Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 421 : Kamu yang Tercantik

 


“Ay, malam ini mau lembur lagi?” tanya Yuna saat ia menikmati makan malam bersama suaminya.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

Yuna tersenyum bahagia karena ia punya banyak waktu untuk duduk bercerita bersama suaminya itu.

 

“Oh ya? Event yang waktu itu, gimana hasilnya?” tanya Yuna.

 

Yeriko menatap wajah Yuna. “Makan dulu!” perintahnya sambil memasukkan potongan tahu ke mulut Yuna.

 

Yuna langsung mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Yeriko memang paling bisa membuatnya tak banyak bicara.

 

“Mmh ... aku penasaran sama event itu. Gimana hasilnya? Kamu nggak ada kasih tahu aku. Udah jalan programnya?”

 

“Nanti aku kasih tahu, makan dulu!” pinta Yeriko.

 

Yuna langsung menyuapkan makanan dengan cepat ke mulutnya.

 

“Nggak usah buru-buru makannya! Nanti tersedak. Aku nggak ke mana-mana.”

 

“Kamu lama banget ceritanya kalo aku nggak kelar makan,” sahut Yuna dengan mulut penuh makanan.

 

“Cuma nunggu waktu makan aja, nggak sabaran banget,” ucap Yeriko.

 

“Aku emang nggak sabaran,” sahut Yuna sambil menyuap makanan ke mulutnya lebih banyak lagi.

 

“Hati-hati makannya!” pinta Yeriko sambil menahan tangan Yuna karena sudah ingin memasukkan makanan ke mulutnya yang masih penuh.

 

“Kalo gitu, ceritain sekarang!”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Iya. Aku ceritain. Makannya hati-hati!” pintanya sambil mengusap bibir Yuna yang kotor.

 

Yuna tersenyum. Ia langsung menatap wajah Yeriko, bersiap mendengarkan cerita yang keluar dari mulut suaminya.

 

“Acaranya berjalan lancar dan sukses,” tutur Yeriko sambil menatap Yuna.

 

Yuna mengangkat kedua alisnya. Ia sudah menunggu suaminya bercerita banyak. Yang keluar dari mulut Yeriko hanya kalimat singkat yang membuat hatinya tidak puas.

 

“Kenapa manyun gitu?” tanya Yeriko.

 

“Cuma itu yang mau kamu bilang ke aku?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Emangnya, apa lagi?”

 

“Aku mau denger cerita detilnya. Prosesnya gimana, hasilnya di setiap kota seperti apa. Ada kendala atau nggak? Programnya diterima sama masyarakat atau nggak? Pengaruhnya terhadap perusahaan bagaimana?” tanya Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap wajah Yuna. “Kamu udah cocok jadi Ibu CEO di Galaxy Group.”

 

“Emang aku istrinya CEO di sana,” sahut Yuna.

 

Yeriko tertawa kecil. “Maksud aku, kamu udah cocok masuk ke perusahaan untuk memimpin. Kamu perhatian banget sama perusahaanku.”

 

“Iya, dong. Aku harus perhatian. Masa cuma mau duitnya aja, hihihi.”

 

Yeriko tersenyum bangga menatap istrinya.

 

“Gimana?”

 

“Gimana apanya?”

 

“Kamu belum cerita.”

 

“Semuanya lancar. Berjalan sesuai program. Nggak ada yang perlu diceritain lagi, Yun.”

 

“Nggak ada kendala di lapangan?”

 

“Kendala itu pasti ada. Tapi sudah ditangani sama orang-orangku. Semuanya berjalan dengan baik.”

 

“Hmm ... baguslah kalau begitu. Si Refi gimana?”

 

“Kenapa nanyain dia?”

 

“Nggak papa. Siapa tahu, dia masih bikin ulah di perusahaan.”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Kata Riyan, dia sudah mengundurkan diri dengan sendirinya.”

 

“Aha ... aku baru paham!” seru Yuna.

 

Yeriko mengangkat kedua alisnya. “Paham apa?”

 

“Kamu sengaja bikin Refi menyadari siapa dia dan pergi dengan sendirinya? Makanya, kamu bikin aku berhadapan langsung sama dia?”

 

Yeriko hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna.

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum. Suaminya itu memang memiliki banyak rahasia. Bertindak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Namun, hasil akhirnya selalu sempurna seperti yang dia bayangkan. Ia tak menyangka kalau Yeriko akan menyingkirkan Refi dengan cara yang begitu  elegan.

 

Yeriko terus memerhatikan wajah Yuna yang senyum-senyum sendiri hingga mengabaikan keberadaannya.

 

“Yun ...!” panggil Yeriko.

 

“Eh!?” Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko.

 

“Kenapa? Kok, senyum-senyum sendiri?” tanya Yeriko.

 

Yuna meringis menanggapi pertanyaan Yeriko. “Nggak papa. Seneng aja. Soalnya, Refi sudah pergi dengan sendirinya. Aku nggak perlu merasa bersalah.”

 

“Bersalah kenapa?”

 

“Yah ... aku tahu ada orang yang lagi kesusahan dan membutuhkan pertolongan. Nggak mungkin aku diam aja. Semoga, dia nggak dendam sama aku karena meeting yang waktu itu.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Dia nggak punya alasan untuk dendam sama kamu. Karena dia memang nggak memiliki kemampuan untuk mengurus bisnis perusahaan.”

 

Yuna tersenyum. “Kamu tahu banget siapa dia.”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Yuna langsung mengerutkan hidungnya. “Berarti, kamu masih perhatiin dia diam-diam?”

 

Yeriko langsung menepuk dahinya. “Dia mantan pacarku. Aku sama dia juga sudah berteman lama sebelum kami pacaran. Yah, pastinya aku tahu gimana dia. Kamu masih cemburu sama masa laluku? Aku aja nggak pernah cemburu sama Lian atau Andre.”

 

Yuna mencebik ke arah Yeriko. “Beneran nggak pernah cemburu?” dengusnya.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Ya udah, besok aku ajak Andre makan siang di Jamoo. Nggak cemburu kan?”

 

Yeriko langsung melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya seketika berubah masam.

 

Yuna meringis menatap suaminya. “Katanya nggak cemburu? Kenapa jelek banget mukanya?”

 

“Pergi aja sana sama Andre!” tutur Yeriko ketus.

 

“Aku bercanda. Sensi amat!” sahut Yuna. “Lagian, ngomongnya nggak pernah cemburu. Tapi muka cemburunya udah kelihatan jelas banget,” gumamnya.

 

“Kalau udah tahu, harusnya nggak perlu kamu tanyain lagi!” pinta Yeriko.

 

“Siap, Pak Bos! Eh, aku masih penasaran ... gimana kamu bisa jatuh cinta sama Refi?”

 

“Siapa yang jatuh cinta sama dia?”

 

“Kamu.”

 

“Aku nggak pernah bilang begitu.”

 

“Kenapa bisa pacaran?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

“Kamu sama Wilian, kenapa bisa pacaran?” tanya Yeriko balik.

 

“Karena aku suka sama dia yang ganteng, baik dan perhatian sama aku.”

 

“Sampai sekarang masih suka?”

 

“Nggak.”

 

“Kenapa? Bukannya dia juga masih perhatian sama kamu?”

 

“Karena aku sudah punya suami. Nggak mungkin aku suka lagi sama dia. Apalagi dia tukang selingkuh. Dia udah bikin aku kecewa dan sakit hati. Nggak akan balik suka ke dia lagi,” jelas Yuna.

 

“Jadi, mana yang lebih baik? Aku atau dia?”

 

“Ya suami aku, dong!” sahut Yuna.

 

Yeriko tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Eh, kamu pinter banget mengalihkan pembicaraan. Bukannya aku yang tanya kamu duluan. Kenapa malah aku yang diinterogasi?” tanya Yuna sambil menunjuk hidungnya sendiri.

 

Yeriko tersenyum sambil menjepit hidung Yuna. Ia bangkit dari tempat duduknya dan bergegas pergi ke halaman belakang.

 

“Hei, pertanyaanku belum dijawab. Kenapa dulu, kamu bisa pacaran sama Refi?” seru Yuna. Ia mencomot buah anggur yang ada di atas meja dan mengejar langkah Yeriko.

 

“Karena dia cantik,” jawab Yeriko sambil mengeluarkan rokok dari sakunya.

 

Yuna menghentikan langkahnya. Ia memonyongkan bibir sambil menghentakkan kakinya. “Sekarang dia masih cantik, berarti kamu masih suka sama dia?”

 

Yeriko berbalik dan menatap Yuna kembali. “Aku nggak suka lagi sama dia. Karena istriku jauh lebih cantik.”

 

Yuna tersipu mendengar ucapan Yeriko. “Mmh ... kalau ada perempuan yang lebih cantik lagi, apa kamu bakal berpaling dari aku?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Buatku, kamulah yang paling cantik,” ucapnya sambil tersenyum.

 

Yuna tersenyum sambil melangkah mendekati Yeriko.

 

“Jangan ke sini!” pinta Yeriko.

 

“Eh!? Kenapa?”

 

“Aku mau ngerokok dulu. Kamu tunggu aku di kamar ya!” perintahnya.

 

Yuna memonyongkan bibirnya, ia berbalik dan melangkahkan kakinya perlahan menaiki anak tangga.

 

Yeriko tersenyum sambil membalas pesan yang dikirim seseorang untuknya. Ada hal yang masih harus ia rahasiakan dari istrinya. Bukan karena dia tidak ingin terbuka. Ia lebih tidak ingin membuat Yuna berpikir terlalu banyak. Apa pun, akan ia lakukan untuk melindungi istri tercintanya.

 

Yeriko menekan nomor Riyan dan meletakkan ponsel di telinganya. “Yan, yang aku suruh waktu itu ... sudah dikerjakan?” tanya Yeriko.

 

“Sudah, Pak Bos.”

 

“Hasilnya gimana?”

 

“Belum ada update dari dia. Besok akan saya cek.”

 

“Oke. Aku tunggu kabar selanjutnya!” Yeriko tersenyum, ia langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia duduk santai di teras belakang rumahnya sambil memikirkan rencana yang akan ia lakukan selanjutnya.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya ...

 Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas