Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 418 : Beradu Kemampuan

 


“Kamu yakin kalau aku harus berhadapan langsung sama Refi soal ini?” tanya Yuna sambil menggenggam erat tangan Yeriko.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Mmh ... kenapa dia bisa berhubungan sama proyek charity ini? Bukannya, dia staf biasa aja?”

 

“Dia memaksakan diri untuk menggantikan posisi atasannya dalam presentasi kali ini. Kita lihat, apa yang akan dia lakukan setelah ini. Aku rasa, ini cuma akal-akalan dia aja. Refi bukanlah orang yang berkompeten dalam bidang ini.”

 

Yuna tersenyum menanggapi ucapan Yeriko. Ia kini mulai memahami sifat suaminya yang sulit untuk ditebak.

 

Yeriko terus tersenyum sambil melangkahkan kakinya bersama Yuna menuju ke ruang rapat.

 

“Selamat pagi, Pak Ye!” sapa semua orang yang sudah ada di dalam ruang rapat tersebut. Termasuk Refi yang berusaha menarik perhatian dari Yeriko. Namun, matanya melirik kesal saat melihat wanita yang berdiri di samping Yeriko.

 

“Pagi semua!” sapa Yeriko. “Semua perwakilan perusahaan, sudah kumpul semua?”

 

“Sudah, Pak,” jawab Riyan yang juga berada dalam ruang rapat tersebut.

 

“Oke.” Yeriko langsung mengajak Yuna duduk di kursinya, sementara ia memilih untuk berdiri di samping Yuna. “Perkenalkan, ini istri saya. Hari ini, dia datang khusus untuk mendengarkan proyek yang kalian ajukan untuk perusahaan. Dia berpengalaman dalam bidang ini. Kebetulan, dia ini lulusan management bisnis di Melbourne University.”

 

Yuna tersenyum menatap semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut. “Selamat pagi semuanya. Salam kenal ...!” sapanya dengan ramah. “Pagi ini, saya senang sekali bisa bertemu dengan kalian semua untuk membahas proyek perusahaan kali ini. Sebenarnya, yang diucapkan suami saya ini terlalu berlebihan. Saya juga masih harus banyak belajar.”

 

Semua orang tersenyum sambil mengangguk sopan, kecuali Refi yang terus mengunci bibirnya, menahan kesal karena sikap Yuna yang begitu manis dan Yeriko yang terlalu membanggakan istrinya.

 

Yuna tersenyum. Ia meminta semua orang memperkenalkan diri satu persatu sebelum mereka melakukan presentasi atas proyek mereka masing-masing.

 

“Oke. Kalian bisa mulai melakukan presentasi satu persatu,” tutur Yeriko. Ia memerintahkan Riyan untuk mengatur siapa yang akan melakukan presentasi terlebih dahulu.

 

Yeriko dan Yuna menyimak presentasi satu persatu. Mereka juga sama-sama mengajukan pertanyaan. Hingga akhirnya, Refi mendapat giliran untuk mempresentasikan proposalnya paling terakhir.

 

Yeriko terus berbisik di telinga Yuna selama Refi melakukan presentasi. Ia bisa melihat kalau proposal yang diajukan Refi tidak memiliki dasar yang kuat.

 

“Ada komentar?” tanya Yeriko sambil menatap semua orang yang ada di ruangan itu setelah Refi selesai mempresentasikan proposalnya.

 

Semua orang terdiam. Mereka hanya saling pandang dan tak ada yang berani memberikan komentar.

 

Refi langsung tersenyum, ia merasa kalau konsep yang ia bawakan adalah yang paling bagus di antara perusahaan yang lainnya.

 

“Menurut kamu gimana?” tanya Yeriko sambil menoleh ke arah Yuna.

 

“Mmh ... konsepnya bagus, tapi tidak tepat sasaran,” tutur Yuna sambil memainkan  ujung pena di dagunya.

 

Yeriko tersenyum. Ia berdiri tegak sambil melipat kedua tangan di dadanya. Memancarkan pesona dan kewibawaannya sebagai orang yang paling disegani di perusahaan ini.

 

Refi menelan ludah menatap wajah Yeriko. Semakin hari, wajah pria itu terlihat semakin tampan jika dibandingkan dengan Yeriko beberapa tahun lalu. Ia juga terus menatap Yuna yang duduk di sebelah Yeriko. Seharusnya, dia yang berada di sana saat ini. Bukan orang lain.

 

“Kamu bisa jelasin apa yang dimaksud dengan tidak tepat sasaran?” tanya Yeriko sambil menoleh Yuna yang duduk di sampingnya.

 

Yuna bangkit dari kursi. Ia mengambil pen laser pointer di atas meja dan langsung mengarahkannya ke screen projector yang berjarak beberapa meter di hadapannya. “Coba perlihatkan ke saya slide nomor dua belas!” pintanya sambil menatap hard copy yang ada di mejanya.

 

Refi langsung memunculkan slide yang diminta oleh Yuna.

 

“Kamu sudah sangat tahu kalau konsep dari Galaxy adalah glamour, memberikan pelayanan berkelas dan sangat mewah. Tapi, itu adalah produk perusahaan yang kita tawarkan kepada konsumen. Kalau untuk event charity seperti ini, apa cocok dengan sasaran kita yang seharusnya adalah orang-orang biasa di luar sana. Kenapa kamu membuat konsep event charity seperti konsep pameran produk perusahaan?” tanya Yuna.

 

Refi menarik napas sambil menatap Yuna penuh kekesalan. Ia berusaha memasang senyum yang manis. “Ibu Direktur yang terhormat, saya sudah memikirkan konsep ini jauh-jauh hari. Konsep ini akan lebih bagus diterapkan karena bisa menarik donatur yang lebih besar lagi. Ruangan yang mewah, pelayanan yang baik juga akan membuat orang-orang itu merasakan kemewahan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.”

 

Yuna menahan tawa. “Kamu mau buat charity event atau reality show untuk stasiun tv?”

 

Semua orang di ruangan itu tergelak mendengar pertanyaan Yuna.

 

Yeriko ikut menahan tawa. Sepertinya, pertanyaan yang ingin ia ajukan ke Refi, sudah diwakilkan oleh Yuna.

 

“Kamu ...!? Kamu sengaja mau menjatuhkan aku? Yang lain, kamu nggak komentar sepedas ini,” sahut Refi. Ia tak bisa lagi menahan amarahnya.

 

Yuna tersenyum sambil menatap Refi. “Karena yang lain, proposalnya masuk akal. Proposal kamu ini ... nggak masuk akal sama sekali. Program Charity kali ini, kita buat untuk para penyandang difable. Mereka nggak butuh fasilitas mewah yang cuma sekejap mata. Lihat proposal Pak Anton tadi? Dia buat program pendidikan yang baik untuk anak-anak difabel.”

 

“Pak Masuri, programnya sangat bagus. Melatih keterampilan para penyandang difabel. Proposal kamu ini apa-apaan? Sama sekali nggak ada nilai kepeduliannya!” tutur Yuna sambil membanting dokumen Refi yang ada di tangannya.

 

Refi menatap Yuna penuh kebencian. Ia juga menatap Yeriko yang dengan tenang membiarkan Yuna mempermalukan dirinya.

 

Yuna terus menatap Refi. Menunggu Refi menyanggah ucapan darinya. “Ada lagi yang mau disampaikan? Kalau nggak ada, saya akan mengambil kesimpulan untuk acara ini.”

 

“Nggak ada, Bu. Silakan Ibu ambil alih,” jawab Pak Anton. Salah satu manager yang menangani wilayah Regional Bagian Barat.

 

“Oke. Semua proposal yang diajukan sangat bagus. Sesuai dengan program dan keinginan kami.” Yuna langsung menoleh ke arah Riyan. Ia memerintahkan Riyan untuk mengambil alih screen projector dan memperlihatkan proposal yang sudah disusun rapi oleh Yeriko dan timnya.

 

Yuna tersenyum kecil saat melihat nama pengajuan proposal tersebut diganti atas nama dirinya.

 

“Semua proposal yang kalian ajukan ke kami, tercakup di sini semua.” Yuna menunjukkan gambar diagram dan data statistik yang sudah disiapkan oleh tim Yeriko.

 

“Ini adalah program CSR perusahaan selama lima tahun ke depan. Charity event hanya memiliki anggaran tujuh persen dari semua program yang ada. Kenapa? Karena event charity seperti ini akan langsung selesai. Tidak bisa dijadikan program yang berkesinambungan seperti yang lain,” jelas Yuna.

 

“Tapi ... Charity Event yang kita adakan, bisa menjadi pintu utama untuk menuju ke program-program CSR perusahaan yang selanjutnya. Di sini, kredibilitas dan track record perusahaan kita sangat penting. Kita bisa mendapatkan simpati dan empati dari masyarakat. Membuat masyarakat loyal dan percaya kepada kita. Oleh karenanya, event ini harus menjadi sebuah event yang menarik banyak orang dan menciptakan sebuah fenomena di masyarakat.” Yuna menjelaskan dengan lancar.

 

Yeriko terus memerhatikan screen projector yang ada di hadapannya sambil mendengarkan penjelasan dari Yuna. Ia memang tidak bisa memungkiri kalau Yuna begitu mudahnya menguasai materi yang ia berikan. Hanya dalam hitungan menit, istrinya itu sudah bisa mengerti semua laporan yang ia siapkan.

 

Semua orang mengangguk-anggukkan kepala sambil mendengarkan penjelasan dari Yuna.

 

“Gimana menurut kalian?” tanya Yuna usai bahan presentasi yang ada di tangannya sudah habis. “Ada komentar?”

 

Semua orang menggelengkan kepala. Mereka justru memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Yuna. Yuna belum pernah masuk ke dalam rapat sebelumnya. Tapi, kemampuan istri dari pemilik Galaxy Group memang tidak bisa diragukan lagi.

 

“Oke. Kalau tidak ada hal lain lagi yang ingin ditanyakan. Rapatnya, cukup sampai di sini saja.” Yeriko mengambil alih. “Untuk selanjutnya, kalian semua bisa berkoordinasi dengan asisten saya saat pelaksanaan di lapangan.”

 

“Siap, Pak!”  Semua manager yang ada di ruangan tersebut langsung berpamitan dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut satu per satu.

 

Yeriko dan Yuna saling pandang sambil tersenyum.

 

“Aku suka gayamu hari ini,” bisik Yeriko di telinga Yuna.

 

Sementara, di seberang mereka masih ada Refi yang belum beranjak pergi. Ia masih tidak terima dengan perlakuan Yuna dan Yeriko terhadap dirinya.

 

“Yun, kamu sengaja mau menargetkan aku dan mempermalukan aku di depan umum?” seru Refi sambil menatap Yuna penuh kebencian.

 

Yeriko langsung menatap wajah Refi. “Seharusnya kamu sadar bagaimana kemampuan kamu sendiri. Nggak ada apa-apanya dibanding sama kemampuan istriku.”

 

“Kamu tahu sendiri kalau aku nggak sekolah bisnis. Aku ini penari, Yer. Wajar aja kalau aku kalah sama dia yang lulusan Management Bisnis di luar negeri.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baguslah kalau kamu sadar. Dari awal, seharusnya kamu nggak memaksakan diri untuk masuk ke perusahaan ini.”

 

“Aku kayak gini karena kamu. Aku udah belajar siang malam supaya aku bisa mendampingi kamu mengurus bisnis, Yer,” tutur Refi sambil menghampiri Yeriko.

 

“Hei, jangan ngimpi!” sahut Yuna kesal. “Yeriko ini suamiku. Kamu masih aja nggak berhenti godain suami orang!” serunya kesal.

 

“Nggak usah diladeni!” bisik Yeriko sambil melingkarkan lengannya ke pinggang Yuna. “Kita balik ke ruangan aja!”

 

Yuna mengangguk. Ia segera mengikuti langkah Yeriko dan keluar dari ruang rapat tersebut.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya ...

 Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas