Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 424 : Dukungan untuk Yuna

 


“Jheni udah lama di sini?” tanya Yeriko pada Yuna saat Jheni sudah keluar dari rumahnya. Wajahnya terlihat tak bersahabat. Kehadiran Jheni yang justru mempengaruhi perasaan hati istrinya.

 

“Lumayan,” jawab Yuna. Ia bisa menyadari kalau suaminya masih memendam amarah sejak berdebat kecil dengan Jheni.

 

“Dia yang kasih tahu kamu soal video itu?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Aku tahu kalau dia sahabat baik kamu. Tapi kalau dia kayak gini terus, aku nggak izinin kamu deket-deket sama dia lagi!” tegas Yeriko.

 

Yuna menatap Yeriko. “Ay, kamu tahu sifatnya Jheni emang kayak gitu. Nggak usah diambil hati ya!” pintanya lembut.

 

“Aku nggak suka caranya dia kayak gini. Kamu juga, jangan melakukan apa pun tanpa sepengetahuan dari aku!” pinta Yeriko.

 

“Aku nggak ngelakuin apa-apa. Jangan marah-marah gini, dong!” pinta Yuna sambil mengelus pipi Yeriko.

 

“Aku nggak marah. Aku cuma kesel aja sama dia.”

 

“Sama aja,” sahut Yuna. “Niat dia baik. Dia nggak mungkin nyakitin aku. Udah ya, jangan marah lagi! Maafin Jheni!” pinta Yuna sambil meletakkan dagunya di dada Yeriko.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam sambil menatap mata Yuna. Ia tak pernah bisa menolak, apalagi marah jika sudah mendapat tatapan seperti ini dari istrinya.

 

“Ay ...!” rengek Yuna manja.

 

Yeriko langsung membenamkan wajah Yuna ke dadanya. “Aku sangat khawatir sama kamu. Aku nggak mau kamu mencari pelindung lain selain aku. Aku pasti jagain kamu, Yun. Masalah Refi, nggak usah terlalu dipikirkan ya!” pintanya lembut.

 

Yuna menganggukkan kepalanya. “Aku nggak mikirin dia, tapi mikirin kamu,” ucapnya lirih.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Aku nggak akan berpaling ke wanita lain. Kamu tahu, aku sayang sama kamu lebih dari apa pun. Aku sayang kamu melebihi diriku sendiri. Percaya sama aku!”

 

Yuna mengangguk kecil. Ia kembali menatap wajah suaminya. “Mmh ... apa kejadian ini nggak mempengaruhi kamu dan perusahaan?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Refi nggak ada hubungan apa pun dengan aku atau perusahaan. Aku tahu apa yang ingin dia lakukan. Biarkan saja dia melakukan apa yang dia suka. Asal tidak menyentuh kamu ...”

 

Yuna memeluk erat tubuh Yeriko. Ia tetap percaya pada suaminya itu. Yeriko pasti selalu menjaga perasaannya.

 

“Ay, kapan ya si Chandra bakal nikahin Jheni?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengangkat kedua alisnya. “Nggak tahu juga. Kenapa nanyain ini?”

 

“Biar Jheni nggak kesepian terus,” jawab Yuna.

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bener juga, sih. Biar dia nggak usah gangguin kita terus.”

 

Yuna langsung menyubit perut Yeriko. “Kamu anggap dia sebagai pengganggu? Dia itu sahabat aku!” dengus Yuna.

 

“Aw ...! Sakit beneran. Aku cuma bercanda,” seru Yeriko sambil mengelus perutnya.

 

“Biar aja! Kamu perhitungan banget sama temenku. Hampir tiap malam, kamu dan sahabat-sahabat kamu juga ngumpul-ngumpul di rumah ini. Aku nggak pernah anggap mereka sebagai pengganggu.”

 

“Iya, iya. Aku cuma bercanda. Serius amat!”

 

Yuna mengerutkan bibirnya.

 

Yeriko tersenyum. Ia terus menghibur Yuna agar perasaannya lebih baik dan tidak memikirkan video yang diunggah oleh Refi. Baginya, lebih penting menemani Yuna daripad sibuk memikirkan Refi. Sebab, ia mengetahui kalau Refi melakukan itu semua hanya untuk memancing dirinya keluar.

 

 

 

...

 

Malam harinya ...

 

“Yer, kamu udah lihat kelakuan si Reptil itu?” tanya Lutfi sambil mengupas kulit kacang yang ada di hadapannya.

 

“Udah,” jawab Yeriko santai.

 

“Sekilas sih videonya biasa aja. Tapi jadi trending topik,” tutur Lutfi.

 

“Emang sengaja bikin sensasi kali,” sahut Satria. “Biar naik daun.”

 

“Kenapa nggak kamu manfaatin aja dia itu, Lut?” tanya Chandra.

 

“Manfaatin gimana?”

 

Chandra tersenyum menatap Lutfi.

 

“Aha ... bener-bener. Aku bisa manfaatin dia, sekaligus membalaskan dendam Kakak Ipar.”

 

“Aku rasa si Yuna bukan tipe orang yang pendendam,” tutur Chandra.

 

“Makanya itu, aku kasihan sama dia. Dia diam aja bukan berarti nggak tersakiti. Aku bakal bantuin dia. Lagian, aku udah mulai mual sama kelakuannya si Reptil itu. Heran gua, mantan pacar Yeriko aneh banget!”

 

“Dapet di mana sih Yer cewek gila kayak gitu?” tanya Satria sambil tertawa kecil.

 

“Djancok!!!” Yeriko langsung menendang kaki Satria yang ada di hadapannya.

 

“Hahaha.” Semua orang tergelak melihat Yeriko yang menyeringai.

 

“Eh, tapi dia yang dulu baik banget loh. Sebelum dia ke Paris,” tutur Lutfi.

 

“Aku sih nggak pernah beneran deket sama itu cewek,” sahut Satria. “Cantik, sih. Kalau dibandingkan sama Kakak Ipar Kecil ... tetep lebih cantik Kakak Ipar Kecil. Dia imut banget, sih. Gemes aku kalo lihat dia, pengen cubit pipinya.”

 

“Iya, Sat. Apalagi semenjak hamil, makin semok aja. Pipinya makin tembem gitu, lucu banget,” sahut Lutfi.

 

“Kalian sadar atau nggak lagi ngomongin siapa!? Istrinya orang woii ...! Suaminya di sini!” seru Yeriko kesal.

 

“Hahaha.” Lutfi dan Satria tertawa bersamaan.

 

“Kamu beruntung aja bisa kenal dia duluan. Kalau aku yang kenal sama Yuna duluan, aku yang nikahin dia!” seru Satria.

 

“Eh, bodo!” Lutfi langsung menoyor kepala Satria. “Kamu bukannya suka cewek yang tingginya di atas seratus enam puluh lima sentimeter? Kakak Ipar tingginya cuma seratus enam puluh sentimeter doang.”

 

“Heh, kalo perempuan sudah baik, yang lain jadi nggak penting!” sahut Satria. “Cari cewek cantik dan seksi itu gampang, tapi cari yang baik dan berbudi itu susah.”

 

“Kalo kata Yeri, cewek cantik dan seksi bisanya buat ereksi doang!” sahut Chandra sambil menahan tawa.

 

“Serius, Yer? Kamu ereksi kalo lihat cewek seksi?” tanya Satria sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Udah biasa lihat cewek seksi, nggak menggoda.”

 

“Dia nggak suka kalo di kantor ada karyawan yang kerjaannya ngaca sambil dandan terus. Cuma resepsionis, SPG dan divisi humas yang boleh kelihatan cantik. Lihat aja, sekretarisnya dia aja emak-emak semua.”

 

“Biar emak-emak, kerjaanya bagus. Telaten, cepet dan rapi. Aku lebih suka kinerja mereka, bukan penampilan mereka. Semua harus sesuai kebutuhan,” tutur Yeriko.

 

“Iya, juga sih. Kalo aku, lebih butuh penampilan. Soalnya, aku jual karya dalam bentuk visual. Kalo artisku nggak cantik dan seksi, nggak bisa menarik banyak perhatian orang banyak.”

 

“Berarti, kamu yang sering ereksi, Lut?” tanya Satria.

 

“Kenapa jadi aku? Yeriko kali yang tadi bahas ereksi. Kok, malah nyerang aku?”

 

“Bukan aku yang bahas, si Chandra!” sahut Yeriko.

 

“Ckckck, Chandra ... Chandra ... diam-diam menghanyutkan,” celetuk Satria.

 

“Kok, aku? Yeriko kali,” sahut Chandra.

 

“Halah, kalian semua sama aja!” tutur Satria.

 

“Kamu juga!” Lutfi langsung menatap Satria.

 

“Ya iyalah. Aku cowok normal. Lihat cewek seksi ya pengen.”

 

“Yeriko nggak tergoda sama cewek seksi. Imannya kuat banget,” sahut Lutfi.

 

“Hahaha.” Satria tergelak mendengar ucapan Lutfi. “Kamu normal kan, Yer? Bahaya kalo nggak bisa ereksi.”

 

“Kalian yang masih pada single, malah ngatain aku. Kalo aku nggak bisa ereksi, Yuna nggak akan hamil,” sahut Yeriko kesal.

 

“Iya juga ya?” Satria menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Lut, kamu nggak mau buktikan kalau kamu beneran jantan?”

 

“Maksud lo?”

 

“Icha nggak dicobain?”

 

“Bangsat kamu, Sat!” sahut Lutfi kesal. “Aku curiga, kamu suka menghayal pacar kita-kita ini buat kamu ereksi ya?”

 

Satria menggelengkan kepala. “Udah, udah ... nggak usah bahasa ereksi! Bahas yang tadi aja, soal mantan pacar Yeriko itu!” pinta Satria.

 

“Halah, ngeles!” sahut Lutfi sambil mengacak-acak rambut Satria.

 

“Dia nggak ada lawannya buat ereksi, Lut,” tutur Chandra sambil menahan tawa.

 

“Hahaha.” Lutfi langsung tergelak.

 

“Asem kalian semua! Mentang-mentang aku yang masih jomblo sendiri. Kalian bener-bener nggak punya perasaan!”

 

“Kamu juga kalo ngomong nggak pake perasaan, Sat!” sahut Yeriko.

 

“Pake, Yer. Kalian aja yang nggak peka!”

 

“Yes!” seru Lutfi sambil menatap layar ponselnya. Semua orang langsung menoleh ke arah Lutfi.

 

“Udah aku urus. Asistenku bakal ngurus Refi secepatnya. Lumayan, dia lagi ada di trending topik.”

 

“Maksudnya?” tanya Satria.

 

“Nanti juga tahu.”

 

“Oh, kamu nggak mau ngomong sama aku. Kalo ada masalah, baru nyari-nyari aku?” Satria menatap wajah Lutfi.

 

“Nanti aja aku ceritain! Aku lagi seneng. Aku pulang dulu ya!” Ia bangkit dari tempat duduk sambil memainkan ponselnya.

 

“Eh, mau ngapain buru-buru pulang?” seru Satria.

 

“Mau tau aja!” sahut lutfi sambil berlalu pergi.

 

“Curiga dia ereksi beneran, cari pelampiasan,” bisik Chandra.

 

“Hahaha. Icha udah tinggal serumah sama dia ya?” tanya Satria.

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

Yeriko tersenyum ke arah Chandra yang sedang menyeruput kopi di tangannya. “Kamu kapan mau ngelamar Jheni?”

 

“Uhuk ... uhuk ... uhuk!” Chandra langsung tersedak mendengar pertanyaan Yeriko.

 

Satria menahan tawa melihat sikap Chandra. “Jangan ditidurin aja, Chan. Nikahin!”

 

“Omonganmu, Sat!” sahut Chandra kesal.

 

Satria terkekeh sambil menatap Chandra.

 

“Eh, si Lutfi beneran mau manfaatin Refi?” tanya Chandra. “Aku curiga dia mau masukin Refi ke SD.”

 

“Bisa jadi. Daripada di perusahaanku. Udah resign dia,” tutur Yeriko.

 

“Nah, cocok! Biar masuk SD Entertainment aja. Itu si Refi cocok di sana. Suka bikin sensasi. Lumayan tuh bisa bikin perusahaannya Lutfi cepet naik rating.”

 

“Nggak lama, dapet penghargaan Artis Sensasional of the Year,” sahut Satria.

 

Yeriko hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Satria. Ia tidak begitu tertarik membicarakan kehidupan Refi dan sensasi-sensasi yang diciptakan oleh Refi. Ia tetap terlihat tenang, tak terganggu sedikit pun dengan masalah yang sedang viral meski sahabat-sahabatnya ikut membahas perihal video tersebut.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya  supaya aku bisa bikin cerita yang menarik, menghibur dan lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas