“Sialan
tuh bocah!” umpat Bellina sambil memukul meja yang ada di hadapannya. Membuat
semua mata tertuju ke arahnya. Ia berusaha bersikap tenang, seolah tak
melakukan apa pun.
Bellina
bangkit dari tempat duduknya dan bergegas pergi.
“Maaf,
Mbak. Tagihannya belum dibayar,” tutur seorang pelayan sambil menghampiri
Bellina.
“Hah!?
Bukannya dia yang bungkus semua makanan yang dia pesan? Kenapa aku yang bayar?”
“Mbak
yang tadi bilang kalau temannya yang mau bayar.”
“Itu
bocah bener-bener nyari perkara sama aku!” dengus Bellina. “Berapa semua
tagihan makanannya?”
Pelayan
tersebut tersenyum sambil menyodorkan bill ke arah Bellina. “Cuma satu juta
setengah, Mbak.”
“What!?”
Bellina membelalakkan matanya.
“Iya,
Mbak. Mbak yang tadi pesan semua menu yang ada di sini. Ada tiga puluh lima
jenis minuman dengan harga rata-rata dua puluh lima ribu rupiah. Ada sepuluh
jenis finger foods dengan harga rata-rata tiga puluh lima ribu rupiah. Ada lima
belas dessert dengan harga rata-rata tiga puluh ribu rupiah. Ada sepuluh main
course dengan harga ...”
“Aargh
...! Nggak usah disebutin semua!” sergah Bellina kesal. Ia mengambil dompet dan
memberikan kartu ke arah pelayan tersebut.
Pelayan
tersebut mengangguk sambil mengambil kartu dari tangan Bellina.
“Bocah
sialan!” maki Bellina. Ia menatap beberapa pelayan yang terlihat mengejek
dirinya. “Apa lihat-lihat!” dengus Bellina kesal. Ia segera berjalan menuju
kasir, mengambil kartu dan bergegas pergi.
Bellina
keluar dari kafe tersebut sambil mengumpat karena kelakuan Nirma yang
keterlaluan. Ia merogoh ponsel dari dalam tasnya dan menelepon Wilian.
“Halo
...!” sapa Lian dari ujung telepon saat Bellina meletakkan ponsel di
telinganya.
“Halo,
kamu pulang kerja jam berapa?”
“Jam
lima sore, seperti biasa.”
“Nggak
lembur ‘kan?” tanya Bellina sambil tersenyum.
“Nggak,
Bel. Kenapa?”
“Aku
mau ajak kamu makan malam di luar.”
“Boleh.
Di mana?” tanya Lian.
“Citrus
Lee.”
“Oke.
Pulang kerja, aku langsung ke sana. Kita ketemu di restoran itu aja.”
“Kamu
nggak pulang ke rumah dulu?” tanya Bellina.
“Lihat
sikon ya! Kerjaanku lagi padet. Mudahan bisa pulang cepet.”
“Oke.
Aku tunggu kamu di Citrus ya!”
“Oke.”
“I
love you. Bye!”
“Love
you too. Bye!”
Bellina
mematikan panggilan teleponnya. Ia tersenyum dan terus melangkahkan kakinya
menuju ke rumahnya.
...
Di
tempat lain, Nirma terlihat sibuk membagikan makanan dan minuman yang ia
dapatkan dari Bellina. Ia berhenti di beberapa tempat, memberikan makanan dan
minuman untuk orang yang ia temui di jalanan.
“Hmm
... asyik juga bisa kayak gini.” Nirma tersenyum puas saat makanan dan minuman
yang ia bawa di mobilnya sudah habis ia bagikan.
Nirma
segera kembali melajukan mobilnya sambil terus memikirkan ucapan-ucapan yang
keluar dari mulut Bellina. Ia terus menimbang-nimbang walau ia sudah tahu kalau
wanita gila yang ia temui ingin menggunakan dirinya untuk membalas dendam
pribadi.
Nirma
menekan tombol call di mobilnya yang sudah tersambung otomatis dengan ponsel
yang ia gunakan.
“Halo
...!” sapa seseorang bersuara berat di seberang sana.
“Halo,
aku ada tugas buat kamu.”
“Apa
itu?”
“Tolong
kamu awasi gerak-gerik istri dari pemilik Wijaya Group itu. Aku nggak ingat
siapa namanya. Kayaknya, aku nggak sempat kenalan.”
“Oke.
Aku sudah tahu.”
“Kamu
tahu?”
“Umh.”
“Baguslah.
Awasi dia dan selidiki terus! Laporkan ke aku, apa pun yang dia lakukan di luar
sana!” perintah Nirma.
“Siap,
Bos!”
Nirma
langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia bergegas melaju kencang menuju ke
salah satu tempat yang sudah ia rencanakan sebelumnya.
...
Sore
harinya ...
“Permisi,
Pak!” Asisten Lian tiba-tiba masuk ke dalam ruangan saat Lian baru saja ingin
pulang.
“Ya.
Ada apa?”
“Saya
dapat laporan kalau pabrik kita yang ada di Malaysia terjadi masalah besar.
Karyawan melakukan demo dan meminta pertanggung jawaban dari pimpinan
perusahaan. Ini ... dokumen dan video buktinya!” Asisten Lian menyodorkan video
ke arah Lian.
Lian
memejamkan mata sejenak sambil menghela napas. “Kita langsung ke sana sekarang
juga!” perintahnya.
“Baik,
Pak!”
Lian
terus melangkahkan kakinya keluar dari perusahaan bersama dengan asistennya.
“Apa yang sebenarnya terjadi di pabrik itu? Ke mana manager penanggung jawab di
sana?” tanya Lian saat ia sudah ada di dalam mobil.
“Beberapa
bulan terakhir, perusahaan terus mengalami kerugian. Untuk mengatasinya, pabrik
memberhentikan beberapa pekerja, juga menghapus tunjangan dan pemotongan upah.
Manager di sana sudah berusaha untuk mengatasinya. Beliau mengalami kekerasan
dari beberapa pekerja yang tidak ingin kehilangan perusahaan dan sekarang
dirawat di rumah sakit.”
Lian
menghela napas sejenak. “Mereka berbahaya sekali,” celetuk Lian.
Asisten
tersebut menganggukkan kepala. Mereka bergegas melaju menuju bandara.
...
- Citrus Lee Restaurant -
Bellina
duduk di salah satu meja makan. Dua jam berlalu, Lian tak kunjung datang
menemuinya.
“Dia
ke mana sih? Ditelepon nggak aktif, di-chat nggak masuk juga. Apa kerjaannya
banyak banget?” gumam Bellina.
Bellina
menatap kembali layar ponselnya. Ia berusaha menelepon Liand an juga
asistennya. Keduanya, tak satu pun bisa dihubungi.
“Li,
kamu ke mana sih?” gumam Bellina.
Beberapa
menit kemudian, Bellina menerima balasan pesan dari Lian.
“Ada
masalah dengan perusahaan yang di Malaysia. Aku harus menyelesaikan secepatnya.
Maaf, aku nggak kasih tahu kamu sebelumnya. Sekarang, aku sudah sampai di
Malaysia. Kamu jaga diri baik-baik!”
“Huft,
kenapa baru ngasih kabar? Aku sudah nunggu selama ini,” celetuk Bellina.
“Permisi,
Mbaknya mau pesan apa?” Seorang pelayan kembali menghampiri Bellina untuk
ketiga kalinya.
“Aku
nggak jadi pesan, Mbak. Orang yang aku tunggu nggak bisa datang,” jawab Bellina
ketus sambil bangkit dari tempat duduknya.
Pelayan
tersebut tersenyum sambil mempersilakan Bellina keluar dari restoran dengan
ramah.
Bellina
melangkahkan kakinya dengan santai keluar dari restoran tersebut. Ia tidak
punya keinginan untuk pulang ke rumah barunya dan tinggal seorang diri. Ia akan
semakin jenuh di dalam rumah seorang diri. Pikirannya semakin kacau karena
pertemuannya dengan Nirma tak membuahkan hasil. Makan malamnya dengan Lian juga
batal begitu saja.
“Enaknya
ke mana ya?” Bellina memilih untuk berjalan-jalan tanpa tujuan. Ia hanya ingin
menikmati suasana malam di kota tersebut.
Langkah
Bellina terhenti saat ia sampai di depan sebuah club malam bertuliskan “Arjuna
Club”. Ia menatap tulisan itu selama beberapa detik.
“Udah
lama nggak pernah main ke club. Ini juga bagus untuk melepas penat dan stres,”
gumam Bellina.
Bellina
tersenyum bahagia. “Oke. Waktunya bersenang-senang!” serunya sambil melompat
kegirangan. Ia langsung melangkahkan kakinya memasuki klub malam tersebut.
Makan malamnya bersama Lian sudah gagal. Pulang ke rumah pun tak ada gunanya.
Ia lebih memilih menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang seorang diri di
tempat tersebut.
Bellina
yang mengenakan gaun seksi, langsung mendapat perhatian banyak mata di dalam
klub malam tersebut. Namun, ia tetap bergerak dengan santai, duduk di salah
satu meja dan memesan beberapa botol bir.
“Bodo
amat sama kalian semua! Udah lama nggak pernah ngerasain sebahagia ini. Malam
ini, aku akan menikmatinya seorang diri. Tanpa ada orang-orang yang mengesalkan
seperti kalian!” seru Bellina sambil menenggak bir yang sudah ada di tangannya.
Beberapa
pria yang ada di dalam klub malam tersebut terus menatap Bellina. Gaun merah
nan seksi yang dikenakan oleh Bellina, benar-benar menarik perhatian semua pria
yang ada di dalam sana. Bellina tak menghiraukan semua orang. Ia bergerak bebas
sesuka hatinya. Meluapkan semua kekesalan yang ia alami selama ini.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca sampai sini...
Dukung terus supaya aku bisa bikin ceritanya lebih seru lagi. Aku update 3
bab lagi setiap hari untuk kalian...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment