Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 423 : Tetap Tenang

 


“Yun, kamu yakin nggak mau balas kelakuan Refi ini?”  tanya Jheni. Ia semakin gelisah karena Yuna lebih banyak diam daripada berbicara dengannya.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Kalo aku balas, nggak ada bedanya aku sama Refi. Kamu nyuruh aku jadi gila juga?”

 

“Terus, kenapa kamu sedih kayak gini?” tanya Jheni sambil menatap Yuna.

 

“Kelihatan jelas ya, Jhen?” tanya Yuna balik.

 

“Kamu itu nggak bisa menyembunyikan perasaan kamu sendiri. Sedih atau senang, kelihatan jelas di mukamu yang aneh ini.”

 

Yuna menggigit bibirnya. “Sebenarnya, aku lebih khawatir sama Yeriko. Aku nggak terima kalau suamiku dikata-katain begitu sama orang lain yang nggak dikenal. Bahkan, nggak ada hubungannya sama kehidupan kami.”

 

Jheni menghela napas sambil menatap Yuna. “Sabar ya, Yun! Jadi istrinya orang kaya, emang nggak mudah. Kamu masih beruntung nggak punya mertua yang galak. Masalah yang ditimbulkan dari orang luar, sebenarnya lebih mudah untuk dihadapi.”

 

Yuna tersenyum ke arah Jheni. “Iya, sih. Akunya aja yang baperan.”

 

“Kamu tenang aja! Kamu nggak sendiri, kok. Kita semua akan selalu menjaga dan melindungi kamu sampai titik darah penghabisan!”

 

Yuna tertawa kecil. “Emangnya lagi perang?”

 

“Iya. Perang batin ‘kan?” tanya Jheni sambil menatap wajah Yuna serius.

 

Yuna menghela napas. Ia menopang dagu dengan telapak tangannya. “Kenapa aku paling nggak bisa nyembunyiin kesedihan di depan kamu. Kamu selalu aja tahu apa yang sebenarnya aku rasain.”

 

Jheni tertawa kecil. “Bodoh!” ucapnya sambil menjitak kepala Yuna.

 

 

 

Di lantai bawah, Yeriko tiba-tiba muncul dan langsung menghampiri Bibi War. “Bi, Yuna di mana?” tanyanya berbisik.

 

“Masih di atas sama Mbak Jheni.”

 

“Ada Jheni?”

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

Yeriko langsung melangkah menaiki anak tangga menuju ke lantai dua rumahnya. Ia langsung menghampiri Yuna dan Jheni yang sedang berbincang di balkon. Ia berdiri di bibir pintu sambil mendengarkan dua wanita yang sedang asyik bercanda.

 

“Jhen, aku harus gimana? Sebenarnya, perasaanku nggak karuan juga. Aku kepikiran sama suamiku. Aku takut, kejadian ini bisa mempengaruhi Yeriko dan perusahaan,” keluh Yuna.

 

“Aku lebih khawatir sama kamu, Yun. Buat Yeriko, Refi mudah untuk dihadapi. Tapi buat kamu, kamu nggak pernah benar-benar tahu siapa Refi sebenarnya. Apa maksud dia mengunggah video kayak gitu? Jelas-jelas dia mau ngerebut suami kamu secara terang-terangan. Bahkan, dia sengaja bikin konspirasi yang bikin semua orang bersimpati ke dia,” cerocos Jheni.

 

“Aku percaya kalau Yeriko nggak akan balik ke Refi lagi. Tapi, aku juga nggak tahu kapan hatinya dia akan berubah. Sekarang dia bisa menolak Refi, nggak tahu kalau besok,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca. “Biar bagaimanapun, dia pernah sayang sama Refi. Aku nggak tahu, apa yang harus aku lakukan ...”

 

“Udah, nggak usah sedih gini!” pinta Jheni. “Mana Yuna yang pemberani seperti dulu? Kenapa sekarang tiba-tiba jadi mellow gini?”

 

“Dulu dan sekarang, keadaannya jauh beda. Dulu, aku masih percaya diri buat bersaing sama dia. Tapi, sekarang ... badanku aja makin hari makin gemuk. Yeriko bisa balik ke Refi kalau aku makin jelek, Jhen ...!” seru Yuna sambil menangis.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia mengeluarkan ponsel dari saku dan mengirimkan pesan singkat kepada seseorang. Memasukkan kembali ponsel ke sakunya dan menghampiri Yuna.

 

Jheni membelalakkan matanya saat melihat Yeriko.

 

Yuna langsung mengusap air matanya dan menatap Yeriko. “Udah pulang?” tanyanya sambil melihat jam yang ada di ponselnya. “Ini baru jam tiga sore.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Aku kangen sama kamu,” ucapnya lembut sambil duduk di sebelah Yuna.

 

Jheni tersenyum sambil menatap Yeriko yang memperlakukan Yuna begitu mesra.

 

Yeriko mengusap lembut rambut Yuna. “Kamu kenapa?”

 

“Nggak papa,” jawab Yuna sambil tersenyum.

 

“Kenapa nangis?” tanya Yeriko.

 

Yuna dan Jheni terdiam. Tak ada yang berani menjawab pertanyaan Yeriko.

 

“Mikirin videonya Refi?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna tak menjawab, ia sulit mengendalikan jantungnya yang berdebar sangat kencang.

 

“Udah deh, Yun. Ngaku aja!” perintah Jheni.

 

Yeriko langsung menatap wajah Jheni.

 

“Yer, si Refi itu semakin menjadi-jadi. Sekarang, dia mulai bikin ulah lagi. Lihat aja! Video yang dia bikin, hari ini udah masuk ke trending video. Kejadian yang dulu, nggak bikin dia jera. Kamu nggak bisa lebih tegas lagi ke dia?” tutur Jheni sambil menatap Yeriko.

 

“Jhen, aku udah tegas nolak dia. Dianya aja yang kegatelan!” sahut Yeriko kesal.

 

“Kamu juga, kenapa bisa suka sama cewek gila kayak gitu. Kamu nggak bisa ngendalikan mantan pacar kamu itu biar nggak ganggu Yuna terus!?” dengus Jheni.

 

Yeriko menatap geram ke arah Jheni. “Kamu jangan memperkeruh keadaan, Jhen!”

 

“Aku nggak memperkeruh. Aku cuma nggak mau Yuna terus disakiti kayak gini. Katanya, kamu sayang sama dia. Tapi kamu bikin Yuna hidup dalam bahaya gara-gara kelakuan mantan pacar kamu itu. Kalau kamu nggak bisa bikin Yuna hidup tenang dan bahagia, aku bakal ambil Yuna.”

 

“Yuna istriku, aku pasti melindungi dia,” sahut Yeriko.

 

“Aku nggak mau masalah ini jadi berlarut-larut. Kalau kamu nggak cepet-cepet kelarin Refi ...”

 

“Aku akan selesaikan ini dengan caraku sendiri!” tegas Yeriko.

 

“Duh, kalian jangan berantem cuma karena video itu!” pinta Yuna.

 

Yeriko menghela napas. “Tujuan Refi untuk memancing aku keluar. Kalau aku terpengaruh sama video itu. Artinya aku membuat pengakuan kalau orang yang dimaksud di video itu memang aku.”

 

Jheni menggigit bibir sambil berpikir. “Iya juga ya?”

 

“Kamu nggak perlu khawatir! Aku pasti jagain Yuna!”

 

“Awas aja kalo sampai Yuna kenapa-kenapa!” ancam Jheni.

 

“Iya, tenang aja!” sahut Yeriko sambil memeluk kepala Yuna ke dadanya. “Aku nggak akan membiarkan istriku sedih. Aku sayang banget sama dia.”

 

Yuna menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Makasih ...!”

 

 

 

Drrt ... Drrt ... Drrt ...!

 

Ponsel Jheni tiba-tiba bergetar.

 

Jheni langsung mengangkat panggilan telepon dari Chandra. “Halo ...!”

 

“Kamu lagi di rumah Yuna?” tanya Chandra tanpa basa-basi.

 

“Iya. Kamu tahu dari mana?” tanya Jheni balik.

 

“Pulang, sekarang juga!”

 

“Hah!? Aku baru nyampe.”

 

“Kamu mau denger aku atau nggak? Pulang, Jhen!”

 

“Ada apa, sih? Aku lagi nggak banyak kerjaan. Mau santai di sini sama Yuna soalnya ...”

 

“Kamu datang ke sana buat bahas video yang lagi viral itu ‘kan?”

 

Jheni tak menjawab pertanyaan Chandra.

 

“Pulang, Jhen!”

 

“Iya, aku pulang.” Jheni langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

“Kenapa, Jhen?” tanya Yuna sambil menatap Jheni yang tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.

 

“Si Chandra nyuruh aku pulang,” sahutnya kesal.

 

“Jangan cemberut gitu dong! Dikangenin sama suami, harusnya senang,” tutur Yuna sambil menatap Jheni.

 

“Masih pacar, belum jadi suami!” sahut Jheni.

 

“Tapi ngarep ‘kan?” goda Yuna.

 

Jheni memonyongkan bibirnya ke arah Yuna. “Aku balik dulu ya!” pamitnya.

 

Yuna dan Yeriko menganggukkan kepala. “Hati-hati, Jhen!”

 

Jheni mengangguk. “Jagain pacarku yang lagi hamil ini ya! Awas kalau sampe dia kenapa-kenapa!” ancam Yuna sambil menunjuk wajah Yeriko.

 

“Iya, Jheni Bunny Sweety,” sahut Yeriko.

 

Jheni mengerutkan dahi menatap Yeriko. “Pasti Yuna yang ngajari manggil aku dengan julukan aneh-aneh,” dengusnya.

 

Yeriko menahan tawa. “Udah, pulang sana!”

 

“Aku diusir?” tanya Jheni sambil menunjuk wajahnya sendiri.

 

“Kasihan si Chandra sudah kangen banget sama kamu,” dalih Yeriko.

 

“Oke. Bye!” Jheni melambaikan tangannya dan bergegas keluar dari rumah Yuna. Ia masih tidak mengerti kenapa Chandra tiba-tiba menyuruhnya pulang. Biasanya, Chandra selalu memberikan banyak waktu untuk dia dan Yuna. Ia merasa kalau Yeriko yang memerintahkan Chandra untuk membuatnya keluar dari rumah itu.

 

Meski ia percaya kalau Yeriko bisa menenangkan Yuna, tapi perasaannya masih saja khawatir. Saat ini, Yuna sedang hamil dan perasaannya sangat sensitif. Ia takut kalau sikap Yeriko yang santai, justru akan melukai Yuna.

 

“Huft, mungkin aku yang terlalu banyak berpikir. Seharusnya, aku bisa mempercayakan hidup Yuna sama suaminya sendiri. Yeriko nggak mungkin menyakiti perasaan Yuna,” gumamnya sambil menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah Yeriko.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya ...

 Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas