Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 417 : Mengadu Kemampuan

 


“Yun, kamu ikut aku rapat setelah ini!” perintah Yeriko saat ia baru saja kembali dari rapat bersama dewan direksi.

 

“Hah!? Aku? Aku nggak tahu apa-apa soal perusahaan.”

 

Yeriko tersenyum. Meski Yuna tak pernah ikut campur soal perusahaannya, tapi ia tak pernah meragukan kemampuan istrinya itu. “Sini!” pintanya sambil mengajak Yuna duduk bersama di meja kerjanya.

 

Yuna langsung mengikuti perintah suaminya itu.

 

Yeriko melirik jam tangannya. “Masih ada waktu satu jam untuk mempelajari ini semua.”

 

“Eh!?” Yuna menoleh ke arah Yeriko.

 

“Ah-eh ah-eh aja!” sahut Yeriko sambil memukul kening Yuna menggunakan pena yang ada di tangannya.

 

Yuna memonyongkan bibir sambil mengelus-elus dahinya. “Aku kan nggak tahu apa-apa. Kamu suka tiba-tiba kayak gini. Sama aja kayak waktu ngajak nikah tiba-tiba,” celetuk Yuna.

 

Yeriko menahan tawa sambil menatap Yuna. “Kamu nggak suka?”

 

“Awalnya nggak suka. Tapi sekarang malah suka banget!” ucapnya sambil memonyongkan bibir.

 

“Kalo gitu, aku akan kasih kamu kesempatan selama lima menit untuk bingung dulu. Setelahnya, kamu harus menikmati ini semua.”

 

Yuna terdiam sejenak sambil menggigit bibirnya.

 

“Jangan kelamaan mikirnya!” pinta Yeriko. “Lihat ini!” perintahnya sambil menunjukkan dokumen yang ada di layar laptop dan di atas mejanya. Ia menjelaskan dengan cepat dan detail kepada Yuna.

 

Yuna memerhatikan dengan serius setiap kalimat yang keluar dari mulut Yeriko. Ia pernah mempelajari tentang dunia bisnis saat masih sekolah di Melbourne. Ia juga sudah berpengalaman menangani event saat bekerja di perusahaan Wilian walau hanya sebentar. Sehingga, semua proposal yang dijelaskan oleh Yeriko. Bisa dengan mudah masuk ke dalam pikirannya.

 

“Gimana?” tanya Yeriko sambil tersenyum ke arah Yuna.

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Aku suka banget. Tapi, yang bagian ini aku masih kurang suka.”

 

“Why?”

 

“Orang melakukan kebaikan karena mereka pernah mendapatkan banyak kebaikan dalam hidup mereka. Ini proyek charity kan? Sasarannya sudah sangat tepat, hanya saja ... bagian ini perlu ditambahi!”

 

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna selama beberapa detik.

 

“Kenapa lihatin aku kayak gitu?” tanya Yuna.

 

“Aku suka aja sama cara kerja kamu,” jawab Yeriko sambil menarik tubuh Yuna ke pangkuannya. “Mmh ... kamu nggak mau ambil alih perusahaan ayah kamu?” tanyanya kemudian.

 

Yuna menghela napas. “Kenapa kamu selalu nanyain ini ke aku? Kamu udah capek ngurus aku selama ini? Makanya, kamu pengen aku ambil alih perusahaan ayah supaya nggak ngerepotin kamu lagi?”

 

Yeriko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Bukan itu maksud aku, Yun. Kamu wanita yang cerdas, juga punya pendidikan yang bagus. Alangkah baiknya kalau ...”

 

Yuna langsung bangkit dari pangkuan Yeriko. “Kalo emang kamu udah bosan sama aku, aku bakal ambil perusahaan ayahku sekarang juga!” seru Yuna kesal sambil menghentakkan kakinya.

 

Yeriko menghela napas sambil menepuk keningnya sendiri. “Salah lagi ...” gumamnya dalam hati.

 

Yuna menatap ke luar jendela sambil mengusap air matanya. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa Yeriko terus menerus menanyakan soal perusahaan ayahnya. Ia tidak ingin berebut perusahaan dengan pamannya dan mencelakai ayahnya lagi. Tapi, ia juga tidak bisa mengandalkan Yeriko terus-menerus. Ia berpikir kalau Yeriko sudah bosan dengan dirinya. Itulah sebabnya kenapa Yeriko selalu mengungkit soal perusahaan ayahnya.

 

“Yun ... kenapa nangis?” tanya Yeriko lembut sambil memeluk tubuh Yuna dari belakang.

 

“Nggak papa,” jawab Yuna sambil mengusap air matanya.

 

“Jangan selalu berpikir buruk tentang suami kamu sendiri. Gimana bisa aku bosan sama kamu? Sedangkan setiap detik yang kulalui tanpa kamu ... aku selalu rindu,” tutur Yeriko di telinga Yuna.

 

Yuna menutup wajahnya sambil tersenyum bahagia. Rasanya, jantungnya ingin melompat-lompat kegirangan mendengar ucapan Yeriko. Sepertinya, ia sudah kecanduan mendengar mulut manis Yeriko.

 

Jemari tangann Yuna menggaruk keningnya yang tidak gatal. Bagaimana ia bisa menutupi rasa malunya karena ia tiba-tiba marah pada Yeriko, bahkan mengeluarkan air mata begitu saja. “Huft, kenapa suamiku sebaik ini?” gumamnya dalam hati.

 

Yeriko terus memeluk tubuh Yuna sambil menyandarkan dagunya di bahu istrinya itu. “Yun, aku mengungkit perusahaan ayah kamu. Bukan karena aku nggak mau mengurus kamu lagi. Tapi, aku menginginkan kalian bisa menikmati apa yang seharusnya kalian miliki. Kamu tahu, aku bukan dewa yang bisa hidup selamanya. Saat aku nggak ada, kamu dan anak-anak kita bisa hidup dengan baik.”

 

Yuna langsung membalikkan tubuhnya. Ia menatap wajah Yeriko dengan mata berkaca-kaca. “Kenapa selalu ngomong kayak gitu sih!?” dengus Yuna sambil meninju dada Yeriko.

 

“Aw ...!” Yeriko memegangi dadanya. Tubuhnya terhuyung karena menahan rasa sakit di dadanya.

 

Mulut Yuna langsung menganga lebar. “Kamu nggak papa?” tanyanya langsung panik. Ia langsung memapah Yeriko untuk duduk di kursi. Dengan cepat, ia mengambilkan air minum untuk suaminya.

 

“Minum dulu!” pinta Yuna.

 

Yeriko langsung meminum air yang diberikan Yuna. Ia menarik napas beberapa kali.

 

“Ay, kamu kenapa?” tanya Yuna dengan mata berkaca-kaca saat melihat Yeriko kesulitan bernapas sambil memegangi dadanya. Ia tahu suaminya seorang pria pekerja keras. Ia takut, kalau Yeriko diam-diam mengidap penyakit mematikan seperti yang ada di dalam drama televisi.

 

Yuna langsung terisak. “Maafin aku! Aku nggak bermaksud buat mukul kamu. Aku antar ke rumah sakit sekarang juga!”

 

Yeriko menggelengkan kepala sambil meringis.

 

Yuna mengangkat lengan Yeriko dan melingkarkan ke pundaknya. “Kita ke rumah sakit sekarang!” ajaknya sambil menangis. Ia benar-benar merasa sangat bersalah karena telah melukai suaminya. Ia pikir, pukulan dari tangannya tak akan berpengaruh pada tubuh Yeriko yang kekar.

 

“Aku nggak perlu ke rumah sakit,” jawab Yeriko dengan napas tersengal. “Aku cuma perlu napas buatan dari kamu,” lanjutnya sambil tersenyum.

 

Yuna langsung menatap tajam ke arah Yeriko. “Kamu ngerjain aku!?” serunya kesal sambil melepaskan lengan Yeriko dari tubuhnya.

 

Yeriko terkekeh mendengar pertanyaan Yuna.

 

Yuna langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangannya dan terisak.

 

“Loh? Kok, nangis? Aku cuma bercanda.”

 

“Bercandanya nggak lucu!” sahut Yuna kesal. “Aku khawatir beneran. Aku bener-bener takut terjadi hal buruk sama kamu. Kamu tega banget sih ngerjain aku dengan cara kayak gini?” tutur Yuna sambil terisak.

 

“Cup ... cup ...cup ... jangan nangis lagi!” pinta Yeriko sambil menarik Yuna ke dalam pelukannya. “Aku cuma bercanda aja, sayangku.”

 

“Tapi nggak kayak gini juga. Aku sering bercanda, tapi nggak sampe segininya juga. Kamu nggak tahu gimana rasanya khawatir, ketakutan, ngerasa bersalah? Semuanya bercampur aduk jadi satu!?”

 

“Iya. Maaf!” bisik Yeriko sambil mengecup ujung kepala Yuna. “Udah, jangan nangis lagi!” pintanya sambil mengusap air mata Yuna.

 

“Jangan bercanda kayak gini lagi!” pinta Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

“Iya,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

“Janji?”

 

“Janji.”

 

Yuna tersenyum sambil memeluk erat tubuh Yeriko.

 

“Baikin wajah kamu!” perintah Yeriko. “Sepuluh menit lagi, kita pergi ke ruang rapat!” ajak Yeriko.

 

“Emangnya wajahku rusah?” tanya Yuna.

 

“Iya. Rusak karena air matamu.”

 

Yuna tertawa kecil sambil melangkah menuju kamar mandi.

 

Yeriko bersandar di meja sambil mengetuk-ngetuk meja menggunakan ujung jarinya. Ia sengaja ingin membawa Yuna untuk presentasi kali ini. Sebab, di sana akan ada Refi. Ia ingin menunjukkan pada Refi kalau ia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari cinta pertamanya itu. Ia sangat yakin kalau Yuna memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengurus perusahaan.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna sudah kembali ke hadapan Yeriko. “Gimana? Mukaku udah baik atau belum?”

 

Yeriko mengamati wajah Yuna dengan seksama. “Udah.”

 

Yuna langsung tersenyum sambil menepuk-nepuk pipinya.

 

“Udah siap berhadapan dengan Refi? Aku mau, kamu benar-benar menunjukkan kemampuan kamu. Jangan mau kalah sama Refi!” ujar Yeriko.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Siap, Pak Bos! Aku nggak akan kalah sama dia!” serunya penuh semangat.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap tubuh Yuna. Ia merasa bahagia dan bangga atas apa yang telah dicapai Yuna. Meski ia adalah suami Yuna, ia tidak akan membatasi istrinya untuk mengembangkan kemampuan bisnisnya.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini ya ...

 Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas