“Yun,
kamu yakin nggak mau balas kelakuan Refi ini?” tanya Jheni. Ia semakin
gelisah karena Yuna lebih banyak diam daripada berbicara dengannya.
Yuna
menggelengkan kepala. “Kalo aku balas, nggak ada bedanya aku sama Refi. Kamu
nyuruh aku jadi gila juga?”
“Terus,
kenapa kamu sedih kayak gini?” tanya Jheni sambil menatap Yuna.
“Kelihatan
jelas ya, Jhen?” tanya Yuna balik.
“Kamu
itu nggak bisa menyembunyikan perasaan kamu sendiri. Sedih atau senang,
kelihatan jelas di mukamu yang aneh ini.”
Yuna
menggigit bibirnya. “Sebenarnya, aku lebih khawatir sama Yeriko. Aku nggak
terima kalau suamiku dikata-katain begitu sama orang lain yang nggak dikenal.
Bahkan, nggak ada hubungannya sama kehidupan kami.”
Jheni
menghela napas sambil menatap Yuna. “Sabar ya, Yun! Jadi istrinya orang kaya,
emang nggak mudah. Kamu masih beruntung nggak punya mertua yang galak. Masalah
yang ditimbulkan dari orang luar, sebenarnya lebih mudah untuk dihadapi.”
Yuna
tersenyum ke arah Jheni. “Iya, sih. Akunya aja yang baperan.”
“Kamu
tenang aja! Kamu nggak sendiri, kok. Kita semua akan selalu menjaga dan
melindungi kamu sampai titik darah penghabisan!”
Yuna
tertawa kecil. “Emangnya lagi perang?”
“Iya.
Perang batin ‘kan?” tanya Jheni sambil menatap wajah Yuna serius.
Yuna
menghela napas. Ia menopang dagu dengan telapak tangannya. “Kenapa aku paling
nggak bisa nyembunyiin kesedihan di depan kamu. Kamu selalu aja tahu apa yang
sebenarnya aku rasain.”
Jheni
tertawa kecil. “Bodoh!” ucapnya sambil menjitak kepala Yuna.
Di
lantai bawah, Yeriko tiba-tiba muncul dan langsung menghampiri Bibi War. “Bi,
Yuna di mana?” tanyanya berbisik.
“Masih
di atas sama Mbak Jheni.”
“Ada
Jheni?”
Bibi
War menganggukkan kepala.
Yeriko
langsung melangkah menaiki anak tangga menuju ke lantai dua rumahnya. Ia
langsung menghampiri Yuna dan Jheni yang sedang berbincang di balkon. Ia
berdiri di bibir pintu sambil mendengarkan dua wanita yang sedang asyik
bercanda.
“Jhen,
aku harus gimana? Sebenarnya, perasaanku nggak karuan juga. Aku kepikiran sama
suamiku. Aku takut, kejadian ini bisa mempengaruhi Yeriko dan perusahaan,”
keluh Yuna.
“Aku
lebih khawatir sama kamu, Yun. Buat Yeriko, Refi mudah untuk dihadapi. Tapi
buat kamu, kamu nggak pernah benar-benar tahu siapa Refi sebenarnya. Apa maksud
dia mengunggah video kayak gitu? Jelas-jelas dia mau ngerebut suami kamu secara
terang-terangan. Bahkan, dia sengaja bikin konspirasi yang bikin semua orang
bersimpati ke dia,” cerocos Jheni.
“Aku
percaya kalau Yeriko nggak akan balik ke Refi lagi. Tapi, aku juga nggak tahu
kapan hatinya dia akan berubah. Sekarang dia bisa menolak Refi, nggak tahu
kalau besok,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca. “Biar bagaimanapun, dia
pernah sayang sama Refi. Aku nggak tahu, apa yang harus aku lakukan ...”
“Udah,
nggak usah sedih gini!” pinta Jheni. “Mana Yuna yang pemberani seperti dulu?
Kenapa sekarang tiba-tiba jadi mellow gini?”
“Dulu
dan sekarang, keadaannya jauh beda. Dulu, aku masih percaya diri buat bersaing
sama dia. Tapi, sekarang ... badanku aja makin hari makin gemuk. Yeriko bisa
balik ke Refi kalau aku makin jelek, Jhen ...!” seru Yuna sambil menangis.
Yeriko
menarik napas dalam-dalam. Ia mengeluarkan ponsel dari saku dan mengirimkan
pesan singkat kepada seseorang. Memasukkan kembali ponsel ke sakunya dan
menghampiri Yuna.
Jheni
membelalakkan matanya saat melihat Yeriko.
Yuna
langsung mengusap air matanya dan menatap Yeriko. “Udah pulang?” tanyanya
sambil melihat jam yang ada di ponselnya. “Ini baru jam tiga sore.”
Yeriko
tersenyum kecil. “Aku kangen sama kamu,” ucapnya lembut sambil duduk di sebelah
Yuna.
Jheni
tersenyum sambil menatap Yeriko yang memperlakukan Yuna begitu mesra.
Yeriko
mengusap lembut rambut Yuna. “Kamu kenapa?”
“Nggak
papa,” jawab Yuna sambil tersenyum.
“Kenapa
nangis?” tanya Yeriko.
Yuna
dan Jheni terdiam. Tak ada yang berani menjawab pertanyaan Yeriko.
“Mikirin
videonya Refi?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.
Yuna
tak menjawab, ia sulit mengendalikan jantungnya yang berdebar sangat kencang.
“Udah
deh, Yun. Ngaku aja!” perintah Jheni.
Yeriko
langsung menatap wajah Jheni.
“Yer,
si Refi itu semakin menjadi-jadi. Sekarang, dia mulai bikin ulah lagi. Lihat
aja! Video yang dia bikin, hari ini udah masuk ke trending video. Kejadian yang
dulu, nggak bikin dia jera. Kamu nggak bisa lebih tegas lagi ke dia?” tutur
Jheni sambil menatap Yeriko.
“Jhen,
aku udah tegas nolak dia. Dianya aja yang kegatelan!” sahut Yeriko kesal.
“Kamu
juga, kenapa bisa suka sama cewek gila kayak gitu. Kamu nggak bisa ngendalikan
mantan pacar kamu itu biar nggak ganggu Yuna terus!?” dengus Jheni.
Yeriko
menatap geram ke arah Jheni. “Kamu jangan memperkeruh keadaan, Jhen!”
“Aku
nggak memperkeruh. Aku cuma nggak mau Yuna terus disakiti kayak gini. Katanya,
kamu sayang sama dia. Tapi kamu bikin Yuna hidup dalam bahaya gara-gara
kelakuan mantan pacar kamu itu. Kalau kamu nggak bisa bikin Yuna hidup tenang
dan bahagia, aku bakal ambil Yuna.”
“Yuna
istriku, aku pasti melindungi dia,” sahut Yeriko.
“Aku
nggak mau masalah ini jadi berlarut-larut. Kalau kamu nggak cepet-cepet kelarin
Refi ...”
“Aku
akan selesaikan ini dengan caraku sendiri!” tegas Yeriko.
“Duh,
kalian jangan berantem cuma karena video itu!” pinta Yuna.
Yeriko
menghela napas. “Tujuan Refi untuk memancing aku keluar. Kalau aku terpengaruh
sama video itu. Artinya aku membuat pengakuan kalau orang yang dimaksud di
video itu memang aku.”
Jheni
menggigit bibir sambil berpikir. “Iya juga ya?”
“Kamu
nggak perlu khawatir! Aku pasti jagain Yuna!”
“Awas
aja kalo sampai Yuna kenapa-kenapa!” ancam Jheni.
“Iya,
tenang aja!” sahut Yeriko sambil memeluk kepala Yuna ke dadanya. “Aku nggak
akan membiarkan istriku sedih. Aku sayang banget sama dia.”
Yuna
menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Makasih ...!”
Drrt
... Drrt ... Drrt ...!
Ponsel
Jheni tiba-tiba bergetar.
Jheni
langsung mengangkat panggilan telepon dari Chandra. “Halo ...!”
“Kamu
lagi di rumah Yuna?” tanya Chandra tanpa basa-basi.
“Iya.
Kamu tahu dari mana?” tanya Jheni balik.
“Pulang,
sekarang juga!”
“Hah!?
Aku baru nyampe.”
“Kamu
mau denger aku atau nggak? Pulang, Jhen!”
“Ada
apa, sih? Aku lagi nggak banyak kerjaan. Mau santai di sini sama Yuna soalnya
...”
“Kamu
datang ke sana buat bahas video yang lagi viral itu ‘kan?”
Jheni
tak menjawab pertanyaan Chandra.
“Pulang,
Jhen!”
“Iya,
aku pulang.” Jheni langsung mematikan panggilan teleponnya.
“Kenapa,
Jhen?” tanya Yuna sambil menatap Jheni yang tiba-tiba bangkit dari tempat
duduknya.
“Si
Chandra nyuruh aku pulang,” sahutnya kesal.
“Jangan
cemberut gitu dong! Dikangenin sama suami, harusnya senang,” tutur Yuna sambil
menatap Jheni.
“Masih
pacar, belum jadi suami!” sahut Jheni.
“Tapi
ngarep ‘kan?” goda Yuna.
Jheni
memonyongkan bibirnya ke arah Yuna. “Aku balik dulu ya!” pamitnya.
Yuna
dan Yeriko menganggukkan kepala. “Hati-hati, Jhen!”
Jheni
mengangguk. “Jagain pacarku yang lagi hamil ini ya! Awas kalau sampe dia
kenapa-kenapa!” ancam Yuna sambil menunjuk wajah Yeriko.
“Iya,
Jheni Bunny Sweety,” sahut Yeriko.
Jheni
mengerutkan dahi menatap Yeriko. “Pasti Yuna yang ngajari manggil aku dengan
julukan aneh-aneh,” dengusnya.
Yeriko
menahan tawa. “Udah, pulang sana!”
“Aku
diusir?” tanya Jheni sambil menunjuk wajahnya sendiri.
“Kasihan
si Chandra sudah kangen banget sama kamu,” dalih Yeriko.
“Oke.
Bye!” Jheni melambaikan tangannya dan bergegas keluar dari rumah Yuna. Ia masih
tidak mengerti kenapa Chandra tiba-tiba menyuruhnya pulang. Biasanya, Chandra
selalu memberikan banyak waktu untuk dia dan Yuna. Ia merasa kalau Yeriko yang
memerintahkan Chandra untuk membuatnya keluar dari rumah itu.
Meski
ia percaya kalau Yeriko bisa menenangkan Yuna, tapi perasaannya masih saja
khawatir. Saat ini, Yuna sedang hamil dan perasaannya sangat sensitif. Ia takut
kalau sikap Yeriko yang santai, justru akan melukai Yuna.
“Huft,
mungkin aku yang terlalu banyak berpikir. Seharusnya, aku bisa mempercayakan
hidup Yuna sama suaminya sendiri. Yeriko nggak mungkin menyakiti perasaan
Yuna,” gumamnya sambil menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah Yeriko.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini ya ...
Thank
you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin
cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment