“Ay,
semalam nggak tidur?” tanya Yuna saat ia menikmati sarapan pagi bersama
suaminya.
“Tidur
sebentar.”
“Pantes
aja kantung matanya kelihatan. Nggak mau tidur dulu?” tanya Yuna.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Ada jadwal meeting pagi ini.” Ia merogoh ponsel di saku
jasnya dan menyalakan kamera depan untuk melihat wajahnya sendiri. “Kelihatan
banget ya kantong mataku?”
Yuna
mengangguk. Ia bangkit dari tempat duduk. “Aku ambilin krim mata.”
Yeriko
menahan lengan Yuna. “Makan dulu!” perintahnya.
Yuna
kembali duduk di kursinya.
“Bibi
...!” panggil Yeriko.
Bibi
War langsung datang menghampiri Yeriko. “Ada apa, Mas?”
“Tolong
ambilkan krim mata di kamar!” perintah Yeriko.
Bibi
War menganggukkan kepala.
“Di
meja rias aku ya, Bi. Tempatnya warna merah. Ada tulisannya SK-II R.N.A Power
Eye Cream,” tutur Yuna sambil menatap Bibi War.
Bibi
War menganggukkan kepala. Ia bergegas menaiki anak tangga menuju kamar Yeriko.
“Kamu
diam-diam masih pake skincare?” tanya Yeriko.
Yuna
menggelengkan kepala.
“Kenapa
masih ada di meja rias kamu?”
“Aku
beli sebelum hamil. Semua masih aku simpan, dong. Ntar bisa dipake lagi.”
“Nggak
expired?”
“Masih
lama,” jawab Yuna santai.
“Awas
aja kalo diam-diam pake skincare!”
“Nggak,
sayangku. Aku cuma pake masker doang, biar muka nggak kusem.”
“Emang
boleh pakai masker?”
Yuna
berpikir sejenak. “Boleh. Boleh,” ucapnya kemudian. Otaknya masih berpikir antara boleh
dan tidak.
“Ini,
Mbak.” Bibi War muncul sambil memberikan krim mata ke arah Yuna.
“Thank,
Bi ...!” ucapnya sambil tersenyum. Ia segera menghabiskan makanannya yang
tinggal sesuap lagi.
Usai
makan, Yuna langsung mengoleskan krim mata ke sekitar bagian mata Yeriko dengan
lembut dan hati-hati. “Gimana?”
“Dingin.
Seger!” jawab Yeriko sambil menatap Yuna.
Yuna
tersenyum sambil menatap wajah suaminya itu. “Bawa ini!” pintanya sambil
meletakkan krim mata tersebut ke tangan Yeriko. “Walau sering begadang, nggak
boleh kelihatan jelek di depan rekan bisnis atau klien.”
Yeriko
tersenyum. “Oke. Makasih istriku tercinta ...” tutur Yeriko sambil mengecup
kening Yuna. “Aku berangkat dulu, Riyan sudah datang.”
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati kerjanya! Semangat!”
Yeriko
mengangguk. Ia bergegas keluar rumah.
Yuna
juga ikut melangkahkan kakinya mengikuti Yeriko. Mengantar suaminya pergi ke
kantor seperti biasa. Ia kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil suaminya
benar-benar pergi.
Yuna
segera kembali ke dalam rumahnya. Saat akan menaiki tangga, matanya tertuju
pada dokumen yang ada di atas meja. “Bukannya ini dokumen yang mau dipakai
meeting pagi ini?” tanyanya sambil membaca dokumen tersebut.
“Bi
...!” teriak Yuna.
“Ada
apa, Mbak?” sahut Bibi War dari arah dapur.
“Angga
sudah datang atau belum ya?”
“Belum.”
“Pesankan
taksi ke kantor Yeri ya!”
“Bibi
teleponkan Mas Angga saja ya!”
“Oke.”
Yuna bergegas menaiki anak tangga untuk mengganti pakaian dan mengambil tas
tangannya. Ia akan mengantarkan sendiri dokumen penting itu ke kantor suaminya.
Dua
puluh menit kemudian, Angga sudah berada di depan halaman rumah Yuna, bersiap
mengantar Yuna pergi ke perusahaan suaminya.
“Mau
ke mana Nyonya Bos?” tanya Angga begitu melihat Yuna menghampiri dirinya yang
menunggu di halaman rumah.
“Ke
perusahaan,” jawab Yuna.
“Oke.”
Angga segera membukakan pintu mobil untuk Yuna. Mereka bergegas pergi ke kantor
utama Galaxy Group.
...
Di
saat yang sama ...
“Kamu
ini gimana kerjanya!” sentak Manager Proyek Galaxy Group yang sedang
mengecek proposal untuk regional dan site.
“Ini
sudah sesuai dengan ketentuan yang diberikan, Pak.” Refi tak mau kalah. Ia
terus menyanggah argumen dari atasannya.
“Ingat
ya! Ini rapat penting untuk proyek di anak perusahaan yang sedang kamu tangani.
Kalau kamu bikin proposal seperti ini, Pak Ye bakal menolak mentah-mentah
proposal kamu ini.”
Refi
terdiam sejenak. “Apa yang harus saya perbaiki?” tanya Refi.
“Ini
... ini ... nggak penting!” jawab manager tersebut sambil mencoret-coret
proposal yang diajukan oleh Refi.
Refi
membelalakkan matanya. “Pak, yang bener aja? Bapak coret-coret proposal saya.
Presentasi sisa dua jam lagi.”
“Dua
jam cukup untuk memperbaiki proposal ini.”
Refi
mengerutkan hidungnya. Ia tak menyangka kalau semua atasan di perusahaan ini
sangatlah kejam terhadap karyawannya. Bukan hanya level General Manager sampai
ke Manager saja. Tapi Kepala bagian setiap divisi juga sama kejamnya. “Ini
perusahaan atau penjara?” gumam Refi.
“Kamu
bilang apa?” tanya manager tersebut.
“Eh!?
Nggak, Pak. Nggak ngomong apa-apa. Apa lagi yang harus saya perbaiki?” tanya
Refi sambil tersenyum.
“Ini
... dasar kamu bikin event ini masih kurang greget. Kalau kayak gini, sasaran
kita hanya kelompok tertentu saja. Tidak bisa mencakup semua kalangan. Saya
yakin, proposal yang seperti ini, sudah tidak asing lagi untuk Pak Ye. Yang
kayak gini sudah pasaran.”
“Tapi,
Pak ...”
Manager
tersebut tersenyum sinis ke arah Refi. “Kamu perbaiki proposal ini! Masih ada
waktu dua jam sebelum presentasi. Pak Ye bisa dengan mudahnya mengenali kalau
proposal ini kamu copy paste dari internet.”
Refi
langsung mengerutkan bibirnya. “Dari mana dia tahu kalau aku copy paste dari
internet?” batinnya.
Manager
tersebut tersenyum menatap Refi. “Semua orang yang ada di perusahaan ini sudah
berpengalaman. Bukan anak kemarin sore seperti kamu.”
Refi
mendengus kesal sambil mengambil proposal dari tangan manager tersebut. “Saya
baikin sekarang juga!”
“Silakan
...!”
Refi
langsung keluar dari ruangan manager tersebut. Ia langsung berhadapan dengan
Yuna yang kebetulan baru sampai di kantor suaminya tersebut.
“Kamu
ngapain di sini?” tanya Refi ketus.
Yuna
menahan tawa mendengar pertanyaan Refi. “Harusnya, aku yang tanya. Kamu ngapain
di sini?”
“Aku
kerja di anak perusahaan ini. Nggak ada yang salah kalau aku pergi ke kantor
utama. Sebaiknya, kamu hati-hati karena aku bakal ngerebut suami kamu lagi!”
tutur Refi sambil melangkah mendekati Yuna.
Angga
langsung menghalau Refi agar tidak mendekati Yuna.
“Kamu
...!?” Refi mendelik ke arah Angga.
“Maaf,
Nyonya Bos adalah tanggung jawab saya,” sergah Angga. Ia langsung berbalik
menatap Yuna. “Mari, Nyonya!” ajaknya sambil mendampingi langkah Yuna.
Yuna
tersenyum sambil menatap Refi. “Aku naik dulu ya! Mau ketemu sama suamiku
tercinta sekaligus pemilik perusahaan ini,” pamitnya sambil melambaikan tangan.
Refi
menggigit bibir bawahnya sambil menghentakkan kaki. Ia menatap kesal ke arah
Yuna yang berjalan menjauh dari pandangannya.
Yuna
melangkahkan kakinya menuju lift bersama Angga. Ia langsung bergegas naik ke
ruang kerja suaminya yang ada di lantai paling atas.
“Selamat
pagi, Bu!” sapa dua orang sekretaris Yeriko yang sedang sibuk di meja kerjanya.
“Pagi
...!” sapa Yuna sambil tersenyum ramah. “Bapak di dalam?”
“Masih
di dalam,” jawab salah seorang sekretaris Yeriko.
Yuna
tersenyum. Ia langsung melangkah masuk ke dalam ruang kerja suaminya.
“Pagi
...!” sapa Yuna sambil menghampiri Yeriko yang sedang berbincang dengan asisten
pribadinya.
Yeriko
langsung berbalik. “Kamu!?” Ia mengangkat kedua alisnya. “Ada apa? Pagi-pagi
udah ke sini?”
Yuna
langsung mengangkat dokumen yang ada di tangannya.
Yeriko
langsung memutar kepalanya ke arah Riyan, “Yan, dokumen aku kenapa bisa
ketinggalan?” tanya Yeriko.
“Eh!?
Kapan Pak Bos kasih dokumen itu? Bukannya, tadi saya belum sempat keluar mobil.
Pak Bos sudah buru-buru masuk mobil duluan?”
“Kamu
itu asisten pribadiku. Kenapa bisa sampai lalai kayak gini? Ini dokumen penting
buat kita meeting. Laptopku, di mana?” tanya Yeriko.
Riyan
langsung menunjuk tas laptop yang ada di atas meja menggunakan dagunya.
“Lain
kali, jangan sampai ada yang ketinggalan! Kasihan istriku kalo harus sampai ke
sini cuma buat ngantar dokumen!”
“Ay,
kamu yang lupa. Kenapa malah marahin Riyan?” sahut Yuna lembut.
Yeriko
gelagapan mendengar pertanyaan Yuna. “Riyan itu asistenku. Harusnya, dia lebih
teliti lagi. Dia kan tahu kalau dokumen ini penting banget buat rapat. Semalam,
dia juga yang ngasih dokumen ini untuk verifikasi. Harusnya dia perhatiin semua
yang mau dipakai rapat hari ini. Kayak gitu aja minta diajarin!”
Yuna
terdiam sesaat, ia menoleh ke arah Riyan yang memilih untuk diam daripada harus
membantah ucapan bosnya.
“Ay,
aku nggak papa ke sini. Lagian, aku bosan di rumah terus. Emangnya, aku nggak
boleh main ke perusahaan?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.
“Boleh.
Tapi, pagi-pagi gini kamu harusnya masih santai di rumah. Gara-gara Riyan, kamu
harus ke sini.”
Yuna
tersenyum sambil merapikan kerah jas Yeriko. “Hidupku udah terlalu santai. Aku
seneng banget bisa ke perusahaan pagi-pagi gini. Aku merasa bisa jadi istri
yang berguna. Kamu nggak suka kalau aku ada di sini?” tutur Yuna sambil
memasang wajah sedih.
“Aku
suka kamu ada di sini. Cuma nggak mau kalau kamu kecapekan,” jawab Yeriko
sambil mengusap rambut Yuna.
“Aku
nggak capek, kok. Toh, ke sini juga diantar pakai mobil. Kamu jangan
marah-marah lagi ya! Apalagi sampai marahin Riyan yang nggak salah sama
sekali.”
“Nggak
salah? Jelas-jelas dia sudah lalai sama pekerjaannya sendiri.”
“Ay
...!” Yuna langsung menatap mata Yeriko.
Yeriko
berdecak, kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. “Oke, oke. Aku mau siap-siap
rapat dulu. Kamu tunggu di sini atau mau langsung pulang?”
Yuna
tersenyum menatap Yeriko. “Boleh tunggu di sini?”
Yeriko
menganggukkan kepala. “Ikut rapat juga boleh.”
“Hah!?”
“Pagi
ini aku ada meeting sama dewan direksi sampai jam sembilan. Setelahnya, mau
bahas soal proyek charity perusahaan. Kamu mau ikut?”
Yuna
terdiam sambil berpikir sejenak.
Yeriko
menaikkan dua alisnya. “Gimana?”
“Aku
nggak punya nyali besar berhadapan sama dewan direksi. Aku tunggu di kamar aja
ya, gimana?” Yuna meringis sambil menunjuk pintu kamar yang ada di belakang
meja kerja Yeriko.
Yeriko
mengangguk. Ia mengecup kening Yuna dan bergegas melangkah pergi bersama Riyan.
“Eh,
wait!” seru Yuna.
“Ada
apa?” tanya Yeriko sambil memutar kepalanya.
“Tadi,
aku lihat si Refi ada di bawah. Apa dia udah naik jabatan ke kantor utama?”
Yeriko
menaikkan kedua alisnya. “Harusnya sih enggak.”
“Terus?”
tanya Yuna.
Riyan
berbisik ke telinga Yeriko.
“Oh
... jam sepuluh nanti ada meeting soal program charity yang akan diadakan oleh
perusahaan kita. Semua anak perusahaan terlibat. Termasuk perusahaan tempat
Refi bekerja.”
“Oh.
Jadi, dia bakal ketemu kamu beneran?” tanya Yuna sambil membalikkan badannya.
Ia melangkahkan kakinya tak bersemangat memasuki kamar pribadi milik Yeriko.
Yeriko
tersenyum kecil menatap punggung Yuna. Ia bisa mengerti kekhawatiran yang
menyelimuti hati istrinya. Hanya saja, ia harus segera pergi ke ruang rapat dan
tidak punya waktu lagi untuk mengurus Yuna. Ia akan menyelesaikannya setelah
selesai rapat dengan dewan direksi di perusahaannya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini dengan cara kasih lima
bintang di kolom komentar. Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk
cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment