi.

 

“Ya.”

 

“Sudah bangun?”

 

“Sudah, Cha,” jawab Lutfi sambil menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan jam sepuluh pagi. Dia memang terbiasa bangun tidur sesukanya. Lebih senang bermalas-malasan.

 

“Aku udah siapin sarapan di bawah,” tutur Icha dari balik pintu.

 

“Siap, Nyonya Cantik! Aku mandi dulu!” seru Lutfi. Ia melompat dari atas kasur dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

 

Meski tinggal dalam satu rumah, Lutfi dan Icha tidak tinggal di kamar yang sama. Neneknya selalu memperingatkan untuk tidak melakukan tindakan berlebihan sebelum mereka resmi menjadi suami istri, ia tidak ingin kejadian yang terjadi pada Surya di masa lalu juga menimpa cucunya hanya karena tak bisa mengendalikan diri untuk berhubungan dengan wanita-wanita cantik yang ditemuinya.

 

 

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya  supaya aku bisa bikin cerita yang menarik, menghibur dan lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas