“Yeriko,
tunggu!” seru Refi sambil mengikuti langkah Yuna dan Yeriko.
Yeriko
dan Yuna berbalik, mereka langsung menatap Refi.
“Ada
apa lagi?” tanya Yeriko.
“Yer,
kasih aku kesempatan lagi! Please!” pinta Refi.
“Kesempatan
apa?” tanya Yuna.
“Kesempatan
untuk berkarir di perusahaan ini. Aku tahu, aku memang masih harus banyak
belajar. Aku akan baiki proposal aku lagi. Asalkan kalian kasih aku kesempatan
sekali lagi.”
Yuna
menghela napas sambil menatap Refi. “Aku ...”
Yeriko
langsung merangkul Yuna. “Aku nggak pernah ngasih kesempatan lagi untuk hal
sepenting ini. Kamu pikir, perusahaan ini tempat untuk main-main?”
Refi
menggigit bibirnya. Ia tak pandai berargumen, tapi tidak ingin menyerah begitu
saja. Terlebih, ia bisa memiliki kesempatan untuk bekerja di kantor utama
Galaxy Group jika proposal yang ia ajukan kali ini berhasil.
“Lebih
baik, kamu pergi ke tempat di mana seharusnya kamu berada!” tutur Yeriko sambil
menatap Refi.
“Maksud
kamu?”
“Perusahaan
ini nggak cocok buat kamu. Lebih baik, kamu cari perusahaan lain yang sesuai
dengan bidangmu. Kamu nggak akan pernah bisa bersaing dengan istriku dalam hal
apa pun.”
“Kamu
...!?” Refi menatap tajam ke arah Yeriko. Ia tak menyangka kalau Yeriko
benar-benar telah membenci dirinya dengan mudah hanya karena seorang wanita
yang baru saja masuk dalam kehidupan Yeriko. Tiga tahun lalu, hubungan mereka
masih baik. Yeriko bahkan tidak pernah mengucapkan kalimat kasar terhadap
dirinya.
Yeriko
tersenyum ke arah Refi. “Ada yang mau dibicarakan lagi?”
Refi
hanya menggigit bibir, matanya menatap tajam ke arah Yuna yang berada di
pelukkan Yeriko. “Kenapa harus kamu yang ada di samping Yeriko?” batinnya
diselimuti kebencian.
“Ayo,
kita balik ke ruanganku. Waktunya makan siang,” bisik Yeriko di telinga Yuna.
Ia langsung berbalik, bergegas pergi meninggalkan Refi yang terpaku di koridor
kantor tersebut.
Yuna
tersenyum bahagia sambil bergelayut manja di lengan Yeriko. Ia merasa sangat
bahagia karena suaminya itu bisa dengan tegas menolak wanita yang pernah
menjadi cinta pertamanya.
“Ay,
apa sikap kamu ke Refi nggak terlalu berlebihan?” tanya Yuna saat ia dan Yeriko
sudah sampai di dalam ruang kerja Yeriko.
“Berlebihan
gimana?”
“Aku
lihat, wajahnya dia sedih banget.”
“Ck,
kenapa kamu selalu mikirin orang lain? Kamu tahu gimana Refi. Kamu mau kalau
aku balik lagi ke dia, hah!?”
“Nggak
mau!” sahut Yuna sambil memeluk lengan Yeriko.
Yeriko
mengacak rambut Yuna. “Makanya, jangan terlalu baik. Ada orang yang harus kita
kasih kesempatan, ada juga orang yang tidak layak untuk kita kasih kesempatan.”
“Maksudnya?”
tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.
Yeriko
memutar bola matanya. “Maksudnya ... perut aku lapar. Makan yuk!”
“Bibi
War yang antar makanan ke sini?” tanya Yuna sambil menatap meja yang ada di
ruang kerja suaminya itu. Di atasnya, sudah ada kotak bekal yang biasa ia bawa
untuk suaminya.
Yeriko
menganggukkan kepala.
Yuna
tersenyum bahagia. Ia bangkit dari sofa, kemudian menyiapkan makan siang dengan
senang hati.
“Ay,
menurut kamu ... aku tadi gimana?” tanya Yuna di sela-sela makan siangnya
bersama Yeriko.
“Bagus,”
jawab Yeriko sambil menganggukkan kepala.
Yuna
tertawa kecil. “Makasih, ya! Udah kasih tahu aku banyak hal.”
Yeriko
mengangguk. “Nyonya Ye nggak boleh terlihat payah di depan orang lain,” ucap
Yeriko sambil menyuapkan potongan buah kiwi ke mulut Yuna.
Yuna
tersenyum bahagia. “Ini pertama kalinya aku merasa sangat berguna untuk
suamiku. Setidaknya, sebagai bagian dari perusahaan ini ... aku nggak
mempermalukan suamiku sendiri.”
“Kamu
selalu berguna buat aku setiap detik,” tutur Yeriko sambil tersenyum manis.
Yuna
tersenyum sambil menggigit bibirnya. Ia menopang dagu dengan telapak tangannya,
menatap Yeriko sambil mengerdip-ngerdipkan matanya.
“Kenapa
ngelihatin kayak gitu? Centil banget!” ucap Yeriko sambil menjepit hidung Yuna.
“Pengen
lihat suamiku yang makin ganteng aja.”
“Setiap
hari udah lihat ‘kan?”
Yuna
menganggukkan kepala. “Tapi, jarang banget aku bisa lihat kamu di jam segini.
Biasanya di rumah cuma lihat artis di televisi.”
Yeriko
tersenyum. “Kamu ke sini aja setiap hari.”
“Boleh?”
Yeriko
menggelengkan kepala.
“Nggak
konsen kerja kalau kamu di sini terus.”
“Idih,
emangnya aku ganggu kamu!?” celetuk Yuna kesal.
“Kamu
selalu mengganggu pikiranku,” jawab Yeriko sambil mencubit pipi Yuna. “Kalau
kamu di sini, aku pengennya ...” Yeriko menggigit bibir bawah sambil menatap
dada Yuna.
“Pengen
apa?” tanya Yuna sambil menyodorkan wajahnya.
“Malah
nantangin?” tanya Yeriko.
Yuna
terkekeh.
“Aku
harus ketemu seseorang lima belas menit lagi. Angga sudah jemput kamu di
bawah.”
“Klien
cewek atau cowok?” tanya Yuna sambil mengembungkan pipinya.
“Cewek
atau cowok, sama aja.”
Yuna
terdiam. Ia segera membereskan tempat makanan yang ada di atas meja usai makan
siang bersama Yeriko. “Cantika lagi?”
“Cemburu
sama Cantika?” tanya Yeriko.
Yuna
menggelengkan kepala. Ia terbayang sosok Cantika yang cantik, pandai dan baik
hati. Untungnya, Cantika sudah memiliki tunangan dan tidak mengejar cinta
suaminya seperti Refi.
“Hei,
nggak usah murung gitu! Aku hari ini mau ketemu sama teman bisnisku. Pengusaha
dari Kalimantan. Kebetulan, dia lagi main ke sini.”
“Oh.”
Yeriko
mendekatkan wajahnya ke wajah Yuna. “Kamu kenapa? Masih jelek aja mukanya.”
“Nggak
papa,” jawab Yuna santai. Ia menenteng tas bekal dan bersiap keluar dari
ruangan Yeriko. “Aku pulang dulu!” pamitnya.
“Tunggu
Angga sampai sini ya!” pinta Yeriko.
“Aku
tunggu di bawah aja,” sahut Yuna.
“Aku
bilang, tunggu di sini!” perintah Yeriko.
Yuna
langsung menatap wajah Yeriko. “Iya. Iya.”
Yeriko
tersenyum sambil meraih pinggang Yuna. “Kamu jangan cemberut terus kayak gini!”
pintanya. Ia kini sedikit kerepotan karena suasana hati Yuna yang mudah
berubah. Ia tidak ingin melihat istrinya murung. Semakin hari, Yuna semakin
sensitif dengan hal-hal kecil yang menurut dia masih biasa saja.
...
- Lobi Kantor Utama Galaxy Group –
“Manager
sialan ...!” seru Refi setelah ia berdebat habis-habisan dengan managernya
lagi.
Semua
orang langsung menoleh ke arahnya. Namun, ia tak memperdulikan hal itu.
“Ref,
jaga sikap kamu!” Manager yang dimaki oleh Refi, muncul dari balik pintu.
“Buat
apa jaga sikap? Emang dasarnya aja kamu nggak suka sama aku. Aku udah bikin
proposal yang bagus, suruh ganti. Udah aku ganti, proposal aku tetap aja
ditolak. Yang nggak berguna itu kamu. Nggak bisa ngarahin anak buahnya dengan
baik!” serunya kesal.
“Bukan
saya yang nggak bisa ngarahin anak buah dengan baik, kamunya aja yang bodoh.
Udah dikasih tahu, masih aja nggak bisa ngerjain.”
“Aku
bodoh karena didikan manager yang bodoh!” sahut Refi.
Manager
tersebut geleng-geleng kepala melihat tingkah Refi. Ia memanggil satpam untuk
mengusir Refi keluar dari perusahaan.
“Kalian
semua penjahat! Nggak punya perasaan sama sekali!” seru Refi. “Perusahaan apa
ini? Bisanya menindas orang setiap hari.”
Semua
orang yang ada di sana langsung menoleh ke arah Refi yang sudah berada di
tangan dua orang satpam. Mereka sudah terbiasa melihat kegilaan Refi, sudah tak
heran lagi dengan tingkah Refi yang aneh dan semaunya sendiri.
“Kasihan
banget sih dia. Mantan pacarnya Pak Bos. Masih tergila-gila mau masuk
perusahaan ini. Jelas-jelas, Pak Bos nggak suka sama dia,” celetuk salah
seorang karyawan yang kebetulan ada di lobi tersebut untuk menyaksikan
perseteruan Refi dan manajernya.
“Beda
jauh sama istrinya bos yang baik, murah senyum dan cantik.”
“Dia
juga pintar. Ternyata, dia lulusan luar negeri. Tadi, aku ikut rapat sama
istrinya Pak Bos. Nggak nyangka kalau istrinya juga perempuan yang
mengagumkan.”
“Pantes
jadi istrinya Pak Bos. Daripada Mbak Refi yang aneh itu. Bisanya cuma bikin
kegaduhan.”
“Iya.
Untungnya, bukan Mbak Refi yang jadi istrinya Pak Bos. Kalau dia yang jadi
istrinya, mau jadi apa perusahaan ini? Omongan dia banyak hoax-nya.”
“Hahaha.
Pak Bos mah orang pintar. Nggak mungkin ambil istri yang begitu. Modal tampang
doang, hatinya busuk banget.”
Semua
karyawan yang ada di lobi mulai membanding-bandingkan Yuna dan Refi. Mereka
sudah tak heran lagi karena Refi beberapa kali membuat kegaduhan di
perusahaannya. Terlebih, saat kejadian beberapa bulan lalu. Bos mereka sampai
menggelar konferensi pers dan membungkam mulut Refi saat itu juga. Mereka tidak
mungkin melupakan kejadian itu begitu saja.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini ya ...
Thank
you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin
cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment