“Kenapa semua
orang baik sama Yuna? Apa bagusnya dia?” seru Refi saat ia diusir keluar dari
kantor perusahaan Galaxy Group.
Refi langsung
merogoh ponsel dari dalam tas tangannya.
“Halo ...!” sapa
Refi begitu ia menempelkan ponsel ke telinganya. “Bisa ke rumah aku sekarang?
Aku butuh bantuan kamu ... jam makan malam.” Ia berbicara seperlunya dan
langsung mematikan kembali panggilan teleponnya.
“Lihat aja ya!
Kalian semua udah keterlaluan karena meremehkan dan menindas aku begitu aja!”
seru Refi sambil menatap gedung tinggi bertuliskan Galaxy Group. Ia berbalik
dan meninggalkan perusahaan tersebut penuh kebencian.
Refi sangat kesal
dengan perlakuan Yeriko terhadapnya. Ia berpikir, Yeriko tak mungkin melakukan
hal itu kalau bukan karena pengaruh istrinya. Sebab, selama ini Yeriko selalu
bersikap baik terhadap dirinya. Tak pernah sekali pun mengecewakan atau menyakiti
dirinya.
Sejak Yeriko
menikah dengan Yuna. Ia benar-benar merasa kehilangan sosok yang selalu
menyayanginya dan memperlakukan dirinya begitu istimewa. Ia masih ingat
bagaimana Yeriko mengucapkan ulang tahun dan mengirimkan hadiah untuknya
saat ia masih di Paris. Ia pikir, Yeriko tak akan pernah berpaling dari
dirinya.
Sesampainya di
rumah, perasaan Refi semakin tak karuan. Ia tidak bisa memaksakan diri untuk
masuk ke perusahaan Yeriko. Itu hanya akan membuat dirinya menderita. Juga
penilaian Yeriko tentang dirinya yang semakin memburuk.
Refi terus
memikirkan ide agar Yeriko bisa kembali bersamanya dengan mudah. Ia hanya ingin
mendapatkan perhatian dari Yeriko seperti dulu lagi.
“Waktu hubunganku
sama Yeriko masih baik, semua orang juga baik ke aku. Termasuk sahabat-sahabat
Yeriko yang tengil itu. Tapi, sekarang mereka semua ada di pihak Yeriko dan
ikutan membenci aku. Huft, Yeriko memang bukan pria yang mudah untuk
ditakhlukkan dan dikendalikan. Gimana kalau aku buat Yeriko membenci Yuna?”
Refi mondar-mandir di dalam rumah sambil memainkan ponselnya.
“Gimana caranya
bikin Yeri benci sama Yuna ya?” tanya Refi sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
“Hmm ... Deny
pasti bisa bantu aku. Oke, tunggu aja dia datang. Dia pasti bisa bikin aku
kembali ke keadaan yang dulu. Supaya Yeriko jatuh cinta sama aku lagi dan
membenci perempuan sialan satu itu!”
Refi meletakkan
ponsel ke atas meja. Ia bergegas membersihkan dirinya. Kemudian, ia pergi ke
dapur. Ia memilih untuk memasak terlebih dahulu sambil menunggu Deny datang ke
rumahnya.
Beberapa menit
kemudian ...
“Malam ...!” sapa
Deny begitu ia masuk ke dalam rumah.
“Malam juga,”
balas Refi yang sedang sibuk memotong sayuran di dapur.
“Ada apa cari
aku?” tanya Deny. Ia langsung menghampiri Refi dan memeluk tubuh gadis itu dari
belakang.
“Aku butuh bantuan
kamu,” jawab Refi tanpa menoleh ke arah Deny.
“Bantuan apa?”
“Aku mau kamu ...”
“Sst ...!” bisik
Deny sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir Refi. “Kamu tahu kan apa yang
harus kamu lakukan sebelum mengajukan permintaan ke aku?”
“Maksud kamu?”
Deny mengendus
leher dan telinga Refi. Kedua tangannya perlahan masuk ke baju
Refi. Hanya dalam hitungan detik, Deny sudah bisa menguasai tubuh Refi
sepenuhnya.
Refi tak bisa
menahan diri setiap kali kulitnya bersentuhan dengan kulit Deny. Ia terus
mendesah, menikmati setiap gerakan yang dilakukan Deny di tubuhnya hingga
mengabaikan sayuran yang sedang ia potong begitu saja. Lantai dapur yang
dingin, menjadi saksi bagaimana dua orang berlawanan jenis itu saling beradu,
saling mengerang penuh kenikmatan.
Deny selalu
memperlakukan Refi seperti artis AV, menjadikan Refi sebagai bahan utama untuk
memuaskan nafsu dirinya tanpa harus ada ikatan. Membuatnya tetap bisa hidup
bebas dan menikmati semua hal yang dia inginkan.
Refi tergeletak
lemas di lantai sambil menatap Deny yang bangkit dari tubuhnya. Walau ia
membenci pria itu, tapi tak pernah bisa menolak untuk melakukan hubungan intim
dengan pria itu. Setiap kali bagian sensitifnya tersentuh, ia sudah tak bisa
mengendalikan diri dan menginginkan sesuatu yang lebih dalam lagi.
“Good job!” ucap
Deny sambil tersenyum sinis sambil menatap tubuh Refi. Ia bergegas masuk ke
kamar mandi untuk membersihkan diri.
Refi memejamkan
mata sejenak. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk bisa lepas dari
jeratan Deny. Hanya Deny satu-satunya pria yang bisa membantunya. Melakukan apa
pun yang diinginkan Refi. Mulai dari melancarkan karirnya saat di Paris, hingga
berusaha merebut kembali hati Yeriko. Hanya saja, ia belum berhasil mendapatkan
apa yang ia inginkan dan tidak akan menyerah begitu saja.
“Cowok sialan!”
umpat Refi dalam hati sambil bangkit dari lantai. Ia bergegas masuk ke kamarnya
dan pergi mandi.
Beberapa menit
kemudian, Refi dan Deny sudah duduk bersama di meja makan.
“Kamu mau bantuan
apa?” tanya Deny sambil menatap Refi.
“Aku mau kembali
seperti dulu lagi.”
Deny mengangkat
kedua alisnya. “Maksud kamu?”
“Aku mau kembali
ke dunia hiburan lagi. Kerja di perusahaan bener-bener bikin aku tersiksa.
Setiap hari harus berangkat pagi-pagi, diperintah sana-sini, disuruh
angkat-angkat barang, disuruh ke sana ke mari. Aku udah berusaha semaksimal
mungkin, tetap aja gagal,” cerocos Refi.
Deny tergelak
mendengar ucapan Refi. “Akhirnya, kamu sadar juga?”
“Aku bukan ingin
berhenti mengejar Yeriko!”
“Terus?”
“Aku mau kembali
berkarir di dunia hiburan. Dulu, Yeriko jatuh cinta sama aku karena bakat yang
aku miliki. Dia juga terus menyemangatiku setiap hari. Aku ingin kembali
seperti dulu, membuat dia jatuh cinta lagi sama aku.”
Deny menahan tawa
mendengar ucapan Refi.
“Kenapa? Ada yang
salah?”
Deny menggelengkan
kepala. “Ref, semakin ke sini aku semakin tahu bagaimana kehidupan pria yang
kamu inginkan itu. Mmh ... aku rasa, dia nggak akan pernah kembali sama kamu.
Terlebih, dia sangat menyayangi istrinya.”
“Kamu ...!? Malah
mau berpihak sama perempuan itu?”
“Aku bukan
berpihak. Realitanya memang seperti itu.”
“Hati orang bisa
berubah kapan aja. Aku juga bakal bikin Yeriko kembali sama aku lagi. Apa pun
caranya. Termasuk menyingkirkan perempuan itu dari kehidupan Yeriko!”
Deny tertawa kecil
sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Aku suka sifat ambisius kamu ini.”
“Jadi gimana? Kamu
mau bantu aku ‘kan?” tanya Refi.
Deny menatap wajah
Refi sejenak, kemudian tersenyum. “Aku bisa bantu kamu masuk dunia hiburan
lagi. Tapi, aku nggak menjamin kalau itu akan merebut perhatian mantan pacar
kamu itu.”
Refi menarik napas
dalam-dalam. “Nggak masalah. Setelahnya, aku akan berusaha sendiri untuk
mengambil perhatian Yeriko.”
Deny
mengangguk-anggukkan kepala. “Tapi, aku punya syarat untuk ini.”
“Syarat apa itu?”
tanya Refi.
“Kamu harus selalu
ada kapan pun aku butuh kamu.”
“Aku akan selalu
ada di saat kamu butuh aku.”
Deny
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Termasuk saat aku butuh kamu di ranjang,”
ucapnya sambil tersenyum manis.
“Kamu ...!?” Refi
membelalakkan matanya menatap Deny.
“Udahlah. Nggak
usah sok suci!” tutur Deny. “Aku sudah tahu kamu dari luar sampai dalam. Kalau
kamu mau aku bantu kamu, aku harus lihat dulu ... apakah imbalannya setimpal
dengan kerja kerasku?” tanyanya sambil mengangkat kedua alis.
Refi terdiam. Ia
berpikir sejenak. Ia memang sudah menyerahkan semuanya kepada Deny sejak awal.
“Kalau cuma memuaskan dia di ranjang? Bukannya itu hal yang mudah?” batinnya.
Deny terus
tersenyum sambil menunggu Refi membuat kesepakatan dengannya. Ia hanya
menginginkan kerjasama yang menguntungkan dirinya saja. Ia tidak peduli dengan
hal lain selain keuntungan yang bisa ia dapatkan dari Refi.
Refi menggigit
bibir sambil menatap Deny. Mulutnya sangat berat untuk mengucapkan kalau ia
menyetujui permintaan Deny. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan kalau
Yeriko mengetahui siapa dia sebenarnya. Kemungkinan yang paling besar adalah,
Yeriko akan semakin membenci dirinya.
“Gimana?” tanya
Deny sambil menatap wajah Refi.
Refi mengangguk
kecil. Ia tidak punya pilihan lain lagi selain menyetujui permintaan Deny.
Baginya, selama Deny bisa menjaga rahasia tentang hubungannya, ia tak perlu
khawatir berlebihan.
“Apa!? Aku nggak
dengar,” tutur Deny.
“Iya. Aku setuju.”
Deny langsung
tersenyum puas. “Anak anjing yang manis!” Ia tersenyum sambil mengusap ujung
kepala Refi.
Refi mengerutkan
bibirnya sambil menatap tajam ke arah Deny. “Tapi ... kamu harus selalu menjaga
hubungan kita rapat-rapat dari siapa pun.”
“Oke.” Deny
mengangguk santai. Ia pikir, permintaan Refi terlalu mudah untuk ia lakukan.
“Cuma itu permintaan kamu kali ini?”
Refi menganggukkan
kepala.
Deny
mengangguk-angguk. Usai makan malam bersama Refi, ia bergegas meninggalkan
rumah Refi. Banyak hal yang harus ia lakukan. Tidak hanya mengurusi Refi
seorang diri yang sudah tidak memiliki banyak uang dan tidak bisa ia andalkan
lagi. Ia ingin membantu Refi masuk kembali dalam dunia hiburan agar ia pun bisa
merasakan pundi-pundi yang dihasilkan Refi seperti sebelumnya.
Refi tersenyum
lega karena akhirnya ia punya kesempatan untuk kembali ke kehidupannya semula
sebagai artis. Kali ini, ia tidak ingin kembali ke perusahaan yang tidak sesuai
dengan dirinya.
Refi pun tak
mengindahkan panggilan dan pesan dari managernya, memilih memblokir pesan dari
manager tersebut dan pergi dari perusahaan begitu saja tanpa mengurus
administrasi yang seharusnya dilakukan sebagai seorang karyawan yang
mengundurkan diri. Sikapnya benar-benar tidak beretika. Setelah membuat
kekacauan di perusahaan, ia pergi begitu saja.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini ya ...
Thank
you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin
cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment