Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 415 : One Night Stand

 


Bellina membuka mata sambil memijat keningnya yang berdenyut. Ia menatap langit-langit kamar sambil mengedarkan pandangannya. “Aku di mana?” tanyanya lirih.

 

Bellina membuka selimut dan melihat tubuhnya yang tak mengenakan pakaian. “Oh ... My God! Apa yang sudah terjadi sama aku?” bisik Bellina sambil bangkit dari tempat tidur. Ia menggulung selimut ke tubuhnya sambil berusaha meraih gaunnya yang berserakan di lantai.

 

“Ini kemeja siapa?” tanya Bellina sambil mengangkat pakaian pria yang juga ada di lantai tersebut. “Celana?” Ia semakin bingung dengan apa yang sudah terjadi.

 

Bellina memejamkan mata, ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi padanya semalam. Yang ia ingat, ia sedang berada di dalam klub malam seorang diri. Kemudian ia bertemu dengan seorang pria tampan yang mengajaknya bicara. Setelahnya, ia tak bisa mengingat apa yang terjadi pada dirinya.

 

KREEEEK ...!

 

Bellina langsung menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. Ia melongo saat melihat sosok pria sedang mengusap-usap rambutnya yang basah menggunakan handuk. Dadanya yang terbuka, begitu menggoda dan hampir membuat seluruh liur Bellina keluar dari tempatnya. “Ganteng banget!” batinnya.

 

Detik berikutnya, Bellina menyadari sebuah kesalahan besar dalam hidupnya. Bagaimana ia bisa bersama pria asing di dalam kamar dalam keadaan tidak berpakaian. “Kamu siapa?” tanya Bellina sambil menengadahkan kepalanya menatap Juna.

 

Juna tersenyum sambil menatap Bellina yang masih berjongkok di depannya. “Kamu lupa?”

 

Bellina memejamkan mata sambil memukul-mukul kepalanya. Ia tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi semalam.

 

Juna tersenyum, ia ikut berjongkok di hadapan Bellina. Ia terus mendekatkan wajahnya ke wajah Bellina.

 

Bellina langsung mundur sambil memegang erat selimut yang menutupi tubuhnya.

 

Juna tertawa kecil. “Buat apa kamu malu? Aku sudah lihat semuanya.”

 

Bellina menggelengkan kepala. “Nggak mungkin.”

 

“Nggak mungkin?” tanya Juna sambil tersenyum. “Semalam aku sangat menikmati permainan kamu. One night stand sama wanita yang sudah bersuami, ternyata lebih menyenangkan dan menggairahkan. Aku sangat puas ...” lanjutnya sambil menyentuh dagu Bellina.

 

Bellina langsung menepis tangan Juna. “Kamu tahu dari mana kalau aku sudah menikah?”

 

Juna tersenyum sinis. “Aku bahkan tahu kalau kamu adalah istri Wilian Wijaya.”

 

Bellina membelalakkan matanya. “Kamu ...!?”

 

Juna tersenyum menatap Bellina. “Kamu nggak perlu khawatir!” pintanya lirih. “Aku akan menjaga rahasia ini selama kamu mau nurut sama aku.”

 

Bellina membelalakkan matanya. “Kamu mau apa dari aku?”

 

Juna tersenyum sinis ke arah Bellina. “Kamu istri orang kaya, apa yang bisa kamu kasih buat aku?”

 

Bellina menarik napas sambil memejamkan matanya. Ia sangat mengerti apa yang diinginkan oleh pria yang ada di hadapannya ini. “Mau berapa?”

 

“Pantasnya berapa?”

 

“Aku akan kasih berapa pun yang kamu mau. Asal kamu tutup mulut!” pinta Bellina.

 

Juna tersenyum sinis sambil bangkit dari lantai. Ia membuka lemari dan mencari pakaian ganti. “Semuanya tergantung dari berapa banyak yang kamu kasih ke aku.”

 

Bellina melirik tajam ke arah Juna yang mengganti pakaiannya dengan santai. Ia masih tak percaya kalau dirinya telah bercinta dengan pria lain. Ingin sekali ia menolak kenyataan yang terjadi. Tapi melihat dirinya yang telanjang di kamar itu bersama pria lain, membuatnya pasrah menerima kenyataan kalau ia sudah tidur bersama Juna.

 

Juna tersenyum sinis sambil melirik Bellina yang masih terduduk di lantai. “Mau sampai kapan duduk di situ terus?”

 

“Sampai kamu keluar dari sini.”

 

“Aku nggak akan keluar sebelum kamu menuhi janjimu.”

 

“Iya, iya. Aku bayar!” seru Bellina kesal.

 

“Kamu pakai mobile banking ‘kan?” tanya Juna sambil meraih tas tangan milik Bellina dan melemparkan ke pangkuan Bellina begitu saja.

 

Bellina langsung merogoh ponsel yang ada di dalam tas tangannya. “Berapa nomor rekening kamu?”

 

Juna langsung menyebutkan nomor rekening miliknya.

 

Bellina menggigit bibir saat membaca nama Arjuna Pranapati di layar ponselnya saat ingin mengirimkan uang.

 

“Kenapa?” tanya Juna sambil memerhatikan wajah Bellina.

 

Bellina memilih untuk keluar dari aplikasi mobile banking. “Aku nggak bisa transfer.”

 

“Why?” tanya Juna sambil menatap Bellina. “Oke. Aku nggak maksa, kok. Aku juga bukan pria yang kekurangan uang.

 

“Aku kasih tunai. Kamu nggak perlu khawatir!” sahut Bellina kesal. “Bisa keluar, nggak? Aku mau ganti baju.”

 

“Ganti aja!” pinta Juna sambil duduk santai di tempat tidur.

 

“Kamu!?” Bellina mendelik ke arah Juna. Ia menarik selimut yang menutupi tubuhnya dan berlari ke kamar mandi.

 

“Aargh ...! Kenapa semuanya jadi gini? Kenapa aku nggak ingat apa pun?” gumam Bellina sambil mengetuk-ngetuk dahinya. Ia masih berusaha mengingat apa yang telah terjadi padanya semalam.

 

“Apa aku udah beneran tidur sama cowok itu? Kenapa aku nggak bisa ingat sama sekali?” gumam Bellina.

 

Kali ini, Bellina merasa dimanfaatkan oleh pria itu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Bagaimana jika Lian mengetahui hal ini? Hidupnya bisa habis saat itu juga.

 

Bellina membasuh wajahnya beberapa kali. Ia masih tak bisa berpikir dengan baik.

 

“Huft, nggak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain menghadapinya,” gumam Bellina. Ia tidak menyangka kalau hidupnya akan diperas oleh seorang pria yang sudah menidurinya.

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. Ia memastikan kalau pakaian dan riasannya sudah rapi kembali. Ia langsung melangkah keluar dari kamar mandi.

 

 

 

Juna masih duduk santai di atas tempat tidur. “Mau pulang sekarang?”

 

Bellina mengangguk. “Aku nggak akan berlama-lama ada di tempat ini.”

 

“Mau aku antar?” tanya Juna.

 

“Nggak perlu. Aku bisa pulang sendiri.”

 

“Oke.” Juna mengangguk-anggukkan kepalanya. “Silakan!”

 

“Jangan lupa penutup mulut buat aku!” lanjut Juna berseru. “Kalau nggak sanggup tutup pake uang, kamu bisa tutup mulutku pakai bibirmu setiap hari.”

 

“Cowok gila!” Bellina melangkah keluar dari kamar tersebut. Ia benar-benar kesal dengan pria yang sengaja menjebaknya hingga berada dalam keadaan yang serba salah seperti ini.

 

“Siaaal ...! Kenapa hidupku selalu sial!?” seru Bellina saat ia sudah keluar dari apartemen Juna.

 

“Gimana bisa aku tidur sama cowok lain? Cowok itu emang keren, ganteng dan tubuhnya kekar. Mmh ... kenapa aku nggak bisa mengingat apa pun ya?”

 

“Sebenarnya, apa yang dimau sama cowok itu? Kayaknya, dia nggak begitu tertarik dengan uang.”

 

 

 

“Gimana bisa aku mengkhianati Lian? Mmh ... bukannya Lian juga selama ini selalu mengkhianati aku? Dia nggak pernah bisa setia sama aku. Sibuk mikirin Yuna terus. Suami macam apa!?” celetuk Bellina.

 

Bellina menghentikan taksi yang kebetulan lewat. Ia langsung menuju tempat ia memarkirkan mobil dan bergegas kembali ke rumahnya.

 

Sepanjang perjalanan, Bellina terus memaki dirinya sendiri karena begitu mudahnya dikendalikan oleh orang lain. Terlebih ia tidak bisa mengingat sedikit pun detail kejadian yang terjadi antara Juna dan dirinya.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih lima bintang di kolom komentar. Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 414 : Jebakan untuk Bellina

 


“Hai, cantik ...!” sapa salah seorang pria sambil menghampiri Bellina.

 

Bellina langsung menoleh ke arah pria bertubuh jangkung yang ada di hadapannya itu. Melihat wajahnya selama beberapa detik, tidak menarik sedikit pun.

 

“Mau aku temenin?” tanya Pria itu sambil tersenyum manis.

 

Bellina menggelengkan kepala. “Pergi jauh-jauh dari sini!” perintahnya.

 

Salah seorang pria menghampiri pria jangkung tersebut, ia ikut menggoda Bellina. Diikuti dengan pria lain yang berdatangan mengerubungi tubuh Bellina.

 

“Kalian mau apa?” tanya Bellina.

 

“Kamu kelihatan jago minum. Gimana kalau kita semua temani kamu minum?”

 

Bellina menggelengkan kepala. “Kalian semua jauh-jauh dari aku! Kalo berani macam-macam, aku bakal laporin kalian semua ke polisi!” serunya kesal.

 

Pria-pria itu langsung menjauhi Bellina satu per satu. Mereka terlihat saling berbisik satu sama lain sambil melirik tubuh Bellina yang putih dan seksi.

 

“Ganggu ketenangan orang aja!” umpat Bellina lirih.

 

 

 

Bellina sangat kesal dengan pria-pria yang mencoba mendekatinya. Ia ingin menghabiskan waktunya seorang diri. Ia masih tidak mengerti, mengapa semua orang yang bersikap baik terhadap Yuna.

 

 

 

“Yuna sialan! Kenapa semua orang selalu baik sama Yuna? Suamiku, Andre, bahkan tunangan Andre yang bego itu pun suka sama dia,” ucap Bellina sambil menikmati bir yang ada di tangannya.

 

“Sudah lama banget, nggak ngerasain sebahagia ini,” tutur Bellina sambil menatap air yang ada di dalam gelasnya. “Sudah lama nggak pernah mabuk. Malam ini, aku akan minum sepuasnya sampai mabuk.”

 

Bellina mulai menangis. Meratapi hidupnya yang kacau beberapa belakangan ini. Ia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya lagi karena sudah berada di bawah pengaruh alkohol.

 

“Kenapa nasibku kayak gini?” seru Bellina sambil terisak. “Kenapa aku selalu kalah sama dia? Kenapa ...? Bahkan suamiku sendiri, lebih peduli sama dia daripada sama aku.”

 

Bellina menjatuhkan wajahnya ke atas meja. Air matanya terus mengalir sambil menatap sloki yang ada di tangan kanannya.

 

Seorang pria bertubuh tinggi tiba-tiba menghampiri Bellina sambil mengusap air mata Bellina yang membasahi pipi. Ia tersenyum sambil menatap Bellina tanpa mengucap sepatah kata.

 

Bellina menatap pria muda yang ada di depannya. Samar-samar, ia melihat pria itu mirip dengan Wilian beberapa tahun lalu. Alisnya yang tebal dengan mata yang begitu hangat. Wajah asia yang khas, berkulit putih, hidung yang tinggi. Rambutnya yang berwarna cokelat, senada dengan warna bola matanya. Bibir bawahnya yang terbelah begitu menggoda. Setiap wanita yang melihatnya, tak ingin menyia-nyiakan pemandangan ini begitu saja. Saat tersenyum, pria itu terlihat sangat manis dengan gingsul di kanan dan kirinya.

 

“Kamu siapa?” tanya Bellina sambil memicingkan mata menatap pria itu.

 

“Kamu lupa? Aku yang menyelamatkan kamu.”

 

“Menyelamatkan?” Bellina mengernyitkan dahi sambil memicingkan mata. Ia berusaha membuka semua ingatan masa lalunya. Namun, ia tidak menemukan apa pun tentang pria yang ada di hadapannya itu.

 

Pria itu mengangguk sambil tersenyum. “Namaku Arjuna Pranapati. Panggil aja Juna!”

 

Bellina mengernyitkan dahinya. “Arjuna Pranapati? Namamu kayak tokoh wayang,” celetuk Bellina. “Zaman sekarang, masih ada orang yang pakai nama begitu?”

 

Juna tersenyum sambil menatap Bellina. “Identitas negara kita memang terkenal dengan wayangnya. Aku lahir di Indonesia. Wajar kalau namaku Indonesia banget. Walau ibuku berasal dari Tiongkok, ayahku asli orang Jawa dan memberikan nama sesuai dengan adat dan budaya nenek moyang. Ada yang salah?”

 

Bellina menggelengkan kepala. “Aneh aja. Zaman udah modern, masih ada aja yang pakai nama kuno,” celetuknya.

 

Arjuna hanya tersenyum menanggapi ucapan Bellina.

 

Bellina mengangkat wajah sambil memerhatikan wajah Arjuna. “Tapi ... kamu ganteng juga.”

 

Juna tertawa kecil menanggapi ucapan Bellina. “Kamu sudah mabuk kayak gini, masih bisa lihat cowok ganteng dengan baik?”

 

Bellina mengernyitkan dahinya. “Siapa yang bilang aku mabuk, hah!?” tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Juna.

 

Juna mengangkat kedua alisnya. Ia bisa mencium aroma alkohol yang kuat dari tubuh Bellina.

 

Bellina terus menatap wajah Juna selama beberapa detik. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. “Jangan bergerak!” pintanya.

 

Juna menggelengkan kepala. “Aku nggak bergerak sama sekali.”

 

“Kamu jangan gerak-gerak kayak gitu! Aku pusing!” seru Bellina.

 

Juna tertawa kecil melihat Bellina yang sudah berada di bawah pengaruh alkohol. “Ini cewek lucu juga,” batinnya sambil menatap pipi Bellina yang memerah.

 

Bellina menggoyang-goyangkan kepala sambil memejamkan mata. Saat ia membuka mata, semua lantai dan atap ruangan terus berputar. Ia berusaha meraih dada pria yang ada di sampingnya itu. Saat tangannya baru akan mencapai tubuh pria itu, bayangan pria di hadapannya semakin samar, kemudian menghilang dalam kegelapan.

 

“Bang Jun ...!” seru seorang bartender begitu melihat tubuh Bellina tersungkur ke dalam pelukkan Juna dan tidak sadarkan diri. Ia langsung memanggil seorang pelayan agar menyingkirkan Bellina dari tubuh Bosnya.

 

“Nggak papa. Biar aku tangani sendiri. Dia temenku,” tutur Juna sambil memeluk tubuh Bellina.

 

Pelayan dan bartender yang ada di sana saling pandang. Biasanya, bos mereka tidak pernah mau mengurus pelanggan yang sedang mabuk. Kali ini, bosnya sungguh mengurus wanita mabuk itu seorang diri.

 

Juna tersenyum kecil. Ia mengangkat tubuh Bellina perlahan. “Siapkan mobil saya!” perintahnya pada pelayan yang ada di klub tersebut.

 

“Oke, Bang!” Pelayan yang disuruh menganggukkan kepala dan bergegas pergi menyiapkan mobil bosnya.

 

Juna langsung menggendong Bellina keluar dari klub miliknya. Ia melangkah perlahan, masuk ke mobil yang sudah disediakan oleh anak buahnya.

 

“Perlu kuantar, Bang?”

 

Juna menggelengkan kepala. “Aku nggak mabuk. Kamu lanjutin kerjaan kamu. Thanks ya!”

 

Pelayan tersebut mengangguk dan membantu Juna menutup pintu.

 

Juna memasangkan safety belt ke pinggang Bellina.

 

Bellina membuka mata dan langsung menangkup wajah Juna yang ada di hadapannya. “Aku sayang sama kamu,” ucapnya sambil tersenyum. Kemudian mengecup pipi pria itu.

 

Juna terdiam sejenak. Ia terus menatap wajah Bellina.

 

“Li, kenapa malah diam?” tanya Bellina.

 

“Oh. Nggak papa,” jawab Juna. Ia baru menyadari kalau Bellina menganggapnya sebagai orang lain. Ia memakai safety belt ke pinggangnya sendiri. Menyalakan mesin mobil dan melaju membelah jalanan malam yang sudah lengang.

 

Tepat jam dua belas malam, Juna membawa Bellina masuk ke apartemen miliknya. Ia langsung meletakkan tubuh Bellina yang sudah tak sadarkan diri.

 

Baru beberapa detik ia berbalik. Tiba-tiba saja Bellina bangun dan terdengar ingin muntah.

 

Juna membelalakkan matanya. “Jangan muntah di kasurku!” pintanya sambil berbalik. Ia bergegas menggendong Bellina dan membawanya ke kamar mandi agar Bellina memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi.

 

“Huft, ngurus orang mabuk memang merepotkan!” gerutu Juna sambil membersihkan tangannya dengan handuk hangat setelah menyentuh tubuh Bellina. Ia membiarkan Bellina di dalam kamar mandi seorang diri.

 

Beberapa menit kemudian, Juna menoleh ke arah kamar mandi yang begitu hening. Bellina juga tak kunjung keluar dari ruangan kecil dan dingin itu. Ia kembali melangkah memeriksa kamar mandi. Ia menemukan Bellina yang tertidur di lantai dalam keadaan duduk.

 

Juna tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Pakaian seksi yang digunakan Bellina membuatnya bisa melihat dengan jelas dada Bellina yang terbuka dengan sendirinya. Ia menghampiri Bellina, menggendongnya kembali ke atas tempat tidurnya.

 

Juna tersenyum sinis. Ia melepas semua pakaian Bellina dengan hati-hati dan menutupnya begitu saja dengan selimut.

 

“Hmm ... aku rasa, ini sudah cukup,” tuturnya lirih sambil melangkah pergi. Ia melemparkan pakaian Bellina begitu saja ke lantai. Ia sengaja meninggalkan kemeja dan celananya bersama dengan pakaian Bellina. Ia mengganti pakaiannya dan bergegas keluar dari kamar tersebut.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai sini...

Dukung terus supaya aku bisa bikin ceritanya lebih seru lagi. Aku update 3 bab lagi setiap hari untuk kalian... doain sehat terus ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 413 : Crazy Rich Girl

 


“Sialan tuh bocah!” umpat Bellina sambil memukul meja yang ada di hadapannya. Membuat semua mata tertuju ke arahnya. Ia berusaha bersikap tenang, seolah tak melakukan apa pun.

 

Bellina bangkit dari tempat duduknya dan bergegas pergi.

 

“Maaf, Mbak. Tagihannya belum dibayar,” tutur seorang pelayan sambil menghampiri Bellina.

 

“Hah!? Bukannya dia yang bungkus semua makanan yang dia pesan? Kenapa aku yang bayar?”

 

“Mbak yang tadi bilang kalau temannya yang mau bayar.”

 

“Itu bocah bener-bener nyari perkara sama aku!” dengus Bellina. “Berapa semua tagihan makanannya?”

 

Pelayan tersebut tersenyum sambil menyodorkan bill ke arah Bellina. “Cuma satu juta setengah, Mbak.”

 

“What!?” Bellina membelalakkan matanya.

 

“Iya, Mbak. Mbak yang tadi pesan semua menu yang ada di sini. Ada tiga puluh lima jenis minuman dengan harga rata-rata dua puluh lima ribu rupiah. Ada sepuluh jenis finger foods dengan harga rata-rata tiga puluh lima ribu rupiah. Ada lima belas dessert dengan harga rata-rata tiga puluh ribu rupiah. Ada sepuluh main course dengan  harga ...”

 

“Aargh ...! Nggak usah disebutin semua!” sergah Bellina kesal. Ia mengambil dompet dan memberikan kartu ke arah pelayan tersebut.

 

Pelayan tersebut mengangguk sambil mengambil kartu dari tangan Bellina.

 

“Bocah sialan!” maki Bellina. Ia menatap beberapa pelayan yang terlihat mengejek dirinya. “Apa lihat-lihat!” dengus Bellina kesal. Ia segera berjalan menuju kasir, mengambil kartu dan bergegas pergi.

 

Bellina keluar dari kafe tersebut sambil mengumpat karena kelakuan Nirma yang keterlaluan. Ia merogoh ponsel dari dalam tasnya dan menelepon Wilian.

 

“Halo ...!” sapa Lian dari ujung telepon saat Bellina meletakkan ponsel di telinganya.

 

“Halo, kamu pulang kerja jam berapa?”

 

“Jam lima sore, seperti biasa.”

 

“Nggak lembur ‘kan?” tanya Bellina sambil tersenyum.

 

“Nggak, Bel. Kenapa?”

 

“Aku mau ajak kamu makan malam di luar.”

 

“Boleh. Di mana?” tanya Lian.

 

“Citrus Lee.”

 

“Oke. Pulang kerja, aku langsung ke sana. Kita ketemu di restoran itu aja.”

 

“Kamu nggak pulang ke rumah dulu?” tanya Bellina.

 

“Lihat sikon ya! Kerjaanku lagi padet. Mudahan bisa pulang cepet.”

 

“Oke. Aku tunggu kamu di Citrus ya!”

 

“Oke.”

 

“I love you. Bye!”

 

“Love you too. Bye!”

 

Bellina mematikan panggilan teleponnya. Ia tersenyum dan terus melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain, Nirma terlihat sibuk membagikan makanan dan minuman yang ia dapatkan dari Bellina. Ia berhenti di beberapa tempat, memberikan makanan dan minuman untuk orang yang ia temui di jalanan.

 

“Hmm ... asyik juga bisa kayak gini.” Nirma tersenyum puas saat makanan dan minuman yang ia bawa di mobilnya sudah habis ia bagikan.

 

Nirma segera kembali melajukan mobilnya sambil terus memikirkan ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Bellina. Ia terus menimbang-nimbang walau ia sudah tahu kalau wanita gila yang ia temui ingin menggunakan dirinya untuk membalas dendam pribadi.

 

Nirma menekan tombol call di mobilnya yang sudah tersambung otomatis dengan ponsel yang ia gunakan.

 

“Halo ...!” sapa seseorang bersuara berat di seberang sana.

 

“Halo, aku ada tugas buat kamu.”

 

“Apa itu?”

 

“Tolong kamu awasi gerak-gerik istri dari pemilik Wijaya Group itu. Aku nggak ingat siapa namanya. Kayaknya, aku nggak sempat kenalan.”

 

“Oke. Aku sudah tahu.”

 

“Kamu tahu?”

 

“Umh.”

 

“Baguslah. Awasi dia dan selidiki terus! Laporkan ke aku, apa pun yang dia lakukan di luar sana!” perintah Nirma.

 

“Siap, Bos!”

 

Nirma langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia bergegas melaju kencang menuju ke salah satu tempat yang sudah ia rencanakan sebelumnya.

 

 

 

...

 

Sore harinya ...

 

“Permisi, Pak!” Asisten Lian tiba-tiba masuk ke dalam ruangan saat Lian baru saja ingin pulang.

 

“Ya. Ada apa?”

 

“Saya dapat laporan kalau pabrik kita yang ada di Malaysia terjadi masalah besar. Karyawan melakukan demo dan meminta pertanggung jawaban dari pimpinan perusahaan. Ini ... dokumen dan video buktinya!” Asisten Lian menyodorkan video ke arah Lian.

 

Lian memejamkan mata sejenak sambil menghela napas. “Kita langsung ke sana sekarang juga!” perintahnya.

 

“Baik, Pak!”

 

Lian terus melangkahkan kakinya keluar dari perusahaan bersama dengan asistennya. “Apa yang sebenarnya terjadi di pabrik itu? Ke mana manager penanggung jawab di sana?” tanya Lian saat ia sudah ada di dalam mobil.

 

“Beberapa bulan terakhir, perusahaan terus mengalami kerugian. Untuk mengatasinya, pabrik memberhentikan beberapa pekerja, juga menghapus tunjangan dan pemotongan upah. Manager di sana sudah berusaha untuk mengatasinya. Beliau mengalami kekerasan dari beberapa pekerja yang tidak ingin kehilangan perusahaan dan sekarang dirawat di rumah sakit.”

 

Lian menghela napas sejenak. “Mereka berbahaya sekali,” celetuk Lian.

 

Asisten tersebut menganggukkan kepala. Mereka bergegas melaju menuju bandara.

 

 

 

...

 

 

 

-        Citrus Lee Restaurant -

 

Bellina duduk di salah  satu meja makan. Dua jam berlalu, Lian tak kunjung datang menemuinya.

 

“Dia ke mana sih? Ditelepon nggak aktif, di-chat nggak masuk juga. Apa kerjaannya banyak banget?” gumam Bellina.

 

Bellina menatap kembali layar ponselnya. Ia berusaha menelepon Liand an juga asistennya. Keduanya, tak satu pun bisa dihubungi.

 

“Li, kamu ke mana sih?” gumam Bellina.

 

Beberapa menit kemudian, Bellina menerima balasan pesan dari Lian.

 

“Ada masalah dengan perusahaan yang di Malaysia. Aku harus menyelesaikan secepatnya. Maaf, aku nggak kasih tahu kamu sebelumnya. Sekarang, aku sudah sampai di Malaysia. Kamu jaga diri baik-baik!”

 

“Huft, kenapa baru ngasih kabar? Aku sudah nunggu selama ini,” celetuk Bellina.

 

“Permisi, Mbaknya mau pesan apa?” Seorang pelayan kembali menghampiri Bellina untuk ketiga kalinya.

 

“Aku nggak jadi pesan, Mbak. Orang yang aku tunggu nggak bisa datang,” jawab Bellina ketus sambil bangkit dari tempat duduknya.

 

Pelayan tersebut tersenyum sambil mempersilakan Bellina keluar dari restoran dengan ramah.

 

Bellina melangkahkan kakinya dengan santai keluar dari restoran tersebut. Ia tidak punya keinginan untuk pulang ke rumah barunya dan tinggal seorang diri. Ia akan semakin jenuh di dalam rumah seorang diri. Pikirannya semakin kacau karena pertemuannya dengan Nirma tak membuahkan hasil. Makan malamnya dengan Lian juga batal begitu saja.

 

“Enaknya ke mana ya?” Bellina memilih untuk berjalan-jalan tanpa tujuan. Ia hanya ingin menikmati suasana malam di kota tersebut.

 

Langkah Bellina terhenti saat ia sampai di depan sebuah club malam bertuliskan “Arjuna Club”. Ia menatap tulisan itu selama beberapa detik.

 

“Udah lama nggak pernah main ke club. Ini juga bagus untuk melepas penat dan stres,” gumam Bellina.

 

Bellina tersenyum bahagia. “Oke. Waktunya bersenang-senang!” serunya sambil melompat kegirangan. Ia langsung melangkahkan kakinya memasuki klub malam tersebut. Makan malamnya bersama Lian sudah gagal. Pulang ke rumah pun tak ada gunanya. Ia lebih memilih menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang seorang diri di tempat tersebut.

 

Bellina yang mengenakan gaun seksi, langsung mendapat perhatian banyak mata di dalam klub malam tersebut. Namun, ia tetap bergerak dengan santai, duduk di salah satu meja dan memesan beberapa botol bir.

 

“Bodo amat sama kalian semua! Udah lama nggak pernah ngerasain sebahagia ini. Malam ini, aku akan menikmatinya seorang diri. Tanpa ada orang-orang yang mengesalkan seperti kalian!” seru Bellina sambil menenggak bir yang sudah ada di tangannya.

 

Beberapa pria yang ada di dalam klub malam tersebut terus menatap Bellina. Gaun merah nan seksi yang dikenakan oleh Bellina, benar-benar menarik perhatian semua pria yang ada di dalam sana. Bellina tak menghiraukan semua orang. Ia bergerak bebas sesuka hatinya. Meluapkan semua kekesalan yang ia alami selama ini.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai sini...

Dukung terus supaya aku bisa bikin ceritanya lebih seru lagi. Aku update 3 bab lagi setiap hari untuk kalian...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas