Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 413 : Crazy Rich Girl

 


“Sialan tuh bocah!” umpat Bellina sambil memukul meja yang ada di hadapannya. Membuat semua mata tertuju ke arahnya. Ia berusaha bersikap tenang, seolah tak melakukan apa pun.

 

Bellina bangkit dari tempat duduknya dan bergegas pergi.

 

“Maaf, Mbak. Tagihannya belum dibayar,” tutur seorang pelayan sambil menghampiri Bellina.

 

“Hah!? Bukannya dia yang bungkus semua makanan yang dia pesan? Kenapa aku yang bayar?”

 

“Mbak yang tadi bilang kalau temannya yang mau bayar.”

 

“Itu bocah bener-bener nyari perkara sama aku!” dengus Bellina. “Berapa semua tagihan makanannya?”

 

Pelayan tersebut tersenyum sambil menyodorkan bill ke arah Bellina. “Cuma satu juta setengah, Mbak.”

 

“What!?” Bellina membelalakkan matanya.

 

“Iya, Mbak. Mbak yang tadi pesan semua menu yang ada di sini. Ada tiga puluh lima jenis minuman dengan harga rata-rata dua puluh lima ribu rupiah. Ada sepuluh jenis finger foods dengan harga rata-rata tiga puluh lima ribu rupiah. Ada lima belas dessert dengan harga rata-rata tiga puluh ribu rupiah. Ada sepuluh main course dengan  harga ...”

 

“Aargh ...! Nggak usah disebutin semua!” sergah Bellina kesal. Ia mengambil dompet dan memberikan kartu ke arah pelayan tersebut.

 

Pelayan tersebut mengangguk sambil mengambil kartu dari tangan Bellina.

 

“Bocah sialan!” maki Bellina. Ia menatap beberapa pelayan yang terlihat mengejek dirinya. “Apa lihat-lihat!” dengus Bellina kesal. Ia segera berjalan menuju kasir, mengambil kartu dan bergegas pergi.

 

Bellina keluar dari kafe tersebut sambil mengumpat karena kelakuan Nirma yang keterlaluan. Ia merogoh ponsel dari dalam tasnya dan menelepon Wilian.

 

“Halo ...!” sapa Lian dari ujung telepon saat Bellina meletakkan ponsel di telinganya.

 

“Halo, kamu pulang kerja jam berapa?”

 

“Jam lima sore, seperti biasa.”

 

“Nggak lembur ‘kan?” tanya Bellina sambil tersenyum.

 

“Nggak, Bel. Kenapa?”

 

“Aku mau ajak kamu makan malam di luar.”

 

“Boleh. Di mana?” tanya Lian.

 

“Citrus Lee.”

 

“Oke. Pulang kerja, aku langsung ke sana. Kita ketemu di restoran itu aja.”

 

“Kamu nggak pulang ke rumah dulu?” tanya Bellina.

 

“Lihat sikon ya! Kerjaanku lagi padet. Mudahan bisa pulang cepet.”

 

“Oke. Aku tunggu kamu di Citrus ya!”

 

“Oke.”

 

“I love you. Bye!”

 

“Love you too. Bye!”

 

Bellina mematikan panggilan teleponnya. Ia tersenyum dan terus melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain, Nirma terlihat sibuk membagikan makanan dan minuman yang ia dapatkan dari Bellina. Ia berhenti di beberapa tempat, memberikan makanan dan minuman untuk orang yang ia temui di jalanan.

 

“Hmm ... asyik juga bisa kayak gini.” Nirma tersenyum puas saat makanan dan minuman yang ia bawa di mobilnya sudah habis ia bagikan.

 

Nirma segera kembali melajukan mobilnya sambil terus memikirkan ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Bellina. Ia terus menimbang-nimbang walau ia sudah tahu kalau wanita gila yang ia temui ingin menggunakan dirinya untuk membalas dendam pribadi.

 

Nirma menekan tombol call di mobilnya yang sudah tersambung otomatis dengan ponsel yang ia gunakan.

 

“Halo ...!” sapa seseorang bersuara berat di seberang sana.

 

“Halo, aku ada tugas buat kamu.”

 

“Apa itu?”

 

“Tolong kamu awasi gerak-gerik istri dari pemilik Wijaya Group itu. Aku nggak ingat siapa namanya. Kayaknya, aku nggak sempat kenalan.”

 

“Oke. Aku sudah tahu.”

 

“Kamu tahu?”

 

“Umh.”

 

“Baguslah. Awasi dia dan selidiki terus! Laporkan ke aku, apa pun yang dia lakukan di luar sana!” perintah Nirma.

 

“Siap, Bos!”

 

Nirma langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia bergegas melaju kencang menuju ke salah satu tempat yang sudah ia rencanakan sebelumnya.

 

 

 

...

 

Sore harinya ...

 

“Permisi, Pak!” Asisten Lian tiba-tiba masuk ke dalam ruangan saat Lian baru saja ingin pulang.

 

“Ya. Ada apa?”

 

“Saya dapat laporan kalau pabrik kita yang ada di Malaysia terjadi masalah besar. Karyawan melakukan demo dan meminta pertanggung jawaban dari pimpinan perusahaan. Ini ... dokumen dan video buktinya!” Asisten Lian menyodorkan video ke arah Lian.

 

Lian memejamkan mata sejenak sambil menghela napas. “Kita langsung ke sana sekarang juga!” perintahnya.

 

“Baik, Pak!”

 

Lian terus melangkahkan kakinya keluar dari perusahaan bersama dengan asistennya. “Apa yang sebenarnya terjadi di pabrik itu? Ke mana manager penanggung jawab di sana?” tanya Lian saat ia sudah ada di dalam mobil.

 

“Beberapa bulan terakhir, perusahaan terus mengalami kerugian. Untuk mengatasinya, pabrik memberhentikan beberapa pekerja, juga menghapus tunjangan dan pemotongan upah. Manager di sana sudah berusaha untuk mengatasinya. Beliau mengalami kekerasan dari beberapa pekerja yang tidak ingin kehilangan perusahaan dan sekarang dirawat di rumah sakit.”

 

Lian menghela napas sejenak. “Mereka berbahaya sekali,” celetuk Lian.

 

Asisten tersebut menganggukkan kepala. Mereka bergegas melaju menuju bandara.

 

 

 

...

 

 

 

-        Citrus Lee Restaurant -

 

Bellina duduk di salah  satu meja makan. Dua jam berlalu, Lian tak kunjung datang menemuinya.

 

“Dia ke mana sih? Ditelepon nggak aktif, di-chat nggak masuk juga. Apa kerjaannya banyak banget?” gumam Bellina.

 

Bellina menatap kembali layar ponselnya. Ia berusaha menelepon Liand an juga asistennya. Keduanya, tak satu pun bisa dihubungi.

 

“Li, kamu ke mana sih?” gumam Bellina.

 

Beberapa menit kemudian, Bellina menerima balasan pesan dari Lian.

 

“Ada masalah dengan perusahaan yang di Malaysia. Aku harus menyelesaikan secepatnya. Maaf, aku nggak kasih tahu kamu sebelumnya. Sekarang, aku sudah sampai di Malaysia. Kamu jaga diri baik-baik!”

 

“Huft, kenapa baru ngasih kabar? Aku sudah nunggu selama ini,” celetuk Bellina.

 

“Permisi, Mbaknya mau pesan apa?” Seorang pelayan kembali menghampiri Bellina untuk ketiga kalinya.

 

“Aku nggak jadi pesan, Mbak. Orang yang aku tunggu nggak bisa datang,” jawab Bellina ketus sambil bangkit dari tempat duduknya.

 

Pelayan tersebut tersenyum sambil mempersilakan Bellina keluar dari restoran dengan ramah.

 

Bellina melangkahkan kakinya dengan santai keluar dari restoran tersebut. Ia tidak punya keinginan untuk pulang ke rumah barunya dan tinggal seorang diri. Ia akan semakin jenuh di dalam rumah seorang diri. Pikirannya semakin kacau karena pertemuannya dengan Nirma tak membuahkan hasil. Makan malamnya dengan Lian juga batal begitu saja.

 

“Enaknya ke mana ya?” Bellina memilih untuk berjalan-jalan tanpa tujuan. Ia hanya ingin menikmati suasana malam di kota tersebut.

 

Langkah Bellina terhenti saat ia sampai di depan sebuah club malam bertuliskan “Arjuna Club”. Ia menatap tulisan itu selama beberapa detik.

 

“Udah lama nggak pernah main ke club. Ini juga bagus untuk melepas penat dan stres,” gumam Bellina.

 

Bellina tersenyum bahagia. “Oke. Waktunya bersenang-senang!” serunya sambil melompat kegirangan. Ia langsung melangkahkan kakinya memasuki klub malam tersebut. Makan malamnya bersama Lian sudah gagal. Pulang ke rumah pun tak ada gunanya. Ia lebih memilih menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang seorang diri di tempat tersebut.

 

Bellina yang mengenakan gaun seksi, langsung mendapat perhatian banyak mata di dalam klub malam tersebut. Namun, ia tetap bergerak dengan santai, duduk di salah satu meja dan memesan beberapa botol bir.

 

“Bodo amat sama kalian semua! Udah lama nggak pernah ngerasain sebahagia ini. Malam ini, aku akan menikmatinya seorang diri. Tanpa ada orang-orang yang mengesalkan seperti kalian!” seru Bellina sambil menenggak bir yang sudah ada di tangannya.

 

Beberapa pria yang ada di dalam klub malam tersebut terus menatap Bellina. Gaun merah nan seksi yang dikenakan oleh Bellina, benar-benar menarik perhatian semua pria yang ada di dalam sana. Bellina tak menghiraukan semua orang. Ia bergerak bebas sesuka hatinya. Meluapkan semua kekesalan yang ia alami selama ini.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai sini...

Dukung terus supaya aku bisa bikin ceritanya lebih seru lagi. Aku update 3 bab lagi setiap hari untuk kalian...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas