Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 421 : Kamu yang Tercantik

 


“Ay, malam ini mau lembur lagi?” tanya Yuna saat ia menikmati makan malam bersama suaminya.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

Yuna tersenyum bahagia karena ia punya banyak waktu untuk duduk bercerita bersama suaminya itu.

 

“Oh ya? Event yang waktu itu, gimana hasilnya?” tanya Yuna.

 

Yeriko menatap wajah Yuna. “Makan dulu!” perintahnya sambil memasukkan potongan tahu ke mulut Yuna.

 

Yuna langsung mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Yeriko memang paling bisa membuatnya tak banyak bicara.

 

“Mmh ... aku penasaran sama event itu. Gimana hasilnya? Kamu nggak ada kasih tahu aku. Udah jalan programnya?”

 

“Nanti aku kasih tahu, makan dulu!” pinta Yeriko.

 

Yuna langsung menyuapkan makanan dengan cepat ke mulutnya.

 

“Nggak usah buru-buru makannya! Nanti tersedak. Aku nggak ke mana-mana.”

 

“Kamu lama banget ceritanya kalo aku nggak kelar makan,” sahut Yuna dengan mulut penuh makanan.

 

“Cuma nunggu waktu makan aja, nggak sabaran banget,” ucap Yeriko.

 

“Aku emang nggak sabaran,” sahut Yuna sambil menyuap makanan ke mulutnya lebih banyak lagi.

 

“Hati-hati makannya!” pinta Yeriko sambil menahan tangan Yuna karena sudah ingin memasukkan makanan ke mulutnya yang masih penuh.

 

“Kalo gitu, ceritain sekarang!”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Iya. Aku ceritain. Makannya hati-hati!” pintanya sambil mengusap bibir Yuna yang kotor.

 

Yuna tersenyum. Ia langsung menatap wajah Yeriko, bersiap mendengarkan cerita yang keluar dari mulut suaminya.

 

“Acaranya berjalan lancar dan sukses,” tutur Yeriko sambil menatap Yuna.

 

Yuna mengangkat kedua alisnya. Ia sudah menunggu suaminya bercerita banyak. Yang keluar dari mulut Yeriko hanya kalimat singkat yang membuat hatinya tidak puas.

 

“Kenapa manyun gitu?” tanya Yeriko.

 

“Cuma itu yang mau kamu bilang ke aku?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Emangnya, apa lagi?”

 

“Aku mau denger cerita detilnya. Prosesnya gimana, hasilnya di setiap kota seperti apa. Ada kendala atau nggak? Programnya diterima sama masyarakat atau nggak? Pengaruhnya terhadap perusahaan bagaimana?” tanya Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap wajah Yuna. “Kamu udah cocok jadi Ibu CEO di Galaxy Group.”

 

“Emang aku istrinya CEO di sana,” sahut Yuna.

 

Yeriko tertawa kecil. “Maksud aku, kamu udah cocok masuk ke perusahaan untuk memimpin. Kamu perhatian banget sama perusahaanku.”

 

“Iya, dong. Aku harus perhatian. Masa cuma mau duitnya aja, hihihi.”

 

Yeriko tersenyum bangga menatap istrinya.

 

“Gimana?”

 

“Gimana apanya?”

 

“Kamu belum cerita.”

 

“Semuanya lancar. Berjalan sesuai program. Nggak ada yang perlu diceritain lagi, Yun.”

 

“Nggak ada kendala di lapangan?”

 

“Kendala itu pasti ada. Tapi sudah ditangani sama orang-orangku. Semuanya berjalan dengan baik.”

 

“Hmm ... baguslah kalau begitu. Si Refi gimana?”

 

“Kenapa nanyain dia?”

 

“Nggak papa. Siapa tahu, dia masih bikin ulah di perusahaan.”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Kata Riyan, dia sudah mengundurkan diri dengan sendirinya.”

 

“Aha ... aku baru paham!” seru Yuna.

 

Yeriko mengangkat kedua alisnya. “Paham apa?”

 

“Kamu sengaja bikin Refi menyadari siapa dia dan pergi dengan sendirinya? Makanya, kamu bikin aku berhadapan langsung sama dia?”

 

Yeriko hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna.

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum. Suaminya itu memang memiliki banyak rahasia. Bertindak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Namun, hasil akhirnya selalu sempurna seperti yang dia bayangkan. Ia tak menyangka kalau Yeriko akan menyingkirkan Refi dengan cara yang begitu  elegan.

 

Yeriko terus memerhatikan wajah Yuna yang senyum-senyum sendiri hingga mengabaikan keberadaannya.

 

“Yun ...!” panggil Yeriko.

 

“Eh!?” Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko.

 

“Kenapa? Kok, senyum-senyum sendiri?” tanya Yeriko.

 

Yuna meringis menanggapi pertanyaan Yeriko. “Nggak papa. Seneng aja. Soalnya, Refi sudah pergi dengan sendirinya. Aku nggak perlu merasa bersalah.”

 

“Bersalah kenapa?”

 

“Yah ... aku tahu ada orang yang lagi kesusahan dan membutuhkan pertolongan. Nggak mungkin aku diam aja. Semoga, dia nggak dendam sama aku karena meeting yang waktu itu.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Dia nggak punya alasan untuk dendam sama kamu. Karena dia memang nggak memiliki kemampuan untuk mengurus bisnis perusahaan.”

 

Yuna tersenyum. “Kamu tahu banget siapa dia.”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Yuna langsung mengerutkan hidungnya. “Berarti, kamu masih perhatiin dia diam-diam?”

 

Yeriko langsung menepuk dahinya. “Dia mantan pacarku. Aku sama dia juga sudah berteman lama sebelum kami pacaran. Yah, pastinya aku tahu gimana dia. Kamu masih cemburu sama masa laluku? Aku aja nggak pernah cemburu sama Lian atau Andre.”

 

Yuna mencebik ke arah Yeriko. “Beneran nggak pernah cemburu?” dengusnya.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Ya udah, besok aku ajak Andre makan siang di Jamoo. Nggak cemburu kan?”

 

Yeriko langsung melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya seketika berubah masam.

 

Yuna meringis menatap suaminya. “Katanya nggak cemburu? Kenapa jelek banget mukanya?”

 

“Pergi aja sana sama Andre!” tutur Yeriko ketus.

 

“Aku bercanda. Sensi amat!” sahut Yuna. “Lagian, ngomongnya nggak pernah cemburu. Tapi muka cemburunya udah kelihatan jelas banget,” gumamnya.

 

“Kalau udah tahu, harusnya nggak perlu kamu tanyain lagi!” pinta Yeriko.

 

“Siap, Pak Bos! Eh, aku masih penasaran ... gimana kamu bisa jatuh cinta sama Refi?”

 

“Siapa yang jatuh cinta sama dia?”

 

“Kamu.”

 

“Aku nggak pernah bilang begitu.”

 

“Kenapa bisa pacaran?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

“Kamu sama Wilian, kenapa bisa pacaran?” tanya Yeriko balik.

 

“Karena aku suka sama dia yang ganteng, baik dan perhatian sama aku.”

 

“Sampai sekarang masih suka?”

 

“Nggak.”

 

“Kenapa? Bukannya dia juga masih perhatian sama kamu?”

 

“Karena aku sudah punya suami. Nggak mungkin aku suka lagi sama dia. Apalagi dia tukang selingkuh. Dia udah bikin aku kecewa dan sakit hati. Nggak akan balik suka ke dia lagi,” jelas Yuna.

 

“Jadi, mana yang lebih baik? Aku atau dia?”

 

“Ya suami aku, dong!” sahut Yuna.

 

Yeriko tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Eh, kamu pinter banget mengalihkan pembicaraan. Bukannya aku yang tanya kamu duluan. Kenapa malah aku yang diinterogasi?” tanya Yuna sambil menunjuk hidungnya sendiri.

 

Yeriko tersenyum sambil menjepit hidung Yuna. Ia bangkit dari tempat duduknya dan bergegas pergi ke halaman belakang.

 

“Hei, pertanyaanku belum dijawab. Kenapa dulu, kamu bisa pacaran sama Refi?” seru Yuna. Ia mencomot buah anggur yang ada di atas meja dan mengejar langkah Yeriko.

 

“Karena dia cantik,” jawab Yeriko sambil mengeluarkan rokok dari sakunya.

 

Yuna menghentikan langkahnya. Ia memonyongkan bibir sambil menghentakkan kakinya. “Sekarang dia masih cantik, berarti kamu masih suka sama dia?”

 

Yeriko berbalik dan menatap Yuna kembali. “Aku nggak suka lagi sama dia. Karena istriku jauh lebih cantik.”

 

Yuna tersipu mendengar ucapan Yeriko. “Mmh ... kalau ada perempuan yang lebih cantik lagi, apa kamu bakal berpaling dari aku?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Buatku, kamulah yang paling cantik,” ucapnya sambil tersenyum.

 

Yuna tersenyum sambil melangkah mendekati Yeriko.

 

“Jangan ke sini!” pinta Yeriko.

 

“Eh!? Kenapa?”

 

“Aku mau ngerokok dulu. Kamu tunggu aku di kamar ya!” perintahnya.

 

Yuna memonyongkan bibirnya, ia berbalik dan melangkahkan kakinya perlahan menaiki anak tangga.

 

Yeriko tersenyum sambil membalas pesan yang dikirim seseorang untuknya. Ada hal yang masih harus ia rahasiakan dari istrinya. Bukan karena dia tidak ingin terbuka. Ia lebih tidak ingin membuat Yuna berpikir terlalu banyak. Apa pun, akan ia lakukan untuk melindungi istri tercintanya.

 

Yeriko menekan nomor Riyan dan meletakkan ponsel di telinganya. “Yan, yang aku suruh waktu itu ... sudah dikerjakan?” tanya Yeriko.

 

“Sudah, Pak Bos.”

 

“Hasilnya gimana?”

 

“Belum ada update dari dia. Besok akan saya cek.”

 

“Oke. Aku tunggu kabar selanjutnya!” Yeriko tersenyum, ia langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia duduk santai di teras belakang rumahnya sambil memikirkan rencana yang akan ia lakukan selanjutnya.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya ...

 Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 420 : Anak Anjing yang Manis

 


“Kenapa semua orang baik sama Yuna? Apa bagusnya dia?” seru Refi saat ia diusir keluar dari kantor perusahaan Galaxy Group.

 

 

 

Refi langsung merogoh ponsel dari dalam tas tangannya.

 

“Halo ...!” sapa Refi begitu ia menempelkan ponsel ke telinganya. “Bisa ke rumah aku sekarang? Aku butuh bantuan kamu ... jam makan malam.” Ia berbicara seperlunya dan langsung mematikan kembali panggilan teleponnya.

 

 

 

“Lihat aja ya! Kalian semua udah keterlaluan karena meremehkan dan menindas aku begitu aja!” seru Refi sambil menatap gedung tinggi bertuliskan Galaxy Group. Ia berbalik dan meninggalkan perusahaan tersebut penuh kebencian.

 

 

 

Refi sangat kesal dengan perlakuan Yeriko terhadapnya. Ia berpikir, Yeriko tak mungkin melakukan hal itu kalau bukan karena pengaruh istrinya. Sebab, selama ini Yeriko selalu bersikap baik terhadap dirinya. Tak pernah sekali pun mengecewakan atau menyakiti dirinya.

 

 

 

Sejak Yeriko menikah dengan Yuna. Ia benar-benar merasa kehilangan sosok yang selalu menyayanginya dan memperlakukan dirinya begitu istimewa. Ia masih ingat bagaimana Yeriko mengucapkan ulang tahun dan mengirimkan hadiah untuknya  saat ia masih di Paris. Ia pikir, Yeriko tak akan pernah berpaling dari dirinya.

 

 

 

Sesampainya di rumah, perasaan Refi semakin tak karuan. Ia tidak bisa memaksakan diri untuk masuk ke perusahaan Yeriko. Itu hanya akan membuat dirinya menderita. Juga penilaian Yeriko tentang dirinya yang semakin memburuk.

 

 

 

Refi terus memikirkan ide agar Yeriko bisa kembali bersamanya dengan mudah. Ia hanya ingin mendapatkan perhatian dari Yeriko seperti dulu lagi.

 

 

 

“Waktu hubunganku sama Yeriko masih baik, semua orang juga baik ke aku. Termasuk sahabat-sahabat Yeriko yang tengil itu. Tapi, sekarang mereka semua ada di pihak Yeriko dan ikutan membenci aku. Huft, Yeriko memang bukan pria yang mudah untuk ditakhlukkan dan dikendalikan. Gimana kalau aku buat Yeriko membenci Yuna?” Refi mondar-mandir di dalam rumah sambil memainkan ponselnya.

 

“Gimana caranya bikin Yeri benci sama Yuna ya?” tanya Refi sambil mengetuk-ngetuk dagunya.

 

“Hmm ... Deny pasti bisa bantu aku. Oke, tunggu aja dia datang. Dia pasti bisa bikin aku kembali ke keadaan yang dulu. Supaya Yeriko jatuh cinta sama aku lagi dan membenci perempuan sialan satu itu!”

 

Refi meletakkan ponsel ke atas meja. Ia bergegas membersihkan dirinya. Kemudian, ia pergi ke dapur. Ia memilih untuk memasak terlebih dahulu sambil menunggu Deny datang ke rumahnya.

 

 

 

Beberapa menit kemudian ...

 

“Malam ...!” sapa Deny begitu ia masuk ke dalam rumah.

 

“Malam juga,” balas Refi yang sedang sibuk memotong sayuran di dapur.

 

“Ada apa cari aku?” tanya Deny. Ia langsung menghampiri Refi dan memeluk tubuh gadis itu dari belakang.

 

“Aku butuh bantuan kamu,” jawab Refi tanpa menoleh ke arah Deny.

 

“Bantuan apa?”

 

“Aku mau kamu ...”

 

“Sst ...!” bisik Deny sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir Refi. “Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan sebelum mengajukan permintaan ke aku?”

 

“Maksud kamu?”

 

Deny mengendus leher dan telinga Refi.  Kedua tangannya perlahan masuk ke baju Refi.  Hanya dalam hitungan detik, Deny sudah bisa menguasai tubuh Refi sepenuhnya.

 

Refi tak bisa menahan diri setiap kali kulitnya bersentuhan dengan kulit Deny. Ia terus mendesah, menikmati setiap gerakan yang dilakukan Deny di tubuhnya hingga mengabaikan sayuran yang sedang ia potong begitu saja. Lantai dapur yang dingin, menjadi saksi bagaimana dua orang berlawanan jenis itu saling beradu, saling mengerang penuh kenikmatan.

 

Deny selalu memperlakukan Refi seperti artis AV, menjadikan Refi sebagai bahan utama untuk memuaskan nafsu dirinya tanpa harus ada ikatan. Membuatnya tetap bisa hidup bebas dan menikmati semua hal yang dia inginkan.

 

Refi tergeletak lemas di lantai sambil menatap Deny yang bangkit dari tubuhnya. Walau ia membenci pria itu, tapi tak pernah bisa menolak untuk melakukan hubungan intim dengan pria itu. Setiap kali bagian sensitifnya tersentuh, ia sudah tak bisa mengendalikan diri dan menginginkan sesuatu yang lebih dalam lagi.

 

“Good job!” ucap Deny sambil tersenyum sinis sambil menatap tubuh Refi. Ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

 

Refi memejamkan mata sejenak. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk bisa lepas dari jeratan Deny. Hanya Deny satu-satunya pria yang bisa membantunya. Melakukan apa pun yang diinginkan Refi. Mulai dari melancarkan karirnya saat di Paris, hingga berusaha merebut kembali hati Yeriko. Hanya saja, ia belum berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan dan tidak akan menyerah begitu saja.

 

“Cowok sialan!” umpat Refi dalam hati sambil bangkit dari lantai. Ia bergegas masuk ke kamarnya dan pergi mandi.

 

Beberapa menit kemudian, Refi dan Deny sudah duduk bersama di meja makan.

 

“Kamu mau bantuan apa?” tanya Deny sambil menatap Refi.

 

“Aku mau kembali seperti dulu lagi.”

 

Deny mengangkat kedua alisnya. “Maksud kamu?”

 

“Aku mau kembali ke dunia hiburan lagi. Kerja di perusahaan bener-bener bikin aku tersiksa. Setiap hari harus berangkat pagi-pagi, diperintah sana-sini, disuruh angkat-angkat barang, disuruh ke sana ke mari. Aku udah berusaha semaksimal mungkin, tetap aja gagal,” cerocos Refi.

 

Deny tergelak mendengar ucapan Refi. “Akhirnya, kamu sadar juga?”

 

“Aku bukan ingin berhenti mengejar Yeriko!”

 

“Terus?”

 

“Aku mau kembali berkarir di dunia hiburan. Dulu, Yeriko jatuh cinta sama aku karena bakat yang aku miliki. Dia juga terus menyemangatiku setiap hari. Aku ingin kembali seperti dulu, membuat dia jatuh cinta lagi sama aku.”

 

Deny menahan tawa mendengar ucapan Refi.

 

“Kenapa? Ada yang salah?”

 

Deny menggelengkan kepala. “Ref, semakin ke sini aku semakin tahu bagaimana kehidupan pria yang kamu inginkan itu. Mmh ... aku rasa, dia nggak akan pernah kembali sama kamu. Terlebih, dia sangat menyayangi istrinya.”

 

“Kamu ...!? Malah mau berpihak sama perempuan itu?”

 

“Aku bukan berpihak. Realitanya memang seperti itu.”

 

“Hati orang bisa berubah kapan aja. Aku juga bakal bikin Yeriko kembali sama aku lagi. Apa pun caranya. Termasuk menyingkirkan perempuan itu dari kehidupan Yeriko!”

 

Deny tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Aku suka sifat ambisius kamu ini.”

 

“Jadi gimana? Kamu mau bantu aku ‘kan?” tanya Refi.

 

Deny menatap wajah Refi sejenak, kemudian tersenyum. “Aku bisa bantu kamu masuk dunia hiburan lagi. Tapi, aku nggak menjamin kalau itu akan merebut perhatian mantan pacar kamu itu.”

 

Refi menarik napas dalam-dalam. “Nggak masalah. Setelahnya, aku akan berusaha sendiri untuk mengambil perhatian Yeriko.”

 

Deny mengangguk-anggukkan kepala. “Tapi, aku punya syarat untuk ini.”

 

“Syarat apa itu?” tanya Refi.

 

“Kamu harus selalu ada kapan pun aku butuh kamu.”

 

“Aku akan selalu ada di saat kamu butuh aku.”

 

Deny mengangguk-anggukkan kepalanya. “Termasuk saat aku butuh kamu di ranjang,” ucapnya sambil tersenyum manis.

 

“Kamu ...!?” Refi membelalakkan matanya menatap Deny.

 

“Udahlah. Nggak usah sok suci!” tutur Deny. “Aku sudah tahu kamu dari luar sampai dalam. Kalau kamu mau aku bantu kamu, aku harus lihat dulu ... apakah imbalannya setimpal dengan kerja kerasku?” tanyanya sambil mengangkat kedua alis.

 

Refi terdiam. Ia berpikir sejenak. Ia memang sudah menyerahkan semuanya kepada Deny sejak awal. “Kalau cuma memuaskan dia di ranjang? Bukannya itu hal yang mudah?” batinnya.

 

Deny terus tersenyum sambil menunggu Refi membuat kesepakatan dengannya. Ia hanya menginginkan kerjasama yang menguntungkan dirinya saja. Ia tidak peduli dengan hal lain selain keuntungan yang bisa ia dapatkan dari Refi.

 

Refi menggigit bibir sambil menatap Deny. Mulutnya sangat berat untuk mengucapkan kalau ia menyetujui permintaan Deny. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan kalau Yeriko mengetahui siapa dia sebenarnya. Kemungkinan yang paling besar adalah, Yeriko akan semakin membenci dirinya.

 

“Gimana?” tanya Deny sambil menatap wajah Refi.

 

Refi mengangguk kecil. Ia tidak punya pilihan lain lagi selain menyetujui permintaan Deny. Baginya, selama Deny bisa menjaga rahasia tentang hubungannya, ia tak perlu khawatir berlebihan.

 

“Apa!? Aku nggak dengar,” tutur Deny.

 

“Iya. Aku setuju.”

 

Deny langsung tersenyum puas. “Anak anjing yang manis!” Ia tersenyum sambil mengusap ujung kepala Refi.

 

Refi mengerutkan bibirnya sambil menatap tajam ke arah Deny. “Tapi ... kamu harus selalu menjaga hubungan kita rapat-rapat dari siapa pun.”

 

“Oke.” Deny mengangguk santai. Ia pikir, permintaan Refi terlalu mudah untuk ia lakukan. “Cuma itu permintaan kamu kali ini?”

 

Refi menganggukkan kepala.

 

Deny mengangguk-angguk. Usai makan malam bersama Refi, ia bergegas meninggalkan rumah Refi. Banyak hal yang harus ia lakukan. Tidak hanya mengurusi Refi seorang diri yang sudah tidak memiliki banyak uang dan tidak bisa ia andalkan lagi. Ia ingin membantu Refi masuk kembali dalam dunia hiburan agar ia pun bisa merasakan pundi-pundi yang dihasilkan Refi seperti sebelumnya.

 

Refi tersenyum lega karena akhirnya ia punya kesempatan untuk kembali ke kehidupannya semula sebagai artis. Kali ini, ia tidak ingin kembali ke perusahaan yang tidak sesuai dengan dirinya.

 

Refi pun tak mengindahkan panggilan dan pesan dari managernya, memilih memblokir pesan dari manager tersebut dan pergi dari perusahaan begitu saja tanpa mengurus administrasi yang seharusnya dilakukan sebagai seorang karyawan yang mengundurkan diri. Sikapnya benar-benar tidak beretika. Setelah membuat kekacauan di perusahaan, ia pergi begitu saja.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya ...

 Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 419 : Tak Sebanding Denganmu

 


“Yeriko, tunggu!” seru Refi sambil mengikuti langkah Yuna dan Yeriko.

 

Yeriko dan Yuna berbalik, mereka langsung menatap Refi.

 

“Ada apa lagi?” tanya Yeriko.

 

“Yer, kasih aku kesempatan lagi! Please!” pinta Refi.

 

“Kesempatan apa?” tanya Yuna.

 

“Kesempatan untuk berkarir di perusahaan ini. Aku tahu, aku memang masih harus banyak belajar. Aku akan baiki proposal aku lagi. Asalkan kalian kasih aku kesempatan sekali lagi.”

 

Yuna menghela napas sambil menatap Refi. “Aku ...”

 

Yeriko langsung merangkul Yuna. “Aku nggak pernah ngasih kesempatan lagi untuk hal sepenting ini. Kamu pikir, perusahaan ini tempat untuk main-main?”

 

Refi menggigit bibirnya. Ia tak pandai berargumen, tapi tidak ingin menyerah begitu saja. Terlebih, ia bisa memiliki kesempatan untuk bekerja di kantor utama Galaxy Group jika proposal yang ia ajukan kali ini berhasil.

 

“Lebih baik, kamu pergi ke tempat di mana seharusnya kamu berada!” tutur Yeriko sambil menatap Refi.

 

“Maksud kamu?”

 

“Perusahaan ini nggak cocok buat kamu. Lebih baik, kamu cari perusahaan lain yang sesuai dengan bidangmu. Kamu nggak akan pernah bisa bersaing dengan istriku dalam hal apa pun.”

 

“Kamu ...!?” Refi menatap tajam ke arah Yeriko. Ia tak menyangka kalau Yeriko benar-benar telah membenci dirinya dengan mudah hanya karena seorang wanita yang baru saja masuk dalam kehidupan Yeriko. Tiga tahun lalu, hubungan mereka masih baik. Yeriko bahkan tidak pernah mengucapkan kalimat kasar terhadap dirinya.

 

Yeriko tersenyum ke arah Refi. “Ada yang mau dibicarakan lagi?”

 

Refi hanya menggigit bibir, matanya menatap tajam ke arah Yuna yang berada di pelukkan Yeriko. “Kenapa harus kamu yang ada di samping Yeriko?” batinnya diselimuti kebencian.

 

“Ayo, kita balik ke ruanganku. Waktunya makan siang,” bisik Yeriko di telinga Yuna. Ia langsung berbalik, bergegas pergi meninggalkan Refi yang terpaku di koridor kantor tersebut.

 

Yuna tersenyum bahagia sambil bergelayut manja di lengan Yeriko. Ia merasa sangat bahagia karena suaminya itu bisa dengan tegas menolak wanita yang pernah menjadi cinta pertamanya.

 

“Ay, apa sikap kamu ke Refi nggak terlalu berlebihan?” tanya Yuna saat ia dan Yeriko sudah sampai di dalam ruang kerja Yeriko.

 

“Berlebihan gimana?”

 

“Aku lihat, wajahnya dia sedih banget.”

 

“Ck, kenapa kamu selalu mikirin orang lain? Kamu tahu gimana Refi. Kamu mau kalau aku balik lagi ke dia, hah!?”

 

“Nggak mau!” sahut Yuna sambil memeluk lengan Yeriko.

 

Yeriko mengacak rambut Yuna. “Makanya, jangan terlalu baik. Ada orang yang harus kita kasih kesempatan, ada juga orang yang tidak layak untuk kita kasih kesempatan.”

 

“Maksudnya?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko memutar bola matanya. “Maksudnya ... perut aku lapar. Makan yuk!”

 

“Bibi War yang antar makanan ke sini?” tanya Yuna sambil menatap meja yang ada di ruang kerja suaminya itu. Di atasnya, sudah ada kotak bekal yang biasa ia bawa untuk suaminya.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Yuna tersenyum bahagia. Ia bangkit dari sofa, kemudian menyiapkan makan siang dengan senang hati.

 

“Ay, menurut kamu ... aku tadi gimana?” tanya Yuna di sela-sela makan siangnya bersama Yeriko.

 

“Bagus,” jawab Yeriko sambil menganggukkan kepala.

 

Yuna tertawa kecil. “Makasih, ya! Udah kasih tahu aku banyak hal.”

 

Yeriko mengangguk. “Nyonya Ye nggak boleh terlihat payah di depan orang lain,” ucap Yeriko sambil menyuapkan potongan buah kiwi ke mulut Yuna.

 

Yuna tersenyum bahagia. “Ini pertama kalinya aku merasa sangat berguna untuk suamiku. Setidaknya, sebagai bagian dari perusahaan ini ... aku nggak mempermalukan suamiku sendiri.”

 

“Kamu selalu berguna buat aku setiap detik,” tutur Yeriko sambil tersenyum manis.

 

Yuna tersenyum sambil menggigit bibirnya. Ia menopang dagu dengan telapak tangannya, menatap Yeriko sambil mengerdip-ngerdipkan matanya.

 

“Kenapa ngelihatin kayak gitu? Centil banget!” ucap Yeriko sambil menjepit hidung Yuna.

 

“Pengen lihat suamiku yang makin ganteng aja.”

 

“Setiap hari udah lihat ‘kan?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Tapi, jarang banget aku bisa lihat kamu di jam segini. Biasanya di rumah cuma lihat artis di televisi.”

 

Yeriko tersenyum. “Kamu ke sini aja setiap hari.”

 

“Boleh?”

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Nggak konsen kerja kalau kamu di sini terus.”

 

“Idih, emangnya aku ganggu kamu!?” celetuk Yuna kesal.

 

“Kamu selalu mengganggu pikiranku,” jawab Yeriko sambil mencubit pipi Yuna. “Kalau kamu di sini, aku pengennya ...” Yeriko menggigit bibir bawah sambil menatap dada Yuna.

 

“Pengen apa?” tanya Yuna sambil menyodorkan wajahnya.

 

“Malah nantangin?” tanya Yeriko.

 

Yuna terkekeh.

 

“Aku harus ketemu seseorang lima belas menit lagi. Angga sudah jemput kamu di bawah.”

 

“Klien cewek atau cowok?” tanya Yuna sambil mengembungkan pipinya.

 

“Cewek atau cowok, sama aja.”

 

Yuna terdiam. Ia segera membereskan tempat makanan yang ada di atas meja usai makan siang bersama Yeriko. “Cantika lagi?”

 

“Cemburu sama Cantika?” tanya Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia terbayang sosok Cantika yang cantik, pandai dan baik hati. Untungnya, Cantika sudah memiliki tunangan dan tidak mengejar cinta suaminya seperti Refi.

 

“Hei, nggak usah murung gitu! Aku hari ini mau ketemu sama teman bisnisku. Pengusaha dari Kalimantan. Kebetulan, dia lagi main ke sini.”

 

“Oh.”

 

Yeriko mendekatkan wajahnya ke wajah Yuna. “Kamu kenapa? Masih jelek aja mukanya.”

 

“Nggak papa,” jawab Yuna santai. Ia menenteng tas bekal dan bersiap keluar dari ruangan Yeriko. “Aku pulang dulu!” pamitnya.

 

“Tunggu Angga sampai sini ya!” pinta Yeriko.

 

“Aku tunggu di bawah aja,” sahut Yuna.

 

“Aku bilang, tunggu di sini!” perintah Yeriko.

 

Yuna langsung menatap wajah Yeriko. “Iya. Iya.”

 

Yeriko tersenyum sambil meraih pinggang Yuna. “Kamu jangan cemberut terus kayak gini!” pintanya. Ia kini sedikit kerepotan karena suasana hati Yuna yang mudah berubah. Ia tidak ingin melihat istrinya murung. Semakin hari, Yuna semakin sensitif dengan hal-hal kecil yang menurut dia masih biasa saja.

 

 

 

...

 

 

 

-        Lobi Kantor Utama Galaxy Group –

 

“Manager sialan ...!” seru Refi setelah ia berdebat habis-habisan dengan managernya lagi.

 

Semua orang langsung menoleh ke arahnya. Namun, ia tak memperdulikan hal itu.

 

“Ref, jaga sikap kamu!” Manager yang dimaki oleh Refi, muncul dari balik pintu.

 

“Buat apa jaga sikap? Emang dasarnya aja kamu nggak suka sama aku. Aku udah bikin proposal yang bagus, suruh ganti. Udah aku ganti, proposal aku tetap aja ditolak. Yang nggak berguna itu kamu. Nggak bisa ngarahin anak buahnya dengan baik!” serunya kesal.

 

“Bukan saya yang nggak bisa ngarahin anak buah dengan baik, kamunya aja yang bodoh. Udah dikasih tahu, masih aja nggak bisa ngerjain.”

 

“Aku bodoh karena didikan manager yang bodoh!” sahut Refi.

 

Manager tersebut geleng-geleng kepala melihat tingkah Refi. Ia memanggil satpam untuk mengusir Refi keluar dari perusahaan.

 

“Kalian semua penjahat! Nggak punya perasaan sama sekali!” seru Refi. “Perusahaan apa ini? Bisanya menindas orang setiap hari.”

 

Semua orang yang ada di sana langsung menoleh ke arah Refi yang sudah berada di tangan dua orang satpam. Mereka sudah terbiasa melihat kegilaan Refi, sudah tak heran lagi dengan tingkah Refi yang aneh dan semaunya sendiri.

 

“Kasihan banget sih dia. Mantan pacarnya Pak Bos. Masih tergila-gila mau masuk perusahaan ini. Jelas-jelas, Pak Bos nggak suka sama dia,” celetuk salah seorang karyawan yang kebetulan ada di lobi tersebut untuk menyaksikan perseteruan Refi dan manajernya.

 

“Beda jauh sama istrinya bos yang baik, murah senyum dan cantik.”

 

“Dia juga pintar. Ternyata, dia lulusan luar negeri. Tadi, aku ikut rapat sama istrinya Pak Bos. Nggak nyangka kalau istrinya juga perempuan yang mengagumkan.”

 

“Pantes jadi istrinya Pak Bos. Daripada Mbak Refi yang aneh itu. Bisanya cuma bikin kegaduhan.”

 

“Iya. Untungnya, bukan Mbak Refi yang jadi istrinya Pak Bos. Kalau dia yang jadi istrinya, mau jadi apa perusahaan ini? Omongan dia banyak hoax-nya.”

 

“Hahaha. Pak Bos mah orang pintar. Nggak mungkin ambil istri yang begitu. Modal tampang doang, hatinya busuk banget.”

 

Semua karyawan yang ada di lobi mulai membanding-bandingkan Yuna dan Refi. Mereka sudah tak heran lagi karena Refi beberapa kali membuat kegaduhan di perusahaannya. Terlebih, saat kejadian beberapa bulan lalu. Bos mereka sampai menggelar konferensi pers dan membungkam mulut Refi saat itu juga. Mereka tidak mungkin melupakan kejadian itu begitu saja.

 

  ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya ...

 Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas