“Kamu
yakin kalau aku harus berhadapan langsung sama Refi soal ini?” tanya Yuna
sambil menggenggam erat tangan Yeriko.
Yeriko
menganggukkan kepala.
“Mmh
... kenapa dia bisa berhubungan sama proyek charity ini? Bukannya, dia staf
biasa aja?”
“Dia
memaksakan diri untuk menggantikan posisi atasannya dalam presentasi kali ini.
Kita lihat, apa yang akan dia lakukan setelah ini. Aku rasa, ini cuma
akal-akalan dia aja. Refi bukanlah orang yang berkompeten dalam bidang ini.”
Yuna
tersenyum menanggapi ucapan Yeriko. Ia kini mulai memahami sifat suaminya yang
sulit untuk ditebak.
Yeriko
terus tersenyum sambil melangkahkan kakinya bersama Yuna menuju ke ruang rapat.
“Selamat
pagi, Pak Ye!” sapa semua orang yang sudah ada di dalam ruang rapat tersebut.
Termasuk Refi yang berusaha menarik perhatian dari Yeriko. Namun, matanya
melirik kesal saat melihat wanita yang berdiri di samping Yeriko.
“Pagi
semua!” sapa Yeriko. “Semua perwakilan perusahaan, sudah kumpul semua?”
“Sudah,
Pak,” jawab Riyan yang juga berada dalam ruang rapat tersebut.
“Oke.”
Yeriko langsung mengajak Yuna duduk di kursinya, sementara ia memilih untuk
berdiri di samping Yuna. “Perkenalkan, ini istri saya. Hari ini, dia datang
khusus untuk mendengarkan proyek yang kalian ajukan untuk perusahaan. Dia
berpengalaman dalam bidang ini. Kebetulan, dia ini lulusan management bisnis di
Melbourne University.”
Yuna
tersenyum menatap semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut. “Selamat pagi
semuanya. Salam kenal ...!” sapanya dengan ramah. “Pagi ini, saya senang sekali
bisa bertemu dengan kalian semua untuk membahas proyek perusahaan kali ini.
Sebenarnya, yang diucapkan suami saya ini terlalu berlebihan. Saya juga masih
harus banyak belajar.”
Semua
orang tersenyum sambil mengangguk sopan, kecuali Refi yang terus mengunci
bibirnya, menahan kesal karena sikap Yuna yang begitu manis dan Yeriko yang
terlalu membanggakan istrinya.
Yuna
tersenyum. Ia meminta semua orang memperkenalkan diri satu persatu sebelum
mereka melakukan presentasi atas proyek mereka masing-masing.
“Oke.
Kalian bisa mulai melakukan presentasi satu persatu,” tutur Yeriko. Ia
memerintahkan Riyan untuk mengatur siapa yang akan melakukan presentasi
terlebih dahulu.
Yeriko
dan Yuna menyimak presentasi satu persatu. Mereka juga sama-sama mengajukan
pertanyaan. Hingga akhirnya, Refi mendapat giliran untuk mempresentasikan
proposalnya paling terakhir.
Yeriko
terus berbisik di telinga Yuna selama Refi melakukan presentasi. Ia bisa
melihat kalau proposal yang diajukan Refi tidak memiliki dasar yang kuat.
“Ada
komentar?” tanya Yeriko sambil menatap semua orang yang ada di ruangan itu
setelah Refi selesai mempresentasikan proposalnya.
Semua
orang terdiam. Mereka hanya saling pandang dan tak ada yang berani memberikan
komentar.
Refi
langsung tersenyum, ia merasa kalau konsep yang ia bawakan adalah yang paling
bagus di antara perusahaan yang lainnya.
“Menurut
kamu gimana?” tanya Yeriko sambil menoleh ke arah Yuna.
“Mmh
... konsepnya bagus, tapi tidak tepat sasaran,” tutur Yuna sambil
memainkan ujung pena di dagunya.
Yeriko
tersenyum. Ia berdiri tegak sambil melipat kedua tangan di dadanya. Memancarkan
pesona dan kewibawaannya sebagai orang yang paling disegani di perusahaan ini.
Refi
menelan ludah menatap wajah Yeriko. Semakin hari, wajah pria itu terlihat
semakin tampan jika dibandingkan dengan Yeriko beberapa tahun lalu. Ia juga
terus menatap Yuna yang duduk di sebelah Yeriko. Seharusnya, dia yang berada di
sana saat ini. Bukan orang lain.
“Kamu
bisa jelasin apa yang dimaksud dengan tidak tepat sasaran?” tanya Yeriko sambil
menoleh Yuna yang duduk di sampingnya.
Yuna
bangkit dari kursi. Ia mengambil pen laser pointer di atas meja dan langsung
mengarahkannya ke screen projector yang berjarak beberapa meter di hadapannya.
“Coba perlihatkan ke saya slide nomor dua belas!” pintanya sambil menatap hard
copy yang ada di mejanya.
Refi
langsung memunculkan slide yang diminta oleh Yuna.
“Kamu
sudah sangat tahu kalau konsep dari Galaxy adalah glamour, memberikan pelayanan
berkelas dan sangat mewah. Tapi, itu adalah produk perusahaan yang kita
tawarkan kepada konsumen. Kalau untuk event charity seperti ini, apa cocok
dengan sasaran kita yang seharusnya adalah orang-orang biasa di luar sana.
Kenapa kamu membuat konsep event charity seperti konsep pameran produk
perusahaan?” tanya Yuna.
Refi
menarik napas sambil menatap Yuna penuh kekesalan. Ia berusaha memasang senyum
yang manis. “Ibu Direktur yang terhormat, saya sudah memikirkan konsep ini
jauh-jauh hari. Konsep ini akan lebih bagus diterapkan karena bisa menarik
donatur yang lebih besar lagi. Ruangan yang mewah, pelayanan yang baik juga
akan membuat orang-orang itu merasakan kemewahan yang tidak pernah mereka
rasakan sebelumnya.”
Yuna
menahan tawa. “Kamu mau buat charity event atau reality show untuk stasiun tv?”
Semua
orang di ruangan itu tergelak mendengar pertanyaan Yuna.
Yeriko
ikut menahan tawa. Sepertinya, pertanyaan yang ingin ia ajukan ke Refi, sudah
diwakilkan oleh Yuna.
“Kamu
...!? Kamu sengaja mau menjatuhkan aku? Yang lain, kamu nggak komentar sepedas
ini,” sahut Refi. Ia tak bisa lagi menahan amarahnya.
Yuna
tersenyum sambil menatap Refi. “Karena yang lain, proposalnya masuk akal.
Proposal kamu ini ... nggak masuk akal sama sekali. Program Charity kali ini,
kita buat untuk para penyandang difable. Mereka nggak butuh fasilitas mewah
yang cuma sekejap mata. Lihat proposal Pak Anton tadi? Dia buat program
pendidikan yang baik untuk anak-anak difabel.”
“Pak
Masuri, programnya sangat bagus. Melatih keterampilan para penyandang difabel.
Proposal kamu ini apa-apaan? Sama sekali nggak ada nilai kepeduliannya!” tutur
Yuna sambil membanting dokumen Refi yang ada di tangannya.
Refi
menatap Yuna penuh kebencian. Ia juga menatap Yeriko yang dengan tenang
membiarkan Yuna mempermalukan dirinya.
Yuna
terus menatap Refi. Menunggu Refi menyanggah ucapan darinya. “Ada lagi yang mau
disampaikan? Kalau nggak ada, saya akan mengambil kesimpulan untuk acara ini.”
“Nggak
ada, Bu. Silakan Ibu ambil alih,” jawab Pak Anton. Salah satu manager yang
menangani wilayah Regional Bagian Barat.
“Oke.
Semua proposal yang diajukan sangat bagus. Sesuai dengan program dan keinginan
kami.” Yuna langsung menoleh ke arah Riyan. Ia memerintahkan Riyan untuk
mengambil alih screen projector dan memperlihatkan proposal yang sudah disusun
rapi oleh Yeriko dan timnya.
Yuna
tersenyum kecil saat melihat nama pengajuan proposal tersebut diganti atas nama
dirinya.
“Semua
proposal yang kalian ajukan ke kami, tercakup di sini semua.” Yuna menunjukkan
gambar diagram dan data statistik yang sudah disiapkan oleh tim Yeriko.
“Ini
adalah program CSR perusahaan selama lima tahun ke depan. Charity event hanya
memiliki anggaran tujuh persen dari semua program yang ada.
Kenapa? Karena event charity seperti ini akan langsung selesai. Tidak bisa
dijadikan program yang berkesinambungan seperti yang lain,” jelas Yuna.
“Tapi
... Charity Event yang kita adakan, bisa menjadi pintu utama untuk menuju ke
program-program CSR perusahaan yang selanjutnya. Di sini, kredibilitas dan
track record perusahaan kita sangat penting. Kita bisa mendapatkan simpati dan
empati dari masyarakat. Membuat masyarakat loyal dan percaya kepada kita. Oleh
karenanya, event ini harus menjadi sebuah event yang menarik banyak orang dan
menciptakan sebuah fenomena di masyarakat.” Yuna menjelaskan dengan lancar.
Yeriko
terus memerhatikan screen projector yang ada di hadapannya sambil mendengarkan
penjelasan dari Yuna. Ia memang tidak bisa memungkiri kalau Yuna begitu
mudahnya menguasai materi yang ia berikan. Hanya dalam hitungan menit, istrinya
itu sudah bisa mengerti semua laporan yang ia siapkan.
Semua
orang mengangguk-anggukkan kepala sambil mendengarkan penjelasan dari Yuna.
“Gimana
menurut kalian?” tanya Yuna usai bahan presentasi yang ada di tangannya sudah
habis. “Ada komentar?”
Semua
orang menggelengkan kepala. Mereka justru memberikan tepuk tangan yang meriah
untuk Yuna. Yuna belum pernah masuk ke dalam rapat sebelumnya. Tapi, kemampuan
istri dari pemilik Galaxy Group memang tidak bisa diragukan lagi.
“Oke.
Kalau tidak ada hal lain lagi yang ingin ditanyakan. Rapatnya, cukup sampai di
sini saja.” Yeriko mengambil alih. “Untuk selanjutnya, kalian semua bisa
berkoordinasi dengan asisten saya saat pelaksanaan di lapangan.”
“Siap,
Pak!” Semua manager yang ada di ruangan tersebut langsung berpamitan dan
bergegas meninggalkan ruangan tersebut satu per satu.
Yeriko
dan Yuna saling pandang sambil tersenyum.
“Aku
suka gayamu hari ini,” bisik Yeriko di telinga Yuna.
Sementara,
di seberang mereka masih ada Refi yang belum beranjak pergi. Ia masih tidak
terima dengan perlakuan Yuna dan Yeriko terhadap dirinya.
“Yun,
kamu sengaja mau menargetkan aku dan mempermalukan aku di depan umum?” seru
Refi sambil menatap Yuna penuh kebencian.
Yeriko
langsung menatap wajah Refi. “Seharusnya kamu sadar bagaimana kemampuan kamu
sendiri. Nggak ada apa-apanya dibanding sama kemampuan istriku.”
“Kamu
tahu sendiri kalau aku nggak sekolah bisnis. Aku ini penari, Yer. Wajar aja
kalau aku kalah sama dia yang lulusan Management Bisnis di luar negeri.”
Yeriko
tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baguslah kalau kamu sadar.
Dari awal, seharusnya kamu nggak memaksakan diri untuk masuk ke perusahaan
ini.”
“Aku
kayak gini karena kamu. Aku udah belajar siang malam supaya aku bisa
mendampingi kamu mengurus bisnis, Yer,” tutur Refi sambil menghampiri Yeriko.
“Hei,
jangan ngimpi!” sahut Yuna kesal. “Yeriko ini suamiku. Kamu masih aja nggak
berhenti godain suami orang!” serunya kesal.
“Nggak
usah diladeni!” bisik Yeriko sambil melingkarkan lengannya ke pinggang Yuna.
“Kita balik ke ruangan aja!”
Yuna
mengangguk. Ia segera mengikuti langkah Yeriko dan keluar dari ruang rapat
tersebut.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini ya ...
Thank
you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin
cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment