Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 424 : Dukungan untuk Yuna

 


“Jheni udah lama di sini?” tanya Yeriko pada Yuna saat Jheni sudah keluar dari rumahnya. Wajahnya terlihat tak bersahabat. Kehadiran Jheni yang justru mempengaruhi perasaan hati istrinya.

 

“Lumayan,” jawab Yuna. Ia bisa menyadari kalau suaminya masih memendam amarah sejak berdebat kecil dengan Jheni.

 

“Dia yang kasih tahu kamu soal video itu?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Aku tahu kalau dia sahabat baik kamu. Tapi kalau dia kayak gini terus, aku nggak izinin kamu deket-deket sama dia lagi!” tegas Yeriko.

 

Yuna menatap Yeriko. “Ay, kamu tahu sifatnya Jheni emang kayak gitu. Nggak usah diambil hati ya!” pintanya lembut.

 

“Aku nggak suka caranya dia kayak gini. Kamu juga, jangan melakukan apa pun tanpa sepengetahuan dari aku!” pinta Yeriko.

 

“Aku nggak ngelakuin apa-apa. Jangan marah-marah gini, dong!” pinta Yuna sambil mengelus pipi Yeriko.

 

“Aku nggak marah. Aku cuma kesel aja sama dia.”

 

“Sama aja,” sahut Yuna. “Niat dia baik. Dia nggak mungkin nyakitin aku. Udah ya, jangan marah lagi! Maafin Jheni!” pinta Yuna sambil meletakkan dagunya di dada Yeriko.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam sambil menatap mata Yuna. Ia tak pernah bisa menolak, apalagi marah jika sudah mendapat tatapan seperti ini dari istrinya.

 

“Ay ...!” rengek Yuna manja.

 

Yeriko langsung membenamkan wajah Yuna ke dadanya. “Aku sangat khawatir sama kamu. Aku nggak mau kamu mencari pelindung lain selain aku. Aku pasti jagain kamu, Yun. Masalah Refi, nggak usah terlalu dipikirkan ya!” pintanya lembut.

 

Yuna menganggukkan kepalanya. “Aku nggak mikirin dia, tapi mikirin kamu,” ucapnya lirih.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Aku nggak akan berpaling ke wanita lain. Kamu tahu, aku sayang sama kamu lebih dari apa pun. Aku sayang kamu melebihi diriku sendiri. Percaya sama aku!”

 

Yuna mengangguk kecil. Ia kembali menatap wajah suaminya. “Mmh ... apa kejadian ini nggak mempengaruhi kamu dan perusahaan?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Refi nggak ada hubungan apa pun dengan aku atau perusahaan. Aku tahu apa yang ingin dia lakukan. Biarkan saja dia melakukan apa yang dia suka. Asal tidak menyentuh kamu ...”

 

Yuna memeluk erat tubuh Yeriko. Ia tetap percaya pada suaminya itu. Yeriko pasti selalu menjaga perasaannya.

 

“Ay, kapan ya si Chandra bakal nikahin Jheni?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengangkat kedua alisnya. “Nggak tahu juga. Kenapa nanyain ini?”

 

“Biar Jheni nggak kesepian terus,” jawab Yuna.

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bener juga, sih. Biar dia nggak usah gangguin kita terus.”

 

Yuna langsung menyubit perut Yeriko. “Kamu anggap dia sebagai pengganggu? Dia itu sahabat aku!” dengus Yuna.

 

“Aw ...! Sakit beneran. Aku cuma bercanda,” seru Yeriko sambil mengelus perutnya.

 

“Biar aja! Kamu perhitungan banget sama temenku. Hampir tiap malam, kamu dan sahabat-sahabat kamu juga ngumpul-ngumpul di rumah ini. Aku nggak pernah anggap mereka sebagai pengganggu.”

 

“Iya, iya. Aku cuma bercanda. Serius amat!”

 

Yuna mengerutkan bibirnya.

 

Yeriko tersenyum. Ia terus menghibur Yuna agar perasaannya lebih baik dan tidak memikirkan video yang diunggah oleh Refi. Baginya, lebih penting menemani Yuna daripad sibuk memikirkan Refi. Sebab, ia mengetahui kalau Refi melakukan itu semua hanya untuk memancing dirinya keluar.

 

 

 

...

 

Malam harinya ...

 

“Yer, kamu udah lihat kelakuan si Reptil itu?” tanya Lutfi sambil mengupas kulit kacang yang ada di hadapannya.

 

“Udah,” jawab Yeriko santai.

 

“Sekilas sih videonya biasa aja. Tapi jadi trending topik,” tutur Lutfi.

 

“Emang sengaja bikin sensasi kali,” sahut Satria. “Biar naik daun.”

 

“Kenapa nggak kamu manfaatin aja dia itu, Lut?” tanya Chandra.

 

“Manfaatin gimana?”

 

Chandra tersenyum menatap Lutfi.

 

“Aha ... bener-bener. Aku bisa manfaatin dia, sekaligus membalaskan dendam Kakak Ipar.”

 

“Aku rasa si Yuna bukan tipe orang yang pendendam,” tutur Chandra.

 

“Makanya itu, aku kasihan sama dia. Dia diam aja bukan berarti nggak tersakiti. Aku bakal bantuin dia. Lagian, aku udah mulai mual sama kelakuannya si Reptil itu. Heran gua, mantan pacar Yeriko aneh banget!”

 

“Dapet di mana sih Yer cewek gila kayak gitu?” tanya Satria sambil tertawa kecil.

 

“Djancok!!!” Yeriko langsung menendang kaki Satria yang ada di hadapannya.

 

“Hahaha.” Semua orang tergelak melihat Yeriko yang menyeringai.

 

“Eh, tapi dia yang dulu baik banget loh. Sebelum dia ke Paris,” tutur Lutfi.

 

“Aku sih nggak pernah beneran deket sama itu cewek,” sahut Satria. “Cantik, sih. Kalau dibandingkan sama Kakak Ipar Kecil ... tetep lebih cantik Kakak Ipar Kecil. Dia imut banget, sih. Gemes aku kalo lihat dia, pengen cubit pipinya.”

 

“Iya, Sat. Apalagi semenjak hamil, makin semok aja. Pipinya makin tembem gitu, lucu banget,” sahut Lutfi.

 

“Kalian sadar atau nggak lagi ngomongin siapa!? Istrinya orang woii ...! Suaminya di sini!” seru Yeriko kesal.

 

“Hahaha.” Lutfi dan Satria tertawa bersamaan.

 

“Kamu beruntung aja bisa kenal dia duluan. Kalau aku yang kenal sama Yuna duluan, aku yang nikahin dia!” seru Satria.

 

“Eh, bodo!” Lutfi langsung menoyor kepala Satria. “Kamu bukannya suka cewek yang tingginya di atas seratus enam puluh lima sentimeter? Kakak Ipar tingginya cuma seratus enam puluh sentimeter doang.”

 

“Heh, kalo perempuan sudah baik, yang lain jadi nggak penting!” sahut Satria. “Cari cewek cantik dan seksi itu gampang, tapi cari yang baik dan berbudi itu susah.”

 

“Kalo kata Yeri, cewek cantik dan seksi bisanya buat ereksi doang!” sahut Chandra sambil menahan tawa.

 

“Serius, Yer? Kamu ereksi kalo lihat cewek seksi?” tanya Satria sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Udah biasa lihat cewek seksi, nggak menggoda.”

 

“Dia nggak suka kalo di kantor ada karyawan yang kerjaannya ngaca sambil dandan terus. Cuma resepsionis, SPG dan divisi humas yang boleh kelihatan cantik. Lihat aja, sekretarisnya dia aja emak-emak semua.”

 

“Biar emak-emak, kerjaanya bagus. Telaten, cepet dan rapi. Aku lebih suka kinerja mereka, bukan penampilan mereka. Semua harus sesuai kebutuhan,” tutur Yeriko.

 

“Iya, juga sih. Kalo aku, lebih butuh penampilan. Soalnya, aku jual karya dalam bentuk visual. Kalo artisku nggak cantik dan seksi, nggak bisa menarik banyak perhatian orang banyak.”

 

“Berarti, kamu yang sering ereksi, Lut?” tanya Satria.

 

“Kenapa jadi aku? Yeriko kali yang tadi bahas ereksi. Kok, malah nyerang aku?”

 

“Bukan aku yang bahas, si Chandra!” sahut Yeriko.

 

“Ckckck, Chandra ... Chandra ... diam-diam menghanyutkan,” celetuk Satria.

 

“Kok, aku? Yeriko kali,” sahut Chandra.

 

“Halah, kalian semua sama aja!” tutur Satria.

 

“Kamu juga!” Lutfi langsung menatap Satria.

 

“Ya iyalah. Aku cowok normal. Lihat cewek seksi ya pengen.”

 

“Yeriko nggak tergoda sama cewek seksi. Imannya kuat banget,” sahut Lutfi.

 

“Hahaha.” Satria tergelak mendengar ucapan Lutfi. “Kamu normal kan, Yer? Bahaya kalo nggak bisa ereksi.”

 

“Kalian yang masih pada single, malah ngatain aku. Kalo aku nggak bisa ereksi, Yuna nggak akan hamil,” sahut Yeriko kesal.

 

“Iya juga ya?” Satria menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Lut, kamu nggak mau buktikan kalau kamu beneran jantan?”

 

“Maksud lo?”

 

“Icha nggak dicobain?”

 

“Bangsat kamu, Sat!” sahut Lutfi kesal. “Aku curiga, kamu suka menghayal pacar kita-kita ini buat kamu ereksi ya?”

 

Satria menggelengkan kepala. “Udah, udah ... nggak usah bahasa ereksi! Bahas yang tadi aja, soal mantan pacar Yeriko itu!” pinta Satria.

 

“Halah, ngeles!” sahut Lutfi sambil mengacak-acak rambut Satria.

 

“Dia nggak ada lawannya buat ereksi, Lut,” tutur Chandra sambil menahan tawa.

 

“Hahaha.” Lutfi langsung tergelak.

 

“Asem kalian semua! Mentang-mentang aku yang masih jomblo sendiri. Kalian bener-bener nggak punya perasaan!”

 

“Kamu juga kalo ngomong nggak pake perasaan, Sat!” sahut Yeriko.

 

“Pake, Yer. Kalian aja yang nggak peka!”

 

“Yes!” seru Lutfi sambil menatap layar ponselnya. Semua orang langsung menoleh ke arah Lutfi.

 

“Udah aku urus. Asistenku bakal ngurus Refi secepatnya. Lumayan, dia lagi ada di trending topik.”

 

“Maksudnya?” tanya Satria.

 

“Nanti juga tahu.”

 

“Oh, kamu nggak mau ngomong sama aku. Kalo ada masalah, baru nyari-nyari aku?” Satria menatap wajah Lutfi.

 

“Nanti aja aku ceritain! Aku lagi seneng. Aku pulang dulu ya!” Ia bangkit dari tempat duduk sambil memainkan ponselnya.

 

“Eh, mau ngapain buru-buru pulang?” seru Satria.

 

“Mau tau aja!” sahut lutfi sambil berlalu pergi.

 

“Curiga dia ereksi beneran, cari pelampiasan,” bisik Chandra.

 

“Hahaha. Icha udah tinggal serumah sama dia ya?” tanya Satria.

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

Yeriko tersenyum ke arah Chandra yang sedang menyeruput kopi di tangannya. “Kamu kapan mau ngelamar Jheni?”

 

“Uhuk ... uhuk ... uhuk!” Chandra langsung tersedak mendengar pertanyaan Yeriko.

 

Satria menahan tawa melihat sikap Chandra. “Jangan ditidurin aja, Chan. Nikahin!”

 

“Omonganmu, Sat!” sahut Chandra kesal.

 

Satria terkekeh sambil menatap Chandra.

 

“Eh, si Lutfi beneran mau manfaatin Refi?” tanya Chandra. “Aku curiga dia mau masukin Refi ke SD.”

 

“Bisa jadi. Daripada di perusahaanku. Udah resign dia,” tutur Yeriko.

 

“Nah, cocok! Biar masuk SD Entertainment aja. Itu si Refi cocok di sana. Suka bikin sensasi. Lumayan tuh bisa bikin perusahaannya Lutfi cepet naik rating.”

 

“Nggak lama, dapet penghargaan Artis Sensasional of the Year,” sahut Satria.

 

Yeriko hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Satria. Ia tidak begitu tertarik membicarakan kehidupan Refi dan sensasi-sensasi yang diciptakan oleh Refi. Ia tetap terlihat tenang, tak terganggu sedikit pun dengan masalah yang sedang viral meski sahabat-sahabatnya ikut membahas perihal video tersebut.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya  supaya aku bisa bikin cerita yang menarik, menghibur dan lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 423 : Tetap Tenang

 


“Yun, kamu yakin nggak mau balas kelakuan Refi ini?”  tanya Jheni. Ia semakin gelisah karena Yuna lebih banyak diam daripada berbicara dengannya.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Kalo aku balas, nggak ada bedanya aku sama Refi. Kamu nyuruh aku jadi gila juga?”

 

“Terus, kenapa kamu sedih kayak gini?” tanya Jheni sambil menatap Yuna.

 

“Kelihatan jelas ya, Jhen?” tanya Yuna balik.

 

“Kamu itu nggak bisa menyembunyikan perasaan kamu sendiri. Sedih atau senang, kelihatan jelas di mukamu yang aneh ini.”

 

Yuna menggigit bibirnya. “Sebenarnya, aku lebih khawatir sama Yeriko. Aku nggak terima kalau suamiku dikata-katain begitu sama orang lain yang nggak dikenal. Bahkan, nggak ada hubungannya sama kehidupan kami.”

 

Jheni menghela napas sambil menatap Yuna. “Sabar ya, Yun! Jadi istrinya orang kaya, emang nggak mudah. Kamu masih beruntung nggak punya mertua yang galak. Masalah yang ditimbulkan dari orang luar, sebenarnya lebih mudah untuk dihadapi.”

 

Yuna tersenyum ke arah Jheni. “Iya, sih. Akunya aja yang baperan.”

 

“Kamu tenang aja! Kamu nggak sendiri, kok. Kita semua akan selalu menjaga dan melindungi kamu sampai titik darah penghabisan!”

 

Yuna tertawa kecil. “Emangnya lagi perang?”

 

“Iya. Perang batin ‘kan?” tanya Jheni sambil menatap wajah Yuna serius.

 

Yuna menghela napas. Ia menopang dagu dengan telapak tangannya. “Kenapa aku paling nggak bisa nyembunyiin kesedihan di depan kamu. Kamu selalu aja tahu apa yang sebenarnya aku rasain.”

 

Jheni tertawa kecil. “Bodoh!” ucapnya sambil menjitak kepala Yuna.

 

 

 

Di lantai bawah, Yeriko tiba-tiba muncul dan langsung menghampiri Bibi War. “Bi, Yuna di mana?” tanyanya berbisik.

 

“Masih di atas sama Mbak Jheni.”

 

“Ada Jheni?”

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

Yeriko langsung melangkah menaiki anak tangga menuju ke lantai dua rumahnya. Ia langsung menghampiri Yuna dan Jheni yang sedang berbincang di balkon. Ia berdiri di bibir pintu sambil mendengarkan dua wanita yang sedang asyik bercanda.

 

“Jhen, aku harus gimana? Sebenarnya, perasaanku nggak karuan juga. Aku kepikiran sama suamiku. Aku takut, kejadian ini bisa mempengaruhi Yeriko dan perusahaan,” keluh Yuna.

 

“Aku lebih khawatir sama kamu, Yun. Buat Yeriko, Refi mudah untuk dihadapi. Tapi buat kamu, kamu nggak pernah benar-benar tahu siapa Refi sebenarnya. Apa maksud dia mengunggah video kayak gitu? Jelas-jelas dia mau ngerebut suami kamu secara terang-terangan. Bahkan, dia sengaja bikin konspirasi yang bikin semua orang bersimpati ke dia,” cerocos Jheni.

 

“Aku percaya kalau Yeriko nggak akan balik ke Refi lagi. Tapi, aku juga nggak tahu kapan hatinya dia akan berubah. Sekarang dia bisa menolak Refi, nggak tahu kalau besok,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca. “Biar bagaimanapun, dia pernah sayang sama Refi. Aku nggak tahu, apa yang harus aku lakukan ...”

 

“Udah, nggak usah sedih gini!” pinta Jheni. “Mana Yuna yang pemberani seperti dulu? Kenapa sekarang tiba-tiba jadi mellow gini?”

 

“Dulu dan sekarang, keadaannya jauh beda. Dulu, aku masih percaya diri buat bersaing sama dia. Tapi, sekarang ... badanku aja makin hari makin gemuk. Yeriko bisa balik ke Refi kalau aku makin jelek, Jhen ...!” seru Yuna sambil menangis.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia mengeluarkan ponsel dari saku dan mengirimkan pesan singkat kepada seseorang. Memasukkan kembali ponsel ke sakunya dan menghampiri Yuna.

 

Jheni membelalakkan matanya saat melihat Yeriko.

 

Yuna langsung mengusap air matanya dan menatap Yeriko. “Udah pulang?” tanyanya sambil melihat jam yang ada di ponselnya. “Ini baru jam tiga sore.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Aku kangen sama kamu,” ucapnya lembut sambil duduk di sebelah Yuna.

 

Jheni tersenyum sambil menatap Yeriko yang memperlakukan Yuna begitu mesra.

 

Yeriko mengusap lembut rambut Yuna. “Kamu kenapa?”

 

“Nggak papa,” jawab Yuna sambil tersenyum.

 

“Kenapa nangis?” tanya Yeriko.

 

Yuna dan Jheni terdiam. Tak ada yang berani menjawab pertanyaan Yeriko.

 

“Mikirin videonya Refi?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna tak menjawab, ia sulit mengendalikan jantungnya yang berdebar sangat kencang.

 

“Udah deh, Yun. Ngaku aja!” perintah Jheni.

 

Yeriko langsung menatap wajah Jheni.

 

“Yer, si Refi itu semakin menjadi-jadi. Sekarang, dia mulai bikin ulah lagi. Lihat aja! Video yang dia bikin, hari ini udah masuk ke trending video. Kejadian yang dulu, nggak bikin dia jera. Kamu nggak bisa lebih tegas lagi ke dia?” tutur Jheni sambil menatap Yeriko.

 

“Jhen, aku udah tegas nolak dia. Dianya aja yang kegatelan!” sahut Yeriko kesal.

 

“Kamu juga, kenapa bisa suka sama cewek gila kayak gitu. Kamu nggak bisa ngendalikan mantan pacar kamu itu biar nggak ganggu Yuna terus!?” dengus Jheni.

 

Yeriko menatap geram ke arah Jheni. “Kamu jangan memperkeruh keadaan, Jhen!”

 

“Aku nggak memperkeruh. Aku cuma nggak mau Yuna terus disakiti kayak gini. Katanya, kamu sayang sama dia. Tapi kamu bikin Yuna hidup dalam bahaya gara-gara kelakuan mantan pacar kamu itu. Kalau kamu nggak bisa bikin Yuna hidup tenang dan bahagia, aku bakal ambil Yuna.”

 

“Yuna istriku, aku pasti melindungi dia,” sahut Yeriko.

 

“Aku nggak mau masalah ini jadi berlarut-larut. Kalau kamu nggak cepet-cepet kelarin Refi ...”

 

“Aku akan selesaikan ini dengan caraku sendiri!” tegas Yeriko.

 

“Duh, kalian jangan berantem cuma karena video itu!” pinta Yuna.

 

Yeriko menghela napas. “Tujuan Refi untuk memancing aku keluar. Kalau aku terpengaruh sama video itu. Artinya aku membuat pengakuan kalau orang yang dimaksud di video itu memang aku.”

 

Jheni menggigit bibir sambil berpikir. “Iya juga ya?”

 

“Kamu nggak perlu khawatir! Aku pasti jagain Yuna!”

 

“Awas aja kalo sampai Yuna kenapa-kenapa!” ancam Jheni.

 

“Iya, tenang aja!” sahut Yeriko sambil memeluk kepala Yuna ke dadanya. “Aku nggak akan membiarkan istriku sedih. Aku sayang banget sama dia.”

 

Yuna menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Makasih ...!”

 

 

 

Drrt ... Drrt ... Drrt ...!

 

Ponsel Jheni tiba-tiba bergetar.

 

Jheni langsung mengangkat panggilan telepon dari Chandra. “Halo ...!”

 

“Kamu lagi di rumah Yuna?” tanya Chandra tanpa basa-basi.

 

“Iya. Kamu tahu dari mana?” tanya Jheni balik.

 

“Pulang, sekarang juga!”

 

“Hah!? Aku baru nyampe.”

 

“Kamu mau denger aku atau nggak? Pulang, Jhen!”

 

“Ada apa, sih? Aku lagi nggak banyak kerjaan. Mau santai di sini sama Yuna soalnya ...”

 

“Kamu datang ke sana buat bahas video yang lagi viral itu ‘kan?”

 

Jheni tak menjawab pertanyaan Chandra.

 

“Pulang, Jhen!”

 

“Iya, aku pulang.” Jheni langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

“Kenapa, Jhen?” tanya Yuna sambil menatap Jheni yang tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.

 

“Si Chandra nyuruh aku pulang,” sahutnya kesal.

 

“Jangan cemberut gitu dong! Dikangenin sama suami, harusnya senang,” tutur Yuna sambil menatap Jheni.

 

“Masih pacar, belum jadi suami!” sahut Jheni.

 

“Tapi ngarep ‘kan?” goda Yuna.

 

Jheni memonyongkan bibirnya ke arah Yuna. “Aku balik dulu ya!” pamitnya.

 

Yuna dan Yeriko menganggukkan kepala. “Hati-hati, Jhen!”

 

Jheni mengangguk. “Jagain pacarku yang lagi hamil ini ya! Awas kalau sampe dia kenapa-kenapa!” ancam Yuna sambil menunjuk wajah Yeriko.

 

“Iya, Jheni Bunny Sweety,” sahut Yeriko.

 

Jheni mengerutkan dahi menatap Yeriko. “Pasti Yuna yang ngajari manggil aku dengan julukan aneh-aneh,” dengusnya.

 

Yeriko menahan tawa. “Udah, pulang sana!”

 

“Aku diusir?” tanya Jheni sambil menunjuk wajahnya sendiri.

 

“Kasihan si Chandra sudah kangen banget sama kamu,” dalih Yeriko.

 

“Oke. Bye!” Jheni melambaikan tangannya dan bergegas keluar dari rumah Yuna. Ia masih tidak mengerti kenapa Chandra tiba-tiba menyuruhnya pulang. Biasanya, Chandra selalu memberikan banyak waktu untuk dia dan Yuna. Ia merasa kalau Yeriko yang memerintahkan Chandra untuk membuatnya keluar dari rumah itu.

 

Meski ia percaya kalau Yeriko bisa menenangkan Yuna, tapi perasaannya masih saja khawatir. Saat ini, Yuna sedang hamil dan perasaannya sangat sensitif. Ia takut kalau sikap Yeriko yang santai, justru akan melukai Yuna.

 

“Huft, mungkin aku yang terlalu banyak berpikir. Seharusnya, aku bisa mempercayakan hidup Yuna sama suaminya sendiri. Yeriko nggak mungkin menyakiti perasaan Yuna,” gumamnya sambil menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah Yeriko.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya ...

 Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 422 : Berulah Lagi

 


“Yuna ... gawat, Yun!” seru Jheni dari sambungan telepon.

 

“Ada apa sih, Jhen?” tanya Yuna santai sambil melihat-lihat majalah tentang cara merawat bayi.

 

“Si Refi bikin ulah lagi!” seru Jheni.

 

“Biarin aja. Orang gila mah, suka-suka dia.”

 

“Ck, kamu ini santai banget nanggepinnya.”

 

“Udah biasa, Jhen. Kalo nggak bikin ulah, bukan Refi namanya. Dia bikin apa lagi?”

 

“Cek di link Youtube yang aku kirim ke WA kamu! Cuma video lagu gitu aja sih, tapi ...”

 

“Tapi apa?”

 

“Kayaknya ditujukan ke Yeriko, deh.”

 

“Oh.”

 

“Cuma oh?”

 

“Terus?”

 

“Aku udah hebih dari tadi gara-gara video itu. Banyak yang komen dan ngungkit soal masa lalu Refi dan Yeriko. Udah berasap mata sama telingaku, Yun. Kamu malah santai banget.”

 

“Terus, aku harus gimana? Bikin kehebohan juga?” tanya Yuna.

 

“Kamu nggak khawatir kalau Refi bakal godain Yeriko lagi?” tanya Jheni balik.

 

“Aku nggak khawatir selama Yeriko nggak tergoda sama dia.”

 

“Kamu yakin kalau Yeriko nggak akan tergoda sama mantan pacarnya itu? Bisa aja si Yeri ada hati lagi ke Refi.”

 

“Kompor! Aku percaya sama suamiku, Jhen.”

 

“Hmm, iya sih. Suami kamu emang nggak ada duanya. Terbaaaeeek!”

 

Yuna tertawa mendengar ucapan Jheni. “Aku udah biasa ngadepin Refi. Belum lagi cewek-cewek lain yang juga ngarepin Yeriko. Kuat-kuatkan hati aja, Jhen. Biarlah cewek-cewek di luar sana makin membara kepalanya. Yang penting, tiap malam Yeriko masih ngelonin aku.”

 

“Asem kamu, Yun.”

 

“Asem kenapa?”

 

“Mentang-mentang udah nikah, pamer kelonan mulu.”

 

“Makanya, buruan nikah!”

 

“Dikira nikah gampang!”

 

“Gampang. Tinggal ijab kabul doang.”

 

“Hahaha. Iya, sih. Nikahnya gampang. Membina rumah tangga yang nggak gampang.”

 

“Gampang, Jhen. Emangnya kamu sama Chandra nggak ada komitmen buat nikah?” tanya Yuna.

 

“Aih, aku nelpon kamu buat ngomongin videonya Refi. Bukan buat diinterogasi,” jawab Jheni kesal.

 

“Yaelah, ngapain sih ngomongin Refi. Dia mah nggak penting buat aku. Lebih penting kamu, Jhen.”

 

“Kamu ini nggak ngerti juga, Yun. Coba buka deh videonya!” pinta Jheni.

 

“Kamu masih nelpon, gimana aku mau buka videonya, Jhen?”

 

“Oh, iya ya. Ya udah, aku matiin teleponnya. Aku mau ke rumah kamu sekarang juga.”

 

“Oke.”

 

Jheni langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Yuna tersenyum kecil. Ia langsung membuka link video yang dikirimkan oleh Jheni. Dilihat secara sekilas, tak ada yang aneh dengan video tersebut. Hanya video sederhana, sebuah lagu romantis dengan latar kehidupan seorang ballerina. Di video itu tergambar jelas wajah Refi dan gerakan lincahnya sebagai penari.

 

“Yeriko suka sama kamu karena dulu kamu seperti ini?” batin Yuna. Ia terus menonton video tersebut hingga habis. Ia sendiri terkesan dengan bakat yang dimiliki Refi. Sayangnya, perilaku Refi tak seindah tarian-tariannya.

 

Pandangan mata Yuna beralih pada komentar-komentar netizen yang mulai membicarakan hubungan cinta antara Refi dan Yeriko. Banyak yang bersimpati pada Refi karena kehidupan Refi yang masih sendiri hingga saat ini.

 

“Mbak Refi move on, dong! Pasti ada pria lain yang sayang sama Mbak Refi apa adanya.” Salah satu komentar dari netizen memancing user lain berkomentar dan membuat postingan video tersebut ramai.

 

“Aku terharu lihat videonya.”

 

“Semoga bahagia buat Mbak Refi. Bisa menemukan cinta sejatinya.”

 

“Padahal aku lebih suka Mbak Refi sama Mas Yeri, kelihatan serasi banget.”

 

Yuna mengerutkan hidungnya saat membaca komentar dari orang-orang yang berpihak pada Refi. “Serasi, serasi. Enak aja! Suamiku!” dengus Yuna sambil menatap layar ponselnya. Ia kembali membaca komentar-komentar dari netizen yang semakin ramai.

 

“Itu cowoknya yang nggak punya perasaan, habis manis sepah dibuang.” Yuna membaca komentar yang mulai menyudutkan Yeriko.

 

“Cowok mah gitu. Kalo ada yang lebih cantik, yang lama ditinggalin.”

 

“Masih cantik Mbak Refi kalau menurut aku.”

 

“Cantik istrinya Mas Yeri. Dia imut banget.”

 

Yuna tersenyum karena ada netizen yang ternyata berpihak padanya.

 

“Katanya, Mas Yeri terpaksa menikah cuma karena pelampiasan doang. Aslinya, dia masih sayang sama Mbak Refi.” Salah satu komentar dari pengguna internet itu mulai mengganggu pikiran Yuna.

 

“Aargh ...! Kalian ini terlalu membesar-besarkan masalah!” seru Yuna kesal.

 

Yuna meletakkan ponselnya di atas meja. Perasaannya semakin tak karuan. “Apa bener kalau Yeriko menikah sama aku cuma karena pelampiasan doang?” gumamnya.

 

“Nggak mungkin. Dia beneran sayang sama aku, kok. Kalau cuma karena pelampiasan doang, dia pasti udah balik ke Refi. Selama ini, Yeriko selalu berusaha buat menghindari Refi. Apa di belakangku, Yeriko diam-diam berhubungan sama Refi?”

 

“Yuna ...! Jangan mikir macam-macam deh!” seru Yuna pada dirinya sendiri. Ia mulai gelisah memikirkan komentar-komentar netizen yang ada di dalam video tersebut.

 

“Mbak Yuna kenapa?” tanya Bibi War sambil meletakkan jus mangga ke hadapan Yuna.

 

“Nggak papa, Bi.”

 

Bibi War menghela napas sambil menatap wajah Yuna yang terlihat murung.

 

“Nggak mau cerita ke Bibi?” tanya Bibi War lagi.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak ada apa-apa, kok.”

 

“Ya udah. Bibi mau lanjut sibuk-sibuk dulu!”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

Bibi War tersenyum dan berlalu pergi. Meski bibir Yuna tersenyum, ia bisa melihat kalau mata Yuna menyiratkan kesedihan. Ia pergi ke halaman belakang untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada Yuna.

 

Bibi War merogoh ponsel yang ada di saku dasternya. Ia langsung menelepon Yeriko yang sedang berada di perusahaan.

 

“Halo ...! Ada apa, Bi?” tanya Yeriko begitu panggilan telepon Bibi War tersambung.

 

“Mas Yeri lagi berantem lagi sama Mbak Yuna?” tanya Bibi War berbisik.

 

“Nggak, Bi. Dia kenapa?” tanya Yeriko.

 

“Bibi lihat, Mbak Yuna murung terus. Pas Bibi tanya, dia bilangnya nggak papa. Tapi, Bibi nggak percaya. Kalian lagi ada masalah?”

 

“Harusnya sih nggak ada apa-apa. Tadi pagi, waktu aku berangkat kerja, dia masih baik-baik aja.”

 

“Oh. Ya sudah, mungkin Bibi yang terlalu banyak berpikir.”

 

“Dia lagi di mana sekarang?”

 

“Lagi nyantai di balkon.”

 

“Bibi awasi dulu ya! Kalau ada apa-apa, Bibi langsung kabari aku!” perintah Yeriko.

 

“Oke, Mas.”

 

Yeriko langsung mematikan panggilan telepon dari Bibi War.

 

Bibi War tersenyum sambil memasukkan kembali ponsel ke sakunya. Ia merasa sangat lega karena Yuna dan Yeriko sedang tidak bertengkar. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju dapur.

 

“Bi ...!”

 

Bibi War terkejut melihat Jheni yang tiba-tiba sudah masuk ke rumah itu. “Mbak Jheni?”

 

Jheni tersenyum menatap Bibi War. “Yuna mana?”

 

“Ada di balkon atas,” jawab Bibi War sambil menunjuk lantai atas rumah tersebut.

 

“Oke. Thanks, Bi!” Jheni langsung melenggang menaiki anak tangga. Ia menghampiri Yuna yang sedang duduk santai di balkon tersebut.

 

“Hei ...!” sapa Jheni sambil menyandarkan tubuhnya ke bibir pintu.

 

Yuna langsung memutar kepalanya, menatap Jheni yang sudah berdiri di belakangnya. “Cepet banget sampe sini?” Ia mengernyitkan dahi.

 

“Aku pake motor. Jadi, bisa lebih cepat sampai ke sini.”

 

“Oh.” Yuna kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi.

 

Jheni menghela napas dan duduk di hadapan Yuna. “Kamu kepikiran sama video yang dibuat sama si Reptil itu?”

 

Yuna menggelengkan kepalanya.

 

“Halah ... nggak usah pura-pura! Aku tahu, muka kamu ini kelihatan jelek banget kalo lagi sedih.”

 

Yuna tersenyum kecut menanggapi ucapan Jheni.

 

“Aku tuh kesel sama si Reptil itu. Dia kok nggak ada kapok-kapoknya gangguin Yeriko. Udah jelas, dia ditolak sama Yeri. Masih aja ngejar-ngejar suami orang. Sekarang, dia bikin video kayak gitu buat narik semua perhatian orang ke dia. Bikin dia seolah-olah jadi wanita yang paling tersakiti. Drama banget!” cerocos Jheni sambil menyeruput jus mangga yang ada di hadapannya.

 

“Itu minumanku!” seru Yuna sambil merebut gelas yang ada di hadapannya.

 

“Astaga ...! Pelit banget!” dengus Jheni.

 

“Minta bikinin sama Bibi, sana!”

 

Jheni meringis sambil menatap Yuna. “Kamu gih yang suruh Bibi! Ini buat aku,” tuturnya sambil merebut gelas jus dari tangan Yuna.

 

“Iih ... dasar!”

 

Jheni meringis sambil memain-mainkan alisnya.

 

“Bibi ...!” seru Yuna.

 

“Apa?”  sahut Bibi War dari lantai bawah.

 

“Jus mangga satu lagi!” teriak Yuna.

 

“Iya, Mbak. Sebentar ya!”

 

Yuna langsung menoleh ke arah Jheni. “Bayar itu jus! Dua puluh ribu.”

 

“Udah kaya, masih aja perhitungan!” dengus Jheni.

 

Yuna terkekeh sambil menatap Jheni.

 

“Coba baca komentar mereka ini!” Jheni menyodorkan ponselnya ke wajah Yuna. “Ngeselin kan? Mereka sekarang menyudutkan Yeriko.”

 

Yuna menggigit bibir bawahnya. “Yang diinginkan Refi memang suamiku, Jhen. Aku kasihan sama Yeriko karena dianggap sebagai laki-laki brengsek di depan netizen-netizen itu. Padahal, dia kan nggak begitu.”

 

“Tenang aja! Aku bantu kamu balasin komentar mereka. Biar mereka tahu, siapa kalian sebenarnya. Enak aja ngata-ngatain orang! Nggak tahu kejadian yang sebenarnya gimana.”

 

“Nggak usah, Jhen! Nggak usah diladeni!” pinta Yuna. Ntar tambah jadi.”

 

Jheni berpikir sejenak. “Iya juga, sih. Makin viral aja ini video kalau aku ngeladeni.”

 

Yuna tersenyum menatap Jheni. Ia harap, perbuatan Refi kali ini tidak akan mempengaruhi suaminya. Kalau dilihat dari video yang diupload, memang tidak secara langsung ditujukan untuk Yeriko. Namun, komentar-komentar dari pengguna internet yang membuat video itu terus menjurus ke arah Refi dan Yeriko. Membuat perasaan Yuna semakin tidak tenang.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya ...

 Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas