Refi
melangkahkan kakinya penuh percaya diri saat ia memasuki kantor cabang Son’s
Digital Entertainment. Penampilannya kali ini jauh berbeda dengan penampilan
sebelumnya saat ia bekerja di anak perusahaan Galaxy Group. Ia tak lagi
mengenakan pakaian formal, tapi mengenakan dress buatan salah seorang designer
ternama di kota tersebut.
“Selamat
pagi ...!” sapa Refi pada seorang resepsionis yang sedang bertugas.
“Pagi
...! Mbak Refi ya?”
Refi
menganggukkan kepala sambil tersenyum. Videonya kali ini berada di puncak
pencarian, membuat Refi semakin dikenal oleh banyak orang sebagai artis yang
penuh sensasi dan kontroversi. Hal ini yang membuat Refi terus menaikkan
popularitasnya dengan menjadi selebgram dan vlogger agar karirnya di dunia
hiburan bisa tetap bertahan.
“Manager
kami sudah menunggu,” tutur resepsionis tersebut sambil melangkahkan kakinya
menuju ruangan manager yang tak jauh dari meja resepsionis.
Refi
menganggukkan kepala. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Untuk
skala kantor cabang, gedung tersebut lumayan luas, design interior juga dibuat
dengan gaya vintage yang artistik.
Tok
... tok ... tok ...!
Resepsionis
tersebut mengetuk pintu yang di atasnya bertuliskan nama dan jabatan seorang
manager.
“Masuk
...!”
Resepsionis
tersebut langsung membuka pintu dan mempersilakan Refi untuk masuk ke ruangan
tersebut.
“Selamat
pagi ...!” sapa Refi sambil melangkahkan kakinya masuk ke ruangan manager
tersebut.
“Pagi
...!” Manager tersebut langsung memutar kepalanya menatap Refi. “Refi? Sudah
datang?”
Refi
menganggukkan kepala.
“Apa
kabar?” tanya Manager tersebut sambil merangkul tubuh Refi penuh kehangatan.
“Baik,
Bu.”
“Nggak
usah panggil, Bu. Panggil saja Kak Ajeng!” pinta wanita berambut pendek yang
ada di dalam ruangan tersebut.”Saya manager di sini, bertanggung jawab untuk
mengorbitkan artis-artis berbakat dari berbagai daerah. Salah satunya adalah
kota ini. Saya senang sekali bisa bertemu dengan Mbak Refi.”
“Saya
juga senang bisa bertemu dengan Kak Ajeng,” balas Refi sambil tersenyum manis.
Ajeng
tertawa kecil. “Ke sini sama siapa? Sendiri?”
“Sama
temen.”
“Mana?”
“Dia
tunggu di mobil.”
“Oh.
Oke.” Ajeng mengangguk-anggukkan kepalanya.
Refi
hanya membalas dengan senyuman.
“To
the point saja. Saya nggak punya banyak waktu untuk basa-basi. Ini kontrak
kerjasama yang akan kami berikan pada Mbak Refi. Dibaca baik-baik! Setelahnya,
bisa langsung ditandatangani kalau Mbak Refi setuju dengan isi kontraknya.”
Ajeng menyodorkan dokumen ke hadapan Refi.
Refi
mengangguk, ia meraih dokumen tersebut dan langsung membacanya. “Mmh ... saya
punya satu permintaan sebelum menandatangani kontrak ini.”
“Apa
itu?”
“Saya
mau, manager untuk saya adalah hasil dari pilihan saya sendiri.”
“Mmh
...” Ajeng terlihat menimbang-nimbang.
“Saya
baru mau tanda tangan kontrak kalau Anda memenuhi syarat yang saya ajukan.”
Ajeng
menghela napas sejenak. “Apa orang yang mau Mbak Refi pakai berkompeten dalam
hal ini?” tanya Ajeng.
Refi
menganggukkan kepala. “Dia juga manager saya saat saya masih berkarir di
Paris.”
Ajeng
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Oke. Saya akan ubah isi kontrak ini terlebih
dahulu. Mbak Refi tunggu di sini sebentar!”
Refi
menganggukkan sambil tersenyum.
Ajeng
bergegas keluar dari ruangan tersebut. Ia memerintahkan admin perusahaan untuk
merevisi isi kontrak sesuai dengan apa yang diinginkan Refi.
Beberapa
menit kemudian, Ajeng kembali menghampiri Refi sambil membawa dokumen kontrak
yang sudah direvisi. “Ini kontrak yang sudah kami revisi sesuai dengan
keinginan kamu,” tuturnya sambil menyodorkan dokumen tersebut ke arah Refi.
Refi
tersenyum sambil menerima dokumen tersebut. Ia memeriksanya terlebih dahulu.
Setelah semuanya sesuai dengan apa yang dia inginkan, ia langsung
menandatangani dokumen kontrak tersebut.
Ajeng
tersenyum saat Refi sudah menandatangani kontrak tersebut. “Terima kasih, Mbak
Refi sudah bersedia untuk bekerjasama dengan kami. Kami harap, kerjasama ini
bisa saling memberi keuntungan. Mulai besok, asisten saya akan menjadwalkan
beberapa program untuk Mbak Refi.”
Refi
menganggukkan kepala.
“Karena
sudah menjadi artis yang berada di bawah naungan perusahaan kami, kami
memberikan beberapa fasilitas untuk artis-artis kami,” tutur Ajeng. “Ini kunci
apartemen untuk Mbak Refi,” lanjutnya sambil menyodorkan sebuah kunci ke
hadapan Refi.
“Terima
kasih, Kak Ajeng!” ucap Refi sambil tersenyum manis.
Ajeng
mengangguk sambil tersenyum. “Mulai hari ini, kamu harus pindah ke apartemen.
Nggak tinggal di rumah kecil itu lagi. Saya nggak mau artis di bawah naungan SD
Entertainment terlihat tak terurus.”
“Baik,
Kak Ajeng.”
“Ada
yang mau ditanyakan lagi?” tanya Ajeng.
“Mmh
... ini apartemen di kota ini? Bukan di Jakarta?”
Ajeng
menggelengkan kepala. “Nggak semua artis kami tinggal di kota Jakarta. Mereka
akan ke Jakarta sesuai dengan kebutuhan saja. SD Entertainment memiliki studio
syuting di lima kota besar di Indonesia. Salah satunya adalah kota Surabaya.
Kami terbiasa melakukan syuting dari sini. Baik siaran langsung maupun tidak
langsung. Semuanya akan dilakukan sesuai jadwal dan sudah terintegrasi dengan
baik. Kecuali untuk sinetron striping dan film yang memang menggunakan latar
Jakarta.”
“Oh.”
Refi mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
“Kalau
karir kamu bagus, bisa ikut striping sinetron, kemungkinan kamu juga akan
menjadi artis ibukota. Karena misi kami bukan hanya membesarkan nama artis
ibukota. Tapi juga membesarkan nama artis daerah juga. Tidak perlu ke Ibukota
untuk meniti karir sebagai artis. Karena agency kami sudah tersebar di beberapa
kota besar,” jelas Ajeng.
Refi
mengangguk-anggukkan kepala. Ia sudah mengetahui nama besar SD Entertainment.
Hanya saja, ia baru mengetahui kalau SD Entertainment memiliki banyak agency
yang tersebar di beberapa kota. Ia pikir, hanya ada satu studio di ibukota
saja.
“Ada
yang mau ditanyakan lagi?” tanya Ajeng.
Refi
menggelengkan kepala. “Untuk sementara, belum ada.”
“Oke.
Kalau gitu, kamu sudah boleh pulang dan bersiap pindahan ke apartemen. Besok,
kamu datang lagi ke kantor ini jam sembilan pagi. Asisten saya akan mengatur
pekerjaan buat kamu.”
“Baik,
Kak. Saya pamit dulu!” pamit Refi sambil bergegas pergi meninggalkan ruangan
manager tersebut.
Ajeng
menghela napas setelah Refi keluar dari ruangan itu. Ia tersenyum sambil
menatap kontrak yang ada di tangannya. Ia bergegas mengambil telepon dan
langsung menghubungi seseorang.
“Halo
...!” sapa seseorang di ujung sana begitu panggilan telepon dari Ajeng
tersambung.
“Halo,
Pak Lutfi. Perintah dari Bapak sudah saya jalankan dengan baik. Mbak Refi sudah
menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan kita.”
“Bagus.
Lanjutkan misi selanjutnya! Buat semuanya terlihat secara alami. Saya ingin
mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari dia!” perintah Lutfi dari balik
telepon.
“Baik,
Pak.”
“Oke.
Terima kasih atas informasinya!” Lutfi langsung mematikan panggilan telepon
dari Ajeng.
Ajeng
tersenyum. Ia membawa dokumen kontrak keluar dari ruangannya dan menghampiri
admin yang ada di sana. “Mbak, tolong kirim salinan dokumen ini ke kantor pusat
untuk verifikasi!” perintah Ajeng.
“Baik,
Kak Ajeng!”
“Mulai
besok, Refi sudah bekerja di perusahaan kita. Kamu aturkan jadwal program untuk
dia secepatnya. Video dia masih ada di pencarian teratas dan ini kesempatan
yang baik untuk perusahaan kita.”
“Siap,
Kak!”
Ajeng
bergegas pergi, ia masuk ke studio yang ada di belakang ruang kerjanya untuk
memastikan pekerjaan beberapa model yang sedang melakukan pemotretan berjalan
dengan baik.
Di
tempat lain ...
“Yes
...! Akhirnya, masuk perangkap juga!” seru Lutfi sambil melemparkan ponselnya
ke atas kepalanya dan menangkapnya lagi. Ia langsung membaringkan tubuhnya di
kasur sambil tersenyum bahagia.
“Telepon
Yeriko dulu,” tuturnya sambil menatap layar ponsel kembali dan menekan nomor
ponsel Yeriko.
“Halo
...! Kenapa, Lut?” tanya Yeriko begitu panggilan telepon dari Lutfi tersambung.
“Aku
punya berita bagus buat kamu,” tutur Lutfi sambil tersenyum bahagia.
“Apa
itu? Mau nikah sama Icha?”
“Mau
banget kalo itu. Masih diurus sama asistenku. Ada berita yang lebih seru lagi.”
“Apa?”
“Si
Reptil udah masuk ke kandang Buaya.”
“Maksudnya?”
“Aih,
kamu lagi di mana sih?”
“Di
kantor.”
“Lagi
sibuk?”
“Lagi
verifikasi data.”
“Pantes
aja roaming,” celetuk Lutfi.
Yeriko
terdengar mendesah.
“Si
Refi udah tanda tangan kontrak sama perusahaanku. Terus, aku apain lagi nih
enaknya?”
“Suka-sukamu,
Lut!”
“Serius?
Aku udah nggak sabar nih.”
Yeriko
tertawa kecil. “Biarkan aja dulu dia kerja di situ. Buat semuanya terlihat
secara alami. Jangan buru-buru ambil tindakan, pakai cara seperti biasa!”
perintahnya.
“Oh.
Oke, oke. I see.” Lutfi tersenyum lebar mendengar ucapan Yeriko.
“Update
terus perkembangan selanjutnya. Aku mau sibuk dulu.”
“Siap,
Pak Bos!” seru Lutfi.
Yeriko
langsung memutuskan panggilan telepon dari Lutfi.
Lutfi
tersenyum bahagia. “Akhirnya, aku bisa jadi pahlawan buat Kakak Ipar. Dia harus
berterima kasih dan ngasih pelukkan buat aku. Si Yeriko yang cemburuan itu
bakal marah nggak ya kalau Kakak Ipar peluk aku? Hihihi.”
“Lutfi
...!” panggil Icha sambil mengetuk pintu kamar Lutfi.
“Ya.”
“Sudah
bangun?”
“Sudah,
Cha,” jawab Lutfi sambil menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan jam
sepuluh pagi. Dia memang terbiasa bangun tidur sesukanya. Lebih senang
bermalas-malasan.
“Aku
udah siapin sarapan di bawah,” tutur Icha dari balik pintu.
“Siap,
Nyonya Cantik! Aku mandi dulu!” seru Lutfi. Ia melompat dari atas kasur dan
bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Meski
tinggal dalam satu rumah, Lutfi dan Icha tidak tinggal di kamar yang sama.
Neneknya selalu memperingatkan untuk tidak melakukan tindakan berlebihan
sebelum mereka resmi menjadi suami istri, ia tidak ingin kejadian yang terjadi
pada Surya di masa lalu juga menimpa cucunya hanya karena tak bisa
mengendalikan diri untuk berhubungan dengan wanita-wanita cantik yang
ditemuinya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini ya supaya aku bisa bikin cerita yang menarik,
menghibur dan lebih berkualitas lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment