Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 418 : Beradu Kemampuan

 


“Kamu yakin kalau aku harus berhadapan langsung sama Refi soal ini?” tanya Yuna sambil menggenggam erat tangan Yeriko.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Mmh ... kenapa dia bisa berhubungan sama proyek charity ini? Bukannya, dia staf biasa aja?”

 

“Dia memaksakan diri untuk menggantikan posisi atasannya dalam presentasi kali ini. Kita lihat, apa yang akan dia lakukan setelah ini. Aku rasa, ini cuma akal-akalan dia aja. Refi bukanlah orang yang berkompeten dalam bidang ini.”

 

Yuna tersenyum menanggapi ucapan Yeriko. Ia kini mulai memahami sifat suaminya yang sulit untuk ditebak.

 

Yeriko terus tersenyum sambil melangkahkan kakinya bersama Yuna menuju ke ruang rapat.

 

“Selamat pagi, Pak Ye!” sapa semua orang yang sudah ada di dalam ruang rapat tersebut. Termasuk Refi yang berusaha menarik perhatian dari Yeriko. Namun, matanya melirik kesal saat melihat wanita yang berdiri di samping Yeriko.

 

“Pagi semua!” sapa Yeriko. “Semua perwakilan perusahaan, sudah kumpul semua?”

 

“Sudah, Pak,” jawab Riyan yang juga berada dalam ruang rapat tersebut.

 

“Oke.” Yeriko langsung mengajak Yuna duduk di kursinya, sementara ia memilih untuk berdiri di samping Yuna. “Perkenalkan, ini istri saya. Hari ini, dia datang khusus untuk mendengarkan proyek yang kalian ajukan untuk perusahaan. Dia berpengalaman dalam bidang ini. Kebetulan, dia ini lulusan management bisnis di Melbourne University.”

 

Yuna tersenyum menatap semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut. “Selamat pagi semuanya. Salam kenal ...!” sapanya dengan ramah. “Pagi ini, saya senang sekali bisa bertemu dengan kalian semua untuk membahas proyek perusahaan kali ini. Sebenarnya, yang diucapkan suami saya ini terlalu berlebihan. Saya juga masih harus banyak belajar.”

 

Semua orang tersenyum sambil mengangguk sopan, kecuali Refi yang terus mengunci bibirnya, menahan kesal karena sikap Yuna yang begitu manis dan Yeriko yang terlalu membanggakan istrinya.

 

Yuna tersenyum. Ia meminta semua orang memperkenalkan diri satu persatu sebelum mereka melakukan presentasi atas proyek mereka masing-masing.

 

“Oke. Kalian bisa mulai melakukan presentasi satu persatu,” tutur Yeriko. Ia memerintahkan Riyan untuk mengatur siapa yang akan melakukan presentasi terlebih dahulu.

 

Yeriko dan Yuna menyimak presentasi satu persatu. Mereka juga sama-sama mengajukan pertanyaan. Hingga akhirnya, Refi mendapat giliran untuk mempresentasikan proposalnya paling terakhir.

 

Yeriko terus berbisik di telinga Yuna selama Refi melakukan presentasi. Ia bisa melihat kalau proposal yang diajukan Refi tidak memiliki dasar yang kuat.

 

“Ada komentar?” tanya Yeriko sambil menatap semua orang yang ada di ruangan itu setelah Refi selesai mempresentasikan proposalnya.

 

Semua orang terdiam. Mereka hanya saling pandang dan tak ada yang berani memberikan komentar.

 

Refi langsung tersenyum, ia merasa kalau konsep yang ia bawakan adalah yang paling bagus di antara perusahaan yang lainnya.

 

“Menurut kamu gimana?” tanya Yeriko sambil menoleh ke arah Yuna.

 

“Mmh ... konsepnya bagus, tapi tidak tepat sasaran,” tutur Yuna sambil memainkan  ujung pena di dagunya.

 

Yeriko tersenyum. Ia berdiri tegak sambil melipat kedua tangan di dadanya. Memancarkan pesona dan kewibawaannya sebagai orang yang paling disegani di perusahaan ini.

 

Refi menelan ludah menatap wajah Yeriko. Semakin hari, wajah pria itu terlihat semakin tampan jika dibandingkan dengan Yeriko beberapa tahun lalu. Ia juga terus menatap Yuna yang duduk di sebelah Yeriko. Seharusnya, dia yang berada di sana saat ini. Bukan orang lain.

 

“Kamu bisa jelasin apa yang dimaksud dengan tidak tepat sasaran?” tanya Yeriko sambil menoleh Yuna yang duduk di sampingnya.

 

Yuna bangkit dari kursi. Ia mengambil pen laser pointer di atas meja dan langsung mengarahkannya ke screen projector yang berjarak beberapa meter di hadapannya. “Coba perlihatkan ke saya slide nomor dua belas!” pintanya sambil menatap hard copy yang ada di mejanya.

 

Refi langsung memunculkan slide yang diminta oleh Yuna.

 

“Kamu sudah sangat tahu kalau konsep dari Galaxy adalah glamour, memberikan pelayanan berkelas dan sangat mewah. Tapi, itu adalah produk perusahaan yang kita tawarkan kepada konsumen. Kalau untuk event charity seperti ini, apa cocok dengan sasaran kita yang seharusnya adalah orang-orang biasa di luar sana. Kenapa kamu membuat konsep event charity seperti konsep pameran produk perusahaan?” tanya Yuna.

 

Refi menarik napas sambil menatap Yuna penuh kekesalan. Ia berusaha memasang senyum yang manis. “Ibu Direktur yang terhormat, saya sudah memikirkan konsep ini jauh-jauh hari. Konsep ini akan lebih bagus diterapkan karena bisa menarik donatur yang lebih besar lagi. Ruangan yang mewah, pelayanan yang baik juga akan membuat orang-orang itu merasakan kemewahan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.”

 

Yuna menahan tawa. “Kamu mau buat charity event atau reality show untuk stasiun tv?”

 

Semua orang di ruangan itu tergelak mendengar pertanyaan Yuna.

 

Yeriko ikut menahan tawa. Sepertinya, pertanyaan yang ingin ia ajukan ke Refi, sudah diwakilkan oleh Yuna.

 

“Kamu ...!? Kamu sengaja mau menjatuhkan aku? Yang lain, kamu nggak komentar sepedas ini,” sahut Refi. Ia tak bisa lagi menahan amarahnya.

 

Yuna tersenyum sambil menatap Refi. “Karena yang lain, proposalnya masuk akal. Proposal kamu ini ... nggak masuk akal sama sekali. Program Charity kali ini, kita buat untuk para penyandang difable. Mereka nggak butuh fasilitas mewah yang cuma sekejap mata. Lihat proposal Pak Anton tadi? Dia buat program pendidikan yang baik untuk anak-anak difabel.”

 

“Pak Masuri, programnya sangat bagus. Melatih keterampilan para penyandang difabel. Proposal kamu ini apa-apaan? Sama sekali nggak ada nilai kepeduliannya!” tutur Yuna sambil membanting dokumen Refi yang ada di tangannya.

 

Refi menatap Yuna penuh kebencian. Ia juga menatap Yeriko yang dengan tenang membiarkan Yuna mempermalukan dirinya.

 

Yuna terus menatap Refi. Menunggu Refi menyanggah ucapan darinya. “Ada lagi yang mau disampaikan? Kalau nggak ada, saya akan mengambil kesimpulan untuk acara ini.”

 

“Nggak ada, Bu. Silakan Ibu ambil alih,” jawab Pak Anton. Salah satu manager yang menangani wilayah Regional Bagian Barat.

 

“Oke. Semua proposal yang diajukan sangat bagus. Sesuai dengan program dan keinginan kami.” Yuna langsung menoleh ke arah Riyan. Ia memerintahkan Riyan untuk mengambil alih screen projector dan memperlihatkan proposal yang sudah disusun rapi oleh Yeriko dan timnya.

 

Yuna tersenyum kecil saat melihat nama pengajuan proposal tersebut diganti atas nama dirinya.

 

“Semua proposal yang kalian ajukan ke kami, tercakup di sini semua.” Yuna menunjukkan gambar diagram dan data statistik yang sudah disiapkan oleh tim Yeriko.

 

“Ini adalah program CSR perusahaan selama lima tahun ke depan. Charity event hanya memiliki anggaran tujuh persen dari semua program yang ada. Kenapa? Karena event charity seperti ini akan langsung selesai. Tidak bisa dijadikan program yang berkesinambungan seperti yang lain,” jelas Yuna.

 

“Tapi ... Charity Event yang kita adakan, bisa menjadi pintu utama untuk menuju ke program-program CSR perusahaan yang selanjutnya. Di sini, kredibilitas dan track record perusahaan kita sangat penting. Kita bisa mendapatkan simpati dan empati dari masyarakat. Membuat masyarakat loyal dan percaya kepada kita. Oleh karenanya, event ini harus menjadi sebuah event yang menarik banyak orang dan menciptakan sebuah fenomena di masyarakat.” Yuna menjelaskan dengan lancar.

 

Yeriko terus memerhatikan screen projector yang ada di hadapannya sambil mendengarkan penjelasan dari Yuna. Ia memang tidak bisa memungkiri kalau Yuna begitu mudahnya menguasai materi yang ia berikan. Hanya dalam hitungan menit, istrinya itu sudah bisa mengerti semua laporan yang ia siapkan.

 

Semua orang mengangguk-anggukkan kepala sambil mendengarkan penjelasan dari Yuna.

 

“Gimana menurut kalian?” tanya Yuna usai bahan presentasi yang ada di tangannya sudah habis. “Ada komentar?”

 

Semua orang menggelengkan kepala. Mereka justru memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Yuna. Yuna belum pernah masuk ke dalam rapat sebelumnya. Tapi, kemampuan istri dari pemilik Galaxy Group memang tidak bisa diragukan lagi.

 

“Oke. Kalau tidak ada hal lain lagi yang ingin ditanyakan. Rapatnya, cukup sampai di sini saja.” Yeriko mengambil alih. “Untuk selanjutnya, kalian semua bisa berkoordinasi dengan asisten saya saat pelaksanaan di lapangan.”

 

“Siap, Pak!”  Semua manager yang ada di ruangan tersebut langsung berpamitan dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut satu per satu.

 

Yeriko dan Yuna saling pandang sambil tersenyum.

 

“Aku suka gayamu hari ini,” bisik Yeriko di telinga Yuna.

 

Sementara, di seberang mereka masih ada Refi yang belum beranjak pergi. Ia masih tidak terima dengan perlakuan Yuna dan Yeriko terhadap dirinya.

 

“Yun, kamu sengaja mau menargetkan aku dan mempermalukan aku di depan umum?” seru Refi sambil menatap Yuna penuh kebencian.

 

Yeriko langsung menatap wajah Refi. “Seharusnya kamu sadar bagaimana kemampuan kamu sendiri. Nggak ada apa-apanya dibanding sama kemampuan istriku.”

 

“Kamu tahu sendiri kalau aku nggak sekolah bisnis. Aku ini penari, Yer. Wajar aja kalau aku kalah sama dia yang lulusan Management Bisnis di luar negeri.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baguslah kalau kamu sadar. Dari awal, seharusnya kamu nggak memaksakan diri untuk masuk ke perusahaan ini.”

 

“Aku kayak gini karena kamu. Aku udah belajar siang malam supaya aku bisa mendampingi kamu mengurus bisnis, Yer,” tutur Refi sambil menghampiri Yeriko.

 

“Hei, jangan ngimpi!” sahut Yuna kesal. “Yeriko ini suamiku. Kamu masih aja nggak berhenti godain suami orang!” serunya kesal.

 

“Nggak usah diladeni!” bisik Yeriko sambil melingkarkan lengannya ke pinggang Yuna. “Kita balik ke ruangan aja!”

 

Yuna mengangguk. Ia segera mengikuti langkah Yeriko dan keluar dari ruang rapat tersebut.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya ...

 Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 417 : Mengadu Kemampuan

 


“Yun, kamu ikut aku rapat setelah ini!” perintah Yeriko saat ia baru saja kembali dari rapat bersama dewan direksi.

 

“Hah!? Aku? Aku nggak tahu apa-apa soal perusahaan.”

 

Yeriko tersenyum. Meski Yuna tak pernah ikut campur soal perusahaannya, tapi ia tak pernah meragukan kemampuan istrinya itu. “Sini!” pintanya sambil mengajak Yuna duduk bersama di meja kerjanya.

 

Yuna langsung mengikuti perintah suaminya itu.

 

Yeriko melirik jam tangannya. “Masih ada waktu satu jam untuk mempelajari ini semua.”

 

“Eh!?” Yuna menoleh ke arah Yeriko.

 

“Ah-eh ah-eh aja!” sahut Yeriko sambil memukul kening Yuna menggunakan pena yang ada di tangannya.

 

Yuna memonyongkan bibir sambil mengelus-elus dahinya. “Aku kan nggak tahu apa-apa. Kamu suka tiba-tiba kayak gini. Sama aja kayak waktu ngajak nikah tiba-tiba,” celetuk Yuna.

 

Yeriko menahan tawa sambil menatap Yuna. “Kamu nggak suka?”

 

“Awalnya nggak suka. Tapi sekarang malah suka banget!” ucapnya sambil memonyongkan bibir.

 

“Kalo gitu, aku akan kasih kamu kesempatan selama lima menit untuk bingung dulu. Setelahnya, kamu harus menikmati ini semua.”

 

Yuna terdiam sejenak sambil menggigit bibirnya.

 

“Jangan kelamaan mikirnya!” pinta Yeriko. “Lihat ini!” perintahnya sambil menunjukkan dokumen yang ada di layar laptop dan di atas mejanya. Ia menjelaskan dengan cepat dan detail kepada Yuna.

 

Yuna memerhatikan dengan serius setiap kalimat yang keluar dari mulut Yeriko. Ia pernah mempelajari tentang dunia bisnis saat masih sekolah di Melbourne. Ia juga sudah berpengalaman menangani event saat bekerja di perusahaan Wilian walau hanya sebentar. Sehingga, semua proposal yang dijelaskan oleh Yeriko. Bisa dengan mudah masuk ke dalam pikirannya.

 

“Gimana?” tanya Yeriko sambil tersenyum ke arah Yuna.

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Aku suka banget. Tapi, yang bagian ini aku masih kurang suka.”

 

“Why?”

 

“Orang melakukan kebaikan karena mereka pernah mendapatkan banyak kebaikan dalam hidup mereka. Ini proyek charity kan? Sasarannya sudah sangat tepat, hanya saja ... bagian ini perlu ditambahi!”

 

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna selama beberapa detik.

 

“Kenapa lihatin aku kayak gitu?” tanya Yuna.

 

“Aku suka aja sama cara kerja kamu,” jawab Yeriko sambil menarik tubuh Yuna ke pangkuannya. “Mmh ... kamu nggak mau ambil alih perusahaan ayah kamu?” tanyanya kemudian.

 

Yuna menghela napas. “Kenapa kamu selalu nanyain ini ke aku? Kamu udah capek ngurus aku selama ini? Makanya, kamu pengen aku ambil alih perusahaan ayah supaya nggak ngerepotin kamu lagi?”

 

Yeriko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Bukan itu maksud aku, Yun. Kamu wanita yang cerdas, juga punya pendidikan yang bagus. Alangkah baiknya kalau ...”

 

Yuna langsung bangkit dari pangkuan Yeriko. “Kalo emang kamu udah bosan sama aku, aku bakal ambil perusahaan ayahku sekarang juga!” seru Yuna kesal sambil menghentakkan kakinya.

 

Yeriko menghela napas sambil menepuk keningnya sendiri. “Salah lagi ...” gumamnya dalam hati.

 

Yuna menatap ke luar jendela sambil mengusap air matanya. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa Yeriko terus menerus menanyakan soal perusahaan ayahnya. Ia tidak ingin berebut perusahaan dengan pamannya dan mencelakai ayahnya lagi. Tapi, ia juga tidak bisa mengandalkan Yeriko terus-menerus. Ia berpikir kalau Yeriko sudah bosan dengan dirinya. Itulah sebabnya kenapa Yeriko selalu mengungkit soal perusahaan ayahnya.

 

“Yun ... kenapa nangis?” tanya Yeriko lembut sambil memeluk tubuh Yuna dari belakang.

 

“Nggak papa,” jawab Yuna sambil mengusap air matanya.

 

“Jangan selalu berpikir buruk tentang suami kamu sendiri. Gimana bisa aku bosan sama kamu? Sedangkan setiap detik yang kulalui tanpa kamu ... aku selalu rindu,” tutur Yeriko di telinga Yuna.

 

Yuna menutup wajahnya sambil tersenyum bahagia. Rasanya, jantungnya ingin melompat-lompat kegirangan mendengar ucapan Yeriko. Sepertinya, ia sudah kecanduan mendengar mulut manis Yeriko.

 

Jemari tangann Yuna menggaruk keningnya yang tidak gatal. Bagaimana ia bisa menutupi rasa malunya karena ia tiba-tiba marah pada Yeriko, bahkan mengeluarkan air mata begitu saja. “Huft, kenapa suamiku sebaik ini?” gumamnya dalam hati.

 

Yeriko terus memeluk tubuh Yuna sambil menyandarkan dagunya di bahu istrinya itu. “Yun, aku mengungkit perusahaan ayah kamu. Bukan karena aku nggak mau mengurus kamu lagi. Tapi, aku menginginkan kalian bisa menikmati apa yang seharusnya kalian miliki. Kamu tahu, aku bukan dewa yang bisa hidup selamanya. Saat aku nggak ada, kamu dan anak-anak kita bisa hidup dengan baik.”

 

Yuna langsung membalikkan tubuhnya. Ia menatap wajah Yeriko dengan mata berkaca-kaca. “Kenapa selalu ngomong kayak gitu sih!?” dengus Yuna sambil meninju dada Yeriko.

 

“Aw ...!” Yeriko memegangi dadanya. Tubuhnya terhuyung karena menahan rasa sakit di dadanya.

 

Mulut Yuna langsung menganga lebar. “Kamu nggak papa?” tanyanya langsung panik. Ia langsung memapah Yeriko untuk duduk di kursi. Dengan cepat, ia mengambilkan air minum untuk suaminya.

 

“Minum dulu!” pinta Yuna.

 

Yeriko langsung meminum air yang diberikan Yuna. Ia menarik napas beberapa kali.

 

“Ay, kamu kenapa?” tanya Yuna dengan mata berkaca-kaca saat melihat Yeriko kesulitan bernapas sambil memegangi dadanya. Ia tahu suaminya seorang pria pekerja keras. Ia takut, kalau Yeriko diam-diam mengidap penyakit mematikan seperti yang ada di dalam drama televisi.

 

Yuna langsung terisak. “Maafin aku! Aku nggak bermaksud buat mukul kamu. Aku antar ke rumah sakit sekarang juga!”

 

Yeriko menggelengkan kepala sambil meringis.

 

Yuna mengangkat lengan Yeriko dan melingkarkan ke pundaknya. “Kita ke rumah sakit sekarang!” ajaknya sambil menangis. Ia benar-benar merasa sangat bersalah karena telah melukai suaminya. Ia pikir, pukulan dari tangannya tak akan berpengaruh pada tubuh Yeriko yang kekar.

 

“Aku nggak perlu ke rumah sakit,” jawab Yeriko dengan napas tersengal. “Aku cuma perlu napas buatan dari kamu,” lanjutnya sambil tersenyum.

 

Yuna langsung menatap tajam ke arah Yeriko. “Kamu ngerjain aku!?” serunya kesal sambil melepaskan lengan Yeriko dari tubuhnya.

 

Yeriko terkekeh mendengar pertanyaan Yuna.

 

Yuna langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangannya dan terisak.

 

“Loh? Kok, nangis? Aku cuma bercanda.”

 

“Bercandanya nggak lucu!” sahut Yuna kesal. “Aku khawatir beneran. Aku bener-bener takut terjadi hal buruk sama kamu. Kamu tega banget sih ngerjain aku dengan cara kayak gini?” tutur Yuna sambil terisak.

 

“Cup ... cup ...cup ... jangan nangis lagi!” pinta Yeriko sambil menarik Yuna ke dalam pelukannya. “Aku cuma bercanda aja, sayangku.”

 

“Tapi nggak kayak gini juga. Aku sering bercanda, tapi nggak sampe segininya juga. Kamu nggak tahu gimana rasanya khawatir, ketakutan, ngerasa bersalah? Semuanya bercampur aduk jadi satu!?”

 

“Iya. Maaf!” bisik Yeriko sambil mengecup ujung kepala Yuna. “Udah, jangan nangis lagi!” pintanya sambil mengusap air mata Yuna.

 

“Jangan bercanda kayak gini lagi!” pinta Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

“Iya,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

“Janji?”

 

“Janji.”

 

Yuna tersenyum sambil memeluk erat tubuh Yeriko.

 

“Baikin wajah kamu!” perintah Yeriko. “Sepuluh menit lagi, kita pergi ke ruang rapat!” ajak Yeriko.

 

“Emangnya wajahku rusah?” tanya Yuna.

 

“Iya. Rusak karena air matamu.”

 

Yuna tertawa kecil sambil melangkah menuju kamar mandi.

 

Yeriko bersandar di meja sambil mengetuk-ngetuk meja menggunakan ujung jarinya. Ia sengaja ingin membawa Yuna untuk presentasi kali ini. Sebab, di sana akan ada Refi. Ia ingin menunjukkan pada Refi kalau ia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari cinta pertamanya itu. Ia sangat yakin kalau Yuna memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengurus perusahaan.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna sudah kembali ke hadapan Yeriko. “Gimana? Mukaku udah baik atau belum?”

 

Yeriko mengamati wajah Yuna dengan seksama. “Udah.”

 

Yuna langsung tersenyum sambil menepuk-nepuk pipinya.

 

“Udah siap berhadapan dengan Refi? Aku mau, kamu benar-benar menunjukkan kemampuan kamu. Jangan mau kalah sama Refi!” ujar Yeriko.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Siap, Pak Bos! Aku nggak akan kalah sama dia!” serunya penuh semangat.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap tubuh Yuna. Ia merasa bahagia dan bangga atas apa yang telah dicapai Yuna. Meski ia adalah suami Yuna, ia tidak akan membatasi istrinya untuk mengembangkan kemampuan bisnisnya.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya ...

 Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 416: Tekanan Pekerjaan

 


“Ay, semalam nggak tidur?” tanya Yuna saat ia menikmati sarapan pagi bersama suaminya.

 

“Tidur sebentar.”

 

“Pantes aja kantung matanya kelihatan. Nggak mau tidur dulu?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Ada jadwal meeting pagi ini.” Ia merogoh ponsel di saku jasnya dan menyalakan kamera depan untuk melihat wajahnya sendiri. “Kelihatan banget ya kantong mataku?”

 

Yuna mengangguk. Ia bangkit dari tempat duduk. “Aku ambilin krim mata.”

 

Yeriko menahan lengan Yuna. “Makan dulu!” perintahnya.

 

Yuna kembali duduk di kursinya.

 

“Bibi ...!” panggil Yeriko.

 

Bibi War langsung datang menghampiri Yeriko. “Ada apa, Mas?”

 

“Tolong ambilkan krim mata di kamar!” perintah Yeriko.

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

“Di meja rias aku ya, Bi. Tempatnya warna merah. Ada tulisannya SK-II R.N.A Power Eye Cream,” tutur Yuna sambil menatap Bibi War.

 

Bibi War menganggukkan kepala. Ia bergegas menaiki anak tangga menuju kamar Yeriko.

 

“Kamu diam-diam masih pake skincare?” tanya Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Kenapa masih ada di meja rias kamu?”

 

“Aku beli sebelum hamil. Semua masih aku simpan, dong. Ntar bisa dipake lagi.”

 

“Nggak expired?”

 

“Masih lama,” jawab Yuna santai.

 

“Awas aja kalo diam-diam pake skincare!”

 

“Nggak, sayangku. Aku cuma pake masker doang, biar muka nggak kusem.”

 

“Emang boleh pakai masker?”

 

Yuna berpikir sejenak. “Boleh. Boleh,” ucapnya kemudian. Otaknya masih berpikir antara boleh dan tidak.

 

“Ini, Mbak.” Bibi War muncul sambil memberikan krim mata ke arah Yuna.

 

“Thank, Bi ...!” ucapnya sambil tersenyum. Ia segera menghabiskan makanannya yang tinggal sesuap lagi.

 

Usai makan, Yuna langsung mengoleskan krim mata ke sekitar bagian mata Yeriko dengan lembut dan hati-hati. “Gimana?”

 

“Dingin. Seger!” jawab Yeriko sambil menatap Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah suaminya itu. “Bawa ini!” pintanya sambil meletakkan krim mata tersebut ke tangan Yeriko. “Walau sering begadang, nggak boleh kelihatan jelek di depan rekan bisnis atau klien.”

 

Yeriko tersenyum. “Oke. Makasih istriku tercinta ...” tutur Yeriko sambil mengecup kening Yuna. “Aku berangkat dulu, Riyan sudah datang.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati kerjanya! Semangat!”

 

Yeriko mengangguk. Ia bergegas keluar rumah.

 

Yuna juga ikut melangkahkan kakinya mengikuti Yeriko. Mengantar suaminya pergi ke kantor seperti biasa. Ia kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil suaminya benar-benar pergi.

 

Yuna segera kembali ke dalam rumahnya. Saat akan menaiki tangga, matanya tertuju pada dokumen yang ada di atas meja. “Bukannya ini dokumen yang mau dipakai meeting pagi ini?” tanyanya sambil membaca dokumen tersebut.

 

“Bi ...!” teriak Yuna.

 

“Ada apa, Mbak?” sahut Bibi War dari arah dapur.

 

“Angga sudah datang atau belum ya?”

 

“Belum.”

 

“Pesankan taksi ke kantor Yeri ya!”

 

“Bibi teleponkan Mas Angga saja ya!”

 

“Oke.” Yuna bergegas menaiki anak tangga untuk mengganti pakaian dan mengambil tas tangannya. Ia akan mengantarkan sendiri dokumen penting itu ke kantor suaminya.

 

Dua puluh menit kemudian, Angga sudah berada di depan halaman rumah Yuna, bersiap mengantar Yuna pergi ke perusahaan suaminya.

 

“Mau ke mana Nyonya Bos?” tanya Angga begitu melihat Yuna menghampiri dirinya yang menunggu di halaman rumah.

 

“Ke perusahaan,” jawab Yuna.

 

“Oke.” Angga segera membukakan pintu mobil untuk Yuna. Mereka bergegas pergi ke kantor utama Galaxy Group.

 

 

 

...

 

 

 

Di saat yang sama ...

 

“Kamu ini gimana kerjanya!” sentak Manager Proyek Galaxy Group yang sedang mengecek  proposal untuk regional dan site.

 

“Ini sudah sesuai dengan ketentuan yang diberikan, Pak.” Refi tak mau kalah. Ia terus menyanggah argumen dari atasannya.

 

“Ingat ya! Ini rapat penting untuk proyek di anak perusahaan yang sedang kamu tangani. Kalau kamu bikin proposal seperti ini, Pak Ye bakal menolak mentah-mentah proposal kamu ini.”

 

Refi terdiam sejenak. “Apa yang harus saya perbaiki?” tanya Refi.

 

“Ini ... ini ... nggak penting!” jawab manager tersebut sambil mencoret-coret proposal yang diajukan oleh Refi.

 

Refi membelalakkan matanya. “Pak, yang bener aja? Bapak coret-coret proposal saya. Presentasi sisa dua jam lagi.”

 

“Dua jam cukup untuk memperbaiki proposal ini.”

 

Refi mengerutkan hidungnya. Ia tak menyangka kalau semua atasan di perusahaan ini sangatlah kejam terhadap karyawannya. Bukan hanya level General Manager sampai ke Manager saja. Tapi Kepala bagian setiap divisi juga sama kejamnya. “Ini perusahaan atau penjara?” gumam Refi.

 

“Kamu bilang apa?” tanya manager tersebut.

 

“Eh!? Nggak, Pak. Nggak ngomong apa-apa. Apa lagi yang harus saya perbaiki?” tanya Refi sambil tersenyum.

 

“Ini ... dasar kamu bikin event ini masih kurang greget. Kalau kayak gini, sasaran kita hanya kelompok tertentu saja. Tidak bisa mencakup semua kalangan. Saya yakin, proposal yang seperti ini, sudah tidak asing lagi untuk Pak Ye. Yang kayak gini sudah pasaran.”

 

“Tapi, Pak ...”

 

Manager tersebut tersenyum sinis ke arah Refi. “Kamu perbaiki proposal ini! Masih ada waktu dua jam sebelum presentasi. Pak Ye bisa dengan mudahnya mengenali kalau proposal ini kamu copy paste dari internet.”

 

Refi langsung mengerutkan bibirnya. “Dari mana dia tahu kalau aku copy paste dari internet?” batinnya.

 

Manager tersebut tersenyum menatap Refi. “Semua orang yang ada di perusahaan ini sudah berpengalaman. Bukan anak kemarin sore seperti kamu.”

 

Refi mendengus kesal sambil mengambil proposal dari tangan manager tersebut. “Saya baikin sekarang juga!”

 

“Silakan ...!”

 

Refi langsung keluar dari ruangan manager tersebut. Ia langsung berhadapan dengan Yuna yang kebetulan baru sampai di kantor suaminya tersebut.

 

“Kamu ngapain di sini?” tanya Refi ketus.

 

Yuna menahan tawa mendengar pertanyaan Refi. “Harusnya, aku yang tanya. Kamu ngapain di sini?”

 

“Aku kerja di anak perusahaan ini. Nggak ada yang salah kalau aku pergi ke kantor utama. Sebaiknya, kamu hati-hati karena aku bakal ngerebut suami kamu lagi!” tutur Refi sambil melangkah mendekati Yuna.

 

Angga langsung menghalau Refi agar tidak mendekati Yuna.

 

“Kamu ...!?” Refi mendelik ke arah Angga.

 

“Maaf,  Nyonya Bos adalah tanggung jawab saya,” sergah Angga. Ia langsung berbalik menatap Yuna. “Mari, Nyonya!” ajaknya sambil mendampingi langkah Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil menatap Refi. “Aku naik dulu ya! Mau ketemu sama suamiku tercinta sekaligus pemilik perusahaan ini,” pamitnya sambil melambaikan tangan.

 

 Refi menggigit bibir bawahnya sambil menghentakkan kaki. Ia menatap kesal ke arah Yuna yang berjalan menjauh dari pandangannya.

 

Yuna melangkahkan kakinya menuju lift bersama Angga. Ia langsung bergegas naik ke ruang kerja suaminya yang ada di lantai paling atas.

 

“Selamat pagi, Bu!” sapa dua orang sekretaris Yeriko yang sedang sibuk di meja kerjanya.

 

“Pagi ...!” sapa Yuna sambil tersenyum ramah. “Bapak di dalam?”

 

“Masih di dalam,” jawab salah seorang sekretaris Yeriko.

 

Yuna tersenyum. Ia langsung melangkah masuk ke dalam ruang kerja suaminya.

 

“Pagi ...!” sapa Yuna sambil menghampiri Yeriko yang sedang berbincang dengan asisten pribadinya.

 

Yeriko langsung berbalik. “Kamu!?” Ia mengangkat kedua alisnya. “Ada apa? Pagi-pagi udah ke sini?”

 

Yuna langsung mengangkat dokumen yang ada di tangannya.

 

Yeriko langsung memutar kepalanya ke arah Riyan, “Yan, dokumen aku kenapa bisa ketinggalan?” tanya Yeriko.

 

“Eh!? Kapan Pak Bos kasih dokumen itu? Bukannya, tadi saya belum sempat keluar mobil. Pak Bos sudah buru-buru masuk mobil duluan?”

 

“Kamu itu asisten pribadiku. Kenapa bisa sampai lalai kayak gini? Ini dokumen penting buat kita meeting. Laptopku, di mana?” tanya Yeriko.

 

Riyan langsung menunjuk tas laptop yang ada di atas meja menggunakan dagunya.

 

“Lain kali, jangan sampai ada yang ketinggalan! Kasihan istriku kalo harus sampai ke sini cuma buat ngantar dokumen!”

 

“Ay, kamu yang lupa. Kenapa malah marahin Riyan?” sahut Yuna lembut.

 

Yeriko gelagapan mendengar pertanyaan Yuna. “Riyan itu asistenku. Harusnya, dia lebih teliti lagi. Dia kan tahu kalau dokumen ini penting banget buat rapat. Semalam, dia juga yang ngasih dokumen ini untuk verifikasi. Harusnya dia perhatiin semua yang mau dipakai rapat hari ini. Kayak gitu aja minta diajarin!”

 

Yuna terdiam sesaat, ia menoleh ke arah Riyan yang memilih untuk diam daripada harus membantah ucapan bosnya.

 

“Ay, aku nggak papa ke sini. Lagian, aku bosan di rumah terus. Emangnya, aku nggak boleh main ke perusahaan?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

“Boleh. Tapi, pagi-pagi gini kamu harusnya masih santai di rumah. Gara-gara Riyan, kamu harus ke sini.”

 

Yuna tersenyum sambil merapikan kerah jas Yeriko. “Hidupku udah terlalu santai. Aku seneng banget bisa ke perusahaan pagi-pagi gini. Aku merasa bisa jadi istri yang berguna. Kamu nggak suka kalau aku ada di sini?” tutur Yuna sambil memasang wajah sedih.

 

“Aku suka kamu ada di sini. Cuma nggak mau kalau kamu kecapekan,” jawab Yeriko sambil mengusap rambut Yuna.

 

“Aku nggak capek, kok. Toh, ke sini juga diantar pakai mobil. Kamu jangan marah-marah lagi ya! Apalagi sampai marahin Riyan yang nggak salah sama sekali.”

 

“Nggak salah? Jelas-jelas dia sudah lalai sama pekerjaannya sendiri.”

 

“Ay ...!” Yuna langsung menatap mata Yeriko.

 

Yeriko berdecak, kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. “Oke, oke. Aku mau siap-siap rapat dulu. Kamu tunggu di sini atau mau langsung pulang?”

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Boleh tunggu di sini?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Ikut rapat juga boleh.”

 

“Hah!?”

 

“Pagi ini aku ada meeting sama dewan direksi sampai jam sembilan. Setelahnya, mau bahas soal proyek charity perusahaan. Kamu mau ikut?”

 

Yuna terdiam sambil berpikir sejenak.

 

Yeriko menaikkan dua alisnya. “Gimana?”

 

“Aku nggak punya nyali besar berhadapan sama dewan direksi. Aku tunggu di kamar aja ya, gimana?” Yuna meringis sambil menunjuk pintu kamar yang ada di belakang meja kerja Yeriko.

 

Yeriko mengangguk. Ia mengecup kening Yuna dan bergegas melangkah pergi bersama Riyan.

 

“Eh, wait!” seru Yuna.

 

“Ada apa?” tanya Yeriko sambil memutar kepalanya.

 

“Tadi, aku lihat si Refi ada di bawah. Apa dia udah naik jabatan ke kantor utama?”

 

Yeriko menaikkan kedua alisnya. “Harusnya sih enggak.”

 

“Terus?” tanya Yuna.

 

Riyan berbisik ke telinga Yeriko.

 

“Oh ... jam sepuluh nanti ada meeting soal program charity yang akan diadakan oleh perusahaan kita. Semua anak perusahaan terlibat. Termasuk perusahaan tempat Refi bekerja.”

 

“Oh. Jadi, dia bakal ketemu kamu beneran?” tanya Yuna sambil membalikkan badannya. Ia melangkahkan kakinya tak bersemangat memasuki kamar pribadi milik Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap punggung Yuna. Ia bisa mengerti kekhawatiran yang menyelimuti hati istrinya. Hanya saja, ia harus segera pergi ke ruang rapat dan tidak punya waktu lagi untuk mengurus Yuna. Ia akan menyelesaikannya setelah selesai rapat dengan dewan direksi di perusahaannya.

 

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih lima bintang di kolom komentar. Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas