“Ay,
malam ini mau lembur lagi?” tanya Yuna saat ia menikmati makan malam bersama
suaminya.
Yeriko
menggelengkan kepala.
Yuna
tersenyum bahagia karena ia punya banyak waktu untuk duduk bercerita bersama
suaminya itu.
“Oh
ya? Event yang waktu itu, gimana hasilnya?” tanya Yuna.
Yeriko
menatap wajah Yuna. “Makan dulu!” perintahnya sambil memasukkan potongan tahu
ke mulut Yuna.
Yuna
langsung mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Yeriko memang paling
bisa membuatnya tak banyak bicara.
“Mmh
... aku penasaran sama event itu. Gimana hasilnya? Kamu nggak ada kasih tahu
aku. Udah jalan programnya?”
“Nanti
aku kasih tahu, makan dulu!” pinta Yeriko.
Yuna
langsung menyuapkan makanan dengan cepat ke mulutnya.
“Nggak
usah buru-buru makannya! Nanti tersedak. Aku nggak ke mana-mana.”
“Kamu
lama banget ceritanya kalo aku nggak kelar makan,” sahut Yuna dengan mulut
penuh makanan.
“Cuma
nunggu waktu makan aja, nggak sabaran banget,” ucap Yeriko.
“Aku
emang nggak sabaran,” sahut Yuna sambil menyuap makanan ke mulutnya lebih
banyak lagi.
“Hati-hati
makannya!” pinta Yeriko sambil menahan tangan Yuna karena sudah ingin
memasukkan makanan ke mulutnya yang masih penuh.
“Kalo
gitu, ceritain sekarang!”
Yeriko
menganggukkan kepala. “Iya. Aku ceritain. Makannya hati-hati!” pintanya sambil
mengusap bibir Yuna yang kotor.
Yuna
tersenyum. Ia langsung menatap wajah Yeriko, bersiap mendengarkan cerita yang
keluar dari mulut suaminya.
“Acaranya
berjalan lancar dan sukses,” tutur Yeriko sambil menatap Yuna.
Yuna
mengangkat kedua alisnya. Ia sudah menunggu suaminya bercerita banyak. Yang
keluar dari mulut Yeriko hanya kalimat singkat yang membuat hatinya tidak puas.
“Kenapa
manyun gitu?” tanya Yeriko.
“Cuma
itu yang mau kamu bilang ke aku?”
Yeriko
menganggukkan kepala. “Emangnya, apa lagi?”
“Aku
mau denger cerita detilnya. Prosesnya gimana, hasilnya di setiap kota seperti
apa. Ada kendala atau nggak? Programnya diterima sama masyarakat atau nggak?
Pengaruhnya terhadap perusahaan bagaimana?” tanya Yuna.
Yeriko
tersenyum kecil menatap wajah Yuna. “Kamu udah cocok jadi Ibu CEO di Galaxy
Group.”
“Emang
aku istrinya CEO di sana,” sahut Yuna.
Yeriko
tertawa kecil. “Maksud aku, kamu udah cocok masuk ke perusahaan untuk memimpin.
Kamu perhatian banget sama perusahaanku.”
“Iya,
dong. Aku harus perhatian. Masa cuma mau duitnya aja, hihihi.”
Yeriko
tersenyum bangga menatap istrinya.
“Gimana?”
“Gimana
apanya?”
“Kamu
belum cerita.”
“Semuanya
lancar. Berjalan sesuai program. Nggak ada yang perlu diceritain lagi, Yun.”
“Nggak
ada kendala di lapangan?”
“Kendala
itu pasti ada. Tapi sudah ditangani sama orang-orangku. Semuanya berjalan
dengan baik.”
“Hmm
... baguslah kalau begitu. Si Refi gimana?”
“Kenapa
nanyain dia?”
“Nggak
papa. Siapa tahu, dia masih bikin ulah di perusahaan.”
Yeriko
menggelengkan kepala. “Kata Riyan, dia sudah mengundurkan diri dengan
sendirinya.”
“Aha
... aku baru paham!” seru Yuna.
Yeriko
mengangkat kedua alisnya. “Paham apa?”
“Kamu
sengaja bikin Refi menyadari siapa dia dan pergi dengan sendirinya? Makanya,
kamu bikin aku berhadapan langsung sama dia?”
Yeriko
hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna.
Yuna
mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum. Suaminya itu memang memiliki
banyak rahasia. Bertindak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Namun, hasil
akhirnya selalu sempurna seperti yang dia bayangkan. Ia tak menyangka kalau
Yeriko akan menyingkirkan Refi dengan cara yang begitu elegan.
Yeriko
terus memerhatikan wajah Yuna yang senyum-senyum sendiri hingga mengabaikan
keberadaannya.
“Yun
...!” panggil Yeriko.
“Eh!?”
Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko.
“Kenapa?
Kok, senyum-senyum sendiri?” tanya Yeriko.
Yuna
meringis menanggapi pertanyaan Yeriko. “Nggak papa. Seneng aja. Soalnya, Refi
sudah pergi dengan sendirinya. Aku nggak perlu merasa bersalah.”
“Bersalah
kenapa?”
“Yah
... aku tahu ada orang yang lagi kesusahan dan membutuhkan pertolongan. Nggak
mungkin aku diam aja. Semoga, dia nggak dendam sama aku karena meeting yang
waktu itu.”
Yeriko
menganggukkan kepala. “Dia nggak punya alasan untuk dendam sama kamu. Karena
dia memang nggak memiliki kemampuan untuk mengurus bisnis perusahaan.”
Yuna
tersenyum. “Kamu tahu banget siapa dia.”
Yeriko
menganggukkan kepala.
Yuna
langsung mengerutkan hidungnya. “Berarti, kamu masih perhatiin dia diam-diam?”
Yeriko
langsung menepuk dahinya. “Dia mantan pacarku. Aku sama dia juga sudah berteman
lama sebelum kami pacaran. Yah, pastinya aku tahu gimana dia. Kamu masih
cemburu sama masa laluku? Aku aja nggak pernah cemburu sama Lian atau Andre.”
Yuna
mencebik ke arah Yeriko. “Beneran nggak pernah cemburu?” dengusnya.
Yeriko
menggelengkan kepala.
“Ya
udah, besok aku ajak Andre makan siang di Jamoo. Nggak cemburu kan?”
Yeriko
langsung melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya seketika berubah
masam.
Yuna
meringis menatap suaminya. “Katanya nggak cemburu? Kenapa jelek banget
mukanya?”
“Pergi
aja sana sama Andre!” tutur Yeriko ketus.
“Aku
bercanda. Sensi amat!” sahut Yuna. “Lagian, ngomongnya nggak pernah cemburu.
Tapi muka cemburunya udah kelihatan jelas banget,” gumamnya.
“Kalau
udah tahu, harusnya nggak perlu kamu tanyain lagi!” pinta Yeriko.
“Siap,
Pak Bos! Eh, aku masih penasaran ... gimana kamu bisa jatuh cinta sama Refi?”
“Siapa
yang jatuh cinta sama dia?”
“Kamu.”
“Aku
nggak pernah bilang begitu.”
“Kenapa
bisa pacaran?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.
“Kamu
sama Wilian, kenapa bisa pacaran?” tanya Yeriko balik.
“Karena
aku suka sama dia yang ganteng, baik dan perhatian sama aku.”
“Sampai
sekarang masih suka?”
“Nggak.”
“Kenapa?
Bukannya dia juga masih perhatian sama kamu?”
“Karena
aku sudah punya suami. Nggak mungkin aku suka lagi sama dia. Apalagi dia tukang
selingkuh. Dia udah bikin aku kecewa dan sakit hati. Nggak akan balik suka ke
dia lagi,” jelas Yuna.
“Jadi,
mana yang lebih baik? Aku atau dia?”
“Ya
suami aku, dong!” sahut Yuna.
Yeriko
tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Eh,
kamu pinter banget mengalihkan pembicaraan. Bukannya aku yang tanya kamu
duluan. Kenapa malah aku yang diinterogasi?” tanya Yuna sambil menunjuk
hidungnya sendiri.
Yeriko
tersenyum sambil menjepit hidung Yuna. Ia bangkit dari tempat duduknya dan
bergegas pergi ke halaman belakang.
“Hei,
pertanyaanku belum dijawab. Kenapa dulu, kamu bisa pacaran sama Refi?” seru
Yuna. Ia mencomot buah anggur yang ada di atas meja dan mengejar langkah
Yeriko.
“Karena
dia cantik,” jawab Yeriko sambil mengeluarkan rokok dari sakunya.
Yuna
menghentikan langkahnya. Ia memonyongkan bibir sambil menghentakkan kakinya.
“Sekarang dia masih cantik, berarti kamu masih suka sama dia?”
Yeriko
berbalik dan menatap Yuna kembali. “Aku nggak suka lagi sama dia. Karena
istriku jauh lebih cantik.”
Yuna
tersipu mendengar ucapan Yeriko. “Mmh ... kalau ada perempuan yang lebih cantik
lagi, apa kamu bakal berpaling dari aku?”
Yeriko
menggelengkan kepala. “Buatku, kamulah yang paling cantik,” ucapnya sambil
tersenyum.
Yuna
tersenyum sambil melangkah mendekati Yeriko.
“Jangan
ke sini!” pinta Yeriko.
“Eh!?
Kenapa?”
“Aku
mau ngerokok dulu. Kamu tunggu aku di kamar ya!” perintahnya.
Yuna
memonyongkan bibirnya, ia berbalik dan melangkahkan kakinya perlahan menaiki
anak tangga.
Yeriko
tersenyum sambil membalas pesan yang dikirim seseorang untuknya. Ada hal yang
masih harus ia rahasiakan dari istrinya. Bukan karena dia tidak ingin terbuka.
Ia lebih tidak ingin membuat Yuna berpikir terlalu banyak. Apa pun, akan ia
lakukan untuk melindungi istri tercintanya.
Yeriko
menekan nomor Riyan dan meletakkan ponsel di telinganya. “Yan, yang aku suruh
waktu itu ... sudah dikerjakan?” tanya Yeriko.
“Sudah,
Pak Bos.”
“Hasilnya
gimana?”
“Belum
ada update dari dia. Besok akan saya cek.”
“Oke.
Aku tunggu kabar selanjutnya!” Yeriko tersenyum, ia langsung mematikan
panggilan teleponnya. Ia duduk santai di teras belakang rumahnya sambil
memikirkan rencana yang akan ia lakukan selanjutnya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini ya ...
Thank
you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin
cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment