“Yuna
... gawat, Yun!” seru Jheni dari sambungan telepon.
“Ada
apa sih, Jhen?” tanya Yuna santai sambil melihat-lihat majalah tentang cara
merawat bayi.
“Si
Refi bikin ulah lagi!” seru Jheni.
“Biarin
aja. Orang gila mah, suka-suka dia.”
“Ck,
kamu ini santai banget nanggepinnya.”
“Udah
biasa, Jhen. Kalo nggak bikin ulah, bukan Refi namanya. Dia bikin apa lagi?”
“Cek
di link Youtube yang aku kirim ke WA kamu! Cuma video lagu gitu aja sih, tapi
...”
“Tapi
apa?”
“Kayaknya
ditujukan ke Yeriko, deh.”
“Oh.”
“Cuma
oh?”
“Terus?”
“Aku
udah hebih dari tadi gara-gara video itu. Banyak yang komen dan ngungkit soal
masa lalu Refi dan Yeriko. Udah berasap mata sama telingaku, Yun. Kamu malah
santai banget.”
“Terus,
aku harus gimana? Bikin kehebohan juga?” tanya Yuna.
“Kamu
nggak khawatir kalau Refi bakal godain Yeriko lagi?” tanya Jheni balik.
“Aku
nggak khawatir selama Yeriko nggak tergoda sama dia.”
“Kamu
yakin kalau Yeriko nggak akan tergoda sama mantan pacarnya itu? Bisa aja si
Yeri ada hati lagi ke Refi.”
“Kompor!
Aku percaya sama suamiku, Jhen.”
“Hmm,
iya sih. Suami kamu emang nggak ada duanya. Terbaaaeeek!”
Yuna
tertawa mendengar ucapan Jheni. “Aku udah biasa ngadepin Refi. Belum lagi
cewek-cewek lain yang juga ngarepin Yeriko. Kuat-kuatkan hati aja, Jhen.
Biarlah cewek-cewek di luar sana makin membara kepalanya. Yang penting, tiap
malam Yeriko masih ngelonin aku.”
“Asem
kamu, Yun.”
“Asem
kenapa?”
“Mentang-mentang
udah nikah, pamer kelonan mulu.”
“Makanya,
buruan nikah!”
“Dikira
nikah gampang!”
“Gampang.
Tinggal ijab kabul doang.”
“Hahaha.
Iya, sih. Nikahnya gampang. Membina rumah tangga yang nggak gampang.”
“Gampang,
Jhen. Emangnya kamu sama Chandra nggak ada komitmen buat nikah?” tanya Yuna.
“Aih,
aku nelpon kamu buat ngomongin videonya Refi. Bukan buat diinterogasi,” jawab
Jheni kesal.
“Yaelah,
ngapain sih ngomongin Refi. Dia mah nggak penting buat aku. Lebih penting kamu,
Jhen.”
“Kamu
ini nggak ngerti juga, Yun. Coba buka deh videonya!” pinta Jheni.
“Kamu
masih nelpon, gimana aku mau buka videonya, Jhen?”
“Oh,
iya ya. Ya udah, aku matiin teleponnya. Aku mau ke rumah kamu sekarang juga.”
“Oke.”
Jheni
langsung mematikan panggilan teleponnya.
Yuna
tersenyum kecil. Ia langsung membuka link video yang dikirimkan oleh Jheni.
Dilihat secara sekilas, tak ada yang aneh dengan video tersebut. Hanya video
sederhana, sebuah lagu romantis dengan latar kehidupan seorang ballerina. Di
video itu tergambar jelas wajah Refi dan gerakan lincahnya sebagai penari.
“Yeriko
suka sama kamu karena dulu kamu seperti ini?” batin Yuna. Ia terus menonton
video tersebut hingga habis. Ia sendiri terkesan dengan bakat yang dimiliki
Refi. Sayangnya, perilaku Refi tak seindah tarian-tariannya.
Pandangan
mata Yuna beralih pada komentar-komentar netizen yang mulai membicarakan
hubungan cinta antara Refi dan Yeriko. Banyak yang bersimpati pada Refi karena
kehidupan Refi yang masih sendiri hingga saat ini.
“Mbak
Refi move on, dong! Pasti ada pria lain yang sayang sama Mbak Refi apa adanya.”
Salah satu komentar dari netizen memancing user lain berkomentar dan membuat
postingan video tersebut ramai.
“Aku
terharu lihat videonya.”
“Semoga
bahagia buat Mbak Refi. Bisa menemukan cinta sejatinya.”
“Padahal
aku lebih suka Mbak Refi sama Mas Yeri, kelihatan serasi banget.”
Yuna
mengerutkan hidungnya saat membaca komentar dari orang-orang yang berpihak pada
Refi. “Serasi, serasi. Enak aja! Suamiku!” dengus Yuna sambil menatap layar
ponselnya. Ia kembali membaca komentar-komentar dari netizen yang semakin
ramai.
“Itu
cowoknya yang nggak punya perasaan, habis manis sepah dibuang.” Yuna membaca
komentar yang mulai menyudutkan Yeriko.
“Cowok
mah gitu. Kalo ada yang lebih cantik, yang lama ditinggalin.”
“Masih
cantik Mbak Refi kalau menurut aku.”
“Cantik
istrinya Mas Yeri. Dia imut banget.”
Yuna
tersenyum karena ada netizen yang ternyata berpihak padanya.
“Katanya,
Mas Yeri terpaksa menikah cuma karena pelampiasan doang. Aslinya, dia masih
sayang sama Mbak Refi.” Salah satu komentar dari pengguna internet itu mulai
mengganggu pikiran Yuna.
“Aargh
...! Kalian ini terlalu membesar-besarkan masalah!” seru Yuna kesal.
Yuna
meletakkan ponselnya di atas meja. Perasaannya semakin tak karuan. “Apa bener
kalau Yeriko menikah sama aku cuma karena pelampiasan doang?” gumamnya.
“Nggak
mungkin. Dia beneran sayang sama aku, kok. Kalau cuma karena pelampiasan doang,
dia pasti udah balik ke Refi. Selama ini, Yeriko selalu berusaha buat
menghindari Refi. Apa di belakangku, Yeriko diam-diam berhubungan sama Refi?”
“Yuna
...! Jangan mikir macam-macam deh!” seru Yuna pada dirinya sendiri. Ia mulai
gelisah memikirkan komentar-komentar netizen yang ada di dalam video tersebut.
“Mbak
Yuna kenapa?” tanya Bibi War sambil meletakkan jus mangga ke hadapan Yuna.
“Nggak
papa, Bi.”
Bibi
War menghela napas sambil menatap wajah Yuna yang terlihat murung.
“Nggak
mau cerita ke Bibi?” tanya Bibi War lagi.
Yuna
menggelengkan kepala. “Nggak ada apa-apa, kok.”
“Ya
udah. Bibi mau lanjut sibuk-sibuk dulu!”
Yuna
mengangguk sambil tersenyum.
Bibi
War tersenyum dan berlalu pergi. Meski bibir Yuna tersenyum, ia bisa melihat
kalau mata Yuna menyiratkan kesedihan. Ia pergi ke halaman belakang untuk
memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada Yuna.
Bibi
War merogoh ponsel yang ada di saku dasternya. Ia langsung menelepon Yeriko
yang sedang berada di perusahaan.
“Halo
...! Ada apa, Bi?” tanya Yeriko begitu panggilan telepon Bibi War tersambung.
“Mas
Yeri lagi berantem lagi sama Mbak Yuna?” tanya Bibi War berbisik.
“Nggak,
Bi. Dia kenapa?” tanya Yeriko.
“Bibi
lihat, Mbak Yuna murung terus. Pas Bibi tanya, dia bilangnya nggak papa. Tapi,
Bibi nggak percaya. Kalian lagi ada masalah?”
“Harusnya
sih nggak ada apa-apa. Tadi pagi, waktu aku berangkat kerja, dia masih
baik-baik aja.”
“Oh.
Ya sudah, mungkin Bibi yang terlalu banyak berpikir.”
“Dia
lagi di mana sekarang?”
“Lagi
nyantai di balkon.”
“Bibi
awasi dulu ya! Kalau ada apa-apa, Bibi langsung kabari aku!” perintah Yeriko.
“Oke,
Mas.”
Yeriko
langsung mematikan panggilan telepon dari Bibi War.
Bibi
War tersenyum sambil memasukkan kembali ponsel ke sakunya. Ia merasa sangat
lega karena Yuna dan Yeriko sedang tidak bertengkar. Ia kembali melangkahkan
kakinya menuju dapur.
“Bi
...!”
Bibi
War terkejut melihat Jheni yang tiba-tiba sudah masuk ke rumah itu. “Mbak
Jheni?”
Jheni
tersenyum menatap Bibi War. “Yuna mana?”
“Ada
di balkon atas,” jawab Bibi War sambil menunjuk lantai atas rumah tersebut.
“Oke.
Thanks, Bi!” Jheni langsung melenggang menaiki anak tangga. Ia menghampiri Yuna
yang sedang duduk santai di balkon tersebut.
“Hei
...!” sapa Jheni sambil menyandarkan tubuhnya ke bibir pintu.
Yuna
langsung memutar kepalanya, menatap Jheni yang sudah berdiri di belakangnya.
“Cepet banget sampe sini?” Ia mengernyitkan dahi.
“Aku
pake motor. Jadi, bisa lebih cepat sampai ke sini.”
“Oh.”
Yuna kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Jheni
menghela napas dan duduk di hadapan Yuna. “Kamu kepikiran sama video yang
dibuat sama si Reptil itu?”
Yuna
menggelengkan kepalanya.
“Halah
... nggak usah pura-pura! Aku tahu, muka kamu ini kelihatan jelek banget kalo
lagi sedih.”
Yuna
tersenyum kecut menanggapi ucapan Jheni.
“Aku
tuh kesel sama si Reptil itu. Dia kok nggak ada kapok-kapoknya gangguin Yeriko.
Udah jelas, dia ditolak sama Yeri. Masih aja ngejar-ngejar suami orang.
Sekarang, dia bikin video kayak gitu buat narik semua perhatian orang ke dia.
Bikin dia seolah-olah jadi wanita yang paling tersakiti. Drama banget!” cerocos
Jheni sambil menyeruput jus mangga yang ada di hadapannya.
“Itu
minumanku!” seru Yuna sambil merebut gelas yang ada di hadapannya.
“Astaga
...! Pelit banget!” dengus Jheni.
“Minta
bikinin sama Bibi, sana!”
Jheni
meringis sambil menatap Yuna. “Kamu gih yang suruh Bibi! Ini buat aku,”
tuturnya sambil merebut gelas jus dari tangan Yuna.
“Iih
... dasar!”
Jheni
meringis sambil memain-mainkan alisnya.
“Bibi
...!” seru Yuna.
“Apa?”
sahut Bibi War dari lantai bawah.
“Jus
mangga satu lagi!” teriak Yuna.
“Iya,
Mbak. Sebentar ya!”
Yuna
langsung menoleh ke arah Jheni. “Bayar itu jus! Dua puluh ribu.”
“Udah
kaya, masih aja perhitungan!” dengus Jheni.
Yuna
terkekeh sambil menatap Jheni.
“Coba
baca komentar mereka ini!” Jheni menyodorkan ponselnya ke wajah Yuna. “Ngeselin
kan? Mereka sekarang menyudutkan Yeriko.”
Yuna
menggigit bibir bawahnya. “Yang diinginkan Refi memang suamiku, Jhen. Aku
kasihan sama Yeriko karena dianggap sebagai laki-laki brengsek di depan
netizen-netizen itu. Padahal, dia kan nggak begitu.”
“Tenang
aja! Aku bantu kamu balasin komentar mereka. Biar mereka tahu, siapa kalian
sebenarnya. Enak aja ngata-ngatain orang! Nggak tahu kejadian yang sebenarnya
gimana.”
“Nggak
usah, Jhen! Nggak usah diladeni!” pinta Yuna. Ntar tambah jadi.”
Jheni
berpikir sejenak. “Iya juga, sih. Makin viral aja ini video kalau aku
ngeladeni.”
Yuna
tersenyum menatap Jheni. Ia harap, perbuatan Refi kali ini tidak akan
mempengaruhi suaminya. Kalau dilihat dari video yang diupload, memang tidak
secara langsung ditujukan untuk Yeriko. Namun, komentar-komentar dari pengguna
internet yang membuat video itu terus menjurus ke arah Refi dan Yeriko. Membuat
perasaan Yuna semakin tidak tenang.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini ya ...
Thank
you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin
cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment