Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 420 : Anak Anjing yang Manis

 


“Kenapa semua orang baik sama Yuna? Apa bagusnya dia?” seru Refi saat ia diusir keluar dari kantor perusahaan Galaxy Group.

 

 

 

Refi langsung merogoh ponsel dari dalam tas tangannya.

 

“Halo ...!” sapa Refi begitu ia menempelkan ponsel ke telinganya. “Bisa ke rumah aku sekarang? Aku butuh bantuan kamu ... jam makan malam.” Ia berbicara seperlunya dan langsung mematikan kembali panggilan teleponnya.

 

 

 

“Lihat aja ya! Kalian semua udah keterlaluan karena meremehkan dan menindas aku begitu aja!” seru Refi sambil menatap gedung tinggi bertuliskan Galaxy Group. Ia berbalik dan meninggalkan perusahaan tersebut penuh kebencian.

 

 

 

Refi sangat kesal dengan perlakuan Yeriko terhadapnya. Ia berpikir, Yeriko tak mungkin melakukan hal itu kalau bukan karena pengaruh istrinya. Sebab, selama ini Yeriko selalu bersikap baik terhadap dirinya. Tak pernah sekali pun mengecewakan atau menyakiti dirinya.

 

 

 

Sejak Yeriko menikah dengan Yuna. Ia benar-benar merasa kehilangan sosok yang selalu menyayanginya dan memperlakukan dirinya begitu istimewa. Ia masih ingat bagaimana Yeriko mengucapkan ulang tahun dan mengirimkan hadiah untuknya  saat ia masih di Paris. Ia pikir, Yeriko tak akan pernah berpaling dari dirinya.

 

 

 

Sesampainya di rumah, perasaan Refi semakin tak karuan. Ia tidak bisa memaksakan diri untuk masuk ke perusahaan Yeriko. Itu hanya akan membuat dirinya menderita. Juga penilaian Yeriko tentang dirinya yang semakin memburuk.

 

 

 

Refi terus memikirkan ide agar Yeriko bisa kembali bersamanya dengan mudah. Ia hanya ingin mendapatkan perhatian dari Yeriko seperti dulu lagi.

 

 

 

“Waktu hubunganku sama Yeriko masih baik, semua orang juga baik ke aku. Termasuk sahabat-sahabat Yeriko yang tengil itu. Tapi, sekarang mereka semua ada di pihak Yeriko dan ikutan membenci aku. Huft, Yeriko memang bukan pria yang mudah untuk ditakhlukkan dan dikendalikan. Gimana kalau aku buat Yeriko membenci Yuna?” Refi mondar-mandir di dalam rumah sambil memainkan ponselnya.

 

“Gimana caranya bikin Yeri benci sama Yuna ya?” tanya Refi sambil mengetuk-ngetuk dagunya.

 

“Hmm ... Deny pasti bisa bantu aku. Oke, tunggu aja dia datang. Dia pasti bisa bikin aku kembali ke keadaan yang dulu. Supaya Yeriko jatuh cinta sama aku lagi dan membenci perempuan sialan satu itu!”

 

Refi meletakkan ponsel ke atas meja. Ia bergegas membersihkan dirinya. Kemudian, ia pergi ke dapur. Ia memilih untuk memasak terlebih dahulu sambil menunggu Deny datang ke rumahnya.

 

 

 

Beberapa menit kemudian ...

 

“Malam ...!” sapa Deny begitu ia masuk ke dalam rumah.

 

“Malam juga,” balas Refi yang sedang sibuk memotong sayuran di dapur.

 

“Ada apa cari aku?” tanya Deny. Ia langsung menghampiri Refi dan memeluk tubuh gadis itu dari belakang.

 

“Aku butuh bantuan kamu,” jawab Refi tanpa menoleh ke arah Deny.

 

“Bantuan apa?”

 

“Aku mau kamu ...”

 

“Sst ...!” bisik Deny sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir Refi. “Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan sebelum mengajukan permintaan ke aku?”

 

“Maksud kamu?”

 

Deny mengendus leher dan telinga Refi.  Kedua tangannya perlahan masuk ke baju Refi.  Hanya dalam hitungan detik, Deny sudah bisa menguasai tubuh Refi sepenuhnya.

 

Refi tak bisa menahan diri setiap kali kulitnya bersentuhan dengan kulit Deny. Ia terus mendesah, menikmati setiap gerakan yang dilakukan Deny di tubuhnya hingga mengabaikan sayuran yang sedang ia potong begitu saja. Lantai dapur yang dingin, menjadi saksi bagaimana dua orang berlawanan jenis itu saling beradu, saling mengerang penuh kenikmatan.

 

Deny selalu memperlakukan Refi seperti artis AV, menjadikan Refi sebagai bahan utama untuk memuaskan nafsu dirinya tanpa harus ada ikatan. Membuatnya tetap bisa hidup bebas dan menikmati semua hal yang dia inginkan.

 

Refi tergeletak lemas di lantai sambil menatap Deny yang bangkit dari tubuhnya. Walau ia membenci pria itu, tapi tak pernah bisa menolak untuk melakukan hubungan intim dengan pria itu. Setiap kali bagian sensitifnya tersentuh, ia sudah tak bisa mengendalikan diri dan menginginkan sesuatu yang lebih dalam lagi.

 

“Good job!” ucap Deny sambil tersenyum sinis sambil menatap tubuh Refi. Ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

 

Refi memejamkan mata sejenak. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk bisa lepas dari jeratan Deny. Hanya Deny satu-satunya pria yang bisa membantunya. Melakukan apa pun yang diinginkan Refi. Mulai dari melancarkan karirnya saat di Paris, hingga berusaha merebut kembali hati Yeriko. Hanya saja, ia belum berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan dan tidak akan menyerah begitu saja.

 

“Cowok sialan!” umpat Refi dalam hati sambil bangkit dari lantai. Ia bergegas masuk ke kamarnya dan pergi mandi.

 

Beberapa menit kemudian, Refi dan Deny sudah duduk bersama di meja makan.

 

“Kamu mau bantuan apa?” tanya Deny sambil menatap Refi.

 

“Aku mau kembali seperti dulu lagi.”

 

Deny mengangkat kedua alisnya. “Maksud kamu?”

 

“Aku mau kembali ke dunia hiburan lagi. Kerja di perusahaan bener-bener bikin aku tersiksa. Setiap hari harus berangkat pagi-pagi, diperintah sana-sini, disuruh angkat-angkat barang, disuruh ke sana ke mari. Aku udah berusaha semaksimal mungkin, tetap aja gagal,” cerocos Refi.

 

Deny tergelak mendengar ucapan Refi. “Akhirnya, kamu sadar juga?”

 

“Aku bukan ingin berhenti mengejar Yeriko!”

 

“Terus?”

 

“Aku mau kembali berkarir di dunia hiburan. Dulu, Yeriko jatuh cinta sama aku karena bakat yang aku miliki. Dia juga terus menyemangatiku setiap hari. Aku ingin kembali seperti dulu, membuat dia jatuh cinta lagi sama aku.”

 

Deny menahan tawa mendengar ucapan Refi.

 

“Kenapa? Ada yang salah?”

 

Deny menggelengkan kepala. “Ref, semakin ke sini aku semakin tahu bagaimana kehidupan pria yang kamu inginkan itu. Mmh ... aku rasa, dia nggak akan pernah kembali sama kamu. Terlebih, dia sangat menyayangi istrinya.”

 

“Kamu ...!? Malah mau berpihak sama perempuan itu?”

 

“Aku bukan berpihak. Realitanya memang seperti itu.”

 

“Hati orang bisa berubah kapan aja. Aku juga bakal bikin Yeriko kembali sama aku lagi. Apa pun caranya. Termasuk menyingkirkan perempuan itu dari kehidupan Yeriko!”

 

Deny tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Aku suka sifat ambisius kamu ini.”

 

“Jadi gimana? Kamu mau bantu aku ‘kan?” tanya Refi.

 

Deny menatap wajah Refi sejenak, kemudian tersenyum. “Aku bisa bantu kamu masuk dunia hiburan lagi. Tapi, aku nggak menjamin kalau itu akan merebut perhatian mantan pacar kamu itu.”

 

Refi menarik napas dalam-dalam. “Nggak masalah. Setelahnya, aku akan berusaha sendiri untuk mengambil perhatian Yeriko.”

 

Deny mengangguk-anggukkan kepala. “Tapi, aku punya syarat untuk ini.”

 

“Syarat apa itu?” tanya Refi.

 

“Kamu harus selalu ada kapan pun aku butuh kamu.”

 

“Aku akan selalu ada di saat kamu butuh aku.”

 

Deny mengangguk-anggukkan kepalanya. “Termasuk saat aku butuh kamu di ranjang,” ucapnya sambil tersenyum manis.

 

“Kamu ...!?” Refi membelalakkan matanya menatap Deny.

 

“Udahlah. Nggak usah sok suci!” tutur Deny. “Aku sudah tahu kamu dari luar sampai dalam. Kalau kamu mau aku bantu kamu, aku harus lihat dulu ... apakah imbalannya setimpal dengan kerja kerasku?” tanyanya sambil mengangkat kedua alis.

 

Refi terdiam. Ia berpikir sejenak. Ia memang sudah menyerahkan semuanya kepada Deny sejak awal. “Kalau cuma memuaskan dia di ranjang? Bukannya itu hal yang mudah?” batinnya.

 

Deny terus tersenyum sambil menunggu Refi membuat kesepakatan dengannya. Ia hanya menginginkan kerjasama yang menguntungkan dirinya saja. Ia tidak peduli dengan hal lain selain keuntungan yang bisa ia dapatkan dari Refi.

 

Refi menggigit bibir sambil menatap Deny. Mulutnya sangat berat untuk mengucapkan kalau ia menyetujui permintaan Deny. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan kalau Yeriko mengetahui siapa dia sebenarnya. Kemungkinan yang paling besar adalah, Yeriko akan semakin membenci dirinya.

 

“Gimana?” tanya Deny sambil menatap wajah Refi.

 

Refi mengangguk kecil. Ia tidak punya pilihan lain lagi selain menyetujui permintaan Deny. Baginya, selama Deny bisa menjaga rahasia tentang hubungannya, ia tak perlu khawatir berlebihan.

 

“Apa!? Aku nggak dengar,” tutur Deny.

 

“Iya. Aku setuju.”

 

Deny langsung tersenyum puas. “Anak anjing yang manis!” Ia tersenyum sambil mengusap ujung kepala Refi.

 

Refi mengerutkan bibirnya sambil menatap tajam ke arah Deny. “Tapi ... kamu harus selalu menjaga hubungan kita rapat-rapat dari siapa pun.”

 

“Oke.” Deny mengangguk santai. Ia pikir, permintaan Refi terlalu mudah untuk ia lakukan. “Cuma itu permintaan kamu kali ini?”

 

Refi menganggukkan kepala.

 

Deny mengangguk-angguk. Usai makan malam bersama Refi, ia bergegas meninggalkan rumah Refi. Banyak hal yang harus ia lakukan. Tidak hanya mengurusi Refi seorang diri yang sudah tidak memiliki banyak uang dan tidak bisa ia andalkan lagi. Ia ingin membantu Refi masuk kembali dalam dunia hiburan agar ia pun bisa merasakan pundi-pundi yang dihasilkan Refi seperti sebelumnya.

 

Refi tersenyum lega karena akhirnya ia punya kesempatan untuk kembali ke kehidupannya semula sebagai artis. Kali ini, ia tidak ingin kembali ke perusahaan yang tidak sesuai dengan dirinya.

 

Refi pun tak mengindahkan panggilan dan pesan dari managernya, memilih memblokir pesan dari manager tersebut dan pergi dari perusahaan begitu saja tanpa mengurus administrasi yang seharusnya dilakukan sebagai seorang karyawan yang mengundurkan diri. Sikapnya benar-benar tidak beretika. Setelah membuat kekacauan di perusahaan, ia pergi begitu saja.

 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya ...

 Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas