“Jheni
udah lama di sini?” tanya Yeriko pada Yuna saat Jheni sudah keluar dari
rumahnya. Wajahnya terlihat tak bersahabat. Kehadiran Jheni yang justru
mempengaruhi perasaan hati istrinya.
“Lumayan,”
jawab Yuna. Ia bisa menyadari kalau suaminya masih memendam amarah sejak
berdebat kecil dengan Jheni.
“Dia
yang kasih tahu kamu soal video itu?”
Yuna
menganggukkan kepala.
“Aku
tahu kalau dia sahabat baik kamu. Tapi kalau dia kayak gini terus, aku nggak
izinin kamu deket-deket sama dia lagi!” tegas Yeriko.
Yuna
menatap Yeriko. “Ay, kamu tahu sifatnya Jheni emang kayak gitu. Nggak usah
diambil hati ya!” pintanya lembut.
“Aku
nggak suka caranya dia kayak gini. Kamu juga, jangan melakukan apa pun tanpa
sepengetahuan dari aku!” pinta Yeriko.
“Aku
nggak ngelakuin apa-apa. Jangan marah-marah gini, dong!” pinta Yuna sambil
mengelus pipi Yeriko.
“Aku
nggak marah. Aku cuma kesel aja sama dia.”
“Sama
aja,” sahut Yuna. “Niat dia baik. Dia nggak mungkin nyakitin aku. Udah ya,
jangan marah lagi! Maafin Jheni!” pinta Yuna sambil meletakkan dagunya di dada
Yeriko.
Yeriko
menarik napas dalam-dalam sambil menatap mata Yuna. Ia tak pernah bisa menolak,
apalagi marah jika sudah mendapat tatapan seperti ini dari istrinya.
“Ay
...!” rengek Yuna manja.
Yeriko
langsung membenamkan wajah Yuna ke dadanya. “Aku sangat khawatir sama kamu. Aku
nggak mau kamu mencari pelindung lain selain aku. Aku pasti jagain kamu, Yun.
Masalah Refi, nggak usah terlalu dipikirkan ya!” pintanya lembut.
Yuna
menganggukkan kepalanya. “Aku nggak mikirin dia, tapi mikirin kamu,” ucapnya
lirih.
Yeriko
tersenyum kecil. “Aku nggak akan berpaling ke wanita lain. Kamu tahu, aku
sayang sama kamu lebih dari apa pun. Aku sayang kamu melebihi diriku sendiri.
Percaya sama aku!”
Yuna
mengangguk kecil. Ia kembali menatap wajah suaminya. “Mmh ... apa kejadian ini
nggak mempengaruhi kamu dan perusahaan?”
Yeriko
menggelengkan kepala. “Refi nggak ada hubungan apa pun dengan aku atau
perusahaan. Aku tahu apa yang ingin dia lakukan. Biarkan saja dia melakukan apa
yang dia suka. Asal tidak menyentuh kamu ...”
Yuna
memeluk erat tubuh Yeriko. Ia tetap percaya pada suaminya itu. Yeriko pasti
selalu menjaga perasaannya.
“Ay,
kapan ya si Chandra bakal nikahin Jheni?” tanya Yuna.
Yeriko
mengangkat kedua alisnya. “Nggak tahu juga. Kenapa nanyain ini?”
“Biar
Jheni nggak kesepian terus,” jawab Yuna.
Yeriko
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bener juga, sih. Biar dia nggak usah gangguin
kita terus.”
Yuna
langsung menyubit perut Yeriko. “Kamu anggap dia sebagai pengganggu? Dia itu
sahabat aku!” dengus Yuna.
“Aw
...! Sakit beneran. Aku cuma bercanda,” seru Yeriko sambil mengelus perutnya.
“Biar
aja! Kamu perhitungan banget sama temenku. Hampir tiap malam, kamu dan
sahabat-sahabat kamu juga ngumpul-ngumpul di rumah ini. Aku nggak pernah anggap
mereka sebagai pengganggu.”
“Iya,
iya. Aku cuma bercanda. Serius amat!”
Yuna
mengerutkan bibirnya.
Yeriko
tersenyum. Ia terus menghibur Yuna agar perasaannya lebih baik dan tidak
memikirkan video yang diunggah oleh Refi. Baginya, lebih penting menemani Yuna
daripad sibuk memikirkan Refi. Sebab, ia mengetahui kalau Refi melakukan itu
semua hanya untuk memancing dirinya keluar.
...
Malam
harinya ...
“Yer,
kamu udah lihat kelakuan si Reptil itu?” tanya Lutfi sambil mengupas kulit
kacang yang ada di hadapannya.
“Udah,”
jawab Yeriko santai.
“Sekilas
sih videonya biasa aja. Tapi jadi trending topik,” tutur Lutfi.
“Emang
sengaja bikin sensasi kali,” sahut Satria. “Biar naik daun.”
“Kenapa
nggak kamu manfaatin aja dia itu, Lut?” tanya Chandra.
“Manfaatin
gimana?”
Chandra
tersenyum menatap Lutfi.
“Aha
... bener-bener. Aku bisa manfaatin dia, sekaligus membalaskan dendam Kakak
Ipar.”
“Aku
rasa si Yuna bukan tipe orang yang pendendam,” tutur Chandra.
“Makanya
itu, aku kasihan sama dia. Dia diam aja bukan berarti nggak tersakiti. Aku
bakal bantuin dia. Lagian, aku udah mulai mual sama kelakuannya si Reptil itu.
Heran gua, mantan pacar Yeriko aneh banget!”
“Dapet
di mana sih Yer cewek gila kayak gitu?” tanya Satria sambil tertawa kecil.
“Djancok!!!”
Yeriko langsung menendang kaki Satria yang ada di hadapannya.
“Hahaha.”
Semua orang tergelak melihat Yeriko yang menyeringai.
“Eh,
tapi dia yang dulu baik banget loh. Sebelum dia ke Paris,” tutur Lutfi.
“Aku
sih nggak pernah beneran deket sama itu cewek,” sahut Satria. “Cantik, sih.
Kalau dibandingkan sama Kakak Ipar Kecil ... tetep lebih cantik Kakak Ipar
Kecil. Dia imut banget, sih. Gemes aku kalo lihat dia, pengen cubit pipinya.”
“Iya,
Sat. Apalagi semenjak hamil, makin semok aja. Pipinya makin tembem gitu, lucu
banget,” sahut Lutfi.
“Kalian
sadar atau nggak lagi ngomongin siapa!? Istrinya orang woii ...! Suaminya di
sini!” seru Yeriko kesal.
“Hahaha.”
Lutfi dan Satria tertawa bersamaan.
“Kamu
beruntung aja bisa kenal dia duluan. Kalau aku yang kenal sama Yuna duluan, aku
yang nikahin dia!” seru Satria.
“Eh,
bodo!” Lutfi langsung menoyor kepala Satria. “Kamu bukannya suka cewek yang
tingginya di atas seratus enam puluh lima sentimeter? Kakak Ipar tingginya cuma
seratus enam puluh sentimeter doang.”
“Heh,
kalo perempuan sudah baik, yang lain jadi nggak penting!” sahut Satria. “Cari
cewek cantik dan seksi itu gampang, tapi cari yang baik dan berbudi itu susah.”
“Kalo
kata Yeri, cewek cantik dan seksi bisanya buat ereksi doang!” sahut Chandra
sambil menahan tawa.
“Serius,
Yer? Kamu ereksi kalo lihat cewek seksi?” tanya Satria sambil menatap wajah
Yeriko.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Udah biasa lihat cewek seksi, nggak menggoda.”
“Dia
nggak suka kalo di kantor ada karyawan yang kerjaannya
ngaca sambil dandan terus. Cuma resepsionis, SPG dan divisi humas yang boleh
kelihatan cantik. Lihat aja, sekretarisnya dia aja emak-emak semua.”
“Biar
emak-emak, kerjaanya bagus. Telaten, cepet dan rapi. Aku lebih suka kinerja
mereka, bukan penampilan mereka. Semua harus sesuai kebutuhan,” tutur Yeriko.
“Iya,
juga sih. Kalo aku, lebih butuh penampilan. Soalnya, aku jual karya dalam
bentuk visual. Kalo artisku nggak cantik dan seksi, nggak bisa menarik banyak
perhatian orang banyak.”
“Berarti,
kamu yang sering ereksi, Lut?” tanya Satria.
“Kenapa
jadi aku? Yeriko kali yang tadi bahas ereksi. Kok, malah nyerang aku?”
“Bukan
aku yang bahas, si Chandra!” sahut Yeriko.
“Ckckck,
Chandra ... Chandra ... diam-diam menghanyutkan,” celetuk Satria.
“Kok,
aku? Yeriko kali,” sahut Chandra.
“Halah,
kalian semua sama aja!” tutur Satria.
“Kamu
juga!” Lutfi langsung menatap Satria.
“Ya
iyalah. Aku cowok normal. Lihat cewek seksi ya pengen.”
“Yeriko
nggak tergoda sama cewek seksi. Imannya kuat banget,” sahut Lutfi.
“Hahaha.”
Satria tergelak mendengar ucapan Lutfi. “Kamu normal kan, Yer? Bahaya kalo
nggak bisa ereksi.”
“Kalian
yang masih pada single, malah ngatain aku. Kalo aku nggak bisa ereksi, Yuna
nggak akan hamil,” sahut Yeriko kesal.
“Iya
juga ya?” Satria menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Lut, kamu nggak
mau buktikan kalau kamu beneran jantan?”
“Maksud
lo?”
“Icha
nggak dicobain?”
“Bangsat
kamu, Sat!” sahut Lutfi kesal. “Aku curiga, kamu suka menghayal pacar kita-kita
ini buat kamu ereksi ya?”
Satria
menggelengkan kepala. “Udah, udah ... nggak usah bahasa ereksi! Bahas yang tadi
aja, soal mantan pacar Yeriko itu!” pinta Satria.
“Halah,
ngeles!” sahut Lutfi sambil mengacak-acak rambut Satria.
“Dia
nggak ada lawannya buat ereksi, Lut,” tutur Chandra sambil menahan tawa.
“Hahaha.”
Lutfi langsung tergelak.
“Asem
kalian semua! Mentang-mentang aku yang masih jomblo sendiri. Kalian bener-bener
nggak punya perasaan!”
“Kamu
juga kalo ngomong nggak pake perasaan, Sat!” sahut Yeriko.
“Pake,
Yer. Kalian aja yang nggak peka!”
“Yes!”
seru Lutfi sambil menatap layar ponselnya. Semua orang langsung menoleh ke arah
Lutfi.
“Udah
aku urus. Asistenku bakal ngurus Refi secepatnya. Lumayan, dia lagi ada di
trending topik.”
“Maksudnya?”
tanya Satria.
“Nanti
juga tahu.”
“Oh,
kamu nggak mau ngomong sama aku. Kalo ada masalah, baru nyari-nyari aku?”
Satria menatap wajah Lutfi.
“Nanti
aja aku ceritain! Aku lagi seneng. Aku pulang dulu ya!” Ia bangkit dari tempat
duduk sambil memainkan ponselnya.
“Eh,
mau ngapain buru-buru pulang?” seru Satria.
“Mau
tau aja!” sahut lutfi sambil berlalu pergi.
“Curiga
dia ereksi beneran, cari pelampiasan,” bisik Chandra.
“Hahaha.
Icha udah tinggal serumah sama dia ya?” tanya Satria.
Chandra
menganggukkan kepala.
Yeriko
tersenyum ke arah Chandra yang sedang menyeruput kopi di tangannya. “Kamu kapan
mau ngelamar Jheni?”
“Uhuk
... uhuk ... uhuk!” Chandra langsung tersedak mendengar pertanyaan Yeriko.
Satria
menahan tawa melihat sikap Chandra. “Jangan ditidurin aja, Chan. Nikahin!”
“Omonganmu,
Sat!” sahut Chandra kesal.
Satria
terkekeh sambil menatap Chandra.
“Eh,
si Lutfi beneran mau manfaatin Refi?” tanya Chandra. “Aku curiga dia mau
masukin Refi ke SD.”
“Bisa
jadi. Daripada di perusahaanku. Udah resign dia,” tutur Yeriko.
“Nah,
cocok! Biar masuk SD Entertainment aja. Itu si Refi cocok di sana. Suka bikin
sensasi. Lumayan tuh bisa bikin perusahaannya Lutfi cepet naik rating.”
“Nggak
lama, dapet penghargaan Artis Sensasional of the Year,” sahut Satria.
Yeriko
hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Satria. Ia tidak begitu tertarik
membicarakan kehidupan Refi dan sensasi-sensasi yang diciptakan oleh Refi. Ia
tetap terlihat tenang, tak terganggu sedikit pun dengan masalah yang sedang
viral meski sahabat-sahabatnya ikut membahas perihal video tersebut.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini ya supaya aku bisa bikin cerita yang menarik,
menghibur dan lebih berkualitas lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment