Bellina
membuka mata sambil memijat keningnya yang berdenyut. Ia menatap langit-langit
kamar sambil mengedarkan pandangannya. “Aku di mana?” tanyanya lirih.
Bellina
membuka selimut dan melihat tubuhnya yang tak mengenakan pakaian. “Oh ... My
God! Apa yang sudah terjadi sama aku?” bisik Bellina sambil bangkit dari tempat
tidur. Ia menggulung selimut ke tubuhnya sambil berusaha meraih gaunnya yang
berserakan di lantai.
“Ini
kemeja siapa?” tanya Bellina sambil mengangkat pakaian pria yang juga ada di
lantai tersebut. “Celana?” Ia semakin bingung dengan apa yang sudah terjadi.
Bellina
memejamkan mata, ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi padanya semalam.
Yang ia ingat, ia sedang berada di dalam klub malam seorang diri. Kemudian ia
bertemu dengan seorang pria tampan yang mengajaknya bicara. Setelahnya, ia tak
bisa mengingat apa yang terjadi pada dirinya.
KREEEEK
...!
Bellina
langsung menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. Ia melongo saat
melihat sosok pria sedang mengusap-usap rambutnya yang basah menggunakan
handuk. Dadanya yang terbuka, begitu menggoda dan hampir membuat seluruh liur
Bellina keluar dari tempatnya. “Ganteng banget!” batinnya.
Detik
berikutnya, Bellina menyadari sebuah kesalahan besar dalam hidupnya. Bagaimana
ia bisa bersama pria asing di dalam kamar dalam keadaan tidak berpakaian. “Kamu
siapa?” tanya Bellina sambil menengadahkan kepalanya menatap Juna.
Juna
tersenyum sambil menatap Bellina yang masih berjongkok di depannya. “Kamu
lupa?”
Bellina
memejamkan mata sambil memukul-mukul kepalanya. Ia tidak bisa mengingat apa
yang telah terjadi semalam.
Juna
tersenyum, ia ikut berjongkok di hadapan Bellina. Ia terus mendekatkan wajahnya
ke wajah Bellina.
Bellina
langsung mundur sambil memegang erat selimut yang menutupi tubuhnya.
Juna
tertawa kecil. “Buat apa kamu malu? Aku sudah lihat semuanya.”
Bellina
menggelengkan kepala. “Nggak mungkin.”
“Nggak
mungkin?” tanya Juna sambil tersenyum. “Semalam aku sangat menikmati permainan
kamu. One night stand sama wanita yang sudah bersuami, ternyata lebih
menyenangkan dan menggairahkan. Aku sangat puas ...” lanjutnya sambil menyentuh
dagu Bellina.
Bellina
langsung menepis tangan Juna. “Kamu tahu dari mana kalau aku sudah menikah?”
Juna
tersenyum sinis. “Aku bahkan tahu kalau kamu adalah istri Wilian Wijaya.”
Bellina
membelalakkan matanya. “Kamu ...!?”
Juna
tersenyum menatap Bellina. “Kamu nggak perlu khawatir!” pintanya lirih. “Aku
akan menjaga rahasia ini selama kamu mau nurut sama aku.”
Bellina
membelalakkan matanya. “Kamu mau apa dari aku?”
Juna
tersenyum sinis ke arah Bellina. “Kamu istri orang kaya, apa yang bisa kamu
kasih buat aku?”
Bellina
menarik napas sambil memejamkan matanya. Ia sangat mengerti apa yang diinginkan
oleh pria yang ada di hadapannya ini. “Mau berapa?”
“Pantasnya
berapa?”
“Aku
akan kasih berapa pun yang kamu mau. Asal kamu tutup mulut!” pinta Bellina.
Juna
tersenyum sinis sambil bangkit dari lantai. Ia membuka lemari dan mencari
pakaian ganti. “Semuanya tergantung dari berapa banyak yang kamu kasih ke aku.”
Bellina
melirik tajam ke arah Juna yang mengganti pakaiannya dengan santai. Ia masih
tak percaya kalau dirinya telah bercinta dengan pria lain. Ingin sekali ia
menolak kenyataan yang terjadi. Tapi melihat dirinya yang telanjang di kamar
itu bersama pria lain, membuatnya pasrah menerima kenyataan kalau ia sudah
tidur bersama Juna.
Juna
tersenyum sinis sambil melirik Bellina yang masih terduduk di lantai. “Mau
sampai kapan duduk di situ terus?”
“Sampai
kamu keluar dari sini.”
“Aku
nggak akan keluar sebelum kamu menuhi janjimu.”
“Iya,
iya. Aku bayar!” seru Bellina kesal.
“Kamu
pakai mobile banking ‘kan?” tanya Juna sambil meraih tas tangan milik Bellina
dan melemparkan ke pangkuan Bellina begitu saja.
Bellina
langsung merogoh ponsel yang ada di dalam tas tangannya. “Berapa nomor rekening
kamu?”
Juna
langsung menyebutkan nomor rekening miliknya.
Bellina
menggigit bibir saat membaca nama Arjuna Pranapati di layar ponselnya saat
ingin mengirimkan uang.
“Kenapa?”
tanya Juna sambil memerhatikan wajah Bellina.
Bellina
memilih untuk keluar dari aplikasi mobile banking. “Aku nggak bisa transfer.”
“Why?”
tanya Juna sambil menatap Bellina. “Oke. Aku nggak maksa, kok. Aku juga bukan pria yang
kekurangan uang.”
“Aku
kasih tunai. Kamu nggak perlu khawatir!” sahut Bellina kesal. “Bisa keluar,
nggak? Aku mau ganti baju.”
“Ganti
aja!” pinta Juna sambil duduk santai di tempat tidur.
“Kamu!?”
Bellina mendelik ke arah Juna. Ia menarik selimut yang menutupi tubuhnya dan
berlari ke kamar mandi.
“Aargh
...! Kenapa semuanya jadi gini? Kenapa aku nggak ingat apa pun?” gumam Bellina
sambil mengetuk-ngetuk dahinya. Ia masih berusaha mengingat apa yang telah
terjadi padanya semalam.
“Apa
aku udah beneran tidur sama cowok itu? Kenapa aku nggak bisa ingat sama
sekali?” gumam Bellina.
Kali
ini, Bellina merasa dimanfaatkan oleh pria itu. Ia tidak tahu apa yang harus
dilakukan sekarang. Bagaimana jika Lian mengetahui hal ini? Hidupnya bisa habis
saat itu juga.
Bellina
membasuh wajahnya beberapa kali. Ia masih tak bisa berpikir dengan baik.
“Huft,
nggak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain menghadapinya,” gumam Bellina.
Ia tidak menyangka kalau hidupnya akan diperas oleh seorang pria yang sudah
menidurinya.
Bellina
menarik napas dalam-dalam. Ia memastikan kalau pakaian dan riasannya sudah rapi
kembali. Ia langsung melangkah keluar dari kamar mandi.
Juna
masih duduk santai di atas tempat tidur. “Mau pulang sekarang?”
Bellina
mengangguk. “Aku nggak akan berlama-lama ada di tempat ini.”
“Mau
aku antar?” tanya Juna.
“Nggak
perlu. Aku bisa pulang sendiri.”
“Oke.”
Juna mengangguk-anggukkan kepalanya. “Silakan!”
“Jangan
lupa penutup mulut buat aku!” lanjut Juna berseru. “Kalau nggak sanggup tutup
pake uang, kamu bisa tutup mulutku pakai bibirmu setiap hari.”
“Cowok
gila!” Bellina melangkah keluar dari kamar tersebut. Ia benar-benar kesal
dengan pria yang sengaja menjebaknya hingga berada dalam keadaan yang serba
salah seperti ini.
“Siaaal
...! Kenapa hidupku selalu sial!?” seru Bellina saat ia sudah keluar dari
apartemen Juna.
“Gimana
bisa aku tidur sama cowok lain? Cowok itu emang keren, ganteng dan tubuhnya
kekar. Mmh ... kenapa aku nggak bisa mengingat apa pun ya?”
“Sebenarnya,
apa yang dimau sama cowok itu? Kayaknya, dia nggak begitu tertarik dengan
uang.”
“Gimana
bisa aku mengkhianati Lian? Mmh ... bukannya Lian juga selama ini selalu
mengkhianati aku? Dia nggak pernah bisa setia sama aku. Sibuk mikirin Yuna
terus. Suami macam apa!?” celetuk Bellina.
Bellina
menghentikan taksi yang kebetulan lewat. Ia langsung menuju tempat ia
memarkirkan mobil dan bergegas kembali ke rumahnya.
Sepanjang
perjalanan, Bellina terus memaki dirinya sendiri karena begitu mudahnya
dikendalikan oleh orang lain. Terlebih ia tidak bisa mengingat sedikit pun
detail kejadian yang terjadi antara Juna dan dirinya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini dengan cara kasih lima
bintang di kolom komentar. Thank you so much buat yang udah ngasih hadiah untuk
cerita ini. Semoga bisa bikin cerita dan tulisan yang lebih berkualitas lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment