Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 422 : Berulah Lagi

 


“Yuna ... gawat, Yun!” seru Jheni dari sambungan telepon.

 

“Ada apa sih, Jhen?” tanya Yuna santai sambil melihat-lihat majalah tentang cara merawat bayi.

 

“Si Refi bikin ulah lagi!” seru Jheni.

 

“Biarin aja. Orang gila mah, suka-suka dia.”

 

“Ck, kamu ini santai banget nanggepinnya.”

 

“Udah biasa, Jhen. Kalo nggak bikin ulah, bukan Refi namanya. Dia bikin apa lagi?”

 

“Cek di link Youtube yang aku kirim ke WA kamu! Cuma video lagu gitu aja sih, tapi ...”

 

“Tapi apa?”

 

“Kayaknya ditujukan ke Yeriko, deh.”

 

“Oh.”

 

“Cuma oh?”

 

“Terus?”

 

“Aku udah hebih dari tadi gara-gara video itu. Banyak yang komen dan ngungkit soal masa lalu Refi dan Yeriko. Udah berasap mata sama telingaku, Yun. Kamu malah santai banget.”

 

“Terus, aku harus gimana? Bikin kehebohan juga?” tanya Yuna.

 

“Kamu nggak khawatir kalau Refi bakal godain Yeriko lagi?” tanya Jheni balik.

 

“Aku nggak khawatir selama Yeriko nggak tergoda sama dia.”

 

“Kamu yakin kalau Yeriko nggak akan tergoda sama mantan pacarnya itu? Bisa aja si Yeri ada hati lagi ke Refi.”

 

“Kompor! Aku percaya sama suamiku, Jhen.”

 

“Hmm, iya sih. Suami kamu emang nggak ada duanya. Terbaaaeeek!”

 

Yuna tertawa mendengar ucapan Jheni. “Aku udah biasa ngadepin Refi. Belum lagi cewek-cewek lain yang juga ngarepin Yeriko. Kuat-kuatkan hati aja, Jhen. Biarlah cewek-cewek di luar sana makin membara kepalanya. Yang penting, tiap malam Yeriko masih ngelonin aku.”

 

“Asem kamu, Yun.”

 

“Asem kenapa?”

 

“Mentang-mentang udah nikah, pamer kelonan mulu.”

 

“Makanya, buruan nikah!”

 

“Dikira nikah gampang!”

 

“Gampang. Tinggal ijab kabul doang.”

 

“Hahaha. Iya, sih. Nikahnya gampang. Membina rumah tangga yang nggak gampang.”

 

“Gampang, Jhen. Emangnya kamu sama Chandra nggak ada komitmen buat nikah?” tanya Yuna.

 

“Aih, aku nelpon kamu buat ngomongin videonya Refi. Bukan buat diinterogasi,” jawab Jheni kesal.

 

“Yaelah, ngapain sih ngomongin Refi. Dia mah nggak penting buat aku. Lebih penting kamu, Jhen.”

 

“Kamu ini nggak ngerti juga, Yun. Coba buka deh videonya!” pinta Jheni.

 

“Kamu masih nelpon, gimana aku mau buka videonya, Jhen?”

 

“Oh, iya ya. Ya udah, aku matiin teleponnya. Aku mau ke rumah kamu sekarang juga.”

 

“Oke.”

 

Jheni langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Yuna tersenyum kecil. Ia langsung membuka link video yang dikirimkan oleh Jheni. Dilihat secara sekilas, tak ada yang aneh dengan video tersebut. Hanya video sederhana, sebuah lagu romantis dengan latar kehidupan seorang ballerina. Di video itu tergambar jelas wajah Refi dan gerakan lincahnya sebagai penari.

 

“Yeriko suka sama kamu karena dulu kamu seperti ini?” batin Yuna. Ia terus menonton video tersebut hingga habis. Ia sendiri terkesan dengan bakat yang dimiliki Refi. Sayangnya, perilaku Refi tak seindah tarian-tariannya.

 

Pandangan mata Yuna beralih pada komentar-komentar netizen yang mulai membicarakan hubungan cinta antara Refi dan Yeriko. Banyak yang bersimpati pada Refi karena kehidupan Refi yang masih sendiri hingga saat ini.

 

“Mbak Refi move on, dong! Pasti ada pria lain yang sayang sama Mbak Refi apa adanya.” Salah satu komentar dari netizen memancing user lain berkomentar dan membuat postingan video tersebut ramai.

 

“Aku terharu lihat videonya.”

 

“Semoga bahagia buat Mbak Refi. Bisa menemukan cinta sejatinya.”

 

“Padahal aku lebih suka Mbak Refi sama Mas Yeri, kelihatan serasi banget.”

 

Yuna mengerutkan hidungnya saat membaca komentar dari orang-orang yang berpihak pada Refi. “Serasi, serasi. Enak aja! Suamiku!” dengus Yuna sambil menatap layar ponselnya. Ia kembali membaca komentar-komentar dari netizen yang semakin ramai.

 

“Itu cowoknya yang nggak punya perasaan, habis manis sepah dibuang.” Yuna membaca komentar yang mulai menyudutkan Yeriko.

 

“Cowok mah gitu. Kalo ada yang lebih cantik, yang lama ditinggalin.”

 

“Masih cantik Mbak Refi kalau menurut aku.”

 

“Cantik istrinya Mas Yeri. Dia imut banget.”

 

Yuna tersenyum karena ada netizen yang ternyata berpihak padanya.

 

“Katanya, Mas Yeri terpaksa menikah cuma karena pelampiasan doang. Aslinya, dia masih sayang sama Mbak Refi.” Salah satu komentar dari pengguna internet itu mulai mengganggu pikiran Yuna.

 

“Aargh ...! Kalian ini terlalu membesar-besarkan masalah!” seru Yuna kesal.

 

Yuna meletakkan ponselnya di atas meja. Perasaannya semakin tak karuan. “Apa bener kalau Yeriko menikah sama aku cuma karena pelampiasan doang?” gumamnya.

 

“Nggak mungkin. Dia beneran sayang sama aku, kok. Kalau cuma karena pelampiasan doang, dia pasti udah balik ke Refi. Selama ini, Yeriko selalu berusaha buat menghindari Refi. Apa di belakangku, Yeriko diam-diam berhubungan sama Refi?”

 

“Yuna ...! Jangan mikir macam-macam deh!” seru Yuna pada dirinya sendiri. Ia mulai gelisah memikirkan komentar-komentar netizen yang ada di dalam video tersebut.

 

“Mbak Yuna kenapa?” tanya Bibi War sambil meletakkan jus mangga ke hadapan Yuna.

 

“Nggak papa, Bi.”

 

Bibi War menghela napas sambil menatap wajah Yuna yang terlihat murung.

 

“Nggak mau cerita ke Bibi?” tanya Bibi War lagi.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak ada apa-apa, kok.”

 

“Ya udah. Bibi mau lanjut sibuk-sibuk dulu!”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

Bibi War tersenyum dan berlalu pergi. Meski bibir Yuna tersenyum, ia bisa melihat kalau mata Yuna menyiratkan kesedihan. Ia pergi ke halaman belakang untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada Yuna.

 

Bibi War merogoh ponsel yang ada di saku dasternya. Ia langsung menelepon Yeriko yang sedang berada di perusahaan.

 

“Halo ...! Ada apa, Bi?” tanya Yeriko begitu panggilan telepon Bibi War tersambung.

 

“Mas Yeri lagi berantem lagi sama Mbak Yuna?” tanya Bibi War berbisik.

 

“Nggak, Bi. Dia kenapa?” tanya Yeriko.

 

“Bibi lihat, Mbak Yuna murung terus. Pas Bibi tanya, dia bilangnya nggak papa. Tapi, Bibi nggak percaya. Kalian lagi ada masalah?”

 

“Harusnya sih nggak ada apa-apa. Tadi pagi, waktu aku berangkat kerja, dia masih baik-baik aja.”

 

“Oh. Ya sudah, mungkin Bibi yang terlalu banyak berpikir.”

 

“Dia lagi di mana sekarang?”

 

“Lagi nyantai di balkon.”

 

“Bibi awasi dulu ya! Kalau ada apa-apa, Bibi langsung kabari aku!” perintah Yeriko.

 

“Oke, Mas.”

 

Yeriko langsung mematikan panggilan telepon dari Bibi War.

 

Bibi War tersenyum sambil memasukkan kembali ponsel ke sakunya. Ia merasa sangat lega karena Yuna dan Yeriko sedang tidak bertengkar. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju dapur.

 

“Bi ...!”

 

Bibi War terkejut melihat Jheni yang tiba-tiba sudah masuk ke rumah itu. “Mbak Jheni?”

 

Jheni tersenyum menatap Bibi War. “Yuna mana?”

 

“Ada di balkon atas,” jawab Bibi War sambil menunjuk lantai atas rumah tersebut.

 

“Oke. Thanks, Bi!” Jheni langsung melenggang menaiki anak tangga. Ia menghampiri Yuna yang sedang duduk santai di balkon tersebut.

 

“Hei ...!” sapa Jheni sambil menyandarkan tubuhnya ke bibir pintu.

 

Yuna langsung memutar kepalanya, menatap Jheni yang sudah berdiri di belakangnya. “Cepet banget sampe sini?” Ia mengernyitkan dahi.

 

“Aku pake motor. Jadi, bisa lebih cepat sampai ke sini.”

 

“Oh.” Yuna kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi.

 

Jheni menghela napas dan duduk di hadapan Yuna. “Kamu kepikiran sama video yang dibuat sama si Reptil itu?”

 

Yuna menggelengkan kepalanya.

 

“Halah ... nggak usah pura-pura! Aku tahu, muka kamu ini kelihatan jelek banget kalo lagi sedih.”

 

Yuna tersenyum kecut menanggapi ucapan Jheni.

 

“Aku tuh kesel sama si Reptil itu. Dia kok nggak ada kapok-kapoknya gangguin Yeriko. Udah jelas, dia ditolak sama Yeri. Masih aja ngejar-ngejar suami orang. Sekarang, dia bikin video kayak gitu buat narik semua perhatian orang ke dia. Bikin dia seolah-olah jadi wanita yang paling tersakiti. Drama banget!” cerocos Jheni sambil menyeruput jus mangga yang ada di hadapannya.

 

“Itu minumanku!” seru Yuna sambil merebut gelas yang ada di hadapannya.

 

“Astaga ...! Pelit banget!” dengus Jheni.

 

“Minta bikinin sama Bibi, sana!”

 

Jheni meringis sambil menatap Yuna. “Kamu gih yang suruh Bibi! Ini buat aku,” tuturnya sambil merebut gelas jus dari tangan Yuna.

 

“Iih ... dasar!”

 

Jheni meringis sambil memain-mainkan alisnya.

 

“Bibi ...!” seru Yuna.

 

“Apa?”  sahut Bibi War dari lantai bawah.

 

“Jus mangga satu lagi!” teriak Yuna.

 

“Iya, Mbak. Sebentar ya!”

 

Yuna langsung menoleh ke arah Jheni. “Bayar itu jus! Dua puluh ribu.”

 

“Udah kaya, masih aja perhitungan!” dengus Jheni.

 

Yuna terkekeh sambil menatap Jheni.

 

“Coba baca komentar mereka ini!” Jheni menyodorkan ponselnya ke wajah Yuna. “Ngeselin kan? Mereka sekarang menyudutkan Yeriko.”

 

Yuna menggigit bibir bawahnya. “Yang diinginkan Refi memang suamiku, Jhen. Aku kasihan sama Yeriko karena dianggap sebagai laki-laki brengsek di depan netizen-netizen itu. Padahal, dia kan nggak begitu.”

 

“Tenang aja! Aku bantu kamu balasin komentar mereka. Biar mereka tahu, siapa kalian sebenarnya. Enak aja ngata-ngatain orang! Nggak tahu kejadian yang sebenarnya gimana.”

 

“Nggak usah, Jhen! Nggak usah diladeni!” pinta Yuna. Ntar tambah jadi.”

 

Jheni berpikir sejenak. “Iya juga, sih. Makin viral aja ini video kalau aku ngeladeni.”

 

Yuna tersenyum menatap Jheni. Ia harap, perbuatan Refi kali ini tidak akan mempengaruhi suaminya. Kalau dilihat dari video yang diupload, memang tidak secara langsung ditujukan untuk Yeriko. Namun, komentar-komentar dari pengguna internet yang membuat video itu terus menjurus ke arah Refi dan Yeriko. Membuat perasaan Yuna semakin tidak tenang.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya ...

 Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas