Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 415 : One Night Stand

 


Bellina membuka mata sambil memijat keningnya yang berdenyut. Ia menatap langit-langit kamar sambil mengedarkan pandangannya. “Aku di mana?” tanyanya lirih.

 

Bellina membuka selimut dan melihat tubuhnya yang tak mengenakan pakaian. “Oh ... My God! Apa yang sudah terjadi sama aku?” bisik Bellina sambil bangkit dari tempat tidur. Ia menggulung selimut ke tubuhnya sambil berusaha meraih gaunnya yang berserakan di lantai.

 

“Ini kemeja siapa?” tanya Bellina sambil mengangkat pakaian pria yang juga ada di lantai tersebut. “Celana?” Ia semakin bingung dengan apa yang sudah terjadi.

 

Bellina memejamkan mata, ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi padanya semalam. Yang ia ingat, ia sedang berada di dalam klub malam seorang diri. Kemudian ia bertemu dengan seorang pria tampan yang mengajaknya bicara. Setelahnya, ia tak bisa mengingat apa yang terjadi pada dirinya.

 

KREEEEK ...!

 

Bellina langsung menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. Ia melongo saat melihat sosok pria sedang mengusap-usap rambutnya yang basah menggunakan handuk. Dadanya yang terbuka, begitu menggoda dan hampir membuat seluruh liur Bellina keluar dari tempatnya. “Ganteng banget!” batinnya.

 

Detik berikutnya, Bellina menyadari sebuah kesalahan besar dalam hidupnya. Bagaimana ia bisa bersama pria asing di dalam kamar dalam keadaan tidak berpakaian. “Kamu siapa?” tanya Bellina sambil menengadahkan kepalanya menatap Juna.

 

Juna tersenyum sambil menatap Bellina yang masih berjongkok di depannya. “Kamu lupa?”

 

Bellina memejamkan mata sambil memukul-mukul kepalanya. Ia tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi semalam.

 

Juna tersenyum, ia ikut berjongkok di hadapan Bellina. Ia terus mendekatkan wajahnya ke wajah Bellina.

 

Bellina langsung mundur sambil memegang erat selimut yang menutupi tubuhnya.

 

Juna tertawa kecil. “Buat apa kamu malu? Aku sudah lihat semuanya.”

 

Bellina menggelengkan kepala. “Nggak mungkin.”

 

“Nggak mungkin?” tanya Juna sambil tersenyum. “Semalam aku sangat menikmati permainan kamu. One night stand sama wanita yang sudah bersuami, ternyata lebih menyenangkan dan menggairahkan. Aku sangat puas ...” lanjutnya sambil menyentuh dagu Bellina.

 

Bellina langsung menepis tangan Juna. “Kamu tahu dari mana kalau aku sudah menikah?”

 

Juna tersenyum sinis. “Aku bahkan tahu kalau kamu adalah istri Wilian Wijaya.”

 

Bellina membelalakkan matanya. “Kamu ...!?”

 

Juna tersenyum menatap Bellina. “Kamu nggak perlu khawatir!” pintanya lirih. “Aku akan menjaga rahasia ini selama kamu mau nurut sama aku.”

 

Bellina membelalakkan matanya. “Kamu mau apa dari aku?”

 

Juna tersenyum sinis ke arah Bellina. “Kamu istri orang kaya, apa yang bisa kamu kasih buat aku?”

 

Bellina menarik napas sambil memejamkan matanya. Ia sangat mengerti apa yang diinginkan oleh pria yang ada di hadapannya ini. “Mau berapa?”

 

“Pantasnya berapa?”

 

“Aku akan kasih berapa pun yang kamu mau. Asal kamu tutup mulut!” pinta Bellina.

 

Juna tersenyum sinis sambil bangkit dari lantai. Ia membuka lemari dan mencari pakaian ganti. “Semuanya tergantung dari berapa banyak yang kamu kasih ke aku.”

 

Bellina melirik tajam ke arah Juna yang mengganti pakaiannya dengan santai. Ia masih tak percaya kalau dirinya telah bercinta dengan pria lain. Ingin sekali ia menolak kenyataan yang terjadi. Tapi melihat dirinya yang telanjang di kamar itu bersama pria lain, membuatnya pasrah menerima kenyataan kalau ia sudah tidur bersama Juna.

 

Juna tersenyum sinis sambil melirik Bellina yang masih terduduk di lantai. “Mau sampai kapan duduk di situ terus?”

 

“Sampai kamu keluar dari sini.”

 

“Aku nggak akan keluar sebelum kamu menuhi janjimu.”

 

“Iya, iya. Aku bayar!” seru Bellina kesal.

 

“Kamu pakai mobile banking ‘kan?” tanya Juna sambil meraih tas tangan milik Bellina dan melemparkan ke pangkuan Bellina begitu saja.

 

Bellina langsung merogoh ponsel yang ada di dalam tas tangannya. “Berapa nomor rekening kamu?”

 

Juna langsung menyebutkan nomor rekening miliknya.

 

Bellina menggigit bibir saat membaca nama Arjuna Pranapati di layar ponselnya saat ingin mengirimkan uang.

 

“Kenapa?” tanya Juna sambil memerhatikan wajah Bellina.

 

Bellina memilih untuk keluar dari aplikasi mobile banking. “Aku nggak bisa transfer.”

 

“Why?” tanya Juna sambil menatap Bellina. “Oke. Aku nggak maksa, kok. Aku juga bukan pria yang kekurangan uang.

 

“Aku kasih tunai. Kamu nggak perlu khawatir!” sahut Bellina kesal. “Bisa keluar, nggak? Aku mau ganti baju.”

 

“Ganti aja!” pinta Juna sambil duduk santai di tempat tidur.

 

“Kamu!?” Bellina mendelik ke arah Juna. Ia menarik selimut yang menutupi tubuhnya dan berlari ke kamar mandi.

 

“Aargh ...! Kenapa semuanya jadi gini? Kenapa aku nggak ingat apa pun?” gumam Bellina sambil mengetuk-ngetuk dahinya. Ia masih berusaha mengingat apa yang telah terjadi padanya semalam.

 

“Apa aku udah beneran tidur sama cowok itu? Kenapa aku nggak bisa ingat sama sekali?” gumam Bellina.

 

Kali ini, Bellina merasa dimanfaatkan oleh pria itu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Bagaimana jika Lian mengetahui hal ini? Hidupnya bisa habis saat itu juga.

 

Bellina membasuh wajahnya beberapa kali. Ia masih tak bisa berpikir dengan baik.

 

“Huft, nggak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain menghadapinya,” gumam Bellina. Ia tidak menyangka kalau hidupnya akan diperas oleh seorang pria yang sudah menidurinya.

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. Ia memastikan kalau pakaian dan riasannya sudah rapi kembali. Ia langsung melangkah keluar dari kamar mandi.

 

 

 

Juna masih duduk santai di atas tempat tidur. “Mau pulang sekarang?”

 

Bellina mengangguk. “Aku nggak akan berlama-lama ada di tempat ini.”

 

“Mau aku antar?” tanya Juna.

 

“Nggak perlu. Aku bisa pulang sendiri.”

 

“Oke.” Juna mengangguk-anggukkan kepalanya. “Silakan!”

 

“Jangan lupa penutup mulut buat aku!” lanjut Juna berseru. “Kalau nggak sanggup tutup pake uang, kamu bisa tutup mulutku pakai bibirmu setiap hari.”

 

“Cowok gila!” Bellina melangkah keluar dari kamar tersebut. Ia benar-benar kesal dengan pria yang sengaja menjebaknya hingga berada dalam keadaan yang serba salah seperti ini.

 

“Siaaal ...! Kenapa hidupku selalu sial!?” seru Bellina saat ia sudah keluar dari apartemen Juna.

 

“Gimana bisa aku tidur sama cowok lain? Cowok itu emang keren, ganteng dan tubuhnya kekar. Mmh ... kenapa aku nggak bisa mengingat apa pun ya?”

 

“Sebenarnya, apa yang dimau sama cowok itu? Kayaknya, dia nggak begitu tertarik dengan uang.”

 

 

 

“Gimana bisa aku mengkhianati Lian? Mmh ... bukannya Lian juga selama ini selalu mengkhianati aku? Dia nggak pernah bisa setia sama aku. Sibuk mikirin Yuna terus. Suami macam apa!?” celetuk Bellina.

 

Bellina menghentikan taksi yang kebetulan lewat. Ia langsung menuju tempat ia memarkirkan mobil dan bergegas kembali ke rumahnya.

 

Sepanjang perjalanan, Bellina terus memaki dirinya sendiri karena begitu mudahnya dikendalikan oleh orang lain. Terlebih ia tidak bisa mengingat sedikit pun detail kejadian yang terjadi antara Juna dan dirinya.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih lima bintang di kolom komentar. Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas