Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 419 : Tak Sebanding Denganmu

 


“Yeriko, tunggu!” seru Refi sambil mengikuti langkah Yuna dan Yeriko.

 

Yeriko dan Yuna berbalik, mereka langsung menatap Refi.

 

“Ada apa lagi?” tanya Yeriko.

 

“Yer, kasih aku kesempatan lagi! Please!” pinta Refi.

 

“Kesempatan apa?” tanya Yuna.

 

“Kesempatan untuk berkarir di perusahaan ini. Aku tahu, aku memang masih harus banyak belajar. Aku akan baiki proposal aku lagi. Asalkan kalian kasih aku kesempatan sekali lagi.”

 

Yuna menghela napas sambil menatap Refi. “Aku ...”

 

Yeriko langsung merangkul Yuna. “Aku nggak pernah ngasih kesempatan lagi untuk hal sepenting ini. Kamu pikir, perusahaan ini tempat untuk main-main?”

 

Refi menggigit bibirnya. Ia tak pandai berargumen, tapi tidak ingin menyerah begitu saja. Terlebih, ia bisa memiliki kesempatan untuk bekerja di kantor utama Galaxy Group jika proposal yang ia ajukan kali ini berhasil.

 

“Lebih baik, kamu pergi ke tempat di mana seharusnya kamu berada!” tutur Yeriko sambil menatap Refi.

 

“Maksud kamu?”

 

“Perusahaan ini nggak cocok buat kamu. Lebih baik, kamu cari perusahaan lain yang sesuai dengan bidangmu. Kamu nggak akan pernah bisa bersaing dengan istriku dalam hal apa pun.”

 

“Kamu ...!?” Refi menatap tajam ke arah Yeriko. Ia tak menyangka kalau Yeriko benar-benar telah membenci dirinya dengan mudah hanya karena seorang wanita yang baru saja masuk dalam kehidupan Yeriko. Tiga tahun lalu, hubungan mereka masih baik. Yeriko bahkan tidak pernah mengucapkan kalimat kasar terhadap dirinya.

 

Yeriko tersenyum ke arah Refi. “Ada yang mau dibicarakan lagi?”

 

Refi hanya menggigit bibir, matanya menatap tajam ke arah Yuna yang berada di pelukkan Yeriko. “Kenapa harus kamu yang ada di samping Yeriko?” batinnya diselimuti kebencian.

 

“Ayo, kita balik ke ruanganku. Waktunya makan siang,” bisik Yeriko di telinga Yuna. Ia langsung berbalik, bergegas pergi meninggalkan Refi yang terpaku di koridor kantor tersebut.

 

Yuna tersenyum bahagia sambil bergelayut manja di lengan Yeriko. Ia merasa sangat bahagia karena suaminya itu bisa dengan tegas menolak wanita yang pernah menjadi cinta pertamanya.

 

“Ay, apa sikap kamu ke Refi nggak terlalu berlebihan?” tanya Yuna saat ia dan Yeriko sudah sampai di dalam ruang kerja Yeriko.

 

“Berlebihan gimana?”

 

“Aku lihat, wajahnya dia sedih banget.”

 

“Ck, kenapa kamu selalu mikirin orang lain? Kamu tahu gimana Refi. Kamu mau kalau aku balik lagi ke dia, hah!?”

 

“Nggak mau!” sahut Yuna sambil memeluk lengan Yeriko.

 

Yeriko mengacak rambut Yuna. “Makanya, jangan terlalu baik. Ada orang yang harus kita kasih kesempatan, ada juga orang yang tidak layak untuk kita kasih kesempatan.”

 

“Maksudnya?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko memutar bola matanya. “Maksudnya ... perut aku lapar. Makan yuk!”

 

“Bibi War yang antar makanan ke sini?” tanya Yuna sambil menatap meja yang ada di ruang kerja suaminya itu. Di atasnya, sudah ada kotak bekal yang biasa ia bawa untuk suaminya.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Yuna tersenyum bahagia. Ia bangkit dari sofa, kemudian menyiapkan makan siang dengan senang hati.

 

“Ay, menurut kamu ... aku tadi gimana?” tanya Yuna di sela-sela makan siangnya bersama Yeriko.

 

“Bagus,” jawab Yeriko sambil menganggukkan kepala.

 

Yuna tertawa kecil. “Makasih, ya! Udah kasih tahu aku banyak hal.”

 

Yeriko mengangguk. “Nyonya Ye nggak boleh terlihat payah di depan orang lain,” ucap Yeriko sambil menyuapkan potongan buah kiwi ke mulut Yuna.

 

Yuna tersenyum bahagia. “Ini pertama kalinya aku merasa sangat berguna untuk suamiku. Setidaknya, sebagai bagian dari perusahaan ini ... aku nggak mempermalukan suamiku sendiri.”

 

“Kamu selalu berguna buat aku setiap detik,” tutur Yeriko sambil tersenyum manis.

 

Yuna tersenyum sambil menggigit bibirnya. Ia menopang dagu dengan telapak tangannya, menatap Yeriko sambil mengerdip-ngerdipkan matanya.

 

“Kenapa ngelihatin kayak gitu? Centil banget!” ucap Yeriko sambil menjepit hidung Yuna.

 

“Pengen lihat suamiku yang makin ganteng aja.”

 

“Setiap hari udah lihat ‘kan?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Tapi, jarang banget aku bisa lihat kamu di jam segini. Biasanya di rumah cuma lihat artis di televisi.”

 

Yeriko tersenyum. “Kamu ke sini aja setiap hari.”

 

“Boleh?”

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Nggak konsen kerja kalau kamu di sini terus.”

 

“Idih, emangnya aku ganggu kamu!?” celetuk Yuna kesal.

 

“Kamu selalu mengganggu pikiranku,” jawab Yeriko sambil mencubit pipi Yuna. “Kalau kamu di sini, aku pengennya ...” Yeriko menggigit bibir bawah sambil menatap dada Yuna.

 

“Pengen apa?” tanya Yuna sambil menyodorkan wajahnya.

 

“Malah nantangin?” tanya Yeriko.

 

Yuna terkekeh.

 

“Aku harus ketemu seseorang lima belas menit lagi. Angga sudah jemput kamu di bawah.”

 

“Klien cewek atau cowok?” tanya Yuna sambil mengembungkan pipinya.

 

“Cewek atau cowok, sama aja.”

 

Yuna terdiam. Ia segera membereskan tempat makanan yang ada di atas meja usai makan siang bersama Yeriko. “Cantika lagi?”

 

“Cemburu sama Cantika?” tanya Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia terbayang sosok Cantika yang cantik, pandai dan baik hati. Untungnya, Cantika sudah memiliki tunangan dan tidak mengejar cinta suaminya seperti Refi.

 

“Hei, nggak usah murung gitu! Aku hari ini mau ketemu sama teman bisnisku. Pengusaha dari Kalimantan. Kebetulan, dia lagi main ke sini.”

 

“Oh.”

 

Yeriko mendekatkan wajahnya ke wajah Yuna. “Kamu kenapa? Masih jelek aja mukanya.”

 

“Nggak papa,” jawab Yuna santai. Ia menenteng tas bekal dan bersiap keluar dari ruangan Yeriko. “Aku pulang dulu!” pamitnya.

 

“Tunggu Angga sampai sini ya!” pinta Yeriko.

 

“Aku tunggu di bawah aja,” sahut Yuna.

 

“Aku bilang, tunggu di sini!” perintah Yeriko.

 

Yuna langsung menatap wajah Yeriko. “Iya. Iya.”

 

Yeriko tersenyum sambil meraih pinggang Yuna. “Kamu jangan cemberut terus kayak gini!” pintanya. Ia kini sedikit kerepotan karena suasana hati Yuna yang mudah berubah. Ia tidak ingin melihat istrinya murung. Semakin hari, Yuna semakin sensitif dengan hal-hal kecil yang menurut dia masih biasa saja.

 

 

 

...

 

 

 

-        Lobi Kantor Utama Galaxy Group –

 

“Manager sialan ...!” seru Refi setelah ia berdebat habis-habisan dengan managernya lagi.

 

Semua orang langsung menoleh ke arahnya. Namun, ia tak memperdulikan hal itu.

 

“Ref, jaga sikap kamu!” Manager yang dimaki oleh Refi, muncul dari balik pintu.

 

“Buat apa jaga sikap? Emang dasarnya aja kamu nggak suka sama aku. Aku udah bikin proposal yang bagus, suruh ganti. Udah aku ganti, proposal aku tetap aja ditolak. Yang nggak berguna itu kamu. Nggak bisa ngarahin anak buahnya dengan baik!” serunya kesal.

 

“Bukan saya yang nggak bisa ngarahin anak buah dengan baik, kamunya aja yang bodoh. Udah dikasih tahu, masih aja nggak bisa ngerjain.”

 

“Aku bodoh karena didikan manager yang bodoh!” sahut Refi.

 

Manager tersebut geleng-geleng kepala melihat tingkah Refi. Ia memanggil satpam untuk mengusir Refi keluar dari perusahaan.

 

“Kalian semua penjahat! Nggak punya perasaan sama sekali!” seru Refi. “Perusahaan apa ini? Bisanya menindas orang setiap hari.”

 

Semua orang yang ada di sana langsung menoleh ke arah Refi yang sudah berada di tangan dua orang satpam. Mereka sudah terbiasa melihat kegilaan Refi, sudah tak heran lagi dengan tingkah Refi yang aneh dan semaunya sendiri.

 

“Kasihan banget sih dia. Mantan pacarnya Pak Bos. Masih tergila-gila mau masuk perusahaan ini. Jelas-jelas, Pak Bos nggak suka sama dia,” celetuk salah seorang karyawan yang kebetulan ada di lobi tersebut untuk menyaksikan perseteruan Refi dan manajernya.

 

“Beda jauh sama istrinya bos yang baik, murah senyum dan cantik.”

 

“Dia juga pintar. Ternyata, dia lulusan luar negeri. Tadi, aku ikut rapat sama istrinya Pak Bos. Nggak nyangka kalau istrinya juga perempuan yang mengagumkan.”

 

“Pantes jadi istrinya Pak Bos. Daripada Mbak Refi yang aneh itu. Bisanya cuma bikin kegaduhan.”

 

“Iya. Untungnya, bukan Mbak Refi yang jadi istrinya Pak Bos. Kalau dia yang jadi istrinya, mau jadi apa perusahaan ini? Omongan dia banyak hoax-nya.”

 

“Hahaha. Pak Bos mah orang pintar. Nggak mungkin ambil istri yang begitu. Modal tampang doang, hatinya busuk banget.”

 

Semua karyawan yang ada di lobi mulai membanding-bandingkan Yuna dan Refi. Mereka sudah tak heran lagi karena Refi beberapa kali membuat kegaduhan di perusahaannya. Terlebih, saat kejadian beberapa bulan lalu. Bos mereka sampai menggelar konferensi pers dan membungkam mulut Refi saat itu juga. Mereka tidak mungkin melupakan kejadian itu begitu saja.

 

  ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya ...

 Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas