“Yun,
kamu ikut aku rapat setelah ini!” perintah Yeriko saat ia baru saja kembali
dari rapat bersama dewan direksi.
“Hah!?
Aku? Aku nggak tahu apa-apa soal perusahaan.”
Yeriko
tersenyum. Meski Yuna tak pernah ikut campur soal perusahaannya, tapi ia tak
pernah meragukan kemampuan istrinya itu. “Sini!” pintanya sambil mengajak Yuna
duduk bersama di meja kerjanya.
Yuna
langsung mengikuti perintah suaminya itu.
Yeriko
melirik jam tangannya. “Masih ada waktu satu jam untuk mempelajari ini semua.”
“Eh!?”
Yuna menoleh ke arah Yeriko.
“Ah-eh
ah-eh aja!” sahut Yeriko sambil memukul kening Yuna menggunakan pena yang ada
di tangannya.
Yuna
memonyongkan bibir sambil mengelus-elus dahinya. “Aku kan nggak tahu apa-apa.
Kamu suka tiba-tiba kayak gini. Sama aja kayak waktu ngajak nikah tiba-tiba,”
celetuk Yuna.
Yeriko
menahan tawa sambil menatap Yuna. “Kamu nggak suka?”
“Awalnya
nggak suka. Tapi sekarang malah suka banget!” ucapnya sambil memonyongkan
bibir.
“Kalo
gitu, aku akan kasih kamu kesempatan selama lima menit untuk bingung dulu.
Setelahnya, kamu harus menikmati ini semua.”
Yuna
terdiam sejenak sambil menggigit bibirnya.
“Jangan
kelamaan mikirnya!” pinta Yeriko. “Lihat ini!” perintahnya sambil menunjukkan
dokumen yang ada di layar laptop dan di atas mejanya. Ia menjelaskan dengan
cepat dan detail kepada Yuna.
Yuna
memerhatikan dengan serius setiap kalimat yang keluar dari mulut Yeriko. Ia
pernah mempelajari tentang dunia bisnis saat masih sekolah di Melbourne. Ia
juga sudah berpengalaman menangani event saat bekerja di perusahaan Wilian
walau hanya sebentar. Sehingga, semua proposal yang dijelaskan oleh Yeriko.
Bisa dengan mudah masuk ke dalam pikirannya.
“Gimana?”
tanya Yeriko sambil tersenyum ke arah Yuna.
Yuna
mengangguk-anggukkan kepala. “Aku suka banget. Tapi, yang bagian ini aku masih
kurang suka.”
“Why?”
“Orang
melakukan kebaikan karena mereka pernah mendapatkan banyak kebaikan dalam hidup
mereka. Ini proyek charity kan? Sasarannya sudah sangat tepat, hanya saja ...
bagian ini perlu ditambahi!”
Yeriko
tersenyum menatap wajah Yuna selama beberapa detik.
“Kenapa
lihatin aku kayak gitu?” tanya Yuna.
“Aku
suka aja sama cara kerja kamu,” jawab Yeriko sambil menarik tubuh Yuna ke
pangkuannya. “Mmh ... kamu nggak mau ambil alih perusahaan ayah kamu?” tanyanya
kemudian.
Yuna
menghela napas. “Kenapa kamu selalu nanyain ini ke aku? Kamu udah capek ngurus
aku selama ini? Makanya, kamu pengen aku ambil alih perusahaan ayah supaya
nggak ngerepotin kamu lagi?”
Yeriko
menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Bukan itu maksud aku, Yun. Kamu wanita
yang cerdas, juga punya pendidikan yang bagus. Alangkah baiknya kalau ...”
Yuna
langsung bangkit dari pangkuan Yeriko. “Kalo emang kamu udah bosan sama aku,
aku bakal ambil perusahaan ayahku sekarang juga!” seru Yuna kesal sambil
menghentakkan kakinya.
Yeriko
menghela napas sambil menepuk keningnya sendiri. “Salah lagi ...” gumamnya
dalam hati.
Yuna
menatap ke luar jendela sambil mengusap air matanya. Ia benar-benar tidak
mengerti mengapa Yeriko terus menerus menanyakan soal perusahaan ayahnya. Ia
tidak ingin berebut perusahaan dengan pamannya dan mencelakai ayahnya lagi.
Tapi, ia juga tidak bisa mengandalkan Yeriko terus-menerus. Ia berpikir kalau
Yeriko sudah bosan dengan dirinya. Itulah sebabnya kenapa Yeriko selalu
mengungkit soal perusahaan ayahnya.
“Yun
... kenapa nangis?” tanya Yeriko lembut sambil memeluk tubuh Yuna dari
belakang.
“Nggak
papa,” jawab Yuna sambil mengusap air matanya.
“Jangan
selalu berpikir buruk tentang suami kamu sendiri. Gimana bisa aku bosan sama
kamu? Sedangkan setiap detik yang kulalui tanpa kamu ... aku selalu rindu,”
tutur Yeriko di telinga Yuna.
Yuna
menutup wajahnya sambil tersenyum bahagia. Rasanya, jantungnya ingin
melompat-lompat kegirangan mendengar ucapan Yeriko. Sepertinya, ia sudah
kecanduan mendengar mulut manis Yeriko.
Jemari
tangann Yuna menggaruk keningnya yang tidak gatal. Bagaimana ia bisa menutupi
rasa malunya karena ia tiba-tiba marah pada Yeriko, bahkan mengeluarkan air
mata begitu saja. “Huft, kenapa suamiku sebaik ini?” gumamnya dalam hati.
Yeriko
terus memeluk tubuh Yuna sambil menyandarkan dagunya di bahu istrinya itu.
“Yun, aku mengungkit perusahaan ayah kamu. Bukan karena aku nggak mau mengurus
kamu lagi. Tapi, aku menginginkan kalian bisa menikmati apa yang seharusnya
kalian miliki. Kamu tahu, aku bukan dewa yang bisa hidup selamanya. Saat aku
nggak ada, kamu dan anak-anak kita bisa hidup dengan baik.”
Yuna
langsung membalikkan tubuhnya. Ia menatap wajah Yeriko dengan mata
berkaca-kaca. “Kenapa selalu ngomong kayak gitu sih!?” dengus Yuna sambil
meninju dada Yeriko.
“Aw
...!” Yeriko memegangi dadanya. Tubuhnya terhuyung karena menahan rasa sakit di
dadanya.
Mulut
Yuna langsung menganga lebar. “Kamu nggak papa?” tanyanya langsung panik. Ia
langsung memapah Yeriko untuk duduk di kursi. Dengan cepat, ia mengambilkan air
minum untuk suaminya.
“Minum
dulu!” pinta Yuna.
Yeriko
langsung meminum air yang diberikan Yuna. Ia menarik napas beberapa kali.
“Ay,
kamu kenapa?” tanya Yuna dengan mata berkaca-kaca saat melihat Yeriko kesulitan
bernapas sambil memegangi dadanya. Ia tahu suaminya seorang pria pekerja keras.
Ia takut, kalau Yeriko diam-diam mengidap penyakit mematikan seperti yang ada
di dalam drama televisi.
Yuna
langsung terisak. “Maafin aku! Aku nggak bermaksud buat mukul kamu. Aku antar
ke rumah sakit sekarang juga!”
Yeriko
menggelengkan kepala sambil meringis.
Yuna
mengangkat lengan Yeriko dan melingkarkan ke pundaknya. “Kita ke rumah sakit
sekarang!” ajaknya sambil menangis. Ia benar-benar merasa sangat bersalah
karena telah melukai suaminya. Ia pikir, pukulan dari tangannya tak akan
berpengaruh pada tubuh Yeriko yang kekar.
“Aku
nggak perlu ke rumah sakit,” jawab Yeriko dengan napas tersengal. “Aku cuma
perlu napas buatan dari kamu,” lanjutnya sambil tersenyum.
Yuna
langsung menatap tajam ke arah Yeriko. “Kamu ngerjain aku!?” serunya kesal
sambil melepaskan lengan Yeriko dari tubuhnya.
Yeriko
terkekeh mendengar pertanyaan Yuna.
Yuna
langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangannya dan terisak.
“Loh?
Kok, nangis? Aku cuma bercanda.”
“Bercandanya
nggak lucu!” sahut Yuna kesal. “Aku khawatir beneran. Aku bener-bener takut
terjadi hal buruk sama kamu. Kamu tega banget sih ngerjain aku dengan cara
kayak gini?” tutur Yuna sambil terisak.
“Cup
... cup ...cup ... jangan nangis lagi!” pinta Yeriko sambil menarik Yuna ke
dalam pelukannya. “Aku cuma bercanda aja, sayangku.”
“Tapi
nggak kayak gini juga. Aku sering bercanda, tapi nggak sampe segininya juga.
Kamu nggak tahu gimana rasanya khawatir, ketakutan, ngerasa bersalah? Semuanya
bercampur aduk jadi satu!?”
“Iya.
Maaf!” bisik Yeriko sambil mengecup ujung kepala Yuna. “Udah, jangan nangis
lagi!” pintanya sambil mengusap air mata Yuna.
“Jangan
bercanda kayak gini lagi!” pinta Yuna sambil menatap wajah Yeriko.
“Iya,”
jawab Yeriko sambil tersenyum.
“Janji?”
“Janji.”
Yuna
tersenyum sambil memeluk erat tubuh Yeriko.
“Baikin
wajah kamu!” perintah Yeriko. “Sepuluh menit lagi, kita pergi ke ruang rapat!”
ajak Yeriko.
“Emangnya
wajahku rusah?” tanya Yuna.
“Iya.
Rusak karena air matamu.”
Yuna
tertawa kecil sambil melangkah menuju kamar mandi.
Yeriko
bersandar di meja sambil mengetuk-ngetuk meja menggunakan ujung jarinya. Ia
sengaja ingin membawa Yuna untuk presentasi kali ini. Sebab, di sana akan ada
Refi. Ia ingin menunjukkan pada Refi kalau ia bisa mendapatkan wanita yang jauh
lebih baik dari cinta pertamanya itu. Ia sangat yakin kalau Yuna memiliki
kemampuan yang luar biasa dalam mengurus perusahaan.
Beberapa
menit kemudian, Yuna sudah kembali ke hadapan Yeriko. “Gimana? Mukaku udah baik
atau belum?”
Yeriko
mengamati wajah Yuna dengan seksama. “Udah.”
Yuna
langsung tersenyum sambil menepuk-nepuk pipinya.
“Udah
siap berhadapan dengan Refi? Aku mau, kamu benar-benar menunjukkan kemampuan kamu.
Jangan mau kalah sama Refi!” ujar Yeriko.
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. “Siap, Pak Bos! Aku nggak akan kalah sama dia!”
serunya penuh semangat.
Yeriko
tersenyum sambil menatap tubuh Yuna. Ia merasa bahagia dan bangga atas apa yang
telah dicapai Yuna. Meski ia adalah suami Yuna, ia tidak akan membatasi
istrinya untuk mengembangkan kemampuan bisnisnya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini ya ...
Thank
you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin
cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment