Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 416: Tekanan Pekerjaan

 


“Ay, semalam nggak tidur?” tanya Yuna saat ia menikmati sarapan pagi bersama suaminya.

 

“Tidur sebentar.”

 

“Pantes aja kantung matanya kelihatan. Nggak mau tidur dulu?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Ada jadwal meeting pagi ini.” Ia merogoh ponsel di saku jasnya dan menyalakan kamera depan untuk melihat wajahnya sendiri. “Kelihatan banget ya kantong mataku?”

 

Yuna mengangguk. Ia bangkit dari tempat duduk. “Aku ambilin krim mata.”

 

Yeriko menahan lengan Yuna. “Makan dulu!” perintahnya.

 

Yuna kembali duduk di kursinya.

 

“Bibi ...!” panggil Yeriko.

 

Bibi War langsung datang menghampiri Yeriko. “Ada apa, Mas?”

 

“Tolong ambilkan krim mata di kamar!” perintah Yeriko.

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

“Di meja rias aku ya, Bi. Tempatnya warna merah. Ada tulisannya SK-II R.N.A Power Eye Cream,” tutur Yuna sambil menatap Bibi War.

 

Bibi War menganggukkan kepala. Ia bergegas menaiki anak tangga menuju kamar Yeriko.

 

“Kamu diam-diam masih pake skincare?” tanya Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Kenapa masih ada di meja rias kamu?”

 

“Aku beli sebelum hamil. Semua masih aku simpan, dong. Ntar bisa dipake lagi.”

 

“Nggak expired?”

 

“Masih lama,” jawab Yuna santai.

 

“Awas aja kalo diam-diam pake skincare!”

 

“Nggak, sayangku. Aku cuma pake masker doang, biar muka nggak kusem.”

 

“Emang boleh pakai masker?”

 

Yuna berpikir sejenak. “Boleh. Boleh,” ucapnya kemudian. Otaknya masih berpikir antara boleh dan tidak.

 

“Ini, Mbak.” Bibi War muncul sambil memberikan krim mata ke arah Yuna.

 

“Thank, Bi ...!” ucapnya sambil tersenyum. Ia segera menghabiskan makanannya yang tinggal sesuap lagi.

 

Usai makan, Yuna langsung mengoleskan krim mata ke sekitar bagian mata Yeriko dengan lembut dan hati-hati. “Gimana?”

 

“Dingin. Seger!” jawab Yeriko sambil menatap Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah suaminya itu. “Bawa ini!” pintanya sambil meletakkan krim mata tersebut ke tangan Yeriko. “Walau sering begadang, nggak boleh kelihatan jelek di depan rekan bisnis atau klien.”

 

Yeriko tersenyum. “Oke. Makasih istriku tercinta ...” tutur Yeriko sambil mengecup kening Yuna. “Aku berangkat dulu, Riyan sudah datang.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati kerjanya! Semangat!”

 

Yeriko mengangguk. Ia bergegas keluar rumah.

 

Yuna juga ikut melangkahkan kakinya mengikuti Yeriko. Mengantar suaminya pergi ke kantor seperti biasa. Ia kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil suaminya benar-benar pergi.

 

Yuna segera kembali ke dalam rumahnya. Saat akan menaiki tangga, matanya tertuju pada dokumen yang ada di atas meja. “Bukannya ini dokumen yang mau dipakai meeting pagi ini?” tanyanya sambil membaca dokumen tersebut.

 

“Bi ...!” teriak Yuna.

 

“Ada apa, Mbak?” sahut Bibi War dari arah dapur.

 

“Angga sudah datang atau belum ya?”

 

“Belum.”

 

“Pesankan taksi ke kantor Yeri ya!”

 

“Bibi teleponkan Mas Angga saja ya!”

 

“Oke.” Yuna bergegas menaiki anak tangga untuk mengganti pakaian dan mengambil tas tangannya. Ia akan mengantarkan sendiri dokumen penting itu ke kantor suaminya.

 

Dua puluh menit kemudian, Angga sudah berada di depan halaman rumah Yuna, bersiap mengantar Yuna pergi ke perusahaan suaminya.

 

“Mau ke mana Nyonya Bos?” tanya Angga begitu melihat Yuna menghampiri dirinya yang menunggu di halaman rumah.

 

“Ke perusahaan,” jawab Yuna.

 

“Oke.” Angga segera membukakan pintu mobil untuk Yuna. Mereka bergegas pergi ke kantor utama Galaxy Group.

 

 

 

...

 

 

 

Di saat yang sama ...

 

“Kamu ini gimana kerjanya!” sentak Manager Proyek Galaxy Group yang sedang mengecek  proposal untuk regional dan site.

 

“Ini sudah sesuai dengan ketentuan yang diberikan, Pak.” Refi tak mau kalah. Ia terus menyanggah argumen dari atasannya.

 

“Ingat ya! Ini rapat penting untuk proyek di anak perusahaan yang sedang kamu tangani. Kalau kamu bikin proposal seperti ini, Pak Ye bakal menolak mentah-mentah proposal kamu ini.”

 

Refi terdiam sejenak. “Apa yang harus saya perbaiki?” tanya Refi.

 

“Ini ... ini ... nggak penting!” jawab manager tersebut sambil mencoret-coret proposal yang diajukan oleh Refi.

 

Refi membelalakkan matanya. “Pak, yang bener aja? Bapak coret-coret proposal saya. Presentasi sisa dua jam lagi.”

 

“Dua jam cukup untuk memperbaiki proposal ini.”

 

Refi mengerutkan hidungnya. Ia tak menyangka kalau semua atasan di perusahaan ini sangatlah kejam terhadap karyawannya. Bukan hanya level General Manager sampai ke Manager saja. Tapi Kepala bagian setiap divisi juga sama kejamnya. “Ini perusahaan atau penjara?” gumam Refi.

 

“Kamu bilang apa?” tanya manager tersebut.

 

“Eh!? Nggak, Pak. Nggak ngomong apa-apa. Apa lagi yang harus saya perbaiki?” tanya Refi sambil tersenyum.

 

“Ini ... dasar kamu bikin event ini masih kurang greget. Kalau kayak gini, sasaran kita hanya kelompok tertentu saja. Tidak bisa mencakup semua kalangan. Saya yakin, proposal yang seperti ini, sudah tidak asing lagi untuk Pak Ye. Yang kayak gini sudah pasaran.”

 

“Tapi, Pak ...”

 

Manager tersebut tersenyum sinis ke arah Refi. “Kamu perbaiki proposal ini! Masih ada waktu dua jam sebelum presentasi. Pak Ye bisa dengan mudahnya mengenali kalau proposal ini kamu copy paste dari internet.”

 

Refi langsung mengerutkan bibirnya. “Dari mana dia tahu kalau aku copy paste dari internet?” batinnya.

 

Manager tersebut tersenyum menatap Refi. “Semua orang yang ada di perusahaan ini sudah berpengalaman. Bukan anak kemarin sore seperti kamu.”

 

Refi mendengus kesal sambil mengambil proposal dari tangan manager tersebut. “Saya baikin sekarang juga!”

 

“Silakan ...!”

 

Refi langsung keluar dari ruangan manager tersebut. Ia langsung berhadapan dengan Yuna yang kebetulan baru sampai di kantor suaminya tersebut.

 

“Kamu ngapain di sini?” tanya Refi ketus.

 

Yuna menahan tawa mendengar pertanyaan Refi. “Harusnya, aku yang tanya. Kamu ngapain di sini?”

 

“Aku kerja di anak perusahaan ini. Nggak ada yang salah kalau aku pergi ke kantor utama. Sebaiknya, kamu hati-hati karena aku bakal ngerebut suami kamu lagi!” tutur Refi sambil melangkah mendekati Yuna.

 

Angga langsung menghalau Refi agar tidak mendekati Yuna.

 

“Kamu ...!?” Refi mendelik ke arah Angga.

 

“Maaf,  Nyonya Bos adalah tanggung jawab saya,” sergah Angga. Ia langsung berbalik menatap Yuna. “Mari, Nyonya!” ajaknya sambil mendampingi langkah Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil menatap Refi. “Aku naik dulu ya! Mau ketemu sama suamiku tercinta sekaligus pemilik perusahaan ini,” pamitnya sambil melambaikan tangan.

 

 Refi menggigit bibir bawahnya sambil menghentakkan kaki. Ia menatap kesal ke arah Yuna yang berjalan menjauh dari pandangannya.

 

Yuna melangkahkan kakinya menuju lift bersama Angga. Ia langsung bergegas naik ke ruang kerja suaminya yang ada di lantai paling atas.

 

“Selamat pagi, Bu!” sapa dua orang sekretaris Yeriko yang sedang sibuk di meja kerjanya.

 

“Pagi ...!” sapa Yuna sambil tersenyum ramah. “Bapak di dalam?”

 

“Masih di dalam,” jawab salah seorang sekretaris Yeriko.

 

Yuna tersenyum. Ia langsung melangkah masuk ke dalam ruang kerja suaminya.

 

“Pagi ...!” sapa Yuna sambil menghampiri Yeriko yang sedang berbincang dengan asisten pribadinya.

 

Yeriko langsung berbalik. “Kamu!?” Ia mengangkat kedua alisnya. “Ada apa? Pagi-pagi udah ke sini?”

 

Yuna langsung mengangkat dokumen yang ada di tangannya.

 

Yeriko langsung memutar kepalanya ke arah Riyan, “Yan, dokumen aku kenapa bisa ketinggalan?” tanya Yeriko.

 

“Eh!? Kapan Pak Bos kasih dokumen itu? Bukannya, tadi saya belum sempat keluar mobil. Pak Bos sudah buru-buru masuk mobil duluan?”

 

“Kamu itu asisten pribadiku. Kenapa bisa sampai lalai kayak gini? Ini dokumen penting buat kita meeting. Laptopku, di mana?” tanya Yeriko.

 

Riyan langsung menunjuk tas laptop yang ada di atas meja menggunakan dagunya.

 

“Lain kali, jangan sampai ada yang ketinggalan! Kasihan istriku kalo harus sampai ke sini cuma buat ngantar dokumen!”

 

“Ay, kamu yang lupa. Kenapa malah marahin Riyan?” sahut Yuna lembut.

 

Yeriko gelagapan mendengar pertanyaan Yuna. “Riyan itu asistenku. Harusnya, dia lebih teliti lagi. Dia kan tahu kalau dokumen ini penting banget buat rapat. Semalam, dia juga yang ngasih dokumen ini untuk verifikasi. Harusnya dia perhatiin semua yang mau dipakai rapat hari ini. Kayak gitu aja minta diajarin!”

 

Yuna terdiam sesaat, ia menoleh ke arah Riyan yang memilih untuk diam daripada harus membantah ucapan bosnya.

 

“Ay, aku nggak papa ke sini. Lagian, aku bosan di rumah terus. Emangnya, aku nggak boleh main ke perusahaan?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

“Boleh. Tapi, pagi-pagi gini kamu harusnya masih santai di rumah. Gara-gara Riyan, kamu harus ke sini.”

 

Yuna tersenyum sambil merapikan kerah jas Yeriko. “Hidupku udah terlalu santai. Aku seneng banget bisa ke perusahaan pagi-pagi gini. Aku merasa bisa jadi istri yang berguna. Kamu nggak suka kalau aku ada di sini?” tutur Yuna sambil memasang wajah sedih.

 

“Aku suka kamu ada di sini. Cuma nggak mau kalau kamu kecapekan,” jawab Yeriko sambil mengusap rambut Yuna.

 

“Aku nggak capek, kok. Toh, ke sini juga diantar pakai mobil. Kamu jangan marah-marah lagi ya! Apalagi sampai marahin Riyan yang nggak salah sama sekali.”

 

“Nggak salah? Jelas-jelas dia sudah lalai sama pekerjaannya sendiri.”

 

“Ay ...!” Yuna langsung menatap mata Yeriko.

 

Yeriko berdecak, kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. “Oke, oke. Aku mau siap-siap rapat dulu. Kamu tunggu di sini atau mau langsung pulang?”

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Boleh tunggu di sini?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Ikut rapat juga boleh.”

 

“Hah!?”

 

“Pagi ini aku ada meeting sama dewan direksi sampai jam sembilan. Setelahnya, mau bahas soal proyek charity perusahaan. Kamu mau ikut?”

 

Yuna terdiam sambil berpikir sejenak.

 

Yeriko menaikkan dua alisnya. “Gimana?”

 

“Aku nggak punya nyali besar berhadapan sama dewan direksi. Aku tunggu di kamar aja ya, gimana?” Yuna meringis sambil menunjuk pintu kamar yang ada di belakang meja kerja Yeriko.

 

Yeriko mengangguk. Ia mengecup kening Yuna dan bergegas melangkah pergi bersama Riyan.

 

“Eh, wait!” seru Yuna.

 

“Ada apa?” tanya Yeriko sambil memutar kepalanya.

 

“Tadi, aku lihat si Refi ada di bawah. Apa dia udah naik jabatan ke kantor utama?”

 

Yeriko menaikkan kedua alisnya. “Harusnya sih enggak.”

 

“Terus?” tanya Yuna.

 

Riyan berbisik ke telinga Yeriko.

 

“Oh ... jam sepuluh nanti ada meeting soal program charity yang akan diadakan oleh perusahaan kita. Semua anak perusahaan terlibat. Termasuk perusahaan tempat Refi bekerja.”

 

“Oh. Jadi, dia bakal ketemu kamu beneran?” tanya Yuna sambil membalikkan badannya. Ia melangkahkan kakinya tak bersemangat memasuki kamar pribadi milik Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap punggung Yuna. Ia bisa mengerti kekhawatiran yang menyelimuti hati istrinya. Hanya saja, ia harus segera pergi ke ruang rapat dan tidak punya waktu lagi untuk mengurus Yuna. Ia akan menyelesaikannya setelah selesai rapat dengan dewan direksi di perusahaannya.

 

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih lima bintang di kolom komentar. Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas